• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perilaku Masyarakat

BAB IV SITUASI UPAYA KESEHATAN

4.6 Perilaku Masyarakat

Menurut teori Blum, salah satu faktor yang berperan penting dalam menentukan derajat kesehatan adalah perilaku, karena ketiga faktor lain seperti lingkungan, kualitas pelayanan kesehatan maupun genetika kesemuanya masih dapat dipengaruhi oleh perilaku. Banyak penyakit yang muncul juga disebabkan karena perilaku yang tidak sehat. Perubahan perilaku tidak mudah untuk dilakukan, namun

mutlak diperlukan untuk meningkatkan derajat kesehatan

masyarakat. Untuk itu, upaya promosi kesehatan harus terus dilakukan agar masyarakat berperilaku hidup bersih dan sehat. Penerapan perilaku hidup bersih dan sehat harus dimulai dari unit terkecil masyarakat yaitu rumah tangga.

4.6.1. Penyuluhan Kesehatan

Hasil kegiatan program pemberdayaan masyarakat dan promosi kesehatan dalam rangka penyebarluasan informasi kepada masyarakat selain melalui penyuluhan langsung maupun penyuluhan tidak langsung juga sangat didukung oleh adanya berbagai media informasi. Bentuk media informasi tersebut berupa media cetak, media elektronik, pameran dan media tradisional.

Penyuluhan kesehatan yang dilakukan oleh Puskesmas

terhadap masyarakat dilaporkan oleh Dinas Kesehatan

Profil Kesehatan Kabupaten Situbondo Tahun 2012 79 maupun dengan sasaran massa. Dari data yang diperoleh, frekuensi penyuluhan tahun 2012 dibanding dengan frekuensi penyuluhan tahun 2011 baik penyuluhan kelompok maupun penyuluhan massa mengalami peningkatan, yakni 1.128 pada tahun 2011 menjadi 4.666 pada tahun 2012 untuk penyuluhan kelompok dan untuk penyuluhan massa 338 pada tahun 2011 menjadi 456 pada tahun 2012.

4.6.2. Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat (PHBS)

Persentase rumah tangga yang ber-PHBS didapatkan dari jumlah rumah tangga yang melaksanakan 10 indikator PHBS dibagi dengan rumah tangga yang dipantau. Sepuluh indikator tersebut adalah :

1. Pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan

2. Bayi diberi ASI eksklusif

3. Balita ditimbang setiap bulan

4. Menggunakan air bersih

5. Mencuci tangan dengan air bersih dan sabun

6. Menggunakan jamban sehat

7. Memberantas jentik di rumah sekali seminggu

8. Makan sayur dan buah setiap hari

9. Melakukan aktivitas fisik setiap hari

10. Tidak merokok di dalam rumah.

Hasil kegiatan pemantauan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) melalui hasil survey PHBS tatanan Rumah Tangga tahun 2012 menunjukkan bahwa Rumah Tangga yang ber PHBS di Kabupaten Situbondo hanya sebesar 18,86%, yakni 4.199 KK dari 22.259 KK yang dipantau (Lampiran Profil Tabel 61) sedangkan target Tahun 2012 adalah 60%. Hal ini berarti cakupan Rumah Tangga Sehat Tahun 2012 masih jauh dari target yang diharapkan. Meskipun, belum memenuhi target yang diharapkan, Cakupan Rumah Tangga Sehat di Kabupaten Situbondo dari tahun 2010 sampai dengan 2012 terus mengalami peningkatan, yakni 14,34% pada tahun 2011 dan 11,51% pada tahun 2010. Gambar 4.21 berikut

Profil Kesehatan Kabupaten Situbondo Tahun 2012 80 menunjukkan cakupan Rumah Tangga Sehat di Kabupaten Situbondo dari tahun 2010 sampai dengan 2012.

Gambar 4.21 Cakupan Rumah Tangga Sehat Di Kabupaten Situbondo Tahun 2010 Sampai Dengan 2012

Sumber: Hasil Survey PHBS Tahun 2012

Dari hasil kegiatan survey PHBS tahun 2012, prioritas masalahnya adalah tidak merokok dalam rumah (35,76%), Jamban Sehat (55,90%) dan ASi Eklusif (64,47%). Permasalahan yang terbesar adalah Merokok di dalam rumah yang merupakan masalah di hampir semua wilayah di Indonesia. Hal ini tidak bisa kita lepaskan dari kebiasaan orang-orang tua kita yang secara tidak langsung mengajari anak-anaknya merokok. Kebiasaan masyarakat yang turun temurun sejak dahulu kala memang sulit untuk dihilangan, namun yang paling penting untuk dicermati adalah sosialisasi tentang bahaya merokok bagi generasi muda harus tetap terus dilakukan. Yang paling mengkhawatirkan dari perilaku merokok ini adalah sebagian perokok di Kabupaten Situbondo adalah masih usia belia dan masih belum punya kesanggupan untuk mencari nafkah, sehingga dikhawatirkan terjadinya tindak kriminalitas remaja. Ada beberapa hal yang menjadi kebisaan merokok masih tinggi di masyarakat yaitu diantaranya :

Profil Kesehatan Kabupaten Situbondo Tahun 2012 81 1. Sebagian besar masyarakat SItubondo adalah petani tembakau karena kondisi geografis yang ada, bahkan ada jenis tembakau terkenal yang dihasilkan oleh wilayah di Kab. Situbondo.

2. Lemahnya regulasi/peraturan tentang tata niaga rokok.

3. Belum adanya peraturan pemerintah daerah tentang kawasan bebas asap rokok.

4. Sosialisasi bahaya merokok yang masih kurang intens.

5. Dana bagi hasil cukai tembakau hanya untuk kegiatan yang bersifat kuratif dan pembangunan sarana prasarana tetapi belum dgunakan untuk kegiatan promotif dan preventif.

Peran tokoh masyarakat, tokoh agama dan tokoh formal perlu dimaksimalkan, sehingga kegiatan pembudayaan hidup bersih dan sehat termsuk didalamnya kebiasaan merokok di di dalam rumah dapat dikurangi bahkan ke depannya dapat dihilangkan. Petugas kesehatan sebagai penangungjawab PHBS di wilayah memegang peranan penting untuk mengkonsolidasi segenap potensi yang ada di desa untuk bersama-sama membudayakan hidup bersih dan sehat tanpa merokok.

Upaya yang mungkin bisa dilakukan dari berbagai

permasalahan yang timbul di lapangan terkait rendahnya cakupan indikator PHBS tidak merokok di dalam rumah adalah sebagai berikut.

1. Sosialisasi bahaya merokok kepada anak sekoah mulai dari tingkat dini samapi dengan SMU dengan berbagai cara diantaranya melalui siaran radio, talkshow, dilog interaktif, penyuluhan di sekolah-sekolah dll.

2. Sosialisasi bahaya merokok di masyarakat baik secara formal maupun informal.

3. Advokasi kepada pimpinan pemerintah daerah untuk

menerapkan kawasan bebas asap rokok seperti kantor pemerintahan, sarana kesehatan, sarana pendidikan, tempat-tempat umum, dll.

Profil Kesehatan Kabupaten Situbondo Tahun 2012 82 4. Distribusi media promosi tentang bahaya merokok bagi

kesehatan.

4.6.3. ASI Eksklusif

Air Susu Ibu (ASI) merupakan makanan dan minuman terbaik untuk bayi usia 0-6 bulan karena mengandung unsur gizi

yang dibutuhkan guna perlindungan, pertumbuhan dan

perkembangan bayi. ASI Eksklusif adalah pemberian ASI saja tanpa makanan- minuman lain sampai bayi berusia 6 bulan, kemudian pemberian ASI harus tetap dilanjutkan sampai bayi berusia 2 tahun walaupun bayi sudah makan.

Berdasarkan data dari 17 Kecamatan di Kabupaten Situbondo diketahui bahwa cakupan bayi yang mendapat ASI Eksklusif tahun 2012 sebesar 64,91% (Tabel 41). Dibandingkan dengan capaian tahun 2010 dan 2011, cakupan pemberian ASI ekslusif mengalami peningkatan yang sangat tajam dibandingkan dengan tahun sebelumnya, yakni sebesar 43,98% pada tahun 2011 dan 35,83% pada tahun 2010.

Peningkatan tersebut sangat dipengaruhi oleh faktor pemahaman atau Definisi Operasional (DO) yang berubah pada awal tahun 2010. Sampai awal tahun 2010 pemahaman ASI-Eksklusif oleh pelaksana gizi di lapangan adalah murni bayi yang berusia 6 bulan yang hanya mendapat ASI saja. Sedangkan pengertian ASI-Eksklusif menurut Kemenkes maupun WHO, adalah bayi yang berusia 0-6 bulan yang masih diberi ASI saja pada saat didata. Artinya, bila ada bayi yang berumur 0 bulan atau 1 bulan dan seterusnya sampai 5 bulan masih diberi ASI saja, maka pada saat itu dia dicatat sebagai bayi 0-6 bulan yang eksklusif, sehingga angkanya jelas jauh lebih tinggi dibanding dengan yang murni 6 bulan eksklusif. Selain itu, peningkatan tersebut juga signifikan dengan adanya dukungan anggaran untuk pendampingan pada ibu yang menyusui oleh konselor menyusui yang dapat membantu ibu

Profil Kesehatan Kabupaten Situbondo Tahun 2012 83 menyusui eksklusif. Pendampingan ini dilakukan oleh 41 konselor dengan jumlah bayi yang diperiksa 8.205 bayi. Idealnya satu orang konselor mendampingi 20 bayi/ ibu menyusui. Jumlah konselor di Kabupaten Situbondo seharusnya 410 konselor.

4.6.4. Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Pra Bayar

Kesadaran tentang pentingnya jaminan perlindungan sosial terus berkembang sesuai amanat pada perubahaan UUD 1945 Pasal 34 ayat 2, bahwa negara mengembangkan Sistem Jaminan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Pola pembiayaan kesehatan yang umum dianut masyarakat saat ini masih mengacu pola fee for

service dimana masyarakat yang menggunakan pelayanan

kesehatan harus langsung membayar kepada penyedia layanan kesehatan begitu selesai mendapatkan pelayanan. Pola tersebut membuat masyarakat tidak dapat mengendalikan jenis pelayanan ataupun biaya yang dikeluarkan. Untuk mengurangi beban biaya pelayanan kesehatan yang tidak diperlukan tersebut maka sistem

fee for service sebaiknya diganti dengan sistem prepayment

(prabayar).

Bentuk jaminan pemeliharaan kesehatan prabayar yang sampai saat ini dikenal masyarakat antara lain dana sehat, tabulin, jamkesmas, askes, jamkesda, jamsostek sampai asuransi kesehatan swasta. Namun kesadaran masyarakat untuk mengikuti sistem prabayar ini masih rendah.

Sampai dengan tahun 2012 jumlah peserta jaminan kesehatan pra bayar di Kabupaten Situbondo menurut data yang dilaporkan sebanyak 360.389 orang atau mencapai 54,88% dari jumlah penduduk Kabupaten Situbondo. Sebagian besar peserta jaminan kesehatan pra bayar adalah Jamkesmas sebesar 40,56%, Jamkesda sebesar 9,43% dan peserta Askes sebesar 4,88% (Lampiran Profil Tabel 54).

Pada kenyataannya dari hasil analisa situasi kondisi Jaminan Kesehatan di Kabupaten Situbondo tahun 2012 menunjukkan

Profil Kesehatan Kabupaten Situbondo Tahun 2012 84 bahwa masih banyak masyarakat Kabupaten Situbondo yang belum punya Jaminan Kesehatan (45,12%) dari seluruh penduduk Kabupaten Situbondo.

Rendahnya kepesertaan jaminan kesehatan pra bayar tersebut dapat disebabkan karena kurang sosialisasi pada masyarakat sehingga kurang memahami keuntungan apabila menggunakan sistem pra bayar tersebut. Padahal kepesertaan akan jaminan kesehatan prabayar merupakan salah satu indikator penting untuk kemandirian masyarakat di bidang kesehatan.

4.6.5. Pelayanan Kesehatan Bagi Masyarakat Miskin

Program Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) diselenggarakan berdasarkan konsep asuransi sosial. Program ini diselenggarakan secara nasional dengan tujuan untuk mewujudkan pelayanan sehingga pelayanan rujukan tertinggi yang disediakan Jamkesmas dapat diakses oleh seluruh peserta dari berbagai wilayah dan agar terjadi subsidi silang dalam rangka mewujudkan pelayanan kesesehatan yang menyeluruh bagi masyarakat miskin.

Penyelenggaraan Program Jamkesmas dibedakan dalam dua kelompok berdasarkan tingkat pelayanan, yaitu: 1). Jamkesmas untuk pelayanan dasar di Puskesmas termasuk jaringannya, 2). Jamkesmas untuk pelayanan kesehatan lanjutan di Rumah Sakit dan Balai Kesehatan. Pelayanan kesehatan ini meliputi pelayanan rawat jalan dan rawat inap di Puskesmas dan sarana pelayanan kesehatan lainnya.

Jumlah masyarakat miskin di Kabupaten Situbondo sampai dengan tahun 2012 yang mendapat jaminan kesehatan dari pemerintah melalui Jamkesmas sebanyak 266.379 jiwa dan melalui Jamkesda sebanyak 61.952 jiwa.

Tingkat pemanfaatan pelayanan kesehatan Jamkesmas di Puskesmas pada tahun 2012 tercatat sebanyak 290.338 kunjungan atau 88,43% untuk pelayanan rawat jalan dan 1762 kunjungan atau

Profil Kesehatan Kabupaten Situbondo Tahun 2012 85

0,54% untuk pelayanan rawat inap. Sedangkan yang

memanfaatkan rumah sakit sebanyak 9667 atau 2,94% untuk pelayanan rawat jalan dan 4965 atau 1,51% untuk pelayanan rawat inap (Lampiran Profil Tabel 56 dan 57).

Pelayanan kesehatan yang dijamin untuk masyarakat miskin non kuota meliputi rawat jalan dan rawat inap di Puskesmas dan jaringannya, bagi masyarakat non miskin yang dijamin hanya karcis loket (pendaftaran). Pelayanan kesehatan tingkat lanjutan di Rumah Sakit meliputi rawat jalan dan rawat inap kelas III dilakukan secara terstruktur dan berjenjang.

Adapun tingkat pemanfaatan pelayanan kesehatan yang dibiayai melalui Jamkesda di Puskesmas pada tahun 2012 tercatat sebanyak 29.711 kunjungan atau 9,05% untuk pelayanan rawat jalan dan 936 kunjungan atau 0,29% untuk pelayanan rawat inap. Adapun yang memanfaatkan rumah sakit sebanyak 5360 kunjungan atau 1,63% untuk pelayanan rawat jalan dan 2806 kinjungan atau 0,85% untuk pelayanan rawat inap (Lampiran Profil Tabel 56A dan 57A).

Berdasarkan uraian di atas dapat diketahui bahwa total pelayanan kesehatan dasar masyarakat miskin di Kabupaten Situbondo pada tahun 2012, baik melalui Jamkesmas dan Jamkesda adalah 320.049 kunjungan dari 328.331 sasaran atau 97,48% sedangkan pelayanan kesehatan rujukan sebanyak 0,82%. Target pelayanan kesehatan dasar tahun 2012 adalah 100%. Dengan demikian, kunjungan dasar masyarakat miskin Kabupaten Situbondo tahun 2012 belum memenuhi target yang diharapkan.

Jika dibandingkan dengan cakupan tahun 2010 dan 2011, maka cakupan tahun 2012 ini mengalami penurunan. Pada tahun 2010 cakupan kunjungan pelayanan kesehatan Dasar bagi maskin sebesar 103 %, tahun 2011 sebesar 106 % dan tahun 2012 sebesar 97.48 %. Pada tahun 2011 cakupan kunjungan pelayanan kesehatan Dasar bagi maskin mengalami peningkatan sebesar 3 % dari tahun

Profil Kesehatan Kabupaten Situbondo Tahun 2012 86 2010, ini disebabkan oleh adanya upaya perluasan cakupan, melalui penjaminan kesehatan kepada masyarakat miskin penghuni panti-panti sosial, masyarakat miskin penghuni lapas/rutan serta masyarakat miskin akibat bencana paska tanggap darurat, sampai dengan satu tahun setelah kejadian bencana, peserta Program Keluarga Harapan (PKH), gelandangan, pengemis dan anak terlantar serta adanya Jaminan Persalinan. Namun pada tahun 2012 cakupan kunjungan pelayanan kesehatan dasar bagi maskin mengalami penurunan sebesar 8.02 % dari tahun 2011, ini disebabkan oleh adanya penyesuaian Peraturan Daerah no 21 tahun 2011 tentang Retribusi Pelayanan Kesehatan pada Puskesmas dan Laboratorium Kesehatan dengan segala macam aturan dan perubahannya. Untuk meningkatkan cakupan tahun 2013 diharapkan petugas kesehatan di tingkat pelayanan dasar lebih bersifat aktif menjemput bola untuk melayani pasien.

4.7 PELAYANAN KESEHATAN LINGKUNGAN DAN SANITASI

Dokumen terkait