• Tidak ada hasil yang ditemukan

VI. ANALISIS DAN PEMBAHASAN

6.2. PERFOMA KOPERASI RAKSA JAYA PADURAKSA 1. Kepengurusan

Koperasi Raksa Jaya merupakan koperasi yang bergerak di bidang usaha spesifik yaitu dalam layanan usaha budidaya tebu. Koperasi ini telah mempunyai Badan Hukum, dengan Nomor : 90/BH/KOP.II.I/XI/99 TGL. 15-11-1999. Lokasi di Jalan Paduraksa – Kramat Pemalang.

Kepengurusan KPTR Raksa Jaya termasuk sangat sederhana dengan jumlah pengurus lima orang , terdiri dari satu orang ketua, sekretaris, bendahara dan dua orang pembantu, ditambah dua orang pengawas. Berdasarkan keterangan sekretaris koperasi raksa jaya, diketahui pendidikan pengurus terdiri dari lulusan SLTA tiga orang, lulusan SLTP 1 orang dan 1 orang lulusan SD.

Tabel 14 Jenjang Pendidikan Pengurus dan Badan Pengawas Koperasi Raksa Jaya Paduraksa Periode 2006 -2009

No Jabatan Pendidikan Pengurus 1 2 3 4 5 Ketua Sekretaris Bendahara Pembantu 1 Pembantu 2 SLTP SLTA SLTA SD SLTA Badan Pengawas 1 2 Ketua Anggota SD SLTA Sumber : Data Primer, diolah Nopember 2007

Dilihat dari tingkat lulusan kepengurusan tersebut, dapat dikatakan bahwa figur kepemimpinan dalam koperasi tersebut disamping pada kemampuan dalam mengelola organisasi yang mendasarkan pada kharisma, juga lebih didasarkan pada status sosial yang dimiliki dari pada tingkat pendidikan yang diperoleh dari bangku pendidikan. Hal ini dapat dilihat dari masa kepengurusan, sejak didirikan pada tahun 1999 sampai sekarang (tiga periode kepengurusan) ternyata jabatan ketua masih dijabat oleh orang yang sama. Ketua terpilih kebetulan merupakan tokoh dalam usaha tani tebu lahan kering dan status sosial secara ekonomi termasuk orang mampu. Padahal pemilihan ketua dilakukan secara langsung. Kondisi ini menunjukkan bahwa figur yang dipilih dipandang mampu dan jujur dalam menjalankan tugas kepengurusan, seperti komentar RS, salah seorang responden ketika ditanya tentang pengangkatan ketua koperasi :

“Ketua dipilih sampai tiga kali berturut-turut, karena selama ini jujur, tidak macem-macem. Tapi juga sebagai penghargaan karena jasa-jasa beliau terhadap kaum tani”

Tingkat kepercayaan ini juga berkaitan dengan pelayanan yang diberikan koperasi kepada anggota yang menyebabkan petani mau bergabung dalam koperasi. Koperasi mereka gunakan sebagai alat untuk membantu usaha yang mereka geluti. Dalam suatu kelembagaan pengurus merupakan operator bagi jalannya sebuah lembaga. Oleh karena itu diperlukan kreatifitas peran pengurus agar koperasi dapat selalu menjadi solusi bagi setiap permasalahan anggotanya. Peran kepengurusan untuk menciptakan nama baik koperasi akan berdampak pada tingkat kepercayaan masyarakat, yang ditandai dengan keikutsertaan mereka bergabung sebagai anggota koperasi secara sukarela. Anoraga (2002) menyatakan, keunggulan bersaing koperasi juga bisa diraih dari arsitektur koperasi. Arsitektur koperasi didasarkan pada prinsip identitas (identity

principles) yang menyatakan “ anggota sebagai pemilik dan sebagai pelanggan”.

Berdasarkan prinsip ini, orang akan masuk menjadi anggota koperasi sesuai dengan kepentingannya. Oleh karena itu secara ekonomis dapat dikatakan bahwa seseorang menjadi anggota dan berpartisipasi dengan koperasi apabila ia memperoleh keuntungan yang lebih besar dari pada dengan usaha sendiri, atau masyarakat yakin bahwa dengan menjadi anggota koperasi akan memperoleh kemudahan berkaitan dengan usaha yang dilakukan. Sehubungan peran pengurus sangat menentukan dalam koperasi, maka upaya peningkatan kualitas pengurus atau sumberdaya pengelola koperasi perlu ditingkatkan agar koperasi yang dikelola mampu memberikan pelayanan semakin baik kepada anggotanya.

6.2.2. Keanggotaan

Dilihat dari perkembangan jumlah keanggotaan koperasi, koperasi Raksa Jaya merupakan lembaga yang dibutuhkan petani tebu. Hal ini tercermin dari perkembangan penambahan jumlah anggota baru yang dari tahun ke tahun semakin meningkat. Perkembangan jumlah keanggotaan koperasi juga merupakan wujud kepercayaan petani terhadap koperasi. Tingkat kepercayaan masyarakat/petani tebu kepada koperasi Raksa Jaya dapat dilihat dari perkembangan keanggotaan petani tebu dalam koperasi sebagaimana Tabel 15.

Tabel 15 Perkembangan Jumlah Anggota KPTR Raksa Jaya Paduraksa

NO Jumlah Anggota TAHUN 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 1 Masuk 85 19 7 3 7 26 20 19 2 Keluar 16 2 - - - 3 Jumlah 69 86 93 96 103 129 149 168 Sumber : Koperasi Raksa Jaya Paduraksa, Nopember 2007

Dari tabel tersebut dapat dilihat, pada awal pendirian koperasi terjadi mutasi anggota cukup besar (18,9 %), tetapi pada tahun berikutnya terjadi peningkatan jumlah anggota secara signifikan. Menurut penjelasan bendahara koperasi, sebagai berikut :

“Mutasi keluar tahun-tahun pertama dimungkinkan karena manfaat berkoperasi belum dapat dirasakan secara langsung. Apalagi pada saat itu respon masyarakat terhadap koperasi sangat negatif. Dalam perkembangannya, koperasi dipandang cukup mampu memberikan pelayanan terhadap kebutuhan anggota walaupun tidak secara keseluruhan, sehingga dari tahun ke tahun tingkat kepercayaan semakin meningkat”.

Pernyataan tersebut cukup beralasan, melihat tingkat perkembangan dan bertahannya petani menjadi anggota koperasi. Hal ini mengindikasikan bahwa petani memperoleh manfaat dengan menjadi anggota koperasi. Dilihat dari sisi masyarakat, perkembangan penambahan jumlah petani yang menjadi anggota koperasi, dapat dijadikan sebagai indikator tingkat kebutuhan masyarakat terhadap koperasi sebagai alat penunjang dan pendukung kegiatan usaha tani yang dilakukan. Dari sisi koperasi, dapat dikatakan koperasi telah mampu memberikan pelayanan yang dibutuhkan oleh anggota, sehingga anggota menaruh kepercayaan kepada koperasi untuk tetap bergabung sebagai bagian dari koperasi.

6.2.3. Permodalan

Menurut Undang-undang Nomor 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian, permodalan koperasi dapat diperoleh melalui banyak sumber diantaranya melalui modal sendiri, modal pinjaman dan modal kemitraan. Usaha koperasi adalah usaha yang berkaitan langsung dengan kepentingan anggota untuk meningkatkan usaha dan kesejahteraan anggota. Berkaitan dengan luasnya sumber-sumber pendapatan yang dapat dijadikan sebagai modal usaha, koperasi Raksa Jaya memperoleh permodalan antara lain dari, simpanan pokok dan simpanan wajib, simpanan sukarela anggota dan lain-lain. Secara terperinci modal kerja koperasi dapat dilihat sebagaimana Tabel 16.

Tabel 16 Modal kerja Koperasi Raksa Jaya Paduraksa Tahun 2006

NO JENIS JUMLAH (Rp) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Simpanan Pokok Simpanan Wajib Simpanan Sukarela Titipan SHU Cadangan Modal Donasi Dana Revitalisasi Dana APBD II Dana Akselerasi Dana BUEP 8.350.000,00 28.907.000,00 17.779.640,00 42.670.460,00 62.631.220,00 2.500.000,00 49.000.000,00 945.000.000,00 1.238.000.000,00 54.000.000,00 JUMLAH 2.448.838.320,00

Sumber : Koperasi Raksa Jaya, Nopember 2007.

Dari Tabel 16 di atas, dapat dilihat modal koperasi sendiri sebesar Rp.162.838.320,- atau 6,35 % dari keseluruhan modal usaha yang dimiliki,

sedangkan sisanya sebesar Rp. 2.286.000.000,- (93,35 %) merupakan pemupukan modal dari luar yaitu berupa dana akselerasi dan dana penyertaan modal kemitraan. Artinya tanpa dukungan modal dari luar maka peran koperasi menjadi sangat kurang berarti dalam memberikan pelayanan kepada petani, atau apabila program bantuan dihentikan, maka modal untuk operasional sangat kecil untuk dapat memenuhi kebutuhan anggota dan petani tebu pada umumnya. Kondisi ini hampir menyerupai KUD pada masa lalu. Oleh karena itu masih diperlukan adanya perluasan usaha atau sumber pendapatan lain untuk memupuk modal kerja koperasi.

6.2.4. Pelayanan

Pelayanan koperasi dapat dilihat dari kegiatan usaha yang dilakukan koperasi Raksa Jaya antara lain meliputi; Simpan Pinjam, Pengadaan dan Penyaluran Pupuk, Penyaluran Dana APBD II dan Dana Akselerasi (APBN), serta Pembagian SHU Petani.

Dalam rangka membantu membangun potensi masyarakat tani tebu dan meningkatkan kesejahteraan anggotanya, Koperasi Raksa Jaya yang mempunyai aktifitas spesifik dalam kegiatan usaha tani tebu di samping memberikan pelayanan tersebut, juga membantu dalam pengadaan bibit, mengusahakan bantuan pinjaman biaya garap ke lembaga perbankan yang menyediakan alokasi dana untuk pembiayaan budidaya tebu, seperti Bank Agro, Bank Niaga dan Bank Bukopin.

Mengingat aktifitas budidaya tebu meliputi banyak kegiatan, maka lingkup pelayanan koperasi masih dapat dikembangkan lagi. Kegiatan tersebut antara lain seperti, tebang dan angkut tebu yang selama ini dilaksanakan oleh pabrik gula, pengadaan dan distribusi pupuk, dan sebagainya. Pengembangan pelayanan tersebut di samping untuk melayani anggota, sekaligus sebagai untuk mengembangkan peluang usaha bagi koperasi.

6.2.5. Pola Hubungan Kerja

Dalam melihat pola hubungan kerja koperasi, dipetakan menjadi tiga yaitu koperasi dengan petani, koperasi dengan pabrik gula dan koperasi dengan pihak lain sebagai berikut :

Dokumen terkait