• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III PENGOPERASIAN ANGKONG DI KOTA MEDAN SEBELUM

3.4. Operasional Angkong

3.4.2. Tarif

Peraturan tentang tarif angkong sebelum dibentuknya gemeente Medan hanya berbentuk kesepakatan antara calon pengguna dengan penarik angkong itu sendiri.

Diketahui bahwa sebelum menaiki angkong sebaiknya bertanya terlebih dahulu tarif yang akan dibayarkan sebelum diantarkan ke tujuan yang diinginkan calon pengguna angkong tersebut. Sebelumnya tarif angkong berlaku ditentukan dari jarak tempuh yang diantarkan. Sebaiknya bertanya terlebih dahulu tarif yang akan ditentukan oleh penarik angkong, agar menghindari keributan. Karena dalam sebuah berita tertulis bahwa sering terjadi keributan dan perkelahian antara penarik angkong dan pengguna yang dikarenakan tarif yang tidak sesuai.128 Karena dalam hal kepengurusan tarif, baik itu sado, kereta sewa, dan angkong sekalipun belum terealisasikan, dikarenakan Medan saat itu masih belum menjadi gemeente.

Mengenai tarif transportasi nonmekanis yang ada di Medan baru ditentukan setelah banyak laporan tentang masalah tarif yang membuat banyak keluhan, sehingga menimbulkan kericuhan. Maka dari itu ditetapkan untuk pemberlakuan awal

126Deli Courant, 03 Februari 1922, op.cit.

127Utusan Sumatera, 20 November 1923 op.cit.

128Pos Sumatera, 25 Oktober 1904, Tarief hongkongs. Mengenai tarif hongkong dalam laporan berita ini tercatat, bahwa tarif hongkongs sedang diproses oleh departemen Deli.

yang dibuat oleh Departemen Deli, yaitu dengan hitungan per KM 10 sen gulden untuk di dataran datar, dan 15 gulden sen untuk di daerah perbukitan.129

Pada tahun 1908 Afdelingsraad van Deli (Dewan Departemen Deli) melakukan rapat yang membahas beberapa point penting. Salah satunya ialah point VII. Vastselling van het tarief voor dos a dos, kereta-sewah’s en hongkongs in de afdeeling Deli (vide art.6 v/d wagenkeur).130 Dalam rapat tersebut ditentukan untuk tarif masih menggunakan standar yang lama, mengenai pertukaran mata uang dari dolar menuju gulden angka tarif mengikuti standar lama. Selain itu juga membahas tentang penurunan harga alat transportasi karena itu juga akan memicu tarif nantinya.

Juga ditentukan bahwa tarif tersebut berlaku dari jam 06.00 pagi hingga jam 08.00 malam.131 Diluar tarif yang ditentukan akan diumumkan lebih lanjut, sehingga tarif tersebut disahkan untuk sementara waktu, sampai adanya perubahan lebih lanjut.

Pada tahun 1916 salah satu penarik angkong yang ada di Medan di wawancarai oleh Courant Deli132 yang bernama Li Hung Chang. Ia mengatakan ketika ia bekerja sebagai penarik angkong, ia membayarkan sewa angkongnya kepada taukeh sebanyak 40 sen sehari. Jika hari tersebut baik, ia bekerja sampai malam hari bisa menghasilkan hingga sampai f.4, jika hari tersebut buruk, kemungkinan ia dapat f.2.5 meskipun itu jarang sekali terjadi. Bahkan jika ditotalkan, dalam sebulan ia bisa menghasilkan f.75 hingga f.100 gulden. Ia juga menjelaskan sistem pembayarannya,

129Deli Courant, 07 Maret 1908. Afdeelingsraad van Deli. Membahas tentang rapat dewan di Deli yang salah satu point besarnya adalah penentuan tarif sado, kereta sewa dan angkong.

130Ibid,.

131Ibid,.

132Deli Courant, 12 Mei 1916 op.cit.

kebanyakan para pengguna angkong membayar tarif dengan murah hati (dilebihkan), juga beberapa pengguna membayar 1 duppie atau 3 sen dengan murah. Jika pengguna tersebut membayar tidak sesuai maka dipastikan ia akan kesulitan menemukan penarik angkong lainnya, karena sudah ditandai di daftar hitamnya.

Pemberlakuan tarif berikutnya berlangsung pada tahun 1920, dimana terjadi peningkatan tarif khususnya penarik angkong. Tarif yang ditetapkan oleh gementeraad berkisar antara 15-45 sen, tergantung jarak tempuh kendaraan. Waktu tarif tersebut ditetapkan dari pukul 06.00 pagi sampai pukul 1 malam, lewat dari jam berlaku tarif ditambahkan setengah dari tarif normal.133 Tarif-tarif yang ditentukan tersebut ternyata telah disalahgunakan oleh penarik angkong. Penarik angkong tersebut masih memiliki persoalan terhadap tarif yang telah ditentukan sebelumnya, dikarenakan adanya perbandingan tarif dengan daerah lain, seperti Singapura. Sebuah keluhan tarif angkong ditulis kembali oleh Deli Courant, yang mengatakan bahwa Medan memiliki tarif yang tidak masuk akal, sehingga dimohon agar gementeraad memperhatikan lebih lanjut persoalan tarif ini.134

Untuk mengatasi hal demikian maka gementeraad melakukan kebijakan baru terhadap permasalahan tarif tersebut dan dituliskan kembali melalui Courant Deli,

133Syaiful Anwar., loc.cit.,

134Deli Courant 30 Agustus 1921, Reisbrieven Singapore. Sebuah perbandingan transportasi di Singapura dan Medan. Sebagai contoh penarik angkong, dimana di Singapura meggunakan angkong selama satu jam dibayar dengan $ 0,60, sedangkan di Medan f 2 gulden. Jika dibandingkan di tempat-tempat lain, tarif angkong di Medan sangat tidak efektif. Gementeraad belum menentukan untuk pengguna angkong selama itu (hitungan satu jam), akan tetapi penarik angkong membuat keputusan dengan tarif tersebut dan ini memberatkan pengguna angkong lainnya.

secara terperinci mengenai tarif-tarif angkong tersebut untuk jarak jalannya dan tarifnya135 dapat dilihat dibawah ini :

Tabel 2. Tarif Angkong dan Jarak Tempuh Jalan 1921

No Jarak Tempuh Harga

Sumber : Diakses melalui Courant Deli 05 September 1921. Diakses pada tanggal 20 Maret 2021 pukul 09.00 WIB. Melalui Delpher.nl

Untuk jarak tempuh jalan jauh sampai perbatasan kota madya di Padang Boelanweg, Avroslaan, atau Serdangweg tarifnya adalah f.0.45. Jika tarif jarak minimumnya f.0.15 maka tarif untuk jarak jauhnya f.0.45. Dalam kasus perjalanan penuh selama 1 jam yang menjadi keluhan sebesar f.2 gulden, maka dari itu

135Deli Courant, 05 September 1921. De Sado- en Rickshaw Tarieven.

ditentukan bahwa perjalanan untuk satu jam sebesar f.0.90. Ini dihitung dari f.0.050 (setengah sen) per menit, sehingga satu jam sebesar f.0.90. Penggunaan tersebut dengan syarat sudah dibayarkan sebesar f.0.20 setelah melakukan perjalanan angkong selama setengah jam (30 menit), selama itu dilakukan istirahat dan disitulah dibayarkan. Selanjutnya melakukan sisa dari waktu perjalanan, setelah selesai barulah dibayar sisanya.136

Sejak tahun 1921 telah disepakati tarif angkong dimasa gemeente Medan, dan selama tahun 1921 sampai dengan tahun 1927 hingga dimana lahirnya kebijakan baru tentang tidak memberikan izin baru terhadap penarik angkong, selama itulah tarif angkong berlaku. Selama periode ini pemerintah gemeente Medan yang dibantu oleh gementeraad kembali dalam kinerjanya, salah satunya adalah untuk mengawasi lisensi penarik angkong yang saat itu dibawah pengawasan Dienst der Gementeewerken van Medan. Setelah itu permasalahan terhadap tarif dianggap selesai, permasalahan baru kembali lagi. Permasalahan tersebut nantinya akan berdampak besar bagi penarik dan pengguna Angkong di gemeente Medan yang akan dijelaskan di bab selanjutnya.

136Ibid,.

BAB IV

FAKTOR YANG MENYEBABKAN ANGKONG DILARANG BEROPERASI DI GEMEENTE MEDAN (1927-1935)

Telah dijelaskan di bab sebelumnya, bahwa isu penghapusan angkong telah terjadi pada tahun 1916 di geemente Medan. Untuk mengatasi isu tersebut pemerintah akhirnya mengeluarkan kebijakan tentang lisensi penarik angkong serta membentuk sebuah inspeksi dibawah pengawasan Dienst der Gemeentewerken untuk melakukan pengawasan terhadap para penarik angkong. Kebijakan tersebut melahirkan pembentukan lisensi, dan pemeriksaaan setiap 6 bulan (Januari-Juni).

Isu penghapusan angkong muncul kembali pada tahun 1925,137 Saat itu dikatakan bahwa akan dilarangnya transportasi angkong di gemeente Medan dengan tidak memberikan lisensi kepada penarik angkong yang baru. Hal ini juga diperkuat dengan alasan yang sama, seperti yang terjadi di tahun 1916, ketidaketisan (tidak manusiawi) dan keamanan lalu lintas,138 serta perihal kesehatan.139 Alasan alasan-tersebut juga dibantah oleh beberapa penarik angkong yang keluhannya dituliskan oleh Pos Sumatera. Mereka mengatakan, banyak pekerjaan yang tidak etis, seperti di

137Syaiful Anwar op.cit., hal 345

138De Groot, Kolff & Co, 30 November 1927, Semarang. Tertulis dalam bagian lokomotif dengan judul Hongkong en Rickshaw. Dikatakan dalam penghapusan secara bertahap, dimulai dari tidak memberikan lisensi kepada penarik angkong di Medan. Ini didasarkan pada pekerjaan tersebut dipadang dari sudut kemanusiaan yang tidak pantas dilakukan, juga layanan bus, taksi mentolerir penghapusan angkong karena tidak terbiasa dengan lalu lintas tersebut, dan dapat menimbulkan bahaya.

139Algemeen handelsblad voor Nederlandsch-Indi , 24 November 1928, Semarang. Dengan judul De Riksja’s verdwijnen (para pekerja becak menghilang). Dikatakan bahwa tenaga kerja dari kuli becak sangat tidak sehat. Ini cenderung jarang mencapai usia yang sangat tua (angka kematian tinggi sebelum lansia) yang dikarenakan karena penyakit jantung.

Vanesia berlayar sepanjang hari dibawah terik matahari, para pendayung Madura di Surabaya, serta di rumah jagal, orang Cina menarik gerobak bermuatan tinggi dengan babi yang berat, tentunya ini tidaklah etis.140 Selanjutnya persoalan hambatan lalu lintas juga dituliskan, bahwa para penarik angkong tersebut melaksanakan pekerjaannya dengan hari-hari dan membatasi kecepatannya dengan mengantarkan anak-anak kesekolah dengan aman.141

Pada akhirnya gemeente Medan membuat peraturan baru mengenai penarik angkong, seperti beberapa masukan serta keluhan yang terjadi dan dituliskan oleh koran-koran terbitan tahun 1927. Peraturan tersebut dibuat oleh gementeraad Medan dengan sebutan hongkongverordening. Selain itu, pada bab ini akan dijelaskan seperti apa pandangan masyarakat terhadap penarik angkong tersebut dan juga pemerintah dalam hal pandangannya, seperti apa yang harus dilakukannya untuk menyikapi penarik angkong tersebut, serta pengaruh yang akan diterima masyarakat kota dan penarik angkong itu sendiri atas aturan yang dibuat oleh pemerintah gemeente Medan.

4.1. Peraturan Gemeenteraad

Peraturan gemeenteraad dimulai pada tahun 1927, dimana terjadi sidang sebanyak 13 kali dalam tahun itu.142 Dalam sidang-sidang tersebut ditetapkan berbagai peraturan. Peraturan tersebut salah satunya menyangkut penarik angkong.

140Pos Sumatera, 18, November 1927 op.cit.,

141Ibid,.

142Pemerintah Kotamadya daerah Tingkat II, op.cit., hal 119.

Sebelum peraturan tersebut ditetapkan, berbagai macam pertimbangan dilakukan oleh gementeraad agar dapat menyelesaikan permasalahan angkong tersebut.

Sehingga salah satu dewan Cina mengatakan sarannya bahwa penghapusan angkong dilakukan secara bertahap, 143 hal ini dilakukan pada akhirnya agar menghindari permasalahan yang semakin besar, seperti penarik angkong yang telah ada sebelumnya, hingga masalah kebutuhan angkong yang akan dihapuskan secara total maka itu akan menimbulkan keluhan masyarakat gemeente Medan terhadap pengguna angkong baik itu di pagi hari, siang, hingga malam. Selain itu, untuk menekan angka peningkatan angkong di gemeente Medan dan menghapusnya maka dari itu dilaksanakan peraturan tersebut. Sehingga diputuskanlah peraturan baru angkong pada tahun 1927, yang dikenal sebagai Hongkongverordening ddo. 16 November 1927.144

Isi dari peraturan tersebut adalah, peraturan ini berlaku sejak 1 Januari 1928 dan untuk seterusnya tidak diberikan lagi izin atau sertifikat pendaftaran, yang telah dibuat tahun-tahun sebelumnya.145 Peraturan tersebut bertujuan untuk menghapus angkong yang ada di Kota Medan secara perlahan. Dengan ini gementeeraad mengambil langkah untuk tidak memberikan lisensi kepada penarik angkong baru, dan membiarkan penarik angkong yang telah memiliki lisensi sebelumnya tetap

143Verslag Betreffende Gemeente Medan over het jaar 1927, koninklijk Instituut Taal Land en Volkenkunde, Medan: Varekamp & Co. Dikatakan dalam dokumen tersebut dengan kutipan: Op voorstel van een der Chinesche raadsleden besloot de Gemeenteraad tot geleidelijke afschaffing van het hongkongbedrijf. Pada tahun 1927 dewan Cina yang menjabat berjumlah dua orang, yaitu: Gan Huat Soei dan Jap Soen Tjhay.

144Memorie van Overgave S. Bouman op.cit., hal 72.

145M.J.Lusink, 1928, Kroniek 1927, Amsterdam: Uitgave van Het Oostkust van Sumatra-Instituut, hal.12. loc.cit., S. Bouman.

melaksanakan pekerjaanya, diikuti dengan peraturan yang telah ditentukan oleh gementeraad mengenai tetap mengikuti inspeksi enam bulanan (Januari-Juli).

Jika masyarakat gemeente Medan mengeluhkan bahwa pekerjaan penarik angkong sangat tidak etis, dan dianggap pekerjaan tersebut tidak layak untuk manusia melainkan untuk hewan, disisi lain mayoritas Tionghoa menggangap bahwa mereka enggan untuk melarang profesi seperti itu. Mayoritas itu mengatakan bahwa penarik angkong tersebut mengandalkan pekerjaan itu sebagai mata pencahariannya, untuk dapat bertahan hidup dan ketidaksetujuan mereka bahwa angkong dapat menggangu transportasi perkotaan karena terlalu cepat, yang menurut mereka adalah sesuatu yang tidak benar.146

Setelah itu mereka juga memperhatikan masalah pengangguran akan peraturan ini yang terus meningkat. Hal ini sangat penting karena dikatakan, bahwa muncul rasa kepedulian sesama mayoritas Tionghoa atas kebijakan itu, sehingga mereka tidak setuju terhadap peraturan yang dibuat tersebut.

Walikota gemeente Medan menjawab akan persoalan ini, dengan mengatakan bahwa dewan pada prinsipnya telah memutuskan penghapusan secara bertahap ini.147 Sejak dikeluarkan peraturan angkong mengenai tidak memberikan izin (lisensi) baru kepada penarik angkong, ini menyimpulkan bahwa penarik angkong akan dihapuskan. Penghapusan ini juga tidak secara langsung, akan tetapi secara bertahap dan target penghapusan angkong yang ada di gemeente Medan selama 10 tahun,

146Deli Courant, 11 Mei 1927.

147Pos Sumatera, 18 November 1927 op.cit.,

terhitung dari tahun 1927 dimana peraturan tersebut dikeluarkan oleh gemeenteraad.148

Dalam penghapusan secara bertahap ini, tetap dilaksanakannya inspeksi enam bulanan, akan tetapi tidak memberikan lisensi baru, melainkan memperpanjang lisensi yang telah diurus oleh penarik angkong sebelum dihapusnya izin penarik baru.

Pada tahun 1927 sampai dengan 1929 penarik angkong dari setiap tahunnya mengalami penurunan yang dapat kita lihat dalam gambar 4.1.

148De Noord-Ooster,04 Mei 1935, Wildervank. Dengan judul De laatste 170 rickshaw-koelies. Op zoek naar mensch waardiger beroep.

Gambar 4. 1 Tinjauan kendaraan terdaftar Gemeente Medan 1927-1929

Sumber: Verslag Betreffende Gemeente Medan over het jaar 1927-1929, koninklijk Instituut Taal Land en Volkenkunde, Medan: Durk Kohler & Co. (diakses

melalui situs online Colonialarchitecture.eu) Diakses pada tanggal 23 Maret 2021 pukul 09.00 WIB

Pada tahun 1927 hingga tahun 1929 angkong mengalami penurunan, yang dikarenakan angkong tersebut tidak memenuhi persyaratan dalam pemeriksaan yang dilakukan oleh inspeksi tersebut, seperti kelayakan angkong (kondisi angkong), dan kesehatan penarik angkong. Disisi lain, izin baru (lisensi) terhadap pengguna angkong dihapuskan. Sehingga penghapusan angkong secara bertahap tersebut terlaksana dengan baik, yang ditandai dengan tidak adanya pertambahan angkong di

gemeente Medan, akan tetapi pengurangan angkong di Medan terus dilakukan dengan cara pemeriksaan yang dilakukan oleh inspeksi tahunan. Selain itu transportasi seperti sado, auto (mobil), gerobak sapi, mengalami peningkatan setiap tahunnya. Mengingat angkong yang terus berkurang maka transportasi selain angkong ditingkatkan.149 4.2. Pengaruh Aturan Tersebut Bagi Masyarakat dan Penarik Angkong

Sejak dikeluarkannya kebijakan baru mengenai hongkongverordening ddo. 16 November 1927, permasalahan-permasalahan muncul bagi masyarakat kota, maupun penarik angkong itu sendiri. Hal ini menjadi pengaruh yang cukup signifikan terhadap transportasi yang ada di gemeente Medan. Selain dibutuhkannya transportasi alternatif setelah sado, juga permasalahan pengangguran yang ada di gemeente Medan meningkat. Karena pekerjaan sebagai penarik angkong di gemeente Medan merupakan salah satu peluang untuk mengatasi pengangguran yang ada di kota tersebut. Angkong juga dibutuhkan karena tarifnya dapat dikatakan murah jika dibandingkan dengan sado ataupun transportasi mekanis seperti taxi yang ada di Medan, vrach auto, dan mobil. Pada akhirnya lisensi (izin penarik) angkong tidak dibuat lagi, secara tidak langsung ini merupakan penghapusan angkong yang dilakukan secara bertahap.

Pengaruh terhadap aturan tersebut seperti yang dirasakan langsung oleh pengguna angkong adalah sulitnya menemukan penarik angkong diatas jam 20.00

149Deli Courant, 11 Mei 1927 op.cit., Dijelaskan bahwa, begitu angkong menghilang, sado ataupun taksi akan menggantikannya Lihat Juga Gambar 4.1 Peningkatan Transportasi selain angkong juga meningkat setiap tahunnya.

malam150 yang saat itu sudah menjadi andalan pengguna jika melakukan aktivitas di malam hari, ataupun sesuatu yang diperlukan untuk berpergian di malam hari, maka angkonglah transportasi yang diandalkan. Sejak berkurangnya transportasi angkong ini, ini membuat sado menambahkan jumlahnya agar bisa dioperasikan hingga malam tiba, sehingga terjadi peningkatan antara tahun 1925-1928.151 Bahkan pada tahun 1933 penarik angkong sudah tidak ada lagi malam hari, yang berguna pada saat itu untuk mengantarkan pengguna di setiap jalanan lintas hingga sampai ke stasiun kereta api Medan.152

Pengaruh yang dirasakan oleh penarik angkong tersebut, selain dari peluang untuk mendapatkan izin baru ditiadakan, juga berdampak pada inspeksi enam bulanan yang kian makin ketat. Karena pada dasarnya, tujuan tersebut memang untuk menghapus angkong sebagai transportasi umum yang ada di gemeente Medan.

Keberhasilan gemeenteraad atas pencabutan lisensi baru terhadap penarik angkong, membuat perhatian lebih kepada penarik angkong yang telah beroperasi sebelumnya.

Untuk itu inspeksi enam bulanan terus dilakukan, pemeriksaan dan aturan-aturan tersebut diperketat. Sehingga dalam laporan Verslag Betreffende Gemeente Medan Betreffende Gemeente Medan over het jaar 1927-1929.,Hal ini juga dikatakan dalam Courant Deli, 11 Mei 1927 setelah angkong hilang sado atau mungkin taxi akan menggantikannya.

152Pos Sumatera, 18 April 1933. Dengan judul Termeulen Wordt Grooter, sebuah kisah kehidupan seseorang di Deli yang dituliskan dalam Koran tersebut. Tentang beragam macam kehidupan juga membahas tentang angkong yang tidak ada lagi beroperasi di malam hari.

over het jaar 1927-1929 angkong terus mengalami penurunan sebagai transportasi umum yang terdaftar di gemeente Medan.

Medan satu-satunya tempat ditemukannya angkong di Hindia-Belanda153 sehingga dampak dari kebijakan tersebut hanya penarik angkong di gemeente Medan saja, sedangkan di luar dari gemeente Medan, penarik angkong tidak terdampak, karena memang pada dasarnya angkong hanya beroperasi di gemeente Medan saja.

Pada tahun 1934, dikatakan sebuah larangan untuk memasuki Cantonstraat154 sehingga beberapa penarik angkong yang masih terdaftar dilarang melewati jalanan tersebut.

Pada tahun 1935 angkong yang terdaftar di gemeente Medan berjumlah 170,155 Sehingga anggota Eropa gemeenteraad yang menjabat pada tahun itu mengajukan permohonan untuk menghapus angkong yang tersisa tersebut. 156 Sehubungan dari itu anggota gemeenteraad melakukan kerjasama dengan Komite Pengangguran Cina.157 Membahas tentang penghapusan angkong secara total juga harus memperhitungkan terhadap keluarga, istri dan anak yang nantinya akan berdampak penuh dalam penghapusan tersebut.

153De Noord-Ooster, 04 Mei 1935 op.cit., Dikatakan bahwa dari keseluruhan wilayah Hindia-Belanda, angkong hanya ditemukan di Medan.

154Syaiful Anwar op.cit., hal 349. Hal ini dikutip dari Pewarta Deli, 23 April 1934 yang dikatakan ―….ini kali, segala kendaraan motor dan sado baikpoen kereta hongkong tida diizinkan masoek Cantonstraat (Tjara mengatoer perhoeboengan kendaraan).

155 Joh. Geradtsen comp, 20 April 1935, Hilversum. Dengan judul De Gooi- en Eemlander (Majalah berita dan Iklan) dengan judul De Rickshaw Exit. loc.cit., De Noord-Ooster, 04 Mei 1935.

156Ibid,.

157Ibid,.

Untuk itu Komite Pengganguran Cina belum dapat berjanji untuk bertanggung jawab terhadap dampak dari penghapusan angkong secara total dari penarik angkong tersebut. Komite Pengangguran China telah berjanji untuk melakukan segala daya untuk menyediakan dana agar dapat mempekerjakan 170 penarik angkong dan anggota keluarga mereka dalam profesi yang lebih manusiawi.158 Pengaruh atas peraturan yang ditentukan oleh gemeenteraad jelas terlihat nyata dan dapat dirasakan tidak hanya oleh penarik angkong tersebut, melainkan pengguna angkong yang terdiri dari masyarakat kota dapat merasakan pengaruh tersebut.

158 Joh. Geradtsen comp, loc.cit De Noord-Ooster.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Simpulan

Terbentuknya sebuah transportasi umum di gemeente Medan yang salah satunya adalah angkong, dilatarbelakangi oleh kuli-kuli perkebunan Tionghoa juga orang-orang Tionghoa yang mencoba mengadu nasib di wilayah Sumatera Timur khususnya di wilayah Deli. Polarisasi migrasi ini dikategorikan dalam tiga tahap yang terus berkembang, seperti migrasi melalui kongsi, ikatan kontrak, hingga migrasi bebas. Tujuan dari migrasi ini pada dasarnya untuk memenuhi kebutuhan kuli untuk perkebunan-perkebunan yang ada di wilayah Sumatra Timur. Sehingga peningkatan orang-orang Tionghoa sangat tinggi yang tidak hanya tersebar di wilayah perkebunan, melainkan di sekitar luar perkebunan bahkan di wilayah gemeente Medan nantinya.

Orang-orang Tionghoa ini nantinya akan berperan penting dalam hal pengoperasian angkong menjadi sebuah transportasi umum yang ada di gemeente Medan, yang ditandai dengan mereka sebagai penarik angkong itu sendiri. Sebelum menjadi sebuah transportasi umum di gemeente Medan, jenis transportasi ini telah berkembang pesat di kawasan Semanjung Malaya (Straits Settlements), kawasan Indochina, Hongkong, China, hingga Jepang. Penyebaran angkong ini dimulai dari Jepang hingga sampai ke Singapura dan Medan.

Penyebaran angkong di Medan tidaklah langsung menjadi sebuah transportasi umum, sebagai angkutan yang biasa digunakan oleh banyak orang, melainkan angkong tersebut dimulai dari kepemilikan pribadi. Kepemilikan pribadi digunakan

oleh tuan-tuan kebon yang ada di Sumatera Timur untuk melihat dan mengawasi perkebunan yang dikelolanya. Untuk menuju kewilayah perkebunan tersebut, angkong digunakan sebagai angkutan pribadinya, sedangkan gerobak lembu ataupun sapi digunakan oleh bahan seadanya saja sebagai pengakutan hasil perkebunan maupun alat-alat kebutuhan perkebunan.

Pada tahun 1890 sudah terlihat angkong beroperasi di salah satu wilayah Medan, dan penarik angkong tersebut mulai menarik perhatian banyak orang-orang Tionghoa yang membutuhkan pekerjaan. Disisi lain adanya kebijakan baru mengenai migrasi bebas dan melirik wilayah Deli dengan pertumbuhan daerah kesawan terus meningkat, membuat banyak orang-orang Tionghoa melakukan migrasi ke daerah tersebut. Ini pada akhirnya membuat kesawan dan sekitarnya menjadikan gemeente Medan karena didukung yang salah satunya oleh pertumbuhan ekonomi, masyarakat, pertumbuhan infrastruktur dan gedung-gedung perusahaan perkebunan serta lainnya.

Seiring perkembangannya, angkong mulai tersebar di berbagai lalu-lintas gementee Medan dan terus bertambah, sehingga menjadi perhatian gementeraad untuk mengatasi lalu lintas angkong tersebut. Sempat terjadi Isu penghapusan angkong di tahun 1916, akan tetapi itu dibatalkan dan melahirkan kebijakan baru mengenai peraturan bagi penarik angkong. Sejak pengoperasian angkong di gemeente Medan pemerintah melahirkan banyak kebijakan mengenai tarif yang ditentukan

Seiring perkembangannya, angkong mulai tersebar di berbagai lalu-lintas gementee Medan dan terus bertambah, sehingga menjadi perhatian gementeraad untuk mengatasi lalu lintas angkong tersebut. Sempat terjadi Isu penghapusan angkong di tahun 1916, akan tetapi itu dibatalkan dan melahirkan kebijakan baru mengenai peraturan bagi penarik angkong. Sejak pengoperasian angkong di gemeente Medan pemerintah melahirkan banyak kebijakan mengenai tarif yang ditentukan