Hasil pengamatan dan analisis sidik ragam terhadap periode inkubasi jamur C. capsici disajikan pada Lampiran 2. Rata-rata periode inkubasi jamur C. capsici dapat dilihat pada Tabel 2. Dari Tabel 2 dapat dilihat periode inkubasi C. capsici dengan berbagai cara aplikasi antar 5-11 hsi. Periode inkubasi tercepat yaitu 5 hsi didapat pada perlakuan A1E0, A1E3, A2E0, A2E2 , A3E0, A3E1, A4E2 sedangkan perlakuan A4E0 periode inkubasinya adalah 6 hsi dan perlakuan A1E2, A2E3, A3E3 periode inkubasi 10 hsi. Pada perlakuan A1E1 dan A3E2 periode inkubasinya adalah 11 hsi. Sebaliknya perlakuan A2E1, A4E1, A4E3 sampai akhir penelitian tidak terdapat gejala infeksi C. capsici.
Lamanya periode inkubasi yaitu 11 hari setelah inokulasi jamur patogen disebabkan karena jamur endofit asal akar (Penicillium sp.) yang diaplikasikan melalui perendaman akar dan asal batang (Rhizoctonia sp.) yang diaplikasikan melalui penyemprotan ke daun (A1E1 dan A3E2) memiliki kemampuan dalam menekan perkembangan penyakit antraknosa karena kedua jamur tersebut dapat
bertindak sebagai kompetitor ruang dan nutrisi dengan inokulum C. capsici
sehingga mampu memperpanjang masa inkubasi. Kedua jamur tersebut juga dapat menimbulkan ketahanan terimbas pada tanaman, akibatnya pertumbuhan jamur patogen menjadi seperti tertekan menyebabkan infeksi patogen terhambat sehingga masa inkubasi menjadi tertunda. Jamur Penicillium sp. dan Rhizoctonia
sp. diduga mampu menghasilkan senyawa biologis atau metabolit sekunder yang dapat menghambat pertumbuhan patogen C. capsici. Panda et al. (2005) mengatakan Penicillium sp. menghasilkan senyawa anti mikroba griseofulvin yang bersifat menghambat pertumbuhan jamur patogen dengan cara mengganggu fungsi benang spindel dan mikrotubulus sitoplasma sehingga menghambat mitosis sel jamur patogen. Jamur Rhizoctonia sp. menghasilkan senyawa metabolit sekunder berupa fitoaleksin yang dapat memberikan pertahanan bagi tanaman untuk mencegah perkembangan patogen (Irawati, 2004). Hasil penelitian Nurjannah (2014), jamur endofit Rhizoctonia sp. yang diisolasi dari tanaman cabai mempunyai kemampuan yang cukup baik dalam mengendalikan F. oxysporum. Perlakuan dengan kedua jamur endofit tersebut menunjukkan aktivitas penghambatan terhadap C. capsici dengan lebih lamanya muncul bercak pada buah cabai.
Pada perlakukan kontrol menunjukkan periode inkubasi mulai tampak setelah 5 hari setelah inokulasi patogen dilakukan. Hal ini disebabkan pada perlakuan kontrol tidak ada hambatan bagi patogen untuk menginfeksi dan berinvasi di dalam jaringan tanaman. Lebih cepatnya muncul gejala pertama pada perlakuan tersebut dapat disebabkan karena tidak adanya jamur endofit sebagai
46
agens hayati yang mampu menghambat petumbuhan jamur C. capsici. Menurut Sastrahidayat (1992) pada tanah yang telah disterilkan, yang tidak mengandung mikroba-mikroba termasuk mikroba antagonis, jamur patogen yang diinokulasikan akan lebih cepat menyebar dengan serangan yang hebat.
Tabel 2. Rata-rata periode inkubasi jamur C. capsici akibat perlakuan cara aplikasi (A) dan asal isolat jamur endofit (E)
Perlakuan Periode inkubasi (hari)
A1 E0 5 A1 E1 11 A1 E2 10 A1 E3 5 A2 E0 5 A2 E1 0 A2 E2 5 A2 E3 10 A3 E0 5 A3 E1 5 A3 E2 11 A3 E3 10 A4 E0 6 A4 E1 0 A4 E2 5 A4 E3 0
Keterangan: A1E0 (Perendaman benih tanpa jamur endofit), A1E1 (Perendaman benih
dengan Penicillium sp.), A1E2 (Perendaman benih dengan Rhizoctonia sp.), A1E3
(Perendaman benih dengan Geotrichum sp.), A2 E0 (Perendaman akar tanpa jamur
endofit), A2E1(Perendaman akar dengan Penicillium sp.),A2E2 (Perendaman akar dengan
Rhizoctonia sp.), A2 E3(Perendaman akar dengan Geotrichum sp.), A3E0 (Penyemprotan
pada daun tanpa jamur endofit),A3E1 (Penyemrotan pada daun dengan Penicillium sp.),
A3E2 (Penyemprotan pada daun dengan Rhizoctonia sp.)A3E3 (Penyemprotan pada daun
dengan Geotrichum sp.), A4E0 (Penyemprotan pada buah tanpa jamur endofit), A4E1
(Penyemprotan pada buah dengan Penicillium sp.), A4E2 (penyemprotan pada buah
dengan Rhizoctonia sp.), A4E3 (Penyemprotan pada buah dengan Geotrichum sp.).
Pada beberapa perlakuan yang diberi jamur endofit juga menyebabkan lebih cepatnya muncul gejala infeksi hal ini kemungkinan dikarenakan antibiotik yang diproduksi kurang efektif terhadap patogen dan juga terdapat faktor lain yang mempengaruhinya. Hal ini sesuai dengan pendapat Kasutjianingati (2004)
yang menyatakan bahwa faktor yang mempengaruhi ketidakefektifan agens hayati dalam menghambat pertumbuhan patogen yaitu antibiotik yang diproduksi jamur endofit kurang efektif terhadap patogen diantaranya konsentrasi antibiotiknya rendah dan terurai oleh mikroorganisme lain. Sedangkan patogen C. capsici
berada dalam kondisi virulen dan kondisi lingkungan sangat mendukung/cocok untuk terjadinya infeksi (Indratmi, 2009).
Perlakuan dengan Penicillium sp. dan Geotrichum sp. yang diaplikasikan dengan perendaman akar dan penyemprotan ke buah (A2E1, A4E1, dan A4E3) tidak memiliki masa inkubasi atau tidak terjadi serangan C.capsici terhadap tanaman cabai. Perlakuan dengan kedua jamur tersebut menyebabkan tanaman menjadi lebih tahan, hal ini dikarenakan jamur Penicillium sp. yang diaplikasikan melalui akar akan masuk ke dalam jaringan tanaman terutama melalui perakaran sekunder, selanjutnya berkoloni pada titik tempatnya masuk yaitu pada zona akar kemudian hidup dalam sel, ruang interseluler atau dalam sistem pembuluh sehingga akar terlindungi dari serangan patogen (Prasetyoputri & Ines, 2006). Selain mengeluarkan senyawa alkaloid, Penicillium sp. juga menghasilkan enzim kitinase dan selulase yang dapat mendegradasi kitin jamur patogen (Nugroho et al., 2013). Jamur Penicillium sp. juga memiliki kemampuan dalam menghambat pertumbuhan jamur patogen karena adanya kompetisi dan pengeluaran beberapa senyawa alkaloid seperti agroklavine dan ergometrine yang memiliki sifat antifungi (Haggag & Hala, 2007).
Aplikasi Penicillium sp. dan Geotrichum sp. melalui penyemprotan ke buah juga menyebabkan tanaman menjadi lebih tahan ini dikarenakan buah cabai
48
yang diinokulasikan dengan kedua jamur endofit tersebut menjadikan buah lebih tahan karena permukaannya dilapisi oleh kedua jamur tersebut sehingga mampu menghambat infeksi patogen. Ini diduga karena jamur endofit dapat mengeluarkan senyawa antibiotik atau alkaloid yang mudah menguap. Berdasarkan hasil penelitian Ting et al. (2010) membuktikan bahwa jamur Penicillium sp. menghasilkan senyawa antijamur yang mudah menguap (volatil) yaitu glicidol, 2- asetil-5-metilfuran, asam asetat pentil ester, 1-propanol 2-metil, 1-butanol 2-metil, dan α-pellandrin. Beberapa senyawa volatil tersebut merupakan golongan senyawa fenol yang dapat menyebabkan kerusakan pada membran plasma jamur patogen, sedangkan Geotrichum sp. mengandung metabolit skunder yang bersifat nematisida (Li et al., 2007).
Lamanya periode inkubasi dipengaruhi oleh kekhususan kombinasi inang patogen, dengan tingkat perkembangan inang, dan dengan suhu lingkungan tumbuhan yang terinfeksi. Hal ini sesuai dengan literatur Wahyu et al. (2012) yang menyatakan bahwa masa inkubasi ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu ketahanan tanaman inang terhadap ras patogen yang menginfeksi, keganasan ras patogen tersebut, dan kesesuaian kondisi lingkungan.
Keberadaan jamur endofit memberikan peranan terhadap besarnya kejadian timbulnya infeksi oleh patogen tanaman. Tanaman dengan populasi jamur endofit yang rendah diduga lebih rentan terhadap serangan patogen. Sedangkan tanaman-tanaman dengan komplek populasi jamur endofit yang tinggi diduga dapat lebih tahan atau terlindungi dari serangan patogen. Hal ini disebabkan karena jamur endofit memberikan barier alami terhadap serangan
patogen. Selain itu diantara jamur tersebut sangat mungkin bertindak sebagai kompetitor ataupun bersifat antagonis terhadap patogen, sehingga bersifat menguntungkan tanaman (Indratmi, 2001).