2. METODOLOGI PELAKSANAAN PEKERJAAN
2.1. Metodologi Pekerjaan
2.1.2. Perencanaan Program
Perencanaan kontingensi ini dibuat secara bersama-sama oleh semua pihak dan multi sektor yang terlibat serta berperan dalam penanganan bencana dalam satu Workshop, termasuk diantaranya dari pihak pemerintah, organisasi non pemerintah, dan masyarakat. Adapun prinsip-prinsip penyusunan perencanaan Kontingensi yang disusun sebagai berikut :
1. Proses penyusunan dilakukan secara partisipatif;
2. Skenario dan tujuan secara kesepakatan bersama;
3. Dilakukan secara terbuka;
4. Pendelegasian peran dan tugas setiap pelaku secara bertanggung jawab;
5. Dibuat untuk membuat respon yang dapat diaplikasikan dalam menghadapi keadaan darurat.
6. Adapun proses penyusunan rencana Kontingensi tersebut sebagaimana terlihat pada bagan alur/ silabus berikut :
Gambar 2.1. Diagram Alir Penyusunan Rencana Kontingensi
Sumber: Panduan Perencanaan Kontingensi Menghadapi Bencana (edisi kedua) BNPB, 2011
a) Penentuan Kejadian
Pada tahapan ini dilakukan penentuan risiko bencana dan wilayah kemungkinan terjadi bencana dengan dasar data sejarah terjadinya longsor dan peta Kawasan Rawan, sehingga semua pihak dapat memahami sejauh mana dampak yang bisa ditimbulkan bila terjadi bencana. Dalam hal ini semua pihak terkait dapat memahami tanda-tanda batas indikasi dan faktor pemicu terjadinya suatu bencana, dan mengindentifikasikan tindakan untuk penanganannya.
b) Pengembangan Skenario
Pada tahapan pengembangan skenario, dibuat suatu peta risiko longsor berdasarkan pada kawasan longsor yang sebelumnya telah diidentifikasikan akan ancaman yang mungkin terjadi. Pengembangan skenario dimulai dari dampak terparah yang diakibatkan oleh suatu bencana. Pengembangan skenario ini dibuat secara bersama antara
dikomunikasikan kepada Pemerintah Daerah Kota Surakarta. Ini menjadi dasar dalam perencanaan tindakan sebagai respon tanggap darurat untuk Kota Surakarta
c) Penentuan Tindakan
Setelah pengembangan skenario, kemudian ditentukan tindakan (peran) yang akan dilakukan oleh pihak-pihak yang ditentukan untuk menghadapi keadaan darurat. Penentuan ini dilakukan dengan cara diskusi, workshop, kunjungan lapangan, dan finalisasi perencanaaan yang mengacu pada rencana tanggap darurat dan penentuan sumber daya untuk dimobilisasi.
d) Perencanaan dan Inventarisasi Untuk Mekanisme Respon
Pada tahap ini dilakukan pengkajian terhadap kerentanan dan kapasitas Kota Surakarta apabila terjadi suatu bencana baik secara sumber daya manusia, sumber daya alam, infrastruktur, sosial dan ekonomi. Serta melakukan pendataan kebutuhan yang dibutuhkan pada saat menghadapi keadaan darurat. Kesemua ini dilakukan untuk mendapatkan penentuan Mekanisme Respon. Pada tahapan mekanisme respon ditentukan sistem dan kegiatan menghadapai keadaan darurat yang dilakukan secara terkoordinir dalam suatu Prosedur Tetap (Protap) menghadapi keadaan darurat dan disusun dalam suatu Rencana Kontingensi Kota Surakarta.
2.1.3. Aktivasi Rencana Kontingensi
Rencana Kontingensi diaktivasi setelah ada penetapan status darurat bencana banjir oleh Walikota Surakarta dan telah ditetapkan serta diaktivasinya organisasi komando Tanggap Darurat Bencana oleh Kepala BPBD Kota Surakarta melalui rapat penyusunan rencana operasi yang dipimpin oleh komando Tanggap Darurat Bencana.
Data-data rencana pada dokumen Kontingensi disepakati untuk dimutahirkan setiap 2 (dua) tahun dan dokumen rencana Kontingensi secara keseluruhan berlaku selama 5 (lima) tahun jika selama waktu yang ditentukan tidak terjadi bencana longsor, maka dilakukan kaji ulang terhadap rencana Kontingensi.
2.1.4. Potensi Kejadian Bencana
Kota Surakarta merupakan salah satu wilayah di Indonesia yang memiliki karakteristik bencana yang cukup tinggi dan kompleks, dalam arti bencana yang ada di Kota Surakarta ini adalah gempa bumi, banjir, angin puting beliung, kebakaran, kekeringan serta bencana non-alam maupun
bencana sosial. hal ini semakin menjadikan rencana Kontingensi menjadi kompleks, selain itu ancaman bencana ini dapat ancaman tunggal tetapi juga dapat menjadi kombinasi dari ancaman-ancaman yang ada. Dengan demikian ancaman bencana yang terjadi di Kota Surakarta membutuhkan penanganan bersama dalam arti penanganan tersebut tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah tetapi juga melibatkan masyarakat dan dunia swasta. Untuk melihat potensi kejadian sejarah perlu dikaji kejadian banjir berdasarkan parameter cuaca yaitu :
Data yang digunakan dalam penulisan paper ini merupakan data sekunder. Definisi Data Sekunder adalah data yang diperoleh melalui pihak lain, tidak langsung diperoleh oleh penulis sendiri. Data Sekunder biasanya berwujud data dokumentasi atau data laporan yang telah tersedia. Data dalam penulisan rencana kontingensi ini diperoleh dari berbagai sumber antara lain :
1. BMKG (Data satelite cuaca di web:\\satelite.bmkg.go.id)
2. Data Curah Hujan (trmm jaxa) yang berasal dari http:\\eorc.jaxa.jp 3. Data Gradien wind berasal dari http:\\bom.gov.au
4. Peta DAS aliran air yang mengalir ke wilayah Solo yang berasal dari bpsda- solo.jatengprov.go.id
Gambar 2.2. Citra Satelit Cuaca BMKG, Data Curah Hujan (trmm jaxa), Data Gradien wind, Peta DAS aliran air yang mengalir ke wilayah Solo
Sumber : Jurnal Analisa kejadian banjir dikota Sola April 2016, Alfan Muttaqin dan Rini Mariana Sibarani
Banjir terjadi di Kota Solo pada tanggal 22 April 2015 didaerah Kelurahan Sumber, Kelurahan Banyuanyar, Kelurahan Nusukan, Kelurahan Kadipiro yang dilalui kali Pepe (Solo bagian barat). Selain itu di wilayah Kelurahan Laweyan (Sungai Bengawan Solo) dan yang dilewati Kali Jenes juga terendam (Solo bagian timur).
Gambar 2.3. Gradien wind 19-22 April 2015,
Sumber : Jurnal Analisa kejadian banjir dikota Sola April 2016, Alfan Muttaqin dan Rini Mariana Sibarani
Pola gradien wind yang ditunjukkan pada gambar adalah pola dari tanggal 19–22 April 2015. Tanggal 19 April 2015 sudah mulai muncul bibit adanya tropikal siklon disebelah selatan pulau jawa. Adanya tropikal siklon ini sangat mempengaruhi pola pergerakan angin di daerah Jawa Tengah dan Yogyakarta. Terlihat dari anggal 20–22 April 2015 dengan adanya ropikall siklon tersebut menyebabkan adanya daerah belokkan angin dan pertemuan angin idaerah sekitar Jawa Tengah dan Yogyakarta sehingga bisa memicu pertumbuhan awan hujan yang potensial. Daerah belokan angin atau ertemuan angin inilah yang mengakibatkan terbentuknya awan-awan konvektif penyebab hujan lebat. Hujan yang terjadi di daerah tersebut bisa terjadi dengan intensitas lebat dan dengan durasi yang ber jam–jam. Kejadian hujan tersebut jika terjadi berhari–hari bisa menyebabkan terjadinya banjir karena luapan sungai yang sudah tidak mampu menampung air hujan ataupun luapan air waduk. Waduk sebagai tempat penampungan air pun bisa jebol jika air yang masuk melebihi jumlah air maksimal yang bisa ditampung oleh waduk. Kejadian jebolnya waduk bisa terjadii tidak hanya karena banyaknya air yang
masuk kewaduk namun juga karena tanggul yang tidak dalam keadaan baik. Terbentuknya awan–awan potensial hujan bisa terlihat dari data citra satelit yang didapatkan dari (satelit.bmkg.go.id). Pengaruh dari tropikal siklon yang berada di selatan pulau jawa sangat berpenagruh terhadap pertumbuhan awan–awan potensial seperti yang terlihat pada gambar :
Gambar 2.4. Foto Citra Satelite Cuaca tanggal 22 April 2015 Pukul 11 UTC, 14 UTC, 16 UTC, 18 UTC,
Sumber : Jurnal Analisa kejadian banjir dikota Sola April 2016, Alfan Muttaqin dan Rini Mariana Sibarani
Citra satelit menunjukkan bahwa awan–awan potensial hujan memang terbentuk didaerah Jawa tengah dan yogyakarta mulai tanggal 20 April 2015. Sehingga wilayah Jateng dan Yogyakarta mulai diguyur hujan pada tanggal tersebut. Hujan yang mengguyur jika dilihat dari citra satelite mulai intensitas sedang hingga lebat. Pada tanggal 22 April 2015 terlihat kumpulan awan yang terbentuk diatas wilayah Jateng dan Yogyakarta sangat besar dan terjadi dari pukul 11 UTC (18:00 WIB) sampai pukul 18 UTC (01:00 WIB) dini hari tanggal 23 April 2015. Hujan yang terjadi secara merata hampir diseluruh wilayah Jateng dan Yogyakarta dengan intensitas sedang hingga lebat. Hujan tersebut yang menyebabkan wilayah solo bagian barat diterjang banjir dan juga wilayah solo bagian timur yang dilalui sungai bangawan solo juga terendam banjir.
Hujan yang mengguyur wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta pada saat kejadian banjir tersebut bisa dianalisa dengan menggunakan data yang bersumber dari TRMM jaxa (eorc.jaxa.jp). hasil pengolahan data trrm jaxa menggunakan grads dihasilkan curah hujan hujan seperti yang tertampil pada gambar sebagai berikut :
Gambar 2.5. Foto Citra Satelite Curah Hujan tanggal 19-24 April 2015, Sumber : Jurnal Analisa kejadian banjir dikota Sola April 2016, Alfan Muttaqin dan Rini
Mariana Sibarani
Hujan telah terjadi dari beberapa hari sebelum kajadian banjir.
Hujan yang turun tersebut membuat material tanah menjadi jenuh. Sejak tanggal 20 April wilayah Solo dan sebelah barat yaitu daerah lereng gunung merapi terjadi hujan dengan intensitas mencapai 80mm.
Puncaknya pada tanggal 22 April 2015 sebagian besar wilayah Jateng dan Yogyakarta diguyur hujan dengan intensitas mencapai 140mm. Durasi hujan tersebut terjadi dalam waktu yang cukup lama jika dilihat dari citra satelit yaitu selama kurang lebih 7 jam. Hujan yang terjadi dilereng gunung merapi tersebut membuat sub das merapi meluap yang menyebabkan air limpasan masuk ke wilayah selatan ke daerah Yogyakarta dan sebelah timur ke daerah Boyolali, Sukoharjo dan juga daerah Solo bagian barat.Air limpasan dari lereng gunung merapi masuk
ke kota solo melalui kali Pepe yang melintasi tengah kota solo sehingga kali Pepe meluap dan menyebabkan banjir diwilayah kota Solo. Hujan yang terjadi diwilayah hulu waduk wonogiri juga menyumban air limpasan yang masuk ke das bengawan solo yang menyababkan wilayah solo bagian timur terendam banjir akibat luapan sungai bengawan solo.
Gambar 2.6. Peta DAS Bengawan Solo, Sumber : BBWS Bengawan Solo
Gambar 2.7. Peta daerah rawan banjir kota Solo Tahun 2007
Sumber : Jurnal Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan Jurnal Analisa kejadian banjir dikota Sola April 2016, Alfan Muttaqin dan Rini Mariana Sibarani
Dilihat dari gambar peta DAS bengawan solo menunjukkan bahwa adanya aliran air dari lereng gunung merapi. Sehingga banjir yang menggenang daerah Sukoharjo, Boyolali dan Solo bagian barat tidak hanya disebabkan tingginya intensitas curah hujan pada daerah tersebut namun juga pengaruh air kiriman dari hujan yang terjadi didaerah lereng gunung merapi. Dari gambar peta wilayah rawan banjir di Solo memang Solo bagian barat daerah Banyuanyar termasuk Rawan dengan kategori sedang hingga rawan. Solo bagian timur daerah Kampung Sewu merupakan daerah rawan dengan kategori sangat rawan.
Dari uraian tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa adanya tropikal siklon di selatan pulau jawa (samudra hindia) sangat mempengaruhi curah hujan didaerah Jateng serta Yogyakarta dan Banjir yang terjadi didaerah Jateng dan Yogyakarta disebabkan intensitas hujan yang cukup tinggi dan air limpasan dari lereng Gunung Merapi. Maka disarankan Sebaiknya dibuat resapan dimasing–masing wilayah dan juga pengerukan/normalisasi sungai agar tidak dangkal sehingga aliran air tidak meluber dan menyebabkan terjadinya banjir.
2.2. PENILAIAN BAHAYA DAN PENENTUAN KEJADIAN
Penilaian Bahaya dan Penentuan Kejadian akan dijabarkan dalam laporan berikutnya setelah tim konsultan selesai melaksanakan identifikasi kawasan perencanaan dan mendapatkan data-data kejadian bencana tanah longsor diKota Surakarta.
2.3. PENGEMBANGAN SKENARIO
Siaga IV : Belum ada peningkatan debit air secara mencolok. Komando di lapangan, termasuk membuka atau menutup pintu air serta akan dikemanakan arah air cukup dilakukan oleh komandan pelaksana dinas atau wakil komandan operasional wilayah.
Siaga III : Hujan yang terjadi menyebabkan terjadinya genangan air di lokasi-lokasi tertentu tetapi kondisinya masih belum kritis dan membahayakan. Meski demikian bila status siaga III sudah ditetapkan, masyarakat sebaiknya mulai berhati-hati dan mempersiapkan segala sesuatunya dari berbagai kemungkinan bencana banjir. Siaga III, penanganannya diserahkan pada masing-masing Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang membidangi sampai dengan ditingkat kecamatan dan kelurahan/desa di masing-masing wilayah.
Siaga II : Bila wilayah genangan air mulai meluas, maka akan ditetapkan Siaga II, penanggungjawab untuk siaga II ini adalah Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah yaitu Sekretaris Daerah. Pada Status Siaga II ini terdapat kejadian Jika Sungai Bengawan Solo khususnya pada Pintu Air Jurug mengalami luapan sehingga Tinggi Muka Air (TMA) tertera pada angka 8,2 meter, maka pintu-pintu air pendukung lainnya (21 pintu air) segera dilakukan tindakan sesuai dengan skenario pengurangan resiko bencana banjir yang telah di sepakati.
Siaga I : Bila dalam enam jam genangan air tersebut tidak surut dan kritis maka ditetapkan Siaga I. Penanggung jawab penanganan status siaga I langsung di tangan Kepala Daerah.
Setelah ditetapkannya Status Siaga I maka Kepala Daerah (Walikota) menerbitkan Surat Keputusan (SK) Tanggap Darurat Bencana. Sesuai Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (Perka BNPB) Nomor 10 Tahun 2008 tentang Pedoman Komando Tanggap Darurat Bencana dengan tahapan sebagai berikut :
A. Informasi Kejadian Awal Bencana
1. Informasi awal kejadian bencana diperoleh melalui berbagai sumber antara lain pelaporan, media massa, instansi/lembaga terkait,
dan/atau BPBD melakukan klarifikasi kepada instansi/lembaga/masyarakat di lokasi bencana. Informasi yang diperoleh dengan menggunakan rumusan pertanyaan terkait bencana yang terjadi, terdiri dari:
a. Apa : jenis bencana
b. Bilamana : hari, tanggal, bulan, tahun, jam, waktu setempat c. Dimana : tempat/lokasi/daerah bencana
d. Berapa : jumlah korban, kerusakan sarana dan prasarana e. Penyebab : penyebab terjadinya bencana
f. Bagaimana : upaya yang telah dilakukan
2. Penjelasan rumusan pertanyaan informasi kejadian awal yang harus dikumpulkan dapat dilihat pada Lampiran-1.
B. Penugasan Tim Reaksi Cepat (TRC)
1. Dari informasi kejadian awal yang diperoleh, BNPB dan/atau BPBD menugaskan Tim Reaksi Cepat (TRC) tanggap darurat bencana, untuk melaksanakan tugas pengkajian secara cepat, tepat, dan dampak bencana, serta serta memberikan dukungan pendampingan dalam rangka penanganan darurat bencana.
2. Hasil pelaksanaan tugas TRC tanggap darurat dan masukan dari berbagai instansi/lembaga terkait merupakan bahan pertimbangan bagi :
a. Kepala BPBD Kabupaten/Kota untuk mengusulkan kepada Bupati/Walikota dalam rangka menetapkan status /tingkat bencana skala kabupaten/kota.
b. Kepala BPBD Provinsi untuk mengusulkan kepada Gubernur dalam rangka menetapkan status/tingkat bencana skala provinsi.
c. Kepala BNPB untuk mengusulkan kepada Presiden RI dalam rangka menetapkan status/tingkat bencana skala nasional.
C. Penetapan Status / Tingkat Bencana
1. Berdasarkan usul sesuai butir B.2 di atas dan berbagai masukan yang dapat dipertanggung jawabkan dalam forum rapat dengan instansi / lembaga terkait, maka :
a. Bupati/Walikota menetapkan status/tingkat bencana skala kabupaten/kota.
b. Gubernur menetapkan status/tingkat bencana skala provinsi.
c. Presiden RI menetapkan status / tingkat bencana skala nasional.
2. Tindak lanjut dari penetapan status/tingkat bencana tersebut, maka Kepala BNPB/BPBD Provinsi/BPBD Kabupaten/Kota sesuai dengan
kewenangannya menunjuk seorang pejabat sebagai komandan penanganan tanggap darurat bencana sesuai status/tingkat bencana skala nasional/daerah.
D. Pembentukan Komando Tanggap Darurat Bencana
1. Kepala BNPB/BPBD Provinsi/BPBD Kabupaten/Kota sesuai status/tingkat bencana dan tingkat kewenangannya :
a. Mengeluarkan Surat Keputusan pembentukan Komando Tanggap Darurat Bencana.
b. Melaksanakan mobilisasi sumberdaya manusia, peralatan dan logistik serta dana dari instansi/lembaga terkait dan/atau masyarakat.
c. Meresmikan pembentukan Komando Tanggap Darurat Bencana.
2. Ilustrasi pembentukan Komando Tanggap Darurat Bencana dapat dilihat pada Lampiran-2.
Surakarta memiliki beberapa sungai besar dengan 21 pintu air dengan standar status siaga yang berbeda-beda. Tinggi Muka Air yang paling aman adalah Status siaga IV :
Nama Pintu air dan Sub Sistem Drainasenya tergambar pada tabel berikut ini : No Kode Nama Pintu Air Nama Sub Sistem Drainase
1 Eks Demangan Kali Pepe Hilir
2 Eks Kedung Kopi/Juanda Kali Bengawan Solo
3 Eks Kedung Belang Kali Bengawan Solo
4 Eks Joyotakan Barat Kali Wingko
5 Eks Kedung Lumbu Kali Jenes
6 Eks Gandekan Kali Pepe Hilir
7 Eks Joyotakan Timur Kali Wingko
8 Eks Honggowongso Timur Kali Wingko
9 Eks Sewu Kali Pepe Hilir
10 Eks Sangkrah Kali Pepe Hilir
11 Eks Comal Semanggi 2 Kali Bengawan Solo
12 Eks Mojo Kali Bengawan Solo
13 Eks Jurug Jebres 3 Sub SistemDrainase
14 Eks Losari Semanggi 1 Kali Bengawan Solo
15 Eks Kenteng Kali Bengawan Solo
16 Eks Banyuanyar Kali Anyar
No Kode Nama Pintu Air Nama Sub Sistem Drainase
1 Renc Bhayangkara Tipes 2 Kali Tanggul
2 Renc Singosari Kali Anyar
2 Renc Minapadi Kali Anyar
Tabel 2.1. Daftar Pintu Air dan Sub Sistem Drainase Sumber : BPBD Kota Surakarta
Selain pintu air tersebut diatas, perlu diwaspadai juga pada pintu air Pucang sawit, Pintu Air Putat, Langenharjo. Untuk Pintu Air Joyotakan juga perlu diwaspadai mengingat pada sungai tersebut sering menerima banjir kiriman dari Sungai Dengkeng Kab. Klaten dan Sungai Samin Kab. Sukoharjo.
Dengan melihat potensi ancaman tersebut, maka dalam Rencana Kontingensi Banjir ini memuat beberapa pengembangan skenario.
Pengembangan Skenario ini terdiri dari tiga aspek, meliputi ; 1. Aspek Penduduk
2. Aspek Fasilitas Kritis 3. Aspek Fasilitas Umum.
2.3.1. Jalur Informasi
Banjir adalah masalah yang rutin setiap tahun menghantui. Salah satu lembaga pemerintah yang paling sibuk ketika banjir adalah Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) karena bertanggung jawab sebagai koordinator penanggulangan bencana, mulai dari kondisi prabencana, saat bencana terjadi, dan pasca bencana. Dalam situasi sebelum bencana, para stakeholders terkait berfokus pada upaya pencegahan yang dimulai dengan memetakan potensi bencana. Di fase ini, BPBD memanfaatkan early warning system yang menerima informasi tinggi muka air dari sensor, kamera CCTV, dan laporan petugas yang ditempatkan di pos-pos pemantauan. Untuk memperoleh informasi yang berkaitan dengan air, BPBD bekerjasama dengan Dinas Pekerjaan Umum (PU) dan Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS). Selain itu, BPBD juga menghimpun beragam masukan informasi lainnya, seperti perkiraan cuaca dari
BMKG dan pohon tumbang dari Dinas Pertamanan. Data-data ini dikumpulkan dan diolah di dalam DIMS (Disaster Information Management System).
Jika DIMS mendeteksi adanya potensi banjir, peringatan akan ditampilkan di layar monitor besar yang terdapat di Pusat Kendali Operasi. Early warning system terhubung dengan SMS gateway yang otomatis mengirim SMS kepada pihak-pihak terkait, seperti lurah, camat, dinas-dinas, dan pemadam kebakaran untuk bersiap- siap dalam beberapa jam air akan datang. Kemudian aparat setempat dapat memberitahu warga tentang potensi banjir. Petugas dinas terkait pun memiliki cukup waktu untuk mempersiapkan pengungsian, logistik, dan sebagainya.
2.3.2. Prakiraan dan Peringatan Dini Banjir
Sistem Peringatan Dini (Early Warning System) merupakan serangkaian sistem untuk memberitahukan akan timbulnya kejadian alam, dapat berupa bencana maupun tanda-tanda alam lainnya. Peringatan dini pada masyarakat atas bencana merupakan tindakan memberikan informasi dengan bahasa yang mudah dicerna oleh masyarakat. Dalam keadaan kritis, secara umum peringatan dini yang merupakan penyampaian informasi tersebut diwujudkan dalam bentuk sirine, kentongan dan lain sebagainya. Namun demikian menyembunyikan sirine hanyalah bagian dari bentuk penyampaian informasi yang perlu dilakukan karena tidak ada cara lain yang lebih cepat untuk mengantarkan informasi ke masyarakat. Harapannya adalah agar masyarakat dapat merespon informasi tersebut dengan cepat dan tepat. Kesigapan dan kecepatan reaksi masyarakat diperlukan karena waktu yang sempit dari saat dikeluarkannya informasi dengan saat (dugaan) datangnya bencana. Kondisi kritis, waktu sempit, bencana besar dan penyelamatan penduduk merupakan faktor-faktor yang membutuhkan peringatan dini. Semakin dini informasi yang disampaikan, semakin longgar waktu bagi penduduk untuk meresponnya.
Keluarnya informasi tentang kondisi bahaya merupakan muara dari suatu alur proses analisis data-data mentah tentang sumber bencana dan sintesis dari berbagai pertimbangan. Ketepatan informasi hanya dapat dicapai apabila kualitas analisis dan sintesis yang menuju pada keluarnya informasi mempunyai ketepatan yang tinggi. Dengan demikian dalam hal ini terdapat dua bagian utama dalam peringatan dini yaitu bagian hulu yang berupa usaha-usaha untuk mengemas data- data menjadi informasi yang tepat dan menjadi hilir yang berupa usaha agar infomasi cepat sampai di masyarakat.
2.3.2.1. Peramalan Banjir
Pada suatu sungai perlu adanya flood warning system, terutama untuk sungai yang melewati daerah yang padat penduduk dan mempunyai sifat banjir yang membahayakan. Hal ini dimaksudkan untuk mengurangi kerugian akibat banjir yang lebih besar. Pada tingkat awal untuk flood warning system adalah peramalan akan datangnya banjir.
Untuk mengetahui terhadap datangnya banjir, dapat diketahui dengan cara yang sederhana melalui gejala alam yang terjadi. Misalnya, banyak serangga yang keluar dari persembunyian/dalam tanah, suara katak yang riuh bersahutan, dsb. Cara ini biasanya diketahui baik oleh penduduk setempat dan akan mempersiapkan segala persiapan untuk menghadapi hal-hal yang membahayakan dari banjir. Berdasarkan perkembangan kehidupan masyarakat yang semakin modern dan bahaya banjir yang semakin meningkat, maka perlu adanya peramalan datangnya banjir secara tepat dan cepat. Maka secara teknis dapat dilakukan antara lain :
1. Pengamatan tinggi muka air pada pos-pos pengamat.
Cara ini dilakukan dengan melakukan pengamatan tinggi muka air sungai pada beberapa pos pengamatan tinggi muka air sungai. Pos duga muka air sungai diperlukan minimum 2 buah, pertama pos duga di sebelah hulu dan pos kedua pada daerah yang diamankan.
Pada kedua pos tersebut mempunyai hubungan tinggi muka air sungai dan debit banjir yang berupa tabel atau grafik. Jadi apabila tinggi muka air banjir pada pos di hulu diketahui, dapat menentukan besarnya tinggi muka air banjir dan debit banjir yang akan datang dan waktu tiba banjir pada pos di sebelah hilir. Pembacaan pada pos tersebut dapat dilakukan secara manual ataupun automatic.
2. Telemetering/pengamatan curah hujan
2. Telemetering/pengamatan curah hujan