• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perencanaan pemberian jenis vaksin dan jadwal pemberian imunisasi

Dalam dokumen SKRIPSI. Oleh RAHMADHANIDWI SYAFITRI NIM (Halaman 31-45)

2. Memberikan informasi mengenai imunisasi dasar lengkap, efek samping dan disertai penjelasan agar masyarakat dapat memahami pentingnya imunisasi bagi bayi.

3. Menetapkan jenis imunisasi program yang akan dilakukan dilapangandan menyiapkan sarana dan prasarana untuk pelaksanakan pelayanan imunisasi dasar lengkap.

4. Pelaksanakan pelayanan imunisasi dilaksanakan oleh petugas Puskesmas yang melakukan program imunisasi dan dibantu oleh kader-kader masyarakat pilihan puskesmas (Permenkes RI No. 12, 2017).

Penyelenggaraan Imunisasi Program

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan mengenai penyelenggaraan imunisasi yang dikeluarkan oleh Pemerintah Nomor 12 Tahun 2017 sebagai berikut:

1. Perencanaan.

Penyusunan pada tingkatan pertama yaitu puskesmas, kemudian kabupaten/kota, dan selanjutnya pada provinsi dan pusat (bottom up).

Perencanaan tersebut sebagai berikut:

a. Menentukan target sasaran.

1) Sasaran imunisasi rutin yaitu sasaran bayi, Baduta, anak SD, serta WUS.

2) Imunisasi tambahan ditargetkan kepada golongan umur yang memiliki risiko terhadap masalah kesehatan.

3) Imunisasi khusus ditunjukkan kepada seseorang yang memiliki keinginan tersendiri untuk melakukan imunisasi karena alasan tertentu seperti berangkat haji dan bepergian ke negara lain.

b. Penyediaan dan distribusi logistik

Secara perencanaan kebutuhan kegiatan imunisasi terdiri dari vaksin, Auto Disable Syringe, safety box, alat-alat anafilatik, Cold Chain automatic voltage stabilizer (AVS), standby generator, dan suku cadang peralatan Cold Chain) dan alat pendukungnya, serta dokumen untuk pencatatan kegiatan imunisasi. Kebutuhan di atas disesuaikan dengan jumlah sasaran dilapangan.

c. Penyimpanan dan pemeliharaan logistik.

Tugas yang bertanggungjawab untuk melakukan kegiatan ini yaitu Pemerintahan Daerah. yang bertugas untuk menjaga kualitas vaksin dengan menyimpananya sesuai dengan suhu yang sudah ditetapkan dan diletakkan di tempat khusus penyimpanan vaksin.

d. Tenaga pengelolah.

e. Pelaksanaan imunisasi.

Kegiatan imunisasi biasanya dilakukan secara massal (di sekolah, posyandu, atau pos lainnya) dan secara individu (RS, puskesmas, klinik

dan lainnya). Pelaksanan kegiatan ini tidak luput dari :

1) Pemerintah daerah kabupaten/kota juga bertanggung jawab menyiapkan biaya operasional meliputi transportasi dan akomodasi petugas, bahan habis pakai, penggerakan masyarakat, perbaikan serta pemeliharaan peralatan Cold Chain dan kendaraan Imunisasi, distribusi logistik dari daerah kabupaten/kota sampai ke fasilitas pelayanan kesehatan, dan pemusnahan limbah medis Imunisasi.

2) Pemerintah daerah propinsi, pemerintah daerah kabupaten/kota dan jajarannya bertanggung jawab menggerakkan peran aktif masyarakat untuk ikut serta pada kegiatan imunisasi. Menggerakan aktif masyarakat yang dimaksut seperti pemberian informasi melalui media cetak, media sosial, media elektronik, dan media luar ruang, advokasi dan sosialisasi, pembinaan kader, pembinaan kepada kelompok binaan balita dan anak sekolah dan pembinaan organisasi atau lembaga swadaya masyarakat.

3) Pelayanan imunisasi program dilaksanakan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi dan kewenangan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

f. Pengelolahan limbah

Pemusnahan limbah vial dan/atau ampul vaksin harus diserahkan ke institusi yang mendistribusikan vaksin kegiatan ini dilakukan pihak rumah sakit dan lainnya. Kemudian untuk di posyandu dan sekolah petugas pelayanan imunisasi bertanggung jawab mengumpulkan limbah

ADS ke dalam Safety Box, vial dan/atau ampul vaksin untuk selanjutnya dibawa ke puskesmas setempat untuk dilakukan pemusnahan limbah g. Pemantauan dan evaluasi

Pemantauan ini wajib dilakukan oleh Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah Propinsi, dan Pemerintah Daerah kabupaten/kota secara terus-menerus dan berkala serta melakukan evaluasi pada kegiatan ini dengan cara mengukur kinerja pengelolah di lapangan (Permenkes RI Nomor 12, 2017).

Pembiayaan Kegiatan Imunisasi

Berdasarkan Kementerian Keuangan nomor 2 Tahun 2019, APBN kesehatan untuk Tahun 2019 sebanyak 123,1 triliun rupiah dialokasikan ke pusat (89,8 triliun rupiah) dan transfer ke daerah (33, 4 triliun rupiah) serta perentase ketersediaan vaksin dan obat di puskesmas (sebanyak 95%). Berikut beberapa sumber anggaran yang di peroleh puskesmas untuk kegiatan kesehatan :

a) DAU (Dana Alokasi Umum) : dana yang dialokasikan untuk provinsi dan kabupaten/kota sebanyak sekurang-kurangnya 26% secara nasional.

pendapatan tersebut merupakan Pendapatan Dalam Negeri Neto dan ditetapkan oleh APBN utamanya bagi daerah yang bukan merupakan penerima DBH (dana bagi hasil) yang besar ataupun daerah yang mempunyai potensi PAD (pendapatan asli daerah) yang relatif kecil. Dana ini bersifat dana hibah atau bantuan sosial yang diberikan oleh Kementerian Keuangan kepada daerah serta provinsi dan kabupaten. Penggunaan dana sekitar 80%

yang dikelolah daerah untuk belanja rutin terutama gaji pegawai Pemerintah Daerah (Sunardi, 2018).

b) DAK (Dana Alokasi Khusus) : dana yang dialokasikan dalam APBN kepada daerah tertentu dengan tujuan untuk membantu mendanai kegiatan khusus fisik. Pada Tahun 2019 Pemerintah mengalokasikan anggaran DAK Bidang Kesehatan sebesar Rp 29.502.043.745.000, terdiri dari DAK Fisik sebesar Rp.

19.243.411.000.000 dan DAK non fisik sebesar Rp 10.258.632.745.000.

Penanggungjawab pengelolaan DAK berada di tangan Bupati/Walikota yang secara teknis dilaksanakan oleh Kepala Dinas Kesehatan dan atau Direktur Rumah Sakit Daerah, maka Kementerian Kesehatan menyiapkan pilihan kegiatan yang perlu dilakukan, agar tujuan pembangunan kesehatan secara nasional dapat tercapai (Permenkes RI No. 2, 2019).

c) Kegiatan imunisasi sendiri berasal dari dana BOK. Dana BOK (bantuan operasional kesehatan) merupakan bagian dari dana alokasi khusus (DAK) yang berasal dari APBN. Dana ini dilakukan untuk membantu proses pelaksanaan kegiatan dalam pemenuhan dan penyediaan baik sarana prasarana maupun penyuluhan kegiatan dilapangan serta kegiatan yang memerlukan biaya yang tidak sedikit (Permenkes RI Nomor 2, 2019)

Jenis penyelenggaraan imunisasi. Jenis penyelenggaraan imunisasi terdiri atas dua pengelompokkan yaitu salah satunya adalah imunisasi program.

Imunisasi program. Pemberian pada imunisasi ini disesuaikan dengan kebutuhan sasaran seperti jenis vaksin, jadwal pemberian. Pemberiannya sesuai dengan pedoman penyelenggaraan imunisasi. Imunisasi program terdiri dari 3

imunisasi program. Salah satunya adalah:

1. Imunisasi rutin.

Imunisasi rutin dilakukan secara terus menerus dan berkesinambungan.

Imunisasi rutin terdiri dari:

a) Imunisasi dasar terdiri dari imunisasi hepatitis B, poliomyelitis, tuberkulosis, difteri, pertusis, tetanus, pneumonia dan meningitis yang disebabkan oleh Hib, dan campak.

b) Imunisasi lanjutan merupakan ulangan imunisasi dasar yang diberikan kepada anak usia bawah dua tahun (imunisasi terhadap penyakit difteri, pertusis, tetanus, hepatitis B, pneumonia dan meningitis yang disebabkan oleh Hemophilus influenza tipe B (Hib), serta campak), anak usia sekolah dasar (imunisasi terhadap penyakit campak, tetanus, dan difteri), dan wanita usia subur (Permenkes RI Nomor 12, 2017).

Pelayanan Program Imunisasi 1. Persiapan.

a. Inventarisasi sasaran.

Kegiatan yang dilakukan yaitu melakukan pencatatan informasi diri bayi dan bumil dengan mengunakan form registrasi. Biasanya kegiatan ini dilaksanakan oleh kader, dukun terlatih, petugas KB, dan bidan di desa yang berasal dari kelurahan setempat.

b. Persiapan vaksin dan peralatan rantai vaksin

1) Menyediakan vaksin sesuai jumlah yang akan dibawa dan dihitung berdasarkan berapa target sasaran yang diberi imunisasi dibagi

dengan dosis efektif vaksin per vial/ ampul.

2) Menyediakan alat-alat pendukung rantai dingin (termos dan kotak dingin cair).

3) Mempersiapkan ADS dan safety box untuk dibawa ke lapangan.

Kedua benda diatas harus dibawa sesuai dengan target sasaran yang akan diimunisasi.

c. Persiapan kader sebelum hari pelaksanaan imunisasi meliputi : 1) Menyiapkan peralatan kegiatan.

2) Mengajak dan menggerakkan masyarakat.

3) Menginformasikan Pokja Posyandu.

4) Melakukan pembagian tugas (Ismawati, 2010).

2. Standar petugas dan pelatihan medis a. Petugas pelaksana tingkat Puskesmas.

Tenaga pelaksana vaksinasi di Puskesmas meliputi perawat atau bidan terlatih untuk kegiatan imunisasi. Tugas mereka adalah untuk memberikan penyuluhan dan pelayanan imunisasi dilapangan.

b. Pelaksana cold chain.

Tugasnya adalah melakukan pengelolahan vaksin, melakukan pemeliharaan pada alat imunisasi, melakukan pencatatan suhu lemari es, mendata jumlah masuk dan keluarnya vaksin serta sarana lainnya, dan mengambil keperluan imunisasi di kabupaten/ kota sesuai kebutuhan per bulan.

3. Pengelola program imunisasi.

Pengelola program imunisasi dilakukan oleh petugas imunisasi. Tugasnya adalah untuk membuat perencanaan vaksin dan logistik lain, mengatur jadwal pelayanan imunisasi, mengecek catatan pelayanan imunisasi, membuat dan mengirim laporan ke kabupaten/ kota, membuat dan menganalisis PWS bulanan, dan merencanakan tindak lanjut (Kepmenkes RI Nomor 1059, 2004).

Implementasi Program Imunisasi Puskesmas

Menurut KBBI implementasi merupakan pelaksanaan atau penerapan.

Secara umum implementasi merupakan suatu tindakan atau kegiatan terencana yang dibuat oleh seseorang atau sekelompok orang yang memiliki wewenang yang akan menghasilkan dampak disesuaikan dengan tujuan. Kegiatan tersebut akan diperkuat dengan dibentuknya suatu Perundang-undangan, peraturan Pemerintah, serta keputusan berkeadilan sehingga kegiatan tersebut wajib dilaksanakan. Implementasi program imunisasi yaitu melaksanakan dan menyelenggarkan kegiatan tersebut dengan menerapkan perundangan mengenai imunisasi yang sudah ada. Baik dari segi penyediaan sarana dan prasaran maupun anggota pengelolah kegiatan yang sesuai dan memenuhi standar dalam pengoperasiannya agar tercapainya tujuan yang diinginkan. Berjalannya kegiatan ini juga untuk kepentingan negara bertujuan untuk meningkatkan derajat kesehatan bayi secara optimal.

Implementasi untuk program imunisasi dasar lengkap di Puskesmas sendiri yaitu dengan melaksanakan kegiatan pelaporan PWS imunisasi dianalisis dengan cakupan setiap kegiatan imunisasi dasar yaitu BCG, DPT, HiB, polio, dan campak kemudian diharapkan cakupan imunisasi dasar lengkap sesuai dengan

target capaian UCI untuk Tahun 2019. Kemudian untuk data keseluruhan di Dinas Kesehatan Lubuk Pakam terhadap imunisasi dasar lengkap di setiap kecamatan dari Tahun 2016-2017 yaitu 90,71 %. Sementara untuk wilayah Kecamatan Sunggal di Puskesmas Sei Mencirim angka untuk imunisasi dasar Tahun 2016 yaitu 45, 90% dan Tahun 2017 (89,94%) (Puskesmas Sei Mencirim 2018).

Jadwal Pemberian Imunisasi Dasar

Pelaksanaan kegiatan program imunisasi tidak terlepas dari jadwal yang sudah ditentukan pihak pengelolah sesuai dengan jadwal berdasarkan peraturan menteri kesehatan. Keadaan ini dilakukan untuk mempermudah masyarakat mengetahui kapan kegiatan tersebut dilakukan. Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan mengenai Penyelenggaraan Imunisasi Nomor 12 Tahun 2017 sebagai berikut:

Tabel 1

Jadwal Pemberian Imunisasi Dasar pada Bayi

Umur Jenis Interval Minimal untuk

Jenis Imunisasi yang Sama 0-24 jam Hepatitis B

1 Bulan BCG, Polio 1

2 Bulan DPT-HB-Hib 1, Polio 2

1 Bulan 3 Bulan DPT-HB-Hib 2, Polio 3

4 Bulan DPT-HB-Hib 3, Polio 4, IPV 9 -12 Bulan Campak

(Sumber : Permenkes Nomor 12 Tahun 2017 tentang Penyelenggaraan Imunisasi) Tata cara pemberian imunisasi. Beberapa hal yang harus di perhatikan saat pemberian imunisasi sebagai berikut:

a. Dosis, cara pemberian dan tempat pemberian imunisasi.

b. Jangka waktu pemberian.

Waktu antara pemberian dua antigen yang sama adalah satu bulan.

c. Tindakan antiseptik.

d. Personal hygiene.

e. Kontraindikasi

Pemberian untuk imunisasi sendiri umumnya tidak ditemukan adanya kontraindikasi untuk setiap individu sehat terkecuali pada kelompok umur yang berisiko. Untuk setiap persediaan vaksin produsen selalu mencantumkan petunjuk disetiap kemasan vaksin dan indikasi kontra serta perhatian khusus terhadap vaksin (Permenkes RI Nomor 12, 2017).

Kontraindikasi Imunisasi

Menurut Wong (2004) kontraindikasi pada bayi yang diimunisasi dapat terjadi setelah melakukan imunisasi atau vaksinasi pada pelayanan kesehatan.

Berikut kontraindikasi yang terjadi pada bayi:

a. Jenis vaksin:

1) DPT (diphteri, pertusi, dan tetanus) : ensefalopati dalam 7 hari setelah pemberian dosis DPT sebelumnya.

2) Polio : infeksi dengan HIV, gangguan imunodefisiensi yang diketahui seperti tumor hematologis dan padat, imunodefisiensi kongenital, dan terapi imunosupresi jangka panjang.

3) MMR (measles mumps rubela) : reaksi anafilaksis pada telur dan neomisin, kehamilan, serta ada gangguan imunodefisiensi.

4) HiB (Hemophilus influenza tipe B) : tidak ada teridentifikasi.

5) Hepatitis B : reaksi anafilaksis terhadap ragi roti biasa.

6) Varicella : adanya gangguan imunokompresi seperti orang yang mengalami imunodefisiensi kongenital, leukemia, limfoma, dan lain-lain.

Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI)

Menteri membentuk Komisi nasional PP (pengkajian dan penanggulangan) KIPI dan Gubernur membentuk Komite Daerah (KOMDA) Pengkajian dan penanggulangan KIPI. KIPI adalah setiap kejadian timbulnya rasa sakit dan kematian yang terjadi selama 1 bulan usai pemberian vaksinasi. Reaksi yang di timbulkan setelah melakukan imunisasi sebagai berikut:

a. Difteri: umumnya demam selama 24-48 jam, timbulnya rasa sakit, terdapat ruam dan mengalami protuberansi (pembekakan) pada daerah injeksi, rewel, mengalami rasa kantuk, serta kehilangan nafsu makan.

b. Tetanus: sama seperti difteri ditambah terjadinya infeksi pada kulit sehingga menimbulkan kulit melepuh dan mengalami perubahan pada kondisi tubuh, dan adanya pembekakan kelenjar pada daerah injeksi.

c. Pertusis (batuk renjatan): seperti dengan gejala tetanus tetapi akan timbul berbagai efek seperti dapat kehilangan kesadaran, kejang, demam, dan reaksi alergi sistemik.

d. HiB : reaksi lokal ringan seperti eritema, nyeri, dan demam ringan.

e. Polio : paralisis karena vaksin jarang terjadi dalam 2 imunisasi.

f. Measles (campak) : anoreksia, malaise, ruam dan demam sampai 10 hari terapi imunosupresi jangka panjang.

g. Mumps : tidak ada efek yang ditimbulkan.

h. Varicella : nyeri, kemerahan dan makopapular.

i. Rubella : mengalami perubahan suhu tubuh, limfadenopati, ruam ringan (berakhir 1-2 hari), artalgia, artritis, serta parestesia tangan dan jari (Wong, 2004).

Timbulnya reaksi tersebut dikarenakan adanya respon tubuh setelah disuntikka atau dimasukkan suatu zat ke dalam tubuh. Pemberian imunisasi harus dilakukan kepada bayi yang memiliki tubuh yang sehat. Untuk menghindari terjadinya KIPI maka, pihak pelaksa kegiatan dan kader harus memberikan edukasi kepada masyarakat akibat efek serta dampak yang diberikan setelah melakukan imunisasi. Sehingga masyarakat mau membawa bayinya untuk divaksinasi (Wong, 2004).

Pencatatan dan Pelaporan 1. Pencatatan di Puskesmas:

a) Pencatatan dan pelaporan dilakukan secara rutin dan berkala dalam melaksanakan program imunisasi di posyandu.

b) Pencataan data imunisasi dasar lengkap di puskesmas harus dilakukan secara teliti dan dilaporkan ke Dinas Kesehatan Provinsi dan Kabupaten/

Kota.

c) Melakukan pencatatan dan pelaporan seperti cakupan imunisasi, stok dan pemakaian Vaksin, ADS (Auto Disable Syringe), Safety Box, monitoring suhu, kondisi peralatan Cold Chain, dan kasus KIPI atau diduga KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi).

d) Pencatatan pelayanan imunisasi rutin dilakukan di buku KIA, buku kohor ibu, bayi dan balita, buku rapor kesehatanku, atau buku rekam

medis. Pencatatan pelayanan imunisasi rutin yang dilakukan di fasilitas pelayanan kesehatan swasta wajib dilaporkan setiap bulan ke puskesmas diwilayahnya dengan menggunakan format yang berlaku.

e) Pencatatan dilakukan setiap bulan untuk melihat capaian target sesuai dengan yang di harapkan.

f) Pencatatan hasil kegiatan program imunisasi dasar lengkap akan dilakukan oleh petugas kesehatan yang melaksanakan. Pencatatan tersebut berisi nama desa yang melaksanakan, melampirkan tanggal, bulan dan tahun pencatatan, jumlah sasaran bayi (bayi laki-laki dan perempuan), serta nama-nama imunisasi yang sudah dilakukan.

2. Pencatatan di tingkat kabupaten/kota

a) Mencatat hasil cakupan imunisasi disetiap Kecamatan Sumatera Utara.

b) Pencatatan vaksin dilakukan untuk melihat kebutuhan vaksin yang di perlukan.

c) Pencatatan logistik imunisasi.

3. Pelaporan

Merupakan bentuk data yang berupa hasil akhir dari suatu kegiatan seperti pencatatan imunisasi yang sudah dilakukan oleh petugas kesehatan di posyandu bersama dengan kader-kader yang ikutserta membantu kegiatan tersebut. Biasanya terdiri dari pustu, puskesmas, RS umum, kantor kesehatan pelabuhan, balai imunisasi swasta, RS swasta, klinik swasta yang akan melapor kepada pihak pengelola program imunisasi kabupaten/kota (tercantum dalam formulir 7 dan formulir 11 terlampir) dan Provinsi (tercantum dalam formulir 8 dan formulir 12

terlampir) dengan jadwal yang sudah disesuaikan serta laporan tersebut dikirimkan secara bertahap yaitu dari tingkat atas ke tingkat lebih bawah (Permenkes RI Nomor 12, 2017).

Universal Child Immunization

Imunisasi merupakan prioritas utama kesehatan yang berkomitmen pada MDGs (millennium development goals) tujuannya yaitu turunnya angka kematian, angka kesakitan akibat penyakit menular yang berpotensi menjadi wabah dan kematian pada balita. UCI merupakan standar atau pedoman yang ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan. Setiap tahun angka capaian UCI yang harus dilaksanakan untuk menjadikan kecamatan di setiap wilayah Indonesia meningkat. Keadaan ini dilakukan agar setiap sasaran imunisasi dikhususkan kepada bayi usia 0-11 bulan mendapatkan 5 imunisasi dasar secara lengkap dan merata di setiap kecamatan.

Keberhasilan capaian tentunya tidak terlepas dari tanggungjawab pihak pengelolah kegiatan seperti puskesmas, Pemerintah Daerah, Lintas sektor dan lainnya.

Meningkatnya capaian target UCI untuk semua wilayah Tahun 2019 yakni sebesar 95%. Dengan demikian pihak pengelolah kegiatan harus lebih giat untuk memberikan cakupan 5 imunisasi dasar lengkap kepada seluruh bayi usia 0-11 bulan secara merata di wilayah kerja mereka. Kemudian kegiatan lintas sektor juga memiliki peran besar untuk membantu pekerjaan pihak puskesmas seperti ikut serta hadir selama berlangsungnya kegiatan imunisasi dilapangan. Jika cakupan pelayanan pemberian 5 imunisasi dasar secara lengkap di suatu kecamatan sudah mencapai 95% sesuai dengan target yang ditetapkan maka

wilayah tersebut dinyatakan desa UCI (Permenkes RI Nomor 12, 2017).

Kebijakan. Berbagai kebijakan telah ditetapkan untuk mencapai tujuan penyelenggaraan imunisasi yaitu:

a. Penyelenggaraan imunisasi dilaksanakan oleh pemerintah, swasta dan masyarakat, dengan mempertahankan prinsip keterpaduan antara pihak terkait.

b. Mengupayakan pemerataan jangkauan pelayanan imunisasi dengan melibatkan berbagai sektor terkait.

c. Mengupayakan kualitas pelayanan yang bermutu.

d. Mengupayakan kesinambungan penyelenggaraan melalui perencanaan program dan anggaran terpadu (Permenkes RI No. 12, 2017).

Strategi mencapai UCI. Strategi untuk mencapai UCI dilakukan sebagai penilaian jika desa tersebut sudah menjadi UCI seperti :

1. Peningkatan cakupan pemberian imunisasi yang tinggi dan merata dengan cara melakukan Penguatan PWS dengan memetakan wilayah berdasarkan cakupan dan analisa masalah untuk menyusun kegiatan dalam rangka mengatasi permasalahan setempat.

2. Melakukan pendekatan keluarga sebagai upaya untuk meningkatkan

Dalam dokumen SKRIPSI. Oleh RAHMADHANIDWI SYAFITRI NIM (Halaman 31-45)

Dokumen terkait