E. Penafsiran Quraish Shihab Tentang Ayat-Ayat Ishlah Dalam Kitab Tafsir al Mishbah
3. Perdamaian Suami dan Istri
Surah al-Nisa ayat 128:
30Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah ( Pesan ,kesan dan keserasian al-Qur’an)....,hlm. 586-587
Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh dari suaminya, Maka tidak Mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya, dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka) walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir. dan jika kamu bergaul dengan isterimu secara baik dan memelihara dirimu (dari nusyuz dan sikap tak acuh), Maka Sesungguhnya Allah adalah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.31
Pernikahan, tidak pernah luput dari kesalahpahaman. Jika hal kesalahpahaman tidak dapat diselesaikan sendiri oleh pasangan suami istri, dan perselisihan telah mencapai satu tingkat yang mengancam kelangsungan hidup rumah tangga, oleh karena itu ayat ini menfatwakan bahwa: jika seorang wanita khawatir menduga dengan adanya tanda-tanda akan nusyuz keangkuhan yang mengakibatkan ia meremehkan istrinya dan menghalangi hak-haknya atau bahkan walau hanya sikap berpaling. yakni tidak acuh dari suaminya yang menjadikan sang istri merasa tidak mendapat lagi sikap ramah, baik dalam percakapan atau bersebadan dari suaminya, seperti yang pernah dirasakan sebelumnya dan hal tersebut dikhawatirkan dapat mengantar pada perceraian, maka tidak mengapa bagi keduaya mengadakan antar keduanya perdamaian yang sebenar-benarnya, misalnya istri atau suami memberi atau mengorbankan sebagian haknya pada pasangannya, dan perdamaian itu dalam segala hal selama tidak melanggar tuntunan Ilahi adalah lebih baik bagi siapa pun yang bercekcok termasuk suami
istri, walaupun kekikiran selalu dihadirkan dalam jiwa manusia secara umum. Berdamailah walau dengan mengorbankan sebagian hakmu dan ketahuilah bahwa jika melakukan ihsan bergaul dengan baik dan bertakwa, yakni memelihara diri kamu dari aneka keburukan yang mengakibatkan sanksi Allah, antara lain keburukan nusyuz dan sikap tak acuh, atau perceraian, maka sesungguhnya Allah dahulu dan hingga dan akan datangadalah maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.32
Istilah ( حﺎﻨﺟﻻ ) la junaha? tidak mengapa, biasanya digunakan untuk sesuatu yang semula diduga terlarang. Atas dasar ini, sementara ulama menetapkan bahwa tidak ada halangan bagi istri untuk mengorbankan sebagian haknya, atau untuk memberi imbalan materi kepada suaminya.
Kalimat la junaha, itu mengisyaratkan juga bahwa ini adalah anjuran bukan suatu kewajiban. Dengan demikian kesan adanya kewajiban mengorbankan hak yang mengantar kepada terjadinya pelanggaran agama yang dapat dihindarkan. perdamaian harus dilaksanakan dengan tulus tanpa pemaksaan, jika ada pemaksaan perdamaian hanya merupakan nama, sementara hati akan semakin memanas hingga hubungan yang dijalin sesudahnya tidak akan langgeng. ayat diatas menekankan sifat perdamaian itu, yakni perdamaian yang sebenarya yang tulus sehingga terjalin lagi hubungan yang harmonis yang dibutuhkan untuk kelanggengan hidup nrumah tangga.33
Kata ( ّﺢﺷ ) Syuhh / kekikiran, pada mulanya digunakan untuk kekiran dalam harta benda, tetapi dalam dalam ayat ini mengandung makna kekikiran
32Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah ( Pesan ,kesan dan keserasian al-Qur’an)...,hlm. 603
yang menjadikan seseorang enggan mengalah mengorbankan sedikit haknya.Kekikiran dimaksud adalah tabiat manusia yang jiwanya tidak dihiasi oleh nilai-nilai agama. sekali lagi ia adalah tabiat manusia secara umum baik laki-laki maupun perempuan. bukan seperti dimaksud thulis At-Thabari bahwa jiwa yang dimaksud oleh ayat ini adalah jiwa wanita, yang sangat enggan mengalah tentang hak-hak mereka yang tedapat pada orang lain dan suami mereka. pendapat ini tidak beralasan, apalagi teks ayat tidak menyebut wanita secara khusus, tetapi pria dan wanita, suami dan dan istri. bahkan aneka sebab nuzul ayat yang diriwayatkan yang diriwayatkan oleh para ulama kesemuanya berkaitan dengan kerelaan istri mengorbankan sebagian haknya demi kelanggengan rumah tangga mereka. At Tirmidzi meriwayatkan bahwa istri Nabi saw, Saudah binti Zam’ah khawatir dicerai oleh Nabi saw, maka dia bermohon agar tidak dicerai dengan menyerahkan haknya bermalam bersama Rasul saw untuk Istri Nabi saw Aisyah ( istri Nabi sawyang paling beliau cintai setelah khadijah).
Imam Syafi’i meriwayatkan bahwa ayat ini turun berkaitan dengan kasus Putri Muhammad ibn Malamah yang akan dicerai oleh suaminya, lalu dia memohon agar tidak dicerai dan rela dengan apa saja yang ditetapkan suaminya. mereka berdamai dan turunlah ayai ini.34
Lafazh ( اﻮﻨﺴﺤﺗ ) tuhsinu terambil dari kata yang sama dengan kata ihsan, kata ihsan digunakan untuk dua hal, pertama memberi nikmat kepada pihak lain, dan kedua perbuatan baik. karena itu kata ( نﺎﺴﺣا ) ihsan lebih luas dari sekadar “ memeberi nikmat atau nafkah” maknanya bahkan lebih tinggi dan dalam dari
34Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah ( Pesan ,kesan dan keserasian al-Qur’an)...,hlm. 605
kandungan makna” adil” karena adil adalah memperlakukan orang lain sama sengan perlakuannya kepda anda, sedangkan “ihsan” memperlakukannya lebih baik dari perlakuannya terhadap anda. “adil” adalah mengambil semua hak anda dan atau memberi semua hak orang lain, sedang “ ihsan” adalah memberin lebih banyak daripada yang harus anda beri dan mengambil lebih sedikit dari yang seharusnya anda ambil. Itulah yang dianjurkan kepada suami istri yang sedang mengalami perselisihan rumah tangga.35
Ada empat hal yang dapat penulis simpulkan dalam penafsiran Muhammad Quraish Shihab terhadap ayatdiatas yang mana jika hal ini ada dalam kekeluargaan memungkinkan tidak akan terjadinya konflik kekeluargaan. Pertama,adanya sifat rela berkorban antar keluarga, kedua, Saling bersikap Ihsan,ketiga, bersifat adil antara suami istridan keluarga dan keempat adalah adanya keterbukaan antara suami dan istri.
Dalam ayat diatas juga ditekankan agar terhadap sengketa dalam rumah tangga lebih baik diselesaikan secara pribadi tanpa sepengetahuan orang lain, baik itu tetangga, masyarakat bahkan dari anak-anak. karena jika diketahui oleh orang lain akan menjadi aib bagi kita sendiri dan juga berefek negatif nantinya terhadap perkembangan anak.