• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perjanjian-Perjanjian Awal dan Transformasi Etnik Terpendam

Problem Historiografis

Di bagian awal tulisan ini sudah disebutkan problem historiografis mendasar dalam penulisan sejarah Wolio adalah sangat terbatas dan relatifnya bahan-bahan dasar yang ada. Tidak (mungkin saja belum) ditemukan prasasti atau catatan lain yang berasal dari zaman pendirian kerajaan itu, sebagai kesaksian yang menandai tahun pendirian, identitas raja pertamanya menyangkut nama, gelar, maupun asalnya dan juga proses pendiriannya. Bahan- bahan utama yang ada adalah cerita tutur, ingatan turun-temurun dari para orang tua. Mungkin satu-satunya naskah tertua yang menceritakan hal-hal tersebut adalah Hikayat Sipanjonga,31 catatan

dari Saudagar Banjar,32 anonim, sekitar 1267 H (sekitar 1855 M),

ditulis pada zaman Sultan Muhammad Isa (1851–1871).

Betapapun, ingatan dan cerita yang dituturkan turun-temurun tetaplah sesuatu yang penting dan berharga karena ia selalu mengandung kebenaran yang ingin terus-menerus disampaikan, dipertahankan. Hikayat Sipanjonga memberikan informasi penting sekitar skema peristiwa-peristiwa awal mula, nama-nama tokoh, negeri, perkampungan, pembagian peran, dan pengangkatan raja. Informasi-informasi ini padat, sepertinya berlapis-lapis, dan karena diangkat dari naskah lama yang ditransliterasi, memang sangat memungkinkan melahirkan tafsiran yang bermacam-macam. Hal lain 31 Naskah ini merupakan koleksi dari keluarga Abdul Mulku Zahari dan diteruskan kepada

anaknya Al-Mujazi, yang termasuk keluarga walaka terkemuka, karena beberapa generasi menduduki jabatan penting di dalam struktur Kesultanan Wolio. Ayah Mulku adalah bontona (menteri) Siompu dan kakeknya adalah bontona Baluwu. Abdul Mulku Zahari sendiri, semasa sultan terakhir Muhammad Falihi menjadi sekretaris pribadi sultan. Mertua Al-Mujazi sendiri adalah bonto ogena i sukaenayo yang juga merupakan anak dari bonto ogena Ma Muhu Abdul Hasan. Versi asli naskah ini berbahasa melayu

dan beraksara Arab, namun kondisinya sudah rapuh. Ada versi kedua yang merupakan transliterasi dari naskah asli, dikerjakan oleh Abdul Mulku Zahari.

32 Pada dasarnya Hikayat Sipanjonga ini pun sebetulnya juga ingatan turun-temurun. Sebagaimana

diceritakan di dalamnya, ketika dalam pelayaran dari Makassar menuju Sumbawa, kapalnya diterjang badai dan jatuh di Pulau Kalautoa (Kadatua?). Setelah 3 hari menanti, datang perahu orang Wajo yang membawanya ke Pulau Butuni. Setelah beberapa waktu tinggal di sana, ia mendengar cerita, “asal-usulnya kejadian orang negeri Butuni dan asal kejadian rajanya”. Tidak dijelaskan siapa yang menceritakan kisah kepada saudagar Banjar tersebut.

yang penting diungkapkan juga, Hikayat Sipanjonga ini juga bukanlah satu-satunya ingatan yang dituturkan. Para penulis Buton juga tidak menjadikannya sebagai satu-satunya rujukan, tapi tampaknya sampai sejauh ini hikayat ini merupakan ingatan yang dituliskan paling “tua” dan memberikan skema kejadian yang lengkap, yang bisa ditelusuri episode per episodenya. Di berbagai wilayah di Buton juga muncul cerita-cerita lisan, berkaitan dengan peristiwa lokalnya masing-masing, namun seringkali hanya sepenggal-penggal. Ingatan-ingatan, tuturan- tuturan, dan cerita-cerita setempat tersebut, baik yang ditulis maupun yang tidak, dalam beberapa hal saling melengkapi dan memperkuat, namun dalam beberapa hal lain berbeda dan saling bertentangan. Oleh karena itu, untuk membacanya perlu kita tempatkan di dalam konteks struktural yang lebih besar.

Konteks Struktural Sejarah

Di dalam bab “Arus Pusaran Sejarah” sebelum ini, penulis telah menggambarkan bahwa pada abad ke-14–15 terjadi perubahan- perubahan besar menyangkut perimbangan kekuatan-kekuatan politik di kawasan Sulawesi, dimana dominasi dua kerajaan besar pada “zaman La Galigo” yaitu Wewang Nriwuk di barat dan Tompo’ Tikka di timur telah runtuh, digantikan kerajaan-kerajaan baru Makassar, dengan mulai tampilnya Kerajaan Goa-Tallo pada abad ke-15. Sementara di timur, telah muncul ekspansi Kerajaan Ternate yang telah mengambil alih sebagian besar wilayah kekuasaan Tompo’ Tikka. Sementara itu, Kerajaan Luwu’ sendiri, sebagai satu- satunya Kerajaan Tua yang masih bertahan, mulai digerogoti oleh munculnya kerajaan-kerajaan baru Bugis, seperti Wajo’ dan Bone yang mulai mengembangkan aliansi-aliansi baru dengan kerajaan- kerajaan kecil otonom untuk menantang hegemoni Luwu’.

Akar dari perubahan-perubahan besar itu ada dua sebab (internal dan eksternal) yang saling berkait, yaitu terjadinya arus migrasi penduduk dari wilayah utara ke selatan karena faktor-faktor alami munculnya daerah-daerah, teknologi pertanian dan budaya politik baru. Dan secara eksternal-struktural adalah terjadinya pergeseran arus lalu-lintas perdagangan cengkeh Sumatera–Maluku yang bergeser ke

wilayah perairan selatan, ke wilayah Laut Jawa. Pada abad ke-14 itu

juga, perdagangan Cina Tiongkok dengan Maluku di Laut Sulu dan Laut Sulawesi terhenti karena krisis internal Kerajaan Cina Tiongkok,

yang mengakibatkan kemerosotan besar pangkalan-pangkalan dagang dan kerajaan-kerajaan di sisi utara Sulawesi. Di samping itu, terjadi pula kekacauan di lautan wilayah perairan antara Filipina dan Kalimantan. Sementara itu, pada saat bersamaan di Jawa pada abad ke-14, Kerajaan Majapahit sedang mengalami masa keemasan sejak zaman Prabu Hayam Wuruk dengan Patihnya yang terkenal dengan “Sumpah Palapa”-nya, Gajah Mada. Pusat-pusat perdagangan di sepanjang pantai utara Jawa terus bertumbuh, sehingga kawasan Laut Jawa menjadi pusat lalu-lintas perdagangan yang ramai dan sekaligus aman karena Majapahit—di samping punya armada laut yang kuat sebagai penjaga keamanan—juga berhasil mengembangkan aliansi- aliansi permanen dengan kerajaan-kerajaan Nusantara.

Sipanjonga, Pedagang Pendatang

Dalam konteks struktural di atas, maka menjadi menarik memperhatikan bahwa Hikayat Sipanjonga dan juga tradisi lisan di Buton saling memperkuat, mengawali kisah berdirinya Kerajaan Wolio ini dengan peristiwa “kedatangan Sipanjonga”. Dengan kata lain, Sipanjonga adalah seorang pendatang, seorang imigran. Siapakah Sipanjonga, dari mana asalnya dan kenapa dia bermigrasi?

Hikayat Sipanjonga mendeskripsikan Sipanjonga sebagai “seorang raja dari pulau Liyaa di tanah Melayu”, yang “terlalu hartawan dan dermawan dan berapa banyak kaum keluarganya dan hamba sahayanya”. Pada suatu malam, Sipanjonga tidur di dalam peraduannya, bermimpi bertemu dengan seorang tua yang berkata,

“hee cucuku, apa juga sudahnya cucuku tinggal di dalam pulau ini, lebih baik engkau mencari lain tempat yang lebih baik dari pulau ini, karena pulau ini bukan cucuku yang menjapang tiada”. Maka Sipanjonga berkata “hee nenekku, bagaimana halku pergi mencari lain tempat daripada pulau ini”. Maka kata orang tua itu, “cucuku perbuat kayu yang di ujung pulau itu perahu supaya boleh cucuku pergi sekalian dengan segala keluarganya cucuku.”33

Walaupun di atas disebut sebagai raja yang kaya dan dermawan, namun tidak bisa disangkal bahwa suasana yang melingkupinya adalah kesedihan, ketidakbermaknaan. Perintah orang tua di dalam mimpi itu, mengandung arti bahwa kepergiannya itu bukan dari kehendak pribadi, melainkan keterpaksaan. Dia—mau tidak mau—mesti pergi dari pulau itu mencari tempat lain yang lebih baik. Artinya, tempat yang sekarang ditempati sudah tidak baik lagi. Akan tetapi, dia belum tahu ke mana tujuannya.

Syahdan, ketika kapalnya yang bernama “Palulang” pergi berlayar, setelah sehari semalam berlayar, di tengah laut diserang badai hingga terdampar di pulau “Malalang”, selama tujuh hari tujuh malam. Sampai pada suatu malam:

“Maka Sipanjonga seorang dirinya tiada tidur duduk menghadap matahari bersandar-sandar dirinya pada himat itu dengan duka citanya melihat bulan purnama baharulah terbit naik dari tepi langit. Maka dengan takdir Allah Ta-aala kedengaranlah suara tiada diketahui tempat dimana suara itu berkata-kata dengan nyaring suaranya dan fasih lidahnya demikian bunyinya, “Hee Sipanjonga janganlah engkau duka citamu apa pekerjaanmu maka engkau melakukan dirimu seperti demikian itu. Kembalilah engkau ke pilangmu, bukan engkau tempat bagimu pada pulau ini. Hendaklah engkau segera berlayar menuju matahari. Adalah sebuah pulau besar “Butuni” namanya disebut orang. Di sanalah engkau duduk yang sedia insya Allahu Ta- aala. Kemudian hari pula itu dapat menjadi sebuah negeri yang besar- besar beribu-ribu orangnya lagi beroleh “anak-anak” seorang laki-laki dan cucumu maha banyak dan anakmu itupun mendapat seorang “perempuan” di dalam buluh gading yaitu menjadi raja di dalam negeri itu lagi anakmu itu kaya kekal kekayaannya datang kepada anak cucumu dengan berkat orang yang di dapat di dalam buluh itu.” 34

Segera setelah mendengar suara itu dan meyakininya, Sipanjonga segera berangkat lagi dengan perahunya dan besok siangnya dia telah sampai di Pulau Butuni dan mendarat di Pantai Kalampa, disebutkan bahwa wilayah itu kepunyaan Negeri Tobe- Tobe. Sipanjonga kemudian menetap di pulau itu dan membuat kebun. Dalam teks Hikayat Sipanjonga tidak disebutkan siapa nama raja di Negeri Tobe-Tobe dan bagaimana kemudian relasi dan reaksinya dengan kedatangan Sipanjonga. Dalam cerita

tutur yang lain, seperti ditulis oleh Abdul Mulku Zahari, Negeri Tobe-Tobe ternyata merupakan negerinya “para penyadap enau” yang dipimpin oleh ketua komunitasnya Dungkungcangia.35

Dalam bahasa modern, tampaknya Negeri Tobe-Tobe ini adalah penghasil gula dan minuman (koenau). Diceritakan pula dalam tradisi lisan bahwa ketika perkebunan yang dibuka Sipanjonga dan orang kepercayaannya, Sijawangkati, mengganggu dan merusak penyadapan enau miliknya, Dungkungcangia pun marah dan kemudian terjadi perkelahian yang seru. Ketika kemudian tidak ada yang kalah dalam pertarungan itu, maka disepakati perdamaian di antara kedua komunitas itu.36

Kembali ke paparan teks di atas, nampaklah dengan jelas sekarang bahwa Sipanjonga bukanlah “raja” dalam pengertian orang kuat penguasa Dinasti politik yang mengendalikan suatu wilayah dan mempunyai prajurit untuk mempertahankan diri dari serangan musuh atau berekspansi untuk memperluas kedaulatannya. Melainkan seorang dari klan “pedagang” atau “petani kebun menetap” atau mungkin keduanya, yang berpangkalan “di Pulau Liyaa di tanah Melayu”, yang karena mendapat banyak keuntungan lalu menjadi kaya dan punya banyak budak sehingga dapat disebut sebagai “raja”. Namun, kemudian ia berduka-cita karena perkebunan dan perdagangan di wilayahnya sudah tidak punya prospek lagi, sehingga dia terpaksa memutuskan untuk bermigrasi mencari wilayah yang lebih punya prospek dagang. Kini dia telah yakin bahwa ia mesti bermigrasi ke Pulau Butuni, bukan untuk menaklukkan wilayah dan menjadi raja, melainkan mencari perolehan berkah

dari seorang “raja perempuan yang didapat dari dalam buluh”, sehingga dengan berkah tersebut ia dan anak-cucunya bisa mendapat “harta kekayaan yang kekal”.

Demikianlah, Hikayat Sipanjonga memberikan kepada kita suatu “potret” kecil dari suatu bingkai struktur besar “arus pusaran 35 Abdul Mulku Zahari, ibid., hlm. 28. Zahari mengutip keterangan lisan dan buku silsilah

milik La Hude, menteri Siompu, dikatakan bahwa Dungkungcangia itu “asal fari”, orangnya “putih”. Keterangan lisan lain dari La Adi alias Ma Faoka, menteri besar sukanayo, menceritakan kalau

Dungkungcangia berasal dari “Cina”.

sejarah” yang—seperti disinggung di atas—sedang bergeser ke Selatan. Tanah Melayu yang ketika zaman keemasan Kerajaan Sriwijaya pada abad ke-11 dan ke-12 menguasai arus Laut Utara jalur perdagangan lintas Sumatera, Kalimantan, Maluku, Sulu, dan

Cina, maka pada abad ke-13–14 ketika Sriwijaya sudah runtuh dan perdagangan Cina berhenti, Laut Utara kacau, tampillah Majapahit

di Pesisir Utara Pulau Jawa sebelah timur yang berhasil menggeser arus ke arah selatan. Dan dalam konteks itu, orang-orang tahu bahwa Pulau Butuni (Buton) mempunyai nilai sangat strategis karena berada pada jalur lalu-lintas antara “Dunia Maluku” sebagai penghasil utama komoditas pala dan cengkeh dengan pelabuhan- pelabuhan dagang di pesisir utara Jawa. Dan karena itu, Pulau Butuni punya peluang besar dan prospek yang tinggi. Sipanjonga tahu betul tentang hal itu, dan—tentu saja—masih banyak “sipanjong- sipanjonga” lain yang juga berfikir sama. Artinya, Sipanjonga di sini bisa dipahami sebagai sosok manusia yang nyata, namun sekaligus mempunyai nilai simbolik.37

Samalui, Peladang Pribumi

Di atas sudah dikatakan bahwa Naskah Hikayat Sipanjonga

adalah teks yang padat dan berlapis-lapis. Kalau pada pasal pertama di atas menceritakan tentang sosok “pendatang” yang seorang pedagang atau petani menetap, maka pada pasal berikutnya penulis naskah menceritakan tentang sosok “penduduk asli” dan bentuk “dusun”nya. Kita baca dulu teks yang dimaksud:

Alfasal peri pada menyatakan tatkala ceritera suatu lagi dusun. Sebermula dusun itu pun tiadalah tetap ia pada suatu tempat dan peri mengatakan tatkala dusun itu menjadi sebuah negeri yang besar, demikianlah ceritera ini diceriterakan orang yang empunya ceritera ini. Sekali peristiwa ada suatu dusun itu “Mandaika” namanya dan seorang

37 Karena itu mungkin menjadi tidak penting untuk memastikan tentang posisi keberadaan Pulau

Liyaa. Banyak yang berpendapat bahwa itu terdapat di Riau, atau tempat lain Sumatera. Mungkin karena terpaku pada wilayah Melayu, ada yang menyebut itu di Johor. Kami sebetulnya meragukan itu semua, karena Hikayat Sipanjonga menggambarkan bahwa perjalanan dari Pulau Liyaa ke Pulau Butuni itu hanya ditempuh dalam waktu 2 hari 2 malam. Bisa jadi, itu terdapat di Kalimantan Timur atau Tenggara, karena di sana ada Pulau Laut yang ujungnya disebut Tanjung Layar. Atau, bisa jadi itu terdapat di Sulawesi Tengah, karena di sana ada daerah pemukiman yang bernama Lijo. Atau, tempat lainnya karena mungkin saja pengertian Tanah Melayu itu juga adalah pelabuhan dagang milik orang- orang atau Kerajaan Melayu.

menterinya “La Tataa” namanya. Maka pada tahun itu pun berhuma maka dengan takdir Allah Ta-aala huma itu pun tiada berisi dan tiada berdaun dan segala buah-buahan dan tanam-tanaman itupun tiada menjadi. Maka orang pun bersegeralah berangkat hendak berpindah kepada yang lain lalu ia berjalan menuju kesudahan.

Sebermula sampailah kepada suatu bukit “Kapanturi” namanya itu hampirlah pada suatu sungai “Bancuka” namanya sungai itu. Di sanalah ia duduk sekira-kira dua tahun di sana maka berhuma pula pada tanah “Walalogusi” namanya berhuma di sana duduk setahun setahun juga. Maka pada tahun yang kemudian berhuma pula pada tanah “Kaedupa”: lalu “Kabau-bau” sampailah ke sungai Butuni dengan selamanya sedia duduk di sana.

Maka keduanya negeri itu besar kelak maka Sipanjonga dan Samalui mufakatlah hendak berkumpul dirinya seperti adat satu negeri tetapi hukumnya masing-masing kedua kaum itu demikianlah hal keduanya itu.38 Di sini tampak jelas adanya satu model “dusun asli” di Pulau Buton masa itu yang bernama “Mandaika” dipimpin oleh menterinya yang bernama “La Tataa”. Diberitahukan pada awal bahwa pasal ini akan menggambarkan keberadaan dusun yang tidak menetap tetapi selalu berpindah ke berbagai lokasi, mengikuti kebutuhan berkebun atau berladang atau huma yang tergantung pada masa tanam, keadaan cuaca, musim, kesuburan tanah dan faktor alam lainnya yang mempengaruhi hasil ladang mereka. Dan diberitahukan pula, bahwa “dusun” inilah yang nantinya akan berkembang menjadi negeri yang besar. Dengan kata lain, “dusun” model ini merupakan satu modal dasar di atas mana nantinya Kerajaan Wolio akan didirikan.

Menjadi pertanyaan, apakah pemberian nama model hunian masyarakat sejenis itu sebagai “dusun” dan pemimpinnya disebut “menteri”, itu memang berasal dari sumber cerita sendiri yaitu warga lokal ataukah itu merupakan sebutan atau tafsiran dari Si Saudagar Banjar yang menuliskan hikayat ini? Tampaknya itu merupakan ungkapan dari Si Saudagar Banjar sendiri. Mungkin yang lebih tepat kalau kita sebut sebagai satu kelompok dari suatu suku, atau wanua, yang bermata pencaharian sebagai “peladang berpindah”. Kelompok itu dipimpin oleh seseorang yang “terpilih” di antara mereka. Tidak diceritakan di sini berapa jumlah anggota mereka dalam satu

kelompok. Walaupun tidak diungkap juga di dalam naskah, tapi patut diduga bahwa kelompok sejenis ini tentulah banyak terdapat di Pulau Buton masa itu, yang merupakan subkelompok dari cabang suku-suku yang berbeda.

Diceritakan pula kemudian kelompok peladang berpindah ini, setelah mengalami berbagai kegagalan dan berpindah-pindah melewati “Kapanturi” dekat Sungai “Bancuka”, kemudian ke “Walalogusi”, lalu pindah ke “Kaedupa”, hingga akhirnya sampai di Kabau-bau bermukim di dekat Sungai Butuni, “dengan selamanya sedia duduk di sana”. Penulis hikayat rupanya ingin menceritakan pula bahwa kelompok “peladang berpindah” ini pun sedang mengalami semacam kejenuhan. Mungkin karena sering didera kegagalan, atau mereka mulai melihat ada suasana yang berubah dengan mulai ramainya pelabuhan-pelabuhan dengan para pendatang, sehingga mereka tiba-tiba merasa bahwa hidup mereka walaupun terus berpindah tetapi sesungguhnya statis dan monoton. Diam-diam mereka ingin berubah.

Kesepakatan Pribumi dan Pendatang

Dalam suasana batin seperti itulah, maka ketika kelompok yang pimpin oleh Samalui ini (tampaknya penulis hikayat ini menginformasikan nama lain dari La Tataa), bertemu dengan Sipanjonga pun terjadilah semacam “diskusi”, tukar-menukar pengalaman. Mereka sama-sama melihat tanda-tanda perubahan zaman, mereka pun menyepakati suatu kesimpulan bahwa mereka mesti “berkumpul” seperti “adat satu negeri, tetapi hukumnya masing- masing kedua kaum itu”. Dalam bahasa politik modern, kesepakatan mereka ini adalah sebuah kontrak sosial. Di dalam naskah tidak disebutkan apa nama “perkumpulan” ini, tetapi kami menduga inilah yang di dalam tradisi lisan disebut dengan pembentukan “limbo”. Jadi limbo adalah persekutuan dan perjanjian kerjasama dari beberapa wanua, perkampungan atau pemukiman, yang masing-masing memiliki mata pencaharian berbeda. Persekutuan ini bukan peleburan karena masing-masing wanua tetap dengan hukum dan pemimpinnya sendiri. Limbo berbeda dengan suku

yang melekat pada wilayah dan hubungan darah. Tampaknya limbo lebih bersifat pragmatis.

Pembentukan limbo di atas mempertemukan antara satu

wanua dari penduduk pribumi yang bermata pencaharian peladang dengan wanua pendatang yang tampaknya bermata pencaharian pedagang hasil-hasil kebun. Gejala pembentukan aliansi seperti ini, yang juga ditemukan Pelras di Bugis, disebutnya sebagai sesuatu yang “revolusioner”39 karena secara fundamental mengubah pola

hubungan mereka yang “berdarah putih” dengan yang “berdarah merah”. Di dalam zaman La Galigo, digambarkan pembentukan kerajaan bersifat top down, dimana dewata dari langit, turun ke bumi menjadi bangsawan berdarah putih, lalu membangun sebuah monarki yang absolut. Sementara gejala yang ditemukan di dalam kronik-kronik, seperti Hikayat Sipanjonga ini, justru menggambarkan suatu inisiatif dari bawah, bottom up dimana orang- orang atau kelompok-kelompok masyarakat biasa yang “berdarah merah” berinisiatif membangun persekutuan dan kerjasama dalam rangka pengaturan dan keamanan bersama, guna memperbesar kapasitas dan sumberdaya.40 Belum ada raja di dalam limbo ini,

namun di dalam tradisi lisan disebutkan dipimpin oleh seorang

bonto. Menurut Pelras, munculnya inovasi-inovasi sosial-politik baru tersebut adalah berkaitan dengan perubahan konteks ekonomi yang baru pula, dan diperkirakan terjadi pada abad ke-14.41

Visi dan Misi Bitaumbara

Kembali ke Naskah. Beberapa waktu kemudian, Sipanjonga menikahi adik Simalui42 yang bernama “Sabanang”, dan setelah

beberapa waktu Sabanang melahirkan seorang anak laki-laki yang

39 Pelras, op cit., hlm. 198

40 Pelras mengutip penelitian seorang ahli tentang struktur Kerajaan Wajo dan menemukan pola

aliansi antar wanua seperti ini, dan di Wajo aliansi ini disebut dengan “limpo”. Pelras, op cit., hlm. 200

41 Ibid.

42 Penting diperhatikan, bahwa fakta Sipanjonga menikahi adik Samalui bisa juga mempunyai

makna simbolik. Dalam konteks “perjanjian kerjasama” antar wanua masa itu, posisi kakak-adik itu, mengandung makna bahwa Sipanjonga sebagai pendatang status “politik”nya lebih muda daripada Samalui yang pribumi.

diberi nama “Bitaumbara”.43 Bitaumbara tampaknya mewarisi

karakter-karakter positif dari kedua orangtuanya. Dari bapaknya dia mewarisi suatu visi, integritas pribadi, dan kemampuan diplomasi. Sementara dari ibunya yang pribumi, dia mewarisi sikap pengembara, pengenalan terhadap lingkungan dan keberanian.

Setelah besar, berusia 18 tahun, Bitaumbara mendengar kecantikan putri Raja Kamaru dan jatuh cinta, maka ia pun pamit kepada orangtuanya untuk mengembara, “pergi bermain-main kepada negeri karena hendak melihat kekayaan Allah subhanahu wa ta-aala”.44 Banyak penulis Buton menafsirkan kepergian ini sebagai

diplomasi politik dengan strategi perkawinan. Kami mempunyai penafsiran lain, menggarisbawahi kata-kata pamit Bitaumbara yang “hendak melihat kekayaan Allah” di atas, maka kepergian Bitaumbara ke Negeri Kamaru ini adalah dalam rangka misi perdagangan, mengembangkan jaringan dan aliansi dagang, yang kemudian memang punya implikasi politik yang besar. Sebagaimana tertulis di dalam buku-buku sejarah dan juga tradisi lisan, pada waktu itu Negeri Kamaru, dibandingkan dengan wilayah-wilayah lain di Pulau Buton, adalah negeri perdagangan yang besar dan kosmopolitan. Hal ini dikarenakan negeri itu memiliki pelabuhan yang strategis, menjadi tempat persinggahan para pedagang dari berbagai bangsa