HASIL PENELITIAN
5.1 Perilaku Pemberian ASI
Pada penelitian ini, diperoleh hasil sebanyak 24 (72,7%) ibu bekerja memiliki perilaku kurang baik terhadap pemberian ASI eksklusif. Sedangkan ibu yang memiliki perilaku baik hanya 9 (27,3%) orang. Dari hasil tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa sebagian besar responden memberikan ASI eksklusif pada bayi. Hasil penelitian ini diperkuat dengan analisa data, ternyata alasan ibu tidak memberikan ASI eksklusif pada 23 (95,8%) responden menjawab alasan mereka tidak memberikan ASI Eksklusif adalah karena mereka bekerja. Selain itu mereka juga beralasan bahwa produksi ASI mereka berkurang dan bayi mereka terlanjur mendapat susu formula, makanan, atau minuman lain pada awal kelahiran. Hasil ini sesuai dengan IDAI tahun 2008, bahwa kendala yang sering menjadi alasan ibu yang melakukan konsultasi ke klinik laktasi dua diantaranya yaitu produksi ASI kurang dan bayi terlanjur mendapakan makanan prelakteal (air gula, susu formula pada hari-hari pertama kelahiran).
Berdasarkan Amiruddin (2007), pekerjaan berkaitan dengan pemberian ASI. Ibu yang bekerja cenderung memiliki waktu yang sedikit untuk menyusui bayinya akibat kesibukan bekerja. Menurut asumsi peneliti produksi ASI yang berkurang pada ibu yang bekerja dapat diakibatkan karena kondisi mereka yang bekerja sehingga mereka tidak memiliki waktu secara intensif untuk memberikan bayi mereka ASI secara ekskusif sehingga mereka menggantikan ASI dengan susu formula atau makanan/ minuman lain. Asumsi peneliti ini diperkuat oleh IDAI tahun 2008, bahwa pemberian makanan pendamping pada bayi sebelum waktunya sering berakibat berkurangnya produksi ASI.
Seharusnya ibu bekerja bukan merupakan alasan untuk menghentikan pemberian ASI eksklusif. Ibu yang ingin kembali bekerja diharapkan berkunjung ke Klinik Laktasi untuk menyiapkan cara memberikan ASI bila bayi harus ditinggal. Langkah-langkah bila ibu ingin kembali bekerja: (IDAI, 2008)
39
1. Siapkan pengasuh bayi (nenek, kakek, anggota keluarga lain, baby sitter, pembantu) sebelum ibu mulai bekerja kembali.
2. Berlatihlah memerah ASI sebelum ibu bekerja kembali. ASI yang diperah dapat dibekukan untuk persediaan / tambahan apabila ibu mulai bekerja. ASI beku dapat disimpan antara 1-6 bulan, bergantung dari jenis lemari esnya. Di dalam lemari es dua pintu ASI beku dapat disimpan lebih dari 3 bulan.
3. Latihlah pengasuh bayi untuk terampil memberikan ASI perah dengan cangkir.
4. Hindari pemakaian dot/empeng karena kemungkinan bayi akan menjadi “bingung puting”.
5. Susuilah bayi sebelum ibu berangkat bekerja, dan pada sore hari segera setelah ibu pulang, dan diteruskan pada malam hari.
6. Selama di kantor, perah ASI setiap 3-4 jam dan disimpan didalam lemari es, diberi label tanggal dan jam ASI diperah. ASI yang disimpan di lemari es pendingin dapat bertahan selama 2x24 jam. ASI perah ini akan diberikan esok harinya selama ibu tidak dirumah. ASI yang diperah terdahulu diberikan lebih dahulu.
7. ASI yang disimpan di lemari es perlu dihangatkan sebelum diberikan kepada bayi dengan meredamnya dalam air hangat. ASI yang sudah dihangatkan tidak boleh dikembalikan ke dalam lemari es. Maka yang dihangatkan adalah sejumlah yang habis diminum bayi satu kali.
8. Apabila ASI yang diperah kemarin tidak mencukupi kebutuhan bayi sampai ibu kembali bekerja, dapat digunakan ASI beku yang sudah disiapkan sebelumnya. ASI beku ini kalau akan diberikan harus ditempatkan di lemari es pendingin supaya mencair dan harus digunakan dalam 24 jam.
40 5.2 Sikap
Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 14 (42,2%) ibu bekerja memiliki sikap kurang baik terhadap pemberian ASI eksklusif. Sedangkan ibu yang memiliki sikap baik terhadap pemberian ASI Eksklusif sebanyak 19 (57,8%) orang. Dari hasil tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa responden memiliki sikap yang baik terhadap pemberian ASI eksklusif lebih banyak dibandingkan dengan responden yang memiliki sikap kurang baik.
Dari 33 orang ibu yang bekerja, ibu yang memiliki sikap baik dan memberikan ASI Eksklusif sebesar 47,4% (9 orang) sedangkan yang tidak memberikan ASI Eksklusif sebesar 52,6% (10 orang). Semua ibu yang memiliki sikap kurang baik tidak memberikan ASI Eksklusif kepada bayinya (100%). Dari hasil penelitian dapat ditarik kesimpulan bahwa semua responden yang memberikan ASI Eksklusif memiliki sikap yang baik terhadap pemberian ASI Eksklusif dan sebaliknya semua responden yang tidak memberikan ASI Eksklusif memiliki sikap yang kurang baik terhadap pemberian ASI Eksklusif. Sikap merupakan faktor penentu perilaku, karena sikap berhubungan dengan persepsi, kepribadian dan motivasi (Gibson, 1985).
5.3 Pengetahuan
Pada penelitian ini, hasil uji univariat menunjukkan sebanyak 14 (42,2%) ibu bekerja memiliki pengetahuan kurang baik terhadap pemberian ASI eksklusif. Sedangkan ibu yang memiliki pengetahuan baik 19 (57,8%) orang. Dari hasil tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa responden memiliki pengetahuan yang baik terhadap pemberian ASI eksklusif lebih banyak dibandingkan dengan responden yang memiliki pengetahuan kurang baik. Berdasarkan analisis data
Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 63,2% ibu bekerja yang memiliki tingkat pengetahuan baik dengan perilaku kurang baik terhadap pemberian ASI eksklusif. Sedangkan ibu bekerja yang memiliki tingkat pengetahuan baik dengan perilaku baik hanya 36,8% responden. Hasil uji juga menunjukkan sebanyak 85,7% ibu bekerja yang memiliki tingkat pengetahuan kurang baik dengan perilaku kurang baik terhadap pemberian ASI eksklusif. Sedangkan ibu yang memiliki tingkat pengetahuan baik dengan perilaku baik hanya 14,3% responden.
41
Dari hasil tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa terdapat pengaruh antara tingkat pengetahuan dengan perilaku responden.
Berdasarkan asumsi peneliti hal ini dapat terjadi karena banyak ibu dalam penelitian ini masih belum mengerti perbedaan antara ASI dengan ASI eksklusif. Karena berdasarkan wawancara yang dilakukan banyak ibu yang mengaku bahwa mereka memberikan ASI Eksklusif namun mereka mengaku bahwa mereka juga memberikan makanan/minuman lain selain ASI.
Berdasarkan definisi Air Susu Ibu yang selanjutnya disebut ASI adalah cairan hidup yang mengandung sel-sel darah putih, imunoglobulin, enzim dan hormon, serta protein spesifik, dan zat-zat gizi lainnya yang diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan anak (Peraturan Bersama Menteri Pemberdayaan Perempuan, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, dan menteri Kesehatan, 2008). Sedangkan ASI Eksklusif adalah ASI Eksklusif adalah pemberian ASI saja sejak bayi dilahirkan sampai sekitar usia 6 bulan. Selama itu bayi tidak diharapkan mendapat tambahan cairan lain seperti susu formula, air jeruk, air teh, madu, air putih. Pada pemberian ASI eksklusif bayi juga tidak diberikan makanan tambahan seperti pisang, biskuit, bubur susu, bubur nasi, tim dan sebagainya. Pemberian ASI secara benar akan dapat memenuhi kebutuhan bayi sampai usia enam bulan, tanpa makanan pendamping. Di atas usia enam bulan, bayi memerlukan makanan tambahan tetapi pemberian ASI dapat dilanjutkan sampai ia berumur dua tahun (Perinasia, 2007).
Dari hasil menunjukkan bahwa dari 33 orang ibu yang bekerja, ibu yang memiliki pengetahuan baik dan memberikan ASI Eksklusif sebesar 36,8% (7 orang) sedangkan yang pengetahuannya kurang baik dan tidak memberikan ASI Eksklusif sebesar 14,3% (2 orang). Ibu bekerja yang memiliki pengetahuan baik dan tidak memberikan ASI Eksklusif sebesar 63,2% (12 orang) sedangkan pengetahuannya kurang baik dan tidak memberikan ASI Eksklusif sebesar 85,7% (12 orang). Dari hasil ini dapat ditarik kesimpulan bahwa pengetahuan yang baik mengenai ASI Eksklusif dapat mempengaruhi ibu yang bekerja untuk tetap memberikan ASI Eksklusif kepada bayinya. Hal ini terbukti dengan hasil yang menunjukkan bahwa jumlah ibu yang memiliki pengetahuan kurang baik dan tidak memberikan ASI Eksklusif kepada bayinya lebih banyak dibandingkan
42
dengan ibu yang pengetahuannya baik dan tidak memberikan ASI Eksklusif kepada bayinya.
Hasil penelitia ini sesuai dengan hasil penelitian Amiruddin (2007) yang menunjukkan bahwa presentase responden yang memberikan ASI eksklusif dan memiliki pengetahuan tentang ASI eksklusif cukup (11,8%) lebih besar dari responden yang memberikan ASI eksklusif dan memiliki pengetahuan tentang ASI eksklusif kurang (7,7%) sedangkan presentase responden yang tidak memberikan ASI eksklusif dan memiliki pengetahuan kurang (92,3%) lebih besar dari responden yang tidak memberikan ASI eksklusif dan memiliki pengetahuan cukup (88,2%).