• Tidak ada hasil yang ditemukan

F. Manfaat Penelitian

10. Perhitungan Harga Jual

Mulyadi (2001: 352-355) menjelaskan bahwa perhitungan harga jual produk atau jasa merupakan salah satu keputusan manajemen. Hidup dan matinya suatu perusahaan bergantung pada pricing agar perusahaan tersebut dapat bertahan. Perhitungan harga jual dibedakan menjadi dua metode yaitu:

a. Metode cost plus pricing berdasarkan full costing. Langkah-langkah perhitungan sebagai berikut

Tabel 1. Metode Cost Plus Pricing Berdasarkan Full Costing

Biaya Produksi XX

Markup (% x biaya produksi) XX +

Jumlah harga jual XX

Volume produk XX :

b. Metode cost plus pricing berdasarkan variable costing. Langkah-langkah perhitungannya, sebagai berikut:

Tabel 2. Metode Cost Plus Pricing Berdasarkan Variable costing

Biaya Variabel XX

Markup (% x biaya variabel) XX +

Jumlah harga jual XX

Volume produk XX :

Harga jual per unit XX

11. Biaya

a) Pengertian Biaya

Biaya dapat diartikan sebagai pengorbanan sumber daya ekonomi, untuk memperoleh sumber daya ekonomi biaya juga dapat memberikan manfaat baik waktu sekarang dan masa yang akan datang. Berikut ini pengertian biaya yang diambil dari beberapa pendapat para ahli antara lain sebagai berikut:

Menurut Charles T. Horngren, Srikant M. Datar& George Foster (2008: 31) Biaya adalah sebagai sumber daya yang dikorbankan (sacrificed) atau dilepaskan (forgone) untuk mencapai tujuan tertentu. Sedangkan Mulyadi (2009:8) menjelaskan bahwa biaya adalah pengorbanan sumber ekonomi, yang diukur dalam satuan uang, yang telah terjadi atau yang kemungkinan akan terjadi untuk tujuan tertentu. Menurut Firdaus Ahmad Dunia & Wasilah Abdullah, (2009: 22) Biaya (cost) adalah pengeluaran-pengeluaran atau nilai

pengorbanan untuk memperoleh barang atau jasa yang berguna untuk masa yang akan datang atau mempunyai manfaat melebihi satu periode akuntansi tahunan. Biaya adalah nilaimoneter barang dan jasa yang dikeluarkan untuk mendapatkan manfaat sekarang atau masa depan (Anthony A. Tkinson, Robert S. Kamplan, Ella Mae Matsumura & S. Mark Young, 2009: 33). Dari pengertian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa yang dimaksud biaya adalah suatu nilai tukar atau pengorbanan yang dilakukan guna memperoleh suatu manfaat.

b) Penggolongan Biaya

Menurut Mulyadi (2009: 13) biaya digolongkan dengan berbagai macam cara. Umumnya penggolongan biaya ini ditentukan atas dasar tujuan yang hendak dicapai dengan penggolongan tersebut, karena dalam akuntansi biaya dikenal konsep “different costs for different

purposes”. Adapun cara penggolongan biaya adalah sebagai berikut:

1) Penggolongan biaya menurut objek pengeluaran

Dalam cara penggolongan ini, nama objek pengeluaran merupakan dasar penggolongan biaya. Misalnya nama objek pengeluaran adalah bahan bakar, maka semua pengeluaran yang berhubungan dengan bahan bakar disebut “biaya bahan bakar”. Contoh penggolongan biaya atas dasar pengeluaran dalam perusahaan kertas sebagai berikut: biaya merang, biaya jerami,

biaya gaji, dan upah, biaya soda, biaya depresiasi mesin, biaya asuransi, biaya bunga, biaya zat warna.

2) Penggolongan biaya menurut fungsi pokok dalam perusahaan Dalam perusahaan manufaktur, ada tiga fungsi pokok, yaitu fungsi produksi, fungsi pemasaran dan fungsi administrasi & umum. Oleh karena itu dalam perusahaan manufaktur, biaya dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok:

a) Biaya produksi

Biaya produksi merupakan biaya-biaya yang terjadi untuk mengolah bahanbaku menjadi produk jadi yang siap untuk dijual.

b) Biaya pemasaran

Biaya pemasaran merupakan biaya-biaya yang terjadi untuk melaksanakan kegiatan pemasaran produk.

c) Biaya administrasi dan umum

Biaya administrasi dan umum merupakan biaya-biaya untuk mengkoordinasi kegiatan produksi dan pemasaran produk.

3) Penggolongan biaya menurut hubungan biaya dengan sesuatu yang dibiayai

Sesuatu yang dibiayai dapat berupa produk atau departemen. Dalam hubunganya dengan sesuatu yang dibiayai, biaya dapat dikelompokkan menjadi dua golongan yaitu:

a) Biaya lansung (direct cost)

Biaya langsung adalah biaya yang terjadi, yang penyebab satu-satunya adalah karena adanya sesuatu yang dibiayai. Jika sesuatu yang dibiayai tersebut tidak ada, maka biaya langsung ini tidak akan terjadi. Dengan demikian biaya langsung akan mudah diidentifikasikan dengan sesuatu yang dibiayai.

b) Biaya tidak langsung (indirect cost)

Biaya tidak langsung adalah biaya yang terjadinya tidak hanya disebabkan oleh sesuatu yang dibiayai.

4) Penggolongan biaya menurut perilakunya dalam hubungan dengan perubahan volume aktivitas

Dalam hubungannya dengan perubahan volume aktivitas, biaya dapat digolongkan menjadi:

a) Biaya variabel

Biaya variabel adalah biaya yang jumlah totalnya berubah sebanding dengan perubahan volume kegiatan. Contoh biaya variabel adalah biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung.

b) Biaya semivariabel

Biaya semivariabel adalah biaya yang berubah tidak sebangding dengan perubahan volume kegiatan. Biaya semivariabel mengandung unsur biaya tetap dan unsur biaya variabel.

c) Biaya semifixed

Biaya semifixed adalah biaya yang tetap untuk tingkat volume kegiatan tertentu dan berubah dengan jumlah yang konstan pada volume produksi tertentu.

d) Biaya tetap

Biaya tetap adalah biaya yang jumlah totalnya tetap dalam kisar volume kegiatan tertentu. Contoh biaya tetap adalah gaji direktur produksi.

5) Penggolongan biaya atas dasar jangka waktu manfaatnya a) Pengeluaran modal (capital expenditures)

Pengeluaran modal adalah biaya yang mempunyai manfaat lebih dari satu periode akuntansi (biasanya periode akuntansi adalah satu tahun kalender). Pengeluaran modal ini pada saat terjadinya dibebankan sebagai kos aktiva dan dibebankan dalam tahun-tahun yang menikmati manfaatnya dengan cara didepresiasi, diamortisasi atau dideplesi.

b) Pengeluaran pendapatan (revenue expenditures)

Pengeluaran pendapatan adalah biaya yang hanya mempunyai manfaat dalam periode akuntansi terjadinya pengeluaran tersebut. Pada saat terjadinya, pengeluaran pendapatan ini dibebankan sebagai biaya dan dipertemukan dengan pendapatan yang diperoleh dari pengeluaran biaya tersebut.

12. Laba

Laba merupakan selisih penghasilan penjualan di atas semua biaya dalam periode akuntansi tertentu. Apabila semua penghasilan lebih besar dibanding biaya maka selisihnya adalah laba bersih. Menurut Mulyadi (2001: 59) untuk mengukur kemampuan menghasilkan laba suatu perusahaan atau suatu pusat laba dalam perusahaan biasanya digunakan alat pengukur: kembalian investasi (return on investment atau disingkat ROI) atau residual income (disingkat RI). Kembalian investasi dihitung dengan cara membandingkan laba bersih dengan aktiva yang digunakan oleh pusat laba tersebut untuk mendapatkan laba tersebut. Dalam hal ini diperlukan informasi pendapatan penuh dan informasi biaya penuh untuk menghitung laba bersih dan informasi aktiva penuh pusat laba tersebut, sehingga dapat dihitung besarnya tarif kembalian investasi dengan rumus:

Kembalian Investasi =Pendapatan penuh − biaya penuh Aktiva penuh

13. Jasa

a. Pengertian Jasa

Jasa dapat berupa suatu tindakan atau perbuatan yang ditawarkan oleh pihak lain dengan tidak menghasilkan kepemilikan sesuatu. Akan tetapi jasa juga banyak manfaatnya dan dibutuhkan oleh orang lain, sehingga pengertian lain dari jasa tersebut adalah:

Rambat Lupiyoadi & A. Hamdani (2006: 6) menjelaskan bahwa “jasa merupakan semua aktivitas ekonomi yang hasilnya bukan berbentuk produk fisik atau kontruksi, yang umumya dihasilkan dan dikonsumsi secara bersamaan serta memberikan nilai tambah (misalnya kenyamanan, hiburan, kesenangan, atau kesehatan)

konsumen.”Menurut Philip Kotler (2002: 486) “Jasa adalah setiap tindakan atau kegiatan yang dapat ditawarkan oleh satu pihak kepada pihak lain, yang pada dasarnya tidak berwujud dan tidak mengakibatkan kepemilikan apapun. Produksinya dapat dikaitkan atau tidak dikaitkan pada satu produk fisik.”Fandy Tjiptono (2004: 6) mengemukakan bahwa “Jasa adalah setiap tindakan atau perbuatan yang dapat ditawarkan oleh suatu pihak kepada pihak lain, yang pada dasarnya bersifat intangible (tidak berwujud fisik) dan tidak menghasilkan kepemilikan sesuatu. Produksi jasa bisa berhubungan dengan produk fisik maupun tidak.”

Jadi dapat dikatakan bahwa perusahaan yang bersifat jasa tidak menghasilkan benda atau wujud tertentu yang dapat dimiliki pembeli.

b. Karakteristik Jasa

Jasa memiliki empat karakteristik utama yang sangat mempengaruhi rancangan program pemasaran yaitu sebagai berikut:(Fandy Tjiptono, 2004: 15-18)

1) Intangibility

Jasa berbeda dengan barang. Jika barang merupakan suatu objek, alat, atau benda, maka jasa adalah suatu perbuatan, kinerja (performance), atau usaha. Bila barang dapat dimiliki, maka jasa hanya dapat dikonsumsi tetapi tidak dapat dimiliki. Jasa bersifat

intangible, artinya tidak dapat dilihat, dirasa, diraba, dicium, atau

didengar sebelum dibeli. 2) Inseparability

Barang biasanya diproduksi, kemudian dijual, lalu dikonsumsi. Sedangkan jasa biasanya dijual terlebih dahulu, baru kemudian diproduksi dan dikonsumsi secara bersamaan. Interaksi antara

penyedia jasa dan pelanggan merupakan ciri khusus dalam pemasaran jasa. Keduanya mempengaruhi hasil (outcome) dari jasa tersebut. Dalam hubungan penyedia jasa dan pelanggan ini, efektivitas individu yang menyampaikan jasa (contact personnel) merupakan unsur penting.

3) Variability

Jasa bersifat sangat variabel karena merupakan nonstandardized

out put, artinya banyak variasi bentuk, kualitas dan jenis, tergantung

pada siapa, kapan, dan dimana jasa tersebut dihasilkan. 4) Perishability

Jasa merupakan komoditas tidak tahan lama dan tidak dapat disimpan. Kursi pesawat yang kosong, kamar hotel yang tidak dihuni atau jam tertentu tanpa pasien ditempat praktik dokter gigi akan berlalu/hilang begitu saja karena tidak dapat disimpan. Dengan demikian bila suatu jasa tidak digunakan, maka jasa tersebut akan berlalu begitu saja.