• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perhitungan dan Pengolahan Data

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Data Hasil Penelitian

4.2 Perhitungan dan Pengolahan Data

Dari data suhu dan tekanan yang diperoleh dan dengan menggambarkan pada diagram P-h dapat ditentukan besarnya entalpi (h). Pada penelitian ini digunakan diagram P-h R134a. Dalam perhitungan ini, tekanan pengukuran P1

dan P2 ditambah 1 atm agar menjadi tekanan absolut, kemudian satuannya dikonversi kesatuan bar (1 psi = 0,0689 bar).

Perhitungan dari Tabel 4.1 untuk tekanan P1 15 psi udara balik tidak dicampur dengan udara segar dari luar. Data yang dihitung berdasarkan hasil rata-rata yang diperoleh.

P1 = 15 psig + 14,7 psi = 29,7 psia × 0,0689 bar/psia = 2,05 bar P2 = 150 psig + 14,7 psi = 164,7 psia × 0,0689 bar/psia = 11,35 bar

Gambar 4.1 Siklus Kompresi Uap pada diagram P-h R134a diambil data rata-rata pada Tabel 4.1.

Dari Gambar 4.1 dapat diperoleh : Te = -9,5 oC (Suhu kerja evaporator) Tc = 42 oC (Suhu kerja kondensor)

h1 = 422 kJ/kg (entalpi refrigeran masuk kompresor) h2 = 463 kJ/kg (entalpi refrigeran keluar kompresor) h3 = 247 kJ/kg (entalpi refrigeran masuk pipa kapiler) h4 = 247 kJ/kg (entalpi refrigeran keluar pipa kapiler) 1) Kerja kompresor persatuan massa refrigeran (Win)

Untuk mendapatkan kerja kompresor persatuan massa refrigeran yang dihasilkan oleh AC mobil, dapat menggunakan Persamaan (2.1) :

Win = h2– h1

= 463 kJ/kg - 422 kJ/kg = 41 kJ/kg

Maka kerja kompresor persatuaan massa refrigeran sebesar 41 kJ/kg 2) Kalor persatuan massa refrigeran yang dilepas kondensor (Qout)

Untuk mendapatkan nilai kalor persatuan massa refrigeran yang dilepas kondensor pada AC mobil, dapat menggunakan Persamaan (2.2) :

Qout = h2 – h3

= 463 kJ/kg - 247 kJ/kg = 216 kJ/kg

Maka kalor persatuan massa refrigeran yang dilepas kondensor sebesar 216 kJ/kg 3) Kalor yang diserap evaporator (Qin)

Untuk mendapatkan kalor persatuan massa refrigeran yang diserap evaporator pada AC mobil, dapat menggunakan Persamaan (2.4) :

Qin = h1 – h4

= 422 kJ/kg - 247 kJ/kg = 175 kJ/kg

Maka kalor persatuan massa refrigeran yang diserap evaporator sebesar 175 kJ/kg 4) COPaktual

COPaktual dipergunakan untuk menyatakan performance (unjuk kerja) dari mesin AC mobil yang bekerja dengan siklus kompresi uap, dapat dihitung dengan menggunakan Persamaan (2.5) :

COPaktual = (h1 – h4) / (h2– h1)

= (422 kJ/kg - 247 kJ/kg) / (463 kJ/kg - 422 kJ/kg) = 4,26

Maka COPaktual AC mobil sebesar 4,26 5) COPideal

Untuk menghitung performance ideal pada AC mobil yang bekerja dengan siklus kompresi uap, dapat menggunakan Persamaan (2.6) :

COPideal =

=

= 5,12

Maka COPideal AC mobil sebesar 5,12 6) Efisiensi (η)

Untuk mendapatkan efisiensi AC mobil dapat dihitung dengan menggunakan Persamaan (2.7) :

η = (COPactual : COPideal) × 100% = (4,26 : 5,12) × 100%

= 82,7%

7) Laju aliran massa refrigeran (ṁ)

Untuk mendapatkan laju aliran massa refrigeran dapat dihitung dengan Persamaan (2.8) :

ṁ = [(VI)/1000] / Win = [(220.10,39)/1000] / 41 = 0,056 kg/s

Maka laju aliran massa AC mobil sebesar 0,056 kg/s

Perhitungan dari Tabel 4.2 untuk tekanan P1 15 psi menggunakan udara balik bercampur dengan udara segar dari luar. Data yang dihitung berdasarkan hasil rata-rata yang diperoleh.

P1 = 15 psig + 14,7 psi = 29,7 psia × 0,0689 bar/psia = 2,05 bar P2 = 150 psig + 14,7 psi = 164,7 psia × 0,0689 bar/psia = 11,35 bar

Gambar 4.2 Siklus Kompresi Uap pada diagram P-h R134a diambil data rata-rata pada Tabel 4.2.

Dari Gambar 4.2 dapat diperoleh : Te = -9,5 oC (Suhu kerja evaporator) Tc = 42 oC (Suhu kerja kondensor)

h1 = 421 kJ/kg (entalpi refrigeran masuk kompresor) h2 = 463 kJ/kg (entalpi refrigeran keluar kompresor) h3 = 246 kJ/kg (entalpi refrigeran masuk pipa kapiler) h4 = 246 kJ/kg (entalpi refrigeran keluar pipa kapiler) 1) Kerja kompresor persatuan massa refrigeran (Win)

Untuk mendapatkan kerja kompresor persatuan massa refrigeran yang dihasilkan oleh AC mobil, dapat menggunakan Persamaan (2.1) :

Win = h2– h1

= 463 kJ/kg - 421 kJ/kg = 42 kJ/kg

Maka kerja kompresor persatuaan massa refrigeran sebesar 42 kJ/kg 2) Kalor persatuan massa refrigeran yang dilepas kondensor (Qout)

Untuk mendapatkan nilai kalor persatuan massa refrigeran yang dilepas kondensor pada AC mobil, dapat menggunakan Persamaan (2.2) :

Qout = h2 – h3

= 463 kJ/kg - 246 kJ/kg = 217 kJ/kg

Maka kalor persatuan massa refrigeran yang dilepas kondensor sebesar 217 kJ/kg 3) Kalor yang diserap evaporator (Qin)

Untuk mendapatkan kalor persatuan massa refrigeran yang diserap evaporator pada AC mobil, dapat menggunakan Persamaan (2.4) :

Qin = h1 – h4

= 421 kJ/kg - 246 kJ/kg = 175 kJ/kg

Maka kalor persatuan massa refrigeran yang diserap evaporator sebesar 175 kJ/kg 4) COPaktual

COPaktual dipergunakan untuk menyatakan performance (unjuk kerja) dari mesin AC mobil yang bekerja dengan siklus kompresi uap, dapat dihitung dengan menggunakan Persamaan (2.5) :

COPaktual = (h1 – h4) / (h2– h1)

= (421 kJ/kg - 246 kJ/kg) / (463 kJ/kg - 421 kJ/kg) = 4,17

Maka COPaktual AC mobil sebesar 4,17 5) COPideal

Untuk menghitung performance ideal pada AC mobil yang bekerja dengan siklus kompresi uap, dapat menggunakan Persamaan (2.6) :

COPideal =

=

= 5,12

Maka COPideal AC mobil sebesar 5,12 6) Efisiensi (η)

Untuk mendapatkan efisiensi AC mobil dapat dihitung dengan menggunakan Persamaan (2.7) :

η = (COPactual : COPideal) × 100% = (4,17 : 5,12) × 100%

= 81,44%

7) Laju aliran massa refrigeran (ṁ)

Untuk mendapatkan laju aliran massa refrigeran dapat dihitung dengan Persamaan (2.8) :

ṁ = [(VI)/1000] / Win = [(220.9,92)/1000] / 42 = 0,052 kg/s

Maka laju aliran massa AC mobil sebesar 0,052 kg/s

Perhitungan dari Tabel 4.4 untuk tekanan P1 20 psi udara balik tidak dicampur dengan udara segar dari luar. Data yang dihitung berdasarkan hasil rata-rata yang diperoleh.

P1 = 20 psig + 14,7 psi = 34,7 psia × 0,0689 bar/psia = 2,39 bar P2 = 175 psig + 14,7 psi = 189,7 psia × 0,0689 bar/psia = 13,07 bar

Gambar 4.3 Siklus Kompresi Uap pada diagram P-h R134a diambil data rata-rata pada Tabel 4.4.

Dari Gambar 4.3 dapat diperoleh : Te = -7 oC (Suhu kerja evaporator) Tc = 48 oC (Suhu kerja kondensor)

h1 = 424 kJ/kg (entalpi refrigeran masuk kompresor) h2 = 465 kJ/kg (entalpi refrigeran keluar kompresor) h3 = 245 kJ/kg (entalpi refrigeran masuk pipa kapiler) h4 = 245 kJ/kg (entalpi refrigeran keluar pipa kapiler) 1) Kerja kompresor persatuan massa refrigeran (Win)

Untuk mendapatkan kerja kompresor persatuan massa refrigeran yang dihasilkan oleh AC mobil, dapat menggunakan Persamaan (2.1) :

Win = h2– h1

= 465 kJ/kg - 424 kJ/kg = 41 kJ/kg

Maka kerja kompresor persatuaan massa refrigeran sebesar 41 kJ/kg 2) Kalor persatuan massa refrigeran yang dilepas kondensor (Qout)

Untuk mendapatkan nilai kalor persatuan massa refrigeran yang dilepas kondensor pada AC mobil, dapat menggunakan Persamaan (2.2) :

Qout = h2 – h3

= 465 kJ/kg - 245 kJ/kg = 220 kJ/kg

Maka kalor persatuan massa refrigeran yang dilepas kondensor sebesar 220 kJ/kg 3) Kalor yang diserap evaporator (Qin)

Untuk mendapatkan kalor persatuan massa refrigeran yang diserap evaporator pada AC mobil, dapat menggunakan Persamaan (2.4) :

Qin = h1 – h4

= 424 kJ/kg - 245 kJ/kg = 179 kJ/kg

Maka kalor persatuan massa refrigeran yang diserap evaporator sebesar 179 kJ/kg 4) COPaktual

COPaktual dipergunakan untuk menyatakan performance (unjuk kerja) dari mesin AC mobil yang bekerja dengan siklus kompresi uap, dapat dihitung dengan menggunakan Persamaan (2.5) :

COPaktual = (h1 – h4) / (h2– h1)

= (424 kJ/kg - 245 kJ/kg) / (465 kJ/kg - 424 kJ/kg) = 4,36

Maka COPaktual AC mobil sebesar 4,26 5) COPideal

Untuk menghitung performance ideal pada AC mobil yang bekerja dengan siklus kompresi uap, dapat menggunakan Persamaan (2.6) :

COPideal =

=

= 4,84

Maka COPideal AC mobil sebesar 4,84 6) Efisiensi (η)

Untuk mendapatkan efisiensi AC mobil dapat dihitung dengan menggunakan Persamaan (2.7) :

η = (COPactual : COPideal) × 100% = (4,36 : 4,84) × 100%

= 90%

7) Laju aliran massa refrigeran (ṁ)

Untuk mendapatkan laju aliran massa refrigeran dapat dihitung dengan Persamaan (2.8) :

ṁ = [(VI)/1000] / Win = [(220.10,53)/1000] / 41 = 0,056 kg/s

Maka laju aliran massa AC mobil sebesar 0,056 kg/s

Perhitungan dari Tabel 4.5 untuk tekanan P1 20 psi menggunakan udara balik bercampur dengan udara segar dari luar. Data yang dihitung berdasarkan hasil rata-rata yang diperoleh.

P1 = 20 psig + 14,7 psi = 34,7 psia × 0,0689 bar/psia = 2,39 bar P2 = 155 psig + 14,7 psi = 189,7 psia × 0,0689 bar/psia = 11,69 bar

Gambar 4.4 Siklus Kompresi Uap pada diagram P-h R134a diambil data rata-rata pada Tabel 4.5.

Dari Gambar 4.4 dapat diperoleh : Te = -7 oC (Suhu kerja evaporator) Tc = 45 oC (Suhu kerja kondensor)

h1 = 423 kJ/kg (entalpi refrigeran masuk kompresor) h2 = 466 kJ/kg (entalpi refrigeran keluar kompresor) h3 = 248 kJ/kg (entalpi refrigeran masuk pipa kapiler) h4 = 248 kJ/kg (entalpi refrigeran keluar pipa kapiler) 1) Kerja kompresor persatuan massa refrigeran (Win)

Untuk mendapatkan kerja kompresor persatuan massa refrigeran yang dihasilkan oleh AC mobil, dapat menggunakan Persamaan (2.1) :

Win = h2– h1

= 466 kJ/kg - 423 kJ/kg = 43 kJ/kg

Maka kerja kompresor persatuaan massa refrigeran sebesar 43 kJ/kg 2) Kalor persatuan massa refrigeran yang dilepas kondensor (Qout)

Untuk mendapatkan nilai kalor persatuan massa refrigeran yang dilepas kondensor pada AC mobil, dapat menggunakan Persamaan (2.2) :

Qout = h2 – h3

= 466 kJ/kg - 248 kJ/kg = 218 kJ/kg

Maka kalor persatuan massa refrigeran yang dilepas kondensor sebesar 218 kJ/kg 3) Kalor yang diserap evaporator (Qin)

Untuk mendapatkan kalor persatuan massa refrigeran yang diserap evaporator pada AC mobil, dapat menggunakan Persamaan (2.4) :

Qin = h1 – h4

= 423 kJ/kg - 248 kJ/kg = 175 kJ/kg

Maka kalor persatuan massa refrigeran yang diserap evaporator sebesar 175 kJ/kg 4) COPaktual

COPaktual dipergunakan untuk menyatakan performance (unjuk kerja) dari mesin AC mobil yang bekerja dengan siklus kompresi uap, dapat dihitung dengan menggunakan Persamaan (2.5) :

COPaktual = (h1 – h4) / (h2– h1)

= (423 kJ/kg - 248 kJ/kg) / (466 kJ/kg - 421 kJ/kg) = 4,07

Maka COPaktual AC mobil sebesar 4,07 5) COPideal

Untuk menghitung performance ideal pada AC mobil yang bekerja dengan siklus kompresi uap, dapat menggunakan Persamaan (2.6) :

COPideal =

=

= 5,12

Maka COPideal AC mobil sebesar 5,12 6) Efisiensi (η)

Untuk mendapatkan efisiensi AC mobil dapat dihitung dengan menggunakan Persamaan (2.7) :

η = (COPactual : COPideal) × 100% = (4,07 : 5,12) × 100%

= 79,49%

7) Laju aliran massa refrigeran (ṁ)

Untuk mendapatkan laju aliran massa refrigeran dapat dihitung dengan Persamaan (2.8) :

ṁ = [(VI)/1000] / Win = [(220.10,74)/1000] / 43 = 0,055 kg/s

Maka laju aliran massa AC mobil sebesar 0,055 kg/s 4.3 Pembahasan

Dari data yang diperoleh untuk tekanan P1 15 psi udara balik tidak dicampur dengan udara segar dari luar dapat diperoleh informasi bahwa rata-rata kompresor menyala selama 10 detik dan kompresor mati selama 10 detik. Sedangkan pada P1 15 psi menggunakan udara balik bercampur dengan udara segar dari luar rata-rata kompresor menyala selama 22 detik dan kompresor mati selama 20 detik. Hal ini mempengaruhi suhu keluaran kondensor dan besarnya laju aliran massa, pada saat P1 15 psi menggunakan udara balik bercampur dengan udara segar dari luar kompresor lebih lama menyala dibandingkan P1 15 psi udara balik tidak dicampur dengan udara segar dari luar. Pada variasi tekanan P1 20 psi udara balik tidak dicampur dengan udara segar dari luar rata-rata kompresor menyala selama 8 detik dan kompresor mati selama 27 detik, sedangkan P1 20 psi menggunakan udara balik bercampur dengan udara segar dari luar selama 9 detik dan kompresor mati selama 20 detik. Hal ini mempengaruhi suhu keluaran kondensor, masuk katup ekpansi, lebih besar P1 20 psi menggunakan udara balik bercampur dengan udara segar dari luar dibandingkan P1 20 psi udara balik tidak dicampur dengan udara segar dari luar. Diantara semua variasi rata-rata kompresor bekerja yang lebih lama yaitu P1 15 psi menggunakan udara balik bercampur dengan udara segar dari luar selama 22 detik sedangkan kerja kompresor yang lebih cepat yaitu P1 20 psi udara balik tidak dicampur dengan udara segar dari luar selama 8 detik.

Dari hasil penelitian, diperoleh informasi bahwa mesin AC mobil dapat bekerja dengan baik serta komponen-komponen AC mobil juga dapat bekerja dengan baik sehingga dapat menghasilkan data yang baik. Hasil dari pengambian data menggunakan diagram P-h dan membentuk siklus kompresi uap dengan proses pemanasan lanjut dan pendinginan lanjut. Dari penelitian yang dilakukan suhu kondensor lebih tinggi dari suhu lingkungan AC mobil sehingga pelepasan kalor berjalan dengan baik, suhu kerja yang dihasilkan kondensor sekitar 42 oC sampai 48 oC. Sedangkan evaporator juga menghasilkan suhu yang lebih rendah dari suhu ruangan kabin mobil, yaitu sekitar -7 oC sampai -9,5 oC.

Dari hasil penelitian yang dilakukan kondisi ini memberi keuntungan pada AC mobil. Karena ada proses pemanasan lanjut dan pendinginan lanjut, maka akan dapat menaikan nilai COP dan efisiensi mesin AC mobil. Begitu juga dengan kondisi refrigeran pada saat masuk kompresor sudah benar-benar berubah fase menjadi gas, sehingga proses kompresi dapat berjalan ideal dan tidak merusak kompresor. Kondisi refrigeran ketika masuk katup ekspansi juga dalam keadaan cair sehingga masuknya refrigeran ke katup ekspansi mudah.

Dari hasil perhitungan yang dilakukan diperoleh informasi Win, Qout, Qin,

COPaktual, COPideal, Efisiensi, Laju aliran massa refrigeran dengan pemanasan lanjut dan pendinginan lanjut. Dari data yang diambil terdapat perbandingan tiap variasi.

Tabel 4.8 Perbandingan nilai Win tiap variasi

Variasi Hasil Win

15 psi udara balik tidak dicampur dengan udara segar dari luar 41 kJ/kg 15 psi menggunakan udara balik bercampur dengan udara segar

dari luar

42 kJ/kg

20 psi udara balik tidak dicampur dengan udara segar dari luar 41 kJ/kg 20 psi menggunakan udara balik bercampur dengan udara segar

dari luar

Dari Tabel 4.8 memperlihatkan perbandingan Win tiap variasi, nilai terendah pada 20 udara balik tidak dicampur dengan udara segar dari luar sebesar dan 15 psi udara balik tidak dicampur dengan udara segar dari luar 41 kJ/kg. Sedangkan nilai tertinggi pada 20 psi menggunakan udara balik bercampur dengan udara segar dari luar sebesar 43 kJ/kg. Dalam proses kerja kompresor dapat berubah setiap kompresor bekerja (hidup). Semakin besar kerja kompresor maka energi yang dibutuhkan kompresor semakin besar. Sehingga hal tersebut dapat mengakibatkan borosnya bahan bakar yang digunakan untuk mengoprasikan AC mobil.

Tabel 4.9 Perbandingan nilai Qout tiap variasi

Variasi Hasil Qout

15 psi udara balik tidak dicampur dengan udara segar dari luar 216 kJ/kg 15 psi menggunakan udara balik bercampur dengan udara

segar dari luar

217 kJ/kg

20 psi udara balik tidak dicampur dengan udara segar dari luar 220 kJ/kg 20 psi menggunakan udara balik bercampur dengan udara

segar dari luar

218 kJ/kg

Dari Tabel 4.9 memperlihatkan besarnya perbandingan Qout tiap variasi, nilai terendah pada 15 psi udara balik tidak dicampur dengan udara segar dari luar sebesar 216 kJ/kg. Sedangkan nilai tertinggi pada 20 psi udara balik tidak dicampur dengan udara segar dari luar sebesar 220 kJ/kg. Hal ini sesuai dengan perubahan yang terjadi pada kompresor dan evaporator, karena semakin besar kerja kompresor dan kondensor maka akan semakin besar kalor yang dilepas kondensor. Hal itu terjadi karena kalor yang dilepas kondensor merupakan jumlah energi yang dihasilkan kompresor ditambah jumlah energi yang diserap evaporator.

Tabel 4.10 Perbandingan nilai Qin tiap variasi

Variasi Hasil Qin

15 psi udara balik tidak dicampur dengan udara segar dari luar 175 kJ/kg 15 psi menggunakan udara balik bercampur dengan udara

segar dari luar

175 kJ/kg

20 psi udara balik tidak dicampur dengan udara segar dari luar 179 kJ/kg 20 psi menggunakan udara balik bercampur dengan udara

segar dari luar

175 kJ/kg

Dari Tabel 4.10 memperlihatkan besarnya perbandingan Qin tiap variasi, nilai terendah pada 15 psi udara balik tidak dicampur dengan udara segar dari luar, 15 psi menggunakan udara balik bercampur dengan udara segar dari luar dan 20 psi menggunakan udara balik bercampur dengan udara segar dari luar sebesar 175 kJ/kg. Sedangkan nilai tertinggi pada 20 psi udara balik tidak dicampur dengan udara segar dari luar sebesar 179 kJ/kg. Dari hasil tersebut memperlihatkan jika tekanan refrigeran semakin rendah maka hasilnya akan semakin besar. Dari hal ini dapat diketahui bahwa semakin besar nilai Qin maka suhu yang diinginkan akan cepat tercapai.

Tabel 4.11 Perbandingan nilai COPaktual tiap variasi

Variasi Hasil COPaktual

15 psi udara balik tidak dicampur dengan udara segar dari luar

4,26

15 psi menggunakan udara balik bercampur dengan udara segar dari luar

4,17

20 psi udara balik tidak dicampur dengan udara segar dari luar

4,36

20 psi menggunakan udara balik bercampur dengan udara segar dari luar

Dari Tabel 4.11 memperlihatkan besarnya perbandingan COPaktual ztiap variasi, niai terendah pada 20 psi menggunakan udara balik bercampur dengan udara segar dari luar sebesar 4,07. Sedangkan nilai tertinggi pada 20 psi udara balik tidak dicampur dengan udara segar dari luar dari luar sebesar 4,36. Perubahan kerja kompresor juga berpengaruh pada koefisien prestasi COPaktual.

Tabel 4.12 Perbandingan nilai COPideal tiap variasi

Variasi Hasil COPideal

15 psi udara balik tidak dicampur dengan udara segar dari luar

5,12

15 psi menggunakan udara balik bercampur dengan udara segar dari luar

5,12

20 psi udara balik tidak dicampur dengan udara segar dari luar

4,84

20 psi menggunakan udara balik bercampur dengan udara segar dari luar

5,12

Dari Tabel 4.12 memperlihatkan besarnya perbandingan COPideal tiap variasi, niai terendah pada 20 psi udara balik tidak dicampur dengan udara segar dari luar sebesar 4,84. Sedangkan nilai tertinggi sebesar 5,12 pada variasi yang lainnya. Perubahan kerja kompresor yang diikuti COPaktual mengakibatkan perubahan nilai pada COPideal.

Tabel 4.13 Perbandingan nilai efisiensitiap variasi

Variasi Hasil efisiensi

15 psi udara balik tidak dicampur dengan udara segar dari luar

82,7%

15 psi menggunakan udara balik bercampur dengan udara segar dari luar

81,44%

20 psi udara balik tidak dicampur dengan udara segar dari luar

90%

20 psi menggunakan udara balik bercampur dengan udara segar dari luar

79,49%

Dari Tabel 4.13 memperlihatkan besarnya perbandingan efisiensi tiap variasi, niai terendah pada 20 psi menggunakan udara balik bercampur dengan udara segar dari luar sebesar 79,49%. Sedangkan nilai tertinggi pada 20 psi udara balik tidak dicampur dengan udara segar dari luar sebesar 90%. Perubahan kerja kompresor yang semakin berat karena transfer kalor yang terjadi, pemasangan pipa refrigeran yang dipasang ada kemungkinan aliran refrigeran tidak sempurna dan ruang kabin yang terbuat dari triplek dan sterofoam masih belum tertutup sempurna. Hal ini yang memungkinkan efisiensi mesin AC mobil tidak mencapai 100% karena pengaruh kerja kompresor dan komponen lainnya.

Tabel 4.14 Perbandingan nilai laju aliran massatiap variasi

Variasi Hasil laju aliran massa 15 psi udara balik tidak dicampur dengan udara

segar dari luar

0,056 kg/s

15 psi menggunakan udara balik bercampur dengan udara segar dari luar

0,052 kg/s

20 psi udara balik tidak dicampur dengan udara segar dari luar

0,056 kg/s

20 psi menggunakan udara balik bercampur dengan udara segar dari luar

0,055 kg/s

Dari Tabel 4.14 memperlihatkan besarnya perbandingan laju aliran massa tiap variasi, niai terendah pada 15 psi menggunakan udara balik bercampur dengan udara segar dari luar sebesar 0,054 kg/s. Sedangkan nilai tertinggi pada 20 psi udara balik tidak dicampur dengan udara segar dari luar dan 15 psi udara balik tidak dicampur dengan udara segar dari luar dari luar sebesar 0,056 kg/s. Tertutupnya evaporator oleh butiran air yang membeku mengakibatkan aliran massa menurun sesuai dengan kerja kompresor. Dari hal ini diketahui bahwa transfer kalor akan terhambat akibat adanya uap air yang membeku dan menebal pada bagian dalam evaporator, air yang membeku akan menghambat kerja kompresor sehingga kompresor akan bekerja semakin berat. Ini juga berdampak pada kalor yang diserap evaporator dan kalor yang dihembuskan kondensor. Dampak lainnya akan menurunkan koefisien prestasi mesin baik aktual, ideal, efisiensi dan laju aliran massa.

68

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

Dokumen terkait