BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
B. Perilaku Nongkrong
Nongkrong merupakan kegiatan berkumpul yang sering dilakukan para remaja termasuk para pelajar. Nongkrong dapat dilakukan dimana saja seperti di kafe-kafe atau tempat berkumpul lainnya. Kegiatan ini biasa dilakukan untuk mengisi waktu luang.
Gambar 4.1 menunjukkan bahwa frekuensi tertinggi responden dalam melakukan kegiatan nongkrong yaitu sebanyak < 3x seminggu sebesar 40% dan terendah yaitu tingkat frekuensi nongkrong setiap hari sebesar 12%. Alasan nongkrong tentu akan beragam tiap individu, kebanyakan remaja nongkrong karena alasan untuk berkumpul bersama atau sekedar untuk mendapatkan akses internet gratis yang disediakan oleh tempat nongkrong yang mereka kunjungi.
Gaya hidup merefleksikan aktivitas dan minat yang melibatkan proses sosial, modal, dan selera. Nongkrong merupakan salah satu gaya hidup. Kebiasaan nongkrong ini juga melibatkan kehidupan sosial responden, modal dan selera.
Gambar 4.1. Persentase Frekuensi Nongkrong Responden dalam Seminggu
Responden yang memiliki kehidupan sosial yang baik seperti memilikiteman-teman yang banyak akan mempengaruhi kebiasaan nongkrong. Teman dapat berpengaruh dalam memberikan referensi tempat nongkrong. Modal (uang saku) yang banyak akan memberikan peluang lebih tinggi untuk responden melakukan kegiatan nongkrong dibandingkan dengan responden yang tidak memiliki uang saku yang banyak. Selera menurut KBBI, memiliki arti nafsu makan, kesukaan atau kegemaran, maka selera dapat mempengaruhi perilaku nongkrong seseorang dikarenakan selera membuat seseorang memiliki kemauan untuk berbuat sesuatu termasuk kegiatan nongkrong.
Seperti alasan yang telah dijelaskan bahwa kebanyakan responden memilih nongkrong untuk berkumpul bersama, maka pada Gambar 4.2., orang-orang yang nongkrong bersama dengan responden yaitu keluarga (orang tua, sanak saudara), teman atau sahabat, dan pacar, serta beberapa menjawab lainnya (sendiri atau dengan kenalan). Berdasarkan pada Gambar 4.2., dinyatakan bahwa persentase
23% 40% 12% 25% 3x/minggu < 3x/minggu Setiap hari Lainnya
terendah responden menjawab lainnya yaitu 5% dan tertinggi yaitu ditemani oleh sahabat atau teman sebesar 59%.
Pada usia remaja banyak terjadi perubahan sikap dan perbuatan yang menandakan individu tersebut menjadi mandiri. Kemandirian pada remaja ditunjukkan dengan perilaku memilih dan memutuskan keinginan yang mereka mau tanpa bergantung pada orangtua. Selain itu, remaja akan lebih banyak beraktivitas di luar rumah yang artinya mereka perlu melakukan penyesuaian diri dengan kelompok termasuk dengan teman sebaya. Salah satu bentuk penyesuaian diri seorang remaja adalah mencari jati diri dan memiliki kecenderungan dengan mencari dukungan dari teman sebaya (Steinberg, 2002). Hal inilah yang menyebabkan para responden lebih banyak melakukan kegiatan nongkrong bersama sahabat atau temannya.
Gambar 4.2. Persentase Orang yang Menemani Responden Saat Nongkrong
Berdasarkan tingginya persentase responden yang menjawab orang yang menemani nongkrong adalah teman atau sahabat maka pada Gambar 4.3. di bawah
15% 12% 59% 9% 5% 0% 10% 20% 30% 40% 50% 60% 70% Orang tua Saudara (kakak/adik/sepupu/dsb) Sahabat/teman Pacar Lainnya
ini menunjukkan persentase tingkat pengaruh teman dalam memberikan referensi tempat nongkrong. Dari hasil penelitian diketahui bahwa sebanyak 45% responden menyatakan bahwa teman sedikit berpengaruh dalam menentukan referensi tempat nongkrong, sedangkan responden yang menjawab sangat berpengaruh sebanyak 17%. Hal ini dapat menjelaskan bahwa kebiasaan nongkrong responden tidak begitu dipengaruhi oleh temannya walaupun ketika mereka nongkrong lebih banyak waktu yang dihabiskan bersama teman maupun sahabat. Hal ini juga didasari pada saat remaja, mereka telah memiliki kebebasan untuk memilih dan memutuskan apa yang mereka inginkan.
Gambar 4.3. Persentase Tingkat Pengaruh Teman dalam Referensi Tempat Nongkrong
Menurut Steinberg (2002), bahwa seorang individu dikatakan mandiri apabila dalam memutuskan sesuatu menurut diri sendiri dan tidak tergantung pada yang dipercayai orang lain. Kemandirian remaja ialah kemampuan untuk mengambil tindakan yang berasal dan diatur diri sendiri guna perkembangan kemampuan sosial secara bertanggung jawab. Oleh karena itu, dalam perkembangan sosialnya seorang
16% 45% 22% 17% Sangat berpengaruh Sedikit berpengaruh Berpengaruh Sangat tidak berpengaruh
remaja memiliki kemandirian untuk bebas menentukan dengan siapa mereka dan dimana mereka akan nongkrong.
Gambar 4.4. Persentase Tempat Nongkrong yang Sering Dikunjungi
Tempat nongkrong favorit dan umum dikunjungi responden berdasarkan penggolongan menurut Heryanti (2009), ditunjukkan pada Gambar 4.4. Berdasarkan data pada Gambar 4.4. kecenderungan responden dalam memilih tempat nongkrong ialah 29% ke McD, KFC, AW, Pizza; 28% memilih warung indomie/burjo; 21% memilih Cha-cha milktea, Starbucks; serta lainnya 16% menyatakan ke tempat makan seperti warung nasi atau restoran seafood; dan 6% menyatakan ke JCo, Dunkin' Donuts. Tempat-tempat makan tersebut menyajikan makanan dan minuman manis. Menu dengan kandungan kalori yang tinggi dapat menyebabkan kadar gula dalam darah meningkat, dan apabila dikonsumsi dalam jumlah yang banyak dengan kurun waktu yang lama maka di dalam tubuh akan terjadi penumpukan gula.
Macam menu yang disajikan oleh tempat-tempat makan tersebut dapat dilihat pada Gambar 4.5., dan menu-menu ini merupakan menu yang biasa dikonsumsi oleh responden. 0% 10% 20% 30% 40% Cha-cha Milktea, Starbucks Jco, Dunkin' Donuts McD, KFC, AW, Pizza Warung Indomie/Burjo Lainnya
Gambar 4.5. Persentase Menu yang Sering Dikonsumsi Saat Nongkrong
Berdasarkan pada Gambar 4.4. di atas walaupun persentase tertinggi tempat yang dikunjungi oleh responden merupakan tempat yang menyajikan makanan dengan kandungan lemak yang tinggi seperti McD, KFC, dan AW yaitu sebesar 29%. Namun, persentase tertinggi menu yang dikonsumsi oleh responden yaitu sebesar 35% merupakan makanan dan minuman manis berkalori tinggi seperti menu kopi, milkshake, milktea, soft drink, serta 19% menjawab mengonsumsi ice cream atau cakes, dan makanan berlemak (fast food) dengan persentase sebanyak 16%, serta lainnya yaitu 14% yang menjawab rumah makan seafood. Hal ini dikarenakan bahwa gerai-gerai tersebut selain menjual makanan cepat saji juga menjual minuman seperti soft drink, ice cream yang umumnya dijual dengan harga yang relative lebih murah.
Hal inilah yang dapat mengakibatkan kadar gula dalam darah menjadi tinggi apabila tidak diimbangi dengan pola hidup yang sehat seperti pengaturan pola makan dan aktivitas fisik (olahraga). Kebiasaan konsumsi fast food yang berlebih dapat berakibat munculnya masalah gizi seperti kelebihan berat badan/obesitas atau
0% 5% 10% 15% 20% 25% 30% 35% 40% Kopi, milkshake, milktea, soft drink
Ice cream, cakes Fried chicken, burger
French fries, nugget, sossis,
popcorn
kekurangan zat gizi. Pola makan fast food yang dilakukan terus menerus dapat mempengaruhi kesehatan pada usia selanjutnya. Hal-hal tersebut dapat memicu risiko penyakit salah satunya diabetes melitus.
Apabila melihat data pada Gambar 4.1. bahwa 12% responden dengan persentase frekuensi nongkrong setiap hari jika tidak diiringi persentase frekuensi konsumsi makanan dan minuman manis yang tinggi pula maka risiko terkena diabetes melitus masih dapat dicegah. Begitu pula untuk responden dengan persentase frekuensi lainnya apabila tidak memiliki kencenderungan frekuensi konsumsi makanan dan minuman manis yang tinggi maka risiko terkena diabetes melitus dapat ditekan. Sebaliknya, jika frekuensi konsumsi makanan dan minuman manis tinggi akan berakibat risiko mengidap diabetes melitus, bahkan pada usia dini.