• Tidak ada hasil yang ditemukan

Periode Pasca Kemerdekaan

Dalam dokumen PENDIDIKAN ANTI KORUPSI REKONSTRUKSI INT (Halaman 43-49)

BAB III : SEJARAH PRAKTIK KORUPSI

B. Periode Pasca Kemerdekaan

1. Orde Lama

Berbagai upaya pemberantasan korupsi pada masa ini diantaranya:

a. Dibentuk Badan Pemberantasan Korupsi, Panitia Retoo­ ling Aparatur Negara (PARAN) yang dibentuk berda sar- kan Undang-undang Keadaan Bahaya yang dipimpin oleh A.H. Nasution dan dibantu oleh dua orang anggota yakni Prof. M. Yamin dan Ruslan Abdul Gani.

b. Pejabat pemerintah diharuskan mengisi formulir yang disediakan, istilah sekarang, Daftar Kekayaan Pejabat Negara. Dalam perkembangannya kemudian ternyata kewa jiban pengisian formulir tersebut mendapatkan

reaksi keras dari para pejabat. Mereka berdalih agar formulir tersebut tidak diserahkan kepada PARAN, tetapi langsung kepada Presiden.

c. Pada tahun 1963 melalui Keputusan Presiden Nomor 275 tahun 1963, upaya pemberantasan korupsi kembali digalakkan. Dibantu oleh Wiryono, A.H. Nasution yang saat itu menjabat sebagai Menkohankam/Kasab me- ne ruskan kasus-kasus korupsi ke meja pengadilan. Lem baga ini kemudian dikenal dengan istilah Operasi Budhi. Sasarannya adalah perusahaan Negara serta lembaga Negara lainnya yang dianggap rawan praktik korupsi dan kolusi. Dalam kurun waktu 3 bulan sejarah Ope rasi Budhi dijalankan, keuangan Negara dapat di- se la mat kan sebesar kurang lebih 11 miliar rupiah. Jum- lah yang cukup signifikan untuk kurun waktu pada saat itu. Karena dianggap mengganggu prestise Pre- si den, akhirnya Operasi Budhi dihentikan. Kemudian, Soebandrio mengumumkan pembubaran PARAN dan Operasi Budhi dan diganti dengan KOTRAR (Komando Tertinggi Retooling Aparat Revolusi). KOTRAR diketuai oleh Presiden Sukarno dan dibantu oleh Soebandrio dan Ahmad Yani.

2. Orde Baru

Terdapat beberapa kebijakan terkait pemberantasan korupsi pada masa Orde Baru diantaranya:

a. Dibentuk Tim Pemberantasan Korupsi (TPK) yang dike- tuai oleh Jaksa Agung.

Sejarah Praktik Korupsi 35

b. Dibentuk komite empat beranggotakan tokoh-tokoh tua yang dianggap bersih dan berwibawa seperti Prof. Johannes, I.J. Kasimo, Wilopo, dan A. Tjokroaminoto. Tugas komite ini adalah untuk membersihkan depar temen dan BUMN dari tindakan penyalahgunaan wewe nang.

c. Ketika Laksamana Sudomo diangkat sebagai Pangkop- kam tib, dibentuklah Opstib (Operasi Tertib) dengan tugas anta ra lain juga memberantas korupsi.

3. Reformasi

Orde Reformasi adalah masa setelah kepemimpinan Presiden Soeharto berakhir. Kebijakan yang ditempuh terkait dengan pemberantasan korupsi pada masa Orde Reformasi diantaranya:

a. Presiden Habibie mengeluarkan UU Nomor 28 tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang bersih dan bebas dari KKN berikut pembentukan berbagai komisi atau badan baru seperti KPKPN, KPPU atau Lembaga Ombudsman.

b. Pada masa pemerintahan Abdurrahman Wahid diben- tuk Tim Gabungan Pemberantasan Tindak Pidana Ko- rup si (TGPTPK) dengan Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2000. Namun pada akhirnya, melalui judicial review

Mahkamah Agung, TGPTPK akhirnya dibubarkan. c. Pada tahun 2003, didirikan Komisi Pemberantasan Korupsi,

yang kemudian dikenal dengan KPK. Komisi ini dibentuk dengan tujuan untuk mengatasi, menanggulangi, dan mem berantas korupsi di Indonesia. Komisi ini didirikan

ber dasarkan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 30 tahun 2002 mengenai Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. KPK didirikan sebagai katalisator (pemicu) bagi aparat dan institusi lain untuk terciptanya jalannya sebuah pemerintahan baik dan bersih (good and clean govermance).

Pelajaran yang dapat dipetik dari sejarah perkembangan korupsi di Indonesia tersebut adalah: Pertama, korupsi pada dasarnya berkaitan dengan perilaku kekuasaan. Kekuasaan memang cenderung untuk korup. Kekuasaan yang berkuasa secara absolut, akan korup secara absolut pula. Kedua, korupsi sangat erat kaitannya dengan perkembangan sikap kritis masyarakat. Semakin berkembang sikap kritis masyarakat, maka korupsi akan cenderung dipandang sebagai fenomena yang semakin meluas (Revrisond Baswir, 2002: 27).

Berdasarkan kedua hal tersebut, Revrisond (2002: 27) menyimpulkan bahwa tragedi yang dialami oleh pe- merintahan Orde Baru sesungguhnya dapat ditafsirkan secara mudah. Sebagaimana diketahui, pemerintahan Orde Baru yang berkuasa lebih dari 30 tahun tersebut, terutama menopang kekuasaannya dengan dukungan militer. Dengan sifat seperti itu, pemerintahan Orde Baru sesungguhnya tidak hanya telah memerintah terlalu lama, tetapi cenderung berkuasa secara otoriter. Masa berkuasa secara otoriter yang terlalu lama itu, telah menyebabkan semakin jauhnya pemerintahan Orde Baru teralienasi dari aspirasi yang hidup di tengah-tengah masyarakat. Pada mulanya, sikap kritis masyarakat terhadap tindakan korupsi yang dilakukan

Sejarah Praktik Korupsi 37 oleh para pejabat Orde Baru, dapat direpresi dengan mengendalikan media massa. Tetapi, sebagaimana terbukti kemudian, tindakan seperti itu sama sekali tidak menolong. Sikap kritis masyarakat terhadap meluasnya tindakan korupsi yang dilakukan oleh para pejabat Orde Baru, terus bertahan hidup seperti api dalam sekam.

Melihat kondisi tersebut, sebenarnya krisis ekonomi yang melanda Indonesia pada penghujung 1997 dan awal 1998, tidak lebih dari sekedar momentum sejarah yang menyebabkan meledaknya kemarahan masyarakat. Soeharto adalah simbol. Tujuannya adalah penyingkiran prilaku otoriter dan korup yang sudah sedemikian masif menjangkiti rezim Orde Baru di bawah kendali Soeharto. Bukan berarti, dengan lengsernya Soeharto dari tampuk kekuasaan, tidak menjadikan masyarakat berhenti untuk bersikap kritis terhadap pemerintahan. Sikap kritis tersebut selalu muncul hingga sekarang. Tak mengherankan bila berakhirnya masa pemerintahan Abdurrahman Wahid dikarenakan tuduhan melakukan tindak pidana korupsi. Bukan persoalan tuduhan tersebut terbukti atau tidak, namun ini semua terjadi karena hasrat kritis masyarakat terkebiri selama lebih dari tiga puluh tahun.

Sumber: http://achyadi.com

Piye kabare? Isih penak jamanku to? Poster bernada sindiran yang digambar di belakang truk ini menandakan kerinduan masyarakat terhadap pemimpin yang bersih dan merakyat. Sudah sewajarnya masyarakat membanding- bandingkan keberhasilan pemerintahan dari setiap rezim. Jika pemerintahan sekarang tidak mampu berbuat banyak terhadap para perilaku korupsi, maka rusaklah tatanan birokrasi yang sudah ditata sedemikian rupa. Tak peduli siapa yang memimpin, asalkan mampu membawa pemerintahan menjadi baik, sudah cukup bagi masyarakat. Kini, masyarakat menunggu terwujudnya pemerintahan yang bersih dari segala tindak Korupsi, Kolusi dan Nepotisme.[]

Dalam dokumen PENDIDIKAN ANTI KORUPSI REKONSTRUKSI INT (Halaman 43-49)

Dokumen terkait