• Tidak ada hasil yang ditemukan

Periode KH. Mahfudz Syafi’i 1993-2003

BAB III. PERKEMBANGAN TAREKAT SYADZILIYAH DI BEKASI . 20

D. Periode KH. Mahfudz Syafi’i 1993-2003

KH. Mahfudz Syafi’i lahir di Jombang pada tanggal 11 Desember 1933 M63, ayahnya bernama Syafi’i dan ibunya bernama Munfa’atun seorang petani yang taat beribadah. Beliau mempunyai 5 orang anak :

1. KH. Mahfudz Syafi’i (Pengasuh Pondok Pesantren Al-Istighotsah Bekasi Jawa Barat)

2. KH. Hafidz Syafi’i (Pengasuh Pondok Pesantren Mamba’ul Hidayah Telogo Kanigoro Blitar Jawa Timur).

62

Wawancara dengan Bapak Humaidi Yusuf, di Cikarang Barat Desa Kali Jaya (Pon-Pes Al-Istighotsah) 1 Maret 2008.

63

Wawancara dengan Bapak. Hani Masykuri, di Bulak Kapal Bekasi (Pon-Pes Al-Istighotsah) 15 Februari 2008

3. Hj. Hayatin Syafi’i (Pengasuh Pondok Pesantren Mamba’ul Huda Genu Watu Ngoro Jawa Timur).

4. Kyai Sobihi Syafi’i (Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Huda Tuban Jawa Timur).

5. Mashunah (Pengasuh Pondok Pesantren Bahrul Ulum Pare Kediri Jawa Timur). Pada tahun 1939 M, Bapak KH. Mahfud Syafi’i pada usia 7 tahun sebelum di khitan sudah dipondokkan oleh Bapak Syafi’i di Pondok Pesantren Seblak Tebuireng Jombang dan sekolahnya ke Madrasah Salafiyah Kyai Hasyim Asyari di kelas sifir tsani, karena terjadi agresi Belanda ke 2 pada tahun 1941 di Surabaya dan merambah ke Jombang, maka ketika KH. Mahfudz Syafi’i datang ke Pondok Pesantren Seblak sudah tidak ada santri yang tinggal di Pondok Pesantren, mereka semua pulang kerumahnya masing-masing karena ketakutan serangan Belanda. Maka akhirnya KH. Mahfudz Syafi’i pulang kerumahnya di Genu Watu dan meneruskan pendidikannya di kampung Genu Watu diasuh oleh pamannya, yaitu Kyai Zamroji Saeroji. Berkat dorongan dari Kyai Zamroji Saeroji, pada tahun 1952 KH. Mahfudz Syafi’i berangkat mondok di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri bersama KH. Hafidz Syafi’i. Kemudian meneruskan lagi ke Pondok Pesantren Lasem Jawa Tengah dan pindah meneruskan ke Pondok Pesantren Kaliungu Semarang Jawa Tengah.64

Guru-guru KH. Mahfudz Syafi’i Bidang Ilmu Syariat :

1. H. Syafi’i

2. KH. Hasyim Ansyari Jombang

64

Wawancara dengan Bapak Anwar Salim di Desa Mustika Sari-Bekasi (Pon-Pes Nur al-Istiqomah) tanggal 10 Februari 2008

3. KH. Zamroji Saeroji Kencong 4. KH. Abdul Karim Lirboyo 5. KH. Masduki Lasem 6. KH. Mushlih Kali Wungu 7. KH. Mahrus Ali

8. KH. Marzuki

9. KH. Zaenuddin Mojo Sari Nganjuk Bidang Ilmu Thoriqoh (tarekat) dan Hakikat 1. Kyai Mustaqim bin Husen

2. Kyai Hasbullah.

KH. Mahfudz Syafi’i menghabiskan waktunya menuntut ilmu selama 30 tahun dari tahun 1939 sampai 1069 M. Sebelum KH. Mahfudz Syafi’i memasuki bahtera rumah tangga, beliau pernah hijrah dalam rangka menyampaikan ilmu ke Tuban disana beliau ikut berjuang membangun madrasah dan pesantren dengan nama madrasah Tarbiyatus Sibyan, sekitar tahun 1963 dan dalam waktu satu tahun kemudian beliau pulang ke Genu Watu, pada tahun 1964 beliau melangsungkan pernikahan.65

KH. Mahfudz Syafi’i menikah dengan Ibu Hj Muhshonah putri Bapak Kyai Hasbullah Al-Marzuki Kuto Anyar Tulung Agung Jawa Timur pada tahun 1964. Dari pernikahan beliau dengan Ibu Hj Muhshonah dikaruniai 8 anak.

1. Mahsuroh

2. Makhnunah ( almarhum) 3.Mardhiyah

65

Wawancara dengan Bapak Anwar Salim Di Desa Mustika Sari-Bekasi (Pon-Pes Nur al-Istiqomah) tanggal 17 Februari 2008

4. Maftuh Al-Hikam 5. Hani Masykuri

6. Muhammad Mansyur ( almarhum) 7. Layyinatuddiyanah

8. Fatih Fuad.66

Perkembangan Tarekat Syadziliyah yang dikembangkan oleh KH. Mahfudz Syafi’i 1993-2003 di Kabupaten Bekasi, sangat pesat dari pada waktu KH. Mahfudz Syafi’i berada di Tambun, kemudian setelah pindah ke Gardu Sawah tambah pesat lagi sehingga jamaah pengajian malam selasa sekitar 500 orang atau kurang lebih di bawah 1000 orang.67

Adapun sistem pendekatan yang dilakukan oleh KH. Mahfudz Syafi’i, yaitu dengan pendekatan secara lahir dan batin. Pendekatan secara lahir KH. Mahfudz Syafi’i mengadakan majlis ta’lim untuk berda’wah, yaitu setiap malam selasa yang kedua KH. Mahfudz Syafi’i mengamalkan istilah : q

r5U s P

jQt \

u vw

x$-+!

[ @ &

jk

"#5L3 U ;

q

Realisasinya, adalah bahwa setiap malam jum’at atau hari jum’at KH. Mahfudz Syafi’i tamunya banyak sekali menanyakan tentang apa yang terjadi pada suluknya atau perkembangan tarekatnya, misalnya mengalami kejadian-kejadian yang dialami seorang murid yang bermacam-macam, semuanya itu ditanyakan kepada KH. Mahfudz Syafi’i dan oleh KH. Mahfudz Syafi’i diberikan media bertanya pada malam jum’at atau hari jum’at kemudian KH. Mahfudz Syafi’i

66

Wawancara dengan Bapak. Hani Masykuri, di Bulak Kapal Bekasi (Pon-Pes Al-Istighotsah) 15 Februari 2008

67

Wawancara dengan Bapak Humaidi Yusuf, di Cikarang Barat Desa Kali Jaya (Pon-Pes Al-Istighotsah) 9 Februari 2008.

mengistilahkannya dengan musyawarah, sebenarnya bukan musyawarah, itu hanya bahasanya KH. Mahfudz Syafi’i istilah bahasanya orang sopan, bahwasanya KH. Mahfudz Syafi’i mengangap dirinya orang biasa, sebenarnya bukan musyawarah akan tetapi itu semua adalah realisasinya dari lafad

r5U s P

jQt \

u vw

x$-+!

[ @ &

jk

"#5L3 U ;

q

Semua itu adalah metodenya KH. Mahfudz Syafi’i dan metode ini sangat efektif karna bisa menjadikan berkembangnya perjalanan murid-muridnya di dalam rangka menuju ke Allah dan sekaligus KH. Mahfudz Syafi’i mengetahui perkembangan murid-muridnya dari satu ke yang lain dan pertanyaan-pertanyaan itu diluar akal manusia atau pertanyaan-pertanyaan yang tidak ditanyakan kepada orang non tasawuf.68

Adapun sistem penyampaian yang dilakukan oleh KH. Mahfudz Syafi’i, yaitu melalui majlis ta’lim (ceramah) dengan menggunakan refrensi dan refrensinya adalah kitab Sarah Hikam baik yang bagian pinggir maupun yang tengah ( karangan Ibnu Athaillah al-Sakandari dan Ibnu Ibad al-Randi ) dan juga kitab Ikhojul Himam karangan Ahmad bin Muhammad bin Ajibah al-Hasani.69 Sebagai pembimbing Tarekat Syadziliyah KH. Mahfudz Syafi’i mempunyai banyak refrensi atau rujukan tentang kitab tasawuf, ini yang membuat KH. Mahfudz Syafi’i berbeda dengan mursyid-mursyid yang lain. KH. Mahfudz Syafi’i mempunyai banyak refrensi atau rujukan, karena KH. Mahfudz Syafi’i itu orang syareat juga, yang kedua KH. Mahfudz Syafi’i itu profesional dalam

68

Wawancara dengan Bapak Humaidi Yusuf, di Cikarang Barat Desa Kali Jaya (Pon-Pes Al-Istighotsah) 18 Februari 2008.

69

Wawancara dengan Bapak Humaidi Yusuf, di Cikarang Barat Desa Kali Jaya (Pon-Pes Al-Istighotsah) 9 Februari 2008.

mempelajari kitab-kitab kuning, jadi bukan hanya ilmu bathin saja yang dikembangkan atau yang dimiliki KH. Mahfudz Syafi’i.

KH. Mahfudz Syafi’i profesional dalam kitab kuning, pemahamannya

dalam, disisi lain karena beliau adalah termasuk -, " - + C$ >-', " Jadi itu termasuk diantara karomah beliau adalah telah diberi ilmu laduni oleh

Allah SWT. Ketika beliau berbicara itu sudah D-2 dan itu sudah bukan kolanya KH. Mahfudz Syafi’i lagi bisa jadi yang D-2 itu Rasullulah saw, bisa jadi yang

D-2 itu embah Kyai Hasbullah, bisa juga yang D-2 itu Kyai Mustaqim dan bisa

juga yang D-2 itu asli af’al Allah. Jadi KH. Mahfudz Syafi’i itu ilmunya sudah ilmu Fissudur bukan fissutur. (didalam hati bukan diatas kertas)70

Namun disisi lain KH. Mahfudz Syafi’i mempunyai banyak sekali refrensi atau rujukan. Refrensi-refrensi KH. Mahfudz Syafi’i, yaitu :

1. Sarah Hikam (karangan Ibnu Ibad al-Randi. w. 792 H/ 1390 M dan Ibnu Athaillah al-Sakandari. w 709/ 1309 M)

2. al-Insan al-Kamil fi Ma’rifah al-Awakhir wa al-Awail (karangan Abdul Karim bin Ibrohim al-Jili. w. 805H/1403M)

3. Sirrur Asror (karangan Syekh Muhyiddin Abdul Qadir Jaelani.w. 561 H/1166 M)

4. Lathoipul Minan (karangan Abd. Wahhab asy Sya’rani.w 973 H/1565 M) 5. Jawahirul Ma’ani (karangan Ali Harazim)

6. Fathurrahman (karangan Syech Waly Ruslan)

70

Wawancara dengan Bapak Humaidi Yusuf, di Cikarang Barat Desa Kali Jaya (Pon-Pes Al-Istighotsah) 9 Februari 2008.

7. al-Risalah al-Qusyairiyah (karangan Abd al-Karim bin Hawazin al-Qusyairi. w. 465 H/1074 M).

Semua itu kitab-kitab dibidang tasawuf semua, dan itu semua refrensinya KH. Mahfudz Syafi’i. KH. Mahfudz Syafi’i tidak sembarangan memberikan ajaran kitab, disamping ilmunya itu Fissudur (ilmunya sudah laduni), akan tetapi beliau juga tidak tidak meninggalkan referensi. Ini adalah keistimewaan dari pada KH. Mahfudz Syafi’i, oleh karena itu pengajian tasawufnya KH. Mahfudz Syafi’i itu bagus. Akan tetapi yang paling utama KH. Mahfudz Syafi’i itu sudah masuk dalam -, " - + C$ >-', " ilmunya sudah laduni ilmu yang langsung dari Allah ( ilmu uluhiyah, ilmu wahbiyah ilmu pemberian langsung dari Allah ).71

Pemikiran KH. Mahfudz Syafi’i, bahwa tarekat syadziliyah yang dikembangkan oleh KH. Mahfudz Syafi’i itu mengikuti aliran modern, artinya KH. Mahfudz Syafi’i itu ingin mengajak orang-orang tarekat itu berada dalam maqom syukri atau syukur bukan maqom sober atau sabar, artinya kalau bisa kita itu sebagai orang tasawuf itu berada pada

Firman Allah SWT :

y-E z P_o

f 4

:!R

e 52MLPPA

{| }

' 5 ~

•t %&

dU 23 

b E A !

>€ 7I M

q q

+"

71

Wawancara dengan Bapak Humaidi Yusuf, di Cikarang Barat Desa Kali Jaya (Pon-Pes Al-Istighotsah) 9 Februari 2008.

Artinya : “Hanya kepada Allah-lah sujud (patuh) segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan kemauan sendiri ataupun terpaksa (dan sujud pula) bayang-bayangnya di waktu pagi dan petang hari”. (QS. Ar Ra’d : 65 ).

Ma’na -" E disitu adalah syukur dan bahwa tarekatnya KH. Mahfudz Syafi’i itu tidak mengajarkan kemunduran akan tetapi mengajarkan islam yang sejati dan tidak diajarkan untuk bekerja, tetapi bekerjalah sekuat tenaga, kaya kalau perlu, mobilnya bagus, rumahnya bagus, makan yang enak, pakai baju yang bagus, itu semua adalah ajarannya KH. Mahfudz Syafi’i. Kemudian tujuan dari semua itu adalah agar syukurnya itu sungguhan di dalam hati. Kekayaan jangan dihindari artinya yang tidak dibenarkan adalah mencintai kekayaan. Akan tetapi permasalahannya orang syukur itu identik dengan limpahan harta sedangkan kebanyakan orang itu tidak bersyukur dan lupa kepada Allah, itu termasuk diantara pemikirannya KH. Mahfudz Syafi’i dan tasawufnya adalah tasawuf modern.72

KH. Mahfudz Syafi’i di dalam mengamalkan tasawuf ada tiga prinsif yang dipegang :

1. Tafakur, dan beliau sering berkata

7' FG- " C$ H 7"- B 5

G-' I9 7' 0 J 9 F ? K L L?+ C$ 7, M 3 4 @- C9 N H L?+ +':$4#, ?+ ) O'$ 9 > ) P!-" Q R 4 ST U C9 8? EC$ A Q 2 C$ V < 9 > ) P +N A Q >G-' W 7' 0 -A W J 9 X L?+ C$ Y G +, C9+, +$- L Z-$[ C?+ Z " \- W 7 Z- 2 C$ HW J 9 Y- " C9 D K 7' 4 R 1

Artinya : Bertafakur satu saat itu lebih baik dari pada beribadah satu tahun (HR. Ibnu Hiban)

2. Dzikir.

72

Wawancara dengan Bapak Humaidi Yusuf, di Cikarang Barat Desa Kali Jaya (Pon-Pes Al-Istighotsah) 9 Februari 2008.

Firman Allah SWT :

Md•9 F 2 9

"GH

$,-r5 @ 4

W!

[ .O> A

@C (

5 / [

w W

,-@Y ajw

MU,A

"#5 ! U;

;

D-Artinya.: “Hai orang-orang yang beriman. apabila kamu memerangi pasukan (musuh), Maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya[620] agar kamu beruntung”. ( QS Al-Anfaal : 45 )

KH. Mahfudz Syafi’i mengatakan di dalam al-Qur’an tidak sedikit ayat yang menyuruh kita mengingat Allah, atau menganjurkan orang berdzikir kepada Allah, demikian juga Hadist nabi yang diriwayatkan oleh para sahabat dan tabi’in banyak sekali yang menunjukan fadilah dzikir Allah SWT berfirman “dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu mendapatkan kemenangan”. (QS : 62 : 10). “Laki-laki dan prempuan banyak mengingat Allah, Allah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar”. (QS : 33 : 35). “Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama Allah) sebanyak-banyaknya dan bertasbihlah kepadanya diwaktu pagi dan petang”. (QS : 33 : 41 : 42)

Ayat-ayat diatas dan masih banyak lagi ayat-ayat yang senada. Jelas memerintahkan kepada orang-orang yang beriman, baik laki-laki maupun prempuan supaya mengingat Allah sebanyak-banyaknya setiap waktu. Dan diperintahkan pula sebanyak-banyaknya menbaca tasbih, tahmid dan takbir, maka dia akan mendapatkan ampunan dan pahala yang besar.

Kemudian Hadist nabi Muhammad saw yang menganjurkan dzikir dan menerangkan keutamaannya, antara lain beliaau bersabda “Barang siapa memperbanyak dzikir kepada Allah, niscaya dia cinta kepadanya.”, “Bahwa mengingat Allah itu menyembuhkan segala penyakit di dalam hati.”, “Perbaharuilah iman kamu dengan memperbanyak menyebut/ mengingat Allah”.

Demikian sebagian Hadist nabi yang memerintahkan kita memperbanyak membaca dzikir. Dan masih banyak lagi hadist-hadist lain yang menerangkan kelebihan dzikir dan menganjurkan kita supaya memperbanyak mengingat Allah, baik dengan lisan maupun hati, baik diwaktu siang maupun diwaktu malam. 3. Menahan Nafsu Firman Allah SWT :

*4 \

nf 4

$ }

‚ 4

h !3

Md

ƒ„ *@A

{f

… 5_† ‡

{>ˆ

*+!‰

C*'Cd Š

ƒ t

… FML A

q

; P; 1" '

Artinya : “Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya”,

Artinya : “Maka Sesungguhnya syurgalah tempat tinggal(nya)”. (QS. An Naazi’aat : 40-41 )

Dalam pandangan KH. Mahfudz Syafi’i, manusia cenderung mengikuti hawa nafsu. Manusia dikendalikan oleh dorongan-dorongan hawa nafsu pribadi, bukan manusia-manusia yang mengendalikan hawa nafsunya ia cenderung ingin menguasai dunia atau berusaha berkuasa di dunia. Cara hidup seperti ini menurut

KH. Mahfudz Syafi’i, akan membawa manusia kejurang kehancuran moral. Sebab sadar atau tidak, lambat atau cepat, manusia akan terbawa kepada pemujaan dunia. Kenikmatan hidup di dunia akan menjadi tujuan utama, bukan sebagai jembatan atau sarana untuk menuju kebahagiaan dan kenikmatan yang hakiki yaitu mengenal Allah.

Menurut KH. Mahfudz Syafi’i manusia tidak boleh mematikan sama sekali hawa nafsunya, tetapi harus menguasainya agar nafsu itu tidak sampai membawa kesesatan. Sifat nafsu bagaikan anak kecil. Kemauan anak terlalu diikuti tidak boleh terlalu dibiarkan kemauannya juga tidak boleh, jika terlalu dikekang keinginannya, akan kehilangan semangat, bila dituruti kemauannya akan melampaui batas. Nafsu adalah salah satu potensi yang diciptakan Allah di dalam diri manusia agar bisa hidup lebih maju, penuh kreativitas, dan bersemangat. Jika tidak ada nafsu pada diri manusia tidak akan ada kemajuan dalam kehidupan mereka. Kalau Allah tidak menganugrahkan nafsu kepada manusia, maka lelaki tidak prempuan, dan prempuan tidak senang laki-laki, dan juga tidak senang semua ciptaan Allah. Padahal Allah ciptakan mahluk untuk manusia.

Dari ketiga itu yang paling pokok adalah dzikirullah, karena dzikir itu adalah cara tercepat untuk sampai kepada Allah. Apabila seseorang sudah sampai cita-citanya kepada Allah melalui dzikir. Maka orang itu bisa bertafakur karena dzikir itu adalah kesucian jiwa, kejernihan hati, apabila hati sudah jernih dan jiwa sudah bersih maka aqal akan terang, terangnya aqal akan mendorong kepada tafakur, dan dengan melaui paduan antara dzikir dan tafakur maka hawa nafsu akan bisa tertahan dari hal-hal yang negatif (tercela)73

73

Wawancara dengan Bapak Anwar Salim di Desa Mustika Sari Bekasi (Pon-Pes Nur al-Istiqomah) 20 April 2008.

Sejauh mana orang itu kedekatannya pada Allah, maka sejauh mana orang itu bisa menghilangkan sifat kemanusiannya bisa menghilangkan rasa dan merasa itu namanya kedekatan menghilangkan rasa. Maka akhir dari ajaran KH. Mahfudz Syafi’i yang digembar-gemborkan adalah baroatun minadda’awi (menghilangkan dari sifat rasa dan merasa).74

Adapun proses pembaiatan yang dilakukan oleh KH. Mahfudz Syafi’i kepada para murid-muridnya, yaitu berawal dari jama’ah pengajian setelah pengajiannya itu masuk kedalam hatinya dan mereka menerima, akhirnya membuka pendaftaran, kira-kira kumpulnya orang banyak dan merencanakan pendaftaran pembaiatan dan jiarah wali songo, akan tetapi yang paling utama bukan jiarah wali songonya tetapi pembaiatannya dan biasanya tidak hanya baiat saja tetapi juga jiarah wali songo. Semuanya itu masih berjalan sampai sekarang ini yang diteruskan oleh putra dan putrinya KH. Mahfudz Syafi’i. KH. Mahfudz Syafi’i beserta jama’ahnya sampai di Tulung Agung disana dibaiat oleh KH. Abdul Jalil Mustaqim atau KH. Sholahuddin. Setelah semua selesai dan tidak kembali kesana lagi. Kemudian seterusnya dibimbing oleh KH, Mahfudz Syafi’i.75

Pelaksanaan baiat thiriqot syadziliyah Kab, Bekasi, sejak dulu hingga sekarang, dilakukan secara langsung oleh yang berhak untuk membaiat, yaitu guru mursyid (asy Syekh) sendiri. Praktek pembaiatan pun dilakukan dengan cara satu persatu (face to face) antara asy Syekh dan murid. Berkaitan dengan hal ini, sebelum pelaksanaan pembaiatan, seorang ketua kelompok wajib memberikan

74

Wawancara dengan Bapak Humaidi Yusuf, di Cikarang Barat Desa Kali Jaya (Pon-Pes Al-Istighotsah) 9 Februari 2008.

75

Wawancara dengan Bapak Humaidi Yusuf, di Cikarang Barat Desa Kali Jaya (Pon-Pes Al-Istighotsah), 7 Februari 2008.

keterangan sejelas-jelasnya kepada murid tentang tatacara dan adabiyah mengikuti baiat thoriqot syadziliyah.

Tatacara dan tatakrama (adabiyah) mengikuti baiat, antara lain : A. Sebelum pelaksanaan baiat :

1. Mandi 2. Berwudhu

3. Berpakaian lengan panjang (usahakan yang berwarna putih), bersarung, dan berkopiah.

4. memakai wangi-wangian. B. Pada saat mengikuti baiat :

1. Dalam keadaan memiliki wudlu.

2. Duduk dengan rapi, tertib, tenang, bersikap tawadhu’ dan terus menerus menjaga hati agar selalu ingat kepada Allah swt serta terus menerus membaca shalawat syadziliyah pada waktu antri (menunggu) di depan ruangan baiat.

3. Ketika masuk kedalam ruangan asy Syekh (ruang pembaiatan), dianjurkan agar berjalan jongkok hingga sampai kehadapan asy Syekh.

4. Duduk dihadapan asy Syekh dengan tenang dan sopan, serta dilarang keras memandang wajah asy Syekh.

5. Ketika duduk, kedua lutut murid dipertemukan (dipepetkan) dengan kedua lutut asy Syekh.

6. Pada saat dimulai pembaiatan, murid berjabatan tangan dangan asy Syekh secara biasa (tidak usah mencium tangan asy Syekh).

7. Setelah asy Syekh membacakan kalimat-kalimat baiat, murid langsung menjawabnya dengan kalimat yang sudah ditentukan, qobiltu baiataka bi aurodisy Syadzaliyah secara tegas dan jelas, seraya diiringi keyakinan dan kepasrahan kepada Allah SWT. Kemudian setelah itu, asy Syekh membaca dzikir 3 kali dan langsung diikuti murid sebanyak 3 kali pula.

9. Upacara pembaiatan diakhiri dengan dibacakannya do’a oleh asy Syekh dan murid mengamini dengan khusyuk dan tawadhu’.

10. Setelah selesai asy Syekh membacakan do’a kemudian beliau mengucapkan shalawat (Allahumma sholli ‘ala sayyidina mukhammad) dan murid menimpali sholawat itu (Allohumma sholi alaih wa’alaa aalih).

11. Setelah itu, murid langsung mengundurkan diri dari hadapan asy Syekh tanpa bersalaman lagi dengan beliau. Pada waktu keluar dari ruangan asy Syekh, seyogyanya murid keluar dengan cara berjalan jongkok dan mundur.

C. setelah selesai baiat :

1. Sekeluar dari ruang baiat, dianjurkan baik secara sendiri-sendiri maupun secara berjama’ah agar berziarah ke makam asy Syekh Mustaqim bin Husain, Mbah nyai Sa’diyyah binti H. Ro’is, dan asy Syekh Abdul Djalil bin Mustaqim, rodliyalloh’ anhum, yang terletak di dalam komplek pondok PETA.

2. setelah sampai dirumah, dianjurkan agar mengusap-usapkan kedua belah telapak tangan ke kepala anak, istri, dan harta benda (termasuk barang-barang dagangan, kendaraan, sawah, dll). Hal ini dimaksudkan agar semuanya itu mendapat limpahan barokah dan manfaat dari asy Syekh lantaran pembaiatan tadi.

3. mengamalkan aurod syadziliyah secara istiqomah, minimal satu kali setiap harinya.

4. mengikuti khususiyah thoriqot syadziliyah di daerahnya masing-masing setiap malam selasa an malam jum’at, kecuali malam jum’at kliwon. Setiap malam jum’at kliwon (35 hari sekali), semua murid pondok PETA sangat dianjurkan mengikuti khususiyah thoriqot syadziliyah yang dilaksanakan di pondok PETA, Tulungagung, mulai pukul 20.30 WIB.76

Dokumen terkait