• Tidak ada hasil yang ditemukan

V. PEMBAHASAN

5.2 Perilaku Petani Dalam Penanganan Panen dan Pasca Panen Kopi

5.2.2 Perilaku Petani dari Segi Keterampilan Panen dan Pasca

dan kreatifitas dalam mengerjakan, mengubah ataupun membuat sesuatu menjadi lebih bermakna. Keterampilan seseorang dalam mengerjakan sesuatu sangat mempengaruhi bagaimana cara orang tersebut bereaksi terhadap situasi-situasi tertentu.

Keterampilan sangat dibutuhkan untuk para petani dalam usahata tani kopi. keterampilan dalam penelitian ini adalah kecakapan yang dimiliki oleh petani untuk melakukan tugas - tugas dalam usahataninya dan berbagai kegiatan lain untuk meningkatkan produksi biji kopi yang bermutu baik. Untuk lebih jelasnya berikut rata – rata tingkat keterampilan petani dalam penanganan panen kopi dilihat pada tabel 13.

Tabel 13. Rekapitulasi Rata-rata Keterampilan Responden Mengenai Perilaku Petani dalam Pengananan Panen Kopi di Desa Labbo Kecamatan Tompobulu Kabupaten Bantaeng

No Keterampilan Petani Skor Rata- rata Kategori 1

2

Pemetikan

Warna Buah Kopi

2,92 2,89 Tinggi Tinggi Jumlah 5,81 Tinggi Rata– rata 2,90

Sumber : Data Primer yang telah diolah, 2017

Berdasarkan hasil penelitian bahwa perilaku petani dilihat dari segi keterampilan di Desa Labbo Kecamatan Tompobulu Kabupaten Banteng memiliki nilai rata – rata 2,90 yang termasuk dalam kategori tinggi, ini menggambarkan bahwa perilaku petani dalam usahatani kopi dari segi keterampilan mampu dalam melakukan kegiatan panen kopi dengan baik. Kegiatan panen kopi merupakan kegiatan akhir dari usaha membudidayakan tanaman kopi, pemetikan buah kopi dalam satu pohon perlu dilakukan dengan cermat oleh para pekerja.

Para petani sudah memetik buah kopi dengan benar, dengan cara dipetik satu persatu pada dompolan buah kopi yang ada dipohon dan hanya memetik buah kopi yang berwarna merah, memetik dengan cara merampas tidak dianjurkan karena dapat merusak tangkai. Hal ini sudah sesuai dengan yang di anjurkan menurut Rahardjo (2013), pemetikan buah kopi merah dilakukan satu per satu pada masing – masing dompolan buah kopi yang ada dipohon. Memetik dengan cara merampas tidak dianjurkan karena dapat merusak tangkai. karena tangkai tersebut akan tumbuh kembali buah kopi dan hasil pemetikan buah kopi merah kemudian dimasukkan dalam keranjang.

Warna buah Kopi, warna merah dalam buah kopi sudah ditandakan waktu masaknya buah kopi yang sudah baik untuk dipanen, namun biasanya buah kopi yang sudah merah di awal sebelum petik merah buah kopi di karenakan buah kopi yang terserang hama. Petani akan memetik dan masih baik untuk diproduksi dengan cara direndam dalam air panas terlebih dahulu, agar buah kopi yang terkena hama dapat dinetralisir dan kemudian dijemur dibawah panas matahari. Petani sudah memahami warna buah kopi yang sudah baik dipanen, dan untuk buah kopi terserang hama tetap disimpan agar buah kopi tidak ada yang terbuang.

Sedangkan untuk Keterampilan petani dalam penanganan pasca panen kopi dengan tingkat rata-rata dapat dilihat pada tabel 14.

Tabel 14. Rekapitulasi Rata-rata keterampilan Responden mengenai Perilaku Petani dalam Penanganan Pasca Panen Kopi di Desa Labbo Kecamatan Tompobulu Kabupaten Bantaeng

No Keterampilan Petani Skor Rata-rata Kategori 1 2 3 4 5 Sortasi Pengupasan Fermentasi Pengeringan Penyimpanan 2,27 2,88 2,24 2,86 2,89 Sedang Tinggi Sedang Tinggi Tinggi Jumlah 13,14 Tinggi Rata- rata 2,62

Sumber : Data Primer yang telah diolah,2017

Tabel 14 menunjukkan, bahwa keterampilan petani dalam pasca panen kopi di Desa Labbo Kecamatan Tompobulu Kabupaten Bantaeng memiliki nilai rata – rata 2,62 termasuk dengan kategori tinggi.

Sortasi, keterampilan petani dalam sortasi pada buah kopi berada pada kategori sedang dengan skor rata-rata 2,27. Hal ini dikarenakan petani melakukan sortasi pada saat akan memasukkan buah kopi ke dalam mesin pengupas kulit buah, petani tidak melakukan sortasi dengan baik yaitu untuk memisahkan buah kopi dari buah yang cacat, terserang hama dan penyakit. Seharusnya pada saat akan melakukan sortasi pada buah kopi yang akan dimasukkan ke mesin pengupas, buah kopi harus dipisahkan dari buah yang cacat, terserang hama dan penyakit sehingga mutu biji kopi tetap terjaga.

Pengupasan, keterampilan petani dalam pengupasan kulit buah kopi berada pada kategori tinggi dengan skor rata-rata 2,88. Petani melakukan pengupasan pada buah kopi yang sudah masak karena lebih mudah terkupas, petani juga menyesuaikan ukuran buah kopi dengan mengatur lebar celah pada mesin pengupas, karena terkadang petani memasukkan ukuran buah kopi yang lebih besar dari leher celah mesin sehingga hasil kupasan lebih bersih dan jumlah biji kopi pecahnya sedikit. Hampir semua petani memiliki mesin pengupas kulit buah kopi sehingga lebih memudahkkan petani untuk mengolah kopi sendiri tanpa harus terpikir untuk menyewa mesin.

Fermentasi, keterampilan petani dalam fermentasi biji kopi berada pada kategori sedang dengan skor rata-rata 2,24. Hal ini dikarenakan dalam proses fermentasi petani tidak mengaduk biji kopi sehingga proses fermentasi biji kopi tidak merata dan petani tidak memperhatikan kesempurnaannya. Seharusnya petani mengaduk biji kopi sehingga proses fermentasi merata. fermentasi biji kopi dapat dikatakan selesai apabila lendir pada biji kopi sudah hilang dengan cara

menggosok biji kopi dengan tangan. Namun ada beberapa petani yang sudah melakukan proses fermentasi dengan baik.

Pengeringan, keterampilan petani dalam pengeringan biji kopi berada pada kategori tinggi dengan skor rata-rata 2,86. Pengeringan dilakukan dengan cara tradisional , yaitu setelah biji kopi selesai dari proses fermentasi maka biji kopi tersebut langsung dijemur. Biasanya petani menggunakan media penjemuran seperti tikar yang dibuat memanjang. Petani menjemur biji kopi dihalaman rumah mereka atau menggunakan pinggir jalan sebagai tempat penjemuran. Penjemuran biji kopi secara tradisional tergantung dari sinar matahari, apabila matahari terik dengan baik maka penjemuran biji kopi dapat kering sempurna, namun apabila terik matahari tidak begitu baik pengeringan proses akan lebih lama. Pengeringan biji kopi yang sempurna mengasilkan cita rasa yang enak.

Penyimpanan, keterampilan petani dalam penyimpanan biji kopi berada pada kategori tinggi dengan skor rata-rata 2,89. Tempat penyimpanan sangat berperan dalam mempertahankan kualitas kopi, perbedaan suhu, kelembapan dan ketinggian daerah dapat berpengaruh terhadap mutu kopi. suhu ruangan dan kelembapan udara yang sesuai dapat mempertahankan kadar biji air (sekitar 12%). Petani sangat memperhatikan penyimpanan biji kopi agar mutu kopi tetap terjaga dan cita rasanya tidak rusak. Sehingga penyimpanannya benar-benar ditempat yang sesuai dan cocok pada biji kopi.

Dokumen terkait