• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

3. Perilaku peran orang sakit ( the sick role behavior )

Dari segi sosiologi, orang yang sedang sakit mempunyai peran (roles), yang mencakup hak-haknya (rights), dan kewajiban sebagai orang sakit (obligation). Perilaku peran orang sakit antara lain :

a) Tindakan untuk memperoleh kesembuhan

b) Tindakan untuk mengenal atau mengetahui fasilitas kesehatan yang tepat untuk memperoleh kesembuhan.

c) Melakukan kewajibannya sebagai pasien antara lain mematuhi nasehat-nasehat dokter atau perawat untuk mempercepat kesembuhannya.

d) Tidak melakukan sesuatu yang merugikan bagi proses penyembuhan. e) Melakukan kewajiban agar tidak kambuh penyakitnya, dan sebagainya.

Menurut L.W. Green, faktor penyebab masalah kesehatan adalah faktor perilaku dan non perilaku. Faktor perilaku khususnya perilaku kesehatan dipengaruhi oleh 3 faktor yaitu :

1. Faktor-faktor predisposisi (predisposing factors), adalah faktor yang terwujud dalam kepercayaan, keyakinan, nilai-nilai dan juga variasi demografi seperti status ekonomi, umur, jenis kelamin, dan susunan keluarga. Faktor ini lebih bersifat dari dalam diri individu tersebut.

2. Faktor-faktor pemungkin (enabling factors), adalah faktor pendukung yang terwujud dalam lingkungan fisik, yang termasuk didalamnya adalah berbagai macam sarana dan prasarana, misal : dana, transportasi, fasilitas, kebijakan pemerintah dan sebagainya.

3. Faktor-faktor pendorong (reinforcing factors), adalah faktor-faktor yang meliputi faktor sikap dan perilaku tokoh masyarakat, tokoh agama, sikap dan perilaku petugas termasuk petugas kesehatan, termasuk juga disini undang-undang, peraturan-peraturan baik dari pusat maupun pemerintah daerah yang terkait dengan kesehatan.

Benyamin Bloom (1908) seorang ahli psikologi pendidikan membagi perilaku itu kedalam 3 domain (ranah/kawasan), meskipun kawasan-kawassan itu tidak mempunyai batasan, yaitu : a). kognitif ( cognitive ), b). Affektif ( affective), c). Psykomotor (psychomotor). Dalam perkembangannya, teori Bloom ini dimodifikasi untuk pengukuran hasil pendidikan kesehatan, yaitu :

1. Pengetahuan ( Knowledge). 2. Sikap ( Attitude )

3. Praktek atau Tindakan ( Practice )

2.5.1. Pengetahuan.

Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap objek tertentu. Penginderan terjadi melalui panca indra manusia yaitu indera penglihatan, penciuman, pendengaran, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh dari mata dan telinga.

Sedangkan pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan yaitu :

1. Tahu (Know) diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya, termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali terhadap sesuatu yang spesifik dari seluruh bagian yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari antara lain : menyebutkan, mendefenisikan, mengatakan.

2. Memahami ( Comperehension ) diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. Orang telah memahami objek atau materi dan harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyampaikan, meramalkan dan sebagainya terhadap objek yang dipelajari.

3. Aplikasi (Aplication ) diartikan suatu kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada suatu situasi atau kondisi yang nyata. Aplikasi disini dapat diartikan aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus, metode, prinsip dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lainnya. Misalnya dapat menggunakan rumus statistik dalam perhitungan-perhitungan penelitian dan lain-lain.

4. Analisis (Analysis) diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau objek tehadap komponen – komponen tetapi masih dalam suatu organisasi dan masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis ini dapat dilihat dalam penggunaan kata-kata kerja, seperti menggambarkan, memisahkan, mengelompokkan, membedakan dan sebagainya.

5. Sintetis ( Syntetis) menunjuk kepada suatu kemampuan yang meletakkan atau menghubungkan bagian – bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dan formulasi-formulasi yang baru. Misalnya, dapat menyusun, meringkas, menyesuaikan dan sebagainya terhadap suatu teori atau rumusan-rumusan yang telah ada.

6. Evaluasi (Evaluation) hal ini berkaitan dengan kemampuan melakukan penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-penilaian ini berdasarkan kriteria yang telah ditentukan sendiri atau menggunakan kriteria-kriteria yang ada.

Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan isi materi yang ingin diukur dari subjek penelitian atau responden. Kedalaman pengetahuan yang ingin kita ketahui atau kita ukur dapat disesuaikan dengan tingkatan-tingkatan diatas. (Notoatmodjo, 2007).

Faktor – faktor yang mempengaruhi pengetahuan seseorang antara lain :

1. Pendidikan

Pendidikan berarti bimbingan yang diberikan oleh seseorang kepada orang lain agar mereka dapat memahami. Tidak dapat dipungkiri bahwa makin tinggi pendidikan seseorang maka makin mudah pula bagi mereka untuk menerima informasi, dan pada akhirnya makin banyak pula pengetahuan yang mereka miliki.

Lingkungan pekerjaan dapat menjadikan seseorang memperoleh pengalaman dan pengetahuan baik secara langsung maupun secara tidak langsung

3. Umur

Dengan bertambahnya umur seseorang akan terjadi perubahan aspek fisik dan psikologis (mental), dimana aspek psikologis ini taraf berpikir seseorang semakin matang dan dewasa.

4. Minat

Minat diartikan sebagai suatu kecenderungan atau keinginan yang tinggi terhadap sesuatu. Minat menjadikan sesorang untuk mencoba menekuni suatu hal dan pada akhirnya diperoleh pengetahuan yang lebih mendalam.

5. Pengalaman

Pengalaman adalah suatu kejadian yang pernah dialami oleh individu baik dari dalam dirinya ataupun dari lingkungannya. Pada dasarnya pengalaman mungkin saja menyenangkan atau tidak menyenangkan bagi individu yang melekat menjadi pengetahuan pada individu secara sabjektif.

6. Informasi

Kemudahan seseorang untuk memperoleh informasi dapat membantu mempercepat seseorang untuk memperoleh pengetahuan yang baru (Wahid dkk, 2007).

2.5.2. Sikap

Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau objek atau dengan kata lain sikap itu tidak dapat dilihat secara langsung, tetapi dapat ditafsirkan terlebih dahulu dari perilaku yang tertutup. Sikap secara nyata menunjukkan konotasi adanya kesesuaian reaksi terhadap stimulus tertentu yang dalam kehidupan sehari-hari adalah merupakan reaksi yang bersifat emosional terhadap stimulus sosial (Notoatmodjo, 1993)

Secara umum sikap dapat dirumuskan sebagai kecenderungan untuk merespon (secara negatif atau positif) terhadap orang, objek atau situasi tertentu. Sikap mengandung suatu penelitian emosional/afektif (senang, benci, sedih dan sebagainya). Selain bersifat positif dan negatif, sikap memiliki tingkat kedalaman yang berbeda-beda (sangat benci, agak benci, dan sebagainya). Sikap itu tidaklah sama dengan perilaku dan perilaku tidaklah selalu mencerminkan sikap seseorang. Sebab sering kali terjadi bahwa seseorang dapat berubah dengan memperlihatkan tindakan yang bertentangan dengan sikapnya. Sikap seseorang dapat berubah dengan diperolehnya tambahan informasi tentang objek tersebut melalui persuasi serta tekanan dari kelompok sosialnya (Sarwono, 1997).

Menurut Allport (1954) dalam Notoatmodjo 2007 menjelaskan bahwa sikap itu mempunyai 3 komponen pokok yaitu :

b. Kehidupan emosional

c. kecenderungan untuk bertindak

Ketiga komponen ini secara bersama-sama membentuk sikap yang utuh (total attitude). Dalam penentuan sikap yang utuh ini, pengetahuan berpikir, keyakinan dan emosi memegang peranan penting.

Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau objek. Menurut Sarwono (1997) sikap dapat dirumuskan sebagai kecenderungan untuk berespon (secara positif atau negatif) terhadap orang, objek atau situasi tertentu. Sikap mengandung suatu penilaian emosional / afektif (senang, sedih dan sebagainya), disamping komponen kognitif (pengetahuan tentang objek itu) serta kecenderungan untuk bertindak.

Sikap mempunyai ciri – ciri sebagai berikut:

1. Sikap dibentuk dan diperoleh sepanjang perkembangan seseorang dalam hubungan dengan objek tertentu.

2. Sikap dapat berubah sesuai dengan keadaan dan syarat – syarat tertentu terhadap suatu kelompok.

3. Sikap dapat berupa suatu hal tertentu tapi dapat juga berupa kumpulan dari hal – hal tersebut.

4. Sikap mempunyai segi – segi motivasi dan perasaan.

1. Sebagai alat menyesuaikan diri.

Sikap adalah sesuatu yang bersifat communicable yang artinya sesuatu yang mudah menjalar, sehingga menjadi mudah pula menjadi milik bersama. Sikap bisa menjadi rantai penghubung antara orang dengan kelompoknya atau dengan anggota kelompok lain.

2. Sebagai pengatur tingkah laku.

Kita tahu bahwa tingkah laku anak kecil atau binatang umumnya merupakan aksi-aksi yang spontan terhadap sekitarnya. Antara perangsang dan reaksi-aksi tidak ada pertimbangan tetapi pada orang dewasa dan yang sudah lanjut usianya, perangsang itu umumnya tidak diberi reaksi secara spontan akan tetapi terdapat adanya proses secara sadar untuk menilai perangsang-perangsang itu. Jadi antara perangsang dan reaksi terhadap sesuatu yang disisipkannya yaitu sesuatu yang berwujud pertimbangan-pertimbangan atau penilaian-penilaian terhadap perangsang itu sebenarnya bukan hal yang berdiri sendiri tetapi merupakan sesuatu yang erat hubungannya dengan cita-cita orang, tujuan hidup orang, peraturan-peraturan kesusilaan yang ada dalam bendera, keinginan-keinginan pada orang itu dan sebagainya.

3. Sebagai alat pengatur pengalaman – pengalaman.

Dalam hal ini perlu dikemukakan bahwa manusia didalam menerima pengalaman-pengalaman dari dunia luar, sikapnya tidak pasif tetapi diterima secara aktif, artinya semua pengalaman yang berasal dari luar itu tidak semuanya dilayani tetapi memilih mana yang perlu dan yang tidak perlu dilayani. Jadi semua pengalaman ini diberi penilaian lalu dipilih.

4. Sebagai pernyataan kepribadian

Sikap sering mencerminkan pribadi seseorang. Ini disebabkan karena sikap tidak pernah terpisah dari pribadi yang mendukungnya. Oleh karena itu dengan melihat sikap pada objek tertentu, sedikit banyak orang bisa mengetahui pribadi orang tersebut. Jadi sikap sebagai pernyataan pribadi. Apabila kita akan mengubah sikap seseorang kita harus mengetahui keadaan sesungguhnya dari sikap orang tersebut dengan mengetahui sikap itu kita akan mengetahui pula mungkin tidaknya sikap tersebut dapat diubah dan bagaimana cara mengubah sikap –sikap tersebut (Purwanto, 1999).

Seperti halnya pengetahuan, sikap terdiri dari berbagai tingkatan (Notoatmojo, 2003) yaitu :

1. Menerima (Receiving) diartikan orang atau subjek mau dan memperlihatkan stimulus yang diberikan. Misalnya sikap orang terhadap gizi dapat dilihat dari kesedian dan perhatian orang itu terhadap ceramah-ceramah atentang gizi.

2. Merespon (Responding) diartikan sebagai memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan atau menyelesaikan tugas yang diberikan. Karena dengan suatu usaha untuk menjawab pertanyaan atau mengerjakan tugas yang diberikan, terlepas dari pekerjaan itu benar atau salah, adalah berarti orang tersebut menerima ide tersebut.

3. Menghargai (Valuing) diartikan sebagai mengajak orang lain untuk mengerjakan dan mendiskusikan suatu masalah.

4. Bertanggung jawab (Responsible) adalah bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilih dengan segala resiko.

2.5.3.Tindakan

Menurut Notoatmojo (2003) tindakan adalah gerakan atau perbuatan dari tubuh setelah mendapatkan rangsangan ataupun adaptasi dari dalam tubuh maupun dari luar tubuh atau lingkungan.

Secara logis, sikap akan dicerminkan dalam bentuk tindakan namun tidak dapat dikatakan bahwa sikap dan tindakan memiliki hubungan yang sistematis. Suatu sikap belum tentu terwujud dalam suatu tindakan. Untuk terwujudnya sikap menjadi suatu tindakan diperlukan faktor pendukung atau suatu kondisi yang memungkinkan antara lain fasilitas dan faktor dukungan dari berbagai pihak.

Tindakan terdiri dari berbagai tingkatan menurut kualitasnya, yakni:

1. Persepsi (perception)

Mengenal dan memilih berbagai objek sehubungan dengan tindakan yang akan diambil adalah merupakan praktek tingkat pertama.

2. Respon terpimpin (guided response)

Dapat melakukan sesuatu sesuai dengan urutan yang benar dan sesuai dengan contoh adalah merupakan indikator praktek tingkat dua.

Apabila seseorang telah dapat melakukan sesuatu dengan benar secara optimis, atau sesuatu itu sudah merupakan kebiasaan , maka ia sudah mencapai praktek tingkatan tiga.

4. Adopsi (Adoption)

Adapsi adalah praktek atau tindakan yang sudah berkembang dengan baik. Artinya tindakan itu sudah dimodifikasinya tanpa mengurangi kebenaran tindakan tersebut.

2.6.Proses Adopsi Perilaku

Penelitian Rogers ( 1974 ) dalam Notoadmodjo (2007), mengungkapkan bahwa sebelum orang mengadopsi perilaku baru, didalam diri orang tersebut terjadi proses yang berurut yakni :

1. awarnes (kesadaran) yaitu menyadarari atau mengetahui terlebih dahulu stimulus (objek).

2. Interest (ketertarikan) yaitu merasa tertarik terhadap stimulus atau objek.

3. Evaluation (Pertimbangan) yaitu menimbang-nimbang baik tidaknya stimulus terhadap dirinya.

4. Trial (mencoba), subjek mulai mencoba melakukan sesuatu sesuai dengan yang dikehendaki oleh stimulus.

5. Adoption (Adopsi) yaitu subjek telah berperilaku sesuai dengan pengetahuan, kesadaran, dan sikap terhadap stimulus. (Notoatmojo, 2003).

Apabila penerimaan perilaku baru atau adopsi perilaku seperti ini, dimana didasari pengetahuan, kesadaran sikap yang positif, maka perilaku tersebut akan bersifat langgeng (long lasting). Sebaliknya apabila adopsi perilaku tidak didasari pengetahuan dan kesadaran maka tidak akan berlangsung lama (Notoatmojo, 2003).

2.7.Kerangka Konsep

Dari kerangka diatas menunjukkan bahwa faktor internal (jenis kelamin, umur, pendidikan, pekerjaan) dan faktor eksternal (media informasi, petugas kesehatan) akan mempengaruhi pengetahuan, sikap dan tindakan keluarga terhadap penderita pasca stroke dalam upaya rehabilitasi.

Faktor Internal Jenis kelamin Umur Pendidikan Suku Tindakan Keluarga Terhadap Penderita Pasca Stroke Dalam Upaya Rehabilitasi Pengetahuan Keluarga Terhadap Penderita Pasca Stroke Dalam Upaya Rehabilitasi ahuan Faktor Eksternal Media Informasi Petugas Kesehatan Fasilitas kesehatan Sikap Keluarga Terhadap Penderita Pasca Stroke Dalam Upaya Rehabilitasi

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Untuk mengetahui gambaran perilaku keluarga terhadap penderita pasca stroke dalam upaya rehabilitasi di RS St. Elisabath Medan Tahun 2010.

3.2.Lokasi Dan Waktu Penelelitian 3.2.1. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di RS St. Elisabeth Medan. Pemilihan lokasi penelitian didasarkan atas pertimbangan bahwa :

1. RS St. Elisabeth merupakan rumah sakit yang memiliki sarana dan prasarana yang lengkap dan fasilitas untuk pengobatan dan penangan panyakit stroke. 2. Belum pernah dilakukan penelitian tentang gambaran peran keluarga terhadap

penderita pasca stroke dalam upaya rehabilitasi. Di RS St. Elisabeth Medan.

3.2.2. Waktu penelitian

Dokumen terkait