• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 5 PEMBAHASAN

5.2 Perilaku Seksual yang beresiko pada Waria

Terjadinya waria disebabkan oleh faktor biologis, psikologis dan sosiologis.

Waria memiliki konsep diri yang rendah karena mengalami kebingungan dalam menentukan identitas seksualnya, menyebabkan waria tidak bisa diterima dalam lingkungan keluarga dan masyarakat. Akibatnya tekanan sosial dalam bentuk stigma dan diskriminasi kerap menimpa waria.

Permasalahan sosial yang dihadapi kaum waria di Indonesia termasuk sangat rumit dan kompleks akibat struktur sosial budaya yang ada kurang mendukung mereka dalam menjalani kehidupannya secara wajar baik yang diakibatkan oleh faktor intern sendiri seperti hidup menyendiri/hanya terbatas pada komunitasnya juga karena faktor ekstern seperti pendidikan terbatas, kemiskinan, ketidaktrampilan, diskriminasi baik dikalangan masyarakat umum maupun oleh keluarganya sendiri.

Dengan kondisi dan situasi yang dihadapi oleh kaum waria tersebut membuat mereka cenderang terjerumus pada hal-hal yang menyimpang seperri pelacur, pengemis, pengangguran dan lainnya. Akibat dari perilakunya tersebut berdampak pada masalah kesehatan/penyakit fisik, dan kehidupan sosial, seperti penyakit kelamin, kulit, HIV/AIDS, narkoba dan penyakit menular lainnya.

5.3 Aktifitas Seksual

Perilaku seksual yang dilakukan waria dalam penelitian ini adalah oral seks, onani, hingga anal seks. Kegiatan seksual mereka biasa dimulai dari onani yaitu waria rnerangsang alat kelamin kliennya dengan menggunakan tangan setelah itu baru

75

dilakukan oral seks, dimana waria menghisap air mani dengan mulut hingga tuntas setelah terjadi ejakulasi baru penis dilepaskan. Setelah oral seks maka dilakukan teknik anal seks yaitu memasukkan alat kelamin klien ke anus waria, teknik ini merupakan teknik yang paling digemari klien sebagai cara pemuasan nafsu seks.

Didalam melakukan praktik relasi seksual< waria mengenal empat metode yakni oral seks, anal, jepit dan onani. Praktik oral merupakan relasi seksual yang paling sering dilakukan. Praktik oral disebut pula dengan fellatio, karoke ataupun dilingkungan waria sering disebut dengan istilah ngesong cara ini paraktis, juga menjadi teknik yang paling banyak dikembangkan, karena lidah dan gigi dapat berfungsi sebagai alat untuk menambah kenikmatan seksual pasangannya.praktik anal merupakan relasi seksual yang paling banyak dilakukan praktik anal disebut pula dilingkungan waria Nura atau Tempong menjadi teknik yang disukai .

Kemudian Parktik jepit, teknik ini dilakukan dengan cara menjepit alat vital pasangan waria, sedang alat vital waria diletakkan diatas perut paangannya, sehingga ketika terjadi gerakan saling menggosok, kedua belah pihak bisa mencapai orgasme, baik bersama ataupun secara bergantian.

Menurut hasil penelitian Ratnawati dalam Hary (2011), perilaku oral seks dan anal seks dilakukan komunitas waria dalam berhubungan seksual yang sangat berisiko terhadap terjadinya IMS. Jenis IMS yang menyerang waria antara lain gatal-gatal pada penis, sifilis dan herpes kelamin. Cara lain untuk memenuhi kebutuhan seks dapat dengan cara onani. Di kalangan waria juga ada mitos yang rnengatakan bahwa jika menelan sperma maka menjadikannya awet muda, sehingga banyak dari waria

76

melakukan hal itu. Hal itu adalah mitos yang tidak benar, menelan sperma justru akan memperbesar resiko terpapar HIV (Hary, 2011).

Dampak perilaku seks berisiko, terlihat pada kejadian HIV dan riwayat IMS yang cukup tinggi, terutama pada waria yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok lainnya. Hal ini disebabkan karena kebanyakan waria melakukan anal seks (hubungan seks dengan penetrasi ke dalam anus) pada pasangannya.

Perilaku tersebut mempakan perilaku berisiko karena kemungkinan luka yang memudahkan terjadinya penularan IMS dan HIV. Selain anal seks, waria juga melakukan aktivitas oral seks (Irianto, 2010).

Sebagian besar waria menyatakan menyukai teknik seks secara anal seks dan oral seks, karena alasan ingin diperlakukan sebagai perempuan dalam berhubungan seks. Sebagian besar waria menyukai pasangan tetap seorang pria. mereka juga memiliki pasangan laki-laki bahkan sering berganti-ganti pasangan.

Gaya hidup seksual (sexual lifestyle) waria merupakan perilaku seksual waria yang melekat dalam dirinya yang dipengaruhi oleh lingkungan sosial dan budaya yang ada disekitarnya serta berdampak pada kesehatannya. Gaya hidup seksual waria tercermin dari melakukan aktifitas seksualnya seperti berganti-ganti pasangan, tidak menggunakan kondom serta melakukan seks anal dan oral. Dalam hal pasangan seksual, bagi waria memiliki pacar setidaknya untuk memenuhi kebutuhan, yakni melepaskan nafsu seksual.

Rangsangan yang dialami pada waria adalah kombinasi dari rangsangan pandangan yang biasanya dialami oleh pria dan rangsangan dari sentuhan yang biasanya dialami oleh wanita. tidak semua hubungan seksual yang dilakukannya

77

mengalami ejakulasi yang biasa mereka sebut dengan istilah "nembers". nembers yang dialami pada waria sama seperti ejakulasi yang dialami oleh pria pada umumnya yang ditandai dengan keluarnya cairan sperma dari penis. Waria dapat mengalami nembers ketika melihat pasangannya yang ganteng, macho dan melihat penis pasangannya yang besar. Pada waria sentuhan lembut yang pas dan sesuai dengan keinginannya juga dapat memberikan nembers pada waria layaknya seorang wanita.

Rangsangan sentuhan akan berperan pada waria apabila waria telah memiliki kelebihan hormon estrogen, sehingga mempengaruhi metabolisme tubuh yang secara fisik ditandai dengan pembesaran payudara, pembesaran pada pinggul dan sebagainya.

Pembesaran pada payudara akan diikuti pada pembesaran pada putting payudara.

Sedangkan puting yang besar mempunyai sel-sel stimulator (sensor) perasa yang makin banyak berlipat-lipat jumlahnya, sehingga menimbulkan efek rangsangan yang sangat besar (Dina, 2007).

Hasil penelitian di lapangan juga menunjukkan hal yang sama yaitu pada kasus Marni dan Della, yang dapat mengalami nemhers jika payudaranya di hisap dan badannya di cumbu oleh pasangannya. Jadi pada waria selain dapat merasakan rangsangan yang diakibatkan oleh pandangan mata, juga dapat merasakan rangsangan sentuhan seperti yang dirasakan oleh wanita normal pada umumnya. Waria merasakan stimulus/rangsangan dari penglihatan akan mempengaruhi ereksi pada penisnya, jadi rangsangannya tidak akan terasa sampai ke sekujur tubuh, tetapi rangsangan yang didapat akibat dari sentuhan yang sensual akan mengakibatkan ereksi pada penis dan juga akan merasakan orgasme (Dina, 2007)

78

Perilaku seksual yang suka berganti-ganti pasangan ini merupakan faktor resiko terbesar bagi para waria tertular HIV. Intensitas hubungan ternyata cukup bervariasi, ada yang satu bulan sekali bahkan ada yang satu malam melakukan hubungan seks sebanyak tujuh kali. Intensitas hubungan seksual berisiko yang tinggi tentunya sangat berpengaruh dengan kejadian penularan IMS dan HIV/AIDS. Semakin sering mereka melakukan hubungan seksual, semakin tinggi pula resiko untuk terkena IMS dan HIV/AIDS. Menurut Daili (2003) dalam Hemawati (2005), menyatakan bahwa perilaku risiko tinggi dalam penyebaran IMS dan HIV ialah perilaku yang menyebabkan seseorang mempunyai risiko besar terserang penyakit karena seseorang dapat terkena IMS dan HIV rata-rata lebih dari 5 pasangan seksual dan perilaku seksual tanpa menggunakan pengaman.

5.4 Pencegahan HIV

HIV adalah virus yang menyerang sel CD4 dan menjadikannya tempat berkembang biak, kemudian merusaknya sehingga tidak dapat digunakan lagi.

Sebagaimana kita ketahui bahwa sel darah putih sangat diperlukan untuk system kekebalan tubuh. Tanpa kekebalan tubuh maka ketika tubuh kita diserang penyakit, tubuh kita lemah dan tidak berupaya melawan jangkitan penyakit dan akibatnya kita dapat meninggal dunia meski terkena influenza atau pilk biasa. Manusia terkena virus HIV, tidak langsung menderita penyakit AIDS, melainkan diperlukan waktu yang cukup lama bahkan bertahun-tahun bagi virus HIV untuk berubah menjadi AIDS yang mematikan.

79

Waria berada diantara populasi terinveksi HIV terbesar. Hasil survei keseliatan juga membuktikan bahwa telah banyak data yang menyatakan waria telah banyak yang mengidap HIV positif. Hal ini merupakan resiko yang terjadi pada waria yang pekerjaannya sebagai pekerja seksual yang merupakan bentuk dari diskriminasi pekerjan sosial yang dihadapi oleh waria sehingga menyebabkan waria memilili menjadi pekerjaan seks.

Seks anal adalah bagian yang tak terlepaskan dari aktivitas seks waria. Lubang anus sangat sempit dan mudah terjadi luka saat sedang melakukan seks anal, untuk itu diperlukan penggunaan kondom dan pelicin berbahan dasar air saat melakukan anal seks. Pelicin berbahan dasar air adalah pelicin yang paling aman dan cocok untuk kondom yang terbuat dari lateks. Untuk menjaga kebersihan anus, haras rajin melakukan pembersihan anus setiap kali melakukan anal seks, terlebih lagi jika mempunyai bisul di daerah anus, karena ini bisa saja merupakan IMS (Sanggar Waria Remaja, 2010) Kondom adalah salah satu alat penting untuk mencegah penularan IMS dan HIV.

Kondom mengurangi resiko terjangkit atau terjangkiti HIV dan IMS seperti kencing nanah, Chlamydia, syphilis/raja singa, jengger ayam, herpes dan lainnya. Pengetesan HIV dan pemeriksaan IMS adalah hal penting untuk dilakukan demi mengurangi resiko tertular.

Pada umumnya semua waria sudah mengetahui dan mengerti cara pencegahan penyakit HIV, yang mereka lakukan biasanya yaitu dengan menggunakan kondom.

Tidak semua klien atau pacar mereka mau menggunakan kondom dengan alasan tidak bisa ejakulasi, tidak biasa, dan tidak membawa kondom. Waria punya trik tersendiri

80

untuk memakai kondom, dengan mengocok alat kelamin pasangan. Bahkan sebagian waria ada yang memakaikan kondom dalam mulutnya, jadi ketika hendak melakukan oral seks klien tidak sadar bahwa mereka telah dipakaikan kondom.

Pencegahan yang dilakukan waria masih beragam seperti olah raga dengan teratur dapat meningkatkan kekebalan tubuh hal ini menurut waria dapat menjadi salah satu cara pencegahan untuk terhindarnya dari HIV. Hal ini diungkapkan oleh Anggra

Informan Pencegahan

AG “ aku suka berolah raga kak, biar badanku tetap fit imun tubuhku kuat jadi gak gampang terserang penyakit HIV (Anggra)”

Menurut dr. Suharto yang dikutip dalam seminar dengan topic Olah raga untuk orang dengan HIV/AIDS(ODHA), orang yang hidup dengan virus HIV, cepat atau lambat akan mengalami penurunan ketahanan tubuh, upaya yang bisa dilakukan dengan meningkatkan daya tahan tubuh melalui berbagai cara yang berkaitan dengan gaya hidup sehat. Seperti latihan fisik yang baik dan benar akan meningkatkan imun seseorang, olah raga yang bisa dilakukan tidak boleh melebihi batas kemampuannya, olah raga yang dilakukan seperti aerobic, lari, berenang dan bersepeda.Dengan olah raga yang terprogram, teratur akan meningkatkan ketahan fisik yang akan membantu memperpanjang periode kehidupan.

Mengkonsumsi bawang putih dapat membantu mengatasi infeksi dan menghambat virus merusak organ tubuh yang dapat menimbulkan berbagai macam penyakit. Hal ini merupakan salah satu cara pencegahan yang dilakukan waria agar terhindar dari penyakit HIV.

81

Informan Pencegahan

DL aku sering mengkonsumsi bawang putih, sama air daun sirsak , bawang putih itu fungsinya untuk meningkatkan sel darah putih, kalau terjangkit HIV itu kan kak sel darah putih yang diserang jadi harus banyak mengkonsumsi biar kuat sel darah putihnya melawan kuman-kuman yang masuk ke dalam tubuh kita, satu hari aku makan bawang putih 3 butir, pagi 1 x, siang 1 kali , malam 1 kali tapi kalu aku gak tidur dirumah sering aku double kan bawang putihnya kadang ku blender ku kasih madu dikit.air sirsak juga kan anti oksidan rutin juga aku minumnya, mamak ku malah ikut-ikutan minum daun sirsak kan anti kolesterol juga.

Bawang putih dengan nama ilmiah Allium satium L, bawang putih mengandung minyak asiri yang mudah menguap di udara bebas. Minyak asiri dari bawang memiliki kemampuan antibakteri dan antiseptic. Aroma khas yaitu alisin yang mengandung sulfur dengan struktur tidak jenuh dan dalam beberapa detik terurai senyawa dialil sulfide. Didalam tubuh, alisin merusak protein keman penyakit, kuman penyakit tersebt mati. Alisin zat aktif mempunyai daya antibiotika cukup ampuh. Manfaat bawang putih dalam catatan sejarah mesir kuno bahwa bawang putih memiliki peran dalam pembangunan piramida-piramida besar, para pekerja diberi makanan bawang putih dengan jumlah besar. Menurut keyakinan mereka bahwa bawang putih memiliki manfaat dan khasiat menangkal penyakit, dan juga memiliki manfaat dan khasiat untuk member dan menanbah daya tahan tubuh agar tetap kuat, dan meningkatkan stamina dan kekebalan tubuh dalam menangkal dan menyembuhkan berbagai penyakit. (Beck, 2014)

Sirsak memiliki nama latin Annona muricata L dan berasal dari keluarga Annonaceae. Tanaman sirsak berasal dari Karibia, Amerika tengah dan Amerika Selatan. Kandungan senyawa buah sirsak yang sangat bermanfaat bagi kesehatan,

82

Daun sirak mengandung acetogenis, gigantetronin, annocatalin, annohexocin, annomuricin, annocatacin, gentisic acid, anonol, annonacin, caclourine, muricapentocin dan linolic acid yang berfungsi menjaga kesehatan melalui system kekebalan tubuh atau sistem imun manusia. (Beck, 2014)

Berbagai jenis barang pribadi seperti sikat gigi, alat cukur dan handuk, dapat menular melalui benda-benda pribadi tersebut, penyakit HIV bisa menular dengan berbagai alat cukur, cukuran biasanya pasti akan meyebabkan luka, walaupun sedikit ada darah tersisa, HIV dan hepatitis bisa menular melalui darah yang tinggal di alat pisau cukur tersebut, jika terjadi luka dan iritasi menyebabkan kulit terbuka sehingga memudahkan masuknya virus melalui perlukaan.

Hal lain yang dilakukan dalam pencegahan HIV adalah perawatan rutin yang dilakukan waria. Waria sudah memahami bahwa pemeriksaan rutin dapat mencegah terjadinya HIV.

Informan Pencegahan

DL “ Kalau aku malah sering memeriksan diri semakin kita tahu cepat semaki besar harapan hidup kita, seperti aku sangat beresiko untuk tertular dengan aktifitas sex ku yang sering dengan berganti-ganti pasangan”

“Aku memeriksakan diri 3 bulan sekali , takut juga apalagi aku punya teman yang terjangkit HIV, makanya aku takut kalau kupikir dia bukan waria PSK tapi dia suka gonta ganti pacar, memang sich dulunya dia perna pacaran sama cowok dengan perilakunya pakai narkoba, dia tahu tapi karna cinta ya gitu tetap aja pacaran dia sama cowok itu, aku memang gak suka sama cowok yang make narkoba takut aku,”.

Pada infeksi atau masuknya HIV kedalam tubuh manusia dikenal adanya periode jendela (window period). Yaitu masa dimana orang tersebut telah terinfeksi

83

HIV, tetapi bila dilakukan pemeriksaan darahnya maka belum menunjukkan hasil apa-apa (masih negatif) yang berarti zat anti bodi terhadap HIV belum terdeteksi oleh pemeriksaan laboratorium. Periode jendela ini biasanya berlangsung 1-6 bulan dari sejak mulainya infeksi. Namun satu hal yang perlu diingat adalah bahwa sejak masuknya HIV, seseorang telah menjadi pengidap HIV dan ia dapat menularkan HIV sepanjang hidupnya. Sehingga walaupun dalam masa periode jendela, orang tersebut sudah menjadi sumber penularan. Ia dapat menularkan virusnya kepada orang lain pada setiap kesempatan yang memungkinkan terjadinya penularan.

Pemeriksaan yang dilakukan waria pada Puskesmas Teladan didapatkan secara cuma-cuma, sehingga meningkatkan perilaku waria untuk melakukan pemeriksan rutin. sarana pelayanan kesehatan untuk memeriksakan HIV mudah dijangkau dan sudah dimanfaatkan oleh waria, tes VCT dilakukan dengan sukarela oleh waria dan adanya dukungan dari teman sebaya atau kelompok dampingan bagaimana cara melindungi diri dari virus HIV/AIDS.

Pengetahuan tentang HIV/AIDS Waria sudah mengetahui pengertian, gejala, penularan, pencegahan, cara berhubungan seks yang aman dari penularan HIV/AIDS serta pengetahuan waria tentang kondom didapatkan waria melalui kegiatan penyuluhan dan pemberian informasi dari kelompok dampingan atau berbagai seminar yang mereka ikuti. Waria pada penelitian ini sudah memiliki komunitas sendiri yang bernama GSM.setiap ada kegiatan penyuluhan mengenai kondom dapat diinformasikan dengan cepat dan banyak dari mereka menanggapinya dengan baik.

Pendirian komunitas dapat memberikan kontribusi yang baik dalam

84

menginformasikan tentang HIV dan pencegahannya, dimana para waria lebih cepat dikoordinir melalui suatu komunitas.

Sikap waria tetap bergaul apabila ada teman waria ang menderita HIV/AIDS tetapi tetap harus berhati-hati

Informan Pencegahan

MN “HIV itu tidak menular jika kita jumpa atau berjabat tangan dengan penderita yang terkena HIV, jadi menurut ku tidak perlu menjauhi tapi kita tetap waspada saja “

Penderit HIV memerlukan dukungan penuh, perkawanan dan mengayomi akan sangat membatu untuk bisa bertahan menghadapi penyakit, HIV juga tidak ditularkan melalui sentuhan, kontak badan, pelukan tetapi HIV ditularkan hanya melalui hubungan seks yang tidak aman, pemakaian bersama jarum dan alat suntik/peraratan yang bisa membuat kontak darah ke darah yang lain, Ibu yang positif HIV dapat menularkan HIV kepada bayinya.

Hasil penelitian Budiarti, (2007) menunjukkan bahwa pengetahuan tentang HIV/AIDS subjek sudah mengetahui pengertian, gejala, penularan, pencegahan, cara berhubungan seks yang aman dari penularan HIV/AIDS serta pengetahuan subjek tentang kondom, sikap subjek dalam upaya pencegahan HIV/AIDS tetap bergaul dengan teman penderita HIV tapi tetap berhati-hati. Pemakaian kondom ada subjek yang setuju dan ada subjek yang tidak setuju karena sakit dan kurang nyaman. Praktek subjek dalam pencegahan HIV/AIDS jumlah berhubungan sek dalam satu bulan setiap subjek berbeda-beda, upaya yang dilakukan dengan menggunakan kondom, menjaga kebersihan, berobat kedokter apabila ada keluhan, perasaan waktu menggunakan

85

kondom ada yang merasa aman dan lega tetapi ada juga yang mengatakan tidak nyaman dan sakit, memperoleh kondom dari dinas kesehatan dan PKBI serta membeli sendiri, adanya keluhan pasangan jika melakukan hubungan sek, tidak selalu terjadi ejakulasi jika melakukan oral seks, sedangkan dengan anal seks terjdi ejakulasi, sarana pelayanan kesehatan untuk memeriksakan HIV mudah dijangkau dan sudah dimanfaatkan oleh subjek, tes VCT dilakukan dengan sukarela oleh subjek dan adanya dukungan dari teman bagaimana cara melindungi diri dari virus HIV/AIDS.

Walaupun pengetahuan mereka baik dan sikap mereka yang mendukung pencegahan HIV belum tentu mempengaruhi mereka untuk menggunakan kondom saat berhubungan seksual. Sebagian besar waria yang berhubungan seksual dengan pacarnya tidak menggunakan kondom. Mereka merasa aman dan percaya kepada pacarnya tidak akan tertular HIV. Hasil penelitian juga didapatkan bahwa tidak ada waria yang diteliti yang mengalami HIV/AIDS, hasil ini didapatkan melalui laporan hasil test di klinik VCT Puskesmas Teladan.

BAB 6

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan 6.1.1 Aktifitas Seksual

Perilaku seksual yang dilakukan waria dalam penelitian ini adalah oral seks, onani, hingga anal seks. Kegiatan seksual mereka biasa dimulai dari onani yaitu waria rnerangsang alat kelamin kliennya dengan menggunakan tangan setelah itu baru dilakukan oral seks, dimana waria menghisap air mani dengan mulut hingga tuntas setelah terjadi ejakulasi baru penis dilepaskan. Setelah oral seks maka dilakukan teknik anal seks yaitu memasukkan alat kelamin klien ke anus waria, teknik ini merupakan teknik yang paling digemari klien sebagai cara pemuasan nafsu seks. keadaan darurat ( misalnya cowok tiba-tiba ingin menganal lubang anus ), bisa pakai vaseline atau hand body lotion lainnya. Cuma lubang Anus terasa agak panas.

Seks anal adalah aktivitas seksual di area anal (bokong) yang umumnya meliputi: penetrasi penis ke anus ataupun seks oral yang dilakukan dengan menstimulasi anus menggunakan mulut atau lidah anus adalah organ tubuh yang sangat sensitif karena sarat dengan ujung saraf sehingga dapat menjadi area stimulasi seks yang menyenangkan. Namun kesenangan ini tidak sepadan dengan risiko yang terkandung

Dibandingkan aktifitas seksual lainnya, aktifitas seksual yang melibatkan penetrasi ke anus mempunyai risiko tertinggi dalam risiko penularan penyakit menular

87

seksual, seperti HIV, herpes kelamin, kutil kelamin, klamidia, hepatitis B, gonore, dan sifilis. Orang yang melakukan seks melalui anal 30 kali lebih berisiko terkena HIV dibanding yang melakukan penetrasi melalui vagina. Paparan human papillomavirus (HPV) dapat memicu pertumbuhan kutil pada dubur hingga kanker anus.

Tidak seperti vagina yang terlindungi pelumas, penetrasi pada anus dapat merusak jaringan di dalamnya. Menggunakan pelumas tidak akan mencegah risiko kerusakan jaringan anus. Kondisi ini juga membuat bakteri dan virus dapat masuk dengan mudah ke pembuluh darah sehingga mempercepat penyebaran infeksi menular seksual, termasuk HIV.

6.1.2 Pasangan Seksual

Dunia waria adalah sesuatu yang tidak wajar. Secara fisik mereka adalah laki-laki normal, memiliki kelamin normal, namtin secara psikis mereka merasa dirinya perempuan, tidak ubahnya seperti kaum perempuan lainnya. Akibatnya perilaku mereka sehari-hari sering tampak kaku, fisik mereka laki-laki, namun cara berjalan, berbicara dan dandanan mereka mirip perempuan. Dengan cara yang sama dapat dikatakan bahwa jiwa mereka terperangkap pada tubuh yang salah.

Dari hasil wawancara dengan responden kebanyakan dari pelanggan atau pasangan seksual waria lelaki remaja seperti kita ketahui remaja adalah masa yang penuh dengan permasalahan, karakteristik remaja yang sedang berproses untuk mencari identitas diri dan juga sering menimbulkan masalah .Kebanyakan remaja melakukan perilaku beresiko dianggap sebagai bagian dari proses perkembangan yang normal. Salah satu akibat dari berfungsinya hormone gonadotrofik yang diproduksi

88

oleh kelenjar hypothalamus adalah munculnya perasaan saling tertarik antara remaja

oleh kelenjar hypothalamus adalah munculnya perasaan saling tertarik antara remaja