• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perjalanan Dinas Keluar Provinsi

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.4. Perjalanan Dinas Keluar Provinsi

1. Bimbingan Teknis Aplikasi Pendukung Informasi Publik dilaksanakan oleh Biro Hukum dan Informasi Publik, Sekretariat Jenderal Kementerian Pertanian selaku PPID Utama Kementan.

Bimtek tersebut dilaksanakan di Garuda Plaza Hotel, Medan-Sumatera Utara pada tanggal 24 sd 26 April 2013. Peserta yang hadir berjumlah 47 orang (47 satker) dari 48 satker yang diundang. Peserta berasal dari UPT lingkup

Ditjen tanaman Pangan, Ditjen Hortikultura, Ditjen Perkebunan, Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, Ditjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian, Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Badan Ketahanan Pangan, Badan Karantina Pertanian, dan Inspektoral Jenderal serta UPT masing-masing yang berada di wilayah barat (Sumatera).

Informasi Publik adalah informasi yang dihasilkan, disimpan, dikelola,

dikirim, dan/atau diterima oleh suatu badan publik yang berkaitan dengan penyelenggara dan penyelenggaraan negara dan/atau penyelenggara dan penyelenggaraan badan publik lainnya yang sesuai dengan Undang-Undang ini serta informasi lain yang berkaitan dengan kepentingan publik. Badan Publik adalah lembaga eksekutif, legislatif,yudikatif, dan badan lain yang fungsi dan

tugas pokoknya berkaitan dengan penyelenggaraan negara,yang sebagian

atau seluruh dananya bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara dan/atau Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah, atau organisasi nonpemerintah sepanjang sebagian atau seluruh dananya bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara dan/atau Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah, sumbangan masyarakat, dan/atau luar negeri.

Gambar 1. Sistem Infomasi Publik

2. Mengikuti Acara Ekspose Pameran Pekan Inovasi Peternakan Ramah Lingkungan dan Seminar Nasional (PIP-RL) di KP Gowa BPTP Sulawesi Selatan pada tanggal 18 – 21 Juni 2013.

Materi Ekspose dan Seminar Nasional Inovasi Perternakan Ramah Lingkungan (EIP-RL) mencakup rangkaian kegiatan : Seminar Nasional, Ekspose

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian ; Plenary Lecture oleh Direktorat Jendral Perkebunan, Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Perternakan, Kepala Balai Besar Sumberdaya Lahan Pertanian (BBSDLP), Kepala Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian (BBP2TP), Dekan Fakultas Perternakan Universitas Hasanudin (UNHAS), Kepala Dinas Perternakan Dan Kesehatan Hewan Propinsi Sulawesi Selatan dan PT Buli Berdikari. Tema Seminar Nasional dalam rangka pecan Inovasi Perternakan adalah “Akselerasi Integrasi Tanaman Ternak Ramah Lingkungan”. Makalah Utama dan Penunjang yang di presentasikan secara oral maupun poster merupakan makalah makalah primer atau review. Makalah tersebut menitik beratkan pada aspek penelitian, pengkajian dan pengembangan teknologi pertanian spesifik lokasi, makalah disusun dalam format Karyatulis Ilmiah dan belum pernah dipublikasikan

Presentasi Seminar Nasional makalah ilmiah hasil-hasil pengkajian dan pengembangan teknologi perternakan spesifik lokasi dari BPTP Bengkulu secara oral berjumlah 2 judul yaitu :

1. Pengaruh Pemberian Suplementasi Probiotik Pada Pakan Ayam Potong

Terhadap Berat Hidup, Berat Karkas Dan Lemak Abdomen (Erpan Ramon Dan Wahyuni Amelia Wulandari) yang disampaikan oleh Erpan Ramon,S.Pt

2. Pemanfaatan Limbah Kulit Kopi Sebagai Pakan Sapi Potong Di Kabupaten

Rejang Lebong (Wahyuni Amelia Wulandari dan Zul Efendi) disampaikan oleh ibu Wahyuni Amelia Wulandari,S.Pt, M.Si

Ekspose Inovasi Teknologi. Ekspose Inovasi Teknologi menampilkan produk teknologi perternakan unggulan spesifik lokasi yang telah di kembangkan oleh petani. Penyajian inovasi berupa produk unggulan spesifik lokasi dipadukan dengan talkshow, peragaan teknologi/pelatihan dan dialog interaktif. Adapun ekspose inovasi teknologi perternakan meliputi : teknologi penampungan biogas kedalam tabung LPG 3 kg. Pakan murah dari limbah pertanian, pengolahan limbah Kotoran Ternak menjadi Pupuk Organik Padat (POP) dan Pupuk Organik Cair (POC), Pembuatan MOL (Mikro Organisme Lokal) Teknologi Pembuatan Pestisida Nabati dan pembuatan jamu ternak.

3. Mengikuti pertemuan regional peneliti untuk pengembangan karier professional peneliti dan manajemen korporasi.

Pertemuan regional peneliti, perekayasa, penyuluh lingkup Badan Litbang Pertanian dilaksanakan pada tanggal 20 – 23 Februari 2013 di Grand Elite Hotel Medan Jl. Jenderal Gatot Subroto No. 395 Medan dengan tema “Konsolidasi Manajemen Litkajibang-luh-rap Mempercepat Operasionalisasi Program Terobosan Inovasi Pertanian”, dibuka oleh Kepala Puslitbang Hortikultura (Dr. Prama Yufdy). Peserta Raker terdiri dari Kepala Badan Litbang Pertanian, Ketua Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Narasumber dari FKPR dan Peneliti Senior. Acaran Pertemuan Koordinasi Peneliti/Perekayasa/Penyuluh Badan Litbang Pertanian di Medan dihadiri oleh sekitar 365 peserta.

Tujuan dari penyelenggaraan Temu Koordinasi Peneliti, Perekayasa, dan Penyuluh lingkup Badan Litbang Pertanian adalah melakukan review dan membahas status terkini (state of the art) litkajibang-luh-rap terutama dalam mengoptimalkan capaian kinerja periode 2010 – 2014. Secara spesifik tujuan penyelenggaraan temu koordinasi peneliti, perekayasa, dan penyuluh lingkup Badan Litbang Pertanian adalah sebagai berikut:

1).Melakukan review dan membahas status terkini (state of the art) litkajibang- luh-rap, 2010 – 2012 dalam mendukung empat target sukses Kementan. 2).Memformulasikan revitalisasi manajemen litkajibang-luh-rap berbasis

Manajemen Korporasi (Corporate Manajement).

3).Melakukan pembahasan penuntasan program litkajibang-luh-rap 2013-2014, sebagai antisipati dinamika pembangunan pertanian.

Arahan Kepala Badan Litbang Pertanian pada temu koordinasi peneliti/perekayas/penyuluh kali ini adalah : jadikan tahun 2013 menjadi tahun kerja keras, kerja cerdas dan kerja tuntas untuk mendukung pencapaian 4 target sukses Kementerian Pertanian. Isu saat ini diseluruh dunia ada 3 yaitu pangan, energi, dan lingkungan. Peneliti penyuluh dan perekayasa harus lebih meningkatkan kemampuannya agar Badan Litbang Pertanian dapat menjadi 50 besar lembaga penelitian di dunia saat ini peringkat 86.

Strategi Pemberdayaan Penyuluh Pertanian Mendukung Program Pertanian di daerah oleh Kapusluh Badan PPSDMP (Momon Ismon), 4). Evaluasi Kinerja UK/UPT oleh Prof. Irsal Las, 5). Harapan dari UU 13/2010 tentang Hortikultura dan Kontribusi Badan Litbang Pertanian untuk Implementasinya oleh Dr. Ahmad Dimyati, 6). Biobased Economy dan Relevansinya dengan Riset Pertanian Deptan oleh Prof. Bambang Prastowo, 7). Arahan dan Pembingkaian oleh Kepala Badan Litbang Pertanian (Dr. Haryono), 8). Kebijakan Pengembangan Karier Profesional Peneliti oleh Kepala LIPI (Prof. Lukman Hakim), 9). Litkajibang-luh-rap dan Implementasinya oleh Dr. Agung Hendriyadi, Dr. M. Prama Yufdy, Ir. Rudy Tjahjohutomo, MT, 10). Sosialisasi Manajemen Korporasi oleh Ka BBP2TP (Dr. Agung Hendriyadi), 11). Presentasi dan diskusi kelompok, pada kesempatan ini kami masuk ke Kelompok III presentasi inovasi unggulan dan program strategis spesifik lokasi wilayah Sumatera 2010 – 2012. Acara dipimpin oleh Kabid KSPHP BBP2TP (Drs. Bambang S Sankarto, MIM). Acara mendengarkan presentasi dari Ir. Sigit Sapto Wibowo, M.Sc berjudul Dampak Diseminasi Inovasi yang Luar Biasa Tidak dapat Dicapai dengan Cara Biasa: Pengalaman penyuluh pertanian di Kalimantan Barat, 12). Malam Keakraban dan Seni dan Kreasi, 13). Motivasi, Syukur, dan Ikrar Peneliti, Perekayasa, Penyuluh oleh Prof. Kusuma Diwyanto, 14) Pembacaan Rumusan oleh Kapuslitbang Hortikultura dan terakhir Arahan dan Penutupan oleh Ka. Badan Litbang Pertanian (Dr. Haryono).

4. Mengikuti Workshop Tengah Tahun Kegiatan Strategis Lingkup Balai Besar Pengkajian di Royal Safari Garden Resort and Convention Cisarua Bogor

Workshop tengah tahun Pendampingan Kegiatan Strategis Kementan dan program terobosan Badan Litbang Pertanian lingkup Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian (BBP2TP) dengan tema ”Evaluasi dan

konsolidasi kegiatan pendampingan program strategis Kementan dan program terobosan Badan Litbang Pertanian lingkup Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian” dibuka oleh Bapak

Kepala Badan Litbang Pertanian pada tanggal 26 Agustus 2013. Workshop

ditujukan untuk mengevaluasi kemajuan/perkembangan pelaksanaan kegiatan strategis lingkup BBP2TP yang meliputi kegiatan pendampingan pencapaian swasembada pangan (padi, jagung, kedelai, tebu, dan daging sapi), kerjasama penelitian SMARTD (m-P3MI, KKP3SL, Competitive grant untuk penyuluh),

perbenihan, m-AP2RL2, dan m-KRPL. Workshop juga bertujuan untuk menindaklanjuti hasil pertemuan regional TPK-BPTP dalam penajaman proposal (RPTP/RDHP) BPTP TA 2014.

Workshop diikuti oleh 275 peserta dari seluruh BPTP/LPTP dan nara sumber lintas Eselon II Kementerian Pertanian dan para pejabat Eselon II lingkup Badan Litbang Pertanian. Workshop dilaksanakan melalui sidang pleno dan sidang kelompok. Sidang pleno membahas tentang kebijakan operasional diversifikasi pangan dengan sistem modeling oleh Ka BB Pasca Panen; pengembangan KRPL oleh nara sumber dari Badan Ketahanan Pangan, pengembangan perbenihan bawang merah oleh Ka Puslitbanghorti, dan penyediaan teknologi adaptif oleh Prof. Sumarno. Lima sidang kelompok masing-masing membahas materi: a) m-P3MI, KKP3SL, dan Competitive Grant, b) Perbenihan, c) Pendampingan pencapaian swasembada pangan, d) m-AP2RL2 dan e) m-KRPL. Selain itu, dalam rangkaian workshop ini, para Kepala dan Mantan Kepala BPTP/LPTP juga melakukan kunjungan ke UPT Badan Litbang Pertanian, yaitu ke Balithi (sekaligus menghadiri openhouse) dan Balittri, untuk mengetahui ketersediaan teknologi yang siap dikembangkan.

Dalam laporannya, Kepala BBP2TP menyampaikan berbagai capaian kinerja BPTP/LPTP berupa teknologi spesifik lokasi dan teknologi yang didiseminasikan. Capaian lain yang membanggakan adalah diperolehnya anugerah IPTEK sebagai lembaga penelitian berprestasi oleh BPTP DIY dari Gubernur DIY dan seorang penyuluh dari BPTP Kalbar (Ir. Sigit) mendapatkan anugerah dari Menristek karena keberhasilannya dalam diseminasi teknologi lahan gambut tanpa bakar, yang akan diberikan di TMII pada acara Hakteknas tanggal 29 Agustus 2013. Penghargaan tersebut diharapkan dapat memacu BPTP untuk terus meningkatkan kinerjanya. Sekretaris Badan mengingatkan beberapa hal terkait dengan: a) teknologi jajar legowo akan dikembangkan di 11 provinsi, b) perbaikan system perbenihan padi akan dilaksanakan di 18 provinsi, c)

updating data SDM, sarana/prasarana harus segera diselesaikan, d) Komisi Pengkajian Teknologi Pertanian agar difungsikan/dibangkitkan kembali. Kepala Badan memberikan arahan bahwa dalam rangka kurva kedua Badan Litbang Pertanian diperlukan energy/power/kinerja yang memadai, dan digambarkan dalam formula: E=KMC2 (E=energy, K=knowledge, M=management, C=communication dan C= computer). Dari rumus tersebut, Kepala Badan

Litbang Pertanian mampu meningkatkan kapasitas komunikasinya. Di samping itu, Kepala Badan mengharapkan agar seluruh UK/UPT Badan Litbang Pertanian menerapkan “Good Management Practices 2013”, dengan indikator capaian: a)

excellent quality of services/products/research result, b) tertib administrasi dan manajemen, c) innovative, dynamic/continuous improvement, dan d) minimum conflict.

Dalam mendukung kinerja Badan Litbang Pertanian, BBP2TP mendapat 11 tugas (ad hock) yang harus segera diselesaikan, yaitu: a) Identifikasi permasalahan dan lahan baru akibat berkurangnya lahan sawah untuk penambangan emas di P Buru, b) Identifikasi permasalahan pengembangan ex-PLG Kalteng dan rice estate 100.000 ha, c) Identifikasi permasalahan produksi padi di Bone, 4) Identifikasi pengembangan produksi tebu di Sampang dan Pamekasan, 5) Identifikasi luas lahan dan potensi pengembangan pertanian organic di Bali dan Sukoharjo, 6) Pemetaan/klasterisasi pengembangan m-KRPL dan delivery system benih di seluruh Indonesia, 6) Pemetaan luas, produktivitas dan permasalahan pengembangan “jarwo” di 11+7 propinsi, 7) Dampak Permentan 43/2012 terhadap harga komoditas di Dumai-Riau, 8) Identifikasi permasalahan, potensi dan tahapan pengembangan rice estate, Bukunga dan potensi pembentukan LPTP Kaltara,9) roadmap pengembangan HTI di Air Sugihan-OKI-Sumsel, dan 10) Identifikasi dan potensi pengembangan tanam padi di polybag di Kalbar. BPTP terkait diminta sebagai penanggung jawab utama masing-masing kegiatan tersebut. Laporan kajian tersebut harus selesai paling lambat tanggal 10 September 2013.

Kegiatan TPK-BPTP tahun 2013 yang telah dilaksanakan lebih difokuskan pada peningkatan kualitas dan refocusing proposal (RPTP/RDHP) tahun 2014 melalui seri pertemuan dan pembahasan/perbaikan. Di samping itu, TPK-BPTP telah berkontribusi dalam penyediaan 16 pedum program unggulan BPTP. Beberapa catatan dari hasil pembahasan tersebut dinyatakan bahwa BPTP telah berusaha memperbaiki dan menindaklanjuti hasil pembahasan dengan kadar beragam, yaitu belum memanfaatkan kegiatan pendampingan untuk pengayaan KTI melalui kreasi kegiatan khusus/super imposse dan belum memanfaatkan secara maksimal PR/senior yang ada di masing-masing BPTP. Kegiatan TPK-BPTP yang akan dilakukan hingga akhir 2013 antara lain penuntasan perbaikan proposal 2014, pendampingan penyusunan KTI dan keprofesian peneliti/penyuluh, pendampingan kegiatan sinjak, dan tematik.

Sebagian besar penanggungjawab MP3MI masih belum memahami filosofi kegiatan MP3MI dengan baik. Hal ini ditunjukkan antara lain bahwa: a) Kegiatan masih terkesan pengkajian dan belum berorientasi percepatan diseminasi, b) Formulasi konsep Model yang dikembangkan dalam MP3MI belum massif, serta c) Jenis dan sumber inovasi yang diintroduksi dan dikembangkan dalam MP3MI cenderung berorientasi teknologi budidaya, belum menyentuh kelembagaan.

Basis kegiatan MP3MI yang dilaksanakan belum massif karena: a) Skala kegiatan belum berorientasi kawasan, b) Baru sebagian kecil yang menerapkan analisis keberhasilan dengan menggunakan indicator sesuai panduan MP3MI, c) Pembahasan masih “atomik” dan belum dikaitkan dengan pengembangan pertanian perdesaan yang menjadi orientasi pembangunan wilayah. Oleh karena itu, disarankan agar pendampingan kegiatan MP3MI dapat lebih diintensifkan.

Kegiatan pendampingan pada dasarnya merupakan upaya untuk memberdayakan petani dalam mengembangkan potensi sumberdaya yang dimilikinya, baik petani maupun sumberdaya pertanian dan teknologi, sesuai target program yang ingin dicapai (PTT Padi, Jagung, Kedelai, PSDSK, PKAH, dan P2T3). Dengan demikian, kegiatan pendampingan memposisikan diri sebagai pendorong, penggerak, katalisator dan motivator. Tujuan kegiatan pendampingan adalah untuk memfasilitasi agar teknologi yang diintroduksikan dapat diterapkan petani, sehingga produktivitas, produksi, dan kesejahtraan petani meningkat. Sedangkan sasaran kegiatan pendampingan adalah petani dalam wadah kelompok tani di dalam satu hamparan atau wilayah kerja DEMFARM atau DEMAREA, atau dalam satu skala usaha agribisnis. Sehingga akan berdampak pada meningkatnya produktivitas, produksi dan pendapatan petani, melalui bertumbuhnya kelompok tani adopter secara berkelanjutan.

Indikator atau tolok ukur keberhasilan pendampingan dapat dilihat dari: a) Produktivitas, produksi dan kesejahteraan petani meningkat dari sebelumnya; b) Meluasnya diseminasi teknologi, ditunjukkan terjadinya peningkatan perkembangan petani atau kelompoktani adopter, c) Terbangunnya kawasan inovasi (hektar atau populasi) atau kawasan agribisnis (subsistem pasar input, teknologi, pasar output, kemitraan), d) Terjadinya transfer teknologi ke petani sekitar dan stakeholder (PPL, BPP, Dinas Pertanian), dan e) Terjadinya

pendampingan dan perkembangan pelaksanan program yang sedang berjalan, perlu dibangun data awal (base line data). Untuk mengetahui perkembangan program yang sedang berjalan, variabel yang diukur disesuaikan dengan indikator yang telah ditetapkan dan sesuai kontek program yang sedang dilaksanakan. Di samping itu, dalam penyusunan laporan kegiatan pendampingan, materi bahasan dalam laporan kegiatan pendampingan program strategis antar BPTP seragam, sehingga mempermudah mengagregasikan menjadi laporan secara nasional oleh BBP2TP.

Untuk kepentingan fungsional peneliti/penyuluh/perekayasa dan sekaligus mengkaji teknologi yang dikembangkan, dalam pelaksanaan pendampingan disarankan agar dapat disisipkan kegiatan “Super Impossed” (SI) teknologi yang didampingi. SI harus dilakukan sesuai bidang kepakaran, relevan dengan kegiatan utama, dan menggunakan metodologi ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan (sesuai Pandum Litkaji), sehingga hasilnya dapat ditulis menjadi Karya Tulis Ilmian (KTI).

Beberapa kelemahan dalam Kegiatan Kemitraan Penelitian dan Pengkajian Pertanian Spesifik Lokasi (KKP3SL), di antaranya adalah: a) Keterlibatan pihak Pemda yang dipersyaratkan belum secara eksplisit terungkap, b) Penggunaan referensi yang diajukan dalam acuan kegiatan masih minim, sehingga wawasan pembahasan menjadi minor, c) Penerapan kaidah ilmiah belum mewarnai kegiatan, (antara lain skala pengkajian relatif kecil serta penerapan perlakuan dan jumlah ulangan tidak standar). Saran tindak lanjut yang diharapkan adalah pentingnya kolaborasi dengan Balit dan perlunya pendampingan.

Pemahaman penyuluh terhadap pengkajian melalui Competitive Grant

masih relatif lemah yang ditunjukkan oleh: a) “Research question”nya tidak jelas, sehingga pembahasan tidak fokus, b) Keterkaitan antara judul dan isi tidak sinkron, c) Tidak ada referensi yang digunakan, dan d) Orientasi kegiatan cenderung berhenti pada kegiatan fisik, belum menyentuh analisis. Oleh karena itu, perlu acuan yang jelas terkait dengan target Competitif Grant: apakah untuk memperkuat kegiatan penyuluhan atau menjadikan penyuluh berbasis peneliti.

Melalui pendekatan sistem modeling, Badan Litbang Pertanian melalui BB Pasca Panen telah menghasilkan rumusan rekomendasi kebijakan operasional gerakan massif diversifikasi pangan pada aspek kebijakan ketersediaan bahan pangan, akses pangan dan konsumsi dengan target untuk mencapai PPH 100. Dukungan teknologi telah memadai sehingga diharapkan kebijakan tersebut

dapat diimplementasikan di lapangan. Dalam operasionalisasinya, kegiatan ini akan melibatkan BPTP dan KRPL merupakan salah satu upaya konkrit untuk meningkatkan PPH tersebut.

BPTP sudah berupaya keras untuk belajar dan melaksanakan kegiatan Model Akselerasi Pembangunan Pertanian Ramah Lingkungan Lestari Spesifik Lokasi. Namun demikian, capaian (tahapan dan kinerja hasil) kegiatan masih beragam. Hal ini disebabkan antara lain oleh: a) Pemahaman BPTP terhadap kegiatan m-AP2RL2 masih terfokus pada metode dan software dinamika sistem belum sampai pada pembelajaran berpikir sistem (system thinking), b) Variasi penguasaan pelaksana kegiatan terhadap metode dinamika sistem masih sangat tinggi, dengan kecenderungan rendah sampai sedang, c) Alokasi anggaran dari Badan Litbang Pertanian untuk kegiatan m-AP2RL2 belum seluruhnya dapat dimanfaatkan oleh BPTP, d) Pilihan komoditas untuk kegiatan m-AP2RL2 terfokus pada komoditas tanaman pangan, khususnya padi, dan e) Keberlanjutan kegiatan m-AP2RL2 tahun 2013 belum dirumuskan dengan baik pada usulan kegiatan 2014.

Upaya peningkatan kinerja pelaksanaan kegiatan m-AP2RL2 dapat dilakukan melalui: a) Peningkatan pemahaman kegiatan m-AP2RL2, b) Peningkatan kemampuan SDM BPTP dalam memahami dan mengoperasionalkan metode dinamika sistem, dan c) Penyusunan panduan pelaksanaan kegiatan m-AP2RL2 agar tahapan pelaksanaan lebih terstruktur dan tujuan akhir yang hendak dicapai lebih jelas.

KRPL telah direplikasi oleh Badan Ketahanan Pangan di 5.000 desa pada tahun 2013, dengan model berbasis kelompok wanita tani minimal 30 rumah tangga petani, dilengkapi dengan kebun sekolah dan kebun bibit desa serta diikuti dengan pendampingan. Hingga Agustus 2013, program tersebut telah terrealisasi 70%, dan salah satu permasalahan yang dihadapi adalah kesulitan penyediaan benih/bibit. Kegiatan ini sangat in-line dengan program Badan Litbang Pertanian karena kegiatan BPTP tahun 2014 lebih difokuskan pada kegiatan pendampingan, termasuk pendampingan KRPL-BKP. Kegiatan ini juga

in-line dengan program gerakan massif diversifikasi pangan dan program penyediaan bibit dari Puslitbanghorti. Oleh karena itu, diharapkan dalam waktu dekat ini segera dilakukan koordinasi antara Badan Litbang Pertanian (BB Pengkajian, Puslitbanghorti, BB Pasca Panen)-Badan Ketahanan Pangan-Badan

Percepatan dan perluasan m-KRPL melalui replikasi KRPL oleh Badan Ketahanan Pangan akan terus dilakukan melalui penambahan 5.000 desa pada TA 2014. Untuk mendukung replikasi tersebut, BPTP diharapkan dapat: a) Melakukan koordinasi bersama BKP Provinsi & stakeholders, b) Membuat matriks/rencana kerja (Kegiatan sosialisasi/Apresiasi/TOT, c) Memilih komoditas (spesifik lokasi), d) Menyiapkan benih/bibit di KBI untuk kebutuhan replikasi, sekaligus mempercepat pengembangan varietas unggul yang dihasilkan Badan Litbang Pertanian, e) Menjadikan seluruh m-KRPL sebagai lokasi contoh (center of excelent) bagi replikasi KRPL oleh stakeholders, dan f) Merperbaiki pilar keberlanjutan. Sebagai sarana untuk penyebarluasan KRPL dalam forum ilmiah, diharapkan seluruh BPTP dapat membuat Karya Tulis Ilmiah (KTI) yang terkait dengan KRPL.

Identifikasi titik ungkit keberlanjutan KRPL masih beragam, antara lain: a) Peran (partisipasi) masyakat dan tokoh masyarakat, b) Ketepatan dalam pemilihan lokasi dan komoditas sesuai kondisi spesifik dan kebutuhan masyarakat termasuk mengembangkan komoditas pangan lokal, c) Ketersediaan benih melalui pengelolaan KBD yang baik termasuk pemilihan pengelola KBD, d) Ketersediaan infrastruktur yang memadai, e) Dukungan pemerintah daerah, f) Kelembagaan usaha dan pasar, g) Rotasi komoditas, dan h) Networking lintas kelembagaan. Untuk itu, titik ungkit tersebut akan menjadi prioritas dalam kegiatan upgrading TA.2014.

Pemetaan (mapping) perkembangan m-KRPL dengan menetapkan cluster (1, 2, 3) akan segera dilakukan oleh seluruh BPTP dalam jangka waktu 3 minggu. Kriteria penilaian akan dibuat oleh Tim Teknis Posko Penggerak dan Pengelola KRPL, termasuk tindak lanjut hasil pemetaan. Dari sisi manajemen, Kebun Bibit Desa (KBD) dapat dikategorikan baik apabila mampu memenuhi kebutuhan bibit dalam KRPL, kemudian secara bertahap dapat melayani permintaan bibit dari luar kawasan, serta mampu membiayai operasionalisasi KBD secara mandiri. Selain itu KBD dapat dimanfaatkan sebagai wahana pengembangan varietas unggul baru (VUB) maupun varietas unggul lokal (VUL) spesifik, baik tanaman maupun ternak yang dihasilkan oleh Badan Litbang Pertanian.

Terkait dengan sistem penyaluran benih di lokasi KRPL, perlu diperhatikan beberapa hal sebagai berikut: a) Membuat kesepakatan sistem produksi dan distribusi benih/bibit dengan warga komunitas KRPL, b) Membuat perencanaan kebutuhan benih/bibit (tanaman dan ternak) dalam satu kawasan

dengan jangka waktu per satu tahun menggunakan “Kalender Rotasi Tanam Komoditas KRPL, c) Melaksanakan manajemen produksi sesuai dengan macam benih/bibit yang diproduksi, d) Melakukan koordinasi dengan pengelolaan KRPL secara regular, e) Membuat laporan pembukuan dan perkembangan produksi dan distribusi benih/bibit, dan f) Membangun kemitraan pelaku bisnis benih/bibit. Sedangkan penguatan Kebun Bibit Induk (KBI) dapat dilakukan melalui: a) Eksplorasi dan pengembangan berbagai komoditas tanaman pangan lokal melalui seleksi dan uji adaptasi singkat, b) Produksi sendiri benih sayuran yang adaptif dan sesuai dengan selera masyarakat setempat, c) Penyusunan database komoditas yang dikembangkan KRPL, dan (d) Pembangunan sistem penyaluran benih dari KBI ke KBD/KBK.

Untuk beberapa lokasi KRPL yang mengalami stagnasi hendaknya tidak diartikan sebagai kegagalan, karena stagnasi tersebut lebih disebabkan oleh adanya perubahan strategi diseminasi yang memberikan penekanan yang lebih besar pada pangan sehat, atau pangan beragam bergizi seimbang dan aman (B2SA).

Terkait dengan kegiatan perbenihan, kapasitas dan kinerja UPBS BPTP antara lain sangat ditentukan oleh ketersediaan dan kualitas sumberdaya perbenihan (SDM, sarana/prasarana, anggaran) dan kondisi tersebut masih beragam di setiap BPTP sehingga perlu dipetakan. Definisi dan prasyarat UPBS “high profile” telah dirumuskan, dan masing-masing BPTP diharapkan meningkatkan kapasitas dan kenerja UPBS-nya menuju UPBS high profile. Strategi yang perlu dilakukan untuk menuju UPBS high profile antara lain: a) Memperkuat jumlah dam kapasitas SDM, b) Memperkuat kelembagaan, c) Melengkapi sarana/prasarana, d) Memperluas jaringan kerjasama/kemitraan perbenihan dengan stakeholders hulu dan hilir, e) Menyediakan anggaran yang memadai, dan f) Menerapkan reward and punishment yang jelas. Salah satu syarat penting UPBS high profile yang perlu segera diupayakan adalah produksi benih dengan menerapkan sistem manajemen mutu (SMM), sehingga upaya ke arah tersebut perlu segera dilakukan. Permasalahan yang dominan pada UPBS

Dokumen terkait