• Tidak ada hasil yang ditemukan

KAJIAN PUSTAKA

B. Perilaku berbakti Kepada Orang Tua

Berbakti kepada orang tua adalah perintah Allah. Nabi Muhammad SAW seorang pendidik agung, menempalkan kebaikan dan sikap berbakti kepada orang tua berada di antara dua perbuatan teragung dalam Islam: shalat tepat waktu dan jihad dijalan Allah. Hal ini menunjukkan betapa tingginya status yang diberikan nabi kepada orang tua ( Muhammad Ali A1 Halim : 72).

Terhadap orang tua, Allah SWT telah memerintahkan kita agar berbakti kepada orang tua, melarang kita mendurhakainya dan larangan keras

dan memperingatkan kita sekeras-kerasnya peringatan. Sebagaimana firman Allah dalam surat Luqman (31) ayat 14 yang berbunyi:

Artinya : Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ihu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam Keadaan lemah yang berlambah- tambah, dan menyapihnya dulam dua tahun bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmit, hanya kepada-Kulah kembalimu.

Ada beberapa perilaku berbakti kepada orang tua, di antaranya adalah sebagai berikut:

1. Mentaati Nasehat orang tua untuk mendapatkan Ridlonya. 2. Firman Allah dalam surat Al-Ahqaaf ayat 15 yang berbunyi:

As

La^T Ia^T

jA

Jot

AjjJ'jJ

ULi>j aI^ju £_bj li} ^Jr* -^llya

j £ f o lj ^o ]'3 # 3 # ^ S i jJ i d i£ ^ u

p,

I b l ^ J j ! A*

^13 v i U j o ? <jj <4 J £-U>lj

Artinya: A'aw/' perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh buian, sehingga apabila Dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: "Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Eng/cau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan Sesungguhnya aku Termasuk orang-orangyang berserah diri".

Mentaati nasehat orang tua adalah wajib bagi seorang anak. Setiap orang tua menginginkan anaknya menjadi anak yang sholih/sholikhah. Apabila orang tua menasehati anaknya hendaknya anak mendengarkan. Tetapi tidak hanya cukup mendengarkan saja, tetapi nasehat orang tua tersebut hendaknya dilaksanakan.

3. Menghormati Orang Tua

Salah satu wujud penghormatan anak kepada orang tua adalah bertutur kata yang baik. Allah swt berfirman dalam QS, Al-Isra’ (17) ayat 23 yang berbunyi:

g iJ } ' j J i j j ol5j 'j -Ua j ^!1 <Hj j +

U4

j J j

u i j i f v i

LLj^ = » Artinya: Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan

menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapa/cmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau Kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya Perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka Perkataan yang mulia. (QS, Al-Isra’: 17)

Dengan gamblang Allah menyuruh anak untuk senantiasa menghormati orang tuanya. Ketika anak berbicara dengan orang tuanya, hendaknya tidak ada sepatah kata pun yang menyakiti hati mereka, baik dari segi kandungan ucapan maupun tata bahasa yang digunakan. Maksud kandungan ucapan adalah seperti membantah dan menolak, adapun yang dimaksud tata bahasa tutur kata yang kasar dan suara yang keras.

Termasuk di antara akhlak berbicara dengan orang tua adalah menggunakan tingkatan bahasa yang halus. Maksudnya, tingkatan bahasa yang mengandung unsure kemuliaan, bukan bahasa yang biasa kita pakai kepada teman sejawat. Karenanya, dalam ayat di atas, anak diwajibkan mengucapkan iutur kata yang mulia. Tutur kata yang mulia di sini bukan berarti tutur kata yang indah seperti puisi, tetapi tutur kata yang penuh penghormatan dan ketundukan.

Dalam tata bahasa Jawa misalnya, dikenal dengan istilah krama inggil. Tingkatan bahasa ini digunakan untuk berbicara kepada orang yang dohormati, seperti orang tua, kepala ndesa, dan guru. Karena itu, sudah seharusnya sang anak menggunakan tingkatan bahasa karma inggil ketika berinteraksi dengan orang tua.

Jika dalam tingkatan kebagasaan saja Al-Qur’an memperhatikan yang besar , tentunya pada tekanan bahasa pun demikian. Seorang anak dilarang mcmbentak, menghardik, dan memaki orang tuanya. Jangankan membentak, mengucap kata “ah” saja dilarang keras dalam Al-Qur’an. Karena itu sang anak harus betul-betul berbicara dengan baik dan lemah lembut kepada orang tuanya, baik dari segi kandungan ucapan maupun tata bahasanya. (M. Alaika Salamullah : 77).

4. Mendoakan Orang Tua

Mendoakan orang tua adalah kcwajiban seorang anak. baik ketika mereka masih hidup atau sudah meninggal dunia. Hubungan psikologi anak dengan orang lua begitu dekat, sehingga sangat besar kemungkinan

akan terkabul. Doa yang khusuk mudah dikabulkan oleh Allah swt. Karenanya sang anak harus selalu berdoa untuk orang tua.

Doa ialah permohonan seseorang dengan merendahkan diri kepada Allah dengan harapan kiranya dapat dipenuhi kebutuhan yang didambakan (Muwardi, Sitejo, Fuaddudin, Fadhal, Bafadal, 1996 : 253).

Seorang anak wajib mendoakan orang tuanya. Di antara doa yang dipanjatkan adalah semoga Allah menyayangi keduanya, sebagaimana mereka menyayangi pada waktu kecil, sebagaimana dalam firman Allah surat Al-Isra’ (17) ayat 24 yang berbunyi:

■»&

J & j ^ Cj ? J*il* ^ = r Li*-!

2 j !jOLy£? Artinya: Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil".

Salah satu kemuliaan anak di dunia dan di akhirat adalah kalau mendapatkan restu dan ridlo orang tua. Orang tua akan senag dan ridlo jika sang anak mendoakannya. Tanpa diminta pun mereka akan mendoakan keselamatan dan kebahagiaan sang anak didunua dan diakhirat.

Adapun cara-cara berdoa agar terkabul permohonannya menurut Imam A1 Ghozali adalah sebagai berikut:

a. Berdoa pada saat-saat yang mulia : seperti hari Jum’at, bulan Ramadhan.

b. Berdoa dengan mempergunakan perbuatan yang mulia : seperti sujud, puasa, shalat dan sebagainya.

c. Berdoa dengan menghadap ke kiblat dan mengangkat kedua tangannya serta mengusapkan tangan pada wajahsewaktu selesai berdoa.

d. Berdoa dengan sikap hormat dan suara rendah antara keras dan lemah. e. Berdoa tanpa mempergunakan sajak yang berlebihan.

f. Berdoa dengan cara khusyu’ dan harap cemas.

g. Berdoa dengan rasa mantap dan yakin terkabul dan ingat kepada Allah. h. Berdoa dengan sungguh hati dan mengulangi tiga kali serta tidak

mengeluh.

i. Memulai denga zikir pujian kepada Allah.

j. Adab batin sebagai pangkal untuk mencapai perkenaan dari Allah mengabulkan doa yang dipanjatkan. (Muwardi, Sitejo, Fuaddudin, Fadhal, Bafadal, 1996 : 255).

5. Membantu Orang Tua

Membantu orang tua memiliki bobot ibadah kepada Allah, terutama ketika orang tua sangat membutuhkan. Sudah semestinya seorang anak selalu siap untuk membantu orang tuanya., meski tidak dibutuhkan. Kadang orang tua segan meminta bantuan kepada anaknya. Atau bisa jadi orang tua tidak ingin merepotkan anaknya.

Karena hal ini seorang anak dituntut memiliki kepekaan yang tinggi. Anak mesti menyelidiki apa saja yang bisa dibantu, misalnya:

b. Membantu membersihkan rumah atau menyapu lantai. c. Membantu ibu yang sedang memasak.

d. Membantu menjaga adiknya, apabila ibu sedang repot.

Setiap bantuan anak kepada orang tuanya memiliki pahala yang sangat melimpah. Setiap gerakan tubuh sang anak dalam membantu orang tuanya memiliki bobot pahala yang besamya hanya diketahui Allah swt (M Alaika Salamullah: 73).

6. Menjalankan Perintah Orang Tua

Sepanjang orang tua mengandung unsur kebajikan, wajib hukumnya bagi sang anak mematuhinya. Misalnya orang tua menyuruh untuk bersekolah, mengaji, dan membantu pekeijaan orang tua. Akan tetapi, bila perintah tersebut menjurus kepada kemaksiatan, maka anak tidak wajib taat, Atau orang tua melarang untuk mengerjakan kewajiban agama, anak juga tidak perlu mematuhinya. Hanya saja, kendatipun sikap urang tua menyimpang dari garis agama, sang anak tetap berkewajiban menghormati atau menggauli mereka dengan baik. Bahkan, meski orang tua musrik sekalipun, anak masih berkewajiban menyayangi dan menyantuni mereka. Tidak boleh memutus hubungan kekeluargaan atau menelantarkan orang tua.

C. Kaitannya Kctckunan Mcnjalankan Ihadah Shalat dengan Pcrilaku

Dokumen terkait