• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

C. Perhitungan harga pokok dengan Metode Activity Based Costing ( ABC System)

Dalam akuntansi biaya terdapat beberapa metode yang dapat digunakan, satu diantaranya adalah metode Activity Based Costing.

Menghitung harga pokok konstruksi dengan menggunakan Metode Activity Based Costing System.Untuk mengetahui keakuratan pada harga pokok kostruksi maka terlebih dahulu perlu mengidentifikasi biaya – biaya keseluruhan produk termasuk biaya langsung atau direct cost dan biaya tidak langsung atau indirect cost .

1. Pemakaian bahan baku

Bahan baku adalah bahan yang digunakan untuk proses produksi yang dapat dikalkulasikan secara langsung kedalam biaya produksi yang dapat ditelusuri secara fisik dan mudah keproduk.

Bahan baku dalam perusahaan konstruksi khususnya bagian produksi yaitu berupa agrerat halus dan agrerat kasar atau disebut material. Jumlah pemakaian bahan baku yang digunakan untuk berproduksi tahun 2013 dapat disajikan pada table sebagai berikut :

Tabel 5.2 Pemakaian bahan baku CTSB PT. Timur Utama Sakti tahun 2013

Material m3 Total Biaya (Rp)

Semen 1512 222.264.000

Pasir 1512 45.813.600

Shiplit 1512 45.360.000

Chipping 1512 49.140.000

362.577.600 Sumber data PT.TUS ( diolah)

Tabel 5.3 Pemakaian bahan baku RIGIT PT. Timur Utama Sakti tahun 2013 Material m3 Total Biaya (Rp)

Semen 3941 1.288.312.900

Pasir 3941 91.628.250

Shiplit 3941 94.584.000

Chipping 3941 128.082.500

1.520.142.250 Sumber data PT.TUS ( diolah)

Tabel 5.4.Pemakaian bahan bakuuntuk paket 1 anggaran 2013 No Jenis Produk produksi (M3) BBB (Rp)

1 CTSB 1512 362.577.600

2 RIGIT 3941 1.520.142.250

Jumlah 1.882.719.850

2. Pemakaian Biaya Tenaga Kerja Langsung

Biaya Tenaga kerja langsung meliputi gaji pokok, tunjangan, lembur,kubikasi, uang transport dan lain-lain.Jumlah pemakaian Biaya Tenaga Langsung yang digunakan untuk berproduksi tahun 2013 dapat dilihat pada table sebagai berikut:

Tabel 5.5 Pemakaian Tenaga kerja Langsung

No Jenis Produk Produksi (m3) BTKL (Rp) 1 CTSB 1512 33.400.000 2 RIGIT 3941 85.545.000 Jumlah 118.945.000

Sumber data PT TUS ( diolah )

Tabel 5.6 Ringkasan data produksi PT. Timur Utama Sakti untuk paket 1anggaran 2013

Sumber data PT. TUS ( diolah )

No Jenis Produk Produksi (M3) BTKL (Rp) BBB (Rp)

1 CTSB 1512 33.400.000 362.577.600

2 RIGIT 3941 85.545.000 1.520.142.250

3. Pemakaian sumber daya tidak langsung

Penggunaan sumber daya tidak langsung akan menimbulkan biaya tidak langsung yaitu biaya overhead pabrik yang merupakan biaya selain bahan langsung dan tenaga kerja langsung.Biaya- biaya produksi tidak langsung (overhead) yang terjadi dalam perusahaan merupakan perkiraan dari hasil analisis dari biaya–biaya yang terjadi dari biaya yang terjadi pada pekerjaan sebelumnya sehingga untuk overhead itu sendiri merupakan persentasi biaya yang dianggarkan.Namun pada pemakaian biaya sesungguhnya biaya overhead itu bisa berubah–ubah meski ukuran atau volume pekerjaan itu sendiri relative sama. Jenis aktivitas dikelompokkan berdasarkan hirarki aktivitas dan pemacu biayanya.

Tabel 5.7 Ikhtisar Aktivitas

Hierarki Aktivitas Jenis Aktivitas

Pemacu Biaya Unit Level Activity Penggunaan Bahan Penolong JV

Batch Level Activity

Pengangkutan Ready Mix

(Campuran Beton) JP

Pemakaian Mesin Kwh

Pemakaian Bahan Bakar Solar JP

Pemakaian Listrik Kwh

Product Sustaining Activity Pemeliharaan Mesin JV

Pemeliharaan Kendaraan JP

Facility Sustaining Activity Penyusutan Mesin dan Peralatan JKA

Keterangan: JV = Jumlah Volume JP = Jumlah Pengangkutan Kwh =Kilowatt Hour

JKA = Jam Kerja Alat

Penggunaan sumber daya tidak langsung akan menimbulkan biaya tidak langsung yaitu biaya overhead pabrik yang merupakan biaya selain bahan langsung dan tenaga kerja langsung. Berdasarkan Tabel, biaya overhead pabrik yang ditimbulkan akibat penggunaan sumber daya tidak langsung meliputi : a. Unit Level Activity Cost

Unit level activity cost adalah biaya aktivitas yang timbul pada unit level activity sebagai akibat dari penggunaan sumber daya oleh aktivitas tertentu. Aktivitas yang timbul pada level ini adalah penggunaan bahan penolong sehingga biaya yang ditimbulkan yaitu biaya penggunaan bahan penolong.

Bahan penolong yang digunakan dalam proses produksi ready mix terdiri atas bahan pelumas, minyak, air aki dan bahan kendaraan yang lain- lain. Total biaya penggunaan bahan penolong selama mengerjakan proyek tersebut yaitu di mulai bulan Mei sampai Juli 2013 sebesar Rp 15. 261. 000. Penggunaan biaya bahan penolong dapat dilihat pada tabel

Tabel 5.8Biaya penggunaan Bahan Penolong pada PT TUS bulan Mei hingga Juli Tahun 2013

Jenis Ready Mix Biaya Bahan Penolong ( Rp )

CTSB 4.156.600

RIGIT 11.104.400

Total 15.261.000

Sumber : Data PT TUS (diolah)

b. Batch Level Activity Cost

Batch level activity cost adalah biaya aktivitas yang timbul pada batch level activity sebagai akibat dari penggunaan sumber daya oleh aktivitas tersebut yang meliputi :

1. Biaya pengangkutan Ready mix

Biaya pengangkutan campuran ( Ready mix ) merupakan biaya operasional yang dikeluarkan perusahaan yang berkaitan dengan pengiriman ke tempat pembongkaran atau pemesan. Total biaya pengangkutan selama bulan pengerjaan yaitu Mei hingga Juli tahun 2013 adalah sebesar Rp 20. 000.000.

2. Biaya penggunaan listrik

Sumber daya tenaga yang digunakan oleh perusahaan dalam berproduksi adalah termasuk listrik yang dipasok dari PLN. Sumber daya listrik digunakan untuk penerangan dan mesin.Adapun penggunaan listrik untuk bulan pengerjaan pekerjaan yaitu tiga bulan sebesar Rp 17.108. 250

Tabel 5.9 Rincian Biaya Listrik pada PT TUS Bulan Mei hingga Oktober Tahun 2013

Uraian Nilai ( Rp)

Pemakaian Mesin 11.211.650

Pemakaian Lampu Listrik 5.896.600

Total 17.108.250

Sumber : Data PT TUS ( diolah ) 3. Biaya Pemakaian Bahan Bakar

Penggunaan bahan bakar solar dalam perusahaan konstruksi termasuk kebutuhan primer penggerak produksi yaitu pada concrete mixer yaitu selain untuk mencampur material juga sebagai bahan bakar mesin concrete mixer tersebut. Adapun penggunaan solar selama pengerjaan paket anggaran tersebut yaitu Rp 91.875.000

c. Product Sustaining Activity Cost

Product Sustaining Activity Cost adalah biaya aktivitas sebagai akibat dai penggunaan sumber daya pemeliharaan mesin dan kendaraan.

Biaya pemeliharaan mesin dan kendaraan merupakan biaya yang digunakan untuk perawatan dan perbaikan mesin serta pembelian spare part mesin dan kendaraan.Biaya pemeliharaan mesin yang dikeluarkan seperti biaya penggantian saringan filter, filet mobil, isi dynamo, dll.Sedangkan biaya pemeliharaan kendaraan yang dikeluarkan seperti biaya penggantian ban, service mesin, dan kampas rem. Besarnya biaya pemeliharaan mesin dan kendaraan dapat dilihat pada Tabel

Tabel 5.10 Biaya pemeliharaan Mesin dan Kendaraan pada PT.TUS Bulan Mei hingga Oktober Tahun 2013

Jenis Biaya ( Rp ) Mesin / Alat a. Baching Plant 5.032.000 b. Pcc 200 AW 1.747.000 C. Whell Loeder 3.270.000 Kendaraan

a. concrete Mixer sebanyak 8 unit 32.575.000 b. DumpTruck sebanyak 6 unit 15.890.000

c. pick up sebanyak 2 unit 6.750.000

Total 65.264.000

Sumber : PT TUS (diolah)

d. Facility Sustaining Activity Cost

Facility Sustaining Activity Cost adalah biaya aktivitas yang timbul pada facility sustaining activity sebagai akibat dari penggunaan sumber daya oleh aktivitas tersebut meliputi :

1. Biaya penyusutan mesin dan peralatan

Mesin dan peralatan produksi dikenakan biaya penyusutan. Mesin dan peralatan yang digunakan dalam proses produksi meliputi mesin Bathing Plant, mesin pengangkut material, mesin claser, compressor, generator genset. Tafsiran jam mesin yang digunakan merupakan kebijakan yang ditetapkan perusahaan. Perhitungan nilai penyusutan diperoleh dengan menggunakan jam kerja alat ( Sembiring, 1991 ), dimana :

Tarif Penyusutan= Harga perolehan – nilai residu Tafsiran jam mesin yang digunakan

Biaya penyusutan yang dibebankan kepada mesin dan peralatan yang digunakan diperoleh dari perkalian antara tariff penyusutan dengan jumlah jam pemakaian actual.

Pemakaian jam kerja mesin actual bervariasi untuk masing-masing mesin dan peralatan produksi sesuai dengan kebutuhan penggunaannya. Total jam kerja yang digunakan mesin baching plant mencapai 3000 jam, mesin whell loeder dan excavator berkapasitas 1000- 2500 meter kubik perjam.

Biaya penyusutan yang dihasilkan dari metode jam kerja kemudian dikalikan dari jumlah mesin dan peralatan untuk memperoleh total biaya penyusutan mesin dan peralatan. Total biaya penyusutan mesin dan peralatan dapat dilihat pada tabel

Tabel 5.11 Total Biaya Penyusutan Mesin dan Peralatan pada PT TUS Tahun 2013

Jenis Biaya Penyusutan( Rp )

Mesin / Alat Utama

Baching Plant 26.640.000

Pcc 200 AW 1.567.800

Whell Loeder 83.250

Total 28.291.050

Sumber Data PT.TUS (diolah)

2. Biaya penyusutan kendaraan

Kendaraan yang dimiliki PT.TUS berupa concrete mixer, dump truck, dan pick up adalah salah satu factor penunjang produksi terutama concrete mixer yang digunakan dalam penggilingan / pencampuran material dari mesin baching

plant. Tafsiran umur kegunaan merupakan kebijakan yang perlu di tetapkan perusahaan yaitu 8 tahun. Perhitungan biaya penyusutan kendaraan diperoleh dengan menggunakan metode garis lurus ( Sembiring, 1991).

Metode Garis Lurus = harga perolehan –nilai residu Tafsiran umur kegunaan Biaya penyusutan kendaraan dapat dilihat pada tabel

Tabel 5.12 Biaya Penyusutan Kendaraan pada PT.TUS Tahun 2013

Jenis

Biaya Penyusutan (Rp/tahun)

Biaya Penyusutan ( Rp/3 bulan) Concrete Mixer sebanyak 8 unit 104.000.000 52.000.000 DumpTruck sebanyak 6 unit 5.400.0000 27.000.000

Pick up sebanyak 2 unit 3.000.000 1.500.000

Total 161.000.000 80.500.000

Sumber : Data perusahaan ( diolah)

3. Perhitungan Pemacu Biaya

Perhitungan pemacu biaya diperlukan untuk menentukan tariff kelompok biaya overhead pabrik. Pemacu biaya yang akan dihitung antara lain:

a. Jumlah volume

Jumlah produksi permeter kubi atau volume ready mix yang di produksi untuk paket 1 anggaran 2013 yang dimulai pada bulan Mei hingga Juli 2013 dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 5.14 Jumlah produksi Ready Mix ( Beton ) Anggaran 2013.

Mutu Jumlah Produksi ( M3)

CTSB ( K 125 ) 1512

RIGIT ( K 350 ) 3941

Total 5453

Sumber : Data Primer PT.TUS

b. Jam Kerja Alat/ peralatan (JKA)

Jam peralatan adalah waktu yang digunakan dalam pemakaian alat untuk memproduksi berbagai macam produk PT TUS . Total konsumsi jam peralatan selama tiga bulan sebesar 900 jam dengan jumlah produksi keseluruhan sebesar 5453 unit. Selanjutnya konsumsi jam peralatan dibebankan pada setiap jenis produk yang dihasilkan pada setiap tahap produksi. Pembebanan konsumsi jam peralatan dapat dilakukan dengan cara :

Konsumsi JKA = Total JKA (3 bulan) x jumlah produksi/ M3 Jumlah produksi keseluruhan

Dari konsumsi pemacu biaya jam peralatan yang digunakan pada masing – masing mutu beton dapat dilihat pada Tabel berikut ;

Tabel 5.15 Konsumsi Pemacu Biaya Jam Kerja Alat pada PT. TUS Bulan Mei hingga Juli Tahun 2013

Mutu Jumlah Produksi ( M3)

Komsumsi JKA ( Jam)

CTSB ( K 125 ) 1512 249,55

RIGIT ( K 350 ) 3941 650,44

Sumber : Data Primer PT.TUS ( diolah)

c. Kilowatt Hour (Kwh)

Perhitungan konsumsi Kwh mesin merupakan hasil perkalian antara daya mesin dengan jumlah jam pemakaian mesin tersebut. Lampu yang digunakan sebagai penerangan juga dilakukan dengan cara yang sama. Komsumsi listrik selama tiga bulan sebesar 3450 Kwh. Pembebanan konsumsi Kwh pada setiap jenis produk dilakukan dengan cara :

Komsumsi Kwh = Total Kwh (3 bulan) x jumlah produksi/ m3 Total produksi keseluruhan

Konsumsi pemacu biaya kilowatt hour dapat dilihat pada Tabel berikut :

Tabel 5.16 Komsumsi Pemacu Biaya Kilowatt Hour pada PT. TUS Bulan Mei hingga Juli Tahun 2013

Mutu Jumlah Produksi ( M3) Komsumsi Kwh

CTSB ( K 125 ) 1512 956,61

RIGIT ( K 350 ) 3941 2493,38

d. Jumlah Pengangkutan Ready Mix

Jumlah pengangkutan campuran beton/ ready mix dihitung berdasarkan berapa kali putaran mobil mixer/ beton. Selama bulan Mei hingga Juli 2013, dapat diketahui bahwa pengangkutan campuran beton/ ready mix yang dilakukan PT.TUS sebanyak 124 kali karena satu kali putaran sama dengan 44 kubi sehingga jumlah keseluruhan dari produksi yaitu 5453 kubi dibagi 44 kubi. Untuk jenis mutu masing-masing maka jumlah produksi setiap produk / mutu di bagi satu putaran.Jumlah pengangkutan ready mix untuk anggaran paket 1 2013 yaitu : Tabel 5.17 Jumlah Kali Pengangkutan campuran Bulan Mei hingga Juli Tahun 2013.

Mutu Jumlah Produksi ( M3)

Jumlah Kali Pengangkutan produk CTSB ( K 125 ) 1512 34 x RIGIT ( K 350 ) 3941 90 x Total 5453 124 x 4. Pengelompokan Aktivitas

Aktivitas aktivitas yang mengkomsumsi sumber daya tidak langsung secara bersama dalam proses produksi ready mix dapat dikelompokkan kedalam satu kelompok. Biaya aktivitas yang timbul merupakan biaya overhead bersama yang dikelompokkan dalam satu kelompok biaya berdasarkan pemacu biayanya. Biaya yang ditimbulkan dari aktivitas penggunaan sumber daya dan potensial pemacu biaya dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 5.18 Penggunaan Sumber Daya Tidak Langsung yang timbul pada produksi beton PT Timur Utama Sakti untuk paket anggaran 1 2013 yaitu :

Sumber Daya Tidak Langsung Aktivitas Pemacu

Biaya Biaya Bahan Penolong Penggunaan Bahan Penolong JV Biaya Penyusutan Penyusutan M. Baching plant JKA

Penyusutan M. PCC.200 AW JKA Penyusutan M.Whell Loeder JKA

Penyusutan Kendaraan JP

Biaya Listrik Pemakaian Mesin Kwh

Pemakaian Lampu Listrik Kwh

Biaya Pemeliharaan Pemeliharaan Mesin JV

Pemeliharaan Kendaraan JP

Biaya Pengangkutan Pengangkutan produk JP

Biaya Pemakaian Bahan

Bakar Pemakaian Bahan Bakar JP

Keterangan :JV = Jumlah Volume JKA =Jam Kerja Alat

Kwh =Kilowatt Hour JP =Jumlah Pengangkutan

Biaya overhead pabrik tersebut memiliki pemacu biaya yang berbeda-beda sehingga perlu dikelompokkan kedalam satu kelompok biaya berdasarkan pemacu biayanya masing- masing. Setelah dikelompokkan maka biaya- biaya tersebut dibebankan kepada masing-masing aktivitas dari tahapan –tahapan

produksi berdasarkan pemacu biayanya. Pengelompokan dan pembebanan tersebut akan dilakukan sebagai berikut :

a. Cost Pool 1

Cost Pool 1 merupakan kelompok biaya aktivitas yang timbul akibat penggunaan sumber daya tidak langsung berdasarkan pada pemacu biaya jumlah volume yang diproduksi.

Pengelompokan biaya aktivitas tersebut dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 5.19 Pengelompokan Biaya aktivitas berdasarkan jumlah volume (JV)

Aktivitas Biaya Aktivitas (Rp )

CTSB RIGIT

Penggunaan Bahan Penolong 4.156.600 11.104.400

Pemeliharaan Mesin 2.786.372 7.262.627

Total 6.942.972 18.367.027

b. Cost Pool 2

Cost Pool 2 merupakan kelompok biaya aktivitas yang timbul akibat penggunaan sumber daya tidak langsung berdasarkan pada pemacu biaya jam kerja alat (JKA). Pemacu biaya jam kerja alat dihitung berdasarkan berapa besar penyusutan penggunaan peralatan dan mesin yang digunakan. Total biaya aktivitas berdasarkan pemacu biaya jam kerja alat selama pengerjaan proyek anggaran paket 1 2013 sebesar Rp 28.291.050 .Secara lengkap pemacu biaya jam peralatan ditampilkan pada tabel

Tabel 5.20 Pengelompokan dan pembebanan Biaya Overhead Pabrik Berdasar Pemacu Biaya Jam Kerja Alat ( JKA )

Aktivitas Biaya Aktivitas (Rp)

Penyusutan Mesin Baching Plant 26.640.000

Penyusutan Mesin Pcc 200 AW 1.567.800

Penyusutan Mesin Whell Loeder 83.250

Total 2.8291.050

c. Cost Pool 3

Cost Pool 3 merupakan kelompok biaya aktivitas yang timbul akibat penggunaan sumber daya tidak langsung berdasarkan pada pemacu biaya kilowatt hour (Kwh).

Tabel 5.21 Pengelompokan dan Pembebanan Biaya Overhead Pabrik Berdasar Pemacu Biaya Kilowatt Hour (Kwh)

Aktivitas Biaya Aktivitas ( Rp)

Pemakaian Mesin 11.211.650

Pemakaian Lampu Listrik 5.896.600

d. Cost Pool 4

Cost Pool 4 merupakan kelompok biaya aktivitas yang timbul akibat penggunaan sumber daya tidak langsung berdasarkan pada pemacu biaya jumlah kali pengangkutan produk.Pengelompokan biaya aktivitas tersebut dapat dilihat pada tabel

Tabel 5.22 Pengelompokan dan Pembebanan Biaya OverheadPabrik Berdasarkan Pemacu Biaya Jumlah Kali Pengangkutan.

Aktivitas Biaya Aktivitas ( Rp)

Penyusutan Kendaraan 5.5215.000

Pemeliharaan Kendaraan 80.500.000

Pengangkutan Bahan 20.000.000

Pemakaian Bahan Bakar 91.875.000

Total 247.590.000

5. Menghitung Tarif Biaya

Tarif biaya overhead pabrik merupakan pembagian antara jumlah biaya overhead pabrik yang homogen dalam satu kelompok dengan jumlah konsumsi pemacu biaya nya.Hasil pembagian tersebut dinamakan tariff kelompok. Perhitungan tariff kelompok biaya overhead pabrik dapat dilihat pada tabel

Tabel 5.23 Perhitungan Tarif Kelompok Biaya Overhead Pabrik PT TUS untuk anggaran paket 1 2013 Kelompok Biaya (1) Nilai Biaya (Rp) (2) Pemacu Biaya (3) Tarif Biaya (4) = 2:3 Cost Pool 1 CTSB 6.942.972 1512 JV 4.591,91/ JV RIGIT 18.367.027 3941 JV 4.660,49/JV

Cost Pool 2 28.291.050 900 JKA 31.434,5/JKA

Cost Pool 3 17.108.250 3450 Kwh 4.958,91/ Kwh Cost Pool 4 247.590.000 124 JP 1.996.693,55/ JPB

6. Pengalokasian Biaya

Setelah tarif per kelompok biaya diketahui maka dilakukan pengalokasian biaya ke masing- masing produk.Pengalokasian dilakukan dengan mengalikan tarif kelompok biaya dan aktivitas yang dikomsumsi oleh masing- masing produk. Perhitungan alokasi biaya overhead pabrik ke masing- masing produk dapat dilihat pada tabel

Tabel 5. 24 Perhitungan Alokasi Biaya Overhead Pabrik pada Masing- masing Mutu Ready Mix

Keterangan Mutu K125 ( CTSB) Mutu K 350 ( RIGIT)

Cost Pool 1

CTSB

Konsumsi JV (m3) 1512

Tarif per Pemacu (Rp/m3) 4.591.91 Jumlah Biaya ( Rp) 6.942.967.92 RIGIT

Komsumsi JV(unit) 3941

Tarif per Pemacu (Rp/m3) 4.660.49

Jumlah Biaya ( Rp) 18.366.991.09

Jumlah Biaya ( Rp) 6.942.967.92 18.366.991.09

Cost Pool 2

Komsumsi JKA (Jam) 249.55 650.44

Tarif per Pemacu (Rp/jam) 31.434.5 31.434.5

Jumlah Biaya ( Rp) 7.844.479.475 20.446.256.18

Cost Pool 3

Komsumsi Kwh (Kwh) 956.61 2.493.38

Tarif per Pemacu ( Rp/Kwh) 4.958.91 4.958.91

Jumlah Biaya ( Rp) 4.743.742.895 12.364.447.02

Cost Pool 4

Komsumsi JP (Kali) 34 90

Tarif per Pemacu (Rp) 1.996.693.55 1.996.693.55 Jumlah Biaya ( Rp) 67.887.580.7 179.702.419.5 Total Keseluruhan Biaya

Pool Rate 87.418.770.99 230.880.113.8

Jumlah Produksi ( m3) 1512 3941

Biaya Overhead per m3

7. Perhitungan Harga Pokok Produksi

Perhitungan harga pokok produksi dengan menggunakan metode ABC dapat dilihat pada Tabel

Tabel 5.25 Perhitungan Harga Pokok Produksi per m3 ( Rp/m3) dengan Metode ABC

Mutu Bahan Baku

(Rp) BTKL (Rp) BOP (Rp)

Jumlah HPP/m3 (Rp)

CTSB ( 125 ) 239.800 22.089 57.816 319.706

RIGIT (350 ) 385.725 21.706 58.584 466.015

Harga pokok produksi per meter kubi pada Tabel diatas merupakan hasil dari penjumlahan sumber daya langsung dengan sumber daya tidak langsung. Sumber daya langsung yaitu biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung (BTKL ) sedangkan sumber daya tidak langsung yaitu biaya overhead pabrik (BOP ). Perhitungan biaya overhead pabrik dilakukan dengan mengalokasikan biaya overhead pada masing-masing produk berdasarkan konsumsi sumber daya dalam setiap aktivitas dengan memperhitumgkan semua pemacu biaya yang berkaitan dengan biaya overhead yang terjadi.

Tabel menunjukkan bahwa harga pokok produksi permeter kubi pada mutu K125 ( CTSB) lebih kecil dari pada harga pokok produksi permeter kubi RIGIT. Hal ini disebabkan karena penggunaan biaya bahan baku yang lebih kecil dari mutu K350 ( RIGIT ). Sedangkan untuk biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik yang dibebankan pada masing –masing model relative sama dimana perbedaan dari kedua biaya tersebut pada masing –masing selisih yang tidak terlalu besar.

D. 1. Perhitungan Metode Activity Based Costing pada Anggaran paket 1 tahun 2013

Dari hasil perhitungan harga pokok dengan menggunakan metode ABC yang telah didapat maka dapat diketahui harga pokok permeter kubi dari pengerjaan untuk proyek paket anggaran 1 pada tahun 2013.

Tabel 5.26 Perhitungan Harga Pokok ABC

No Jenis Produk Ukuran/Ruas Volume (m3) HPP/m 3 Nilai (Rp) 1 CTSB 600mX 6X0.20X0.07 311 319.706 99.428.566 400mX6X0.18X0.07 991 319.706 316.828.646 680mX6XO,18X0.07 210 319.706 67.138.260 2 RIGIT 600mX 6X0.20X0.07 914 466.015 425.937.710 400mX6X0.18X0.07 2450 466.015 1.141.736.750 680mX6X0,18X0.07 577 466.015 286.890.655 Total 2.337.960 587

2. Pengaruh Perhitungan Activity Based Costing dan keakuratannya pada penetapan Harga Pokok.

Pengaruh Perhitungan Activity Based Costing dan keakuratannya pada penetapan harga pokok

Pengaruh Activiy Based Costing pada harga pokok perusahaan konstruksi yaitu satu diantaranya yaitu paket 1 untuk anggaran 2013 dengan produk CTSB dan Rigit bernilai Rp. 3.790.080.000. dari harga pokok produksi CTSB Rp 320.260.3 dan Rigit Rp 465, 802,0 .3 menunjukkan perbedaan dengan metode Activity Based Costing yaitu pada produk CTSB Rp 319.706 dan Rigit Rp 466. 015. Untuk lebih jelasnya Harga pokok produksi per meter kubi dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

Berdasarkan informasi dari tabel diatas, dapat diketahui bahwa perhitungan harga pokok produksi dengan metode ABC menghasilkan harga pokok pada anggaran paket 1 anggaran 2013 dari mutu Beton CTSB lebih rendah dari metode perusahaan sedangkan untuk beton mutu rigit nilainya lebih tinggi, ini didasarkan karena pada metode ABC menelusuri biaya ke objek biaya yang dikomsumsi oleh produk atau mutu yang diproduksi sedangkan pada metode perusahaan pembebanan biaya overhead pabrik dihitung hanya menggunakan satu pemicu biaya yaitu jumlah unit yang diproduksi, sehingga dari perbandingan tersebut dapat kita ketahui pengaruh keakuratan dari metode activity based costing dalam penentuan Harga Pokok pada perusahaan bahwa metode ABC dapat dikatakan lebih akurat dalam penentuan harga pokok pada perusahaan.

BAB VI

Dokumen terkait