IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Pergerakan Siklikal Variabel Krisis
4.1.3. Pergerakan Siklikal Index of Speculative Pressures ( ISP ) 56
ISP merupakan indeks yang menggambarkan kondisi nilai tukar yang tercermin dari tekanan spekuatif, dimana nilai tukar tidak akan terdepresiasi apabila suku bunga dan cadangan devisa secara bersama-sama digunakan untuk mengatasi perubahan nilai tukar tersebut. Nilai ISP yang besar menunjukan tingginya tingkat tekanan spekulatif dan semakin kecil nilai ISP maka nilai tukar berada pada kondisi yang menguat. Fase pergerakan siklikal ditentukan berdasarkan metode Bry-Boschan routine untuk menentukan titik balik. sehingga periode tersebut dikelompokkan kedalam periode dimana fase pergerakannya ekspansi atau kontraksi.
Tabel 4.1. Karakteristik Titk Balik ISP
Fase/Siklus Lembah Puncak Lembah Durasi Ekspansi Kontraksi Siklus 1 Desember 1996 Desember 1996 Juni 1998 Juni 1998 Februari 1999 Februari 1999 18 bulan 8 bulan 26 bulan Ekspansi Kontraksi Siklus 2 Februari 1999 Februari 1999 Juli 2000 Juli 2000 September 2003 September 2003 17 bulan 38 bulan 55 bulan Ekspansi September 2003 Juni 2004 9 bulan
Masa ekspansi pada penelitian ini menunjukan laju pergerakan ISP yang semakin meningkat yang berarti tekanan spekulatif terhadap nilai tukar semakin tinggi. Masa kontraksi menunjukkan penurunan ketegangan terhadap nilai tukar dan kondisi nilai tukar semakin membaik. Selama periode yang diteliti yaitu dari 1995 sampai 2005, ISP memiliki dua siklus dengan masing-masing durasinya yaitu 26 bulan dan 55 bulan. Titik balik yang dapat diperoleh berjumlah 6 titik balik, yang terdiri dari tiga titik lembah dan tiga titik puncak.
Masa ekspansi pertama terjadi pada L1-P1 (Desember 1996-Juni 1998), yang diawali oleh besarnya pembiayaan pembangunan yang berasal dari utang luar negeri. Negara yang mengakumulasi utang luar negeri dalam jumlah besar bukannya semakin maju sesuai dengan cita-cita awal pembangunannya malah terperosok dalam belitan ekonomi yang tidak berkesudahan, dan akhirnya mengalami situasi debt trap, dimana jumlah utang luar negeri yang baru diperoleh lebih kecil dibandingkan dengan jumlah pembayaran cicilan pokok dan bunga utangnya. Bahkan untuk Indonesia situasi debt trap sudah dialami sejak tahun 1987 (Yustika,2002).
Secara mendadak adanya tekanan spekulatif yang bermula dari kebijakan pemerintah Thailand di bulan Juli 1997 untuk mengambangkan bath terhadap USD yang sebelumnya bath dan USD dikaitkan satu sama lain dengan kurs tetap
menimbulakan tekanan pada kawasan Asia lainnya. Indonesia pada awalnya bertahan namun akhirnya rupiah terdevaluasi pada bulan Agustus 1997. yang memiliki implikasi yang sangat serius terhadap beban utang luar negeri, mengingat Indonesia memiliki utang yang sangat besar yaitu mencapai 150.887 miliar USD dan utang tersebut persentasenya mencapai 169 persen dari PDB tahun 1998. Akibatnya banyak perusahaan yang tutup karena tidak mampu membayar utang sehingga menimbulkan pengangguran. Selain itu, akibat perusahaan berhenti berproduksi, stok barang menjadi langka sehingga mengakibatkan inflasi. Inflasi Indonesia pada waktu itu mencapai angka 75 persen sehingga mengikis daya beli masyarakat karena harga pangan meningkat dua kali lipat mengakibatkan jumlah orang miskin menjadi 118.5 juta jiwa atau 60.6 persen jumlah penduduk.
Selanjutnya terjadi kontraksi pada P1-L2 (Juni 1998-Februari 1999), yang diakibatkan oleh adanya bantuan yang diberikan oleh IMF dan perbaikan situasi politik yang mulai memasuki era reformasi setelah kerusuhan bulan Mei 1998 yang membuka jalan bagi pengunduran diri Presiden Soeharto. Ketika memasuki era reformasi perekonomian Indonesia sudah diambang kebangkrutan, dengan menggantungkan perekonomian terhadap IMF, tanggal 25 Agustus 1998 disetujui suatu Extended Fund Facility (EFF) yang dapat dicairkan sebesar 4.93 miliar USD. Cairnya pinjaman IMF tersebut memberikan sentiment positif bagi para pelaku pasar diantaranya dengan adanya penguatan nilai tukar rupiah hingga mencapai Rp.7300/USD pada bulan Oktober 1998, peningkatan volume transaksi dipasar valas selama empat bulan berturut-turut (Oktober-1998-Januari-1999),
tingkat suku bunga juga merosot ke tingkat dibawah 20 persen dan perkembangan inflasi yang lebih baik.
Fase kontraksi yang hanya berdurasi sembilan bulan, mengindikasikan perbaikan indikator-indikator tersebut masih bersifat sangat semu dan belum menunjukan titik balik pemulihan ekonomi yang rill. Deflasi yang berlangsung selama tujuh bulan berturut-turut tersebut karena pemerintah terlalu antusias menahan inflasi dengan cara membanjiri pasar dengan barang-barang yang dikuasai oleh Bulog untuk tujuan yang bersifat politis menyongsong pemilihan presiden pada Sidang Umum MPR Oktober 1999, sementara itu penurunan tingkat suku bunga yang cukup signifikan tidak akan banyak berarti kalau sektor perbankan belum mengucurkan kredit ke dunia usaha (Basri, 2002).
Awal bulan Maret 1999, rupiah kembali terdepresiasi akibat penundaan pembekuan beberapa bank dan beberapa mata uang regional terutama bath yang kembali melemah mengantarkan ISP kedalam fase pergerakan yang ekspansif dimana tekanan spekulatif memiliki kecenderungan untuk terus meningkat untuk durasi 17 bulan dari L2-P2 (Februari 1999-Juli 2000). Pada situasi ini pertimbangan ekonomi dan politik saling terkait, tidak terpisahkan satu dengan yang lainnya. Perilaku pengambil keputusan dalam politik yang tidak disertai sikap kehati-hatian akan membuat perekonomian terperosok kejurang yang lebih dalam mengingat pemulihan ekonomi yang berarti belum cukup meyakinkan dan situasi politik yang mulai memanas menjelang Pemilihan Umum (Pemilu).
Salah satu permasalahan utama yang memperlambat gerak maju perekonomian Indonesia adalah merosotnya kepercayaan terhadap pemerintah.
Persoalan kepercayaan ditentukan oleh tiga hal legitimasi, kredibilitas dan kejelasan serta ketajaman visi pemerintah. Dengan terpilihnya kepemimpinan nasional demokratis pertama ketiga hal tersebut dapat diperjuangkan karena legitimasi telah terpenuhi dengan terpilihnya presiden dari partai yang mendapat dukungan mayoritas. Namun perbaikan kepercayan yang merupakan modal untuk memulihkan perekonomian menjadi terkorbankan ketika politik menjadi panglima, permasalahan ekonomi tersisihkan dari kemelut politik yang ada. Sejak tahun pertama terbentuknya pemerintahan tersebut, habis hanya untuk pergulatan politik, yang justru membuat masyarakat bertanya-tanya tentang makna demokratis itu sendiri (Basri, 2002).
Resiko terjadinya krisis nilai tukar kembali menurun pada periode Juli 2000 sampai dengan September 2003, yang merupakan fase pergerakan kontraktif dari L2-P3. Proses pemulihan ekonomi berangsur-angsur membaik dan secara perlahan aktivitas politik dengan aktivitas sektor rill mulai berjalan terpisah dan tidak saling mempengaruhi. Fase terakhir pada periode 1995-2005 adalah fase ekspansif dari P3-L3 (September 2003-Juni 2004) dimana tekanan spekulatif terhadap nilai tukar kembali meningkat menjelang Pemilu 2004 dan meningkatnya harga minyak dunia.
4.1.4. Pergerakan Siklikal Index of Banking Crisis (IBC)
Selama periode 1995-2005 diperoleh dua siklus yang menggambarkan kondisi perbankan dengan siklus pertama berdurasi 31 bulan dan siklus kedua selama 49 bulan. Masa ekspansi berjumlah tiga periode sedangkan masa kontraksi
dua periode, dengan jumlah titik balik yang diperoleh berdasarkan Bry-Boschan
routine adalah enam titik balik. Fase ekspansi menggambarkan kondisi perbankan menuju titik puncak yang menggambarkan tingkat kesehatan perbankan semakin memburuk dengan resiko terjadinya krisis yang semakin meningkat. Fase pertama yaitu ekspansi dari L1-P1 (Desember 1996-Juni 1998), kondisi perbankan yang cenderung menuju kerentanan dengan IBC yang semakin tinggi disebabkan oleh banyaknya kredit macet yang dialami bank-bank nasional.
Tabel 4.2. Karakteristik Titk Balik IBC
Fase/Siklus Lembah Puncak Lembah Durasi Ekspansi Kontraksi Siklus 1 Desember 1996 Desember 1996 Juni 1998 Juni 1998 Juli 1999 Juli 1999 18 bulan 13 bulan 31 bulan Ekspansi Kontraksi Siklus 2 Juli 1999 Juli 1999 Maret 2001 Maret 2001 Agustus 2003 Agustus 2003 20 bulan 29 bulan 49 bulan Ekspansi Agustus 2003 Mei 2005 21 bulan
Jika ditelusuri akar permasalahannya kredit macet meningkat karena adanya Pakto 1998 yang memudahkan berdirinya bank-bank baru yang umumnya didirikan oleh siapa saja yang memiliki banyak uang sehingga bank didirikan untuk kepentingan mereka sendiri. Banyaknya bank-bank baru yang didirikan akan meningkatkan persaingan untuk mendapatkan nasabah, mulanya bank-bank akan bersaing dalam tingkat bunga kemudian muncul persaingan nonbunga, dimana hanya bank-bank besar yang mampu menanggung biaya yang akan menang dan mengakibatkan bank-bank kecil berguguran. Bank-bank besar akan mendominasi mobilisasi dana dari masyarakat dan sebagian besar pemilik bank-bank tersebut adalah kelompok-kelompok usaha (konglomerat).
Bagaimanapun, pembatasan penyaluran kredit dan kecenderungan untuk mengalokasikan pinjaman hanya kepada anggota kelompoknya sendiri akan
semakin besar, maka penguasaan aset ekonomi nasional akan terpusat pada kelompok-kelompok usaha ini, akibatnya penyaluran kredit untuk sektor-sektor yang produktif dan kompetitif semakin terbatas. Selain itu, persaingan yang keras antar bank tersebut membuat bank-bank menjadi berani untuk membiayai usaha yang beresiko tinggi dan berjumlah besar seperti sektor properti. Besarnya pemberian kredit kepada kelompok usaha yag terkait dengan bank telah mendorong tingginya resiko kredit macet. Situasi ini diperburuk dengan rendahnya kualitas pengelola, manajemen dan pemilik bank-bank yang tidak mengerti manfaat bank dengan baik sehingga pengelolaan bank menjadi tidak maksimal dan menimbulkan banyak penyimpangan.
Penyaluran kredit yang terlalu ekspansif dan beresiko tinggi juga dipicu oleh pemasukan dana luar negeri jangka pendek yang sangat rentan terhadap gejolak perekonomian, hal ini diakibatkan adanya perbedaan suku bunga dalam negeri dan luar negeri yang cukup besar sehingga meningkatkan kredit luar negeri yang kemudian disalurkan oleh bank-bank nasional kepada sektor usaha beresiko tinggi tersebut. Akibatnya ketika terjadi depresiasi nilai tukar rupiah, bank-bank tidak dapat membayar kewajibannya tersebut.
Pemerintah meredam guncangan perekonomian dengan berusaha menahan pertumbuhan kredit perbankan melalui penghentian penyaluran dana kepada bank-bank. Akibatnya bank-bank meningkatkan suku bunga depositonya untuk menambah aliran dana dan meningkatkan suku bunga kredit untuk melindungi modal bank karena situasi perekonomian yang melemah akan meningkatkan resiko usaha tinggi pada para nasabah. Akhirnya, sektor dunia usaha mengalami
kesulitan likuiditas dalam mendapatkan pinjaman baru dan tidak dapat mengembalikan kredit yang terdahulu sehingga sektor perbankan pun mengalami kesulitan likuiditas.
Kesulitan likuiditas mengakibatkan kredit macet semakin meningkat hingga menjadi lebih dari 20 persen dan aset yang dikuasai bank nilainya mulai menurun. Hal ini paling parah dialami oleh bank-bank yang banyak menyalurkan kreditnya ke sektor properti (Sugema et.al. 2005). Menurunya kualitas aset yang dimiliki perbankan membuat sistem kepercayaan masyarakat melemah, masyarakat mulai menarik simpanannya dari bank yang kemudian mengantarkan Indonesia ke puncak krisis perbankan.
Selanjutnya memasuki fase kontraksi dari P1-L2 (Juni 1998-Juli 1999), kondisi perbankan mulai menunjukan perbaikan akibat upaya penyehatan perbankan. Pemerintah mengambil alih kepemilikan bank dan menutup bank-bank yang tidak sehat. Kebutuhan modal baru untuk menyehatkan perbankan diperkirakan mencapai Rp.257.5 triliun dan 80 persen dari jumlah tersebut harus disediakan pemerintah. Pada bulan Desember 1998, modal industri perbankan telah mencapai defisit Rp.80 triliun sampai Rp 90 triliun (Sugema et.al. 2005). Kemudian dimulai siklus yang kedua dengan fase ekspansi dari L2-P2 (Juli 1999-Maret 2001) dan berdurasi selama 20 bulan. Meskipun ada kecenderungan IBC yang semakin meningkat, namun fase ekspansi ini lebih mendatar dibandingkan fase ekspansi sebelumnya seperti terlihat pada gambar, hal ini menandakan fluktuasi pada sektor perbankan tidak terlalu besar.
Setelah itu kembali memasuki fase kontraksi dari P2-L3 (Maret 2001-Agustus 2003) dimana perbankan sudah mulai stabil karena restrukturisasi perbankan terus dilakukan sebagai upaya untuk mengembalikan tingkat kepercayaan masyarakat dan sektor rill mendukung upaya proses pemulihan tersebut. Kinerja keuangan perbankan mengalami perbaikan signifikan, sisi kualitas aset semakin membaik yang terlihat pada kenaikan kecukupan modal perbankan secara bertahap hingga berada di atas 20 persen, dan ada kecenderungan penurunan kredit macet dari periode ke periode.
Meskipun telah terjadi peningkatan kinerja perbankan, kepercayaan yang mulai dibangun masyarakat masih menyisakan keraguan, kondisi tersebut akan sangat rentan terhadap adanya gejolak yang mungkin terjadi dan dapat dengan mudah menghancurkan kembali kepercayaan masyarakat tersebut. Fase terakhir yaitu ekspansi dari L3-P3 (Agustus 2003-Mei 2005) yang diakibatkan oleh menurunnya tingkat kepercayaan masyarakat tersebut. Ledakan kasus pembobolan Bank Negara Indonesia lewat Letter of Credit (L/C) fiktif dan Bank Rakyat Indonesia lewat kredit yang diduga diaguni dari deposito fiktif membuat masyarakat ragu menyongsong masa depan perbankan nasional, dimana kasus kejahatan perbankan itu akan membajak program pemulihan perbankan (Supriyanto, 2003). Masih belum lancarnya proses intermediasi perbankan untuk menyalurkan kredit kepada sektor usaha terlihat dari rendahnya LDR meskipun CAR-nya tinggi.