BAB 2 KAJIAN PUSTAKA
2.3 Penyelenggaraan Program Kursus Musik
2.3.1 Perencanaan Program
2.3.1.1 Pengertian Perencanaan Program
Pidarta (2015: 2) menjelaskan bahwa menurut Steller (1983: 68) dalam bukunya yang berjudul Curriculum Planning mengemukakan bahwa perencanaan adalah hubungan antara apa adanya sekarang (wahat is) dengan bagaimana seharusnya (what should be) yang bertalian dengan kebutuhan penentuan tujuan, prioritas, program, dan alokasi sumber. Wartanto (2007: 10) menjelaskan bahwa perencanaan merupakan proses pemikiran rasional dan penetapan secara tepat mengenai berbagai macam hal yang akan dikerjakan di masa yang akan datang, dalam usaha mencapai tujuan yang telah ditentukan. Sedangkan Waterson, 1965 (dalam Sudjana, 2000: 61) mengemukakan bahwa pada hakikatnya perencanaan merupakan usaha sadar, terorganisasi, dan terus menerus dilakukan untuk memilih alternative yang terbaik dari sejumlah alternative tindakan guna mencapai tujuan.
Perencanaan adalah proses yang sistematis dalam pengambilan keputusan tentang tindakan yang akan dilakukan pada waktu yang akan datang. Perencanaan dalam PNF merupakan kegiatan yang berkaitan dengan upaya sistematis, karena perencanaan tersebut dilaksanakan dengan menggunakan prinsip-prinsip tertentu yang mencakup proses pengambilan keputusan, penggunaan pengetahuan dan teknik secara ilmiah, serta tindakan atau kegiatan yang terorganisasi. Tindakan atau kegiatan yang terorganisasi perlu dilakukan karena dua alasan, yaitu: pertama, untuk mewujudkan kemajuan atau keberhasilan sesuai dengan yang diinginkan. Dan alasan yang kedua, supaya tidak terjadi hal-hal yang diharapkan. (Sudjana, 2000: 61-62).
Perencanaan Pendidikan Non Formal merupakan kegiatan yang berkaitan dengan: pertama, upaya sistematis yang menggambarkan penyusunan rangkaian tindakan yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan organisasi atau lembaga dengan mempertimbangkan sumber-sumber yang tersedia atau sumber-sumber yang dapat disediakan. Sumber-sumber tersebut meliputi sumber manusiawi dan sumber non-manusiawi. Sumber manusiawi mencakup pamong belajar, fasilitator, tutor, warga belajar, pimpinan lembaga, dan masyarakat. Sedangkan sumber non- manusiawi meliputi fasilitas, alat-alat, waktu, biaya, sumber daya alam hayati dan/atau non-hayati, sumber daya buatan, lingkungan sosial budaya, dan lain sebagainya. Kedua, perencanaan merupakan kegiatan untuk mengerahkan atau menggunakan sumber-sumber yang terbatas secara efisien dan efektif untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Sehingga diharapkan penyimpangan sekecil mungkin dalam penggunaan sumber-sumber tersebut dapat dihindari.
Jadi yang dimaksud dengan perencanaan program adalah alternative tindakan yang direncanakan secara sistematis berdasarkan keadaan sekarang untuk menghadapi keadaan yang akan datang dalam rangka mencapai tujuan program yang telah ditetapkan sebelumnya.
2.3.1.2 Ciri-ciri Perencanaan Program
Berdasarkan pengertian tersebut, maka perencanaan Pendidikan Non Formal memiliki ciri-ciri sebagai berikut (Sudjana, 2000: 63-64): 1) Perencanaan merupakan model pengembilan keputusan secara rasional dalam memilih dan menetapkan tindakan-tindakan untuk mencapai tujuan, 2) Perencanaan berorientasi pada perubahan dari keadaan masa sekarang pada suatu keadaan yang
dikehendaki di masa yang akan datang sebagaimana tujuan yang telah dirumuskan, 3) Perencanaan melibatkan orang-orang ke dalam suatu proses untuk menemukan dan menentukan masa depan yang diinginkan, 4) Perencanaan memberi arah mengenai bagaimana dan kapan tindakan akan diambil serta siapa dan pihak mana yang akan terlibat dalam kegiatan tersebut, 5) Perencanaan melibatkan perkiraan mengenai semua kegiatan yang akan dilaksanakan, yang meliputi: kebutuhan, kemungkinan-kemung kinan keberhasilan, sumber-sumber yang digunakan, faktor-faktor pendukung dan penghambat, serta kemungkinan resiko yang akan dihadapi, 6) Perencanaan berhubungan dengan penentuan prioritas dan urutan tindakan yang akan dilakukan, berdasarkan skala prioritas, relevansi dengan kebutuhan, tujuan yang hendak dicapai, sumber-sumber yang tersedia, dan hambatan yang mungkin ditemui, dan 7) Perencanaan merupakan titik awal sebagai arahan terhadap pengorganisasian, penggerakan, pembinaan, penilaian, dan pengembangan. Jadi perencanaan adalah alternative atau rangkaian kegiatan yang akan dilaksanakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.
Perencanaan program kursus yang dimaksud dalam penelitian ini adalah terkait tentang: tujuan pembelajaran, kurikulum, peserta didik, tutor/instruktur, sarana prasarana, dan pendanaan.
2.3.1.3Tujuan Pembelajaran
Tujuan pendidikan nasional yang termuat di dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 Bab II tentang Dasar, Fungsi, dan Tujuan Pendidikan Nasional Pasal 3 yang berbunyi Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan
kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
2.3.1.4Kurikulum
Dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dijelaskan bahwa kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Rumusan ini mengandung pokok pikiran bahwa kurikulum merupakan: a) suatu rencana, b) pengaturan yang sistematis, c) isi/bahan pengajaran, d) cara, metode, dan srategi pembelajaran, e) pedoman pembelajaran, f) upaya pencapaian tujuan, dan g) sebagai alat pendidikan.
Menurut Alexander Inglis (1978) yang dikutip Umar Hamalik (dalam Fuad, 2014: 49) mengemukakan bahwa kurikulum sebagai program pendidikan yang telah direncakanan secara sistematik, mengemban fungsi penyesuaian, pengintegrasian, referensial, persiapan, pemilihan, dan diagnostik. Oleh karena itu menurut Muchtar Buchori (dalam Fuad, 2014: 49), kurikulum hendaknya dapat dimanfaatkan dalam kehidupan yang nyata dan mampu mengantarkan warga belajar dalam menjalani tiga tugas kehidupan, yaitu: dapat hidup mandiri, mengembangkan kehidupan yang bermakna, serta turut memuliakan kehidupan. Dikatakan mandiri jika sudah mampu mengatasi persoalan hidupnya,
mengembangkan kehidupan yang bermakna jika telah memahami kekurangan dan kelebihannya, dan memuliakan hidup jika mampu memahami kehidupan secara utuh.
2.3.1.5Peserta didik/warga belajar
Dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dijelaskan bahwa peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang, dan jenis pendidikan tertentu. Menurut Hamalik (2008: 67) bahwa peserta didik merupakan suatu komponen masukan dalam sistem pendidikan yang selanjutnya diproses dalam proses pendidikan, sehingga menjadi manusia yang berkualitas sesuai denga tujuan pendidikan nasional. Sedangkan menurut Fuad (2014: 40) menjelaskan bahwa peserta didik adalah individu yang tercatat atau terdaftar sebagai peserta dalam aktivitas pembelajaran/pendidikan dalam suatu satuan pendidikan. Jadi, yang dimaksud dengan warga belajar adalah individu/anggota masyarakat yang terdaftar sebagai peserta suatu aktivitas pendidikan dalam satuan Pendidikan Non Formal dalam rangka meningkatkan dan mengembangkan potensi yang telah ada pada dirinya.
Hamalik (2008: 67) bahwa peserta didik merupakan suatu komponen masukan dalam sistem pendidikan yang selanjutnya diproses dalam proses pendidikan, sehingga menjadi manusia yang berkualitas sesuai dengan tujuan pendidikan nasional. Sedangkan dalam Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dijelaskan bahwa peserta didik adalah
anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang, dan jenis pendidikan tertentu.
Pengelolaan peserta didik/warga belajar yang dimaksud adalah segala aktivitas yang berkaitan dengan peserta didik/warga belajar, mulai dari pertama masuk sampai dengan keluarnya sebagai anggota dari suatu sekolah atau lembaga pendidikan tertentu, adlam hal ini yaitu satuan Pendidikan Non Formal. Dengan demikian, pengelolaan peserta didik/warga belajar meliputi kegiatan: penerimaan, orientasi, pengadministrasian, pembinaan, dan penilaian.
2.3.1.6Tutor/instruktur
Peraturan Pemerintah RI No. 17 tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan bahwa pendidik dan tenaga kependidikan pada satuan dan program pendidikan merupakan pelaksana dan penunjang penyelenggara pendidikan. Dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dijelaskan bahwa pendidik adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru, dosen, konselor, pamong belajar, widyaiswara, tutor, instruktur, fasilitator, dan sebutan lain yang sesuai dengan kekhususannya, serta berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan.
Rifa’i (2009: 8) menjelaskan bahwa tenaga pendidik yang professional adalah tenaga yang memiliki kompetensi dengan kemampuan yang dapat diandalkan, beraya guna, dan berhasil guna, di dalam melayani dan membantu partisipan di dalam proses pembelajaran. Kompetensi tersebut bersifat “generic essential”. Maksudnya bahwa kemampuan tersebut secara umum harus dimiliki
kompentensi tersebut mencakup tiga aspek yaitu kompetensi kepribadian, kompetensi professional, dan kompetensi sosial. Kompetensi kepribadian berkaitan dengan aspek-aspek kepribadian yang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Kompetensi professional berkaitan dengan kemampuan akademik yang terintegrasi dengan kemampuan teknis yang diperlukan dalam mengemban jabatan sebagai seorang pendidik. Dan kompetensi sosial berkaitan dengan kemampuan membina dan mengembangkan interaksi sosial baik sebagai tenaga professional maupun sebagai warga masyarakat.
Tutor/instruktur sebagai pendidik profesional memberikan pelatihan teknis kepada peserta didik pada kursus atau pelatihan. Tugas profesi pendidik bukan hanya melatih saja, memiliki jiwa mendidik dan mengajar. Mendidik berarti memberikan bimbingan kepada partisipan agar dapat berkembang seoptimal mungkin dan dapat meneruskan dan mengembangkan nilai-nilai kehidupan. Pendidik sebagai pembimbing memberi tekanan pada tugas, pemberian bantuan kepada partisipan di dalam memenuhi kebutuhan dan memecahkan masalah yang dihadapi. Tugas ini merupakan tugas pendidik, sebab tugas pendidik disamping menyampaikan ilmu pengetahuan dan teknologi, juga mengembangkan kepribadian dan pembentukan nilai-nilai pada partisipan.
2.3.1.7Sarana dan Prasarana
Yang dimaksud dengan sarana pendidikan adalah semua peralatan dan perlengkapan yang secara langsung dipergunakan dan menunjang proses pendidikan, seperti gedung, ruang belajar, media/alat pendidikan, meja kursi dan sebagainya. Sedangkan yang dimaksud dengan prasarana adalah fasilitas yang
secara tidak langsung menunjang jalannya proses pendidikan, seperti halaman, kebun/taman, jalan, dan sebagainya. Jadi sarana prasarana adalah semua peralatan dan perlengakapan serta fasilitas yang secara langsung maupun tidak langsung dipergunakan untuk menunjang jalannya proses pendidikan. Dan yang dimaksud dengan lahan adalah letak/lokasi yang dipilih secara seksama untuk mendirikan bangunan lembaga pendidikan.
Mulyasa (2004: 49) bahwa sarana pendidikan adalah peralatan dan perlengkapan yang secara langsung dipergunakan dalam menunjang proses pendidikan, khususnya proses belajar mengajar, seperti gedung, ruang kelas, meja kursi, serta alat - alat dan media pengajaran. Dijelaskan dalam Rumusan Tim Penyusun Pedoman Pembakuan Media Pendidikan Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan (dalam Arikunto, 2009: 273) bahwa sarana pendidikan adalah semua fasilitas yang diperlukan dalam proses belajar mengajar, baik yang bergerak ataupun tidak, agar tujuan pendidikan dapat tercapai dengan lancar, teratur, efektif, dan efisien.
Keberadaan sarana dan prasarana pendidikan tidak sekedar menunjang proses pendidikan, tetapi juga harus memberikan lingkungan pembelajaran yang aman, merangsang, dan menyenangkan sehingga peserta didik merasakan senang dan berprestasi dalam belajar.
2.3.1.8Pendanaan
Untuk dapat memahami konsep pendanaan perlu mengetahui terlebih dahulu konsep pembiayaan. Ziemelman (1975), yang dikutip Nanang Fatah (dalam Fuad, 2014: 45) mengemukakan bahwa biaya pendidikan tidak hanya
menganalisis sumber dana saja, tetapi juga menyangkut penggunaan dana secara efisien dalam pencapaian tujuan pendidikan. Secara sederhana pengelolaan dana mencakup tiga aspek, yaitu penerimaan atau sumber dana, pengeluaran atau aloaksi dana, dan pertanggungjawaban alokasi dana dalam bentuk pembukuan. Fuad (2014: 45) menjelaskan bahawa keberhasilan pengelolaan dana bermanfaat bagi: a) efisiensi penyelenggaraan pendidikan, b) menjamin kelangsungan hidup lembaga pendidikan, dan c) mencegah kebocoran.
2.3.1.9 Perencanaan dalam Standar Nasional Pendidikan
Apabila dikaitkan dengan Undang-Undang No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Pasal 2 ayat (1), maka yang masuk di dalam perencanaan program meliputi: standar isi, standar proses, standar kompetensi lulusan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, dan standar sarana dan prasarana. Di dalam Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Analisis Mutu Kursus Tahun 2013 dijelaskan rincian Standar Nasional Pendidikan beserta indikatornya yang meliputi:
2.3.1.9.1 Standar Isi, meliputi: 1) Memiliki dokumen program belajar, 2) Memiliki kurikulum, 3) Menetapkan beban belajar, dan 4) Memiliki kalender pendidikan dan jadwal pembelajaran.
2.3.1.9.2 Standar Proses, meliputi: 1) Memiliki dokumen rencana program pembelajaran (RPP), 2) Melaksanaan kegiatan pembelajaran, 3) Melaksanakan supervisi pembelajaran (perencanaan, pelaksanaan, penilaian), dan 4) Pelaporan dan tindak lanjut.
2.3.1.9.3 Standar Kompetensi Lulusan, meliputi: 1) Memiliki acuan standar minimal kelulusan, 2) Kompetensi standar minimal peserta didik, dan 3) Kesesuain kebutuhan mitra kerja.
2.3.1.9.4 Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan, meliputi: 1) Kesesuaian kualifikasi dan kompetensi pendidik, 2) Kesesuaian kualifikasi dan kompetensi tenaga kependidikan. Standar minimal jenis tenaga kependidikan, meliputi Standar rasio pendidik dan peserta didik dan Standar rasio tenaga kependidikan dan peserta didik.
2.3.1.9.5 Standar Sarana Prasarana, meliputi: 1) Rasio sarana dan peserta didik, 2) Standar minimal prasarana pendidikan, 3) Standar minimal media, dan 4) Rasio sumber belajar pendidikan dan peserta didik
Kelima Standar Nasional Pendidikan tersebut diharapkan dapat terpenuhi dengan baik dalam suatu penyelenggaraan program kursus sehingga dapat terbentuk lembaga yang bermutu dan dapat menghasilkan output dan outcome yang sesuai tujuan dari adanya pendidikan.