BAB II PENERAPAN PRINSIP AL-MUZARA’AH DAN AL-
D. Perjanjian Bagi Hasil Pertanian Pada Masyarakat di
Al-Mukhabarah dalam Perjanjian Islam.
1. Prinsip Al-Muzara’ah dan Al-Mukhabarah
Bentuk perjanjian ini dapat dikatakan berlaku diseluruh Indonesia dengan istilah adat setempat seperti maro (Jawa), nengah (Priangan), tesang (Sulawesi), toyo (Minahasa), perduwa (Sumatera). Sebagai latar belakang terjadinya perjanjian bagi hasil antara lain karena:89
a. Bagi Pemilik Tanah.
88Ibid., hal. 17.
89Hilman Hadikusuma, Hukum Perjanjian Adat, Penerbit Alumni, Bandung, 1979, hal. 154.
1) Mempuyai tanah tidak mampu atau tidak berkesempatan untuk mengerjakan tanah sendiri.
2) Keinginan mendapatkan hasil tanpa susah payah dengan memberi kesempatan pada orang lain mengerjakan tanah miliknya.
b. Bagi Penggarap
1) Tidak/belum mempuyai tanah garapan dan atau tidak mempuyai pekerjaan tetap.
2) Kelebihan waktu bekerja karena milik tanah terbatas luasnya, tanah sendiri tidak cukup.
3) Keinginan mendapatkan tambahan hasil garapan.
Hubungan hukum antara pemilik tanah dan penggarap berlaku atas dasar rasa kekeluargaan dan tolong menolong dan sebagai azas umum didalam adat apabila seseorang menanami tanah orang lain dengan persetujuan atau tanpa persetujuan berkewajiban menyerahkan sebagian hasil tanah itu kepada pemilik tanah.90
Dari analisa di atas di Kecamatan Semadam Kabupaten Aceh Tenggara dikenal dengan istilah perjanjian bagi hasil pertanian dengan nama perparah91, sewa gantung dan sewa diakhir yang prakteknya termasuk juga
90Ibid., hal. 155.
91Perparah bahasa dari Suku Alas yang mendiami sebagian besar daerah Aceh Tenggara arti nya bagi hasil dalam pertanian wawancara dengan Zulkarnaen (Tokoh Masyarakat) Kecamatan Semadam, Jum’at 17 April 2015.
beberapa prinsip dalam muamalah. Prinsip yang dipakai masyarakat Semadam adalah prinsip keiklasan, prinsip persaudaran dan prinsip amanah.
Prinsip ini dan praktek hampir sama dengan Muzara’ah dan Al-Mukhabarah dalam pembagian pendapatan dari hasil kerjasama lahan pertanian Al-Muzara’ah dan Al-Mukhabarah antara pemilik bisa disepakati dengan setengah (50 % untuk pemilik tanah 50% untuk petani penggarap), sepertiga (satu untuk pemilik tanah dan tiga untuk penggarap) atau seperempat (satu untuk pemilik tanah, dan empat untuk penggarap) atau juga bisa kurang atau bisa lebih dari itu, tergantung dari kesepakatan kedua belah pihak.
Hasil dari wawancara dengan Camat Semadam, Kecamatan Semadam Kabupaten Aceh Tenggara, Provinsi Aceh. Terdiri dari 19 (sembilan belas) Desa (Kute) dengan 3 (Tiga) Kemukiman92( Simpang Semadam, Salman dan Istiqamah);
a) Pertama Kemukiman93Simpang Semadam terdiri dari 7 Tujuh Desa/kute (Suka Makmur, Lawe Beringin Gayo, Semadam Awal, Semadam Asal, Lawe Mejile, Lawe Beringin Horas, Simpang Semadam),
b) Kedua kemukiman Salman 6 (Enam) Desa (Petanduk Petanduk, Lawe Petanduk Satu, Kebun Serai, Kampung Baru, Titi Pasir, Pasar Puntung )
92Hasil wawancara dengan H. Abdul Kaharuddin S.Sos Camat Semadam, Jumat 17 April 2015.
93Kemukiman membawahi beberapa Desa (Kute) yang dikepalai seorang kepala Mukim Wawancara dengan Zulkarnaen (Tokoh Masyarakat) Kecamatan Semadam, Jum’at 17 April 2015
c) Ketiga Kemukiman Istiqamah (6 Desa) Istiqamah (Lawe Kinga Lafter, Lawe Kinga Gabungan, Lawe Tebing Tinggi, Selamat Indah, Sepakat Segenap, Keran Alur Buluh)
Kemukiman Istiqamah merupakan kemukiman paling luas lahan pertaniannya (sawah dan jagung) disusul Kemukiman Salman dan Kemukiman Istiqamah. Dari 19 (Sembilan Belas) Desa 13 (Tiga Belas) Desa masyarakatnya Muslim, 5 (lima) Desa Non-Mulim, dan 1 (satu) Desa Warga Muslim dan Non-Muslim bergabung dalam satu desa.94
Praktek Al-Muzara’ah dan Al-Mukhabarah mengacu pada prinsip prinsip and loss sharing system, dimana hasil akhir menjadi patokan dalam praktek Al-Muzara’ah dan Al-Mukhabarah. Jika, hasil pertaniannya mengalami keuntungan, maka keuntungan dibagi anatar kedua belah pihak, yaitu petani dan pemilik sawah dan petani penggarap. Begitu pula sebaliknya, jika hasil pertaniannya mengalami kerugian, maka kerugiannya ditangggung bersama.
Dalam prakteknya, Al-Muzara’ah dan Al-Mukhabarah sudah menjadi tradisi masyarakat petani pedesaan.95
Khususnya di tanah jawa, praktek ini biasa disebut dengan Maro, Mertelu dan Mrapat. Maro dapat dipahami keuntungan yang dibagi separo-separo (1/2:1/2), artinya separo untuk pemilik sawah dan separo untuk petani penggarap. Jika mengambil perhitungan mertelu, berarti nisbah bagi hasilnya
94Wawancara dengan Camat Semadam H Abdul Kaharuddin S.Sos, Jumat 17 April 2015.
95Hendi Suhendi, Fiqih Muamalah, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2010, hal. 211.
adalah 1/3 dan 2/3. Bisa jadi 1/3 untuk petani pemilik sawah dan 2/3 untuk petani penggarap, atau sebalinya sesuai, dengan kesepakatan antara keduanya.96 Berikut hasil penelitian wawancara kepada responden dan informan, baik yang Muslim dan Non Muslim di Kecamatan Semadam Kabupaten Aceh Tenggara.
Berikut Desa/Kute yang di lakukan penelitian yang surat Izin penelitian dari Kampus Universitas Sumatera Utara (USU) Fakultas Hukum Program Study Kenotariatan Nomor : 319/UN5.2.1/KRK/2015 tanggal 31 Maret 2015 Pengaruh Prinsip Al-Muzara’ah dan Al-Mukabarrah Terhadap Perjanjian Bagi Hasil Pertanian, dengan surat penelitian di Kecamatan Semadam dengan Nomor : 400/225.97
c. Desa/ Kute98Lawe Beringin Gayo d. Desa/ Kute Lawe Mejile
e. Desa/ Kute Semadam Awal f. Desa/ Kute Titi Pasir g. Desa/ Kute Titi Pasir h. Desa/ Kute Suka Makmur i. Desa/ Kute Pasar Puntung
j. Desa/ Kute Lawe Kingga Tebing Tinggi
96Ibid.,
97Surat bisa dilihat pada lampiran tesis penelitian.
98Kute nama lain dari Desa Wawancara dengan Camat Semadam H Abdul Kaharuddin S.Sos, Jumat 17 April 2015.
k. Desa/ Kute Lawe Kingga Lapter
Berdasarkan penelitian dari wawancara dengan responden Al-Muzara’ah yakni dimana pemilik tanah menyerahkan tanahnya sekaligus bibit kepada petani penggarap tanah ;
Berikut Tabel 01
Nama
Al-Muzara’ah
Muslim Non-Muslim
Pemilik Tanah 3 Orang
-Pengarap Tanah 3 Orang
-Berdasarkan penelitian diatas dari wawancara dengan responden Al-Mukabaraah yakni dimana pemilik tanah menyewakan tanahnya (menyerahkan tanahnya) kepada penggarap tanah (petani) yang bibitnya berasal dari petani penggarap;
Berikut Tabel 02
Nama
Al-Mukabaraah
Muslim Non-Muslim
Pemilik Tanah 3 Orang 3 Orang
Pengarap Tanah 5 Orang 1 Orang
Dari hasil wawancara dengan Penghulu99 Desa Lawe Kingga Tebing Tinggi, Penghulu Hajidin yang juga pemilik lahan, melakukan perjanjian bagi hasil pertanian (lahan jagung) kepada Amran (Petani). Dalam melakukan perjanjian bagi hasil secara lisan kepada Amran (Petani Penggarap), dalam hal ini Penghulu Hajidin menyerahkan tanahnya, memberikan bibit dan upah pembersihan lahan sekitar 1 Ha. Dengan perjanjian musyawarah/mufakat ketika panen nanti, mengembalikan modal sesuai catatan awal. Setelah modal dikembalikan dari hasil menanam jagung, didapat keuntungan di bagi setengah antara Penghulu Hajidin (Pemilik Tanah/ Al-Muzara’ah) dengan Amran (Petani Penggarap).100
Dari hasil wawancara dengan Penghulu Harta Tarigan101 Desa Lawe Kinga Lafter yang juga pemilik lahan (Sawah), melakukan perjanjian bagi hasil pertanian dengan seorang Muslim bernama Sarah Selian (Petani Penggarap). Penghulu Harta Tarigan menyerahkan tanahnya pada Sarah Selian (Petani Penggarap) dengan bibit padi dan ongkos tanam dari Sarah sebagai Petani penggarap samahalnya seperti Al-Mukhabarah. Melakukan perjanjian bagi hasil secara musyawarah setelah hasil panen di dapat, ini dilakukan karena kondisi tanah persawahan rawan akan terjadinya banjir.
99Penghulu adalah nama lain dari Kepala Desa Wawancara dengan Camat Semadam H Abdul Kaharuddin S.Sos, Jumat 17 April 2015.
100Wawancara Responden dengan Penghulu Hajidin Desa Lawe Kingga Tebing Tinggi (Pemilik Lahan), Senin tanggal 20 April 2015.
101Penghulu Harta Tarigan (Perempuan beragama Kristen Katolik berumur 51 Tahun).
Pada kebiasaannya yang menggarap tanah sawah tadi menyerahkan 2 (dua) Parah102 untuk ¼ Ha (0,25 Ha tanah lahan sawah) jika 1 (satu) Ha Sawah, berarti diserahkan sebanyak 8 parah padi sebagai ongkos sewa kepada pemilik lahan sawah.103
Dari hasil wawancara dengan Batu Tarigan104 (Pemilik Lahan) Lawe Beringin Gayo melakukan perjanjian bagi hasil dengan petani (penggarap), memberikan bibitnya kepada panggarap dengan penghitungan bagi hasil setelah panen, kadang kalanya memberikan uang makan selama pengerjaan lahan pertanian (sawah), nantinya juga akan dipotong dari hasil perjanjian.
Hal ini sudah dilakukan antara Batu Tarigan dengan Petani Penggarap yang mengelola lahan pertanian berupa sawah. Dalam hal ini Batu Tarigan sudah melakukan kebiasaan bagi hasil pertanian selama 20 Tahun dengan masyarakat petani (penggarap) di Kecamatan Semadam dan sekitarnya baik dengan Muslim dan Non Muslim.105
Dari hasil wawancara dengan Ibrahim petani (penggarap) Lawe Beringin Gayo, melakukan perjanjian bagi hasil pertanian dengan Batu Tarigan (Pemilik Lahan). Dalam hal ini sudah melakukan perjanjian bagi hasil pertanian selama 20 Tahun, dengan tanah dan bibit dari pemilik tanah,
1022 Parah= 360 k/g jika diangkakan dalam Rupiah sebesar Rp. 1.600.000,00.
103Wawancara Responden dengan Penghulu Harta Tarigan Desa Lawe Kinga Lafter (Pemilik Lahan), Minggu 20 April 2015.
104Mempuyai Kilang Padi Besar dan Mempuyai Sawah di Kecamatan Semadam sebayak 20 Ha
105Wawancara Responden dengan Batu Tarigan (Pemilik Lahan) Lawe Beringin Gayo, Minggu 19 April 2015.
diberikan bantuan pupuk nantinya akan dipotong dari hasil panen padi dengan perjanjian bagi hasil pertanian (sawah) 45 % hasil untuk pemilik lahan dan 55 % untuk petani (penggarap), setelah panen padinya. Dalam kebiasaan perjanjain antara Ibrahim (Petani) dengan Batu Tarigan (pemilik lahan) dibawa ke kilang padi untuk diolah untuk dijadikan beras.106
Dari hasil wawancara dengan Muhammad Ali (60 Tahun) pemilik tanah di Desa (Kute) Suka Makmur melakukan perjanjian bagi hasil dengan petani Mahdan (53 Tahun) dengan tanah dan bibit dan sarana alat produksi dari Muhammad Ali sebagai pemilik tanah (jagung), dalam hal ini melakukan perjanjian bagi hasil dengan Mahdan dengan musyawarah mufakat dengan perjanjian bagi hasil 60% untuk penggarap dan 40 % untuk pemilik lahan dipotong juga sarana produksi alat pertanian sesuai kesepakatan diawal tadi.107 Dari hasil wawancara dengan Tana Silaen108Pemilik Tanah di Desa/Kute Titi Pasir, melakukan perjanjian bagi hasil pertanian dengan para petani (penggarap) dengan sistem sewa dengan pembayaran diahir, Tana Silaen mempuyai lahan pertanian (sawah dan jagung) sekitar 30 Ha di Kecamatan Semadan dan sekitarnya. Dalam hal ini lahan paling banyak adalah sawah, dalam kebiasaan Tana Silaen menyewakan dengan hasil dari sawah yaitu
106Wawancara Responden dengan Ibrahim (Petani) Lawe Beringin Gayo, Selasa 21 April 2015.
107Wawancara dengan Muhammad Ali (Pemilik Tanah) di Desa/kute Suka Makmur, Rabu 22 April 2015.
108Non Muslim Kristen.
berupa padi dengan dibawak ke kilang padi, dalam hal ini padi yang dihasilkan petani di potong 2 parah setiap ¼ yang mereka sewa dan 8 parah jika disewa dalam 1 Ha Sawah.109
Dari hasil wawancara dengan Win Miko (petani/penggarap) yang mengggarap tanah persawahan Tana Silaen di Desa Titi Pasir sudah melakukan cukup lama, melakukan perjanjian bagi hasil pertanian (sawah) sudah bertahun-tahun, dengan bibit pertanian termasuk juga peralatan sarana produkis pertanian di sediakan Win Miko. Perhitungan nanti dilakukan ketika panen usai. Hasil panen berupa padi biasanya dibawak langsung ke kilang padi Tana Silaen. Perjanjian bagi hasil berupa tanah yang diberikan. Pada kebiasaan di lakukan secara musyawarah mufakat adalah 45 % untuk petani (penggarap) dan 55 % untuk pemilik tanah kadang halnya juga 55% petani (penggarap) untuk dan 45% untk pemilik tanah tergantung hasil yang di dapat dari hasil panen.110
2. Pengaruh Al-Muzara’ah dan Al-Mukhabarah dalam Masyarakat
Dari hasil wawancara dengan Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU)111 Kabupaten Aceh Tenggara Ustad Ali Imran Lc bahwa masyarakat Kabupaten Aceh Tenggara khususnya di Kecamatan Semadam tidak mengenal yang
109Wawancara Informan Tana Silaen (Pemilik Tanah/Kilang) Desa/Kute Titi Pasir tanggal 21 April 2015.
110Wawancara dengan Win Miko (Petani) kute (Desa) Titi Pasir, Senin 20 April 2015.
111Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) adalah nama lain dari Majelis Ulama Indonesia (MUI).
namanya Al-Muzara’ah dan Al-Mukhabarah, akan tetapi sesungguhnya masyarakat telah mempraktekan prinsip muamalah dari Al-Muzara’ah dan Al-Mukhabarah. Ini beberapa faktor dan sebab diantaranya masyarakat tidak mengenal Al-Muzara’ah dan Al-Mukhabarah:112
a. Faktor Kurangnya ilmu yang dimiliki oleh Masyarakat Semadam.
b. Tidak ada Sosialisasi oleh para Muballig/Ustad dan Juga Pemerintah.
c. Lebih kentalnya Adat setempat tentang bagi hasil pertanian yang sudah hidup secara turun temurun, pada dasaranya prinsip muamalah dan adat setempat dalam bagi hasil pertanian dalam hal ini tentang Muzara’ah dan Al-Mukhabarah tidak ada yang bertentangan.
Dari hasil wawancara dengan Ketua Balai Informasi Penyuluhan Pertanian (BIPP) Kecamatan Semadam Kabupaten Aceh Tenggara, bahwa masyarakat tidak mengenal secara istilah Al-Muzara’ah dan Al-Mukhabarah dalam pola perjanjian bagi hasil pertanian baik itu sawah, jagung, coklat dll. Masyarakat di Kecamatan Semadam ini lebih memakai sistem bagi hasil yang sudah berlaku turun termurun sesuai kebiasaan yang ada. Perjanjian bagi hasil ini banyak dilakukan secara lisan dan musyawarah anatara pemilik tanah dan petani penggarap, tapi sebetulnya pengaruh prinsip Al-Muzara’ah dan Al-Mukhabarah hampir sama dengan adat kebiasaan perjanjian bagi hasil di tengah masyarakat di Kecamatan Semadam ini113
112Wawancara Informan dengan Wakil Ketua Mejelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh Tenggara Ustad Ali Imran Lc tanggal, Sabtu 18 April 2015.
113Wawancara Informan dengan Bunyamin S.P Kepala Balai Informasi Penyuluhan Pertanian (BIPP) Kecamatan Semadam, Senin 20 April 2015.
Dari hasil wawancara dengan Haddin Sekedang (Pemilik Tanah), Kemukiman Semadam Desa Semadam Awal, melakukan perjanjian bagi hasil pertanian sawah dengan Satuddin (44 Tahun). Dalam hal ini melakukan perjanjian bagi hasil dengan sistem sewa kontan,114yaitu berupa pembayaran diawal, setelah itu terlaksana maka diserahkan sawah kepada yang bersangkutan untuk digarap. Dalam hali ini melakukan perjanjian bagi hasil dengan mempuyai hubungan darah (famili) untuk menggarap daripada orang lain dikarenakan jika kita kasih kepada orang lain, dikawatirkan unsur tanah pertanian ini akan rusak faktornya karena kurang perawatan. Dalam hal menyewakan karena kesibukan waktu sebagai Pegawai Negri Sipil (PNS).115
Dari hasil wawancara dengan Sarah Selian116 (Petani Penggarap) Umur 40 Tahun, melakukan perjanjian bagi hasil pertanian dengan sewa gantung117 (sewa setelah panen). Sedangkan bibit dan uang garapan dari petani (penggarap). Akan tetapi beberapa kali pemilik tanah memberikan bibit dan karung goni untuk sawah yang akan digarap. Bibit ini didapat dari sisa bantuan dari pemerintah yang didapat pemilik tanah untuk diberikan kepada petani penggarap118. Dalam hal ini tidak mengenal yang namanya Al-Muzara’ah dan Al-Mukhabarah maupun mengenal istilah itu sama sekali. Menurut Sarah Silaen dalam perjanjian bagi hasil ini,
114Pembayaran sewa terhadap tanah yang dilakukan diawal.
115Wawancara Responden dengan Pemilik Tanah Haddin Sekedang, di Kemukiman Semadam Desa Semadam Awal, Usia 55 Tahun, Jumat 17 April 2015.
116Melakukan perjanjian Bagi Hasil Pertanian (sawah) dengan Non Muslim (Harta Tarigan/
Pemilik Tanah) selama 6 Tahun.
117Sewa gantung ini dilakukan pembayaran diakhir setelah panen pada sawah setelah itu melakukan musyawarah mufakat tentang perjanjian bagi hasil dengan pemilik tanah.
118Biasanya pemilik tanah mendapatkan bibit dari bantuan dari Dinas Pertanian setempat yang diberikan kepada para Tokoh Masyarakat yang dipercaya untuk menyalurkan kepada petani di setiap desanya.
merasakan adil, adanya persaudaraan dan tentunya membantu ekonomi keluarga untuk kehidupan sehari-hari.119
Hasil dari wawancara dengan Gilbert Manurung (Penghulu/Pemilik Tanah) Desa/Kute Pasar Puntung melakukan perjanjian bagi hasil dengan Jhon Siagian yang berasal dari penduduk setempat juga dengan sistem bagi hasil dimana Gilbert Maurung memberikan tanahnya kepada Jhon Siagian untuk ditanamin jagung, bibitnya berasal dari Jhon Siagian. Sebelum perjanjian bagi hasil Jhon sudah membayar uang sewa gantung diawal dan akan dibayar nantinya kekurangan diakhir setelah panen jagug berhasil.120
Dari hasil wawancara dari responden/informan dan analisis mendalam kendatipun masyarakat tidak mengetahui yang mereka praktekkan selama ini bernama Al-Muzara’ah dan Al-Mukhabarah. Namun sesungguhnya praktek prinsip Al-Muzara’ah dan Al-Mukhabarah sangat berpengaruh dalam masyarakat Semadam.
Umumnya masyarakat tidak mengenal Al-Muzara’ah dan Al-Mukhabarah kendatipun mereka sudah lama mempraktekan baik antara Muslim dengan Muslim dan Muslim dan Non-Muslim di Kecamatan Semadam Kabupaten Aceh Tenggara.
E. Perbandingan Bagi Hasil Pertanian Al-Muzara’ah dan Al-Mukhabarah dengan Bagi Hasil UU No 2 Tahun 1960.
Perjanjian bagi hasil tanah pertanian merupakan perbuatan hubungan hukum yang diatur dengan alam hukum Islam dan Adat. Perjanjian bagi hasil adalah suatu bentuk perjanjian antara seorang yang berhak atas suatu bidang tanah pertanian dari
119Wawancara Responden dengan Sarah Selian (Petani Penggarap) Umur 40 Tahun, penggarap di Desa Lawe Kinga Lafter, Senin 20 April 2015.
120Wawancara dengan Gilbert Manuruung (Penghulu/Pemilik Tanah) Desa/kute Pasar Puntung, Rabu 23 April 2015.
orang lain yang disebut penggarap, berdasarkan perjanjian mana penggarap diperkenankan mengusahakan tanah yang bersangkutan dengan pembagian hasilnya antara penggarap dan yang berhak atas tanah tersebut menurut imbangan yang telah disetujui bersama.121
Undang-Undang Perjanjian Bagi Hasil ini diundangkan sebelum keluarnya Undang-Undang Pokok Agraria dan perjanjian bagi hasil ini telah berlangsung sejak jaman Pemerintah Hindia Belanda dan hidup ditengah-tengah masyarakat hukum adat tanpa adanya pertikaian oleh karena itu didalam pelaksanaan perjanjian bagi hasil.122
Kedudukan pemilik tanah lebih besar dibandingkan dengan penggarap, kedudukan penggarap dibandingkan pemilik tanah sangat jauh sekali berbeda, karena dilihat dari segi sosialnya, sebab:
a. Tanah sangat terbatas.
b. Banyaknya petani penggarap.
Dalam Undang-Undang Bagi Hasil, hubungan antara penggarap dengan pemilik tanah, diusahakan lebih banyak keuntungan penggarap dibandingkan dengan pemilik tanah namun kenyataannya di masyarakat tidak demikian.123
Sesuai dengan hukumnya yang berlaku sekarang, yang berwenang untuk mengadakan perjanjian bagi hasil itu tidak saja berbatas pada para pemilik dalam arti yang mempunyai tanah, tetapi juga para pemegang gadai penyewa dan lain-lain orang
121Boedi Harsono, Hukum Agraria Indonesia, sejarah Pembentukan Undang-Undang Pokok Agraria, isi dan Pelaksanaan,Jakarta, Djambatan, 2005, hal. 116.
122Affan Mukti, Pokok-Pokok Bahasan Hukum Agraria, Medan, USU PRESS, 2006, hal. 150.
123Ibid.,
yang berdasarkan sesuatu hak menguasai tanah yang bersangkutan. Untuk mempersingkat pemakaian kata-kata maka mereka itu semua dalam Undang-Undang ini disebut pemilik.124
Ketika perbankan syariah mulai tumbuh di Indonesia sistem bagi hasil telah dikenal sebagai salah satu bagian dari sistem ekonomi Islam. Padahal jauh sebelum perbankan syariah diperkenalkan, sistem bagi hasil telah sangat populer dikalangan masyarakat Indonesia. Bahkan sistem bagi hasil dalam hal ini khususnya pada bidang pertanian Al-Muzara’ah dan Al-Mukhabarah telah diterapkan diberbagai daerah di tanah air semenjak zaman penjajahan Belanda. Dengan demikian masyarakat Indonesia secara tidak sadar sebenarnya telah menerapkan salah satu bagian sistem ekonomi Islam yaitu sistem bagi hasil dalam hal ini Muzara’ah dan Al-Mukhabarah.125
Penerapan sistem bagi hasil Al-Muzara’ah dan Al-Mukhabarah ini mendapat dukungan dari pemerintah Indonesia pada waktu itu. Hal ini terlihat dengan diterbitkannya Undang-Undang No 2 Tahun 1960 Tentang Perjanjian Bagi Hasil.
Dasar penetapan Undang-Undang tersebut adalah agar dalam pelaksanaan perjanjian bagi hasil tersebut mengutamakan asas keadilan serta untuk menjamin kedudukan hukum kedua belah pihak yang melakukan perjanjian. Menurut Undang-Undang No 2 Tahun 1960 perjanjian bagi hasil adalah perjanjian dengan nama apapun yang
124Penjelasan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1960 Tentang Perjanjian Bagi Hasil Pasal 1 Huruf b.
125http://pakar-ekonomi.blogspot.com/2015/04/praktik bagi hasil muzaraah pra tahun diakses 29 Juni 2015.
diadakan antara pemilik pada satu pihak dan seseorang atau badan hukum pada lain pihak yang dalam Undang-Undang disebut penggarap berdasarkan perjanjian mana penggarap diperkenannkan oleh pemilik tersebut untuk menyelenggarakan usaha pertanian diatas tanah pemilik, dengan pembagian hasilnya antara kedua belah pihak.126
Dalam hal ini pemerintah telah memfasilitasi pihak-pihak yang tidak memiliki lahan pertanian untuk dapat menggarap/mengelola pertanian pada lahan yang dimilliki pihak lain. Tentu saja hal ini berdampak pada pemanfaatan lahan yang sebelumnya menggangur menjadi lahan produksi serta peningkatan produksi pertanian, yang mana produk pertanian merupakan kebutuhan pokok manusia.
Undang-Undang Perjanjian Bagi Hasil ini juga merupakan salah satu upaya pemenrintah melindungi kaum lemah (buruh pertanian) terhadap kemungkinan eksploitasi yang dilakukan oleh pemilik lahan. Dalam Undang-Undang Perjanjian Bagi Hasil tersebut juga diatur tentang batasan luas bagi penggarap, yakni 3 Hektar.
Hal ini tentu saja dimaksudkan untuk pemerataan agar tidak terjadi ekploitasi oleh salah satu pihak penggarap.127
Sementara aturan yang mengikat khusunya di Indonesia, pada tanggal 7 Januari 1960 telah diudangkan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1960 Tentang Perjanjian Bagi Hasil. Adapun yang menjadi tujuan utama lahirnya Undang-Undang ini sebagaimana dikemukakakn dalam memori penjelasan Undang-Undang ini
126Ibid.,
127Ibid.,
sebagaimana dikemukakan dalam memori penjelasan Undang-Undang itu, khususnya dalam penjelasan umum poin (3) disebutkan:128
“Dalam rangka usaha akan melindungi golongan yang ekonominya lemah terhadap praktek-praktek yang sangat merugikan mereka, dari golongan yang kuat sebagaimana halnya dengan perjanjian bagi hasil yang diuraikan di atas, maka dalam bidang agraria diadakanlah undang-undang ini, yang bertujuan mengatur perjanjian bagi hasil tersebut dengan maksud”:129
1. Agar pembagian hasil tanah antara pemilik dan penggarapnya dilakukan atas dasar yang adil.
2. Dengan menegaskan hak-hak dan kewajiban-kewajiban dari pemilik dan penggarap, agar terjamin pula kedudukan hukum yang layak bagi para penggarap, yang biasanya dalam perjanjian bagi hasil itu berada dalam kedudukan yang tidak kuat, yaitu karena umumnya tanah yang tersedia tidak banyak, sedangkan jumlah orang yang ingin menjadi penggarapnya adalah sangat besar.
3. Dengan terselenggaranya apa yang tersebut pada a dan b di atas, maka akan bertambah bergembiralah para petani penggarap, hal mana akan berpengaruh baik pula pada produksi tanah yang bersangkutan, yang berarti suatu langkah maju dalam melaksanakan program akan melengkapi “sandang pangan” rakyat.
Berdasarkan analisis mendalam diatas tentang perbandingan bagi hasil pertanian Al-Muzara’ah dan Al-Mukhabarah dengan Undang-Undang No 2 Tahun
128Chairuman Pasaribu, Suhrawardi K.Lubis, Perjanjian Dalam Islam, Sinar Grafika, Jakarta,
128Chairuman Pasaribu, Suhrawardi K.Lubis, Perjanjian Dalam Islam, Sinar Grafika, Jakarta,