BAB III. METODOLOGI PENELITIAN
3.4 Metode Kerja
3.4.6 Perhitungan
a. Perhitungan Kadar Logam Berat Cr dan Zn dalam Sampel
Konsentrasi Cr atau Zn = ( ) Keterangan :
D : konsentrasi sampel hasil pembacaan SSA (mg/L)
E : konsentrasi blanko sampel hasil pembacaan SSA (mg/L) Fp : Faktor pengenceran
V : Volume akhir larutan sampel yang disiapkan (L) W : Berat sampel
b. Perhitungan batas kadar Cr dan Zn yang aman di konsumsi
Batas maksimum konsentrasi dari bahan pangan terkontaminasi logam berat yang boleh dikonsumsi per hari (Maximum Daily Intake) menggunakan angka ambang batas yang diterbitkan oleh World Health Organitation (WHO) dan Joint FAO/WHO Expert Committee on Food Additive (JEFCA).
Perhitungan Maximum Daily Intake menggunakan rumus : MDI = Berat Badan a) x PTDI b)
Keterangan:
a) Asumsi Berat Badan 60 Kg
b) Provisonal Tolerable Daily Intake (angka toleransi batas maksimum per hari) yang dikeluarkan WHO (μg/kg bb)
Adapun Maximum Tolerable Intake (MTI) adalah Kadar maksimum logam Cr dan Zn dalam sampel hasil penelitian yang aman dikonsumsi sebagai berikut:
Keterangan:
MTI : Maximum Tolerable Intake (kadar toleransi batas maksimal per hari bahan pangan yang mengandung Cr/Zn)
MDI : Maximum Daily Intake (μg untuk orang dengan berat badan 60 kg per hari)
Ct : Rata-rata kadar logam berat yang ditemukan di dalam daging dan kulit (μg/g)
27
3.4 Analisis Data
Kadar logam Cr dan Zn dalam sampel disajikan dalam bentuk data deskriptif menggunakan Microsoft Excel 2010. Analisa statistik dilakukan menggunakan Analysis of Varians (ANOVA) untuk masing-masing uji logam dengan bantuan program SPSS versi 20, apabila terdapat perbedaan kadar logam Cr/ Zn, maka dilanjutkan dengan Duncan Multiple Range Test (DMRT) dengan taraf kepercayaan 95% atau α = 0,05.
27 4.1 Kadar Logam Berat Krom (Cr)
Seluruh sampel bulu, kulit dan daging ayam pedaging pada beberapa peternakan ayam di Ciseeng hasil penelitian terdeteksi adanya logam berat Cr berdasarkan uji logam menggunakan SSA. Kadar logam berat yang terdapat dalam organ bulu, kulit dan daging ayam merupakan hasil akumulasi logam berat yang masuk kedalam tubuhnya, sesuai dengan pernyataan Kiswandono dan Nasrullah (2008) bahwa apabila jumlah logam berat yang terserap melebihi batas kemampuan tubuh ayam untuk mengeksresikan logam, maka logam tersebut akan terakumulasi di dalam jaringan tubuhnya.
Rata-rata kadar logam Cr dalam bulu di peternakan A, B dan C adalah 0,40; 0,10 dan 3,84 µg/g, yang berkisar antara 0,08-4,65 µg/g. Rata-rata kadar logam berat Cr dalam kulit di peternakan A, B dan C adalah 0,85; 0,73 dan 2,06 µg/g yang berkisar antara 0,59-2,40 µg/g. Rata-rata kadar logam berat Cr dalam sampel daging di peternakan A, B dan C adalah 2,41; 0,11 dan 1,14 µg/g yang berkisar antara 0,09-2,91 µg/g (tabel 2).
Tabel 2. Rata-rata kadar (µg/g berat kering ±SD) logam berat Krom (Cr) dalam bulu, kulit dan daging ayam pedaging.
Logam Lokasi Bulu Kulit Daging
Cr
A 0,4054 ± 0,0609 0,8502 ± 0,1787 2,4148 ± 0,4574 B 0,1046 ± 0,0146 0,7302 ± 0,1057 0,1196 ± 0.0327 C 3,8498 ± 0,5796 2,0654 ± 0,3584 1,1400 ± 0,1833
28
4.1.1 Kadar Logam Berat Cr dalam Organ Bulu, Kulit dan Daging
Rata-rata kadar logam berat Cr dalam organ bulu, kulit dan daging ayam pedaging dari ketiga lokasi peternakan disajikan dalam gambar 5. Rata-rata kadar logam berat Cr dalam bulu, kulit dan daging secara berurutan sebesar 1,45; 1,22 dan 1,22 µg/g. Rata-rata kadar logam berat Cr tertinggi dari ketiga organ terdapat pada organ bulu. Hasil uji ANOVA menunjukkan nilai sig. untuk kadar logam berat Cr dalam organ sebesar 0,046. Berdasarkan nilai tersebut diketahui bahwa terdapat perbedaan kadar logam berat Cr dalam masing-masing organ bulu, kulit dan daging ayam (P<0,05). Berdasarkan uji lanjut Duncan organ bulu secara nyata memiliki kadar logam berat Cr lebih tinggi dibandingkan dengan organ kulit dan daging.
Gambar 5. Grafik rata-rata kadar logam berat Cr pada organ bulu, kulit dan daging di ketiga lokasi.
Perbedaan kadar logam berat Cr dalam organ bulu, kulit dan daging ayam terjadi karena logam berat memiliki distribusi yang berbeda-beda terhadap jaringan tubuh (Abduljaleel et al., 2012). Masuknya logam berat kedalam tubuh makhluk hidup dapat terjadi melalui kontaminasi makanan dan minuman, melalui
1,00
pernafasan serta penetrasi melalui kulit. Logam berat Cr yang masuk melalui makanan diserap oleh usus halus, kemudian diikat oleh protein metalotionin, yaitu protein yang berfungsi mengatur distribusi logam berat dalam tubuh. Gugus SH dalam protein metalotionin kemudian berikatan dengan ion Cr untuk selanjutnya diikat oleh protein darah dan didistribusikan kedalam jaringan (Darmono, 1995).
Ilustrasi ikatan antara gugus sulfhidril dengan logam berat dapat dilihat pada gambar 6.
Tingginya kadar logam berat Cr dalam bulu diduga kuat terkait dengan struktur bulu yang tersusun atas protein keratin. Protein keratin mengandung 14%
gugus sistein disulfida membuatnya mudah untuk berikatan dengan logam berat yang masuk kedalam tubuh dibandingkan dengan protein lainnya (Puastuti, 2007).
Bangsa unggas mengurangi beban logam berat dalam tubuhnya kedalam bulu yang tumbuh. Logam berat terdeposit selama masa perkembangan bulu melalui aliran darah, karena sifat bulu yang mudah berikatan dengan logam berat, bulu dijadikan sebagai salah satu indikator akumulasi logam berat dalam jaringan internal burung (Abduljaleel et al., 2012).
Gambar 6. Ikatan logam Cr dengan gugus SH, berdasarkan Kashyap (2006)
Cr 3+
+
Metalotionin MetalotioninSH SH SH
S S S
Cr
+
3H+30
Temuan tentang tingginya kadar logam berat Cr dalam bulu sejalan dengan penelitian kandungan Trace Element dalam organ bulu dan internal ayam di beberapa peternakan di Selangor, Malaysia oleh Abduljaleel et al., (2012) yang menunjukkan kadar logam Cr tertinggi terdapat pada organ bulu dibandingkan daging, hati dan paru-paru. Orlowsky et al., (2007) juga menemukan kadar logam berat Cu, Cd dan Pb dalam bulu lebih tinggi dibandingkan daging. Perbandingan kadar logam berat Cr hasil penelitian dengan penelitian lain disajikan dalam tabel 3. Kadar logam berat Cr dalam bulu hasil penelitian ini lebih rendah dibandingkan dengan temuan kadar logam Cr dalam bulu oleh Abduljaleel et al. (2012). Sama halnya dengan kadar logam berat Cr dalam bulu, kadar logam berat Cr dalam daging hasil penelitian ini lebih rendah dibandingkan temuan kadar logam Cr oleh Mohammed et al. (2013); Abduljaleel et al. (2012) dan Iwegbue et al. (2008).
Tabel 3. Perbandingan kadar rata-rata logam Cr (µg/g berat kering) hasil penelitian dengan penelitian lain
Sumber Kadar rata-rata Logam berat Cr
Bulu Kulit Daging
Hasil Penelitian 1,45 1,22 1,22
Mohammed et al. (2013) - - 1,74
Abduljaleel et al. (2012) 4,85 - 2,40
Iwegbue et al. (2008) - - 1,51
4.1.2 Kadar Logam Berat Cr dalam Sampel pada Lokasi A, B dan C.
Berdasarkan nilai rata-rata kadar logam berat Cr dalam organ bulu, kulit daging ayam pedaging di lokasi A, B dan C yang disajikan dalam tabel 2, kadar logam berat Cr tertinggi di lokasi A terdapat pada organ daging, kadar logam berat Cr tertinggi di lokasi B terdapat pada organ kulit, sedangkan lokasi C
terdapat pada organ bulu. Rata-rata kadar logam berat Cr dalam sampel pada masing-masing peternakan A, B dan C disajikan dalam gambar 7.
Gambar 7. Grafik rata-rata kadar logam berat Cr dalam sampel pada lokasi A, B dan C.
Rata-rata kadar logam berat Cr dalam sampel di masing-masing peternakan A, B dan C secara berurutan sebesar 1,22; 0,32 dan 1,70 μg/g. Hasil uji ANOVA menunjukkan nilai sig. untuk kadar logam berat Cr di ketiga lokasi peternakan sebesar (0,00), hal ini menunjukkan bahwa kadar logam berat Cr dalam sampel pada masing-masing lokasi peternakan A, B dan C berbeda nyata (P<0,05). Hasil uji lanjut Duncan menunjukan lokasi peternakan C secara nyata memiliki kadar logam berat Cr paling tinggi, kemudian disusul oleh lokasi peternakan A dan B secara berurutan. Hasil uji ANOVA juga menunjukkan terdapat interaksi nyata antara faktor lokasi peternakan dengan organ (P <0,05).
Interaksi antara faktor lokasi dan organ yang paling tinggi memiliki kadar logam Cr adalah organ bulu di lokasi C.
Kondisi lingkungan peternakan tidak berpengaruh dalam penelitian ini.
Keberadaan logam berat Cr diduga kuat bersumber dari pakan yang sudah
32
terdeteksi adanya logam berat Cr. Sampel pakan dari lokasi A, B dan C terdeteksi adanya logam berat Cr sebesar 1,34; 0,98 dan 1,58 μg/g secara berurutan (lampiran 5). Kadar logam Cr dalam sampel pakan di peternakan A dan B masih berada dibawah batas maksimum cemaran logam berat Cr dalam pakan ternak yakni sebesar 1,5 μg/g (FAO, 2010), sedangkan kadar logam Cr dalam pakan di peternakan C melebihi batas maksimum yang telah ditetapkan. Kadar logam Cr dalam sampel air minum dari ketiga lokasi berada dibawah batas deteksi / Instrument Detection Limit logam berat Cr oleh SSA.
Menurut Palar (2004) masuknya logam berat ke dalam tubuh makhluk hidup dapat melalui beberapa jalur yakni kontaminasi melalui pakan dan minuman, pernafasan serta penetrasi melalui kulit. Keberadaan logam berat Cr paling tinggi di peternakan C diduga kuat dipengaruhi oleh kadar Cr dalam pakan yang lebih tinggi dibandingkan dengan kedua lokasi lainnya. Rehman et al.
(2012) menemukan korelasi yang kuat antara kadar logam berat dalam pakan dengan kadar logam berat dalam jaringan ayam.
Paparan logam Cr melalui pernafasan dan penetrasi kulit juga dapat terjadi melalui udara. Palar (2004) menyatakan bahwa unsur-unsur logam berat dapat berterbangan di udara bersama debu di atmosfer. Lokasi C terletak jauh dari pemukiman penduduk, namun logam Cr yang tersuspensi di atmosfer dapat terbawa oleh angin, dimana atmosfer merupakan media penerima dan perjalanan bahan pencemar. Tiupan angin dapat mengencerkan zat pencemar di udara, namun akan mengakibatkan semakin meluasnya daerah yang terkena pencemar (Achmad, 2004).
Cemaran kromium di atmosfer berbentuk krom heksavalen. Krom heksavalen yang tersuspensi di udara ketika kontak dengan bahan organik, akan terreduksi menjadi kromium trivalen. Makhluk hidup mengabsorbsi logam Cr dari lingkungan dalam bentuk kromium trivalen. Logam berat Cr yang masuk melalui pernafasan akan diabsorpsi oleh darah (sebagian terikat protein darah) diikat oleh protein darah, selanjutnya didistribusikan kedalam jaringan seperti otot, hati dan ginjal. Pada manusia, kelebihan logam berat Cr akan disimpan dalam tulang, rambut dan gigi, sebagian kecil disimpan dalam otak (Darmono, 1995).
4.1.3 Batas Kadar Logam Berat Cr yang Memenuhi Standar Pangan dan Pakan (WHO/FAO).
Secara umum, kadar logam berat Cr dalam daging dan kulit hasil penelitian masih berada dibawah batas maksimum kadar logam Cr dalam pangan menurut WHO (1996) yakni sebesar 50 μg/g. Rekomendasi asupan logam Cr harian untuk memenuhi kebutuhan mikroesensial tubuh (RDA) adalah 0,03 mg/
hari. Kadar maksimum logam Cr dalam makanan yang aman dikonsumsi per hari (MDI) untuk orang dewasa normal dengan berat tubuh 60 kg adalah 0,24 mg/hari.
Berdasarkan nilai tersebut, didapatkan jumlah maksimum kadar logam Cr dalam daging dan kulit hasil penelitian ini yang aman untuk dikonsumsi / Maximum Tolerable Intake (MTI) adalah 0,19 mg/hari. Jumlah rekomendasi kebutuhan Cr harian, jumlah kadar maksimum logam Cr dalam makanan serta jumlah maksimum kadar logam Cr dalam daging dan kulit hasil penelitian yang aman dikonsumsi disajikan pada gambar 8.
34
Gambar 8. Kadar logam Cr dalam kulit dan daging hasil penelitian yang aman dikonsumsi WHO (1996).
*RDA : Reccomended Daily Allowances; MDI : Maximum Daily Intake ; MTI : Maximum Tolerable Intake.
Logam berat Cr khususnya kromium trivalen, merupakan logam esensial yang penting sebagai nutrisi baik untuk manusia maupun hewan. Elemen tersebut berperan dalam pembentukan hormon insulin yakni enzim GTF (Glucose Tolarance Factor), mempengaruhi metabolisme karbohidrat, lemak dan protein, namun apabila kadar logam Cr melebihi batas maksimum yang ditoleransikan dalam tubuh, akan berubah fungsi menjadi toksik. Efek toksik logam Cr terhadap saluran cerna menurut Widowati et al. (2008) adalah gangguan pencernaan, kerusakan ginjal dan hati.
Bulu ayam merupakan organ yang diketahui memiliki kandungan protein yang tinggi yakni 80 - 91% dari berat kering, sehingga tepung bulu ayam banyak dimanfaatkan sebagai pakan tambahan ternak (Adiati et al.,2002). FAO (2010)
sedangkan kadar logam Cr dalam bulu di peternakan C melebihi baku mutu dan tidak aman untuk dijadikan bahan tambahan pakan ternak (gambar 9).
Gambar 9. Perbandingan kadar logam Cr dalam bulu hasil penelitian dengan standar keamanan pakan ternak FAO (2010).
Penampilan fisik ayam ternak yang mengakumulasi logam berat Cr tidak mengalami tanda-tanda perubahan fisik ataupun penurunan kesehatan, hal ini disebabkan ayam ternak mengurangi beban paparan logam berat di tubuhnya kedalam organ-organ pengakumulasi seperti hati, ginjal dan bulu (Furness, 1993).
Keberadaan logam berat dalam pakan tambahan ternak yang melebihi batas dapat terakumulasi dalam tubuhnya serta membahayakan keamanan rantai makanan karena bersifat biomagnifikasi (Rehman et al., 2012).
4.2 Kadar Logam Berat Seng (Zn)
Seluruh sampel organ bulu, kulit dan daging ayam pedaging pada lokasi peternakan A, B dan C di Ciseeng terdeteksi adanya kadar logam berat Zn. Kadar logam Zn hasil penelitian berkisar antara 14,00-126,35 µg/g. Rata-rata kadar logam Zn dalam organ bulu di lokasi peternakan A, B dan C adalah 104; 111,89
0,00 1,00 2,00 3,00 4,00
Baku mutu Peternakan A Peternakan B Peternakan C 1,50
0,41
0,10
3,85
Kadar Logam (µg/g)
36
dan 116,49 µg/g yang berkisar antara 87,75-124,62 µg/g. Rata-rata kadar logam Zn dalam organ kulit adalah 21,05; 28,75 dan 36,99 µg/g dengan kisaran 17,22-46,35 µg/g, sedangkan rata-rata kadar logam Zn dalam daging adalah 21,88; 18,06 dan 22,76 µg/g dengan kisaran 14,00-25,54 µg/g.
Tabel 4. Rata-rata kadar (µg/g berat kering ±SD) logam berat Seng (Zn) dalam organ bulu, kulit dan daging pada beberapa peternakan ayam di Ciseeng
Logam Lokasi Bulu Kulit Daging
Zn
A 104,000 ± 14,3528 21,0550 ± 2,5482 21,8846 ± 2,9858 B 111,890 ± 10,4125 28,7500 ± 3,8846 18,0600 ± 3,3291 C 116,4950 ± 8,2455 36,9900 ± 5,2330 22,7600 ± 1,2456
4.2.1 Kadar Logam Berat Zn dalam Organ Bulu, Kulit dan Daging
Rata-rata kadar logam Zn dalam organ bulu dari ketiga lokasi sebesar 110,79 µg/g, sedangkan rata-rata kadar logam Zn dalam kulit dan daging ayam sebesar 28,93 dan 20,90 µg/g (gambar 10). Berdasarkan nilai tersebut, diketahui kadar logam berat Zn tertinggi dalam organ di ketiga lokasi terdapat pada organ bulu. Hasil uji ANOVA menunjukkan kadar logam berat Zn pada organ bulu, kulit dan daging berbeda nyata (P<0,05). Berdasarkan uji lanjut Duncan, organ bulu secara nyata memiliki kadar logam berat Zn paling tinggi dibandingkan dua organ lainya, kemudian disusul dengan organ kulit dan daging ayam secara berurutan.
Gambar 10. Grafik rata-rata kadar logam berat Zn pada organ bulu, kulit dan daging di ketiga lokasi peternakan.
Metabolisme dan absorpsi Zn dalam makanan dimulai dari saluran pencernaan yakni usus halus (duodenum). Absorpsi logam Zn diatur oleh metalotionein yang disintesis di dalam sel dinding saluran cerna. Gugus Sh dalam protein metalotionin berikatan dengan ion Zn yang masuk kedalam tubuh. Apabila konsumsi Zn tinggi, absorpsi berkurang. Logam Zn diangkut oleh albumin dan transferin masuk ke aliran darah selanjutnya didistribusikan kedalam jaringan lunak. Pada manusia, logam Zn berlebih akan disimpan dalam tulang, rambut dan gigi (Almatsier, 2004). Ilustrasi ikatan antara logam berat Zn dengan metalotionin disajikan dalam gambar 11.
Gambar 11. Ikatan logam Zn dengan gugus SH, berdasarkan Kashyap (2006).
0,00
38
Secara fisiologis, dalam tubuh manusia maupun hewan, Zn diabsorbsi melalui dua proses yaitu asupan dari lumen gastrointestinal ke dalam erirosit dan transport Zn dari eritrosit ke dalam sistem sirkuler. Di dalam eritrosit, transport Zn terlibat pada protein metalotionin untuk berikatan dengan albumin masuk ke sirkulasi portal dan terkonsentrasi di hati. Distribusi Zn dari jaringan hati kedalam jaringan lain melalui plasma / albumin dilakukan untuk memelihara konsentrasi Zn dalam plasma, sebagian dikeluarkan dari tubuh melalui urin, dan sebagian lagi dideposit kedalam beberapa jaringan seperti kulit, rambut dan sel mukosa (King dalam Indriasari, 2011).
Tingginya kadar logam berat Zn dalam bulu terkait dengan struktur bulu yang tersusun atas protein keratin yang terdiri atas gugus sulfihidril, gugus tersebut mudah untuk berikatan dengan logam berat yang masuk kedalam tubuh dibandingkan dengan protein lainnya (Puastuti, 2007). Temuan tentang tingginya kadar logam Zn dalam bulu dibandingkan dalam sampel lainya didukung oleh teori menurut Widowati et al. (2008) bahwa konsentrasi tertinggi Zn ditemukan dalam jaringan penutup (Integumen), retina, kelenjar prostat, dan semen.
Tabel 5. Perbandingan kadar rata-rata logam berat Zn hasil penelitian dengan penelitian lain.
Sumber Kadar rata-rata logam berat Zn (µg/g berat kering)
Bulu Kulit Daging
Hasil Penelitian 110,79 28,93 20,90
Abduljaleel et al. (2012) 104,63 - 15,92
Iwegbue et al. (2008) - - 19,24
Mariam et al. (2004) - - 28,53
Temuan mengenai tingginya kadar logam berat Zn pada organ bulu dalam penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian oleh Abduljaleel et al. (2008) yang menemukan kadar logam Zn tertinggi terdapat pada bulu dibandingkan daging, darah, hati dan ampela ayam pedaging. Perbandingan kadar logam Zn hasil penelitian dengan penelitian lain disajikan dalam Tabel 5. Kadar logam berat Zn dalam bulu hasil penelitian lebih tinggi dibandingkan dengan hasil penelitian Abduljaleel et al. (2012). Kadar logam Zn dalam daging hasil penelitian ini lebih rendah dibandingkan kadar logam Zn dalam daging di Pakistan oleh Mariam et al.
(2004), namun lebih tinggi dibandingkan dengan temuan kadar logam Zn dalam daging oleh Abduljaleel et al. (2012) dan Iwegbue et al. (2008).
Secara alami, logam Zn terdapat dalam daging ayam sebesar 0,1 mg/gram daging ayam. Makanan yang berasal dari unsur hewani seperti daging yang mengandung Zn, 30% nya diabsorpsi oleh tubuh, dan sekitar 300 μg/hari diekskresikan melalui feses, urin, rambut, kulit dan semen. Logam Zn berperan sebagai katalisator, mempengaruhi struktur dan membran sel, membantu sistem imunitas tubuh dan dibutuhkan dalam sintesis DNA. Sebaliknya, konsumsi Zn berlebih akan menghasilkan ion Zn bebas yang bersifat toksik, dan mengakibatkan defisiensi mineral essensial lainnya (Widowati et al., 2008).
4.2.2 Kadar Logam Berat Zn dalam sampel pada Lokasi A, B dan C
Rata-rata kadar logam berat Zn dalam sampel pada masing-masing lokasi peternakan A, B dan C disajikan dalam gambar 12. Rata-rata kadar logam berat Zn dalam ketiga organ di masing-masing lokasi A, B dan C secara berurutan adalah 48,98; 52,90; 58,75 µg/g. Hasil uji ANOVA untuk kadar logam berat Zn
40
dalam sampel pada masing-masing peternakan A, B dan C menunjukan perbedaan yang nyata (P<0,05), berdasarkan uji lanjut Duncan, lokasi peternakan C secara nyata memiliki kadar logam berat Zn lebih tinggi dibandingkan lokasi B dan A.
Gambar 12. Grafik Rata-rata kadar logam berat Zn dalam sampel pada lokasi A, B dan C
Secara alami, logam Zn terdapat di tanah dengan konsentrasi 10-300 mg/kg (Widowati et al., 2008). Pelarutan mineral–mineral seperti Sphalerite (ZnS), Smithsonites (ZnCO3), Zinkosite (ZnSO4) dan Hopeite (Zn3PO4) dari bebatuan dapat terjadi secara alami sehingga unsur-unsur yang terkandung didalamnya terbebas dalam bentuk ion. Ion Zn bersifat mudah larut dalam air dan volatile (mudah menguap) ke atmosfer melalui partikulat debu (Alloway dalam Lahuddin, 2007).
Kerberadaan logam berat Zn dalam tubuh ayam pedaging diduga kuat bersumber dari pakan yang sudah terdeteksi adanya logam berat Zn. Sampel pakan dari peternakan A, B dan C terdeteksi adanya kadar logam berat Zn sebesar 61,66; 52,68 dan 46,34 μg/g secara berurutan, kadar sampel air minum sebesar
pakan masih berada dibawah batas maksimum logam berat Zn dalam pakan ternak (FAO, 2010). Menurut Palar (2004) logam berat dapat masuk melalui tubuh makhluk hidup melalui makanan, pernafasan dan penetrasi kulit. Tingginya keberadaan logam Zn pada lokasi peternakan C, selain berasal dari pakan yang sudah terdeteksi logam Zn, diduga akumulasi logam Zn dapat terjadi sejak fase embrio dari bibit ayam ternak, sesuai dengan pernyataan Darmono (1999) bahwa keberadaan logam berat dapat mempengaruhi sistem reproduksi dan meninggalkan residu logam berat dalam telur.
4.2.3 Batas Kadar Logam Berat Zn yang Memenuhi Standar Keamanan Pangan dan Pakan (WHO/FAO).
Secara umum, kadar logam berat Zn dalam organ kulit dan daging hasil penelitian masih berada dibawah batas maksimum logam berat Zn dalam pangan yang ditetapkan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI sebesar 100 mg/kg. WHO menetapkan rekomendasi kebutuhan Zn untuk orang dewasa normal per harinya adalah 6,5 mg dan 9,4 mg per hari untuk wanita dan pria berturut-turut.
Kadar maksimum asupan logam berat Zn dalam makanan per harinya untuk orang dewasa normal dengan berat tubuh 60 kg (MDI) adalah 86,4 mg/hari.
Kadar maksimum logam berat Zn dalam organ kulit dan daging hasil penelitian ini yang aman untuk dikonsumsi (MTI) adalah 2,98 mg/ hari untuk kulit dan 4,13 mg/ hari untuk daging (gambar 13). Menurut Widowati et al. (2008) Logam Zn merupakan unsur esensial bagi manusia. Metabolisme sel dipengaruhi oleh Zn sebagai penyusun struktur maupun sebagai katalisator enzim. Defisiensi Zn dapat terjadi bila kebutuhan Zn dalam makanan tidak terpenuhi.
42
Gambar 13. Grafik Kadar rata-rata kulit dan daging yang aman untuk dikonsumsi (WHO,1996). *RDA: Reccomended Daily Allowances; MTI:
Maximum Tolerable Intake ; MDI : Maximum Daily Intake.
Gejala defisiensi Zn antara lain, pertumbuhan terhambat, berkurangnya fungsi indera penglihatan dan defisiensi sistem imunitas, namun di sisi lain, toksisitas Zn bisa bersifat akut dan kronis. Konsumsi Zn sebesar 2 gr atau lebih dalam satu waktu dapat mengakibatkan mual, muntah dan demam, efek kronis yang dapat terjadi adalah gangguna hematologi, hati, dan ginjal. Konsumsi Zn berlebih dapat bersifat toksik dan mengakibatkan defisiensi mineral lainnya.
(Widowati et al., 2008).
Bulu ayam kaya akan serat dan protein kasar dan telah banyak digunakan sebagai pakan tambahan ternak, khususnya ruminansia. Penambahan ini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan protein ternak dan menambah bobot tubuh (Adiati et al., 2002). Perbandingan kadar logam berat Zn dalam bulu hasil penelitian dengan standar baku mutu kadar logam Zn dalam pakan ternak menurut FAO (2010) disajikan dalam grafik pada gambar 14.
0
Gambar 14. Grafik perbandingan kadar logam berat Zn dalam bulu hasil penelitian dengan standar keamanan pakan ternak (FAO, 2010).
Berdasarkan standar maksimum kadar logam Zn sebagai pakan ternak yaitu sebesar 80 µg/g, kadar logam Zn dalam bulu hasil penelitian di peternakan A, B dan C melebihi batas maksimum kadar Zn dalam pakan ternak yang ditetapkan oleh FAO (2010). Keberadaan logam berat dalam pakan tambahan
Berdasarkan standar maksimum kadar logam Zn sebagai pakan ternak yaitu sebesar 80 µg/g, kadar logam Zn dalam bulu hasil penelitian di peternakan A, B dan C melebihi batas maksimum kadar Zn dalam pakan ternak yang ditetapkan oleh FAO (2010). Keberadaan logam berat dalam pakan tambahan