• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peristiwa Tahkim pada masa Ali bin Abi Thalib

Dalam dokumen PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH (Halaman 36-39)

KHALIFAH ALI BIN ABI THALIB

3. Peristiwa Tahkim pada masa Ali bin Abi Thalib

Konflik politik antara Ali bin Abi Thalib dengan Mu’awiyah bin Abi Sufyan diakhiri dengan Tahkim. Dari pihak Ali bin Abi Thalib diutus seorang ulama yang terkenal sangat jujur dan tidak cerdik dalam politik yaitu Abu Musa Al-Asyari. Sebaliknya dari pihak mu’awiyah diutus seorang yang terkenal sangat cerdik dalam berpolitik yaitu Amr bin Ash.

Dalam tahkim tersebut, pihak Ali bin Abi Thalib dirugikan oleh pihak Mu’awiyah bin Abu Sufyan karena kecerdikan Amr bin Ash yang dapat mengalahkan Abu Musa Al-Asyari. Pendukung Ali kemudian terpecah menjadi 2 yaitu kelompok pertama adalah mereka yang secara terpaksa mengahadapi hasil tahkim dan mereka tetap setia kepada Ali, sedangkan kelompok yang kedua adalah kelompok yang menolak hasil tahkim dan keceewa terhadap kepemimpinan Ali. Mereka menyatakan diri keluar dari pendukung Ali yang kemudian melakukan gerakan perlawanana terhadap semua pihak yang terlibat dalam tahkim. Termasuk Ali bin Abi Thalib.

Sebagai oposisi terhadap kekuasaan yang ada, khawarij mengeluarkan beberapa statemen yang menuduh orang-orang yang terlibat tahkim sebagai orang-orang kafir. Khawarij juga berpendapat utsman telah menyeleweng dari ajaran islam. Demikian pula Ali juga telah menyeleweng dari ajaran islam karena melakukan tahkim. Utsman dan Ali dalam pandangan khawarij yaitu murtad dan telah kafir. Disamping dua khalifah umat islam diatas politisi lain yang dipandang kafir oleh Khawarij adalah Mu’awiyah, Amr bin Ash, Abu Musa Al-Asyari, dan semua orang yang menerima tahkim.

Peristiwa tahkim tersebut menyebabkan sebagian pengikut Ali tidak setuju, dan mereka keluar dari barisan Ali kemudian mereka menjadikan Nahrawan sebagai markasnya serta terus menerus merongrong pemerintahan Ali. Golongan yang keluar dari barisan Ali tersebut biasa disebut sebagai Khawarij. kerepotan khalifah dalam menyelesaikan kaum khawarij ini digunakan Mu’awiyah untuk merebut kekuasaan didaerah Mesir. Padahal Mesir dapat dikatakan sebagai sumber kemakmuran dan ekonomi dari pihak Ali. Dengan terjadinya berbagai pemberontakan dan keluarnya sebagian pendukung Ali, banyak pengikut Ali yang gugur dan berkurang serta hilangnya sumber ekonomi dari Mesir karena dikuasai oleh Mu’awiyah menjadi karisma khalifah menurun, sementara Mu’awiyah makin hari makin bertambah kekuatannya. Hal tersebut memaksa khalifah Ali menyetujui perdamaian dengan Mu’awiyah.

Penyelesaian melalui kompromi dengan Mu’awiyah itu sebenarnya merupakan kegagalan bagi Ali. Berbagai kerusuhan yang harus dijalani Ali sejak penobatan menjadi khalifah, terutama disebabkan oleh kegagalannya menindas pemberontakan Mu’awiyah pemberontakan yang hebat dari Thalhah dan Zubair memperlemah kedudukan Ali dan memperkuat kekuasaan Mu’awiyah. Pemberontakan-pemberontakan terjadi dibasrah, mesir, dan Persia untuk mendapatkan kemerdekaan. Khalifah Ali harus menangani pemberontakan-pemberontakan ini dan memulihkan ketertiban didalam imperium, terutama kaum khawarij sangat memperlemah kekuatannya dan terus menerus menyibukannya .

Jumlah manusia, keuangan, dan sumber-sumber kekayaan Mu’awiyah jauh lebih kuat dibandingkan dengan khalifah Ali. Ali tidak memiliki sumber-sumber kekayaan dia memadai dan memimpin suatu kaum yang kesetiannya kepadanya berubah-ubah dan meragukan. Sebaliknya, Mu’awiyah memiliki sumber-sumber yan kaya disyiria dan memiliki dukungan yang tangguh dari keluarganya. Bani umayyah maupun orang-orang syiria dengan kuat berada dibelakangnya dan memasoknya dengan sumber-sumber kekuatan yang tak habis-habisnya. Ali hanyalah seorang jendral dan prajurit yang gagah berani, sedangkan Mu’awiyah seorang diplomat yang licik dan seorang politikus yang pintar.

Penyelesaian kompromis Ali dengan Mu’awiyah tidak disukai oleh kaum perusuh karena hal itu membebaskan khalifah untuk memusatkan perhatiannya pada tugas menghukum mereka . kaum khawarij merencanakan untuk membunuh Ali, Mu’awiyah dan Amar memilih seorang khalifah yang sehaluan dengan mereka, yang dengan bebas dipilih dari seluruh umat islam. Karena itu Abdurahma pengikut setia kaum khawarij memberikan pukulan yang hebat kepada Ali sewaktu dia akan adzan di masjid. Pukulan itu fatal sehingga menyebabkan khalifah Ali wafat pada tanggal 17 Ramadhan 40 H., Bertepatan dengan tahun 66 M.16

PENUTUP

A.KESIMPULAN

Dari beberapa pembahasan mengenai Perkembangan Islam Pada Masa Khulafaur Rasyidin diatas maka dapat diambil beberapa kesimpulan yang diantaranya :

1.Khulafa ar-Rasyidin atau Khulafa ar-Rasyidun (jamak kepada Khalifatur Rasyid) berarti wakil-wakil atau khalifah-khalifah yang benar atau lurus Adapun maksudnya disini adalah empat Khalifah Shahabat Nabi yaitu Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali ra

2.Pada Masa pemerintahan Abu Bakar Islam berkembang dengan melalui penyebaran langsung ketempat dimana belum ada penduduk yang beragama Islam. Pada masa ini pula Al-quran dikumpulkan dan ini pula merupakan jasa pemerintahan pada zaman beliau

3.Pada Masa Umar (Masa Penguatan Pondasi Islam), Utsman ( Masa Pembukuan Al-quran) dan Ali, Islam sudah sangat tersebar luas diwilayah wilayah selain diwilayah jazirah arab itu sendiri. Dimana pada masa beliau beliau adalah merupakan tindak lanjut dari proses penyebaran Islam sebelumnya. 4.Adapun kronologis khulafaurrasyidin adalah sejak wafatnya Nabi Muhammad SAW sampai dengan masa khalifah Ali bin Abi Thalib dengan berbagai macam rentetan peristiwa yang terjadi pada setiap masanya.

Sehingga dari berbagai macam analisis kesimpulan diatas bisa dikatakan bahwa Islam berkembang pada masa kepemimpinan Nabi Muhahammad dan Khulafaur Rasyidin adalah melalui beberapa aspek pendekatan yang diantaranya adalah pendekatan da’wah yang meliputi da’wah dengan lisan (diplomasi) dan juga perbuatan (pertempuran).

Daftar pustaka

1. M.Rida.Abu Bakar Ash-Shidiq Awalu Al-Khulafaur Rasyidin. Beirut:Dar Al-Fikr,1983 2. Dedi Supriadi,M.Ag. Sejarah Peradaban Islam. Bandung :Pustaka Setia,2008.

3. Abi Al-Wahid An-Najjar.Al-Khulafaur rasyidin. Beirut:Dar Al-Kutub Al-llmiyat,1990, 4. Haji Nashruddin Thaha;Pemerintahan Abu Bakar, Jakarta; Mutiara Jakarta, 1979 5. Musthafa Murad, Kisah Hidup Umar Ibn khattab, Jakarta : Zaman, 2009

6. Ahmad Al-Usairy,Sejarah Islam, Jakarta: Akbar Media Eka Srana,2008

Dalam dokumen PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH (Halaman 36-39)

Dokumen terkait