BAB V PEMBAHASAN
5.4 Tata Laksana Program Eliminasi Filariasis Kabupaten Aceh Barat
5.4.10 Pencatatan Dan Pelaporan
Dalam pelaksanaan POMP Filariasis pencatatan dan pelaporan dilakukan oleh kader dan kemudian dilaporkan ke bidan desa/puskesmas. Puskesmas kemudian melaporkan hasil POMP Filariasis ke dinas kesehatan kabupaten/kota untuk dilaporkan ke dinas kesehatan provinsi dan kemudian ke kementerian kesehatan (Permenkes RI Nomor 94/2014).
Berdasarkan hasil penelitian tentang pencatatan dan pelaporan tentang Pelaksanaan Program Eliminasi Kabupaten Aceh Barat khususnya wilayah Puskesmas Drien Rampak untuk pencatatan dan pelaporannya sudah berjalan dengan baik dengan adanya waktu dari dinas kesehatan selama 1 bulan sehingga laporannya jelas kapan bisa di input oleh dinas kesehatan. Untuk pencatatan yang dilakukan oleh TPE/kader sudah baik dengan batas waktu dari puskesmas selama
2 minggu, sehingga TPE/kader tidak terlalu terburu dalam proses pencatatan.
Pencatatan dan pelaporan yang baik akan memberikan data dan informasi yang tepat dan akurat sehingga dapat menggambarkan pelaksanaan program dan dapat dijadikan bahan masukan untuk perencanaan kegiatan berikutnya.
5.5 Cakupan Pemberian Obat Massal Filariasis di Wilayah Kerja Puskesmas Drien Rampak
Menurut PERMENKES RI No. 94 Tahun 2014 Cakupan pengobatan massal merupakan bagian yang paling dalam Program Eliminasi Filariasis.
Untuk menentukan keberhasilan pengobatan massal ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu:
a. Cakupan Geografis
Cakupan geografis adalah persentase data desa atau kelurahan yang diobati dalam satu kabupaten/kota disetiap tahun pengobatan. Cakupan geografis untuk Kabupaten Aceh Barat adalah 100% yang artinya seluruh desa dan kelurahan telah mengadakan POMP Filariasis pada tahun pertama dan kedua.
b. Cakupan Pengobatan Massal
Cakupan pengobatan massal terbagi menjadi dua yaitu cakupan berdasarkan jumlah penduduk dan cakupan berdasarkan jumlah sasaran. Cakupan berdasarkan jumlah penduduk menggambarkan angka pencapaian pengobatan dan dapat menjelaskan jumlah penduduk yang beresiko untuk diobati dan aspek epidemiologinya.
Cakupan berdasarkan sasaran menggambarkan keberhasilan
Hasil cakupan POMP Filariasis tahun 2015 untuk Kabupaten Aceh Barat yaitu 64% berdasarkan jumlah sasarannya, sedangkan untuk tahun 2016 ini 73% dari jumlah sasaran ini belum dilakukan survey cakupan oleh Kemenkes RI. Cakupan POMP Filariasis di Puskesmas Drie Rampak di tahun 2015 hanya 54% berdasarkan jumlah sasaran, ini sudah dilakukan survey cakupan oleh Kementerian Kesehatan RI.
Sedangkan untuk tahun 2016 cakupannya hanya 43% dari penduduk sasaran, untuk survey cakupannya belum dilaksanakan oleh Kementerian Kesehatan RI.
c. Survey Cakupan
Survey cakupan dilakukan untuk menilai kebenaran cakupan pengobatan massal berdasarkan laporan di kabupaten. Survey cakupan dilaksanakan oleh kementerian kesehatan, provinsi atau badan independen. Hasil survey cakupan pengobatan Kementerian Kesehatan RI di 12 titik di Kabupaten Aceh Barat tahap pertama pada bulan Maret 2016 adalah 64%, sedangkan untuk tahun 2016 belum dilaksanakan. Survey cakupan untuk Puskesmas Drien Rampak dilaksanakan di semua desa di Kec. Arongan Lambalek itu tahap pertama itu 54% dari jumlah penduduk sasaran.
Dari data diatas dapat ditemukan bahwa ada perbedaan dari persentase POMP Filariasis dilaksanakan pada hari kegiatan POMP Filariasis dengan persentase survey cakupan, karena jika tidak dilaksanakan survey cakupan maka kita tidak akan memperoleh data yang real tentang persentase POMP
Filariasisnya. Hal ini disebabkan adanya kemungkinan penduduk minum atau tidak minum obat dirumah saat diberikannya obat oleh TPE/kader, jumlah penduduk dan jumlah sasaran yang berubah, atau penduduk dari luar Implementation Unit (UI) yang juga meminum obat dan tercatat sebagai penduduk di UI. Dalam mengatasi hal tersebut dapat dilakukan yaitu meningkatkan kemampuan dengan memberikan motivasi dalam pemberian obat filariasis melalui pelatihan dan menanyakan kepada TPE/kader apakah ada penduduk diluar UI yang tercatat sebagai sasaran pengobatan yang dilaporkan dan kemudian dikelurkan penduduk tersebut dari pencatatan.
Sedangkan target cakupan POMP Filariasis yang harus dicapai untuk memutuskan rantai penularan filariasis adalah >85% dari jumlah sasaran. Jika dilihat dari cakupan pengobatan di Kabupaten Aceh Barat untuh tahap pertama yang sudah dilaksanakan survey cakupan belum mencapai target dengan angka cakupan pengobatan yaitu 73% dari jumlah sasaran. Cakupan pengobatan di Puskesmas Drien Rampak juga belum mencapai target nasional hanya 54%
ditahapan I, sedangkan ditahapan kedua hanya 43% persentase ini belum dilakukan survey cakupan sehingga data bisa berubah. Artinya, Pelaksanaan POMP Filariasis di Puskesmas Drien Rampak tahun 2015 dan 2016 belum berhasil sehingga perlu ditingkatkan untuk tahapab berikutnya agar mencapai target.
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan
1. Sumber daya manusia terkait Program Eliminasi Filariasis di Kabupaten Aceh Barat khususnya Puskesmas Drien Rampak masih belum lengkap, karena masih adanya SDM yang tidak ada seperti tenaga mikroskopis.
Kemudian pelatihan untuk mengatasi kekurangan SDM tersebut tidak ada.
2. Dana ( Anggaran ) dalam Program Eliminasi Filariasis di kabupaten Aceh Barat khususnya Puskesmas Drien Rampak berasal dari bantuan luar negeri yaitu RTI ( Research Triangel Institute ), Kementerian Kesehatan RI, dan APBD Kabupaten Aceh Barat baik itu tahap pertama maupun tahap kedua.
3. Sarana dan Prasarana yang dibutuh dalam Program Eliminasi Filariasis masih belum lengkap. Seperti spanduk, baliho, stiker, ataupun proyektor film yang digunakan untuk memutar film tentang filariasis. Sarana dan prasarana yang dimiliki oleh Puskesmas Drien Rampak hanya kaos, form pengobatan, alat-alat tulis, dan buku saku filariasis untuk kader.
4. Bahan logistik dalam Program Eliminasi Filariasis yang diperlukan sudah mencukupi dan terdistribusi dengan baik, seperti obat-obatan, kartu pengobatan, form pencatatan dan pelaporan, serta bahan penunjang lainnya.
5. Advokasi sudah dilaksanakan, hasil advokasinya pemerintah daerah berkomitmen untuk membantu dalam Program Eliminasi Filariasis dengan mengucurkan dana operasional sebesar Rp. 56.000.000,00.
6. Koordinasi sudah dijalankan, baik itu koordinasi lintas sektor dan koordinasi lintas program tetapi belum maksimal karena masih ada yang belum terlibat dalam program eliminasi filariasis ini.
7. Persiapan, pelaksanaan, pemberian obat kepada penduduk yang tidak hadir dan monitoring dalam pelaksanaan POMP Filariasis juga belum maksimal karena masih ada berbagai hambatan yang ditemukan.
8. Cakupan pengobatan massal filariasis di wilayah Puskesmas Drien Rampak belum maencapai target nasional, baik itu tahap I dan II. Tahap I hanya 54% itu sudah dilakukan survey cakupan dan tahap II 43% belum dilakukan survey cakupan, sedangkan target nasional itu>85% dari jumlah penduduk sasaran.
6.2 Saran
1. Kepada Dinas Kesehatan Aceh Barat
a. Mengoptimalkan sumber daya manusia yang ada dengan menerapkan kegiatan pelatihan, misalnya dengan memberikan pelatihan kepada petugas kesehatan untuk menggantikan tenaga ahli mikroskopis, jika tidak ada tenaga ahli mikroskopis.
b. Menyediakan media penyampaian informasi kepada masyarakat terkait Program Eliminasi Filariasis, misalnya bekerjsama dengan radio setempat untuk menyampaikan informasi kepada masyarakat atau membuat spanduk untuk dipasang disetiap kecamatan yang berisikan informasi tentang filariasis.
c. Meningkatkan kegiatan koordinasi lintas sektor , koordinasi lintas sektor bisa dilakukan dengan lebih melibatkan tokoh adat dan agama yang berpengaruh di Kabupaten Aceh Barat dan kepada LSM/swasta yang ada di Kabupaten Aceh Barat agar mau membantu dalam Pelaksanaan Program Eliminasi Filariasis baik itu dalam bentuk finansial maupun tenaga SDM-nya.
2. Kepada Puskesmas Drien Rampak
a. Menambah pos-pos minum obat dengan memanfaatkan tempat-tempat umum seperti masjid ataupun posyandu, kemudian merekrut kader filariasis sukarela dan memanfaatkan tenaga kesehatan lain yang ada dipuskesmas untuk saling bekerjasama menjaga pos-pos yang ada.
Sehingga akses masyarakat untuk meminum obat jadi mudah, karena dalam kegiatan POMP Filariasis tidak cukup hanya 1 pos saja.
b. Meningkatkan penyuluhan tentang monitoring reaksi minum obat kepada masyarakat, dengan meningkatkan peran aktif dari TPE/kader.
Caranya dengan mengunjungi rumah-rumah penduduk diwaktu senggang.
c. Memanfaatkan dana BOK untuk meningkatan kegiatan penyuluhan kepada penduduk sasaran agar mengetahui tentang penyakit filariasis.
DAFTAR PUSTAKA
Ambarita, Lasbudi P. 2014. Perilaku Masyarakat Terkait Penyakit Kaki Gajah dan Program Pengobatan Massal di Kecamatan Pemayung Kabupaten Batanghari Jambi. Media Litbangkes, vol 24, no 04, hal.
191.
Depkes RI. 1990. Pedoman Perencanaan Dan Pengelolaan Obat. Ditjen Pengawasan Obat dan Makanan Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.
. 2008. Pedoman Program Eliminasi Filariasis di Indonesia. Ditjen PP & PL Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.
Dinas Kesehatan Provinsi Aceh. 2015. Profil Kesehatan Provinsi Aceh Tahun 2015.
Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Barat. 2014. Profil Kesehatan Kabupaten Aceh Barat Tahun 2014.
Gitosudarmo, I dan A Mulyono. 1999. Prinsip Dasar Manajemen Edisi ke 3.
Yogyakarat, BPFE Yogyakarta.
Gomes, FC. 2003. Manajemen Sumber Daya Manusia. Yogyakarta, Penerbit Cv. Andi Offset.
Habibah, Z dan S Sungkar. 2015. Cakupan Pemberian Obat Pencegahan Massal Filariasis di Kabupaten Sumba Barat Daya Tahun 2012-2013.
Cakupan POMP Filariasis, vol. 3, No 3, hal 203.
Harahap, R. 2013. Analisis Implementasi Kebijakan Program Eliminasi Filariasis Di Kabupaten Labuhan Batu Selatan. Tesis. Universitas Sumatera Utara.
Ideham, B dan S Pusawarati. 2004. Penuntun Praktis parasitologi kedokteran.
Surabaya, Airlangga University by Press.
Irianto, K. 2009. Parasitologi Berbagai Penyakit Yang Mempengaruhi Kesehatan Manusia. Bandung, Penerbit Cv. Yrama Widya.
Kemenkes RI. 2010. Rencana Nasional Program Akselerasi Eliminasi Filariasis di Indonesia Tahun 2010 – 2014. Ditjen PP & PL Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.
. 2015. Profil Kesehatan Republik Indonesia Tahun 2015.
Jakarta.
Laksono, A.D. 2016. Mengapus Jejak Kaki Gajah. Daerah Istimewa Yogyakarta, PT. Kanisius.
Mahsun, M. 2006. Pengukuran Kinerja Sektor Publik, Cetakan Pertama BPPE, Yogyakarta
Miles, MB dan AM Huberman. 2009. Analisis Data Kualitatif. Jakarta, Universitas Indonesia Press.
Miller, V dan J Covey. 2005. Pedoman Advokasi. Jakarta, Yayasan Obor Indonesia.
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia. 2014. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 75 Tahun 2014 Tentang Pusat Kesehatan Masyarakat, Jakarta.
. 2014. Peraturan Menteri Kesehatan No 94 Tahun 2014 Tentang Penanggulangan Filariasis, Jakarta.
Puskesmas Drien Rampak. 2015. Profil Puskesmas Drien Rampak 2015.
Arongan Lambalek.
Risa, A. 2014. Analisis Implementasi Program Eliminasi Filariasis Di Kabupaten Bengkalis Tahun 2013. Skripsi. Universitas Sumatera Utara.
Reksohadiprodjo, S. 2000. Dasar-Dasar Manajemen Edisi 5. Yogyakarta, BEPF Yogyakarta.
Santoso, A Yeni, R Oktarina dan T Wurisastuti. 2015. Efektivitas Pengobatan Massal Filariasis Tahap II Menggunakan Kombinasi Dec Dengan Albendazole Terhadap Prevalensi Brugia Malayi, Buletin sistem kesehatan, vol 18, no 2, hal 161.
Sugiyono. 2003. Metode Penelitian Administrasi. Bandung, Cv. Alfabeta
Suswita, F. 2009. Kerjasama Lintas Sektor Dalam Program Eliminasi Filariasis Di Wilayah Kerja Puskesmas Jembatan Mas Kabupaten Batanghari Provinsi Jambi. Skripsi. Universitas Diponegoro.
Sutisna, E. 2012. Pemberdayaan Masyarakat Di Bidang Kesehatan.
Yogyakarta, Gadjah Mada University Press.
Utomo, T. 2014. Hubungan Ketersediaan Sarana Dan Prasarana Program Eliminasi Filariasis Terhadap Pengetahuan Masyarakat Tentang Penyakit Filariasis Di Kota Pekalongan Tahun 2013. Skripsi.
Universitas Diponegoro.
WHO (2016). Fact Sheet : Filariasis Lymphatic. Agustus 26, 2016.
www.who.int/mediacenter/factsheets/fs102/en/.hmtl.
Pedoman Wawancara Mendalam
Pelaksanaan Manajemen Program Eliminasi Filariasis Di Wilayah Kerja Puskesmas Drien Rampak Kecamatan Arongan Lambalek
Kabupaten Aceh Barat Tahun 2016
1. Daftar pertanyaan untuk Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Barat
A. Identitas Peserta a. Nama : b. Umur :
c. Jenis Kelamin : d. Pendidikan Terakhir : e. Tanggal Wawancara : B. Pertanyaan
1. Menurut Bapak/Ibu selaku Kepala Dinas kesehatan Kabupaten Aceh Barat, Apa saja tugas dan fungsi bapak/ibu terkait program eliminasi filariasis?
2. Langkah-langkah apa saja yang Bapak/Ibu lakukan dalam upaya eliminasi program filariasis?
3. Apa kendala yang Bapak/Ibu hadapi dalam program eliminasi filariasis?
4. Bagaimana dengan sumber pendanaan dalam pelaksanaan upaya eliminasi filariasis? Apakah dana selalu ada diberikan? Dan dari mana sumber dana yang diperoleh?
5. Apakah dinas kesehatan melakukan advoaksi terkait program eliminasi filariasis?
6. Bagaimana kerja sama lintas sektoral dalam upaya eliminasi filariasis?
7. Apa intruksi Bapak/Ibu kepada puskesmas dalam upaya program eliminasi filariasis?
8. Berapa lama program eliminasi fialriasis ini berjalan?
2. Daftar pertanyaan untuk Kepala Bagian P2M Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Barat
A. Indentitas informan a. Nama :
b. Umur :
c. Jenis Kelamin : d. Pendidikan Terakhir : e. Tanggal Wawancara : B. Pertanyaan
1. Menurut Bapak/Ibu sebagain kepala bagian P2M, apa sajakah tugas dan fungsi terkait program eliminasi filariasis di kabupaten aceh barat?
2. Apa saja kegiatan program eliminasi filariasis yang dilaksanakan di tingkat II ( Kabupaten Aceh Barat )? Apakah kegiatan itu dilaksankan sampai sekarang.
3. Dalam pendistribusian obat, bagaimana strategi penditribusian obat yang dilakukan oleh dinas kesehatan Kabupaten Aceh Barat agar obat di minum oleh masyarakat?
4. Apakah pernah dilakukan sosialisasi tentang manajemen eliminasi filariasis kepada petugas kesehatan? Bagaimana hasil dari kegiatan
3. Daftar pertanyaan untuk Kepala Puskesmas Drien Rampak A. Indentitas informan
a. Nama : b. Umur :
c. Jenis Kelamin : d. Pendidikan Terakhir : e. Tanggal Wawancara : B. Pertanyaan
1. Sebagai kepala puskesmas Bapak/Ibu, apa saja tugas dan fungsi bapak/ibu terkait program eliminasi filariasis?
2. Menurut Bapak/Ibu apa saja kegiatan program yang dilakukan di puskesmas drien rampak dalam upaya program eliminasi filariasis?
3. Menurut Bapak/Ibu bagaimana proses persiapan pelaksanaan program eliminasi filariasis?
4. Apakah pernah dilalaksanakan kegiatan advokasi terkait kerja sama lintas sektor dalam eliminasi filariasis? bagaimana hasil kegiatan tersebut?
5. Apakah dana yang diberikan oleh dinas kesehatan mencukupi dalam pelaksanaan program eliminasi filariasis?
4. Daftar pertanyaan untuk Pengelolah Program Eliminasi Filariasis di Puskesmas Drien Rampak
A. Indentitas informan a. Nama :
b. Umur :
c. Jenis Kelamin : d. Pendidikan Terakhir : e. Tanggal Wawancara : B. Pertanyaan
1. Sebagai pengelola program eliminasi filariasis, apa tugas dan fungsi Bapak/Ibu terkait program eliminasi filariasis?
2. Apakah obat eliminasi filariasisnya mencukupi untuk seluruh masyarakat yang tinggal di wilayah kerja puskesmas drien rampak?
3. Bagaimana eliminasi preventif dan kuratif yang dilakukan oleh puskesmas drien rampak dalam upaya eliminasi filariasis?
4. Bagimana kerja sama lintas sektor dalam program eliminasi filariasis?
5. Bagaimana sistem pemantauan dan evaluasi yang Bapak/Ibu lakukan dalam pelaksanaan eliminasi filariasis?
a. Ketetapan waktu pelaporan?
b. Kelengkapan data sasaran?
5. Daftar pertanyaan untuk Camat Arongan Lambalek A. Indentitas informan
a. Nama : b. Umur :
c. Jenis Kelamin : d. Pendidikan Terakhir : e. Tanggal Wawancara : B. Pertanyaan
1. Selama Bapak/Ibu sebagai camat, apakah pernah bapak/ibu dilibatkan dalam program eliminasi filariasis?
2. Jika pernah dilibatkan, apakah ada komitmen dalam usaha menegliminasi penyakit filariasis
6. Daftar pertanyaan untuk Bidan Desa A. Identitas informan
a. Nama : b. Umur :
c. Jenis Kelamin : d. Pendidikan Terakhir : e. Tanggal Wawancara : B. Pertanyaan
1. Sesuai dengan jabatan yang Ibu emban, bagaimana kerja sama ibu selaku bidan desa dengan kader filariasis dalam pelaksanaan program
eliminasi filariasis di Puskesmas Drien Rampak? Apakah pernah dilakukan penyuluhan kepada masyarakat?
2. Sepengetahuan Ibu, bagaimana pelaksanaan manajemen program eliminasi filariasis yang di lakukan di Puskesmas? Apakah berjalan sesuai dengan tata laksana program eliminasi filariasis?
3. Apakah dalam proses pemberian obat dilakukan penimbangan berat badan sebelum diberikan obat kepada masyarkat?
4. Sepengetahuan Ibu, apakah kader pernah diberikan pelatihan terkait program eliminasi filariaris? Apakah Ibu ikut dalam pelatihan tersebut?
5. Apakah menurut Ibu, sarana dan prasarana sudah memadai dalam melaksanakan program eliminasi filariasis?
6. Terkait dengan dana operasional, menurut Ibu apakah sudah mencukupi dalam melaksanakan program eliminasi filariasis?
7. Daftar pertanyaan untuk Kader Filariasis A. Identitas informan
a. Nama : b. Umur :
c. Jenis Kelamin : d. Pendidikan Terakhir : e. Tanggal Wawancara : B. Pertanyaan
1. Sudah berapa lama Bapak/Ibu menjadi kader filariasis?
2. Bagaiman bisa Bapak/Ibu terpilih menjadi kader filariasis? Apakah keinginan Bapak/Ibu sendiri?
3. Sepengetahuan Bapak/Ibu, apakah ada pelatihan terhadap kader filariasis yang dilakukan oleh petugas puskesmas? Apakah Bapak/Ibu mengikutinya? Jika Tidak, Apa alasan Bapak/Ibu tidak mengikutinya?
4. Apakah Bapak/Ibu pernah melakukan penyuluhan tentang program eliminasi filariasis dengan Bidan Desa kepada masyarkat desa?
5. Apakah dalam memberikan obat Bapak/Ibu datang ke rumah-rumah masyarkat atau masyrakat datang ke rumah Bapak/Ibu?
6. Menurut Bapak/Ibu, dana yang diberikan petugas kesehatan mencukupi untuk melaksanakan pemberian obat filariasis?
7. Apa saran Bapak/Ibu agar seluruh masyarakat dapat meminum obat massal eliminasi filariasis?
8. Daftar pertanyaa untuk Kepala Desa A. Identitas informan
a. Nama : b. Umur :
c. Jenis Kelamin : d. Tanggal Wawancara : B. Pertanyaan
1. Apakah ada kegiatan kerja sama lintas sektor antara pihak puskesmas dengan desa terkait filariasis?
2. Apa kegiatan yang dilakukan oleh pihak puskesmas kepada masyrakat desa terkait penyakit filariasis?
3. Apakah pernah dilakukan penyuluhan tentang penyakit filariasis?
Kapan saja penyuluhan tersebut diberikan oleh puskesmas?
4. Apakah Bapak/Ibu ikut mengawasi kegiatan eliminasi filariasis yang diberikan oleh puskesmas?
5. Apa saran Bapak/Ibu agar masyarakat mau meminum obat filariasis?
6. Daftar pertanyaan untuk masyarkat di wilayah kerja Puskesmas Drien Rampak
A. Identitas informan a. Nama :
b. Umur :
c. Jenis Kelamin : d. Pendidikan Terakhir : e. Tanggal Wawancar : B. Pertanyaan
1. Apakah Bapak/Ibu tahu tentang POMP Filariasis?
a. Jika “iya” apakah pernah diadakan penyuluhan, apakah bapak/ibu meminum obatnya, apakah bapak/ibu pernah datang ke pos-pos filariasis, apakah pernah didata oleh kader terkait reaksi minum obat filariasis?
b. Jika “tidak” apakah bapak/ibu pernah dikasih obat tentang kaki gajah dari petugas?
7. Daftar pertanyaan untuk staff khusus Bupati Aceh Barat terkait Program Eliminasi Filariasis
A. Identitas informan
a. Nama :
b. Umur :
c. Jenis Kelamin : d. Tanggal Wawancara : B. Pertanyaan
1. Apakah Bapak/Ibu pernah dilibatkan terkait Program Eliminasi filariasis dari Dinas Kesehatan Aceh Barat?
a. Jika “iya” Apa aja kegiatan yang dilibatkan oleh Dinas Kesehatan?, Apakah ada komitmen setelah dilibatkan?
b. Jika “tidak” Bagaimana jika Dinas Kesehatan Aceh Barat mengundang Bapak/Ibu untuk terlibat dalam Program Eliminasi Filariasis, apakah Bapak/Ibu bersedia?