• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN TEORI

E. Satuan-Satuan Sintaksis

1. Satuan Sintaksis bahasa Indonesia

Menurut Kridalaksana (2001: 98) kata adalah “morfem atau kombinasi morfem yang oleh bahasawan dianggap sebagai satuan terkecil yang dapat diujarkan sebagai bentuk yang bebas”. Kata dibedakan menjadi dua jenis besar, yaitu partikel dan kata penuh.

Kushartanti (2005: 130) menjelaskan bahwa partikel adalah kata yang jumlahnya terbatas, biasanya tidak mengalami proses morfologis, bermakna gramatikal, dan dikuasai dengan cara menghafal. Di dalam bahasa Indonesia, partikel yang kita kenal misalnyayang, dari, ke, di,danpada.

Lebih lanjut Kushartanti menjelaskan bahwa kata penuh mempunyai ciri yang berlawanan dengan partikel, yang terutama adalah maknanya bersifat leksikal. Kata penuh masih dibedakan menjadi nomina (kata benda), verba (kata kerja), adjektiva (kata sifat), adverbial (kata keterangan), preposisi (kata depan), konjungsi (kata sambung), dan sebagainya.

b. Frasa

Kridalaksana (2001: 59) menyatakan bahwa frasa adalah “gabungan dua kata atau lebih yang sifatnya tidak predikatif”. Tidak predikatif di sini maksudnya adalah bukan sebagai predikat. Sebagai contoh : Gunung tinggi. Konstruksi

tersebut merupakan frasa karena konstruksi tersebut merupakan konstruksi non-predikatif. Tinggi pada konstruksi tersebut bukan berfungsi sebagai predikat, melainkan merupakan adjektiva yang berfungsi sebagai pewatas yang menerangkan nomina di depannya (gunung).

Frasa dapat digolongkan menjadi dua, yaitu frasa eksosentrik dan frasa endosentrik.

1) Frasa endosentrik.

Alwi (2010: 45) menjelaskan bahwa frasa endosentrik adalah frasa yang salah satu konstituennya dapat dianggap yang paling penting. Konstituen itu, yang disebut inti, dapat mewakili seluruh konstruksi endosentrik dan menentukan perilaku sintaktik dan/atau semantik frasa itu di dalam kalimat. Sebagai contoh : Tiga mobil Jepang. Inti dari frasa tersebut adalah “mobil” yang mewakili seluruh frasa tersebut. Kata “tiga” dan “Jepang” pada frasa tersebut berfungsi sebagai pewatas.

Pada frasa endosentrik dikenal pula frasa endosentrik koordinatif, yakni frasa yang terdiri dari dua inti yang digabungkan dengan memakai kata penghubung “dan” atau “atau” (Alwi, dkk: 2010: 167). Contoh : Kami pergi atau menunggu dulu ? Frasa tersebut memiliki dua inti, yaitu “pergi” dan “menunggu” yang digabungkan dengan memakai kata penghubung “atau”.

2) Frasa eksosentrik.

Menurut Alwi (2010: 46) frasa eksosentrik adalah frasa yang tidak mempunyai konstituen inti karena tidak ada konstituen yang mewakili seluruh

konstruksi itu. Sebagai contoh frasa verbalmenjadi marahdan frasa preposisional di kantor.

c. Klausa

Menurut Kridalaksana (2001: 110) klausa adalah “satuan gramatikal berupa kelompok kata yang sekurang-kurangnya terdiri dari subjek dan predikat, dan mempunyai potensi untuk menjadi kalimat”.

Klausa pada dasarnya tidak jauh berbeda dari kalimat. Alwi (2010: 39) menjelaskan bahwa istilah klausa dipakai untuk merujuk pada deretan kata yang paling tidak memiliki subjek dan predikat, tetapi belum memiliki intonasi atau tanda baca tertentu. Istilah kalimat juga mengandung unsur paling tidak subjek dan predikat, tetapi telah dibubuhi intonasi atau tanda baca.

Dengan kata lain, apabila terdapat sederetan kata tanpa intonasi atau tanda baca tertentu, maka deretan kata tersebut adalah klausa. Namun apabila pada deretan kata tersebut diberi intonasi dan tanda baca, maka deretan kata tersebut adalah kalimat.

Kushartanti (2005: 131) menjelaskan bahwa klausa dapat digolongkan menjadi dua berdasarkan distribusi satuannya, yaitu :

1) klausa bebas, yaitu klausa yang dapat bersendiri menjadi kalimat.

2) klausa terikat, yaitu klausa yang tidak dapat bersendiri sebagai kalimat. Dalam hal ini kita dapat menandai keberadaannya dengan konjungsi tertentu, seperti bahwa atau sehingga. Sebagai contoh : Kami datang sebelum pertunjukan dimulai.Kalimat tersebut terbentuk dari satu klausa bebas dan satu klausa terikat. Klausa bebas dalam kalimat di atas adalah kami datang. Pertunjukan dimulai

dalam kalimat di atas merupakan klausa terikat, yang ditandai dengan pemakaian konjungsisebelum.

d. Kalimat

Menurut Kushartanti (2005: 132-133), kalimat dapat dikategorikan berdasarkan lima kriteria, yaitu berdasarkan (1) jumlah dan macam klausa, (2) struktur intern klausa, (3) jenis tanggapan yang diharapkan, (4) sifat hubungan pelaku dan perbuatan, dan (5) ada atau tidaknya unsur ingkar di dalam predikat utama. Berikut adalah pengkategorian kalimat menurut Kushartanti.

Berdasarkan jumlah dan macam klausanya, kalimat dibagi menjadi empat macam, yakni sebagai berikut :

1) kalimat sederhana atau kalimat tunggal, yaitu kalimat yang terdiri dari satu klausa bebas. Contoh :Mereka menikah kemarin.

2) kalimat bersusun, yaitu kalimat yang terdiri dari satu klausa bebas dan sekurang-kurangnya satu klausa terikat. Contoh : Mereka sadar bahwa berita itu tidak benar. Kata “bahwa”pada kalimat tersebut menandai adanya klausa terikat di dalam kalimat di atas, yaitubahwa berita itu tidak benar.

3) kalimat majemuk atau kalimat setara, yaitu kalimat yang terdiri atas lebih dari satu klausa bebas. Kalimat ini biasanya ditandai dengan konjungsi sedangkan, dan, atau, dan tetapi. Contoh : Kami masuk kelompok pertama, sedangkan mereka masuk kelompok kedua.

4) kalimat majemuk bersusun, yaitu kalimat yang terdiri atas gabungan kalimat majemuk dan kalimat bersusun, atau sebaliknya. Contoh : Mereka sadar bahwa berita itu tidak benar, tetapi mereka sudah tidak mau peduli lagi.

Berdasarkan struktur intern klausa utamanya, kalimat dibagi menjadi dua macam, yakni sebagai berikut.

1) kalimat lengkap, yaitu kalimat yang mempunyai unsur-unsur pengisi fungsi gramatikal yang lengkap, terutama subjek dan predikat. Contoh : Dia makan. Pada kalimat tersebut, “dia” memiliki fungsi sebagai subjek dan “makan” memiliki fungsi sebagai predikat.

2) kalimat tak lengkap, kalimat penggalan, atau kalimat minor, yaitu kalimat yang salah satu unsur pengisi fungsi gramatikalnya tidak ada. Contoh : Baik! Kalimat tersebut merupakan kalimat tak lengkap karena merupakan jawaban singkat.

Berdasarkan jenis tanggapan yang diharapkan, kalimat dapat digolongkan menjadi:

1) kalimat pernyataan, yaitu kalimat yang mengharapkan tanggapan berupa perhatian. Contoh :Alfi sedang menuju kemari.

2) kalimat pertanyaan, yaitu kalimat yang mengharapkan tanggapan berupa jawaban berbentuk ujaran. Contoh :Mengapa dia terlambat?

3) Kalimat perintah, yaitu kalimat yang mengharapkan tanggapan berupa perbuatan. Contoh :Ayo kita berangkat!

Berdasarkan sifat hubungan antara pelaku dan perbuatan, kalimat dapat digolongkan menjadi empat, yakni sebagai berikut.

1) Kalimat aktif, yaitu kalimat yang memperlihatkan subjek sebagai pelaku. Contoh : Adik menendang anjing itu. Pada kalimat tersebut, adik adalah pelaku perbuatanmenendang.

2) Kalimat pasif, yaitu kalimat yang memperlihatkan subjek sebagai tujuan atau sasaran perbuatan. Contoh : Anjing itu ditendang adikku. Pada kalimat tersebut,anjingitu menjadi sasaran perbuatan.

3) Kalimat tengah, yaitu kalimat yang subjeknya merupakan pelaku dan tujuan. Contoh :Dia sedang bercukur.

4) Kalimat netral, yaitu kalimat yang tidak berstruktur pelaku-perbuatan. Contoh :Aming pelawak.

Berdasarkan ada tidaknya unsur ingkar atau unsur negatif di dalam predikatnya, kalimat dapat digolongkan menjadi dua, yaitu sebagai berikut.

1) Kalimat positif atau kalimat afirmatif, yaitu kalimat yang tidak mengandung unsur negatiftidakataubukan.

2) Kalimat negatif atau kalimat ingkar, yaitu kalimat yang mengandung unsur negatif.

2. Satuan sintaksis bahasa Prancis

Dokumen terkait