• Tidak ada hasil yang ditemukan

Surat Nomor 195/Dep.1/VII/2014 perihal Notaris sebagai Pembuat Akta Koperasi, yang dikeluarkan di Jakarta pada tanggal 21 Juli 2014, ditujukan

C. Akibat Putusan Mahkamah Konstitusi Yang Membatalkan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2012 Tentang Perkoperasian

3. Surat Nomor 195/Dep.1/VII/2014 perihal Notaris sebagai Pembuat Akta Koperasi, yang dikeluarkan di Jakarta pada tanggal 21 Juli 2014, ditujukan

kepada Pengurus Pusat Ikatan Notaris Indonesia.

Adapun Surat ini mengenai tindak lanjut hasil pertemuan dengan Pengurus Pusat Ikatan Notaris Indonesia (PP-INI) tanggal 8 Juni 2014 terkait dengan Keputusan Mahkamah Konstitusi Tentang Pembatalan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2012 Tentang Perkoperasian. Surat ini berisi:

a. Notaris yang telah terdaftar sebagai Notaris Pembuat Akta Koperasi (NPAK) berdasarkan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2012 dan Surat Keputusan Penetapan Notaris Pembuat Akta Koperasi berdasarkan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 Tentang Perkoperasian masih tetap berlaku. Koperasi sebagai Badan Hukum Privat dalam pembentukannya harus dibuat dengan akta otentik oleh Notaris yang telah memiliki sertifikat pembekalan perkoperasian.

b. Dalam Pembuatan Akta Pendirian Koperasi, Akta Perubahan Anggaran Dasar Koperasi dan akta-akta lain yang terkait dengan kegiatan koperasi sejak tanggal 28 Mei 2014 dilakukan berdasarkan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 Tentang Perkoperasian dan Peraturan Pelaksanannya, yaitu:

b.1 Peraturan Menteri Negara Koperasi dan UKM Nomor

01/Per/M.KUKM/I/2006 Tentang Petunjuk pelaksanaan pembentukan, pengesahan akta pendirian dan Anggaran Dasar Koperasi.

b.2 Keputusan Menteri Negara Koperasi dan UKM Nomor

98/Kep/M.KUKM/IX/2004 Tantang Notaris sebaga Pembuat Akta Koperasi.

c. Dalam upaya mewujudkan koperasi sebagai badan hukum privat, akan dilakukan perbaikan Peraturan Pemerintah dan Peraturan Menteri, sehingga koperasi harus melakukan penyempurnaan Anggaran Dasar untuk lima (5) jenis koperasi sebagaimana dimaksud pada penjelasan Pasal 16 Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 Tentang Perkoperasian.

Putusan Mahkamah Konstitusi yang membatalkan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2012 Tentang Perkoperasian tidak berlaku surut tetapi berlaku sejak tanggal

putusan yakni tanggal 28 Mei 2014, sehingga akta notaris mengenai pendirian dan/atau perubahan koperasi yang dibuat antara tanggal 30 Oktober 2012 sampai dengan tanggal 28 Mei 2014 tetap sah dan mengikat dikarenakan adanya Asas Praduga Sah yang menyatakan bahwa semua akta notaris sah dan mengikat selama sepanjang dibuat berdasarkan ketentuan (aturan hukum) yang berlaku pada saat itu.62 Meskipun Akta Pendirian dan/atau perubahan koperasi tetap sah dan mengikat, tetapi dengan ada putusan Mahkamah Konstitusi yang membatalkan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2012 tidak berlaku lagi, maka koperasi-koperasi yang berdiri dan/atau yang telah mengadakan perubahan anggaran dasar terhadap Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2012 Tentang Perkoperasian haruslah mengadakan perubahan anggaran dasar sesuai dengan yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 Tentang Perkoperasian dan Peraturan Pelaksananya.

Bagi koperasi yang didirikan berdasarkan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 Tentang Perkoperasian dan tidak pernah melakukan perubahan atau penyesuaian terhadap Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2012 Tentang perkoperasian, maka Akta Pendirian tetap berlaku dan tidak perlu melakukan perubahan. Mengenai Akta Pendirian Koperasi, Pengesahan Badan Hukum Koperasi dan Perubahan Anggaran Dasar sejak tanggal 28 Mei 2014 berdasarkan Surat Edaran Nomor 169/SE/Dep.1/VI/2014 dilakukan berdasarkan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 Tentang Perkoperasian dan Peraturan Pelaksanaannya.

62 Seminar Penyegaran Pengetahuan Mengenai Perkoperasian Dan Konsultasi Perpajakan Bagi Profesi Notaris, yang diselenggarakan oleh Pengurus Wilayah Ikatan Notaris Indonesia Sumatera Utara pada tanggal 17 November 2014, di Medan.

Substansi akta perkoperasian baik yang didirikan setelah putusan Mahkamah Konstitusi dan/atau yang melakukan penyesuaian, substansi aktanya harus berdasarkan pada Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 Tentang Perkoperasian. Perubahan/penyesuaian terhadap Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 Tentang Perkoperasian dalam bentuk Berita Acara Rapat (BAR) Anggota atau Pernyataan Keputusan Rapat (PKR).

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2012, yang berhak membuat akta pendirian koperasi adalah notaris dan camat yang telah disahkan sebagai Pejabat Pembuat Pembuat Akta Koperasi oleh Menteri. Kewenangan camat untuk membuat akta pendirian koperasi dibatasi dengan ada atau tidaknya notaris di kecamatan tersebut. Apabila di kecamatan tersebut ada notaris, maka camat tidak berhak untuk membuat akta pendirian koperasi, tetapi jika di kecamatan tersebut tidak ada notaris, maka kewenangan tersebut dapat digunakan camat untuk membuat akta pendirian koperasi. Hal ini diatur dalam Pasal 9 Ayat (2) Undang-Undang 17 Tahun 2012 Tentang Perkoperasian yang isinya, “dalam hal di suatu kecamatan tidak terdapat Notaris sebagaimana dimaksud pada ayat (1) maka Akta Pendirian Koperasi dapat dibuat oleh Camat yang telah disahkan sebagai Pejabat Pembuat Akta Koperasi”.

Pembatalan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2012 Tentang Perkoperasian dan dikembalikannya Undang-Undang 25 Tahun 1992 Tentang Perkoperasian sebagai landasan hukum perkoperasian di Indonesia untuk sementara waktu mengakibatkan, apakah status Akta Pendirian Koperasi yang dibuat oleh camat masih berlaku padahal tidak ada aturan mengenai camat dapat membuat Akta Pendirian

Koperasi di dalam Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 Tentang Perkoperasian? Dalam menjawab pertanyaan ini maka berlaku jugalah Asas Praduga Sah yang digunakan oleh notaris dalam pembuatan akta pendirian dan/atau penyesuaian terhadap Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2012 Tentang Perkoperasian sebelum Mahkamah Konstitusi membatalkan Undang-Undang tersebut. Dengan begitu maka terjawablah pertanyaan mengenai apakah akta pendirian Koperasi yang dibuat oleh camat adalah tetap berlaku.

Hakim Konstitusi tidak memberikan batasan dan sanksi bagi koperasi untuk melakukan penyesuaian anggaran dasar sesuai dengan Undang-Undang nomor 25 Tahun 1992. Meskipun demikian, koperasi diharuskan secepatnya untuk mengadakan rapat anggota untuk melakukan penyesuaian terhadap Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 dikarenakan jika koperasi ingin melakukan transaksi dengan pihak lain, maka faktor penghambatnya adalah tidak dilakukannya penyesuaian tersebut.

Koperasi Simpan Pinjam Tama Mandiri adalah salah satu koperasi yang berdiri berdasarkan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2012 Tentang Perkoperasian. Koperasi ini melakukan rapat pendirian koperasi pada tanggal 27 Mei 2013 dan telah mendapat pengesahan dari Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah berdasarkan keputusannya tertanggal 20 Januari 2014, Nomor 48/BH/IV/DINASKOP/I/2014. Koperasi ini beralamat di Jalan Datuk Tunggul-Cipta Karya Ujung, Kelurahan Sidumulyo Barat, Kecamatan Tampan, Kota Pekanbaru.

Koperasi Simpan Pinjam Tama Mandiri mengetahui pembatalan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2012 Tentang Perkoperasian melalui media, bukan dari

Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah setempat sesuai dengan Surat Edaran Nomor 169/SE/Dep.1/VI/2014 2014 yang dibuat di Jakarta pada tangal 23 Juni 2014, dan Surat Edaran Nomor 179/SE/Dep.1/VII/2014 yang dibuat di Jakarta pada tangal 2 Juli 2014, yang ditujukan kepada:

a. Gubernur

Up. Kepala Dinas / Badan yang membidangi koperasi di Propinsi / DI; b. Bupati / Walikota

Up. Kepala Dinas / Badan yang membidangi koperasi di Kabupaten / Kota di seluruh Indonesia.

Teori yang digunakan untuk menjawab rumusan masalah pertama ini adalah teori kepastian hukum. Teori ini menghendaki setiap subjek hukum, baik itu badan hukum maupun orang-perorangan harus menaati hukum yang tertulis. Hakim sebagai corong udang-undang diberikan amanah untuk memutus sengketa yang diperhadapkan kepadanya. Teori kepastian hukum mengharuskan koperasi-koperasi yang berdiri dan/atau yang telah melakukan penyesuaian terhadap Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2012 Tentang Perkoperasian harus melakukan penyesuaian anggaran dasar terhadap Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 Tentang Perkoperasian yang dijadikan Undang-Undang Perkoperasian untuk sementara waktu. Sesuai dengan teori kepastian hukum, Koperasi Tama Mandiri maupun koperasi-koperasi lainnya seharusnya melakukan penyesuaian Anggaran Dasar, tetapi sampai wawancara ini dilakukan, koperasi ini tidak melakukan penyesuaian dikarenakan belum ada sosialisasi dari Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Propinsi

Riau mengenai pembatalan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2012 Tentang Perkoperasian dan belum ada anjuran secara langsung melalui surat kepada Koperasi Simpan Pinjam Tama Mandiri mengenai penyesuaian Anggaran Dasar terhadap Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 Tentang Perkoperasian.

Berdasarkan teori kepastian hukum, apa yang diputuskan oleh Mahkamah Konstitusi harus ditaati dan dijalankan. Tidak ada alasan-alasan untuk tidak menaati keputusan tersebut. Kepastian adalah apa yang tertulis dan yang diputus. Sebagai subjek hukum yang tinggal dan melakukan kegiatan usaha di Indonesia, harus menaati aturan yang sudah dibuat dan diputuskan.

Dokumen terkait