BAB IV PENYAJIAN DATA
I. Perencanaan Program Peningkatan gizi bayi dan balita
1. Perencanaan Program Peningkatan Gizi bayi / balita di Puskesmas Padang Bulan .
Pelaksanan sebuah program harus diawali dari perencanaan yang telah ditetapkan sebelumnya .Demikian halnya dengan program peningkatan gizi bayi dan balita harus dilaksanakan berdasrkan perencanaan yang telah dibuat bersama .Bila hasil yang di peroleh dalam pelaksanaan sesuai dengan hasil yang di harapkan dalam perencanaan maka dapat dikatakan bahwa program tersebut efektif .dan sebaliknya jika hasil dalam suatu pelaksanaan program tidak sesuai dengan hasil yang diharapkan dalam perencanaan maka program tersebut dikatakan tidak efektif.
Perencanaan Program Peningkatan gizi bayi dan balita di Puskesmas Padang Bulan dibuat oleh Dinas Kesehatan Propinsi . Seperti yang di utarakan key Informan
kunci oleh Ibu Lidia sinaga sebagai Koordinator Gizi di bagian program gizi di wilayah kerja puskesmas Padang Bulan mengatakan :
“Untuk perencanaan program peningkatan gizi bayi dan balita di tingkat Puskesmas dibuat oleh Dinas Kesehatan Propinsi , sedangkan di tingkat Puskesmas sendiri adalah perencanaan mencakuip program gizi yang meliputi jumlah target dan penetapan pelaksanaan program “
Perencanaan Program gizi di tingkat Puskesmas , mencakup :
1. Penetuan jumlah target program , yaitu perencanaan yangn mencakup pelaksanaan pendaftaran jumlah bayi dan balita di wilayah kerja Puskesmas Padang Bulan .
2. Penetapan pelaksanaan program , yaitu mencakup perencanaan waktu pelaksanaan kegiatan di Posyandu direncanakan sekali dalam sebulan . Adapun kegiatan –kegiatan yang di renencakan dalam Posyandu , yaitu :
1. Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu ).
Posyandu merupakan pos kesehatan yang paling dekat dengan masyarakat . Pelaksanaan kegiatan kegiatan di Posyandu di rencanakan sekali dalam sebulan . Adapun kegiatan – kegiatan yang direncanakan dalam Posyandu yaitu:
a. Penimbangan bayi / balita .
Adapun tujuan dari perencanaan penimbangan bayi dan balita adalah untuk mengetahui berat badan bayi dan balita .Dengan demikian dapat diketahui status gizi bayi dan balita , yaitu kesesuaian antara usia bayi dan balita dengan berat badan .
Dengan adanya perencanaan pengisian Kartu Menuju Sehat (KMS) , yaitu pencatatan berat badan bayi pada Kartu Menuju Sehat (KMS) , maka akan di ketahui garfik perkembangan berat badan bayi dan balita . Kartu Menuju Sehat akan di berikan kepada ibu dan balita dan di bawa setiap kali ke Posyandu .
c. Penyuluhan Gizi
Perencanaan kegiatan penyuluhan gizi dimaksudkan untuk menambah pengetahuan ibu-ibu tentang gizi dan balita .Dengan adanya penyuluhan tersebut , para ibu bayi dan balita di harapkan dapat melaksanakan pesan penyuluhan tersebut .Sehingga dapat memenuhi kebutuhan gizi bayi dan balita mereka.
d. Pemberian Makanan Tambahan (PMT).
Pemberian Makanan Tambahan (PMT) sebagai makanan tambahan yang mengandung zat gizi , seperti telur rebus, tempe dan tahu goreng , bubur kacang ijo ,biskuit dan makanan ringan lainnya . Perencanaan Pemberian Makanan Tambahan kepada bayi dan balita hanya akan di berikan kepada bayi dan balita yang datang ke Posyandu.
2 . Pemberian Vitamin A
Perencanaan Waktu pemberian Vitamin A untuk tahun 2008 , yakni dua kali setahun , tepatnya pada bulan Februari dan bulan Agustus 2008. Vitamin A dengan kapsul biru akan diberikan untuk bayi berusia 0-11 bulan , sedangkan Vitamin A dengan kapsul merah akan diberikan untukl bayi dan balita berusia
3. Pemberian Makanan Pelengkap ASI (MP-ASI)
Perencanaan pemberian Makanan Pelengkap ASI (MP-ASI) yang merupakan bantuan dari pemerintah berupa biskuit dan bubur akan di berikan kepada bayi dan balita yang telah di timbang berat badannya sebelumnya .Pemberian Makanan Pelengkap (MP-ASI) berupa bubur akan di berikan kepada bayi , sedangkan Makan Pelengkap ASI (MP-ASI) berupa biskuit akan di berikan kepada balita.
2. Kelemahan Perencanaan Program Peningkatan Gizi Bayi dan Balita di Wilayah kerja Puskesmas Padang Bulan .
Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan Informan Kunci yang berjumlah 3 orang memaparkan bahwa kelemahan perencanaan ini terletak pada tidakadanya usaha atau tindakan pemerintah yang perlu dilakukan untuk menciptakan kesadaran dan kepeduliandari ibu-ibu akan kesehatan bayi dan balita mereka .Berikut adalah hasil wawancara dengan ibu Paun Riana mengatakan :
“ karena tingkat kepedulian dan pengetahuan masyarakat belum sesuai dengan yang diharapkan , maka seharusnya pemerintah membuat perencanaan mengenai upaya-upaya yang perlu dilakukan untuk meningkatkan partisipasi ibu-ibu, tetapi inilah yang menjadi kelemahan perencanaan ini , karena tidak adanya upaya –upaya tersebut dalam perencanaan “
Sedangkan 4 orang yang menjadi Informan biasa memberikan tanggapan yang berbeda , bahwa kelemahan perencanaan program gizi ini terdapat pada ketidaksesuaian rasa Makanan Pelengkap (MP-ASI) yang akan di berikan kepada bayi /balita .Berikut adalah kutipan hasil wawancara dengan ibu Lidia
“ kelemahan dari perencanaan program ini adalah banyak dari orang tua anak yang mengatakan bahwa anak mereka tidak suka makan bubur Makanan Pelengkap ASI yang diberikan , bayi dan balita mereka lebih menyukai Makanan Pelengkap (MP-ASI) dengan cerelac susu “
Pada pengalaman Posyandu sebelumnya , banyak diantara bayi dan balita tidak menyukai Makanan Pelengkap (MP-ASI) dengan rasa beras merah , kacang ijo , dan rasa pisang . Namun rasa yang paling banyak disukai bayi dan balita adalah Makanan Pelengkap (MP-ASI) dengan rasa susu atau bubur cerelac dengan rasa susu .Seharusnya Makanan Pelengkap (MP-ASI) yang akan di berikan oleh pemerinth terlebih dahulu di konsultasikan dengan pegawai puskesmas .Setelah itu pemerintah mendistribusikan Makanan Pelengkap (MP-ASI) dengan rasa yang diinginkan .
3. Saran untuk perencanaan Program Peningkatan Gizi Bayi dan Balita berikutnya.
7 orang yang menjadi key Informan memberikan saran upaya perbaikan perencanaan program peningkatan gizi bayi dan balita berikutnya .4 orang dari Informan biasa memberikan saran tentang Makanan Pelengkap (MP-ASI) yang diberikan oleh pemerintah .Berikut penuturan salah seorang dari Informan biasa , Bapak Ramlan yang mengatakan :
“ saran kami adalah semestinya sebelum perencanaan pemberian Makanan Pelengkap (MP-ASI) oleh pemrintah , dibuat terlebih dahulu daftar-daftar rasa Makanan Pelengkap (MP-ASI) itu sendiri sehingga puskesmas bisa memilih rasa yang dibutuhkan untuk bayi dan balita di posyandu”.
Dari ke 4 Informan biasa tersebut menambahkan bahwa kehadiran Makanan Pelengkap (MP-ASI) justru tidak diterima oleh ibu bayi dan balita karena rasa yang tidak disukai oleh bayi dan baita mereka .Justru yang mengkomsumsi bukan lagi bayi dan balita mereka tetapi ibu atau orang dewasa lainnya . Sehingga terjadi penyimpangan pendistribusian bantuan .
Sedangkan 3 orang yang menjadi Key Informan kunci memberi saran bahwa perlu dibuat promosi kesehatan dalam perencanaan program peningkatan gizi tersebut kepda keluarga-keluarga bayi dan balita sehingga membuka kesadaran dan kepedulian para ibu-ibu untuk membawa bayi dan balita mereka ke Posyandu.
Berikut penuturan ibu Elisabeth yang mengatakan
“ sangat perlu adanya perencanaan dari pemerintah untuk membuat suatu kebijakan berupa promosi-promosi hidup sehat untu menyadarkan ibu-ibu agar rutin datang ke Posyandu “.
Pegawai puskesmas menambahkan bahwa pada pengalaman Posyandu sebelumnya, banyak ibu-ibu bayi dan balita yang malsa untuk membawa bayi dan balita mereka ke Posyandu dengan alasan tidak mempunyai waktu banyak untuk ke Posyandu .Sehingga menjadi kendala bagi pegawai Puskesmas untuk melaksanakan perencanaan tersebut.