• Tidak ada hasil yang ditemukan

LANDASAN TEORI A Pengertian Konseling Islam

C. Perilaku Menyimpang a Pengertian Perilaku

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia perilaku adalah “tanggapan atau reaksi individu terhadap rangsangan atau lingkungan”. 50

Menurut Chaplin sebagaimana yang dikutip Kartono bahwa perilaku adalah suatu perbuatan atau aktivitas atau sembarang respon baik itu reaksi, tanggapan, jawaban atau itu balasan yang dilakukan oleh suatu organisme. Secara khusus pengertian perilaku adalah bagian dari satu kesatuan pola reaksi.51

Perilaku menurut Bimo Walgito adalah suatu aktivitas yang mengalami perubahan dalam diri individu. Perubahan itu didapat dalam segi kognitif, afektif, dan psikomotorik.52

b. Macam-Macam Perilaku 1) Perilaku Yang Baik

Manusia adalah makhluk yang paling sempurna jika dibandingkan dengan makhluk ciptaanTuhan yang lainnya, dimana dibekali dengan akal, pikiran dan budi pekerti maka untuk itulah wajar sekali jika manusia itu sering dikatakan sebagai salah satu makhluk yang bermoral dan sekaligus sebagai mahluk sosial. Oleh sebab itu, penting sekali untuk disadari bahwa keduanya (moral dan sosial) saling membangun manusia dalam kehidupannya sehari hari. Sebagai manusia sebaiknya harus memiliki tingkah laku yang baik dalam masyarakat, maka hal ini dimaksud dengan tingkah laku terpuji.

Selanjutnya pengertian perlaku baik adalah perbuatan atau tindakan yang dilakukan seseorang kepada orang lain yang hasilnya akan memberikan dampak yang lebih baik, sehingga patut dicontoh dalam kehidupan.

Dalam pandangan yang umum perilaku baik disebut juga dengan etika. Etika merupakan suatu sikap dan perilaku yang menunjukkan kesediaan dan kesanggupan seseorang secara sadar untuk mentaati ketentuan dan norma kehidupan yang berlaku dalam suatu kelompok masyarakat atau suatu organisasi, etika organisasi menekankan

50

Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Ketiga, (Jakarta: Balai Pustaka, 2001), h. 152.

51

Kartini Kartono, Psikologi Abnormal dan Patalogi Seks, (Bandung: 1979) h. 53.

52

perlunya seperangkat nilai yang dilaksanakan setiap orang anggota. nilai tersebut berkaitan dengan pengaturan bagaimana seharusnya bersikap dan berperilaku dengan baik seperti sikap hormat, kejujuran, keadilan dan bertanggung jawab. Seperangkat nilai tersebut biasanya dijadikan sebagai acuan dan dianggap sebagai prinsip-prinsip etis atau moral.53

Thomas Lickona menjelaskan bahwa perilaku yang baik disebut juga dengan karakter. Lebih lanjut beliau menjelaskan bahwa karakter yang baik terdiri dari mengetahui hal yang baik, menginginkan hal yang baik dan melakukan hal yang baik- kebiasaan dalam cara berfikir, kebiasaan dalam hati, dan kebiasaan dalam bertindak.54

Dalam kehidupan bermasyarakat, terdapat berbagai permasalahan yang pemecahannya mengandung implikasi moral dan etika, ada cara pemecahan yang secara moral dan etika diterima tetapi ada juga yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Dalam praktek kehidupan organisasi tidak ada tolok ukur yang mutlak tentang yang benar dan yang salah, ini tidak terlepas dari berbagai faktor seperti agama, budaya dan sosial.

Beberapa alasan mengapa norma moral dan etika itu diperlukan dalam masyarakat, karena etika berkaitan dengan perilaku manusia. Agar bisa mengikuti kehidupan sosial dengan baik, manusia memerlukan kesepakatan, pemahaman, prinsip dan ketentuan lain yang menyangkut pola perilaku. Manusia dengan segala konsekuensinya baik bersifat norma moral maupun etika perlu dianalisa dan dikaji ulang. Etika menunjukkan kepada manusia nilai hakiki dari kehidupan sesuai dengan keyakinan agama, pandangan hidup dan sosial.

Contoh mengenai perbuatan terpuji, hal yang paling mudah untuk dilakukan adalah dalam membantu teman yang sedang berkeluh kesah dalam menghadapi persoalan yang biasa hingga berat sekalipun, dimana dengan membantunya pastinya akan memberikan manfaat berupa meringkan beban yang dirasakan oleh teman anda, bentuk bantuan yang terbaik tidak usah selalu berupa uang yang banyak, tetapi bentuk ungkapan perbuatan terpuji yang terbaik adalah memberikan pertolongan sesuai dengan kemampuan dan juga keikhlasan yang bisa diberikan dalam wujud perbuatan, atau hal

53

Skinner, B.F. The Behavior of Organisms: an experimental analysis. (England: Oxford, Appleton-Century, 1938), h. 457.

54

Thomas Lickona, Educating for Character:How our Scools Can Teach and Responsibility, terj. oleh Juma Abdu Wamaungo, (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2013), h. 82.

yang lain yang bisa diberikan seperti memberikan motivasi berupa dorongan yang dapat membuat seseorang lebih bersemangat lagi dalam menghdapi segala masalah yang sedang di hadapinya.

Intinya dengan selalu menerapkan tingkah laku baik pastinya ini akan memberikan sebuah manfaat yang sangat baik bagi yang menerimanya, bisa dalam bentuk permasalahan semakin teringankan. Kemudian seseorang dapat menjadi lebih bahagia karena dapat memberikan manfaat kepada orang lain serta dapat dijadikan contoh.

2) Perilaku Yang Menyimpang

Perilaku menyimpang yang juga biasa dikenal dengan nama penyimpangan sosial adalah semua tindakan yang menyimpang dari norma-norma yang berlaku dalam suatu sistem sosial dan menimbulkan usaha dari mereka yang berwenang dalam sistem itu untuk memperbaiki perilaku yang menyimpang tersebut.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, perilaku menyimpang diartikan sebagai tingkah laku, perbuatan, atau tanggapan seseorang terhadap lingkungan yang bertentangan dengan norma-norma dan hukum yang ada di dalam masyarakat.55

Dalam kehidupan masyarakat, semua tindakan manusia dibatasi oleh aturan (norma) untuk berbuat dan berperilaku sesuai dengan sesuatu yang dianggap baik oleh masyarakat. Namun demikian di tengah kehidupan masyarakat kadang-kadang masih kita jumpai tindakan-tindakan yang tidak sesuai dengan aturan (norma) yang berlaku pada masyarakat, misalnya merampok, membunuh, mencuri, menipu, berbohong, mengadu domba, berkelahi dan lain sebagainya.

Penyimpangan terhadap norma-norma atau nilai-nilai masyarakat disebut deviasi (deviation), sedangkan pelaku atau individu yang melakukan penyimpangan disebut devian (deviant). Kebalikan dari perilaku menyimpang adalah perilaku yang tidak menyimpang yang sering disebut dengan konformitas. Konformitas adalah bentuk interaksi sosial yang di dalamnya seseorang berperilaku sesuai dengan harapan kelompok.

55

Definisi perilaku menyimpang menurut para ahli sebagaimana yang dikemukakan James Vander Zenden penyimpangan sosial adalah perilaku yang oleh sejumlah besar orang dianggap sebagai hal yang tercela dan di luar batas toleransi.56 Dari apa yang dikemukakan oleh Zenden perilaku yang menyimpang itu apabila perlaku yang dilakukan itu tercela yang dapat merugikan diri sipelaku maupun orang lain dan diluar batas toleransi.

Selanjutnya Robert M.Z. Lawang berpendapat bahwa penyimpangan sosial adalah semua tindakan yang menyimpang dari norma yang berlaku dalam sistem sosial dan menimbulkan usaha dari mereka yang berwenang dalam sistem itu untuk memperbaiki perilaku yang menyimpang itu. 57 Dari pendapat Lawang ini dapat ditarik benang merahnya bahwa penyimpangan sosial itu adalah tindakan apa saja yang menyimpang dari norma yang berlaku baik norma agama, hukum atau adat istiadat yang berlaku di suatu daerah dan menimbulkan usaha dari mereka yang berwenang dalam sistem itu untuk memperbaiki perilaku yang menyimpang itu.

Bruce J. Cohen berpendapat perilaku menyimpang adalah setiap perilaku yang tidak berhasil menyesuaikan diri dengan kehendak-kehendak masyarakat atau kelompok tertentu dalam masyarakat.58 Pendapat Cohen ini dapat difahami bahwa perilaku menyimpang adalah setiap perilaku yang tidak mampu atau tidak berhasil menyesuaikan diri dengan kehendak-kehendak masyarakat sehingga terjadi ketidakharmonisan.

Dari beberapa pendapat di atas penulis menyimpulkan bahwa penyimpangan perilaku adalah setiap perilaku yang dinyatakan sebagai pelanggaran terhadap norma- norma kelompok atau masyarakat. Dengan demikan setiap pelanggaran terhadap norma- norma kelompok dalam masyarakat disebut dengan penyimpangan perilaku.

Perilaku menyimpang merupakan salah satu cara untuk menyesuaikan kebudayaan dengan perubahan sosial. Jika terjadi suatu penyimpangan yang dilakukan oleh seseorang, maka dia harus merubahnya dengan cara menyesuaikan kebudayaan yang ada untuk kepentingan keharmonisan dalam kehidupan sosial, jika perubahan ini tidak

56

James Vander Zenden, Psikologi Perkembangan, buku terjemahan Siti Rahayu Haditno, (Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 1998), h. 51.

57

Robert M.Z. Lawang, Buku Materi Pokok Sistem Sosial Indonesia, (Jakarta: Universitas Terbuka Depdikbud, 1986), h. 24.

58

dilakukan maka selama selama seseorang melakukan penyimpangan, selama itu pula seseorang mendapat tantangan dari masyarakat sekitarnya.

Bentuk-bentuk perilaku menyimpang dapat dibagi dua yaitu penyimpangan primer dan sekunder.

a) Penyimpangan sosial primer

Penyimpangan sosial primer adalah penyimpangan yang bersifat sementara (temporer). Orang yang melakukan penyimpangan primer masih tetap dapat diterima oleh kelompok sosialnya karena tidak secara terus-menerus melanggar norma-norma umum.

b) Penyimpangan Sosial Sekunder

Penyimpangan sosial sekunder adalah penyimpangan sosial yang dilakukan secara terus-menerus meskipun sanksi telah diberikan kepadanya sehingga para pelakunya secara umum dikenal sebagai orang yang berperilaku menyimpang. Misalnya, seorang siswa yang terus-menerus datang terlambat ke sekolah atau seorang siswa SMA yang terus menerus menyontek pekerjaan temannya di kelas. Seseorang yang telah dikategorikan berperilaku menyimpang sekunder tidak diinginkan kehadirannya di tengah-tengah masyarakat (dibenci). 59 Penyimpangan sekunder ini cara merubah perilakunya lebih sulit dibandingkan dengan penyimpangan sosial primer, diperlukan meode yang tepat atau konseling yang tepat untuk merubahnya, dalam hal ini konseling Islami merupakan suatu solusi yang cukub baik.

Perilaku menyimpang berdasarkan pelakunya dapat dibagi dua yaitu: (1) Penyimpangan individual

Penyimpangan individual biasanya dilakukan oleh orang yang telah mengabaikan dan menolak norma-norma yang berlaku dalam kehidupan masyarakat. Orang seperti itu biasanya mempunyai penyakit mental sehingga tak dapat mengendalikan dirinya.

Penyimpangan perilaku yang bersifat individual sesuai dengan kadar panyimpangannya adalah sebagai berikut:

(a) Pembandel, yaitu penyimpangan karena tidak patuh pada nasihat orang tua agar mengubah pendiriannya yang kurang baik.

59

(b) Pembangkang, yaitu penyimpangan karena tidak taat pada peringatan pada orang-orang.

(c) Pelanggar, yaitu penyimpangan karena melanggar norma-norma umum yang berlaku.

(d) Perusuh atau penjahat, yaitu penyimpangan karena mengabaikan norma-norma umum sehingga menimbulkan kerugian harta benda atau jiwa di lingkungannya. (e) Munafik, yaitu penyimpangan karena tidak menepati janji, berkata bohong,

berkhianat kepercayaan dan berlagak membela.

(2) Penyimpangan kelompok

Penyimpangan kelompok dilakukan oleh sekelompok orang yang tunduk pada norma kelompok, namun bertentangan dengan norma masyarakat yang berlaku. Paul B. Horton berpendapat penyimpangan sosial memiliki enam ciri sebagai berikut:

(a) Penyimpangan harus dapat didefinisikan. (b) Penyimpangan bisa diterima bisa juga ditolak. (c) Penyimpangan relatif dan penyimpangan mutlak.

(d) Penyimpangan terhadap budaya nyata ataukah budaya ideal. (e) Terdapat norma-norma penghindaran dalam penyimpangan. (f) Penyimpangan bersifat adaptif (menyesuaikan).60

Dari pendapat Horton dan Hunt dapat ditarik suatu pengertian bahwa baik penyimpangan yang dilakukan secara individu maupun secara kelompok harus diperbaiki agar penyimpangan itu tidak dilakukan lagi, sipelaku itu meninggalkan perilakunya yang mnyimpang dengan kesadarannya sendiri.

Lebih lanjut Anwar mengemukakan bahwa terjadinya penyimpangan tingkah laku

yaitu adanya tradisi yang telah menghilang dan telah terjadi deregulasi di dalam masyarakat. penyimpangan tingkah laku atau deviant merupakan gejala dari suatu struktur masyarakat dimana aspirasi budaya yang telah terbentuk terpisah dari sarana yang tersedia dari masyarakat. Perilaku yang menyimpang dari norma dan nilai sosial

60

Paul B. Horton dan Chester L. Hunt, Sosiologi Jilid 2, terjemahan Aminuddin Ram, (Jakarta: Erlangga, 1989), h. 90.

keluarga dan masyarakat yang menjadi penyebab memudarnya ikatan atau solidaritas kelompok. 61

Dari apa yang dikemukakan oleh Anwar di atas terlihat bahwa yang menjadi penyebab memudarnya ikatan atau solidaritas kelompok adalah karena penyimpangan perilaku. Tidak menghormati nilai-nilai atau norma dan aturan yang ada seperti norma agama, budaya atau adat istiadat setempat.

Elly Setiadi dan Usman Kolip memberikan pengertian yang lebih sederhana bahwa perilaku menyimpang adalah semua perilaku manusia yang dilakukan baik secara individual maupun secara kelompok yang tidak sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku di dalam kelompok tersebut.62 Hal ini didukung oleh James Vander Zander yang dikutip Setiadi bahwa yang membuat batasan perilaku menyimpang meliputi semua tindakan yang dianggap sebagai hal yang tercela dan di luar batas-batas toleransi oleh sejumlah besar orang.63 Dengan demikian dapat dipahami bahwa perilaku menyimpang meliputi semua tindakan yang menyimpang dari norma-norma yang berlaku dalam suatu sistem sosial dan menimbulkan usaha dari mereka yang berwenang dari sistem itu untuk memperbaiki perilaku tersebut.

Bruce J. Cohen membatasi perilaku menyimpang sebagai setiap perilaku yang tidak berhasil menyesuaikan diri dengan kehendak masyarakat atau kelompok tertentu dalam masyarakat.64 Pendapat Cohen diatas sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Paul B. Horton bahwa penyimpangan adalah setiap perilaku yang dinyatakan sebagai pelanggaran terhadap norma-norma kelompok atau masyarakat.65

Penyimpangan perilaku dapat terjadi akibat dari pergaulan sebagaimana yang dikemukakan oleh Edward H. Sutherland, ia memandang bahwa perilaku menyimpang bersumber pada pergaulan yang berbeda (diffrential assosiation), artinya seorang individu mempelajari suatu perilaku meyimpang dan interaksinya dengan seorang individu yang berbeda latar belakang asal, kelompok, atau budaya.66

61

Anwar Yesmil dan Adang, Kriminologi, (Bandung: PT. Refika Aditama, 2010) h. 319.

62

Elly Setiadi dan Usman Kolip, Pengantar Sosiologi, (Jakarta: Kencana, 2011), h. 187.

63

Ibid, 188.

64

Cohen, Bruce J, Sosiologi: Suatu Pengantar, (Jakarta, Rineka Cipta, 1992). h. 98.

65

Paul B. Horton dan Chester L. Hunt, Sosiologi Jilid 2, h. 90.

66

Edwin H. Sutherland, Principles of Criminology, (Chicago: University of Chicago Press, 1924), h. 102.

Dalam dunia pendidikan di sekolah misalnya perilaku yang menyimpang adalah perilaku yang melanggar aturan yang ada di sekolah misalnya seorang siswa yang suka datang terlambat ke sekolah, seorang siswa yang suka menyontek pada saat ulangan, suka berbohong, mencuri, dan mengganggu siswa lain, suka berkelahi itu semua adalah contoh perilaku yang melanggar tata tertib atau aturan-aturan yang ada di sekolah.

Yang dimaksud dengan tata tertib adalah seluruh ketentuan atau peraturan yang wajib dipatuhi, ditaati dan dilaksanakan. sedangkan yang dimaksud dengan tata tertib siswa adalah seluruh ketentuan atau peraturan yang wajib dipatuhi, ditaati dan dilaksanakan oleh setiap siswa/i. Tata tertib siswa juga merupakan suatu faktor pendukung dalam rangka untuk meningkatkan disiplin siswa dan untuk mematuhi ketentuan yang berlaku.