BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.6 Perhitungan Jumlah Obat
Berdasarkan hasil wawancara diketahui bahwa proses penentuan dan perhitungan kebutuhan obat menggunakan metode konsumsi yang didasarkan dari pemakaian obat tahun sebelumnya. Langkah-langkah dalam menentukan dan menghitung perkiraan kebutuhan obat dalam perencanaan obat, sebagai berikut:
1. Menghitung pemakaian nyata pertahun
“Biasanya saya menghitung rata-rata perbulan, tapi saya hitung pemakaian nyata pertahun dengan sisa stok yang dihitung per 31 Desember.” (Informan 2)
Berdasarkan hasil wawancara melalui informan dapat diketahui bahwa dalam proses menghitung kebutuhan obat tidak dilakukan sesuai dengan yang seharusnya, karena perhitungan sisa stok didapatkan dari stock opname yang dibuat tiap akhir bulan, lalu akan didapatkan jumlah akhirnya untuk per 31 Desember.
Hasil observasi menunjukkan bahwa untuk perhitungan pemakaian nyata per tahun menggunakan perhitungan per 31 Desember, hal ini dikarenakan agar mudah untuk menghitung per tahunnya maka dibuat akhir tahun dan ini disebabkan oleh ketidaktahuan dalam melakukan perhitungan perkiraan kebutuhan obat berdasarkan metode konsumsi. Seharusnya dengan menggunakan data stok awal ditambah dengan jumlah yang diterima dikurang dengan sisa stok yang dihitung per 1 November dan dikurang dengan jumlah obat yang
Berdasarkan hasil wawancara melalui informan mengenai perhitungan kebutuhan obat menggunakan data pemakaian rata-rata perbulan, dapat diketahui bahwa dalam proses menghitung kebutuhan obat tim perencana obat Dinas Kesehatan Kotamadya Binjai menggunakan data sisa stok yang dihitung dari rata-rata pemakaian setiap bulan yang diolah jadi data pemakaian obat tahunan.
3. Menghitung kekurangan Obat
“Pihak farmasi tidak melakukan perhitungan kekurangan obat, hanya mengetahui jenis obat yang kosong saja.” (Informan 2)
Berdasarkan hasil wawancara melalui informan mengenai perhitungan kebutuhan obat tidak menggunakan data kekurangan obat untuk perencanaan kebutuhan obat tahun berikutnya karena tidak pahamnya informan mengenai perhitungan kekurangan obat, hasil observasi menujukkan bahwa tidak ada laporan untuk menghitung kekurangan obat di gudang farmasi, hal ini tidak sesuai dengan penerapan metode konsumsi yang sebenarnya, padahal menghitung kekurangan obat diperlukan agar jika terjadi kekurangan obat sudah ada stok pada saat terjadinya kekosongan obat.
4. Menghitung kebutuhan obat sesungguhnya pertahun
“Ya, kita lihat data pemakaian tahun lalu, untuk acuan perencanaan obat tahun berikutnya.” (Informan 2)
Berdasarkan hasil wawancara melalui informan mengenai perhitungan kebutuhan obat telah menggunakan data kebutuhan obat sesungguhnya pertahun, karena sudah ada dilakukan perhitungan kekurangan obat. Perhitungan ini dilakukan agar untuk perencanaan obat tahun berikutnya berjalan dengan baik.
5. Menghitung kebutuhan obat tahun yang akan datang
“Kita patokannya ya berdasarkan pengeluaran kita setiap bulannya, itulah yang akan jadi data tahunan kita.” (Informan 2)
Berdasarkan hasil wawancara melalui informan mengenai perhitungan kebutuhan obat yang menggunakan data kebutuhan obat tahun yang akan datang, diketahui bahwa dalam proses menghitung kebutuhan obat biasanya mengacu pada pemakaian obat tahun lalu.
6. Menghitung lead time
“Ya, lead time adalah waktu kita pesan barang hingga sampai ke kita, tapi kita gak pake data ini dek.”(Informan 2)
Berdasarkan hasil wawancara melalui informan mengenai perhitungan kebutuhan obat menggunakan data lead time atau waktu tunggu, dapat diketahui bahwa dalam proses menghitung kebutuhan obat lead time atau waktu tunggu tidak digunakan dalam proses perencanaan kebutuhan obat karena belum mengertinya informan yang menghitung lead time yang sesungguhnya. Hasil observasi diketahui bahwa tidak ada data waktu tunggu yang dilakukan di gudang farmasi, sehingga perencanaan obat berdasarkan metode konsumsi yang dilakukan di gudang farmasi tidak memenuhi data-data yang seharusnya yang ada di metode konsumsi yang berdasarkan Kemenkes RI Tahun 2010.
7. Menentukan stok pengaman
“Kita biasa pake rata-rata pemakaian perbulan dikali 18 bulan, di konsumsi 6 bulan ini untuk kebutuhan stok pengaman kita.” (Informan 2) Stok pengaman (buffer stock) adalah jumlah obat yang diperlukan untuk memghindari kekosongan stok obat. Berdasarkan hasil wawancara melalui informan mengenai perhitungan kebutuhan obat menggunakan data stok pengaman, dapat diketahui bahwa dalam proses menghitung kebutuhan obat melibatkan data stok pengaman tetapi tidak melakukan perhitungan stok pengaman secara benar dikarenakan informan yang diwawancari belum memahami bagaimana menentukan stok pengaman yang benar berdasarkan metode konsumsi dari Kemenkes RI Tahun 2010. Waktu 6 bulan tersebut dianggap waktu untuk melakukan perkiraan selesai melakukan pengadaan obat dan sudah menjadi ketentuan dalam perhitungan perencanaan dengan metode konsumsi, padahal seharusnya jika menurut metode konsumsi stok pengaman dapat diperoleh berdasarkan dari monitoring dinamika logistik.
8. Menghitung obat yang akan di programkan untuk tahun yang akan datang
“Pasti dek, itukan yang namanya RKO (Rencana Kebutuhan Obat), nanti kita buat sesuai dengan acuan kita data pemakaian tahun lalu dengan penambahan data LPLPO dari puskesmas, atau penambahan obat dari penyakit terbaru.” (Informan 2)
Berdasarkan hasil wawancara melalui informan mengenai perhitungan kebutuhan obat menggunakan data obat yang akan di programkan tahun yang akan datang, dapat diketahui bahwa dalam proses menghitungan kebutuhan obat sebagai acuan pada obat yang akan di programkan adalah pemakaian obat tahun, ditambah dengan daftar obat yang diusulkan untuk diadakan karena adanya pola penyakit baru.
9. Menghitung jumlah obat yang akan dianggarkan
“Ya nanti itu akan diberikan ke kepala dinas melalui pemaparan untuk obat yang mau dipesan terkait jumlah dan jenis obatnya, nanti pihak gudang farmasi yang mengurus selanjutnya.” (Informan 2)
Berdasarkan hasil wawancara melalui informan mengenai perhitungan kebutuhan obat menggunakan data jumlah obat yang akan dianggarkan, diketahui bahwa obat yang dianggarkan harus dipaparkan terlebih dahulu baik dari segi jumlah ataupun harga obat. Kemudian diserahkan ke pihak gudang farmasi untuk melakukan pemesanan.
Menurut Kemenkes RI (2010), langkah-langkah dalam menghitung perkiraan jumlah kebutuhan obat adalah dimulai dengan menghitung pemakaian nyata per tahun, menghitung pemakaian rata-rata per bulan, menghitung kekurangan obat, menghitung kebutuhan obat yang sesungguhnya per tahun, menghitung kebutuhan obat tahun yang akan datang, menghitung waktu tunggu, menentukan stok pengaman, menghitung kebutuhan obat yang akan di
programkan, dan menghitung jumlah obat yang diadakan pada tahun anggaran yang akan datang.
Perhitungan perkiraan jumlah kebutuhan obat yang akan datang di dinas kesehatan dilakukan oleh kepala gudang farmasi dan staff gudang farmasi.
Perhitungan jumlah obat yang dilakukan tersebut dinilai belum sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh Kemenkes RI (2010) pada pedoman pengelolaan perbekalan farmasi, hal ini disebabkan karena farmasi tidak melakukan perhitungan jumlah kebutuhan obat dengan menggunakan rumus dan cara yang tepat.
Langkah-langkah dalam menghitung perkiraan kebutuhan obat adalah dimulai dengan menghitung pemakaian nyata per tahun yaitu dengan menggunakan data stok awal ditambah dengan jumlah yang diterima dikurang dengan sisa stok yang dihitung per 1 November dan dikurang dengan jumlah obat yang hilang/rusak/kadaluarsa (Kemenkes RI, 2010). Tetapi perhitungan pemakaian nyata per tahun tidak dilakukan sesuai dengan yang seharusnya, karena perhitungan sisa stok didapatkan dari stock opname yang dibuat tiap akhir bulan, lalu akan didapatkan jumlah akhirnya untuk per 31 Desember.
Langkah kedua adalah menghitung pemakaian rata-rata per bulan. Pihak farmasi memperoleh angka pemakaian rata-rata per bulan dari hasil rekapitulasi pengeluaran setiap bulannya dan dibagi delapan belas bulan. Enam bulan digunakan sebagai kebutuhan stok pengaman. Hal ini tidak sesuai dengan yang seharusnya, dimana berdasarkan pedoman pengelolaan perbekalan farmasi, perhitungan pemakaian rata-rata per bulan tidak dibagi 18 bulan melainkan
dibagi berdasarkan berapa bulan obat tersebut habis dipakai. Hal ini dapat memengaruhi ketepatan dalam merencanakan kebutuhan obat secara riil dan berdampak terhadap ketersediaan obat.
Langkah ketiga yaitu dengan menghitung kekurangan obat yaitu jumlah obat yang diperlukan saat terjadi kekosongan obat, dengan cara mengalikan waktu kekosongan obat dengan pemakaian rata-rata per bulan. Tetapi pihak farmasi tidak melakukan perhitungan kekosongan obat, hanya mengetahui jenis obat yang kosong saja.
Langkah keempat adalah menghitung kebutuhan obat sesungguhnya per tahun dengan cara menjumlahkan angka pemakaian nyata rata per tahun dengan angka kekurangan obat. Tetapi pihak farmasi tidak melakukan perhitungan kebutuhan obat sesungguhnya per tahun, karena tidak ada dilakukan perhitungan kekurangan obat.
Langkah kelima adalah dengan menghitung kebutuhan obat tahun yang akan datang dengan cara menambahkan angka kebutuhan obat sesungguhnya per tahun dengan peningkatan jumlah penduduk yang akan dilayani.
Langkah keenam adalah menghitung waktu tunggu dengan cara mengalikan pemakaian rata-rata per bulan dengan waktu yang dibutuhkan sejak rencana kebutuhan obat diajukan sampai dengan obat diterima. Tetapi hal ini tidak dilakukan oleh pihak farmasi yang tidak ada melakukan perhitungan mengenai waktu tunggu obat. Hal ini disebabkan karena pihak farmasi tidak memiliki data waktu tunggu obat.
Langkah ketujuh adalah menentukan stok pengaman yang diperoleh berdasarkan pengalaman dari monitoring dinamika logistik. Pihak farmasi
melakukan perhitungan pemakaian rata-rata per bulan dikalikan dengan 18.
Angka 18 didapatkan dari 1 tahun ada 12 bulan dan ditambah 6 bulan sebagai stok pengaman (buffer stock) , untuk ketersediaan obat selama 18 bulan kedepan.
Langkah kedelapan adalah menghitung kebutuhan obat yang akan diprogramkan untuk tahun yang akan datang dengan cara menjumlahkan angka kebutuhan obat tahun yang akan datang dengan waktu tunggu dan stok pengaman.
Dan langkah kesembilan adalah menghitung jumlah obat yang perlu diadakan pada tahun anggaran yang akan datang adalah dengan cara mengurangi kebutuhan obat yang diprogramkan dengan sisa stok.
Tetapi pihak farmasi tidak melakukan perhitungan jumlah kebutuhan obat yang akan diadakan dengan menggunakan cara yang sesuai dengan pedoman pengelolaan perbekalan farmasi. Untuk menghitung rencana pengadaan obat yang akan datang, dilakukan dengan melihat peningkatan jumlah kunjungan pasien di puskesmas. Jika kunjungan pasien meningkat dan obat itu termasuk jenis obat fast moving, maka akan dilakukan penambahan dari 6 bulan dari kebutuhan yang dijadikan sebagai stok pengaman, tidak ada penambahan lainnya. Hal ini dikarenakan kurangnya pengetahuan informan untuk menghitung perkiraan kebutuhan obat menurut metode konsumsi. Tetapi jika obat itu termasuk jenis obat slow moving, tidak ada penambahan dikarenakan jenis obatnya dengan masa kadaluarsa yang pendek. Hal ini disebabkan karena informan belum memahami perhitungan perkiraan kebutuhan obat menurut metode konsumsi, sehingga menyebabkan perencanaan obat tidak berjalan dengan baik.
Tujuan perencanaan obat adalah mendapatkan jenis dan jumlah obat yang
meningkatkan penggunaan obat secara nasional serta meningkatkan efisiensi penggunaan obat, sehingga obat yang diperlukan tersedia setiap saat dengan jumlah yang cukup dan mudah diperoleh waktu yang tepat.
4.7 Tersusunnya Rencana Kebutuhan Obat
Menurut Febriawati (2013), tujuan perencanaan obat adalah mendapatkan jenis dan jumlah obat yang tepat sesuai dengan kebutuhan, menghindari terjadinya kekosongan obat, meningkatkan penggunaan obat secara rasional serta meningkatkan efisiensi penggunaan obat, sehingga obat yang diperlukan tersedia setiap saat dengan jumlah yang cukup dan mudah diperoleh pada waktu yang tepat. Hasil dari perencanaan obat adalah tersusunnya dokumen dari perencanaan kebutuhan obat. Dokumen tersebut terdiri dari nama obat yang dibutuhkan, satuan dan jumlah obat. Dokumen perencanaan obat itu diserahkan ke kepala dinas untuk meminta persetujuan terkait perencanaan kebutuhan obat kemudian diserahkan ke kepala gudang farmasi dengan tembusan ke staff gudang farmasi untuk dilakukan pengadaan.
Dalam melakukan perencanaan obat di Dinas Kesehatan Kotamadya Binjai, terdapat kendala dan hambatan, sehingga tujuan dari perencanaan obat itu tidak tercapai, atau dengan kata lain obat tidak tersedia dengan jumlah, jenis atau tidak tersedia tepat waktu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan pernyataan informan diperoleh informasi mengenai kendala perencanaan obat sebagai berikut kutipan wawancaranya:
“Kendala pasti ada namanya apa ya perencanaan gak 100% sesuai dengan kenyataan namanya juga prediksi, namanya juga rencana ya, apalagi metode yang kita pake metode konsumsi kan memang ada mis nya karena patokan pemakaian tahun lalu kita jadikan pengadaan tahun berikutnya kan belum tentu sama pola penyakitnya, kan gitu. Kalau kendala lain sih user
ya, user di puskesmas kan kita ada dokter. Dokter beberapa puskesmas kita kan punya dokter spesialis itukan kadang ini dokter spesialis ini nggak setiap tahun itu-itu aja dokternya, berganti user kebutuhan resepnya yang ditulis beda, sementara yang kita usulkan adalah berdasarkan dokter yang tahun sebelumnya. Itu juga salah satu kendala.” (Informan 2)
Berdasarkan pernyataan informan tersebut, diperoleh informan bahwa kendala dalam perencanaan obat adalah jika obat yang diadakan tidak sesuai dengan jumlah obat yang diajukan permintaannya, sehingga mengakibatkan terjadinya kekosongan stok obat di dinas kesehatan.
Dalam melakukan perencanaan obat di dinas kesehatan, terdapat kendala dan hambatan, sehingga tujuan dari perencanaan obat itu tidak tercapai, atau dengan kata lain obat tidak tersedia dengan jumlah, jenis atau tidak tersedia tepat waktu. Kendala dalam melakukan perencanaan obat di dinas kesehatan adalah jika obat yang diadakan tidak sesuai dengan jumlah obat yang diajukan permintaannya, sehingga mengakibatkan terjadinya kekosongan stok obat di dinas kesehatan, dampak yang ditimbulkan dari kekosongan obat yaitu pelayanan kefarmasian tidak berjalan dengan optimal, baik dari segi kefarmasian di puskesmas ataupun di gudang farmasi.
Dalam melakukan perencanaan obat di Dinas Kesehatan Kotamadya Binjai, terdapat kekosongan obat, sehingga tujuan dari perencanaan obat itu tidak tercapai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan pernyataan informan diperoleh informasi mengenai kekosongan obat sebagai berikut kutipan wawancaranya:
“Kekosongan ya ada, gak kita pungkiri kekosongan obat ada. Kalo cara mengatasinya gimana ya, paling gampang kita ajukan obat buffer ke provinsi, karena provinsi kan juga bertanggung jawab untuk ketersediaan obat di kabupaten wilayah mereka.” (Informan 2)
Berdasarkan pernyataan informan tersebut, diperoleh informasi bahwa kekosongan obat di dinas kesehatan terjadi antara lain keterlambatan obat yang dipesan untuk sampai ke dinas kesehatan. Jika obat yang diajukan permintaan kebutuhannya tidak dapat diadakan, jika jumlah obat yang diadakan tidak sesuai dengan jumlah obat yang diajukan permintaannya. Untuk mengatasi kekosongan obat di dinas kesehatan tersebut, maka diajukan obat buffer ke provinsi, karena provinsi juga bertanggung jawab untuk ketersediaan obat.
Kekosongan stok (stock out) merupakan jumlah akhir obat sama dengan nol.
Stok obat di gudang mengalami kekosongan dalam persediaannya sehingga bila ada permintaan tidak bisa terpenuhi. Apabila jumlah permintaan atau kebutuhan lebih besar dari tingkat persediaan yang ada, maka akan terjadi kekurangan persediaan atau disebut stock out. Kekosongan stok menjadi salah satu kendala yang dapat menurunkan kepuasan pasien terhadap pelayanan kefarmasian puskesmas.
Selain itu, adanya obat yang kadaluarsa juga menujukkan bahwa perencanaan obat di dinas kesehatan tidak berjalan baik. Berdasarkan hasil wawancara yang diperoleh di gudang farmasi Dinas Kesehatan Kotamadya Binjai, diketahui bahwa terdapat beberapa jenis obat yang mengalami kadaluarsa. Berikut kutipan wawancaranya:
“Ada, sampai saat ini kita masih inventarisasi dan kita sudah ajukan untuk pemusnahan, tapi sampai saat ini jawaban dari aset daerah belum ada.”
(Informan 2)
Berdasarkan pernyataan informan tersebut, dapat diketahui bahwa obat yang kadaluarsa di dinas kesehatan terjadi antara lain karena obat tersebut merupakan jenis obat slow moving, pola penyakit berubah sehingga obat tersebut menumpuk
dan expired date. Obat yang kadaluarsa disebabkan karena obat yang masuk memilik masa kadaluarsa yang dekat (kurang dari 18 bulan), obat program yang dari provinsi tidak sesuai dengan kebutuhan program di kabupaten/kota (jumlahnya melebihi) dan jenis obatnya tidak dibutuhkan sehingga obat tidak terpakai. Untuk obat yang mengalami kadaluarsa, belum ada dilakukan pemusnahan, karena dinas kesehatan belum mendapatkan jawaban dari aset daerah untuk melakukan pemusnahan.
Selain kekosongan obat, perencanaan yang tidak baik juga terlihat dari adanya jumlah obat yang belum atau tidak digunakan selama 6 bulan terakhir atau lebih. Hal ini dapat disebabkan karena beberapa hal seperti karena pola penyakit tertentu pada satu periode yang menyebabkan obat tidak terpakai pada periode selanjutnya. Hal ini dapat menyebabkan kerugian yaitu perputaran uang menjadi tidak lancar, obat menumpuk di gudang farmasi dalam waktu yang lama dan dikhawatirkan akan menjadi rusak dan dapat menyebabkan obat tersebut kadaluarsa. Jika dibiarkan terus terjadi akan menjadi kerugian secara terus menerus.
Berdasarkan data yang diperoleh di gudang farmasi dinas kesehatan, diketahui bahwa terdapat beberapa jenis obat yang mengalami kadaluarsa. Jumah ini tidak sesuai dengan standar yang ditetapkan, bahwa idealnya persentase nilai obat rusak dan kadaluarsa di gudang haruslah berjumlah 0% atau tidak ada sama sekali.
Oleh karena itu dengan adanya berbagai faktor yang mendukung terhadap perencanaan obat di gudang farmasi Dinas Kesehatan Kotamadya Binjai seperti
ketersediaan obat sesuai dengan jumlah dan jenis yang dibutuhkan secara tepat waktu sehingga tidak akan terjadi kekosongan ataupun obat yang kadaluarsa dalam perencanaan kebutuhan obat sehingga dapat meningkatkan pelayanan dan status kesehatan di Dinas Kesehatan Kotamadya Binjai.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dalam perencanaan obat di dinas kesehatan, maka dapat disimpulkan bahwa :
1. Tidak adanya tim perencanaan obat yang resmi yang dibentuk di dinas kesehatan dengan menggunakan Surat Keputusan (SK), kepala dinas hanya memberikan wewenang kepada pihak farmasi.
2. Perhitungan perkiraan kebutuhan obat hanya dilakukan satu orang yaitu staff gudang farmasi.
3. Tidak adanya diberikan pelatihan mengenai perencanaan obat kepada kepala gudang farmasi dan staff gudang farmasi.
4. Metode yang digunakan dalam menyusun rencana kebutuhan obat tidak sesuai dengan penerapan metode konsumsi, tidak semua yang dihitung dari 9 langkah dalam menghitung perkiraan kebutuhan obat berdasarkan metode konsumsi menurut Kemenkes RI Tahun 2010.
5. Perencanaan kebutuhan obat tidak tepat, telihat dari masih terjadi kekosongan obat dan obat yang mengalami kadaluarsa.
5.2 Saran
Adapun beberapa saran yang dapat diberikan untuk pelaksanaan perencanaan kebutuhan obat yang tepat di dinas kesehatan adalah :
1. Diharapkan kepada pihak dinas kesehatan agar:
a. Membentuk tim perencanaan obat terpadu dan membuat Surat Keputusan (SK) penunjukan tenaga perencana obat di dinas kesehatan secara tertulis agar perencanaan obat dapat terlaksana lebih optimal.
b. Membentuk tim perencanaan untuk melakukan perhitungan perkiraan kebutuhan obat agar tidak ada lagi yang merangkap melakukan tugas perencanaan obat ataupun hanya dilakukan sendirian saja.
c. Memberikan pelatihan mengenai perencanaan obat kepada tenaga perencana obat agar kemampuan tenaga perencana obat mengalami peningkatan.
2. Diharapkan kepada pihak gudang farmasi agar :
a. Menggunakan data waktu tunggu, standar pengobatan dalam melakukan perencanaan kebutuhan obat.
b. Melakukan perhitungan jumlah kebutuhan obat yang tepat sesuai dengan cara perhitungan yang ditetapkan dalam pedoman perencanaan obat di dinas kesehatan agar didapatkan rencana kebutuhan obat yang tepat sesuai dengan jumlah yang dibutuhkan.
Yanfar dan Alkes. Jakarta
Azwar, A. 1996. Pengantar Adminitrasi Kesehatan. Edisi Ketiga. Jakarta : Binarupa Aksara
Depkes RI, Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan. 2007.
Pedoman Pengelolaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan di Daerah Kepulauan. Jakarta
Febriawati, H. 2013. Manajemen Logistik Farmasi Rumah Sakit. Yogyakarta : Gosyen Publishing
Fetry, L. 2009. Analisis Pengelolaan Obat di Gudang Farmasi Dinas Kesehatan Kabupaten Kuantan Singingi Tahun 2009. Tesis.
Yogyakarta : Fakultas Ilmu Farmasi Universitas Gajah Mada
Hasibuan, M.S.P. 2009. Manajemen : Dasar, Pengertian dan Masalah.
Jakarta: Bumi Aksara.
Kemenkes RI, Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan. 2010.
Materi Pelatihan Manajemen Kefarmasian di Instalasi Farmasi Kabupaten/Kota. Jakarta
Kepmenkes RI, 2008. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1121/Menkes/SK/XII/2008 tentang Pedoman Teknis Pengadaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan untuk Pelayanan Kesehatan Dasar. Jakarta
Permenkes RI, 2014. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 75 Tahun 2014 tentang Pusat Kesehatan Masyarakat. Jakarta ___________. 2016. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
Nomor 49 Tahun 2016 tentang Pedoman Teknis Pengorganisasian Dinas Kesehatan Provinsi dan Kabupaten/Kota. Jakarta
___________. 2016. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 74 Tahun 2016 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas. Jakarta
Permenpan RI, 2012. Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2012 tentang Pedoman Penyusunan Standar Operasional Prosedur Administrasi Pemerintahan. Jakarta
Profil Dinas Kesehatan Kotamadya Binjai 2016
Rumbay, I.N.; Kandou, G.D. dan Soleman, T. 2015. Analisis Perencanaan Obat di Dinas Kesehatan Kabupaten Minahasa Tenggara. Manado : Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat Unsrat. Volume 5, No. 2b. Hal : 469-478 Siregar, C.J.P dan Amalia L. 2004. Farmasi Rumah Sakit : Teori & Penerapan.
Jakarta : Buku Kedokteran EGC
Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif R&D. Bandung : Alfabeta
KESEHATAN KOTAMADYA BINJAI TAHUN 2018 I. Identitas Informan
Nama : Umur : tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki / Perempuan Pendidikan Terakhir :
Lama bekerja : Tanggal Wawancara :
II. Daftar Pertanyaan untuk Informan Kepala Seksi Farmasi 1. Apakah ada dibentuk panitia perencana obat untuk melakukan perencanaan obat di dinas kesehatan?
2. Siapakah yang melakukan perencanaan obat di dinas kesehatan?
3. Apakah ada dilakukannya perhitungan perkiraan kebutuhan obat dari 9 langkah berdasarkan metode konsumsi di dinas kesehatan? Siapakah yang menghitung perhitungan tersebut?
4. Apakah tugas dan tanggung jawab Ibu dalam melakukan perencanaan
4. Apakah tugas dan tanggung jawab Ibu dalam melakukan perencanaan