• Tidak ada hasil yang ditemukan

5 SISTEM PENDUKUNG DAN REGULASI WAKAF

5.11 Perguruan Tinggi

Perhaian berbagai lembaga pendidikan terhadap wakaf di berbagai perguruan inggi formal di Indonesia masih lebih diiikberatkan pada aspek ikih wakaf, yakni manfaat wakaf sebagai suatu ibadah, dan masih sangat kurang menyentuh manfaatnya pada aspek-aspek ekonomi wakaf (Samdin, 2002). Indonesia dalam hal ini masih teringgal dengan negara-negara pengelola wakaf lainnya, seperi Kuwait, Bangladesh, dan negara tetangga Malaysia. Aspek kajian wakaf sudah berkembang pada tahap pemberdayaan masyarakat dan sosial ekonomi. Bahkan, di negara nonmuslim seperi Amerika Serikat dan Inggris, berbagai fasilitas pendidikan, perumahan, kesehatan berjalan atas kontribusi wakaf. Produk-produk semisal tentunya idak lepas dari peran lembaga pendidikan wakaf.

Melihat berbagai kondisi di atas diperlukan akselerasi pemahaman lebih dalam terhadap pengetahuan yang berkaitan dengan dunia perwakafan. Baik itu dari segi ikih wakaf agar menghasilkan ikih yang mampu mendukung keseluruhan program-program wakaf sesuai dengan situasi dan kondisi dunia saat ini, sehingga ikih benar-benar menjadi bagian hukum yang lebih mempermudah proses pelaksanaan dan pengelolaan wakaf, dan bukan sebaliknya. Begitupun

sosialisasi tentang pemahaman wakif kepada seluruh kalangan, bahwa wakaf

idak hanya terbatas pada tempat ibadah semata. Untuk itu, peran perguruan inggi dan lembaga pendidikan lainnya sangatlah pening. Menjadi agent of change dalam membumikan pengetahuan wakaf di tengah-tengah masyarakat

Indonesia dengan melakukan terobosan-terobosan keilmuan baru yang lebih menarik, tetapi tetap berbasis pada doktrin agama yang menjadi landasan ibadah wakaf. Hasilnya, seorang wakif tetap merasa tenang dan nyaman

keika pelbagai bentuk harta yang dikeluarkannya disalurkan dalam bentuk penerimaan yang ”baru”. Misalnya, dalam bentuk pendidikan, pemberdayaan masyarakat, teknologi, transportasi, sarana prasarana kegiatan umum, bahkan kegiatan-kegiatan bisnis berbasis proit. Dengan demikian, seorang pewakif

merasa bahwa penyaluran wakafnya melalui jalur-jalur tersebut sama nilainya dengan penyaluran yang konvensional dan tradisional, seperi kita kenal selama ini.

Bentuk-bentuk edukasi wakaf yang bisa dilakukan di antaranya adalah melalui berbagai forum ilmiah, lembaga dakwah, brosur, lealet, poster, lyer, media cetak, elektroik, internet, seminar, pelaihan, lomba, fesival dan masih banyak ragam lainnya. Lebih lanjut, mengkomunikasikan program-program pengelolaan wakaf yang lebih inovaif, serta memberikan kemanfaatan lebih besar kepada dhuafa benar-benar harus dikemas secara menarik dan modern agar mudah dipahami dan dimengeri oleh seluruh lapisan masyarkat. Dari sisi insitusi pengelola wakaf, keberadaan Badan Wakaf Indonesia (BWI) dan berbagai Lembaga Wakaf nonpemerintah bisa bersinergi dalam pendidikan dan pelaihan tentang wakaf. Ditambah dengan berbagai insitusi pendidikan perguruan inggi maupun dari lembaga pendidikan atau pelaihan wakaf profesional, yang memiliki kurikulum terstruktur dan berjenjang berorientasi pada peningkatan pengetahuan dan keilmuan tentang wakaf, serta penyelenggaraan kursus, workshop, dan pelaihan berbagai aspek tentang wakaf. Gambaran tersebut secara singkat dapat dilihat dalam gambar berikut ini.

BAB 5 - Sistem Pendukung Dan Regulasi Wakaf

178 WAKAF : Pengaturan dan Tata Kelola yang Efekif

Gambar 5.2. Sistem Pendidikan Wakaf

Peran lainnya dari lembaga dan insitusi pendidikan yang bergerak khusus dalam pengembangan keilmuan wakaf adalah menjadi lembaga konsultasi pemberdayaan dan manajemen bagi organisasi wakaf. Sangat dimungkinkan juga menjadi lembaga yang bergerak dalam mulibidang, seperi pelaihan, konsultasi dan pendampingan, riset dan bahkan advokasi (IMZ, 1999). Akivitas pendidikan yang bisa dilakukan dalam meningkatkan keilmuan dan pengetahuan tentang wakaf bisa disampaikan dengan cara formal atau nonformal, seperi proses belajar mengajar yang dilakuan secara formal di kelas. Menggunakan kurikulum dan ditentukan targetan-targetan materi yang dicapai, dengan tes kemampuan diakhir masa pendidikan, dan memperoleh pernyataan kemampuan dalam bentuk seriikat atau lainnya. Bisa juga melalui berbagai program pelaihan berjangka oleh lembaga tertentu yang ditunjuk sebagai fasilitator dalam penguatan kapasitas SDM organisasi wakaf yang diselenggarakan secara komprehensif dan integraif. Target utamanya adalah para prakisi, pemerhai dan akademisi yang bergelut dalam dunia wakaf dan memiliki minat kuat untuk mengetahui dan memahami segala aspek manajemen organisasi nonproit dan prinsip-prinsip pemberdayaan. Model lainnya bisa dikemas dalam kegiatan seperi Public Training, Execuive Training dan Short Course yang mencakup materi-materi temais serta skill up seputar manajemen, seperi manajemen pengumpulan dana, manajemen

pemberdayaan masyarakat, manajemen sumber daya manusia, manajemen keuangan organisasi nirlaba, dan manajemen organisasi secara umum. Ditambah dengan tema pelaihan manajemen yang disesuaikan dengan perkembangan dan isu terbaru wakaf di era kekinian.

Selain itu, menjadi lembaga konsultasi dan pendampingan secara idak langsung telah memberikan edukasi kepada mitra sekaligus masyarakat secara bersamaan. Hal yang sama juga dilakukan melalui riset dan peneliian, penerbitan jurnal dan buku, pemrograman digital wakaf yang menyajikan informasi wakaf dari berbagai aspek, serta pusat data wakaf dalam bentuk sebuah perpustakaan atau pusat kajian yang dapat diakses siapapun yang memiliki minat untuk mengkaji dan mendalami perihal wakaf.

Wakaf Training Centre

Wakif Maukuf Alaihi Ulama

Perguruan Tinggi

Pesantren

Calon Nazhir In-house

Training Pendidikan mandiri (CD, buku, web) Nazhir Profesional Riset & Pengembangan

Seiap negara dengan jumlah populasi muslim yang besar akan terlibat dengan pengelolaan wakaf. Hal ini mengingat bahwa wakaf merupakan ajaran Islam yang menjadi salah satu sumber penyediaan kebutuhan umat terkait ajaran agamanya. Pengaturan wakaf juga menjadi pening mengingat keberadaan aset wakaf yang berkaitan dengan kepeningan umum yang juga menjadi tanggung jawab pemerintah. Adanya kerangka hukum wakaf diharapkan dapat memberikan kepasian hukum dari prakik serta mengarahkan prakik perwakafan menjadi lebih baik dan mengakomodasi kepeningan umat Islam. Berikut ini adalah beberapa proil kerangka hukum perwakafan di negara- negara berpopulasi muslim.

6.1. Indonesia

a. Masa kerajaan Islam atau Pra Kolonial

Direktorat Pemberdayaan Wakaf (2006:14) menyatakan, bahwa sejak masa dahulu prakik wakaf ini telah diatur oleh hukum adat yang sifatnya idak tertulis dengan berlandaskan ajaran yang bersumber dari nilai-nilai ajaran Islam. Ali (2012: 94) mengemukakan bahwa para ulama Indonesia, kendaipun bermazhab Syai’i, namun dalam memahami wakaf dapat juga menerima paham mazhab lain serta pengaruh dari masyarakat setempat. Karena itu, dapat disimpulkan bahwa sebelum masa kolonial, perwakafan di Indonesia diatur oleh syariah Islam dan bersifat lintas mazhab ikih yang juga dipengaruhi oleh hukum adat.

b. Masa Kolonial Belanda

1) Surat Edaran sekretaris Governemen pertama tanggal 31 Januari 1905, No. 435, sebagaimana termuat di dalam Bijblad 1905 No. 6196, tentang

Toezicht op den bouw van Muhammadaansche bedehuizen. Surat edaran

berisi ketentuan bahwa:

BAB 6

KERANGKA HUKUM WAKAF

DI BEBERAPA NEGARA