BAB V PEMBAHASAN
4. Perilaku
Perilaku pada anak autis terlihat berbeda dengan anak normal/reguler. Anak autis lebih cenderung membatasi diri. Abdul Hadis mengambil kutipan dari Depdiknas menjabarkan lebih luas tentang perilaku ke dalam interaksi sosial juga sensorik.
Pada huruf a) tentang gangguan interaksi sosial poin a1) yang berbunyi; anak autis lebih suka menyendiri, terlihat jelas di lapangan. Anak autis cenderung menyendiri dan kalaupun bermain bisa dipastikan teman mainnya hanya orang-orang tertentu. Kemudian pada poin a2) yang berbunyi; anak tidak melakukan kontak mata dengan orang lain bila diajak berbicara.
Anak autis tidak dapat melakukan kontak mata saat berkomunikasi terlihat jelas. Bahkan mereka cenderung melihat ke arah lain dan terkadang mereka mengalihkan pertanyaan dengan bertanya balik atau berbicara yang lain. Untuk poin a3) yang berisi bahwa; anak autis lebih suka bermain sendiri dan menjauh, memang terlihat pada Azka dan Azmi. Ketika diajak bermain dan berbicara mereka berlalu dan pergi main sendiri tanpa respon sedikitpun. Tetapi untuk anak autis yang lain seperti Rijal, Fandi, Saif, Yola dan Dian mereka sudah mulai dapat bersosialisasi, sehingga dapat diajak bermain walaupun masih terlihat belum berbaur sepenuhnya.
Kemudian pada huruf b) tentang gangguan sensorik poin b1) yang berbunyi; anak autis tidak peka terhadap sentuhan seperti tidak suka dipegang atau dipeluk oleh gurunya baik guru kelas, GPK, atau shadow. Mereka cenderung melepaskan diri dan pergi. Namun setelah diberi perlakuan sekaligus pembelajaran, anak mulai merasa nyaman dan mau menerima. Lalu pada poin b2) yang berbunyi; anak autis bila mendengar suatu hal yang keras akan menutup telinganya, tidak terlihat di lapangan. Selanjutnya pada poin b3) yang berbunyi; bahwa anak autis tidak peka terhadap rasa sakit atau takut terlihat pada semua anak autis, dimana mereka hanya merengek dan beda dari biasanya. Tidak ada keluhan, menangis atau sedih sedikitpun.
Berikutnya huruf c) yang berisi tentang gangguan perilaku, pada poin c2) yang menyatakan bahwa anak autis tidak suka perubahan, peneliti mengetahui berdasarkan keterangan dari GPK, bahwa Rijal dan Fandi ketika tahun pertama dilaksanakannya fullday school tidak bisa menerimanya. Saat
mereka mengetahui dan merasakan pembelajaran di sekolah berlangsung lama dan tidak berakhir seperti biasa, langsung memberikan respon yang agresif dan meminta untuk segera pulang. Lalu pada poin c3) yang berbunyi; autis duduk dengan tatapan kosong tidak terlihat pada seluruh anak autis. Pada poin c4) yang mengatakan bahwa; autis cenderung melakukan gerakan yang aneh dan berulang-ulang terlihat di lapangan. Gerakan aneh seperti menggelengkan kepala, berlari, berlompat-lompat, senyum sumringah serta menepuk tangan beberapa kali. Sedangkan pada poin c5) yang menjelaskan; anak autis merangsang diri sendiri, tidak terlihat adanya usaha untuk merangsang diri sendiri pada seluruh anak autis.70
Menarik tangan orang lain untuk meminta sesuatu yang diinginkan merupakan akibat dari ketidakmampuan mereka dalam berkomunikasi secara verbal. Di samping itu, mereka belum terbiasa untuk berkontak fisik dengan orang baru. Anak autis cenderung menutupmdiri saat melihat atau mengenal orang baru yang berusaha berkenalan dengan mereka.
Berdasarkan pemaparan di atas tentang perilaku anak autis, Yayasan Autisma Indonesia mengklasifikasikan autis dari aspek interaksi sosial yang kemudian terbagi dalam 3 kelompok yaitu: 1) Kelompok yang menyendiri, banyak terlihat pada anak yang menarik diri, acuh tak acuh dan kesal bila diadakan pendekatan sosial serta menunjukkan perilaku dan perhatian yang tidak hangat; 2) Kelompok yang pasif, dapat menerima pendekatan sosial dan bermain dengan anak lain jika pola permainannya
disesuaikan dengan dirinya; 3) Kelompok yang aktif tapi aneh : secara spontan akan mendekati anak yang lain, namun interaksinya tidak sesuai dan sering hanya sepihak.71
Dari ketiga kelompok di atas, anak autis memenuhi ketiga ketentuan. Terbukti di lapangan, Azmi dan Azka tergolong kelompok yang pertama, sedang Yola dan Dian termasuk kelompok kedua. Saif, Rijal dan Fandi termasuk kelompok yang ketiga. Masing-masing anak autis memiliki kelebihan dan kelemahan dan tumbuh kembang yang berbeda-beda.
Untuk lebih memastikan bahwa mereka tergolong autis atau tidak, peneliti mengambil teori yang ditulis oleh Theo Peters berdasarkan Diagnostic Statistical Manual, edisi ke 4 dikembangkan oleh (American Psychiatric Association) yang mengatakan: Terdapat paling sedikit enam pokok dari kelompok a, b, dan c yang meliputi paling sedikit dua pokok dari kelompok a), paling sedikit satu dari kelompok b) dan paling sedikit satu dari kelompok c).72
Maka peneliti akan membuktikan apakah mereka termasuk anak autis atau bukan. Untuk kelompok a) yang berisi tentang gangguan kualitatif dalam interaksi sosial, Azmi dan Azka memenuhi 3 poin yaitu:
1) Anak autis lebih suka menyendiri.
2) Anak tidak melakukan kontak mata dengan orang lain bila diajak berbicara.
3) Bila diajak bermain anak autis lebih suka bermain sendiri dan menjauh.
71 Yayasan Autisma Indonesia, Buku Pedoman Penanganan dan Pendidikan Autisme YPAC, hlm 11-12
Kemudian untuk kelompok b) gangguan kualitatif dalam berkomunikasi terbukti pada semua anak yang memenuhi poin berikut:
1) Keterlambatan atau kekurangan secara menyeluruh dalam berbahasa lisan (tidak disertai usaha untuk mengimbanginya dengan penggunaan gestur atau mimik muka sebagai cara alternatif dalam berkomunikasi).
2) Penggunaan bahasa yang repetitif (diulang-ulang) atau stereotip (meniru-niru) atau bersifat indiosinkratik (aneh).
3) Kurang beragamnya spontanitas dalam permainan pura-pura atau meniru orang lain yang sesuai dengan tingkat perkembangannya.
Dalam hal berinteraksi dengan orang lain, semua anak autis hanya sebatas menjawab tanpa ada kemampuan untuk memulai pembicaraan atau melanjutkan pembicaraan. Dan beberapa di antara mereka seperti Azmi dan Azka terlihat sangat kesulitan dalam berkomunikasi.
Dari beberapa indikasi di atas yang berlandaskan teori maka ketujuh siswa tergolong dalam anak berkebutuhan khusus kategori autis.
Tabel 5.1
Analisa Data Karakteristik Anak Autis
KECERDASAN 1. Komunikasi cenderung
repetitif
2. Ucapan komunikasi kurang jelas
4. Memiliki kreatifitas 5. Memiliki imajinasi
PSIKIS 1. Emosi yang tidak terkendali (tantrum)
2. Mood yang berubah-ubah
FISIK 1. Tidak ada cacat
PERILAKU 1. Ada yang hipoaktif dan ada yang hiperaktif
2. Mampu diajak bermain
3. Menghindari kontak mata saat berbicara
4. Menarik tangan orang lain untuk meminta sesuatu
5. Otot pada rahang dan lidah terganggu
6. Sensor motorik halus (tangan) terganggu
7. Terlihat gerakan aneh yang berulang
8. Terkadang perilakunya agresif