BAB II DARI SERDANG DOCTOR FONDS HOSPITAAL SAMPAI GABUNGAN
2.3 Periode Serdang Doctor Fonds Hospitaal (1913-1950)
30 Wawancara dengan Edi Suhardi, Poliklinik PT. Perkebunan Nusantara 3 Sei Karang, 1 Maret 2011.
35
2.3.1 Sarana dan Prasarana yang dibangun pada masa Serdang Doctor Fonds Hospitaal
Pada periode 1913 atau awal beroperasinya Rumah Sakit Petumbukan tidak banyak dibangun fasilitas atau pun sarana prasarana pendukung di rumah sakit ini. Hanya ada sarana pelengkap yang dibangun di rumah sakit ini yaitu tangki air sejumlah 1 unit dan sumur batu sebanyak 4 unit yang keduanya sama-sama dibangun pada tahun 1926.32 Selanjutnya pada masa pendudukan Jepang kurun waktu 1942-1945 tidak banyak terjadi perubahan yang signifikan. Berdasarkan informasi yang dihimpun oleh penulis pada saat itu hanya terjadi pengambilalihan rumah sakit beserta bangunannya saja dari orang-orang Eropa ke orang Jepang.33 Hal ini erat kaitannya dengan pendudukan Jepang di Indonesia yang terjadi rentang waktu 1942-1945.
Pada masa awal kemerdekaan Indonesia, yakni tahun 1945, terjadi perubahan yang cukup berarti. Saat itu barulah cukup banyak dibangun sarana dan prasarana lainnya. Sarana dan prasarana tersebut, antara lain Rumah Karyawan Menengah sebanyak 3 unit dengan luas lahan 201 m2, Bangunan Pos Jaga sejumlah 1 unit seluas 16 m2, Kamar Mayat sejumlah 1 unit dengan luas lahan 134 m2, Kamar Mesin sejumlah 1 unit dengan luas 140 m2, dan Ruang Laundry (Dobi) sejumlah 1 unit dengan luas lahan 96 m2.34
Sementara itu pada tahun 1949 dibangun Rumah Pondok Panjang sejumlah 1 unit dengan luas lahan 174 m2. Pada tahun 1950 ada banyak dibangun sarana dan prasarana baru di rumah sakit ini. Hal ini tentu saja menjadi salah satu indikator yang menunjukkan
31
Wawancara dengan Kanaya, Pisang Pala, 15 Oktober 2010.
32 Arsip milik OK. Dirhamsyah Tousa: Data Bangunan dan Sarana Rumah Sakit Petumbukan. 33 Wawancara dengan Zainab Br Sembiring, Kelapa Satu, 9 Maret 2011.
bahwa terjadi perkembangan yang signifikan di rumah sakit ini dan nampak dari geliatnya pembangunan fasilitas-fasilitas baru. Fasilitas baru yang dibangun antara lain Bangunan Rumah Sakit Utama sejumlah 1 unit dengan luas lahan 600 m2, Ruang Kelas II sejumlah 1 unit dengan luas lahan 500 m2, Ruang Kelas III sebanyak 6 unit menempati lahan seluas 3.000 m2, Ruang Operasi (I.C.U) sejumlah 1 unit dengan luas lahan 225 m2, Dapur sejumlah 1 unit dengan luas lahan 250 m2, dan Rumah Staf Asisten Kepala sebanyak 4 unit dengan luas lahan 940 m2.35
2.3.2 Struktur Organisasi Serdang Doctor Fonds Hospitaal
Setiap organisasi memiliki struktur organisasi, demikian pula Rumah Sakit Petumbukan. Berikut adalah bagan organisasi Rumah Sakit Petumbukan pada masa Serdang Doctor Fonds Hospitaal:
35 Ibid. Dokter Pemimpin Bagian Umum Perawat (Suster) Bidan Mantri
Asisten Dokter Kepala Tata Usaha
Krani 1
Krani 2
Koki Bagian Perawatan
37
Dari bagan atau struktur organisasi Rumah Sakit Petumbukan di atas, dapat diketahui bahwa Dokter Pemimpin adalah yang paling tinggi jabatannya di Rumah Sakit Petumbukan dan bertugas mengatur manajemen di rumah sakit ini.36 Ia membawahi dua bagian yaitu Bagian Perawatan (Medis) dan Bagian Umum. Bagian Perawatan diisi oleh sumber daya manusia yang memiliki latar belakang di bidang medis, secara langsung berhubungan dengan pasien. Tenaga Medis di antaranya adalah Asisten Dokter/ Staf Wakil Dokter yang bertugas mengobati pasien; Perawat/ Suster adalah mereka yang mendapat pendidikan khusus untuk merawat, dan tugas mereka adalah membantu Dokter Pemimpin dan Asisten Dokter dalam merawat pasien; Bidan bertugas untuk menolong serta merawat ibu dan bayi, terutama selama proses bersalin; Mantri atau dikenal juga dengan Perawat Kepala yang biasanya laki-laki bertugas membantu Dokter dalam pelayanan kesehatan; Bagian Apotek bertugas meramu obat berdasarkan resep Dokter dan kemudian diberikan kepada pasien sesuai penyakit yang dideritanya; dan Bagian Laboratorium bertugas untuk melakukan percobaan atau menyelidiki segala sesuatu yang berkaitan dengan medis.37
Di Bagian Umum diisi oleh sumber daya manusia yang berasal dari bidang non-medis dan bertugas mengurusi segala sesuatu yang berhubungan dengan tata usaha dan administrasi rumah sakit dan urusan rumah tangga di rumah sakit. Bagian Umum di
36 Wawancara dengan Zakaria Bono, Pisang Pala, 7 Juni 2011.
37 Direktorat Rumah Sakit, Kementerian Kesehatan RI, Persyaratan Prasarana Fisik Rumah Sakit. Apotek
Laboratorium
antaranya adalah Kepala Tata Usaha yang bertugas menyelenggarakan urusan administrasi dan membuat laporan keuangan dalam Rumah Sakit Petumbukan; Krani secara umum bertugas mengurusi administrasi sederhana misal mencatat, mengetik, menerima dan mengirimkan surat. Krani di rumah sakit ini terbagi menjadi 2 (dua) yaitu: Krani 1 bertugas mengurusi transportasi, kamar mesin, dan dapur; sedangkan Krani 2 bertugas mengurusi upah pekerja, gudang makanan, dan gudang kain; Koki (Tukang Masak) bertugas untuk menyediakan makanan bagi para pegawai dan juga untuk pasien yang sedang dirawat; dan Dobi (Laundry) bertugas untuk mencuci dan menyetrika pakaian, kain, dan lain sebagainya.38
Selanjutnya akan diuraikan jam kerja pegawai diberlakukan sama baik itu untuk bagian medis maupun bagian umum.39
Jam Kerja Pegawai
Masuk : Pukul 07.00 – 12.00 WIB Istirahat : Pukul 12.00 – 14.00 WIB Masuk Kembali : Pukul 14.00 – 16.00 WIB
2.3.3 Tenaga Medis Serdang Doctor Fonds Hospitaal
Seperti yang sudah diketahui sebelumnya, tenaga medis yang mengabdi di rumah sakit ini kebanyakan adalah bangsa Eropa. Beberapa dokter berkebangsaan Eropa yang pernah bertugas di Rumah Sakit Petumbukan, di antaranya dr. C.A. Jans, dr. E.D. van der Brug, dr. F.G.C. Arnout, dr. C.J. van Saane, dan dr. W. Kuppi. Sementara itu, perawat-perawat berkebangsaan Eropa yang pernah mengabdi di rumah sakit ini antara lain Zuster
38 Ibid.
39
van Aeemstra, Zuster E. Fchns, Zuster Ten Boom, Zuster B. de Vries, dan Zuster Lim Bru Lang (perawat berkebangsaan Cina).40 Saat periode ini tenaga medis memang diisi oleh orang-orang Eropa, tetapi untuk bagian-bagian administrasi, rumah tangga dalam Rumah Sakit Petumbukan banyak diisi oleh warga pribumi. Sebagai contohnya adalah kerani, juru masak (koki), tukang cuci dan setrika (dobi), dan lain sebagainya.
2.3.4 Pasien-pasien dan Bentuk Pelayanan
Pasien-pasien dari perkebunan yang bergabung pada periode Serdang Doctor Fonds Hospitaal tahun 1913-1950, adalah sebagai berikut41:
I. Harrison & Crossfield (PT. PP London Sumatra), terdiri dari: 1. Bagerpang Est.
2. Batu Gingging Est. 3. Batu Lokong Est. 4. Naga Timbul Est. 5. Sungei Merah
II. Rubber Cultuur Maatschappij Amsterdam (R.C.M.A) yang menjadi PT. Perkebunan Nusantara 3 sekarang, terdiri dari:
1. Sungei Putih Est.
2. Kantor Besar Sungei Karang
40 Wawancara dengan Zakaria Bono, Desa Pisang Pala, 16 Oktober 2010. 41 Ibid.
III.SIPEF terdiri dari: 1. Timbang Deli Est. 2. Tanah Abang Est. 3. Bandar Pinang Est. IV.Tanjung Purba 1. PT. Serdang Tengah
Adapun beberapa perkebunan yang mengundurkan diri adalah sebagai berikut: 1. Baturata
2. Griahan
3. Kotarih (Tjinta Radja) 4. Silindak (Tjinta Radja) 5. Sarang Giting
6. Sidonegeri
Rumah Sakit Petumbukan pada masa Serdang Doctor Fonds Hospitaal sudah melayani pasien di luar perkebunan-perkebunan yang bergabung, yakni dengan menerima beberapa orang keluarga OK. Tousa beserta ahli waris. Karena pada awal berdirinya ada sebuah perjanjian yang mengikat pihak Rumah Sakit Petumbukan agar memberikan pengobatan dan perawatan secara cuma-cuma kepada keluarga OK. Tousa beserta ahli warisnya. Perjanjian tersebut berlaku sejak 20 Maret 1913, dilakukan antara Dr.
41
Baermann dan OK. Tousa. Siapa saja yang merupakan ahli waris OK. Tousa sudah tentu diterima di rumah sakit ini untuk segera diberikan pengobatan.42
Bentuk pelayanan di Rumah Sakit Petumbukan saat masih Serdang Doctor Fonds Hospitaal cukup baik. Hal ini bisa jadi dikarenakan pada kurun 1913-1950 tenaga medisnya masih diisi oleh orang-orang Eropa. Mereka cukup disiplin dalam bekerja dan sabar dalam menangani keluhan dan mengobati pasien sehingga pelayanan dan perawatan yang diberikan kepada pasien pun cukup memadai. Baru pada periode selanjutnya tenaga medis di rumah sakit ini berangsur-angsur diisi oleh warga negara Indonesia. 43
2.4 Periode Gabungan Rumah Sakit Petumbukan (1950 – 1980)
2.4.1 Sarana dan Prasarana yang dibangun pada Periode Gabungan Rumah Sakit Petumbukan
Pada saat periode Gabungan Rumah Sakit Petumbukan, kurun waktu 1950 – 1980 cukup banyak terjadi perkembangan di rumah sakit ini. Baik itu dilihat dari segi pembangunan fisik yang berupa sarana dan prasarana baru, maupun fasilitas yang menunjang pelayanan kesehatan di rumah sakit ini. Pada tahun 1953 dibangun Rumah Karyawan sebanyak 4 unit dengan luas lahan 268 m2. Pada tahun 1954 dibangun Ruang Kelas I sejumlah 1 unit menempati lahan seluas 500 m2, Dapur sejumlah 1 unit dengan lahan seluas 250 m2.44
Pada tahun 1957 terjadi nasionalisasi perusahaan milik Belanda oleh Pemerintah Republik Indonesia. Dengan adanya nasionalisasi tersebut maka semua aset milik Belanda berangsur-angsur diserahkan kepada pemerintah Indonesia. Namun berdasarkan
42 Arsip milik (Alm.) H. Sabar: Verkaufs Vertrag.
data tertulis maupun lisan, pada masa nasionalisasi ini tidak ada pembangunan sarana dan prasarana baru di Rumah Sakit Petumbukan. Saat itu hanya ada pengambilalihan saja, sehingga yang sudah ada sebelumnya dilanjutkan dan dirawat oleh pemerintah Indonesia.
Perkembangan Tata Usaha dan Pembukuan semasa Gabungan Rumah Sakit Petumbukan dapat dilihat pada saat itu. Laporan keuangan dibuat 3 bulan sekali, dan telah selesai dibuat sampai dengan September 1979 (tahun terakhir Periode Gabungan Rumah Sakit Petumbukan). Untuk bulan Oktober sampai dengan Desember 1979 (penutupan tahun 1979) direncanakan selesai pada bulan Februari 1980. Saat itu di gudang obat tersimpan rapi tablet-tablet dan larutan sirup yang untuk diberikan kepada pasien yang sakit sesuai dengan penyakit yang dideritanya. Adapun gudang material juga menyimpan beras, solar, silinder, minyak tanah, alat tulis kantor, alat listrik dan lain-lain.45
Untuk daya listrik dan air menggunakan pembangkit tenaga listrik beserta pompa air. Berikut perinciannya saat Gabungan Rumah Sakit Petumbukan:
Pusat Tenaga Listrik/ Air
- Jumlah Mesin Pembangkit Tenaga Listrik ada 2 buah
1 buah Mesin Lister 43 HP. Tipe ARW 435 kvA 53 Amp. 220-380 v. 1 buah Mesin Lister 43 HP. No.: 196.HR.4. A.25.R.
- Jumlah Mesin Pompa Air ada 3 buah
2 buah Pompa Air merek Sterek (1 buah rusak)
1 buah Pompa Air merek Pelnex “S 44 komplit dengan Elektro motor 15 HP 220-380 V 1500 rpm.
44 Arsip milik OK. Dirhamsyah Tousa: Data Bangunan dan Sarana Rumah Sakit Petumbukan. 45 Ibid.
43 - Klinik Gigi
- Dental Unit ditempatkan pada Klinik Gigi
- Praktik dibuka pada hari Senin, Selasa, Kamis, dan Sabtu.
Mengenai pembangunan sarana dan prasarana baru di Rumah Sakit Petumbukan tahun 1980, akhir dari periode Gabungan Rumah Sakit Petumbukan hanya dibangun sarana pelengkap berupa Sumur Batu sejumlah 1 unit.46 Tidak ada pembangunan fasilitas baru di rumah sakit ini selama akhir periode Gabungan Rumah Sakit Petumbukan. Hal ini bisa dimungkinkan karena masih memadai dan mencukupi fasilitas yang ada, sehingga Gabungan Rumah Sakit Petumbukan merasa tidak perlu untuk menambah fasilitas baru.
2.4.2 Pembaruan Perjanjian antara ahli waris OK. Tousa dengan Gabungan Rumah Sakit Petumbukan
Pada tanggal 29 Mei 1961 ahli waris OK. Tousa telah melaksanakan himbauan pemerintah yang tertuang di dalam Undang-undang Pokok Agraria (UUPA) tahun 1960 No.5. Ahli waris OK. Tousa telah mendaftarkan kepemilikan dan penguasaan tanah areal Serdang Doctor Fonds Hospital kepada Kantor Agraria Kabupaten Deli Serdang sesuai Pasal 3 Perpu No.57/50. Pada tahun 1965 Gabungan Rumah Sakit Petumbukan menyodorkan konsep baru kepada ahli waris yang bunyinya: Gabungan Rumah Sakit Petumbukan menyanggupi dan mengikat diri akan memberikan pengobatan cuma-cuma kepada ahli waris dibatasi 10 orang tiap bulan.47 Oleh sebab itu, pihak ahli waris OK. Tousa menganggap Gabungan Rumah Sakit Petumbukan telah merampas dan menguasai hak milik ahli waris OK. Tousa.
Pada tanggal 8 Maret 1965 diperbaharui perjanjian antara ahli waris OK. Tousa dengan Gabungan Rumah Sakit Petumbukan, untuk menyempurnakan perjanjian 20 Maret 1913.48 Pihak ahli waris OK. Tousa menyatakan bahwa perjanjian jual beli tanah (Verkaufs Vertrag) tanggal 20 Maret 1913 antara OK. Tousa dengan Serdang Doctor Fonds tidak sah. Ahli waris OK. Tousa mengklaim Serdang Doctor Fonds menolak untuk memberikan kompensasi berupa pengobatan secara cuma-cuma kepada mereka, sehingga ini sama saja telah melanggar perjanjian terdahulu.
Dalam Surat Perjanjian tanggal 8 Maret 1965 ini Gabungan Rumah Sakit Petumbukan diwakili oleh W. Manik, sedangkan ahli waris OK. Tousa diwakili oleh OK. Abdul Chalik dan OK. Murad. Pihak Gabungan Rumah Sakit Petumbukan telah menempati sebidang tanah lebih dari 48 tahun yang dibeli oleh Serdang Doctor Fonds dari OK. Tousa dan Dulkahar dengan Verkaufs Vertrag tanggal 20 Maret 1913. Tanah itu dituntut oleh ahli waris OK. Tousa dan Dulkahar karena jual beli yang telah dilakukan antara Serdang Doctor Fonds dan OK. Tousa tidak sah. Menurut keterangan ahli waris OK. Tousa dan Dulkahar dahulu ada perjanjian bahwa Serdang Doctor Fonds akan memberikan pengobatan secara cuma-cuma kepada OK. Tousa, Dulkahar, keluarganya, dan ahli warisnya. Nyatanya, Serdang Doctor Fonds sejak beberapa lama menolak untuk memberikan pengobatan secara cuma-cuma kepada ahli waris OK. Tousa dan Dulkahar.49
Oleh sebab itulah, maka kedua belah pihak ingin mengadakan perjanjian. Kedua belah pihak menyetujui untuk membuat perjanjian, yang antara lain isinya, adalah Serdang Doctor Fonds menyanggupi dan mengikat diri untuk memberikan pengobatan
47
Arsip milik OK. Ravii: Periode Sejak Berlakunya UUPA 1960 s/d Perjanjian tanggal 8 Maret 1965.
48 Arsip milik (Alm.) H. Sabar: Surat Perjanjian 8 Maret 1965 antara Gabungan Rumah Sakit Petumbukan dengan ahli waris OK. Tousa.
45
secara cuma-cuma kepada ahli waris OK. Tousa dan Dulkahar yang tersebut dalam daftar keturunan-keturunannya. Namun, semuanya itu dengan ketentuan bahwa tiap bulan tidak diperbolehkan lebih dari 10 (sepuluh) orang, termasuk 1 (satu) pasien di kelas A dan 2 pasien di kelas B. Seorang pasien yang diopname di Rumah Sakit Petumbukan dihitung sebagai 1 pasien yang diobati. Setiap pasien yang meminta perawatan atau pengobatan secara cuma-cuma harus membawa surat keterangan dari ahli waris yang berwenang (tertua).50
Yang dimaksud pengobatan secara cuma-cuma adalah pemeriksaan dokter atau mantri di Rumah Sakit Petumbukan; pengobatan dengan obat-obat yang tersedia di Rumah Sakit Petumbukan; pemberian obat-obat yang tersedia di Rumah Sakit Petumbukan atas resep dokter yang bekerja di Rumah Sakit Petumbukan; opname dalam Rumah Sakit Petumbukan dalam kelas A dan B penerimaannya menurut peraturan-peraturan pegawai anggota Gabungan Rumah Sakit Petumbukan. Pengobatan dan perawatan di luar Rumah Sakit Petumbukan walaupun atas saran dokter Rumah Sakit Petumbukan tidak ditanggung oleh Gabungan Rumah Sakit Petumbukan.
Isi perjanjian tersebut juga menyatakan bahwa jika benar ahli waris OK. Tousa dan Dulkahar mempunyai hak atas sebidang tanah, maka Gabungan Rumah Sakit Petumbukan dengan ini melepaskan dan menggugurkan hak-hak mereka atas tanah tersebut. Dengan demikian mereka tidak mempunyai hak apa pun atas tanah di Petumbukan yang dipakai oleh Rumah Sakit Petumbukan atau bagian-bagiannya, jika hak pelepasan yang dimaksud itu tidak bertentangan dan berdasarkan Peraturan Pemerintah.
49 Ibid.
2.4.3 Perkebunan yang menjadi anggota Gabungan Rumah Sakit Petumbukan
Pasien-pasien yang berobat ke Rumah Sakit Petumbukan berasal dari beberapa golongan masyarakat. Ada pasien yang berasal dari perkebunan anggota Gabungan Rumah Sakit Petumbukan, dan ada juga yang merupakan masyarakat umum. Beberapa perkebunan yang menjadi anggota Gabungan Rumah Sakit Petumbukan di antaranya, adalah:
1. PT. Perkebunan V Sungei Karang 2. PT. Perkebunan V Sungei Putih
3. PT. Perkebunan VI Bandar Kwala – Bangun Purba 4. PT. Perkebunan IV Serbajadi
5. Harrison Bagerpang Est. 6. Harrison Sei Merah Est.
7. PN Telekomunikasi (PT. Telkom sekarang).
Selain itu ada juga beberapa perkebunan yang masih diharapkan untuk menjadi anggota Gabungan Rumah Sakit Petumbukan. Perkebunan tersebut antara lain:
1. Timbang Deli/ Tanah Abang SIPEF. 2. Bandar Pinang SIPEF. 51
Saat periode ini dapat diambil rata-rata jumlah pasien yang dirawat per harinya di Rumah Sakit Petumbukan berjumlah 54 orang, sedangkan poliklinik yang merawat staf dan karyawan rata-rata per harinya berjumlah lebih kurang 40 orang. Perlu diketahui tahun 1980 merupakan tahun terakhir periode Gabungan Rumah Sakit Petumbukan,
47
sebelum beralih ke PT. Perkebunan V sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Pertanian tahun 1980.
Pada saat serah terima dari Gabungan Rumah Sakit Petumbukan ke PT. Perkebunan V tercatat jumlah pasien sebagai berikut:
Tabel 1
Pasien yang dirawat pada 20 Februari 1980
No. Uraian Kelas A Kelas B Kelas C dan D Jumlah
1. Kelas A - - -
2. Ruang I - - 19 19 orang
3. Ruang II - - 22 22 orang
4. Ruang III - - 4 4 orang
5. Ruang VII - 1 3 4 orang
6. Ruang VIII - 3 - 3 orang
Jumlah - 4 48 52 orang
Sumber: Arsip Laporan Serah Terima Gabungan Rumah Sakit Petumbukan.
2.4.4 Struktur Organisasi Gabungan Rumah Sakit Petumbukan
Sejak nasionalisasi seluruh perusahaan dan aset-aset milik Belanda termasuk juga perkebunan oleh Pemerintah Indonesia tahun 1957, Rumah Sakit Petumbukan berangsur-angsur dikelola oleh orang Indonesia, baik dokter, perawat maupun tenaga medis lainnya. Dokter-dokter berkebangsaan Indonesia yang pernah bertugas selama periode ini di Rumah Sakit Petumbukan adalah: dr. Sri Handono, dr. Asri Malisie, dr. Sumarlan, dr.
Erlangga Sahir, dr. Tengku Yusuf, dr. H. M. Rasyid Nurdin Hasibuan, dan dr. M. Hutapea.52 Saat periode ini sudah banyak orang Indonesia yang bergabung menjadi karyawan di Rumah Sakit Petumbukan.
Dibawah ini akan diuraikan secara terperinci mengenai struktur organisasi saat periode Gabungan Rumah Sakit Petumbukan.53
Unsur Pengurus Gabungan Rumah Sakit Petumbukan adalah sebagai berikut:
1. Ketua
2. Sekretaris/ Bendahara
3. Komisaris (Lapangan, Bangunan, Teknik) 4. Komisaris (Verifikasi, Keuangan)
5. Komisaris (Perawatan Kesehatan)
Unsur Pimpinan Gabungan Rumah Sakit Petumbukan beserta jabatannya terdiri dari:
1. Dokter Pemimpin, bertugas memimpin dan mengatur segala urusan baik medis maupun non-medis di rumah sakit.
2. Asisten Medis/ Lapangan (Poliklinik), tugasnya bertanggungjawab pada dokter pemimpin yang berhubungan dengan poliklinik.
52 Wawancara dengan Edi Suhardi, Poliklinik PT. Perkebunan Nusantara 3 Sei Karang, 1 Maret 2011.
49
3. Kepala Tata Usaha, tugasnya mengurusi seluruh administrasi dan pembukuan di rumah sakit.
Tenaga Kerja di Gabungan Rumah Sakit Petumbukan terdiri dari beberapa unsur, yakni:
1. Karyawan Menengah - Bagian Umum:
a) Administrasi (3 orang), bertugas mengurusi administrasi.
b) Administrasi Gudang (1 orang), bertugas mengurusi pergudangan.
c) Kepala Kartu Staf/ Pembantu Administrasi (1 orang), membantu administrasi.
d) Kepala Kartu Karyawan (1 orang), mendata absensi karyawan. e) Pegawai Listrik (4 orang), bertugas mengurus listrik di rumah sakit. f) Jaga Telepon (2 orang), bertugas menerima telepon masuk.
g) Tukang (1 orang), tugasnya berhubungan dengan keahlian tangan. h) Tukang Pos (1 orang), bertugas mengantarkan surat-surat pos. i) Tukang Dobi (1 orang), bertugas mencuci dan menyetrika pakaian. j) Mandor (1 orang), bertugas mengawasi pekerjaan rekan-rekannya. k) Asisten Apoteker (1 orang), membantu apoteker dalam meramu obat. - Bagian Perawatan:
a) Pengatur Rawat/ Perawat (2 orang), merawat pasien yang sakit. b) Pengamat Kesehatan (18 orang), mengawasi pengobatan pasien. c) Juru Kesehatan (4 orang), bertugas membantu pengatur rawat.
d) Bidan Berijazah (2 orang), membantu ibu yang melahirkan. e) Pembantu Bidan (3 orang), bertugas membantu bidan. f) Juru Rawat tidak berijazah (1 orang), membantu perawat. g) Pegawai Apotek (1 orang), meramu obat sesuai resep dokter.
2. Karyawan Umum seluruhnya berjumlah 15 orang, yang bertugas mengurusi segala hal yang ada di Rumah Sakit Petumbukan sesuai dengan perintah atasan. 3. Tenaga Honorer, yang terdiri dari: Dokter Gigi yang bertugas memeriksa pasien
yang memiliki keluhan terkait dengan gigi dan mulut. Kemudian juga Guru Agama, bertugas memberikan tausiyah atau siraman rohani kepada seluruh karyawan di Gabungan Rumah Sakit Petumbukan.
51
BAB III
RUMAH SAKIT PETUMBUKAN PADA MASA PT. PERKEBUNAN V SEI KARANG (1980 – 1996)
Pada tahun 1980 pengelolaan Rumah Sakit Petumbukan beralih dari Gabungan Rumah Sakit Petumbukan ke PT. Perkebunan V. Bab ini akan menceritakan mengenai peralihan manajemen Rumah Sakit Petumbukan dari Gabungan Rumah Sakit Petumbukan ke PT. Perkebunan V Sei Karang, sehubungan dengan adanya Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 22/Kpts/Um/1/1980 tentang Pengalihan Status Rumah Sakit Gabungan Perkebunan menjadi Rumah Sakit Perusahaan Negara (PN.) Perkebunan atau PT. Perkebunan. Di dalamnya juga akan diuraikan mengenai Surat Keputusan Direksi PT. Perkebunan V Nomor 05.7/Kpts/5/1980 tentang Pengalihan Rumah Sakit Gabungan Petumbukan menjadi Rumah Sakit Perkebunan PT. Perkebunan V. Selanjutnya akan diuraikan mengenai peralihan manajemen dari Gabungan Rumah Sakit Petumbukan ke PT. Perkebunan V. Berikutnya akan dibahas mengenai Reaksi ahli waris OK. Tousa terhadap Surat Keputusan Menteri Pertanian dan Surat Keputusan Direksi PT. Perkebunan V. Terakhir, akan dijelaskan mengenai Uraian Tugas Rumah Sakit PT. Perkebunan V Petumbukan dan Pembangunan Sarana Prasarana selama Periode PT. Perkebunan V.
3.1 Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 22/Kpts/Um/1/1980 tentang Pengalihan Status Rumah Sakit Gabungan Perkebunan menjadi Rumah Sakit Perkebunan PNP/PTP.
Pada tanggal 12 Januari 1980 Menteri Pertanian Republik Indonesia saat itu, Prof. Ir. Soedarsono Hadisapoetro mengeluarkan sebuah kebijakan baru yang tertuang dalam Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 22/Kpts/Um/1/1980.54 SK Mentan tersebut menyatakan bahwa Gabungan Rumah Sakit Petumbukan dialihkan pengelolaannya kepada PT. Perkebunan V yang saat itu kantor pusatnya berada di Sei Karang, Kecamatan Galang. Dengan dikeluarkannya Surat Keputusan ini maka pengalihan status Rumah Sakit Gabungan kepada PN. Perkebunan atau PT. Perkebunan sah karena ada payung hukumnya.
Menteri Pertanian mempertimbangkan beberapa alasan dalam hal mengeluarkan SK tersebut. Demi tercapainya keberhasilan dalam pembinaan kesehatan di Lingkungan Perkebunan Wilayah I (Sumatera Utara) secara optimal, perlu diadakan peninjauan kembali status beberapa Rumah Sakit Gabungan Perkebunan di Wilayah I. Selain itu juga diperlukan adanya penyeragaman status Rumah Sakit Perkebunan di Wilayah I untuk