BAB III. REPRESENTASI PERJUANGAN KELAS
C. Perjuangan Massa Partai: Kisah-kisah Propaganda
Atas kesadaran bahwa kesusasteraan merupakan sebuah alat perjuangan
kelas, PKI menjadikannya bagian yang penting. Sastra dianggap mampu
memobilisasi massa karena sebagai jenis khusus produksi di mana wacana
ideologis—digambarkan sebagai sistem yang merupakan representasi mental pengalaman hidup—menjadi wacana sastra secara khusus. Hal ini dikatakan oleh kritikus Marxisme asal Inggris, Terry Eagleton. Ia berusaha mengekspos ideologis
teks motivasi dan untuk menerapkan kritik sastra ke arah politik yang diinginkan.
Tidak hanya melihat teks sebagai produk dari kesadaran individu, kritikus Marxis
menganggap sebuah karya sebagai produk dari sebuah ideologi khusus untuk
periode sejarah tertentu. Seperti pada gambaran dasar dari tindakan sosial dan
lembaga-lembaga dan pada representasi perjuangan kelas.42
Sebagai alat perjuangan, sastra musti dekat dengan objeknya (rakyat).
Sebab itulah bahasa yang digunakan relatif verbal dan mudah ditangkap. Selain
itu, metode penulisan dengan sistem riset turun ke bawah dikenal ampuh karena
langsung bersentuhan dengan objek dan dikembalikan lagi kepada objeknya.
Dengan demikian, pengarang dapat menggiring kesadaran objeknya kepada titik
yang diinginkan.
42
Lihat Terry Eagleton dalam Marxisme dan Kritik Sastra. Diterbitkan oleh Penerbit Sumbu Yogyakarta. 2002: 10. Diterjemahkan oleh Roza Muliati dkk.
Cerpen-cerpen yang masuk dalam kategori partai merupakan cerpen yang
menjadi propaganda agar rakyat memiliki kesadaran revolusioner dan bergabung
bersama PKI. Tujuan paling pokok dari cerpen-cerpen ini adalah untuk
memberikan pengertian tentang perjuangan kepada para ahli waris partai, kader
partai. Untuk itu, tugas sastrawan dan seniman adalah membuat karya yang dapat
dengan mudah dipahami oleh kader partai, mengingat bahwa sastrawan dan
seniman adalah ―juru bicara massa melewati bahasa artistik hendak
menyampaikan suatu konsepsi, suatu ekspresi, pemikiran dalam pembayangan
artistik dari massa kepada massa.‖43
Dengan demikian, titik tekan dari pemikiran Aidit di atas adalah bahwa
sastrawan dan seniman harus bergaul akrab dengan massa partai, kader. Jika kader
tidak paham mengenai gerakan revolusioner, hal itu bukan karena kesalahan kader
itu sendiri, melainkan sastrawan dan seniman perlu memikirkan ulang karya
mereka agar lebih ―berbunyi‖ di kalangan massa.
Sebagai pencipta, sastrawan dan seniman revolusioner tidak hanya
menyampaikan dengan gamblang apa yang terjadi dalam masyarakat, melainkan
seperti seolah sebuah riset dengan gaya penyampaian arstistik (sastra dan seni).
Harus mengumpulkan data, menganalisanya sehingga dapat memunculkan
kesimpulan-kesimpulan yang dapat membantu persoalan rakyat.
Apa yang dideskripsikan di atas sudah menjadi kegiatan wajib setiap
sastrawan dan seniman Lekra. Tidak terkecuali dengan Sugiarti Siswadi. Untuk
memenuhi kewajibannya itu, ia menulis cerpen-cerpen berjudul Belajar, Satu Mei
43
Didesa, Orang Kedua, dan Luka Lama Dileher. Tokoh-tokoh dalam keempat
cerpen memiliki hirarki antartokoh. Selalu digambarkan ada tokoh yang tidak tahu
dan ada tokoh kader partai yang serba tahu sehingga memberikan pembelajaran
kepada yang tidak tahu.
Dalam cerpen Belajar, tokoh Mas Marto memberi pengertian kepada
Mangun yang bodoh. Cerpen Satu Mei Didesa terdapat tokoh Ayah Marto banyak
memberikan pengalamannya sebagai buruh perkebunan kepada generasi muda
partai ketika sedang latihan persiapan peringatan 1 Mei keesokan harinya. Cerpen
Orang Kedua, yang menjadi tokoh sentral adalah Hasan. Tokoh ini kurang
percaya diri, namun atas dorongan dari orang pertama, Asnawi, ia berani tampil
memimpin massa partai. Lalu pada cerpen Luka Lama Dileher, tokoh yang lebih
muda mampu menyadarkan tokoh tua bernama Djojo yang sudah lama
sakit-sakitan. Atas saran tokoh muda itu, Djojo akhirnya kembali turun ke jalan atas
nama partai dengan memobilisasi buruh perkebunan.
Melalui cerpen-cerpen ini, Sugiarti jelas menampilkan ideologi dan
kebesaran Partai Komunis Indonesia. Pada cerpen Belajar misalnya, ia
menekankan bahwa orang-orang yang berada di garis kader partai harus senantiasa
belajar. Tidak seperti Mangun karena kebodohannya menjadi banyak merepotkan
Mas Marto. Sebaliknya, kader yang berpengetahuan memberi pencerahan pada
yang tidak tahu.
Pada titik ini, Sugiarti dengan sederhana menyuguhkan kisah yang
sederhana pula. Penyebaran ideologi partai tidak dilukiskannya pada sebuah
ceramah, seperti dalam Hikayat Kadirun karya Semaoen. Sugiarti mengambil sisi
yang lembut dalam interaksi antarkader partai.
Sederhana kisah itu seperti ketika seorang anak bertanya pada bapaknya
tentang sputnik. Karjo nama anak itu dan Mangun adalah bapaknya. Pertanyaan
itu muncul ketika mereka sedang makan bersama. Mangun kaget, gelagapan tak
bisa menjawab. Untung sang istri datang menyelamatkan dengan memerintah
anaknya untuk segera habiskan makanannya.
Tapi mangun tak puas sampai di situ. Sembari makan, pikirannya terus
berputar-putar mencari jawaban. Ia memang pernah mendengarkan kata itu, tapi
tak pernah memperhatikan dengan benar. Ya, ia ingat ketika ada suatu obrolan di
rumah Mas Marto. Maka ia pun berniat menemui Mas Marto untuk mencari
jawabannya.
Mas Marto menjelaskan bahwa sebagai kader, tidak mendengarkan
ceramah sekali saja, itu merupakan kerugian besar. ―Orang buta huruf yang ingin mengerti tetapi tidak mau belajar, bisa mengganggu orang lain, Pak.‖ Kata Mas
Marto. Lalu Mas Marto memberinya sebuah koran untuk dibaca dan ditinggal
pergi.
Mangun tak pergi, ia hanya membolak-balik koran itu saja. Ia tahu caranya
melihat koran dengan tidak terbalik, lihat gambarnya. Ketika Mas Marto kembali,
ia belum juga pulang. Terpaksa Mas Marto menjelaskan lebih rinci. Lalu
pahamlah ia. Sejak itu, Mangun belajar lebih banyak lagi.
Cerpen yang dimuat Harian Rakjat, 31 Oktober 1959 ini menggambarkan
yang dibutuhkan. Selain itu, menekankan arti penting mengetahui kabar-kabar dari
berbagai perkembangan dan kemajuan negara komunis lainnya agar dapat
dijadikan sebagai pembelajaran.
Mengenai hubungan antarkader partai dalam cerpen ini memiliki hubungan
pararelitas dengan yang dimaksudkan oleh D.N. Aidit dengan ―bergaul akrab‖.
Maksudnya, keduanya harus memiliki tingkat saling apresiasi yang tinggi.
Oleh karena itu tidak ada jalan lain bagi seniman dan sastrawan revolusioiner selain harus meningkatkan pengabdian atas dasar lebih setia kepada massa dan tetap setia kepada sesama. Sebaliknya kader-kader revolusioner yang bukan seniman harus juga berusaha keras untuk meningkatkan daya apresiasinya, sehingga lebih mudah menangkap bahasa artistik. Dengan demikian ada usaha saling pendekatan dan saling mengerti, sehingga tercapai saling bantu yang lebih efektif.44
Tokoh Mangun yang buta huruf dalam cerpen ini juga tak luput dari
pandangan Aidit. Bagaimanapun massa merupakan tulang punggung sebuah
partai. Kualitas massa menentukan kualitas partai. Aidit tak ingin memiliki yang
bodoh, buta huruf dan buta ilmu, sehingga hal ini betul-betul menjadi
perhatiannya.
Plan 4 tahun partai akan mengubah berjuta-juta rakyat yang buta huruf menjadi pandai membaca dan menulis, dari buta ilmu jadi memiliki pengetahuan, dari suasana desa yang sepi menjadi bergolak dengan memiliki sanggar-sanggar untuk kegiatan sanggar dan seni.45
Mengenai isu yang dibawa dalam cerpen di atas, yaitu sputnik, pada tahun
1959, Uni soviet memaksimalkan perannya sebagai negara yang memiliki
pemahaman sains tertinggi. Sputnik, pesawat angkasa dijadikan sebagai
ukurannya. Penerbangan pesawat angkasa ini menjadi kebanggan tak hanya negara
44
Aidit, 1960, hal 52.
45
Uni Soviet, melainkan negara-negara yang memiliki basis komunis lainnya. PKI
demikian pula, dalam korannya, Harian Rakjat¸ PKI mengabarkan perkembangan
penerbangan angkasa secara bertahap.
Berita yang dilacak mulai pada tanggal 6 Januari 1959, Roket Matahari
Suvjet Terus Meluntjur Sesuai Rentjana, dalam berita itu disebutkan pula jadwal
penerbangan. Tanggal 2 Januari roket diluncurkan, ―Djam 03.10 - melalui Sumatera Selatan pada jarak 110.000 KM, Djam 09.00 - 284.000 KM dari bumi.
Tanggal 4, Djam 03.00 - 336.600 KM dari bumi, Djam 05.59 Telah melampaui
bulan: 7.500 KM dari bulan dan 370.000 KM dari bumi, Djam 12.00 - 422.000
KM dari bumi dan 60.000 KM dari bulan, Djam 19.00 - 474.000 KM dari bumi,
Djam 22.00 - 510.000 KM dari bumi dan 180 KM dari pusat bukan.‖ Dan pada tanggal 7 Januari 1959, tersiar kabar di harian tersebut bahwa roket tersebut telah
mengelilingi matahari.
Setelah kesuksesan penerbangan ini, Soviet terus mengembangkan
ekspansinya ke luar angkasa. Tak hanya bulan dan matahari, melainkan
planet-planet lainnya. 5 Oktober 1959, Harian Rakjat mengabarkan bahwa, Penerbangan
Antarplanit Diambang Pintu: Sovjet Luntjurkan Stasiun.
Hal ini kemudian menimbulkan prediksi-prediksi spekulatif, seperti yang
diungkapkan oleh ilmuwan Soviet, Prof. Sjaronov dalam artikelnya di Majalah
Sovjet Kultura. Ia mengatakan bahwa ―sudah pasti dikemudian hari manusia akan
menempati planit2 jang lain, jika kalau tidak seluruh planit, paling sedikit
sebagian besar dari planit tsbt.‖46 46
Ia menambahkan bahwa jika tim penyelidikan planet berhasil mendarat di
bulan, akan banyak roket-roket yang lebih canggih akan mengikuti. Hal ini bukan
merupakan kemustakhilan jika kelak manusia akan menghuni planet-planet
lainnya. Bagi Prof. Sjaronov hal ini bukanlah angan-angan belaka. Sebagai contoh,
ia menggambarkan bahwa pada abad pertengahan orang-orang bicara tentang
kota-kota modern dan pusat-pusat industri. Pada zaman tersebut merupakan hal
yang tidak mungkin dicapai, namun bisa dilihat hasilnya saat ini. Contoh lain ia
menggambarkan tentang kesunyian dan kesenyepan yang ada di Antartika, tapi
kini daerah itu menjadi penuh dengan bangunan-bangunan modern.
Beberapa hari setelah penerbangan itu, Soviet mengumumkan dna mencari
dukungan dari berbagai negara dengan cara menggelar pameran. Tanggal 29
Januari 1959, akan digelar ―Pameran Sputnik dan Roket di Djakarta‖. Pameran
tersebut diadakan di Gedung Pertemuan Umum dan akan berlangsung selama 10
hari. Dalam pameran tersebut tak hanya ada roket dan sputnik saja, tetapi juga
hasil perkembangan ekonomi dan kebudayaan Moskow yang merupakan hasil
kerja pemerintah Moskow selama 40 tahun, sejak berdirinya kekuasaan soviet
pada 1917. Bentuk-bentuk yang dipamerkan berupa potret, model dan maket.47
Dengan berhasilnya penerbangan angkasa, menurut Harian Rakjat, negara
imperialis seperti Amerika Serikat mengaku tunduk. Ilmuan AS merasa takjub
dengan yang dilakukan oleh Soviet selama tahun 1959. Para politisi dan ilmuan
AS mengaku bahwa untuk bisa melakukan apa yang dimulai oleh Soviet, mereka
membutuhkan waktu paling tidak dua tahun lagi untuk bisa melakukan hal yang
47
sama. Dengan demikian, ―Para sardjana dan politisi AS kini betul2 menginsjafi,
bahwa AS kalah‖.48
Melalui cerpen Belajar di atas, maka dapat disimpulkan bahwa tokoh
Mangun menjadi objek dari penyadaran pengetahuan oleh Mas Marto. Bahwa
menjadi orang kecil tidak menutup kemungkinan untuk tahu banyak hal. Peristiwa
semacam ini juga dapat dilihat dalam cerpen Satu Mei Didesa.
Lain cerpen lain pula tokohnya. Kali ini yang menjadi subjek serba tahu
adalah Ayah Marto. Sebagai orang yang berpengalaman, ia menularkan
pengalamannya kepada generasinya, pada suatu malam. Ayah Marto bersama
beberapa kader sedang latihan menyanyi di sebuah pondopo untuk persiapan acara
1 Mei keesokan harinya. Mereka belajar bernyanyi lagu tentang buruh. Tak peduli
buta huruf dan cacat nada, mereka belajar nyanyi. Keseluruhan yang hadir adalah
buruh, dari berbagai pabrik atau kebun.
Awal hingga akhir, cerpen ini hanya berkisah tentang suasana yang terjadi
ketika latihan. Penekanannya adalah pada sikap mereka yang tak lagi
membeda-bedakan apa kerja mereka. Yang jelas mereka adalah senasib. Penekanan ini
disampaikan melalui tokoh Ayah Marto. Sebagai seorang yang tua dan banyak
memiliki pengalaman buruh, ia bercerita kepada yang hadir ketika waktu istirahat.
Ia terharu dengan sikap anak muda yang bersatu seperti malam itu. Dulu, ketika ia
masih jadi buruh, tak ada yang dapat memperjuangkan kaumnya. Kebanyakan
masih berpikir tentang nasibnya sendiri. Satu sama lain tak dapat menolong. Apa
48
yang kini dan nanti dinikmati ―adalah berkat jasa Sarekat Buruh saudara, yang
dijiwai oleh 1 Mei‖.
Cerpen ini nyaris tidak memiliki alur, hanya merupakan reportose
pengarang dalam upaya menyambut Hari Buruh Internasional. Meski cerpen ini
berbicara soal buruh, tapi tidak ada pertentangan kelas. Oleh sebab itu, cerpen ini
tergolong sebagai propaganda untuk kader partai.
1 Mei merupakan Hari Raya bagi kaum buruh karena dianggap sebagai
―hari kemenangan dan solidarited kaum buruh‖.49
Diperingati secara besar-besaran
dan di berbagai tempat, bahkan dirayakan secara internasional. Sebagai partai
yang pengabdikan diri kepada kaum buruh, PKI tak luput untuk ikut merayakan
Hari Raya tersebut. Dari tahun ke tahun terus diperingati bahkan menjadi headline
pada koran Harian Rakjat.
Harian Rakjat dalam memperingati 1 Mei terdapat tulisan besar ―1 Mei 1964‖ disertai dengan gambar dunia (globe) dan kepalan dua tangan palu, salah
satunya memegang palu. Sementara judul headline tertulis besar, Perkuat
Persatuan Klas Buruh dan Persatuan Nasional untuk Memenangkan Offensif
Manipolis Sepenuhnya. Ada dua isu besar yang yang disampaikan pada perayaan
hari buruh itu, yang pertama adalah ―ganjang kesulitan ekonomi‖ dan kedua ―ganjang Malaysia‖.50
Mei tahun 1964, menjadi perayaan yang paling meriah di antara
tahun-tahun sebelumnya sebab dipersiapkan dengan matang. Selain itu, digunakan juga
49
Harian Rakjat, Rabu, 8 April 1964.
50
sebagai moment untuk menyambut Konferensi Buruh Asia-Afrika yang diadakan
pada tahun yang sama.51
Setahun kemudian, pada 30 April 1965, sehari sebelum perayaan Hari
Buruh, gambar serupa muncul kembali di halaman paling depan koran Harian
Rakjat. Bedanya, kali ini tak hanya kepalan tangan melainkan seorang pribumi
dengan tangan kanan memegang palu dan tangan kirinya mencekik seorang yang
kerdil yang disimbolkan sebagai kaum imperialis. Tak hanya itu, satu halaman
utama diisi penuh dengan laporan-laporan tentang buruh. Judul headline yang
tertulis besar adalah Klas Buruh Indonesia Harus Memahami sedalam-dalamnya
Tentang Berdikari dalam Ekonomi! Isinya untuk mengajak kaum buruh untuk
memahami kemandirian dalam ekonomi dan pengelolaan produksi.
Pada edisi 30 April 1965, Harian Rakjat, membuat lembaran ekstra dalam
rangka memperingati hari buruh. Lembaran itu lebih banyak mengungkap tentang
sejarah hari buruh dunia. Dikatakan bahwa,
―Pada tahun 1976, negeri-negeri kapitalis utama di dunia telah meningalkan tingkatannya yang lama, tingkat persaingan bebas, dan memasuki tingkatnya yang baru, tingkat monopoli atau imperialisme. Munculnya imperialisme menandakan suatu periode sejarah berakhirnya tingkat kapitalisme yang mengandung unsur-unsur progresif dan dimulainya tingkat kapitalisme yang menjurus ke bentuk-bentuk reaksi yang paling jahat. Periode itu pun dicirii juga oleh menajamnya perjuangan kelas dan berkembangnya pergerakan buruh di semua negeri kapitalis utama.‖52
Tuan tanah bernama Otto von Bismarck, pada tahun 1878, menjalan politik
licik dengan mengadudomba kelas buruh. Ia mendukung salah satu gerakan buruh
untuk menghancurkan gerkan buruh revolusioner. Politik Bismarck ini ditiru oleh
51
Harian Rakjat, 8 April 1964.
52
taun tanah lainnya dan terjadilah perjuangan kelas yang sengit. Ketika kapitalisme
Inggris menemui masa keemasannya pada kisaran tahun 1850-1875, kaum buruh
juga berbanding lurus, kekuatan buruh semakin kuat dan terbentuklah TUC
Inggris (Gabungan Serikat Buruh Inggris) tahun 1968. Delapan tahun kemudian,
anggota serikat itu berlipat empat kali. Namun jumlah itu menurun ketika terjadi
krisis ekonomi dunia pada tahun 1873. Melihat kenyataan tersebut, sayap kiri
gerakan tersebut yang pelopori oleh Tom Mann, Ben Tillet dan John Burns
melakukan pemogokan kaum buruh bersejarah. Gerakan ini juga melibatkan
Eleanor Aveling, putri Karl Marx sebagai sekretaris.
Pada periode yang sama, terjadi juga di Amerika Serikat, bahkan lebih
kejam. Hal ini memicu perang saudara. Pemogokan buruh dengan mengadakan
pembakaran besar-besaran pada tahun 1877 menjadi pemogokan yang penting
dalam sejarah Amerika. Gerakan ini terus menjalar dari New York, California,
Canada sampai Teluk Mexico. Pers tak lagi menyebutnya sebagai pemogokan
buruh, melainkan revolusi.
Pemogokan lainnya yang tak kalah terkenal adalah pemogokan buruh
tambang batu bara di Pensylvania. Pemogokan pertama kali itu berlangsung sangat
lama dari Desember 1874 sampai Juni 1875. Meski akhirnya tumbang oleh
kekuatan militer pemerintah, namun gerakan ini merupakan landasan penting bagi
terbentuknya United Mine Worker (Persatuan Buruh Tambang).
Puncak kesengitan perjuangan kelas ini adalah pemogokan umum
menuntut delapan jam kerja sehari pada 1 Mei 1886. Pemogokan bersejarah ini
korban jiwa berjatuhan dan pimpinan gerakan berakhir di tiang gantungan pada 11
November 1887. Mereka adalah Perons, Spies, Fischer, dan Engel. Sementara
pimpinan lainnya, Neebe, Schwab, dan Fileden dihukum penjara untuk waktu
yang lama. Selain itu, AFL harus berhadapan dengan musuh dari kelasnya yang
kuat adalah Knights of Labour, yang menganggap bahwa kaum kapitalis bukanlah
musuh. Meski begitu, gerakan 1 Mei yang diikuti oleh 350.000 buruh di Chicago
itu berhasil. 185.000 buruh bangunan mendapatkan tuntutannya. Setelahnya, lahir
gerakan dan sarekat buruh lainnya.
Pada Konggres Internasionale II tanggal 14 Juli 1889 di Paris, menerima
usulan delegasi Perancis dan Amerika untuk menjadikan 1 Mei sebagai hari
internasional bagi kaum buruh di seluruh dunia.
Di Indonesia, 1 Mei untuk pertama kalinya dirayakan di Surabaya tahun
1918 oleh anggota Angkatan Laut Hindia Belanda yang berorganisasi di bawah
ISDV (organisasi pertama di Indonesia yang berdasarkan Marxisme). Selanjutnya,
berdasarkan keputusan Presiden No. 24/1953, 1 Mei tidak hanya menjadi hari
besar kaum buruh, tetapi diakui sebagai hari besar umum, hari besar Nasional.53
PKI sebagai pengabdi kaum buruh, secara konsisten dan nyaris tiap hari
dalam Harian Rakjat menyuarakan kesejahteraan buruh, tapi pada Hari Raya
Buruh tersebut, dijadikan sebagai moment untuk lebih menggalakkan tuntutan
mereka. Tak hanya gegap gempita perayaan 1 Mei oleh PKI, tapi juga diadakan
aksi dan dilancarkannya berbagai tuntutan untuk kesejahteraan buruh dan upaya
nasionalisasi perusahaan asing. Seperti pada pascaperayaan 1 Mei 1961, tepatnya
53
3 Mei, buruh bersama-sama menuntut pengambilalihan modal Belanda di
perusahaan campuran.54
Melalui kedua cerpen di atas, bisa dilihat bahwa konflik yang terjadi dalam
cerpen sangat datar. Hal ini tidak terlepas dari upaya propaganda yang lebih berisi
tentang seruan atau pemberian pengertian tentang misi dari partai. Secara
konsisten, Sugiarti juga menampilkan hal serupa dalam kedua cerpennya yang
berjudul Luka Lama di Leher dan Orang Kedua.
Dalam cerpen Luka Lama di Leher, seorang lelaki, Djojo namanya,
menderita penyakit di lehernya. Sudah ia bawa berobat ke mana-mana tapi tak
juga sembuh. Penyakitnya itu sangat menyiksa. Jika datang rasa sakitnya, kerjanya
hanya marah-marah pada bininya. Sang istri selalu menyarankannya untuk
istirahat, sementara baginya, saran itu seperti racun.
Di tengah keributan rumah tangga itu, datanglah seorang pemuda. Djojo
sebagai orang tua merasa senang didatangi anak muda, itu artinya masih ada yang
peduli padanya. Ya, seluruh temannya sudah berusaha membantu untuk
kembuhkannya, tapi tetap nihil. Pemuda itu datang bukan membawa obat, tetapi
hanya mengajak Djojo berpikir dengan cara yang lain. Obat yang tepat bagi Djojo
sebenarnya adalah bekerja. Ia tak boleh punya waktu terlalu luang untuk berpikir.
Bertindak adalah obat paling tepat. Begitu ungkap pemuda itu.
Enam bulan kemudian, pemuda itu mendapat surat dari istri Djojo.
Katanya, suaminya sudah sembuh dan tidak kumat-kumat lagi. Di pegunungan, ia
telah menjadi fungsionaris Sarekat Buruh Perkebunan. Dengan begitu, ia banyak
54
menyelesaikan berbagai persoalan buruh di sana. Mereka mengucapakan terima
kasih pada pemuda itu.
Cerpen yang dimuat pada 31 Djuli 1961 ini merupakan simbolisasi dari
sikap seorang kader partai. Jika ia berdiri tegak dengan sikapnya yang memihak
kepada kaum proletar, penyakit akibat siksaan Jepang itu akan hilang pula. Akibat
siksaan itu, sang tokoh mengalami penyakit saraf yang membuatnya tak bisa
berbuat apa-apa, selain hanya marah-marah. Luka itu hanya sembuh dengan
bekerja. Hal ini memiliki pararelitas dengan kisah yang disampaikan oleh Aidit
dalam upayanya menjawab pandangan-pandangan peserta KSSR.
―… Orang yang mempunyai sikap yang tidak tepat, misalnya, yang di satu pihak lebih memilih jalan proletariat tetapi di pihak lain masih belum mau melepaskan diri sepenuhnya dari kelas borjuis kecilnya yang lama, dalam saat-saat yang menentukan orang demikian bisa menjadi bingung, dan kalau bingungnya keterlaluan ia bisa diserang penyakit syaraf. Sebaliknya saya mengenal beberapa kawan, yang karena penyakit TBC hanya tinggal satu paru-parunya, tapi sikapnya kuat, tidak pernah ragu tentang jalan proletariat dan jalan revolusi yang sudah dipilhnya; dalam saat-saat yang menentukan semangatnya malah menjadi lebih tinggi dari biasa, kegembiraannya bertambah dan dia jauh dari penyakit syaraf. Sudah tentu tidak semua kawan yang kena sakit syaraf disebabkan karena sikap kelasnya tidak teguh. Saya hanya ingin mengemukakan bahwa soal sikap sangat penting bagi seseorang yang mau berhasil dalam perjuangan