BAB II TINJAUAN PUSTAKA
F. Bangun Pelimpah (Spilway)
5. Peredam Energi
………...(2.31)
………..(2.32)
Dimana :
O = Sudut Pelebaran F = Angka Froude
V = Kecepatan Aliran Air (m/dtk) d = Kedalaman aliran air (m) g = gravitas (m/dtk2)
5. Peredam Energi
Sebelum aliran air yang melintasi bangunan pelimpah dikembalikan lagi ke dalam sungai, maka aliran dengan kecepatan yang tinggi dalam kondisi aliran-aliran subkritis. Dengan demikian, kandungan energy dengan daya penggerus yang sangat kuat tersebut harus diredusit hingga mencapai tingkat yang normal kembali, sehingga aliran tersebut kembali kedalam sungai tanpa membahayakan kestabilan alur sungai yang bersangkutan.
Bangunan peredam energi menghilangkan atau setidaknya mengurangi energi dalam aliran sehingga tidak merusak tebiing jembatan, jalan, bangunan dan instalasi lain di sebelah hilir bangunan pelimpah atau di ujung hilir saluran peluncur. Disesuaikan dengan tipe bendungan urugan,
kondisi topografi serta sistem kerja peredam energi memiliki beberapa tipe yaitu :
a) Tipe loncatan (water jump type)
b) Tipe kolam olakan (stilling basin type) c) Tipe bak pusaran (roller bucket type)
Pada bendungan yang akan direncanakan akan digunakan peredam energi type flip bucket, dan galian terbuka untuk kolam olak. Dalam perencanaan jenis olakan maka berdasarkan juga pada bilangan Froude dengan rumus sebagai berikut :
√
………...(2.33)
) ……….….(2.34) Keterangan :
F = bilangan Froude
V1 = kecepatan aliran pada penampang 1 (m/dtk) D = kedalam air di bagian hulu kolam olak (m)
Sedangkan untuk menentukan panjang kolam olakan datar dapat menggunakan grafik hubungan antara bilangan Froude dan 𝐿/D2 , dimana L adalah panjang kolam olakan datar yang dimaksud.
Gambar 12. Grafik hubungan antara bilangan Froude dan L/D2 Sumber : Sosrodorsono, 2002
G. Stabilitas Bangunan Pelimpah
Pada Bangunan pelimpah agar dapat berdiri dengan kokoh, perlu adanya analisis mengenai kestabilan konstruksinya. Agar bangunan stabil perlu dikontrol apakah gaya-gaya yang bekerja tidakmenyebabkan bangunan bergeser, terangkat atau terguling. Adapun faktor-faktor yang berpengaruh terhadap stabilitas keamanan konstruksi bangunan pelimpah adalah sebagai berikut:
1. Faktor keamanan konstruksi terhadap guling (overtuning) SF = ∑
∑ ………(2.38) SF = ∑
∑ ………..……(2.39)
Dengan :
∑ = jumlah momen tahan
∑ = jumlah momen guling
SF = faktor keamanan (safety factor)
2. Faktor keamanan konstruksi terhadap geser (sliding) SF = ∑ ∑
∑ ………..……(2.40 )
Dengan :
∑ = jumlah gaya vertikal akibat berat sendiri
∑ = jumlah gaya uplift
∑ = jumlah gaya 43orizontal
SF = faktor keamanan (safety factor)
F = koefisien gesek antar perletakan (0,75)
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Lokasi Penelitian
Lokasi perencanaan dilaksanakan di Bendungan Ponre-Ponre di Kab.
Bone Provinsi sulawesi selatan.
Gambar, 13 (peta daerah ponre-ponre dan curah hujan yang berpengaruh)
Sumber: Manual OP Bendungan ponre-ponre B. Jenis Penelitian dan Sumber Data 1. Jenis Penelitian
Dalam penelitian ini penulis menggunakan analisis kuantitatif karena menggunakan data sekunder yang bersifat kuantitatif yang bergantung pada kemampuan untuk menghitung data secara akurat. Penelitian kuantitatif adalah suatu proses menemukan pengetahuan yang menggunakan data berupa angka sebagai alat menganalisis keterangan mengenai apa yang
diketahui. Disamping itu data akan digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari instansi terkait.
2. Sumber Data
Adapun data-data yang digunakan dalam penelitian ini diantaranya sebagai berikut :
a. Data Curah Hujan
Data curah hujan diperoleh dari data yang tercatat pada tiga stasiun hujan yang berbeda yang berada dalam cakupan areal Bendungan tersebut yang diperoleh dari Balai Besar Wilayah Sungai Jeneberang.
b. Data Klimatologi diperoleh dari Balai Besar Wilayah Sungai Jeneberang berupa data lama penyinaran matahari, kelembapan udara, temperatur udara rata-rata harian dan kecepatan angin dari tahun 2000 sampai dengan tahun 2020.
C. Variabel Penelitian
variabel penelitian adalah sebuah konsep yang mengandung variasi nilai (Effendi 1982, h.42). Variabel penelitian adalah sebagai suatu atribut atau sifat atau nilai dari orang, atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu sugiyono (2016, h. 38).
1. Variabel Penelitian
Variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah curah hujan, hujan rancangan, data penampang sungai.
2. Definisi Operasional Variabel
Berdasarkan variabel di atas maka gambaran mengenai definisi operasional variabel dalam penelitian ini yaitu :
a. Curah hujan
Curah hujan dapat diartikan sebagai ketinggian air hujan yang terkumpul dalam tempat yag datar, tidak menguap, tidak meresap dan tidak mengalir.
b. Hujan rancangan
adalah hujan harian maksimum yang akan digunakan untuk menghitung intensitas hujan. Hujan rancangan melihat berapa besarnya kedalaman hujan di suatu titik yang akan digunakan sebagai dasar perencanaan bangunan keairan, atau hidrograf berupa distribusi hujan sebagai fungsi waktu selama hujan deras.
c. Curah Hujan Maksimum Dengan Metode POT (Peak Over Threshold Methode)
Digunakan untuk menghitung Curah Hujan Maksimum harian rata-rata DAS. Sedangkan langkah-langkah yang dilakukan untuk menghitung Curah Hujan Rencana dengan periode ulang T tahun
D. Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan dalam rangka mencapai tujuan penelitian.
1. Curah Hujan Setengah Bulanan
Terdapat tiga (3) stasiun curah hujan yang digunakan untuk menghitung diantaranya:
a. Stasiun Bance berada pada koordinat 4°49‟19,4” LS - 119°56‟49,7”
BT dengan pengamatan dari tahun 2000-2020
b. Stasiun Tapale/camming berada pada koordinat 4°53‟46,8” LS - 120°04‟07,3” BT dengan pengamatan dari tahun 2000-2020
c. Stasiun Maradda berada pada koordinat 04°57‟33,5” LS - 120°22‟36,0” BT dengan pengamatan dari tahun 2000-2020
1. Data Klimatologi
Data klimatologi dari tahun 2000-2020 meliputi : a. Data suhu udara (%)
b. Data kelembaban relatif (%) c. Data kecepatan angin (km/hari)
d. Data lama penyinaran matahari (jam/hari) E. Teknik Analisa Data
1. Uji validasi data.
2. Perhitungan debit banjir rencana.
3. Perhitungan dimensi bangunan pelimpah (spillway) 4. Analisi stabilitas bangunan pelimpah (spillway)
F. Bagan Alir
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Analisa Hidrologi
1. Analisa Curah Hujan Wilayah
Perhitungan hujan maksimum harian rata-rata menggunakan metode Aljabar, di pilih karena secara titik lokasi pos hujan yang terjadi tidak memungkinkan mengubah metode Poligon Thiessen, Hasil perhitungan dapat dilihat pada tabel 4, sebagai berikut:
Tabel 4. Rekapitulasi Hujan Maksimum Harian Rata-Rata Metode Aljabar
No Tahun Tanggal Kejadian
Nama Stasiun
Rata-Rata Max
Camming Bancee Maradda Aljabar
I II III IV V VI VII VIII
I II III IV V VI VII VIII
2. Perhitungan Distribusi Frekuensi Curah Hujan
Dari tabel 3 curah hujan maksimum harian rata-rata kemudian diurutkan dari yang terbesar ke terkecil dan dihitung dengan menggunakan analisa parameter statistik untuk mengetahui metode perhitungan curah hujan rencana yang dapat digunakan.
a. Analisa Curah Hujan Rencana Metode Log Pearson Type III
No
Adapun langkah perhitungannya sebagai berikut;
Nilai rata-rata:
(Log Xi) = ∑
=
= Standar deviasi
(Sx) =
√
∑=
√
= Koefisien skewnes
(Cs) = ∑( ̅̅̅̅̅̅̅) ( ̅̅̅̅̅̅̅̅̅)
=
= -0,45
Hitung curah hujan rencana untuk kala ulang 5 tahun:
Log Xt = Log Xi + G.Sx
= 1,75 + (0.8120).(0,175) = 1.94 X = antilog X
Xt = 10^Log Xt
= 10^1,94 = 87,30 mm
Untuk langkah perhitungan selanjutnya dapat dihitung dengan cara yang sama.
Tabel 6. Rekapitulasi Analisis Curah Hujan Rencana untuk Periode Ulang Tahun (t) dengan distribusi Log Pearson Type III
No Periode rencana untuk periode ulang 5 tahun = 87.30 mm, 10 tahun = 107,14 mm, 25 tahun = 135.10 mm, 50 tahun = 158.18 mm, 100 tahun = 183,25 mm, 200 tahun = 210.58 mm.
3. Analisa Debit Banjir Rancangan a. Curah Hujan Efektif
Untuk mencari curah hujan rancangan efektif jam-jaman dalam periode ulang tertentu, data yang diperlukan:
Untuk prosedur perhitungannya dapat dilihat sebagai berikut:
Tr = 5 tahun
Rmaks = 87.30
C = 0,75 (koefisien pengaliran untuk pengunungan tersier) Rn = c . Rmaks
Untuk perhitungan selanjutnya dapat dihitung dengan cara yang sama.
Untuk melihat rekapitulasi hasil perhitungan curah hujan efektif dapat dilihat pada tabel 13.
Tabel 7. Rekapitulasi Perhitungan Curah Hujan Efektif
Waktu Ratio Curah Hujan Rencana (mm) (jam) (%) 5 tahun 10
4 8,49 5,5582 6,8210 8,6010 10,0705 11,6661 13,4062 5 7,17 4,6937 5,7601 7,2632 8,5041 9,8516 11,3210 Hujan Efektif 65,4787 80,3557 101,325
2
Dari tabel 7 di atas, maka diperoleh curah hujan efektif untuk periode ulang 5 tahun 65.4787 mm/hari, 10 tahun = 80.3557 mm/hari, 25 tahun = 101.3252 mm/hari, 50 tahun = 118.6368 mm/hari, 100 tahun = 137.4343 mm/hari, 200 tahun = 157.9334.
b. Analisa Debit Banjir Metode HSS Nakayasu
Untuk menganalisa debit banjir rancangan, terlebih dahulu harus dibuat hidrograf banjir pada sungai yang bersangkutan. Adapun data-data diketahui sebagai berikut:
Luas DAS (A) = 77,87 km2
Panjang sungai utama (L) = 60.00 km
Koefisien Pengaliran (c) = 0,75
Parameter alfa (α) = 2.00
Hujan satuan (Ro) = 1,00
tg = 0,40 + (0,058 x L ) ( L >15 km ) = 3,88 tr = 0 (0,5 sd. 1,0) tg, diambil tr = 0,8 tg = 1,94
Tp = tg + (0,8 * tr) = 5,432
T0,3 = a x tg = 7,76
Qp = (A x Ro) / (3,6 * ((0,3 * Tp) + T0,3) = 1,727
Tabel 8. Kordinat Hidrograf Satuan Sintetik dengan Metode Nakayasu
t Q Keterangan
Berdasarkan tabel 7, diperoleh grafik hidrograf rancangan dengan metode HSS Nakayasu, yang dapat dilihat pada gambar 14.
Gambar 14. Grafik Hidrograf Rancangan HSS Nakayasu B. Dimensi Hidrolis Spillway
Bangunan pelimpah berfungsi unuk mengalirkan air banjir yang masuk ke dalam embung agar tidak membahayakan keamanan tubuh embung. Pada perencanaan bangunan pelimpah Bendungan Ponre - Ponre dipakai debit banjir rencana 200 tahun sebesar 72,369 m3/dtk.
Bagian-bagian dari bangunan pelimpah yang direncanakan adalah : - Penampang mercu pelimpah
- Saluran transisi - Saluran peluncur
- Bangunan peredam energi
- Cek stabilitas bangunan pelimpah
0.0000
Hidrograf Satuan Sintetik Nakayasu Sebelum Dikalibrasi
Y
X
1. Mercu bangunan pelimpah
Tahap-tahap dalam merencanakan penampang mercu pelimpah adalah :
- Menentukan kedalaman saluran pelimpah
- Menghitung kedalaman kecepatan pada saluran pengarah - Menghitung kordinat penampang mercu pelimpah
- Analisis hidrolis mercu pelimpanh 2. Kedalaman Saluran Pengarah
Bangunan pengarah aliran berfungsi membuat arah aliran yang melewati mercu memiliki kondisi hidraulik yang baik berupa aliran yang yang seragam tanpa terjadi aliran turbulen.
Saluran pengarah aliran dimaksudkan agar aliran air senantiasa dalam kondisi hidrolika yang baik dengan mengatur kecepatan alirannya tidak melebihi 4 m/det, dengan lebar semakin mengecil kearah hilir. Apabila kecepatan aliran melebihi 4 m/det, maka aliran akan bersifat helisoidal dan kapasitas alirannya akan menurun. Disamping itu aliran helisoidal tersebut akan mengakibatkan peningkatan beban hidrodinamis pada bangunan pelimpah tersebut (Sosrodarsono,1976).
Berdasarkan pengujian-pengujian yang ada saluran pengarah aliran ditentukan sebagai berikut seperti pada gambar
Dari analisis data sebelumnya dimana didapat :
- Debit Outflow Spillway (Q) = 278,73 m3/dtk
- Lebar Total Pelimpah (B) = 30,5 m - Tinggi Ambang (W) = 12,34 m - Kemirngan Pelimpah Hulu = 30o
- Elevasi Puncak (crest) Pelimpah = + 216,0 m
3. Perhitungan Tinggi Muka Air Banjir Di Atas Mercu Spillway Diketahui :
Debit (Q) = 278,73 m3 Co = 1,3
C1 = 1 C2 = 1
Koef.debit (C ) = 1,3
Percepatan Gravitasi =9,81 m/et3
√ ⁄
√ {[ ] } ⁄
{[ ] } ⁄
He = 2,601 m
Table 9. Perhitungan “He” dengan cara coba-coba Tinggi Air atas Bendung (H )
Maka :
Di Titik A :
Kecepatan Aliran V1 = 3,57 m/dtk
Luas Penampang Hidrolis A1 = He1 x b1 = 1,468 x 29,98 = 44,01 m2 Tinggi Tekanan Kec. Aliran Hv1 = He1–Hd1 = 1,468 – 1,95 = 0,48 m Tinggi Aliran Hd1 = 1,95 m
Jari-jari Hidrolis R1 = 1,30 m
Elevasi = + 177,30 m
Di Titik B :
Elevasi di Titik B = El.awal – y = 177,3 – 3,30 = + 174,0 m Kecepatan Aliran pada kaki pelimpah :
√
√
Luas Penampang (A)
Tinggi Tekanan Kec.Aliran Air (Hv)
Elevasi Muka Air Kaki Pelimpah
Bilangan Froude pada Titik B :
√ Kecepatan Aliran Titik B :
Kedalaman Aliran titik B :
Koefisien Kehilanhan Energi Tekanan yang disebabkan penampang lintang saluran transisi = 0,1
Koef. Manning
Tinggi Tekanan Kec.Aliran Air (Hv)
Elevasi Muka Air Kaki Pelimpah
Diasumsikan nilai Vc = 7,37 m/dtk
maka nilai Vc= 7,37 m/dtk memenuhi
Bilangan Froude pada Titik C :
El.Titik C – ΔH = 172,5 – 1,50 = + 171 m Kecepatan Aliran Titik c :
Kedalaman Aliran titik C :
Koefisien Kehilangan Energi Tekanan yang disebabkan penampang lintang saluran transisi = 0,1
Tinggi Tekanan Kec.Aliran Air (Hv)
Elevasi Muka Air Kaki Pelimpah
Diasumsikan nilai Vd = 7,98 m/dtk
Karena Hd coba-coba = Hd yang diketahui = 7,98 m maka nilai V= 7,98 m/dtk memenuhi
Bilangan Froude pada Titik D : 7,98 √
Titik E :
Elevasi di Titik D
El.Titik D – ΔH = 171 – 1,50 = + 169,5 m Kecepatan Aliran Titik D :
Kedalaman Aliran titik D :
Koefisien Kehilanhan Energi Tekanan yang disebabkan penampang lintang saluran transisi = 0,1
Koef. Manning n = 0,012 Panjang Saluran
𝐿 Debit pada Saluran
Q = 278,73 m3/dtk
Debit pada Saluran
0
Tinggi Tekanan Kec.Aliran Air (Hv)
Elevasi Muka Air Kaki Pelimpah
Diasumsikan nilai Ve = 8,48 m/dtk
𝐿 maka nilai Ve= 8,48 m/dtk memenuhi
Bilangan Froude pada Titik E : √
C. Dimensi Struktur Spillway 1. Saluran Pengarah
⁄
Penampang Lintang sebelah hulu dapat diperoleh dengan persamaan:
Penampang lintang sebelah hilir dari titik tertinggi mercu pelimpah dapat diperoleh dengan persamaan lengkung Harold sebagai berikut :
X dan y = koordinat-koordinat permukaan hilir Hd = Tinggi energy di atas mercu
K dan n = Harga parameter yang diberikan pada table berikut :
Tabel 10 : Harga Parameter Kemiringan permukaan hilir
Kemiringan Permukaan hulu K n
vertikal 2 1,850
3 = 1 1,936 1,836
3 = 2 1,939 1,810
3 = 3 1,873 1,776
Kemiringan hulu vertical kemiringan 1:1 Diketahui :
Jadi batas lengkung permukaan hilir direncanakan sebagai berikut :
Dengan mensubtitusikan nilai absis X akan didapt nilai orbitnya Y :
Jadi Koordinatnya yaitu 18,7 ; 64,08
3. Saluran Transisi
Gambar 16 : Skema Bagian Transisi saluran pengarah pada bangunan pelimpah
Diketahui :
= 29,98 x 0.220 = 6,60 m Jadi;
= 0.220
Maka :
=
𝐿
𝐿 0,1 =
= 1,50 m
4. Saluran Peluncur
Gambar.17 : Skema saluran peluncur
Peralihan Mercu Spillway ke asaluran peluncur : Rumus :
√ ( ⁄ )
Dimana :
Yu = Kedalaman air pada bagian kaki spillway Be = Lebar Efektif Spiilway = 16,77 m
Hd = 1,95 m Maka :
√ ( ⁄ )
⁄
⁄ Sehingga ;
Perhitungan Saluran Peluncur Qoutflow = 278,73 m3/ dtk
X = x + + d2
X = 42,7 + 23,38 + 0,550 X = 66,63
Y = y + ΔH Y = 65,58 + 1,50 Y = 67,08
Kedalaman kritis (yc) saluran peluncur : Rumus
√
=
√
= 2,97
Bila diperoleh yu < yc maka aliran yang terjadi adalah aliran super kritis Karena yu(0,93) < yc(1,26) maka aliran yang terjadi adalah superkritis.
Vc =
= = 3,13
Perhitungan Bagian Terompet pada Ujung Hilir Saluran Peluncur :
Rumus
F = √
=
= 0,58 Tan =
=
= 0,57 Tan = 12.57
Lebar saluran peluncur bagian hilir (B) adalah : a= 3f x tan
= 3 x 0,58 x 0,57 = 1 m
B = b2 + a + a
= 23,4 + 1 + 1
= 25,4 m 5. Bangunan Peredam Energi
v (kecepatan awal loncatan ) = 8,18 m/dtk g (percepatan gravitasi bumi ) = 9.81 m/dtk2 B (lebar saluran) = 25,4 m
Fr (bilangan Froude ) = 4,96
Y1 (de) = 1,406 m
Qoutflow = 278,73 m3/dtk
Debit air permeter lebar bangunan peredam energi
= =
= 6,35 m3/dtk
Digunakan tipe kolam olak USBR II karena :
Q > 45 m3/dt
V < 60 m2/det
Fr > 4.5
= √
= √ Y2 = 6,53 m
Y2 = 9,18 D2
Gambar 18: Panjang loncatan hirolis paa kolam olakan atar type I , II , III
Dari grafik dengan nilai fr 4,96 maka didapatkan nilai : 2,3 = 2,3
= 2,3
𝐿 = 21,21 m ~ 21,210 m
Jadi dimensi kolam olakan 25,58 m x 21,21 m
Dimensi gigi pemancar aliran :
Yu = de = 1,406 m
Jadi didapat jumlah gigi pemancar aliran adalah 9,03 buah ≈ 9 buah Jarak antara gigi – gigi adalah = 1,406 cm
Jarak antara dinding masing – masing adalah 0,70 m = 70,28 cm Cek jumlah jarak :
(9 x 1,406 ) + ( 13 x 1,406) + ( 2 x 3,00 ) = 37 m
Gambar 19: Grafik ambang hilir gigi benturan Gigi – gigi pembentur aliran
D1 = De = 1,406 m B = 25,4 m
Dari grafik dengan nilai fr 4,96 didapat : 1,2
H3 = 1,6867 m ≈ 1,7 m
Lebar gigi pemecah gelombang 0.75 x H3 = 1,27 m
Jadi didapat jumlah gigi pemancar aliran adalah 10,03 buah ≈ 10 buah Jarak antara gigi 1,27 x H3 = 2,1 m
Jarak antara gigi dan dinding 0.68 x H3 = 1,14 m Cek jumlah jarak :
( 11 x 1,27) + (11 x 1,27) + ( 2 x 1,14) = 30 m
Kemiringan ujung hilir gigi – gigi pembentur 2:1 Dari grafik dengan nilai fr 4,96 didapat : 1,4
H4 = 1,968 m ≈ 2,0 m
Kedalaman loncatan hidrolis dalam kolam olakan Didapat hasil perhitungan sebagai berikut :
Hde = d1 = 1,41 Fr = 4,96
d2 / 1,071 = ½ + √ d2 = 10,59 m
Perhitungan Tinggi Jagaan
c = 0.1 (koef.untuk penampang berbentuk persegi) d = 1,41 m
b = 25,38 m A = d x b
= 1,41 x 25
= 35,25 m2
V =
=
= 7,81 m/dtk maka diperoleh tinggi jagaan : Fb = c x v x d
= 0.1 x 7,81 x 1,41 = 1,10 m
Atau
Fb = 0.6 + (0.04 x V x d1/3 ) = 0.6 + (0.04 x 7,81 x 1,12 1/3) = 0.92 m ~ 0,9 m
Jadi tinggi jagaan (fb) = 0,9 m
Perhitungan Tinjauan Terjadi Scouring
Tinjauan scouring diperlukan untuk mengantisipasi adanya gerusan lokal di ujung hilir pelimpah. Untuk mengantisipasi hal tersebut dipasang apron yang berupa pasangan batu kososng. Batu yang dipakai untuk apron harus keras, padat, awet, serta mempunyai berat jenis 2,4 t/m3. Panjang apron 4 kali kedalaman gerusan atau scouring ( KP-02 hal 104 ). Rumus yang digunakan adalah rumus Lacey sebagai berikut :
{ }
Dimana :
R = kedalaman gerusan dibawah permukaan air banjir(m).
Q = debit outflow spillway ( m3/dtk).
f = faktor lumpur lacey ( 1.76 x Dm1/2 ).
Dm = diameter nilai tengah untuk bahan jelek (mm).
Data :
Qoutflow = 278,73 m3/dtk A = Beff x Hd
= 29,98 x 1,95 = 58,45 m2
V =
= = 4,77 m/dtk
Gambar.20: Grafik untuk perencanaan ukuran batu kosong Dm = 5 m
F = 1.76 x Dm1/2
= 1.76 x 5 1/2
= 3,93
R = 0.47 x
= 0.47 x
= 1,01 m
Maka kedalaman gerusan dibawah permukaan air banjir adalah 1,01 m ≈ 1,0 m
Untuk keamanan dari turbulensi dan aliran tidak stabil 1,01 x 1,0 = 1,01 m Panjang lindung dari pasangan batu kosong 4 x 1,01 = 4,04 m
Diambil panjang lindungan pasangan batu kosong = 4 m
D . Analisa Stabilitas Pelimpah
Kondisi Muka Air Setinggi Mercu Pelimpah 1. Perhitungan Uplift Pressure
Pada muka air setinggi mercu, maka diperoleh perhitungan sebagai
Selanjutnya bias dihitung gaya-gaya angkat (uplift pressure) pada tiap titik pada tebel 11.
Table 11. Perhitungan Uplift Pressure pada tiap titik titik ∆H
7 11 6 4,48 1,493333 7,493333 64,74333 1,181857 8,5 7,318143
2. Perhitungan titik berat konstruksi
Diketahui berat jenis beton sebesar 2,4 t/m2, sehingga bias dihitung berat
Tabel 12. Perhitungan Titik Berat Konstruksi
Gaya Jumlah
3. Perhitungan momen yang bekerja pada titik putar
Dari semua gaya-gaya yang bekerja, meliputi gaya hidrostis, gaya angkat (uplift pressure) dan gaya akibat tekanan tanah, selanjutnya dihitung momen yang terjadi terhadap titik putar seperti pada table 13. Berikut.
Table 13. perhitungan momen
Gaya
jumlah 119,2304 196,971
Sumber: perhitungan
5. Kontrol geser (Sliding)
∑ ∑
∑ Dimana :
ƒ = koefisien gesekan (0,7)
ƩG = gaya vertical total akibat berat sendiri ƩU = gaya uplift total
ƩH = gaya horizontal total
2,65 ≥ 1,2 (OKE)
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Dari hasil perhitungan didapatkan dimensi Bangunan Pelimpah (Spillway) dengan rincian sebagai berikut :
a. Tipe Mercu = Ogee tanpa pintu
b. Lebar Pelimpah = 30 m
c. Panjang Saluran Pengatur = 15 m d. Panjang Saluran Peluncur = 11 m e. Panjang kolam olak = 21,2 m f. Tipe Kolam Olak = Type II
2. Dari analisa stabilitas bangunan pelimpah (spilway) terhadap momen guling dan geser pada kondisi muka air normal didapatkan hasil sebgai berikut;
a. Kontrol guling
1,652 ≥ 1,2 (OKE)
b. Kontrol geser
∑ ∑
∑
2,65 ≥ 1,2 (OKE)
B. Saran
1. Dalam merencanakan bangunan pelimpah (spillway) dibutuhkan data curah hujan untuk analisa hidrologi sehingga diketahui debit banjir rencana.
2. Diperlukan ketelitian dalam hal pengamatan pos ukur tinggi muka air oleh instansi terkait , untuk mendapatkan penyajian data yang baik guna menganalisis debit puncak/banjir karna jika tidak ditangani secara serius maka akan jadi suatu masalah terkait dengan potensi terjadinya banjir.
DAFTAR PUSTAKA
Alik, N. Y., Tanan, B., & Lukman, M. (2020). Tinjauan Perencanaan Spillway Bendungan Karalloe di Kabupaten Gowa. Paulus Civil Engineering Journal, 2(1), 31-37.
Anonim. 2010. “The Japanese Code 1957 Species Crest Width”,http://www.dur.ac.uk/~des0www4/cal/dams/emba/ecrest.ht m, diakses 9 Oktober 2013.
Aslam, M. (2015). Perencanaan Spillway Submersible Pada Bendungan Titab, Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali (Doctoral dissertation, Institut Teknologi Sepuluh Nopember).
Lesmana, G. (2013). Studi Perencanaan Spillway Bendungan Lambuk di Kabupaten TabananPropinsi Bali (Doctoral dissertation, Universitas Brawijaya).
Loebis, J. 1984. Banjir Rencana untuk Bangunan Air. Jakarta : Departemen PU
Maulana, M. L., Noerhayati, E., & Rachmawati, A. (2019). Studi Perencanaan Bangunan Pelimpah (Spillway) Pada Bendungan
Tugu Kabupaten Trenggalek. Jurnal Rekayasa Sipil, 6(2), 155-164.
Nisa, A., dkk. 2008. Perencanaan Detail Bendungan UNDIP Sebagai Pengendali Banjir Pada Banjir Kanal Timur. Semarang : F. Teknik Sipil UNDIP
Rosyidi, A., Maricar, F., & Bakri, B. (2020, October 26). Analisa Distribusi Sedimen Untuk Manajemen Umur Layanan Waduk Ponre-Ponre. Jurnal PenelitianEnjiniring, 24(1),81-86.
https://doi.org/https://doi.org/10.25042/jpe.052020.11 Soedibyo. 1993. Teknik Bendungan. Jakarta : PT. Pradnya Paramita.
Soemarto, CD. 1987. Hidrologi Teknik. Surabaya : Usaha Nasional.
Soemarto, CD. 1999. Hidrologi Teknik. Jakarta : Erlamgga.
Soewarno. 1995. Hidrologi Aplikasi Metode Statistik Untuk Analisa Data.
Bandung : Nova.
Sosrodarsono, dkk. 1983. Hidrologi Untuk Pengairan. Jakarta : PT Abadi.
Sosrodarsono, S dan Takeda, K, 1989. Bendungan Tipe Urugan. Jakarta : Pradnya Paramita.
Wahyudin, W., Sulistiawaty, S., & Ihsan, N. (2019). Analisis Kerentanan Bendungan Ponre-Ponre Kabupaten Bone Berdasarkan Pengukuran Mikrotremor Dengan Metode HVSR. Jurnal Sains dan Pendidikan Fisika, 15(2).
Yaqien, A. (2014). Perencanaan bangunan pelimpah (Spillway) bendungan Marangkayu, kab. Kutai Kertanegara, Kalimantan Timur (Doctoral dissertation, Institut Teknologi Sepuluh Nopember).