BAB III GAMBARAN UMUM TENTANG PERDAGANGAN SENJATA
A. Bentuk-Bentuk Perdagangan senjata
2. Perdagangan Senjata Gelap
37
38 negara dan pihak-pihak yang terlibat di dalamnya. Banyak negara yag diduga melakukan penjualan senjata kepada kelompok bersenjata di negara lain. Namun, pengakuan negara atas hal ini sulit didapatkan karena akan mencoreng citra negara di dunia internasional.
b. Black Market
Jelas bahwa aliran senjata dalam black market terjadi secara bebas, melanggar hukum internasional hingga hukum nasional. Perdagangan senjata yang terjadi berada di luar kontrol pemerintah dan tidak menutup kemungkinan digunakan untuk kejahatan kemanusiaan.
Perdagangan senjata gelap terjadi secara bebas dan melibatkan siapa saja, kelompok pemberontak hingga individu. Selain itu, jual beli senjata sekarang ini dapat dilakukan secara online dengan memanfaatkan media sosial.
Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Small Arms Survey dan The Armament Research Services (ARES), menemukan sebanyak 1.346 transaksi gelap yang dilakukan secara online hanya dalam waktu satu tahun. Diduga metode transaksi serupa juga terjadi di Syria, Irak dan Yaman.31
Senjata-senjata yang diperdagangkan dalam pasar gelap adalah sebagian besar adalah senjata-senjata bekas atau yang pernah dimiliki oleh pemerintah yang kemudian beralih ke pasar gelap karena perubahan keadaan politik.
31 Ivana Kottasova, 2016, dalam http://money.cnn.com/2016/04/07/news/arms-sales-facebook-libya/index.html diakses pada 17 Agustus 2017
39 Dalam kasus di Libya ini, diduga senjata-senjata yang diperdagangkan adalah senjata-senjata yang pernah dimiliki oleh rezim presiden Qaddafi yang kemudian beredar ke banyak pihak seiring dengan gejolak politik yang melanda negara itu sejak tahun 2011.
Perdagangan senjata gelap senantiasa melibatkan orang-orang yang memiliki akses terhadap senjata tersebut. Pada tahun 1989, bandar narkoba Kolombia, Gonzalo Rodriguez Gacha, menerima ratusan senapan serbu produksi Israel, Israel Military Indusrties (IMI). Dalam transaksinya, perdagangan senjata ini melibatkan seorang Israel bernama Yair Klein dan satu orang Antigua bernama Maurice Sarafti, yang kemudian berpura-pura sebagai perwakilan dari pemerintah Antigua.
Dokumen-dokumen yang digunakan tampak legal (mungkin memang legal atau dibuat oleh oknum pemerintahan yang korup).
Bahkan, surat pengguna terakhir (end user sertificate) ditandatangani oleh seorang menteri kabinet bernama Vere Bird Jr. Namun, senjata-senjata tersebut tidak pernah sampai ke tangan pemerintah. Senjata tersebut dikirim melalui laut dan sampai di tangan Rodriguez Gacha di Medellin, Kolombia.32 Senjata-senjata tersebut dikirim melalui laut dan sempat transit di beberapa pulau berbeda di kawasan Amerika Latin.
Beberapa metode yang mungkin digunakan dalam black market anatra lain:
32 Nicholas Marsh, 2002, Op. Cit, hal- 224
40 1. Grey market : satu kali saja kelompok pemberontak mendapatkan suplai senjata, negara penyuplai tidak lagi memiliki kontrol ke mana senjata-senjata tersebut akan mengalir selanjutnya.
2. Pelamggaran terhadap sistem lisensi ekspor, seperti menyediakan end user sertificate yang telah dipalsukan.
3. Pencurian dari gudang senjata milik pemerintah, yang sering dilakukan oleh oknum militer untuk mendapatkan keuntungan pribadi.
4. Senjata rampasan dari medan perang setelah pertempuran.
5. Pembelian dari pihak resmi oleh masyarakat sipil yang selanjutnya dijual kembali kepada pihak lain.33
Di kawasan Timur Tengah sendiri, kemungkinan terjadinya perdagangan senjata gelap tidak diragukan lagi. Terlebih dengan semakin meningkatnya konflik dan kebutuhan akan senjata itu sendiri. Sebagai contoh, senjata senjata yang dikirimkan Amerika Serikat dan Arab Saudi ke Yordania untuk digunakan dalam pelatihan kelompok oposisi, justru berakhir di pasar gelap. Senjata-senjata tersebut dicuri secara sistematis oleh oknum dalam dinas intelijen Yordania (General Intelligence Directorate- GID), yang selanjutnya dialihkan ke black market. Senjata-senjata yang
33 Nicholas Marsh, 2002, Hal. 224
41 dicuri tersebut meliputi senapan serbu Kalashnikov, mortar dan roket pelontar granat (RPG).34
Kelompok teroris IS, seperti dilaporkan oleh Amnesty International bahwa senjata dan amunisi yang digunakan oleh IS berasal dari setidaknya 25 negara berbeda, dengan sebagian besar berasal dari militer Irak yang didapatkan dari Amerika Serikat, Rusia, dan negara-negara bekas Uni Soviet. Senjata-senjata tersebut banyak yang didapatkan di medan pertempuran setelah IS mengalahkan pemerintah Irak dan Suriah maupun melalui perdagangan gelap.35
Selain itu, IS juga diduga melakukan perdagangan senjata dengan mafia Italia. Perdagangan tersebut dilakukan dengan menukar senjata dengan artefak-artefak kuno peninggalan sejarah di situs-situs arkeologi yang dikuasai IS di wilayah negara Irak, Suriah dan Libya.36
Tidak menutup kemungkinan negara-negara juga terlibat dalam perdagangan senjata gelap. Sebuah situs berita online berbasis di Bulgaria, memuat berita yang menyatakan bahwa terdapat sekitar 350 penerbangan diplomatik yang membawa senjata-senjata bagi teroris, yang dilakukan oleh maskapai penerbangan Azerbaijan, Silk Way Airlines.
34 Mark Mazzetti dan Ali Younes, 2016, C.I.A Arms for Syrian Rebels Supplied Black Market, Officials Say, New York Times, dalam
https://www.nytimes.com/2016/06/27/world/middleeast/cia-arms-for-syrian-rebels-supplied-black-market-officials-say.html?mcubz=0 diakses pada 20 September 2017.
35 Amnesty International, 2015, How Islamic State Got Its Weapons, dalam
https://www.amnesty.org.uk/how-isis-islamic-state-isil-got-its-weapons-iraq-syria diakses pada 27 September 2017.
36 _______, 2016 http://europeinsight.net/italian-mafia-in-arms-for-artefacts-deals-with-isis/ diakses pada 10 November 2017.
42 Dalam berita tersebut, Arab Saudi dilaporkan menggunakan 23 penerbangan dari maskapai tersebut sepanjang tahun 2016-2017, yang melakukan penerbangan dari Bulgaria, Serbia dan Azerbaijan ke Jeddah dan Riyadh. Selama ini diketahui bahwa Arab Saudi tidak menggunakan senjata buatan negara Eropa Timur dalam standar militernya, melainkan senjata buatan negara-negara barat. Oleh karena itu, diduga bahwa senjata-senjata yang dimuat oleh maskapai tersebut digunakan untuk menyuplai kelompok bersenjata di Suriah dan Yaman yang oleh pemerintah Arab Saudi didukung secara terang-terangan. Adapun jenis senjata yang dimuat adalah mortar anti-tank dan RPG.37
Senjata-senjata sampai ke kawasan Timur Tengah melalui dua mekanisme perdagangan senjata tersebut, yakni legal dan gelap.
Membandingkan banyaknya jumlah senjata yang masuk ke kawasan dari dua mekanisme tersebut bukanlah hal yang mudah, atau bahkan tidak mungkin. Sebab selama ini, penelitian terkait perdagangan senjata gelap di kawasan Timur Tengah hanya mampu menelusuri pada dugaan pihak-pihak yang terlibat serta jalur pengiriman senjata-senjata tersebut. Belum ada penelitian yang mampu menyebutkan jumlah eksplisit senjata yang diperdagangkan secara gelap di kawasan Timur Tengah.
Dari semua itu, berdasarkan data-data perdagangan senjata yang telah dipaparkan di atas, penulis meyakini bahwa jumlah senjata yang diperdagangkan secara legal jauh lebih banyak jika dibandingkan dengan
37 Dilyana Gaytandzhieva, 2017, 350 Diplomatic Flight Carry Weapons for Terrorist, dalam https://trud.bg/350-diplomatic-flights-carry-weapons-for-terrorists/ diakses poda 10 November 2017.
43 jumlah senjata dari perdagangan senjata gelap. Hal ini disebabkan bahwa dalam perdagangan senjata legal, negara-negara sebagai aktor, dapat leluasa membeli persenjataan tertentu dengan jumlah yang lebih banyak serta dengan biaya yang lebih besar.
Sedangkan perdagangan senjata gelap, dilakukan olah pihak-pihak yang tidak memiliki kemampuan finansial sebesar negara, serta tidak leluasa membeli jenis persenjataan tertentu. Perdagangan senjata gelap, biasanya hanya mampu mengakses senjata-senjata jenis senjata kecil, serta harus sangat hati-hati dalam pengirimannya agar tidak diketahui. Jika pun sebuah negara terlibat dalam perdagangan senjata gelap, nilai perdagangannya tidak akan menyamai nilai perdagangan senjata legal yang dilakukannya.
Diperkirakan bahwa nilai perdagangan senjata gelap hanya sekitar 10%-20% dari total perdagangan senjata global seperti yang Penulis kemukakan pada bab I.