Konsep dasar perencanaan lanskap ekowisata karst di Lembah Mulo ini adalah menjadikan Lembah Mulo sebagai kawasan wisata yang tetap menjaga kelestarian lingkungan, partisipatif, dan edukatif. Perencanaan kawasan berbasis ekologi bertujuan agar tidak merusak karst disana. Pemberdayaan masyarakat sekitar dalam pengelolaan untuk meningkatkan kesejahateraan mereka. Unsur edukasi dimasukkan dalam pengembangan konsep agar wisatawan dapat memperoleh pemahaman tentang kawasan karst yang merupakan bentang alam yang penting dan perlu dilindungi dan dilestarikan. Perencanaan kawasan Lembah Mulo diharapkan mampu menjadi icon kepariwisataan di Kabupaten Gunungkidul.
Ruang
Konsep ruang dibuat dengan mempertimbangkan kepekaan kawasan Lembah Mulo. Secara umum pembagian ruang dibagi menjadi ruang konservasi dan ruang pemanfaatan untuk wisata. Ruang pemanfaatan untuk wisata terdiri atas beberapa ruang, antara lain ruang penerimaan, ruang pelayanan, ruang wisata, dan ruang penyangga (Gambar 31).
a. Ruang Penerimaan
Ruang penerimaan adalah pintu masuk utama kawasan Lembah Mulo. Area ini harus dapat dengan mudah diakses dan berpotensi mendatangkan calon wisatawan.
b. Ruang Pelayanan
Ruang pelayanan adalah area dimana wisatawan mendapatkan segala informasi mengenai kawasan Lembah Mulo dan fasilitas pendukung wisata. Area ini juga berfungsi sebagai transisi dari ruang penerimaan menuju ruang wisata.
c. Ruang Wisata
Ruang wisata adalah area utama pada kawasan Lembah Mulo dimana wisatawan dapat melakukan kegiatan wisata maupun interpretasi kawasan. Objek dan atraksi wisata tersebar pada area ini. Ruang wisata
sekaligus juga area konservasi yang memiliki kepekaan dan sensitivitas yang tinggi. Area ini tidak boleh dimanfaatkan secara berlebihan untuk kegiatan wisata untuk menjaga kualitas karst diatasnya. Secara umum area wisata di kawasan Lembah Mulo terbagi menjadi dua, antara lain:
Area Wisata Darat
Area wisata darat merupakan area dimana objek dan atraksi tersebar di daratan. Pada area ini wisatawan dapat mencapai objek dan atraksi berupa bentang alam dan atraksi budaya yang dihubungkan melalui jalur interpretasi.
Area Wisata Air
Area wisata air adalah area dimana wisatawan dapat menikmati unsur air pada kawasan Lembah Mulo, yaitu berupa telaga karst. Pada area ini wisatawan dapat menikmati bentang alam telaga karst dan menikmati kuliner khas daerah.
d. Ruang Penyangga
Ruang penyangga adalah ruang yang terdapat di sekeliling dan tersebar pada kawasan yang berfungsi untuk melindungi dan menjaga kelestarian kawasan karst agar tetap terjaga kualitasnya. Ruang penyangga berupa vegetasi yang resisten terhadap kondisi kawasan yang miskin air dan hara, seperti jati, akasia, dan kayu putih.
69
Sirkulasi
Konsep sirkulasi dikembangkan untuk mempermudah wisatawan dalam mengakses objek dan atraksi wisata pada kawasan yang tersebar (Gambar 32). Sirkulasi yang dibuat harus mempertimbangkan keamanan dan kenyamanan wisatawan. Secara umum, konsep sirkulasi pada kawasan Lembah Mulo dibagi menjadi tiga, yaitu:
a. Sirkulasi Utama
Sirkulasi utama adalah jalur yang menghubungkan jalan raya utama menuju kawasan Lembah Mulo. Jalan utama membelah ruang wisata di kawasan Lembah Mulo menjadi dua bagian.
b. Sirkulasi Primer
Sirkulasi primer adalah jalur yang menghubungkan ruang satu dengan ruang lainnya. Jalur ini merupakan jalur interpretasi untuk kegiatan wisata.
c. Sirkulasi Sekunder
Sirkulasi sekunder adalah jalur yang menghubungkan objek dan atraksi wisata yang satu dengan yang lain dalam satu ruang wisata.
Aktivitas dan Fasilitas
Konsep aktivitas yang akan dikembangkan pada kawasan Lembah Mulo adalah pengembangan aktivitas wisata yang memberdayakan masyarakat sekitar dalam kegiatan dan pengelolaan kawasan wisata Lembah Mulo. Pengembangan ini diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Segala aktivitas yang akan dilaksanakan di kawasan Lembah Mulo tidak boleh dilakukan secara berlebihan dan merusak kondisi karst diatasnya. Kegiatan wisata di kawasan Lembah Mulo dibedakan menjadi wisata darat dan wisata air. Wisata darat terdiri atas kegiatan lintas alam, susur goa, camping, interpretasi alam, wisata belanja, dan wisata kuliner. Sementara wisata air terdiri atas kegiatan menikmati pemandangan dan interpretasi alam seperti yang terlihat pada Gambar 33.
Konsep fasilitas yang akan dikembangkan adalah fasilitas yang dibangun tidak mengganggu dan merusak keberadaan karst disana. Penggunaan elemen lokal dan alami akan menambah kesan menyatu dengan alam sesuai dengan konsep ekowisata. Fasilitas yang dikembangkan pun harus memenuhi standar dan kemanan dan memberikan kenyamanan bagi wisatawan ketika melakukan kegiatan wisata di kawasan Lembah Mulo.
(a) (b) (c)
(d) (e) (f)
Gambar 33. Referensi Rencana Aktivitas dan Fasilitas (a) viewing, (b) caving, (c)
camping, (d) pagar pembatas, (e) jalan setapak, (f) lintas alam (Sumber: http://www.google.co.id)
71
Rencana Pengembangan Ruang Ekowisata
Secara umum perencanaan lanskap ekowisata karst di Lembah Mulo memiliki luas area sebesar 16,4 Ha yang terbagi atas empat ruang, yaitu ruang penerimaan, ruang pelayanan, ruang wisata, dan penyangga.
a. Ruang penerimaan memiliki luas sebesar 1,28 Ha (7.8% dari luas total keseluruhan). Ruang penerimaan merupakan pintu masuk utama untuk memasuki kawasan ekowisata Lembah Mulo secara khusus dan lanskap karst Gunungkidul secara umum. Ruang penerimaan juga memudahkan pengelolan dalam mengatur keluar masuknya wisatawan yang berkunjung ke kawasan Lembah Mulo.
b. Ruang pelayanan memiliki luas sebesar 2,78 Ha (16,95 % dari luas total keseluruhan). Ruang pelayanan secara tidak langsung juga merupakan ruang transisi yang memisahkan antara ruang penerimaan dengan ruang wisata (inti). Ruang pelayanan memiliki fungsi yaitu sebagai pusat informasi bagi wisatawan sebelum menikmati objek wisata di Lembah Mulo. Selain itu pada ruang pelayanan juga terdapat fasilitas-fasilitas penunjang wisata, seperti pusat jajanan dan kuliner, pusat penjualan cinderamata khas daerah, kamar kecil, dan area parkir.
c. Ruang wisata memiliki luas sebesar 8,26 Ha (50,37% dari luas total keseluruhan). Ruang wisata terdiri atas ruang wisata darat dan ruang wisata air.
Ruang wisata darat adalah wisata utama yang terletak di daratan. Ruang ini memiliki luas sebesar 6,37 Ha (38,84% dari luas total keseluruhan). Ruang wisata darat dikembangkan berdasarkan persebaran objek dan atraksi wisata yang berada di darat. Beberapa objek wisata yang akan dilalui dan dapat dinikmati oleh wisatawan pada ruang wisata darat antara lain lembah, goa, luweng, dan desa budaya.
Ruang wisata air adalah wisata utama yang terletak di air. Ruang ini memiliki luas sebesar 1,89 Ha (11,52% dari luas total keseluruhan). Ruang wisata air dikembangkan pada Telaga
Serpeng sebagai salah satu objek wisata utama pada kawasan Lembah Mulo.
d. Penyangga memiliki luas sebesar 4,08 Ha (24,88% dari luas total keseluruhan). Penyangga adalah ruang yang melindungi ruang-ruang yang ada di kawasan pengembangan Lembah Mulo. Ruang penyangga akan dikembangkan sebagai area hijau berupa penanaman tanaman tahunan yang tahan terhadap kondisi miskin hara dan air, seperti jati, akasia, dan kayu putih.
Jalur Ekowisata
Pengembangan jalur ekowisata yang akan direncanakan pada kawasan Lembah Mulo adalah dengan menghubungkan objek, atraksi wisata, dan ruang- ruang yang terbentuk dan tersebar pada kawasan dengan mempertimbangkan kondisi eksisting dan tidak merusak dan mengurangi kualitas lingkungan sekitar. Terdapat tiga jalur sirkulasi yang akan dikembangkan pada tapak, antara lain:
a. Jalur utama. Jalur utama adalah jalur yang menghubungkan kawasan Lembah Mulo dengan jalan utama provinsi. Jalur utama ini dikembangkan untuk mempermudah wisatawan dari luar untuk masuk ke dalam kawasan Lembah Mulo dengan lebar jalan 6 meter. Jalur utama ini dapat diakses oleh kendaraan roda utama (satu lajur), kendaraan roda dua, dan pejalan kaki. Pemakaian aspal hotmix akan lebih memberikan kemudahan bagi wisatawan untuk mengakses kawasan Lembah Mulo.
b. Jalur primer. Jalur primer adalah jalur yang menghubungkan antara ruang satu dengan ruang yang lain dalam satu kawasan ekowisata karst Lembah Mulo. Jalur primer hanya dapat diakses oleh pejalan kaki mengingat kondisi eksisting yang memiliki sensitifitas yang tinggi dan kelerengan yang cukup curam dengan lebar 4 meter. Material yang digunakan pada jalur primer ini adalah paving block.
c. Jalur sekunder. Jalur sekunder adalah jalur yang menghubungkan objek dan atraksi wisata yang satu dengan yang lain dalam satu ruang wisata. Jalur sekunder terdiri atas dua jalur, yaitu jalur darat dan jalur air. Jalur
73
sekunder darat menghubungkan objek dan atraksi wisata yang ada di darat, sedangkan jalur sekunder air adalah jalur untuk mengakses Telaga Serpeng pada ruang wisata air. Material yang digunakan pada jalur sekunder ini adalah pecahan batu kapur.
Aktivitas Wisata, Fasilitas, dan Daya Dukung
Pengembangan aktivitas wisata pada kawasan Lembah Mulo berdasarkan pada ruang-ruang yang telah terbagi di dalamnya. Aktivitas pada tiap ruang akan berbeda tergantung fungsi dan dari ruang tersebut. Ruang penerimaan merupakan area penyambutan wisatawan. Ruang penerimaan pada kawasan ini juga sebagai ruang transisi. Aktivitas yang bisa dilakukan pada ruang ini, antara lain membeli tiket, mencari informasi mengenai Lembah Mulo, dan istirahat.
Pengembangan pada ruang pelayanan bertujuan untuk menunjang kegiatan wisatawan diluar kegiatan wisata yang akan dilakukan. Aktivitas yang dapat dilakukan pada ruang pelayanan, antara lain memarkir kendaraan, istirahat, makan, dan buang air. Aktivitas pada ruang pelayanan merupakan aktivitas yang dilakukan sebelum dan sesudah wisatawan menikmati ruang wisata utama pada kawasan Lembah Mulo.
Ruang wisata direncanakan menjadi dua jenis wisata, yaitu wisata darat dan wisata air. Aktivitas yang dapat dilakukan pada wisata darat, antara lain susur goa, susur luweng, menikmati pemandangan Lembah Mulo, interpretasi dan litas alam, menikmati budaya khas daerah, dan berfoto. Sementara aktivitas yang dapat dilakukan pada wisata air, antara lain berfoto, menikmati telaga, dan bersampan.
Pengembangan rencana fasilitas berdasarkan pada kebutuhan setiap ruangnya tergantung aktivitas dan kondisi eksisting. Penggunaan material yang ramah lingkungan dan berasal dari daerah setempat (lokal) akan memberikan kesan alami dan sesuai dengan konsep ekowisata kawasan yang akan dikembangkan. Fasilitas yang akan dikembangkan tidak boleh mengganggu dan merusak kondisi eksisting karst yang ada.
Daya dukung adalah kemampuan suatu kawasan dalam menampung aktivitas dan kegiatan yang ada diatasnya pada suatu batas tertentu dimana kawasan tersebut tidak akan mengalami kerusakan. Daya dukung dihitung untuk
mengetahui kapasitas maksimal wisatawan yang dapat ditampung oleh kawasan. Kawasan karst yang sensitif dapat diantisipasi kerusakannya dengan mengetahui daya dukung kawasan tersebut. Daya dukung dihitung dengan cara membagi luas area dengan standar kebutuhan ruang per orang dan dapat terlihat seperti pada Tabel 17.
Tabel 17. Kebutuhan Ruang dan Daya Dukung
Aktivitas Fasilitas Standar Kebutuhan Ruang (m2/orang) Satuan Total Luas (m2) Daya Dukung (orang) Σ Luas (m2 ) Ruang penerimaan: Keluar masuk Membeli tiket Keamanan Gerbang utama Loket Pos jaga 2 2 2 2 1 1 40 20 15 80 20 15 10 7 Ruang pelayanan: Parkir Mencari informasi Istirahat Makan Belanja Ibadah
Mandi cuci kakus
Persiapan wisata Area parkir Pusat informasi Shelter Kantin Kios Mushola Toilet Kantor pengelola 15 2 2 2 2 2 2 2 1 1 10 3 3 1 5 1 3020 50 16 20 15 60 6 40 4000 50 160 60 45 60 30 40 201 mobil 25 80 30 23 30 15 20 Ruang wisata: Wisata darat -Lintas alam -Susur goa -Viewing -Interpretasi -Duduk (istirahat) Wisata air -Bermain rakit -Viewing -Duduk (istirahat) Jalan setapak Shelter Menara pandang Papan interpretasi Shelter Dek Shelter Shelter 20 m 2 2 2 2 2 2 2 1 4 5 2 3 3 16 36 16 40 16 16 1700 m 32 36 80 80 48 48 85 16 18 40 40 24 24 Penyangga
Keamanan Pos jaga 2 1 15 15 7
Total 494
Sumber: Chiara dan Koppelman dalam Darmawan (2006)
Rencana Lanskap
Rencana lanskap kawasan disajikan pada Gambar 34-51 disertai dengan
blow up beberapa spot, gambar potongan, dan beberapa ilustrasi aktivitas dan fasilitas ekowisata di Lembah Mulo. Rencana lanskap merupakan pengembangan dari rencana blok yang telah dihasilkan sebelumnya.
75 Gambar 34. Rencana Lanskap
76 Gambar 35. Perspektif Keseluruhan Kawasan Lembah Mulo
77 Gambar 36. Blow Up 1 Rencana Lanskap
Gambar 37. Potongan Blow Up 1
Gambar 38. Ilustrasi Menara Pandang
79 Gambar 40. Blow Up 2 Rencana Lanskap
Gambar 41. Potongan Blow Up 2
Gambar 42. Ilustrasi Gerbang Pintu Masuk
81 Gambar 44. Blow Up 3 Rencana Lanskap
Gambar 45. Potongan Blow Up 3
Gambar 46. Ilustrasi pada Jalan Setapak
83 Gambar 48. Blow Up 4 Rencana Lanskap
Gambar 49. Potongan Blow Up 4
Gambar 50. Ilustrasi Area Wisata Telaga Serpeng
85
Rencana Program dan Perjalanan Wisata
Program wisata direncanakan di kawasan Lembah Mulo agar wisatawan dapat menikmati objek dan atraksi wisata dengan aman dan nyaman. Sedangkan perjalanan wisata direncanakan agar wisatawan dapat dengan mudah menikmati dan mengakses semua atau beberapa objek dan atraksi wisata pada tapak. Rencana rogram dan perjalanan wisata juga dibuat dengan tetap mempertimbangkan daya dukung dan kelestarian karst. Rencana program wisata terdiri atas program rutin dan musiman. Rencana perjalanan wisata terdiri atas paket wisata setengah hari dan satu hari seperti yang terlihat pada Tabel 18, Tabel 19, dan Gambar 52.
Tabel 18. Rencana Program Wisata di Kawasan Lembah Mulo
Program Objek dan Atraksi Waktu Pelaksanaan Rutin (harian) Lembah Mulo
Telaga Serpeng Goa Mulo Goa Ngingrong Pusat oleh-oleh Pusat kuliner setiap waktu setiap waktu 10.00 - 14.00 10.00 - 14.00 09.00 - 20.00 09.00 - 20.00 Musiman Campur sari
Reog dhogdhog Rasulan Wayang kulit
Sabtu dan Minggu Pascapanen September – April Pascapanen September – April Sabtu dan Minggu
Tabel 19. Rencana Perjalanan Wisata di Kawasan Lembah Mulo
Paket Wisata Rute Objek Aktivitas 3 Jam Area pelayanan
– Lembah Mulo – Luweng – Goa Mulo – Pusat kuliner – Kios oleh-oleh Area penerimaan Area pelayanan Lembah Mulo Goa Mulo Pusat oleh-oleh Pusat kuliner Memarkir kendaraan Mencari informasi Istirahat dan persiapan Menikmati pemandangan Fotografi
Susur goa dan interpretasi Belanja
Makan 6 Jam Area pelayanan
– Lembah Mulo – Luweng – Goa Ngingrong – Goa Mulo – Telaga Serpeng – Pusat kuliner – Kios oleh-oleh Area penerimaan Area pelayanan Lembah Mulo Goa Mulo Goa Ngingrong Telaga Serpeng Pusat oleh-oleh Pusat kuliner Memarkir kendaraan Mencari informasi Istirahat dan persiapan Menikmati pemandangan Fotografi
Susur goa dan interpretasi Susur goa dan interpretasi Istirahat
Menikmati pemandangan Belanja
86 Gambar 52. Rencana Perjalanan Wisata
87
BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN