• Tidak ada hasil yang ditemukan

2. PERIKATAN DENGAN SYARAT TANGGUH DALAM

2.1. Perikatan pada Umumnya

Buku III KUHPerdata tidak memberikan rumusan tentang perikatan.

Diawali dengan ketentuan Pasal 1223 KUHPerdata, yang menyatakan: “tiap-tiap perikatan dilahirkan baik karena persetujuan, baik karena undang-undang”.

Ditegaskan bahwa kewajiban perdata dapat terjadi karena dikehendaki oleh pihak- pihak yang terkait dalam perikatan yang secara sengaja dibuat oleh mereka, ataupun karena ditentukan oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Menurut Ilmu Pengetahuan Hukum Perdata, perikatan adalah hubungan hukum yang terjadi di antara 2 (dua) orang atau lebih, yang terletak di dalam lapangan harta kekayaan, dimana pihak yang satu berhak atas prestasi dan pihak lainnya wajib memenuhi prestasi itu.18

Dari rumusan yang diberikan diatas dapat diketahui bahwa suatu perikatan, sekurangnya membawa serta di dalamnya empat unsur, yaitu:

1. Bahwa perikatan itu adalah suatu hubungan hukum;

2. Hubungan hukum tersebut melibatkan dua atau lebih orang (pihak);

3. Hubungan hukum tersebut adalah hubungan hukum dalam lapangan hukum harta kekayaan;

4. Hubungan hukum tersebut melahirkan kewajiban pada salah satu pihak dalam perikatan.

Mr. Dr H.F. Vollmar, dalam bukunya “Inleiding tot de Studie van het Nederlands Burgerlijk Recht” (1) mengatakan sebagai berikut: “Ditinjau dari isinya ternyata bahwa perikatan itu ada selama seseorang itu (debitur) harus melakukan suatu prestasi yang mungkin dapat dipaksakan terhadap kreditur kalau perlu dengan bantuan hakim.”

18 Mariam Darus Badrulzaman, et. Al., Kompilasi Hukum Perikatan, (Bandung: PT Citra Aditya Bakti, 2001), hlm.1.

2.1.1. Prestasi dan Wanprestasi

Seperti telah dikatakan dalam uraian terdahulu, KUHPerdata sangat menekankan sekali pada pentingnya penentuan kewajiban yang harus dipenuhi oleh pihak yang berkewajiban. Pasal 1234 menyatakan: “Tiap-tiap perikatan adalah untuk memberikan sesuatu, untuk berbuat sesuatu, atau untuk tidak berbuat sesuatu.”

Kewajiban inilah yang dinamakan Prestasi. Menurut Pasal 1234 KUHPerdata prestasi itu dibedakan atas:

 memberikan sesuatu;

 berbuat sesuatu;

 tidak berbuat sesuatu.

Prestasi adalah kewajiban yang harus dilaksanakan oleh debitur yang merupakan hak dari kreditur untuk melakukan penuntutan terhadap prestasi tersebut. Prestasi terdapat baik dalam perjanjian yang bersifat sepihak atau unilateral agreement, artinya prestasi atau kewajiban tersebut hanya ada pada satu pihak tanpa adanya suatu kontra prestasi atau kewajiban yang diharuskan dari pihak lainnya. Prestasi juga terdapat dalam perjanjian yang bersifat timbal balik atau bilateral (or reciprocal) agreement, dimana dalam bentuk perjanjian ini masing-masing pihak yang berjanji mempunyai prestasi atau kewajiban yang harus dipenuhi terhadap pihak yang lainnya.19

Apabila si berutang (debitur) tidak melakukan apa yang dijanjikannya, maka dikatakan ia melakukan wanprestasi. Perkataan wanprestasi berasal dari bahasa belanda, yang berarti prestasi buruk.20 Wanprestasi ialah kelalaian debitur untuk memenuhi kewajibannya sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati.21 Untuk menentukan kapan seorang telah melalaikan kewajibannya dapat dilihat dari isi perjanjian. Dalam perjanjian biasanya diatur kapan seseorang harus melaksanakan kewajibannya, seperti menyerahkan sesuatu barang atau melakukan sesuatu perbuatan. Apabila dalam perjanjian tidak disebutkan kapan seorang harus

19 Sri Soesilowati Mahdi, Surini Ahlan Sjarif, dan Akhmad Budi Cahyono, Hukum Perdata (Suatu Pengantar) (Jakarta: Gitama Jaya, 2005),Hal. 150-152.

20 R. Subekti, Hukum Perjanjian (Jakarta; Intermasa,2005), hlm. 38.

21 Sri Soesilowati, dkk, Op. cit., hal. 150-152.

menyerahkan sesuatu atau berbuat sesuatu, maka sebelum mengajukan gugatan wanprestasi seorang kreditur harus memberikan somasi atau suatu peringatan yang menyatakan bahwa debitur telah lalai dan agar memenuhi kewajibannya dalam jangka waktu tertentu.22 Apabila prestasi yang diperjanjikan untuk tidak melakukan suatu perbuatan, maka tidak diperlukan somasi karena begitu debitur melakukan perbuatan yang dilarang, maka dia telah melakukan wanprestasi.

Kreditur dapat mengajukan tuntutan supaya debitur dihukum untuk melaksanakan perjanjian dan membayar ganti rugi. Tentu saja kreditur dapat juga hanya meminta pembatalan disertai ganti rugi.

Wanprestasi (kelalaian atau kealpaan) seorang debitur dapat berupa empat macam:

a. Tidak melakukan apa yang disanggupi akan dilakukannya;

b. Melaksanakan apa yang dijanjikannya, tetapi tidak sebagaimana dijanjikan;

c. Melakukan apa yang dijanjikan tetapi terlambat;

d. Melakukan sesuatu yang menurut perjanjian tidak boleh dilakukannya.23

2.1.2. Sumber Perikatan

Pasal 1233 ayat (1) KUHPerdata menyatakan: “Tiap-tiap perikatan dilahirkan, baik karena suatu persetujuan, maupun karena undang-undang, maupun karena undang-undang”. Pernyataan ini membawa konsekuensi bahwa hubungan hukum yang menerbitkan kewajiban atau prestasi dalam lapangan harta kekayaan dapat terjadi dari perbuatan hukum, peristiwa hukum maupun suatu keadaan hukum.24

a. Perikatan yang bersumber dari perjanjian

Dari ketentuan Pasal 1233 ayat (1) yang telah disebutkan sebelumnya, perjanjian merupakan salah satu sumber lahirnya perikatan.

22 Indonesia (c), KUHPerdata, ps. 1238.

23 R. Subekti, Op. cit., Hal. 45.

24 Kartini Muljadi dan Gunawan Widjaja, Perikatan pada Umumnya, (Jakarta: PT.

RajaGrafindo Persada, 2003), hlm. 41.

Dengan membuat perjanjian salah satu atau lebih pihak dalam perjanjian tersebut mengikatkan dirinya untuk memenuhi kewajiban sebagaimana yang dijanjikan. Ini berarti di atara pada pihak yang membuat perjanjian lahirlah perikatan.25

b. perikatan yang bersumber pada Undang-undang

Selain perjanjian, KUHPerdata menentukan bahwa perikatan dapat lahir dari undang-undang. Dengan pernyataan ini, pembuat undang-undang hendak mengatakan bahwa hubungan hukum dalam lapangan harta kekayaan dapat terjadi setiap saat, baik yang terjadi karena dikehendaki maupun tidak dikehendaki oleh orang perorangan tersebut. KUHPerdata membagi perikatan yang lahir dari Undang-undang ini ke dalam perikatan yang lahir karena undang-undang saja, dan perikatan yang lahir karena undang-undang yang disertai dengan perbuatan manusia.26 Pasal 1352 KUHPerdata mengatakan:

“Perikatan-perikatan yang dilahirkan dari Undang-undang, timbul dari undang-undang saja (uit de wet allen) atau dari undang-undang sebagai akibat perbuatan orang” (uit de wet ten gevolge van’s mensen toedoen).

Perikatan yang bersumber dari Undang-undang semata-mata adalah Perikatan yang dengan terjadinya peristiwa-peristiwa tertentu, ditetapkan melahirkan suatu hubungan hukum (perikatan) di antara pihak- pihak yang bersangkutan, terlepas dari kemauan pihak-pihak tersebut.

Misalnya:

- Lampau waktu (verjaring), yaitu peristiwa-peristiwa dengan mana pembentuk undang-undang menetapkan adanya suatu perikatan antara orang-orang tertentu. Dengan lampaunya waktu seseorang mungkin terlepas haknya atas sesuatu atau mungkin mendapatkan haknya atas sesuatu.

- Kematian dengan meninggalnya seseorang, maka perikatan yang mengikat orang tersebut beralih kepada ahli warisnya.

25 Ibid., hlm 42.

26 Ibid., hlm. 45.

- Kelahiran dengan kelahiran anak maka timbul perikatan antara ayah dan anak, dimana si ayah wajib memelihara anak tersebut.27 Sedangkan perikatan yang lahir karena undang-undang yang disertai dengan perbuatan manusia dibagi lagi menjadi dua, yaitu yang terbit dari perbuatan halal dan yang terbit dari Perbuatan Melawan Hukum (PMH). Pasal 1353 KUHPerdata mengatakan: “Perikatan-perikatan yang dilahirkan dari Undang-undang sebagai akibat perbuatan orang, terbit dari perbuatan halal atau dari perbuatan Melawan Hukum (Onrechmatige daad)”.

Perikatan yang bersumber dari undang-undang sebagai akibat perbuatan orang maksudnya adalah bahwa dengan dilakukannya serangkaian tingkah laku seseorang, maka undang-undang melekatkan akibat hukum berupa perikatan terhadap orang tersebut. Tingkah laku seseorang tadi mungkin merupakan perbuatan yang menurut hukum (dibolehkan undang-undang) atau mungkin pula merupakan perbuatan yang tidak dibolehkan undang-undang (melawan hukum).

2.1.3. Jenis-Jenis Perikatan

Berdasarkan berbagai sudut pandang, maka dalam Ilmu Pengetahuan Hukum Perdata, perikatan itu dibedakan dalam berbagai jenis:

1. dilihat dari prestasinya.

a. Perikatan untuk memberikan sesuatu b. Perikatan untuk melakukan sesuatu c. Perikatan untuk tidak melakukan sesuatu d. Perikatan mana suka (alternatif)

e. Perikatan fakultatif

f. Perikatan generik dan spesif

g. Perikatan yang dapat dan tidak dapat dibagi. (deelbaar dan ondeelbaar)

h. Perikatan yang sepintas lalu dan terus menerus (voorbijgaande dan voortdurende)

27 Mariam Darus Badrulzaman, et. Al., Op cit., hlm. 7

2. dilihat dari subjeknya.

a. Perikatan tanggung menanggung (hoofdelijk atau solidair) b. Perikatan pokok dan Tambahan (principale dan accessoir)

3. dilihat dari daya kerjanya.

a. Perikatan dengan ketetapan waktu b. Perikatan bersyarat.

4. pembedaan perikatan berdasarkan undang-undang:

a. Perikatan untuk memberikan sesuatu, berbuat sesuatu dan tidak berbuat sesuatu

b. Perikatan bersyarat

c. Perikatan dengan ketetapan waktu d. Perikatan mana suka (alternatif)

e. Perikatan tanggung menanggung (hoofdelijk atau solidair)

f. Perikatan yang dapat dan tidak dapat dibagi. (deelbaar dan ondeelbaar)

g. Perikatan dengan ancaman hukuman.28