GOLF COUNTRY CLUB , CIBINONG, KABUPATEN BOGOR
TINJAUAN PUSTAKA Kuda
Kuda termasuk golongan hewan dalam filum Chordata yaitu hewan yang bertulang belakang, kelas Mammalia yaitu hewan yang menyusui anaknya (Blakely dan Bade, 1991). Hewan ini telah lama menjadi salah satu ternak penting secara ekonomis dan telah lama memegang peranan penting dalam pengangkutan orang dan barang selama ribuan tahun. Kuda dapat ditunggangi oleh manusia dengan menggunakan sadel dan dapat pula digunakan untuk menarik sesuatu seperti kendaraan beroda. Kuda (Equus caballus atau Equus ferus caballus) memiliki klasifikasi zoologis sebagai berikut (Ensminger, 1962):
Kerajaan : Animalia Filum : Chordata Kelas : Mammalia Ordo : Perissodactyla Family : Eqiuidae Genus : Equus
Spesies : Equus caballus
Fungsi kuda yang banyak berkembang saat ini di masyarakat adalah sebagai sarana olahraga berkuda. Perkembangan olahraga ini didukung oleh Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (PORDASI). Organisasi PORDASI membawahi empat komisi, yaitu pacuan, polo, peternakan dan olahraga berkuda atau
equestrian.
Beberapa istilah yang digunakan untuk menyatakan jenis kelamin, umur atau keadaan seekor kuda adalah sebagai berikut (Blakely dan Bade, 1991) :
1. Stallion : Kuda jantan yang belum kawin berumur lebih daripada tiga tahun. 2. Stud : Kuda jantan yang digunakan untuk dikawinkan.
3. Mare : Kuda betina dewasa.
4. Filly : Kuda betina muda sampai umur tiga tahun. 5. Gelding : Kuda jantan yang dikastrasi.
6. Colt : Kuda jantan sampai umur tiga tahun. 7. Foal : Anak kuda.
Saat ini pengetahuan terkini tentang domestikasi kuda didasarkan pada material purbakala dari bagian selatan Ukraina yang telah berusia 4200-3800 SM (Anthony et al.,1991). Kuda pertama kali digunakan sebagai sumber pangan, untuk perang dan olahraga, serta untuk tujuan pengangkutan. Kuda tersebut digunakan sebagai alat transportasi cepat untuk mengangkut orang dan memindahkan muatan yang berat. Kuda juga menjadi ternak penting dalam bidang pertanian, pertambangan, dan kehutanan (Bogart dan Taylor, 1983).
Ternak kuda selain dapat digunakan untuk konsumsi masyarakat (daging dan air susu kuda), kuda juga dapat dimanfaatkan untuk berperang, olahraga dan rekreasi, keperluan pertanian secara luas dan alat pengangkutan. Kepemilikan ternak kuda juga dapat memberikan status sosial yang lebih tinggi bagi pemiliknya (Parakkasi, 1986).
Riwayat Kuda
Kuda berkembang sangat baik sejak dilahirkan ke dunia. Selama 24 jam sejak lahir, anak kuda dialam harus mampu berpacu dengan ternak lain untuk bertahan hidup. Karena itu, ia telah memiliki kaki (panjangnya hampir sama dengan kuda dewasa) dan naluri untuk bangkit dan mulai bergerak segera setelah ia lahir. Selama bulan pertama hidupnya, tinggi anak kuda meningkat sekitar sepertiga dari tinggi saat lahir. Anak kuda pada akhir tahun pertamanya, tingginya mencapai tiga-perempat dari tinggi kuda dewasa (Kidd, 1995).
Setelah penyapihan, selama sekitar enam bulan didomestikasi dan sedikit demi sedikit dibawa kealam liar, kuda muda tersebut disebut weanling. Kuda pada tahun pertamanya disebut yearling. Setelah itu, kuda berumur dua tahun, tiga tahun, dan seterusnya. Seekor kuda mulai menjadi tua ketika telah berumur sekitar 15 tahun. Dimasa tua, sistem tubuhnya bekerja kurang efisien daripada sebelumnya. Kuda akan kehilangan kekuatan dan tidak bisa bekerja dengan keras seperti ketika kuda tersebut masih muda, tetapi kuda masih akan sehat selama beberapa tahun, asalkan diberikan pakan yang sesuai, teratur, olahraga ringan dan juga perlindungan pada musim dingin (Kidd, 1995).
Gaya Berjalan
Kuda saat berjalan memiliki gerak langkah yang panjang dan teratur. Dalam gaya trot atau derap kaki digerakkan teratur, tidak terlalu tinggi namun juga tidak terlalu rendah. Pada gaya canter, gerakan kaki juga rendah, pendek atau panjangnya tergantung pada kecepatan canter yang diinginkan. Pada gaya gallop, langkahnya sangat panjang dan badan terentang dengan bagian belakang agak naik. Kaki depan juga merentang lurus (Blakely dan Bade, 1991).
Bogart dan Taylor (1983) mengemukakan definisi dari beberapa istilah gaya berjalan kuda khususnya yang sering dipakai dalam dunia pacuan kuda yaitu:
1. Walk adalah sebuah gaya berjalan empat irama dimana setiap kaki menyentuh tanah secara terpisah satu sama lain.
2. Trot adalah sebuah gaya berjalan dua irama diagonal dimana kaki kanan depan dan kaki kiri belakang menginjak permukaan dataran dengan serentak, dan kaki kiri depan serta kaki kanan belakang menginjak permukaan dataran dengan serentak.
3. Canter adalah sebuah gaya berjalan tiga irama. Kaki belakang menginjak permukaan dengan serentak. Kedua kaki depan menginjak permukaan secara terpisah dan berbeda waktu dengan pijakan kaki belakang.
4. Gallop adalah canter yang dilakukan dengan cepat. Morfometrik Kuda
Sasimowski (1987) menyatakan bahwa kepala kuda merupakan bagian tubuh yang menunjukkan karakteristik tertentu sesuai dengan spesies, bangsa, jenis, kelamin, habitat hidup, dan kondisi kesehatan yang terlihat. Kuda yang hidup di daerah pegunungan dan dataran tinggi memiliki kepala yang relatif pendek dengan dahi lebih lebar dan panjang serta mempunyai moncong pendek.
Ukuran kepala amat berkorelasi dengan ukuran tubuh. Jika bobot kepala terlalu berat untuk leher maka akan membebani kaki dan menganggu keseimbangan. Namun, jika ukuran kepala terlalu kecil juga akan mengganggu keseimbangan (Edwards, 1991). Suherman (2007) menyatakan bahwa penciri kuda (size) tubuh seekor kuda adalah panjang badan, tinggi pundak, dan tinggi panggul sedangkan untuk bentuk (shape) tubuh seekor kuda hanya panjang badan.
Seleksi Kuda
Konformasi secara garis besar dapat menjelaskan penampilan umum seekor kuda. Konformasi tubuh dan kaki diketahui memiliki heritabilitas yang tinggi. Hal ini diketahui bahwa penilaian subjektif dari konformasi juga dipengaruhi oleh beberapa faktor bukan genetik (Arnason, 1984 ; Preisinger et al., 1991). Faktor bukan genetik ini meliputi tim penilai, jenis kelamin, kondisi tubuh dan manajemen pemeliharaan kuda, bulan dan tahun judging, serta perawatan anak kuda. Semua faktor ini dihitung bersama dengan data konformasi tubuh jika digunakan untuk melakukan seleksi kuda dan analisis genetik (Bowling dan Ruvinsky, 2000).
Biasanya kuda pejantan yang unggul akan memberikan keturunan yang unggul pula, meskipun sering terjadi penyimpangan berupa keturunan yang kurang baik. Hal ini bisa terjadi karena mungkin kondisi pejantan atau induknya yang kurang sehat, atau berbagai sebab lain, namun pada umumnya kuda pejantan menentukan baik tidaknya keturunan yang dihasilkan. Kehadiran kuda pejantan yang unggul, didampingi kuda betina berkualitas sebagai pasangannya, diharapkan akan meningkatkan mutu kuda. Kuda betina berfungsi sebagai kuda induk. Oleh karenanya, sebaiknya kita memilih kuda betina yang sehat, tegap, berbadan lebar dan panjang, agar jika mengandung akan dapat dengan leluasa menempatkan anak dalam kandungannya (Soehardjono, 1990). Kriteria seleksi untuk kompetensi reproduksi pada kuda jantan tidak jauh berbeda dengan kuda betina, yaitu sebagai berikut: sejarah, temperamen dan libido, usia, konformasi umum, pemeriksaan saluran reproduksi, evaluasi air mani, kelainan kromosom, pengambilan sampel darah, infeksi, dan manajemen umum pembiakan. Umur tidak mempengaruhi pemilihan kuda jantan breeding, namun yang harus diperhatikan adalah kesehatan dan kondisi kuda (Oftedalet al., 1983).
Warna Dasar Kuda
Warna dasar kuda adalah bay atau hitam, chesnut, dan grey. Warna dasar bay
terdiri atas tiga macam warna yaitu bay terang (light bay) yaitu coklat kemerahan,
bay cerah (bright bay) yaitu kuda dengan warna chesnut dan bay gelap (dark bay) cenderung berwarna coklat gelap. Kuda dengan warna bay adalah kuda yang memiliki surai, ekor, dan kaki berwarna hitam (Brown dan Sarah, 1994). Segera
setelah dilahirkan, anak kuda yang memiliki gen abu-abu mulai menunjukkan pencampuran warna bulu putih, terutama warna putih. Proporsi warna abu-abu terhadap putih, meningkat seiring dengan pertambahan umur. Saat dewasa kelamin, warna bulu kuda berubah menjadi abu-abu atau abu-abu dengan bintik-bintik berwarna hitam (Bowling dan Ruvinsky, 2000). Chesnut merupakan warna coklat kemerahan pada bulu dan warna ini juga menjadi warna pada ekor dan surai (Vogel, 1995).
Penentuan Umur Kuda Berdasarkan Gigi
Gigi kuda memang dapat digunakan untuk memperkirakan umurnya secara cermat, sehingga para pengusaha pacuan mempunyai ahli atau spesialis untuk menentukan umur kuda. Hal ini dilakukan untuk mencegah adanya praktek-praktek tidak jujur misalnya memperlombakan kuda yang sudah cukup dewasa melawan kuda yang masih terlalu muda (Blakely dan Bade, 1991).
Seekor kuda mempunyai gigi susu yang kemudian akan berganti dengan gigi tetap. Ada sebanyak enam gigi depan atas dan enam gigi depan bawah. Gigi tetap mulai muncul dalam pasangan, dimulai pada umur 2,5 tahun. Baik gigi seri tengah atas maupun bawah pada umur tiga tahun telah lengkap. Gigi tersebut akan jauh lebih besar dan panjang dibandingkan dengan gigi susu. Umur empat tahun, pasangan berikutnya menjadi lengkap dan tinggallah satu pasang gigi susu. Kuda berumur lima tahun telah memiliki satu set gigi tetap yang lengkap dan tinggal satu pasang gigi seri sementara. Hal yang menarik adalah perkembangan gigi taring pada umur tersebut (meskipun bisa juga terjadi pada umur 3,5 tahun). Gigi taring selalu ada pada kuda jantan dewasa atau kuda jantan muda, tetapi jarang ada pada kuda betina (Blakely dan Bade, 1991). Kuda berumur enam sampai delapan tahun, gigi permanen telah usang yang dimulai dari bagian pusat hingga bagian pertengahan mengarah kesamping (Bogart dan Taylor, 1983).
Exercise (Latihan) Kuda
Kuda membutuhkan exercise atau latihan untuk menjaga kesehatannya, sama halnya dengan atlet lainnya. Kuda atlet yang secara rutin dilatih memerlukan frekuensi istirahat yang cukup, terlebih lagi pada saat kuda baru saja mengikuti suatu pertandingan, istirahat yang diberikan pada kuda dapat dengan melakukan
pengumbaran di paddock. Tindakan tersebut memberikan kesempatan bagi kuda untuk merelaksasikan otot-otot yang tegang setelah hari-hari kerja yang dijalani sebelumnya dan akan sangat berpengaruh terhadap psikologis kuda tersebut berkaitan dengan kelanjutan program latihan yang akan diberikan. Perlakuan latihan yang tidak tepat akan menyebabkan luka pada otot maupun tulang bagi kuda atlet (Tim Karya Tani Mandiri, 2010).
Kedaan cuaca juga perlu dipertimbangkan pada saat akan menjalani latihan, agar kondisi fisik kuda tetap prima. Hal ini dipertimbangkan agar terjadi keseimbangan antara temperatur tubuh dan lingkungan. Selain itu, kenyamanan lapangan tempat kuda akan menjalani latihan hendaklah terjamin dari berbagai kemungkinan adanya faktor penyebab kecelakaan. Penguasaan temperamen kuda juga diperlukan agar kuda menuruti setiap perintah yang diberikan penunggang, tetap tenang pada saat disaksikan orang banyak dan harus mempunyai insting untuk suka berlari-lari, melompat, dan bermain. Seluruh tubuh (tulang, otot, kaki, dan tulang belakang) kuda harus dapat bergerak dengan luwes, alami, dan dinamis (Tim Karya Tani Mandiri, 2010). Selain itu, terdapat perbedaan tertentu dalam kemampuan belajar dan mempelajari tugas tertentu dalam setiap latihan pada setiap bangsa kuda (Hart dan Hart, 1985).
Bangsa Kuda
Berbagai jenis kuda ada di dunia. Kuda tersebut berasal dari berbagai tempat di dunia atau yang dikembangkan disuatu daerah untuk suatu tujuan tertentu. Beberapa jenis diantara kuda itu masih tetap sama dengan keadaan di daerah asal tetapi beberapa jenis lagi telah banyak berubah untuk mengikuti perkembangan serta tuntutan zaman (Blakely dan Bade, 1991).
Kuda Arab
Kuda Arab mungkin berasal dari Mesir, tetapi telah dikembangkan di Arab sampai mencapai bentuk yang sekarang. Karakteristik yang menonjol dari kuda Arab adalah kecepatan, daya tahan tubuhnya (stamina) dan kecantikannya. Kuda ini juga terkenal karena memiliki sifat yang jinak dan bersahabat dengan manusia. Sifat inilah yang membuat kuda disukai oleh pemiliknya. Terkenal mudah dipelihara dalam kondisi yang baik, kondisi pada padang rumput atau ketersediaan biji-bijian
yang minim, dengan demikian kuda merupakan ternak kuda yang ekonomis bagi pemiliknya (Blakely dan Bade, 1991).
Kuda Arab memiliki ciri-ciri kepala kecil dengan bagian hidung agak melengkung ke dalam (concave), mata bersinar jeli, rambut kepala (surai) dan ekor terurai panjang, kaki dan kuku kuat, cepat dan kuat untuk berlari jauh, berani dan bertemperamen (Edwards, 1991). Bobot kuda Arab mencapai 400-500 kg. Warna dasarnya kebanyakan putih (Tim Karya Tani Mandiri, 2010).
Kuda Poni
Kuda poni berukuran kecil sampai sedang, tinggi bahunya kurang dari 0,5-1,2 m. Tipenya termasuk kuda penarik atau kuda tunggang. Tingginya dari tanah sampai ke punggung kurang dari 142 cm (Tim Karya Tani Mandiri, 2010). Kuda ini kecil dan sifatnya keras, disukai di seluruh Amerika Serikat sebagai kuda tunggang untuk anak-anak. Selain beberapa dari sifat positifnya, kuda ini cenderung cepat marah dan keras kepala, seperti yang telah disadari oleh para pemilik kuda tersebut, tetapi meskipun demikian, bangsa kuda poni ini disayangi dan menjadi kuda kesayangan (Blakely dan Bade, 1991).
Ensminger (1962) menambahkan kuda poni termasuk ke dalam kuda dengan ukuran terkecil. Kuda poni merupakan kuda khas dari Shetland. Kuda poni digunakan sebagai kuda tunggang dan kuda tarik. Kuda ini juga biasa dijadikan sebagai hewan kesayangan anak kecil karena ukurannya yang kecil. Kuda ini memiliki tinggi 0,9-1,45 m dengan bobot badan 250-450 kg (Ensminger, 1962). Kuda Thoroughbred
Kuda Thoroughbred dikembangkan oleh keluarga raja Inggris sebelum diimpor ke Amerika. Kalangan bangsawan Inggris mengembangbiakkannya sebagai kuda olahraga dan melombakan kuda ini karena memiliki penampilan yang bagus. Kuda ini diseleksi berdasarkan kecerdasannya, selain itu karakteristik kuda ini yang menonjol adalah kecepatan lari dan daya tahannya seperti telah dibuktikan selama beberapa tahun (Blakely dan Bade, 1991). Edwards (1994) menyatakan sejak 200 tahun yang lalu kuda Thoroughbred sudah dikembangkan sebagai industri pacuan karena mampu memberikan pengaruh besar dalam meningkatkan gerakan misalnya
kecepatan, keberanian, dan daya tahan serta secara bersamaan dapat meningkatkan ukuran tubuh.
Kuda Thoroughbred memiliki warna tubuh cokelat, chesnut, hitam, bay, dan abu-abu. Kuda ini pada bagian muka dan kaki berwarna putih. Kuda Thoroughbred
memiliki berat 450-575 kg dan tinggi 1,55-1,65 m (Ensminger, 1962). Kidd (1995) menambahkan kuda Thoroughbred memiliki kondisi yang memenuhi syarat untuk berpacu, seperti bentuk kepala kecil dan terlihat pintar, leher dan badan panjang, kaki langsing dan panjang, tulang ramping dengan panjang yang seimbang, serta warna bulu yang halus dan terang.
Kuda Argentina (Criollo)
Kuda ini berasal dari Argentina yang dianggap memiliki hubungan dengan Barb, Andalusia dan Arab. Nenek moyang Criollo dibawa ke Amerika Selatan oleh tentara Spanyol pada abad ke-16. Sekarang ini, peternakan kuda Criollo menjadi populer. Kuda ini kebanyakan dikawinsilangkan dengan Thoroughbred, kombinasi yang kuat, bakat atletik dengan Thoroughbred yang cepat untuk menghasilkan kuda polo terbaik di dunia. Kuda ini memiliki kisaran tinggi 135-153 cm. Criollo
merupakan kuda yang tangguh dan cerdas. Daya tahan, kecepatan dan gerakan gesitnya membuat mereka populer dan banyak dimanfaatkan peternak di Amerika Selatan untuk menggembalakan ternak. Mereka juga digunakan untuk transportasi dekat atau jauh dan juga membawa beban (Kidd, 1995).
Kuda Appaloosa
Ciri khas kuda ini yaitu kulitnya yang spotted. Appaloosa pertama kali dipelihara oleh suku Nez Perce dari Washington. Meskipun sekarang ditemukan diseluruh dunia, namun paling umum di Amerika.Kuda ini memiliki kisaran tinggi 144-154 cm. Kepribadian kuda ini sangat mudah mengerti, sangat mudah untuk ditangani, tangkas, atletik dan serbaguna. Kuda ini pandai melompat, memiliki daya tahan yang cukup dan cepat dalam jarak jauh (Kidd, 1995).
Kuda Poni Argentina
Kuda poni Argentina merupakan persilangan antara kuda Thoroughbred dan
Criollo. Kuda ini merupakan kuda yang digunakan untuk bermain polo sehingga disebut juga dengan kuda poni polo. Karakterisitik kuda poni polo ini tampilannya
seperti Thoroughbred. Kuda harus cepat, berani, memiliki keseimbangan, dan sangat lincah. Langkah kaki yang rendah tidak dipermasalahkan karena lebih mudah untuk mengambil bola dari seekor kuda poni yang lebih pendek kakinya (Edwards, 2002).
Pemilihan tipe dan konformasi dasar kuda poni polo adalah berdasarkan ketahanan dan kecepatan tubuh yang sedang membawa penunggang. Kuda harus memiliki kemampuan yang baik untuk berhenti tiba-tiba, berputar, kemudian kembali berlari kearah yang berlawanan, serta temperamen kuda harus berani dan cerdas untuk mendeteksi penempatan bola polo (Kacker dan Panwar, 1996).
Manajemen Pemeliharaan Kuda Perkandangan
Kandang kuda umumnya berbentuk single stall. Tempat untuk latihan (exercise) sebaiknya disediakan di areal perkandangan. Kandang untuk ternak kuda dapat dibuat dari bahan bangunan yang sederhana dan murah, namun harus memiliki konstruksi yang cukup kuat (Tim Karya Tani Mandiri, 2010). Membangun kandang di daerah tropis, sebaiknya disediakan ventilasi sehingga pertukaran udara dapat berjalan lancar dan tidak menimbulkan hawa panas didalam kandang (Jacoebs, 1994).
Atap kandang adalah naungan bagi ternak dan melindungi ternak terhadap air hujan, panas sinar surya, maupun terhadap udara dingin. Atap pada kandang kuda lebih baik jika jaraknya semakin tinggi, karena dapat menghasilkan sirkulasi udara yang baik. Tim Karya Tani Mandiri (2010) menambahkan atap kandang hendaknya dibuat dengan kemiringan sedang dan biasanya sekitar 30-45°. Bahan atap sebaiknya dipilih yang memiliki permukaan yang memungkinkan pemantulan sebanyak mungkin atau yang memiliki koefisien refleksi radiasi surya atau bumi.
Ketersediaan udara yang baik sangat dibutuhkan pada perkandangan kuda karena kuda mudah terkena penyakit pernafasan. Udara yang bersih sangat penting untuk kesehatan dan kenyaman kuda serta akan mempengaruhi kekuatan dari kuda tersebut. Ventilasi yang baik adalah berbentuk puncak pada atapnya dan akan sangat berpengaruh pada penanganan masalah kuda. Jendela pada kandang kuda juga harus berada pada posisi sejajar dengan kepala kuda (McBane, 1991).
Nozawa et al. (1981) menyatakan di tiap bagian kandang harus tersedia air bersih. Air minum harus diperhatikan bagi induk kuda yang sedang menyusui, karena jika induk kuda tersebut kekurangan air dalam kondisi menyusui maka air susu induk akan berkurang pula. Kandang juga harus memiliki sistem pembuangan kotoran yang baik dan adanya ketersediaan listrik untuk lampu, kipas, dan lain sebagainya.
Alas lantai kandang kuda harus selalu dalam keadaan bersih dan lunak serta beralaskan serbuk gergaji atau jerami. Alas lantai yang lunak bertujuan agar melindungi kuda ketika sedang berguling, memberikan kehangatan dan untuk kenyaman kuda serta melindungi kaki kuda, terutama untuk kuda olahraga dan kuda pacu (McBane,1994). Permukaan alas lantai kandang juga tidak boleh licin atau kasar yang dapat mengakibatkan goresan luka pada kuda. Selain itu, alas lantai kandang kuda tidak akan menjadi sarang parasit-parasit atau bakteri dan tidak akan mengakibatkan stres pada kuda yang dapat mengganggu tingkah laku atau produktivitas kuda (Tim Karya Tani Mandiri, 2010). Peternakan kuda lebih baik dilengkapi dengan fasilitas pendukung seperti tempat penyimpanan peralatan, tempat penyimpanan pakan, dan ruang groom pada setiap kandang sehingga memudahkan untuk pengawasan kuda (McBane,1994).
Pakan
Kuda tidak memamahbiak dan secara fisiologis tidak dapat melakukan proses regurgitasi. Kuda memiliki cecum yang besar dan mengandung mikroorganisme yang mampu mencerna pakan berserat, sehingga kuda dapat memanfaatkan hijauan dan jerami serta mengubahnya menjadi zat- zat gizi yang dapat diserap. Kebutuhan pakan yang bersifat spesifik bervariasi, tergantung pada pemanfaatan kuda yang bersangkutan. Kuda yang istirahat kebutuhan energinya lebih sedikit dibandingkan kuda yang sedang bekerja, kuda yang sedang laktasi perlu lebih banyak protein, dan kebutuhan gizi kuda muda hampir seluruhnya lebih banyak dibanding kuda dewasa (Blakely dan Bade, 1991).
Pakan utama kuda adalah rumput dengan berbagai jenis, seperti Panicum maximum dan Brachiaria mutica dengan ketinggian 1,2 m dan bermacam-macam jenis rumput yang tumbuh dimana-mana dengan ketinggian 40 cm yang biasa diarit untuk makanan ternak (Soehardjono, 1990). Pakan rumput hanya cukup untuk digunakan bagi kelangsungan hidup tetapi untuk kuda pacu atau olahraga perlu
tambahan konsentrat dan vitamin. Untuk pakan kuda, hijauan yang paling penting dalam bentuk segar di pastura dan bentuk hay (Templeton, 1979). Pakan konsentrat merupakan pakan tambahan energi bagi kuda. Konsentrat yang dapat diberikan antara lain konsentrat sereal yang terdiri dari gandum, jagung, produk tepung, sorgum, berbagai produk padi dan produk non sereal yang terdiri dari gula bit, rumput kering, kacang-kacangan (legum) seperti kedelai dan kacang, sedangkan menurut NRC (1989), konsentrat atau sereal biji-bijian merupakan pakan utama yang menjadi sumber energi dan seluruh jenis biji-bijian yang bermanfaat bagi kuda. Selain rumput dan konsentrat juga diberi vitamin dan mineral (Soehardjono, 1990). Air juga sangat penting, tubuh kuda terdiri dari 70% air (McBane, 1994).
Kualitas pakan kuda dipengaruhi oleh spesies tumbuhan tersebut, kesuburan tanah, dampak iklim (seperti suhu dan kelembaban), dan juga tidak kalah pentingnya yaitu umur panen tumbuhan. Hijauan untuk kuda harus bebas toksin dan bebas dari bahan lain yang berbahaya bagi kuda (NRC, 1989). Pakan dapat dianalisis untuk mengetahui nutrisi yang terkandung didalamnya, dan pengetahuan dasar tentang komposisi beberapa pakan penting ketika menyiapkan ransum untuk kuda.
Jenis-jenis pakan untuk kuda terbagi dalam empat kategori menurut Pilliner (1993), yaitu :
(1) Biji-bijian. Sebagai sumber energi dari ransum konsentrat, misalnya oat, barley,
dan jagung.
(2) Pakan protein. Berasal dari hewan (misalnya meat bone meal dan tepung susu) atau dari tumbuhan (misalnya biji rami, kedelai dan kacang-kacangan atau polong-polongan).
(3) Pakan intermediate. Pakan ini termasuk jerami, umbi-umbian dan tepung rumput.
(4) Hijauan. Rumput, hay, haylage, dan silase.
Pemberian pakan kuda untuk pemeliharaan yaitu pemberian secukupnya untuk menjaga kondisi sehari-hari. Hal ini berarti menyediakan energi untuk otot-otot usus, jantung dan paru-paru selama bekerja, energi untuk merumput, untuk mempertahankan suhu tubuh dan untuk menggantikan sel-sel yang menjaga tubuh agar dapat beraktivitas (Pilliner, 1993). Parakkasi (1986) menambahkan bahwa
pemberian pakan hendaknya dibedakan berdasarkan umur, jenis, tipe kuda, dan aktivitas harian kuda.
Setiap kuda yang menerima ransum atau pakan konsentrat penuh, sebaiknya