BAB IV HASIL ANALISA DAN PEMBAHASAN
4.4 Analisa Performansi Solar Collector Pada Tanggal 21 Mei
4.4.2 Perhitungan panas radiasi total yang diterima kolektor
Untuk mengetahui besarnya panas radiasi total yang diterima kolektor dapat diketahui dengan menggunakan persamaan 2.13 :
ππππ,π‘ππ‘ππ = πΌπ‘ππ‘ππ π΄
Karna kolektor yang digunakan 0,9 m2 maka nilai A adalah 0,9 m2, dengan menggunakan data nilai Intensitas radiasi total Itotal yang telah didapat maka dapat diketahui energi panas radiasi total yang diterima kolektor :
ππππ,π‘ππ‘ππ = 125771,9 π₯ 0,9 = 113194,7 π½ 4.4.3 Energi Panas Radiasi yang Diserap Kolektor
Untuk menghitung energi panas radiasi total yang dapat diserap oleh kolektor dapat diketahui dengan menggunakan persamaan 2.14:
πππ= ππππ π‘ππ‘ππ ππΌππ£π
Untuk menentukan nilai transmisivitas dan absorptivitas rata-rata kaca dan plat kolektor digunakan persamaan 2.15 :
ππΌππ£π = 0,96π₯(ππΌ)π Untuk mencari nilai (ππΌ)π digunakan persamaan 2.16:
(ππΌ)π= 1,01 π₯ π π₯ πΌ π₯ πΌ πΌπ Untuk mencari nilai π digunakan persamaan 2.17 :
π = ππ π₯ ππ
ππ =Koefisien transmisivitas refleksi diperoleh dengan persamaan 2.18 :
ππ =1
2(1 β πβ₯
1 + πβ₯ + 1 β πβ₯ 1 + πβ₯) Untuk mencari nilai πβ₯ digunakan persamaan 2.19 :
πβ₯ =sin2(π2β π1) sin2(π2+ π1)
π2= sudut bias kaca , didapatkan dengan persamaan 2.20 : π2 = ππππ ππ(π πππ1 Untuk mencari πβ₯ digunakan persaman 2.21 :
πβ₯ =tan2(π2β π1)
Koefisien absorsivitas refleksi (ππ) diperoleh dengan persamaan 2.22:
ππ = exp (β πΎπΏ πππ π2) Maka ;
ππ = exp (β8 π₯ 0,005
πππ (0) ) = 0,9607
57
Dengan ini dapat dhitung nilai π :
π = 1 π₯ 0,9607 = 0,9607 Untuk mencari nilai πΌπΌ
π digunakan persamaan 2.23 : πΌ
πΌπ = 1 β 1,5879 π₯ 10β3π1+ 2,7314 π₯ 10β4π12β 2,3026 π₯ 10β5π13 + 9,0244 π₯ 10β7π14β 1,8 π₯ 10β8π15+ 1,7734 π₯ 10β10π16 + 6,9937 π₯ 10β13π17
Dengan memasukkan nilai π1 = 0o, didapatkan nilai πΌπΌ
π = 1 Selanjutnya kita bisa mencari nilai (ππΌ)π:
(ππΌ)π = 1,01 π₯ 0,9607 π₯ 0,98 π₯ 1 = 0,9509 Menghitung nilai transmisivitas :
ππΌππ£π = 0,96 π₯ 0,9509 = 0,9129
Dengan ini kita bias menghitung energi panas radiasi total yang dapat diserap oleh kolektor :
πππ= 113194,7 π₯ 0,9129 = 103341,1 π½
4.4.4 Perhitungan Kerugian Panas Pada Kolektor
Untuk menghitung kerugian panas total dari kolektor digunakan persamaan 2.25 :
πβπ,π‘ππ‘ππ = πβπ πππππ+ πβπ ππππππππ
Perhitungan kerugian panas pada sisi depan kolektor (πβπ πππππ)
Untuk menghitung kerugian panas pada sisi atas kolektor digunakan persaman 2.26 :
πβπ πππππ = ππ‘ π₯ π΄ (πππβ πβ)
Untuk menghitung koefisien kerugian panas pada sisi depan kolektor ππ
digunakan persaman 2.27 :
ππ = - Perhitungan nilai UT
- π
π= (
10.82+(0,00591 π₯ 1 π₯ 10)+2(1)+(0,70915)β1+0,133(0.82)
0.95 β1
)
= 4,757 π/π2πΎ
- Perhitungan nilai πβπ πππππ
πβπ πππππ = 4,757 π₯ 0,9 π₯ (318,49 β 306,05) = 17,62 π
59
Perhitungan kerugian panas pada sisi belakang
Untuk menghitung kerugian panas pada sisi bawah kolektor digunakan persamaan 2.28 :
Sehingga nilai panas yang hilang dari sisi bawah kolektor adalah :
ππ΅ = 12,44
0,1 + 0,9259 + 0,0208
= 11,88 π
Perhitungan kerugian panas total pada kolektor
Berikut perhitungan total kerugian panas pada kolektor pada saat pemanasan awal :
πβπ,π‘ππ‘ππ = 17,62 + 11,88 = 29,51 π₯ 600 = 17706,57 π½
4.4.5 Perhitungan Besar Energi Kalor yang digunakan Kolektor
Untuk menghitug besar energi kalor yang digunakan kolektor dapat menggunakan persamaan 2.24 :
ππ= πΉβ²(πππβ πβπ,π‘ππ‘ππ) Penyelesaian :
ππ= 0,9(103344,1 J β 17706,57 J) = 77071,03 π½
4.4.6 Perhitungan Efisiensi Termal Kolektor Surya
Efisiensi termal kolektor surya dapat dihitung dengan menggunakan persamaan 2.29 :
π = ππ
πππππ₯100%
π =77071,03 J
113194,7 Jπ₯100% = 68,08%
Berikut ini grafik efisiensi pada tanggal 21 Mei :
Gambar 4.7 Grafik Efisiensi Kolektor pada tanggal 21 Mei 2019 Nilai efisensi kolektor surya maksimum terdapat pada pukul 13:50 WIB sebesar 74,44 %, sementara nilai minimumnya terdapat pada 14:50 WIB sebesar 8,51%.
4.5 Analisa Perbandingan Efisiensi pada Tanggal 15 Mei, 17 Mei, dan 21 Mei Adanya perubahan perbandingan yang tidak beraturan disebabkan oleh perubahan cuaca yang tidak beraturan. Dari grafik di atas, dapat dilihat bahwa efisiensi tertinggi pada tanggal 17 Mei adalah 72,43 % dan pada tanggal 21 Mei adalah 74,5 %.
Berikut ini grafik keseluruhan pada penelitian ini :
0 20 40 60 80
12:00 12:10 12:20 12:30 12:40 12:50 13:00 13:10 13:20 13:30 13:40 13:50 14:00 14:10 14:20 14:30 14:40 14:50 15:00 15:10 15:20 15:30 15:40 15:50 16:00
Efisiensi
Waktu
61
Gambar 4.8 Grafik Perbandingan Efisiensi
Gambar 4.9 Grafik Korelasi Kolektor Surya dengan perbandingan Intensitas Radiasi Matahari
Dari Gambar 4.9 dengan menggunakan analisa koefisien regresi diatas dapat ditentukan koefisien determinasi pada tanggal 15 Mei 2019, R2 = 0.815 maka koefisien relasinya adalah R=0,902, maka hubungan korelasi antara Qb dengan Qin memiliki hubungan yang erat.
4.6 Perbandingan Temperatur
Berikut perbandingan temperatur kolektor surya pada tanggal 15 Mei, 17 Mei, dan 21 Mei.
12:00 12:10 12:20 12:30 12:40 12:50 13:00 13:10 13:20 13:30 13:40 13:50 14:00 14:10 14:20 14:30 14:40 14:50 15:00 15:10 15:20 15:30 15:40 15:50 16:00
15 Mei 17 Mei 21 Mei
Gambar 4.9 Perbandingan temperatur pada tanggal 15 Mei
Gambar 4.10 Perbandingan temperatur pada tanggal 17 Mei
0
63
Gambar 4.11 Perbandingan temperatur pada tanggal 21 Mei
Berdasarkan grafik di atas, temperatur maksimal yang terdapat pada kolektor terjadi pada tanggal 15 Mei dengan celah udara 30 cm, sebesar 64,27 oC.
0 10 20 30 40 50 60 70
1 2 : 0 0 1 2 : 3 0 1 3 : 0 0 1 3 : 3 0 1 4 : 0 0 1 4 : 3 1 1 5 : 0 1 1 5 : 3 1 1 6 : 0 1
TEMPERATUR Temp luar
Inlet Outlet Plat
63 5.1 Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang diperoleh dari penelitian yang telah dilakukan adalah sebagai berikut:
1. Dari pengujian yang dilakukan, dapat diketahui bahwa semakin kecil ukuran celah udara pada kolektor, maka semakin tinggi aliran udaranya.
2. Dari pengujian yang dilakukan, didapatkan bahwa efisiensi maksimal didapatkan pada tanggal 21 Mei 2019 untuk kolektor surya dengan celah udara 15 cm, dengan efisiensi kolektor surya maksimal sebesar 74,44 % pada pukul 13:50 WIB,
3. Dengan menggunakan analisa koefisien regresi, maka dapat diketahui bahwa hubungan intensitas radiasi matahari dengan efesiensi kolektor surya memiliki nilai memiliki nilai koefisen relasi R=0,902, maka hubungan antara keduanya memliki hubungan yang erat.
5.2 Saran
Saran penulis untuk penelitian selanjutnya adalah sebagai berikut:
1. Kinerja kolektor surya dapat dimaksimalkan dengan cara memodifikasi dimensinya, seperti memperkecil tebal kolektor.
2. Untuk mendapatkan hasil yang lebih baik, ada baiknya untuk penelitian selanjutnya agar kolektor surya di tempatkan di tempat yang memiliki radiasi total yang maksimal.
3. Penyusunan pipa jarak kolektor surya ke ruangan, sebaiknya tidak banyak elbow, agar kinerja kolektor lebih maksimal.
DAFTAR PUSTAKA
[1] Ong, KS. Chow, CC. 2003. Performance of a solar chimney. Malaysia.
Monash University Malaysia
[2] Darwis Rambe. 2015. Analisa Mesin Pendingin Adsorpsi dengan
Menggunakan Tenaga Matahari . Skripsi, Fakultas Teknik Departemen Teknik Mesin USU, Medan.
[3] Duffie, J.A., 2006. Solar Engineering of Thermal Processes, 3rd Edition, Wiley, Newyork
[4] Watheq, K. S. H. 2008. Solar Energy Refrigeration by Liquid-Solid Adsorption Technique. Thesis, Egypt
[5] Cengel, Yunus A. 2002. Heat Transfer : A Practical Approach second edition.
New York: McGraw-Hill.
[6] Incropera F.P. 2011. Fundamentas Of Heat and Mass Transfer sixth edition.
New York : John Wiley & Sons.
[7] Ambarita, Himsar. 2018. Perpindahan Panas dan Massa : Penyelesaian Analitik dan Numerik. Medan : Inteligensia Media.
[8] Haryanto, Agus. 2005. Perpindahan Panas. Yogyakarta. Innosain.
[9] Yunus A. Cengel. 2002. Heat Transfer A Practical Approach, Second Edition.
Mc Graw β Hill, Book Company, Inc : Singapore.
[10] Saifi, Nadia. Settou, Nouteddine. and Dokkar, Boubekeur. 2012.
Experimental Study and Simulation of Airflow in Solar Chimenys. Algeria.
Energy Procedia 18 (2012) 1289-1298
[11] Holman, J.P. 1983. Heat Transfer sixth edition. McGraw Hill. London.
64
[13] Rattannongphisat, Waraporn, dkk. 2017. An Experimental on the Square Seel Solar Chimney for Building Ventilation Application. Thailand. International Confrence on Alternative Energy in Developing Countries and Emerging Economies.
[14] Rosa, Yazmendra, dkk. 2016. Model Alternatif Solar Chimney Pada Daerah Jalur Khatulistiwa. Padang. Information Confrence of Applied Sciences, Engineering, Business and Information Technology.
[15] Seralgedin Ahmed, Abdelrahman Ali, Ookawara Shinichi. 2018. Parametric study and optimization of a solar chimney passive ventilation system coupled with an earth-to-air heat exchanger. Sustainable Energy Technologies and Assessments.
[16] Upadhyay, Ishan. 2014. Design and Development of Solar Chimney. India:
International Journal of Science and Research (IJSR).
[17] Najm Omar A, S Shaaban. 2018. Numerical investigation and optimization of the solar chimney collector performance and power density, Energy Conversion and Management. Egypt.
[18] Arismunandar, Wiranto. Jansen, Ted J. 1995. Teknologi Rekayasa Surya. PT Pradnya Paramita. Jakarta.
[19] NK, Bansal. R, Mathur. and Ms, Bhandari. 1993. Solar Chimney for Enhanced Stack Ventilation. Building and Enviroment.
[20] Nugroho Setyo, Safitra Arrad Ghani. 2017. Pengaruh Dimensi Tower Terhadap Unjuk Kerja pada Solar Updraft Tower. Politeknik Elektronika Negeri Surabaya. Surabaya.
65
LAMPIRAN GAMBAR
Gambar B1 Kolektor Tampang Depan
Gambar B2 Kolektor Tampang Samping