• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perjuangan Massa Partai: Kisah-kisah Propaganda

BAB III. REPRESENTASI PERJUANGAN KELAS

C. Perjuangan Massa Partai: Kisah-kisah Propaganda

Atas kesadaran bahwa kesusasteraan merupakan sebuah alat perjuangan

kelas, PKI menjadikannya bagian yang penting. Sastra dianggap mampu

memobilisasi massa karena sebagai jenis khusus produksi di mana wacana

ideologis—digambarkan sebagai sistem yang merupakan representasi mental pengalaman hidup—menjadi wacana sastra secara khusus. Hal ini dikatakan oleh kritikus Marxisme asal Inggris, Terry Eagleton. Ia berusaha mengekspos ideologis

teks motivasi dan untuk menerapkan kritik sastra ke arah politik yang diinginkan.

Tidak hanya melihat teks sebagai produk dari kesadaran individu, kritikus Marxis

menganggap sebuah karya sebagai produk dari sebuah ideologi khusus untuk

periode sejarah tertentu. Seperti pada gambaran dasar dari tindakan sosial dan

lembaga-lembaga dan pada representasi perjuangan kelas.42

Sebagai alat perjuangan, sastra musti dekat dengan objeknya (rakyat).

Sebab itulah bahasa yang digunakan relatif verbal dan mudah ditangkap. Selain

itu, metode penulisan dengan sistem riset turun ke bawah dikenal ampuh karena

langsung bersentuhan dengan objek dan dikembalikan lagi kepada objeknya.

Dengan demikian, pengarang dapat menggiring kesadaran objeknya kepada titik

yang diinginkan.

42

Lihat Terry Eagleton dalam Marxisme dan Kritik Sastra. Diterbitkan oleh Penerbit Sumbu Yogyakarta. 2002: 10. Diterjemahkan oleh Roza Muliati dkk.

Cerpen-cerpen yang masuk dalam kategori partai merupakan cerpen yang

menjadi propaganda agar rakyat memiliki kesadaran revolusioner dan bergabung

bersama PKI. Tujuan paling pokok dari cerpen-cerpen ini adalah untuk

memberikan pengertian tentang perjuangan kepada para ahli waris partai, kader

partai. Untuk itu, tugas sastrawan dan seniman adalah membuat karya yang dapat

dengan mudah dipahami oleh kader partai, mengingat bahwa sastrawan dan

seniman adalah ―juru bicara massa melewati bahasa artistik hendak

menyampaikan suatu konsepsi, suatu ekspresi, pemikiran dalam pembayangan

artistik dari massa kepada massa.‖43

Dengan demikian, titik tekan dari pemikiran Aidit di atas adalah bahwa

sastrawan dan seniman harus bergaul akrab dengan massa partai, kader. Jika kader

tidak paham mengenai gerakan revolusioner, hal itu bukan karena kesalahan kader

itu sendiri, melainkan sastrawan dan seniman perlu memikirkan ulang karya

mereka agar lebih ―berbunyi‖ di kalangan massa.

Sebagai pencipta, sastrawan dan seniman revolusioner tidak hanya

menyampaikan dengan gamblang apa yang terjadi dalam masyarakat, melainkan

seperti seolah sebuah riset dengan gaya penyampaian arstistik (sastra dan seni).

Harus mengumpulkan data, menganalisanya sehingga dapat memunculkan

kesimpulan-kesimpulan yang dapat membantu persoalan rakyat.

Apa yang dideskripsikan di atas sudah menjadi kegiatan wajib setiap

sastrawan dan seniman Lekra. Tidak terkecuali dengan Sugiarti Siswadi. Untuk

memenuhi kewajibannya itu, ia menulis cerpen-cerpen berjudul Belajar, Satu Mei

43

Didesa, Orang Kedua, dan Luka Lama Dileher. Tokoh-tokoh dalam keempat

cerpen memiliki hirarki antartokoh. Selalu digambarkan ada tokoh yang tidak tahu

dan ada tokoh kader partai yang serba tahu sehingga memberikan pembelajaran

kepada yang tidak tahu.

Dalam cerpen Belajar, tokoh Mas Marto memberi pengertian kepada

Mangun yang bodoh. Cerpen Satu Mei Didesa terdapat tokoh Ayah Marto banyak

memberikan pengalamannya sebagai buruh perkebunan kepada generasi muda

partai ketika sedang latihan persiapan peringatan 1 Mei keesokan harinya. Cerpen

Orang Kedua, yang menjadi tokoh sentral adalah Hasan. Tokoh ini kurang

percaya diri, namun atas dorongan dari orang pertama, Asnawi, ia berani tampil

memimpin massa partai. Lalu pada cerpen Luka Lama Dileher, tokoh yang lebih

muda mampu menyadarkan tokoh tua bernama Djojo yang sudah lama

sakit-sakitan. Atas saran tokoh muda itu, Djojo akhirnya kembali turun ke jalan atas

nama partai dengan memobilisasi buruh perkebunan.

Melalui cerpen-cerpen ini, Sugiarti jelas menampilkan ideologi dan

kebesaran Partai Komunis Indonesia. Pada cerpen Belajar misalnya, ia

menekankan bahwa orang-orang yang berada di garis kader partai harus senantiasa

belajar. Tidak seperti Mangun karena kebodohannya menjadi banyak merepotkan

Mas Marto. Sebaliknya, kader yang berpengetahuan memberi pencerahan pada

yang tidak tahu.

Pada titik ini, Sugiarti dengan sederhana menyuguhkan kisah yang

sederhana pula. Penyebaran ideologi partai tidak dilukiskannya pada sebuah

ceramah, seperti dalam Hikayat Kadirun karya Semaoen. Sugiarti mengambil sisi

yang lembut dalam interaksi antarkader partai.

Sederhana kisah itu seperti ketika seorang anak bertanya pada bapaknya

tentang sputnik. Karjo nama anak itu dan Mangun adalah bapaknya. Pertanyaan

itu muncul ketika mereka sedang makan bersama. Mangun kaget, gelagapan tak

bisa menjawab. Untung sang istri datang menyelamatkan dengan memerintah

anaknya untuk segera habiskan makanannya.

Tapi mangun tak puas sampai di situ. Sembari makan, pikirannya terus

berputar-putar mencari jawaban. Ia memang pernah mendengarkan kata itu, tapi

tak pernah memperhatikan dengan benar. Ya, ia ingat ketika ada suatu obrolan di

rumah Mas Marto. Maka ia pun berniat menemui Mas Marto untuk mencari

jawabannya.

Mas Marto menjelaskan bahwa sebagai kader, tidak mendengarkan

ceramah sekali saja, itu merupakan kerugian besar. ―Orang buta huruf yang ingin mengerti tetapi tidak mau belajar, bisa mengganggu orang lain, Pak.‖ Kata Mas

Marto. Lalu Mas Marto memberinya sebuah koran untuk dibaca dan ditinggal

pergi.

Mangun tak pergi, ia hanya membolak-balik koran itu saja. Ia tahu caranya

melihat koran dengan tidak terbalik, lihat gambarnya. Ketika Mas Marto kembali,

ia belum juga pulang. Terpaksa Mas Marto menjelaskan lebih rinci. Lalu

pahamlah ia. Sejak itu, Mangun belajar lebih banyak lagi.

Cerpen yang dimuat Harian Rakjat, 31 Oktober 1959 ini menggambarkan

yang dibutuhkan. Selain itu, menekankan arti penting mengetahui kabar-kabar dari

berbagai perkembangan dan kemajuan negara komunis lainnya agar dapat

dijadikan sebagai pembelajaran.

Mengenai hubungan antarkader partai dalam cerpen ini memiliki hubungan

pararelitas dengan yang dimaksudkan oleh D.N. Aidit dengan ―bergaul akrab‖.

Maksudnya, keduanya harus memiliki tingkat saling apresiasi yang tinggi.

Oleh karena itu tidak ada jalan lain bagi seniman dan sastrawan revolusioiner selain harus meningkatkan pengabdian atas dasar lebih setia kepada massa dan tetap setia kepada sesama. Sebaliknya kader-kader revolusioner yang bukan seniman harus juga berusaha keras untuk meningkatkan daya apresiasinya, sehingga lebih mudah menangkap bahasa artistik. Dengan demikian ada usaha saling pendekatan dan saling mengerti, sehingga tercapai saling bantu yang lebih efektif.44

Tokoh Mangun yang buta huruf dalam cerpen ini juga tak luput dari

pandangan Aidit. Bagaimanapun massa merupakan tulang punggung sebuah

partai. Kualitas massa menentukan kualitas partai. Aidit tak ingin memiliki yang

bodoh, buta huruf dan buta ilmu, sehingga hal ini betul-betul menjadi

perhatiannya.

Plan 4 tahun partai akan mengubah berjuta-juta rakyat yang buta huruf menjadi pandai membaca dan menulis, dari buta ilmu jadi memiliki pengetahuan, dari suasana desa yang sepi menjadi bergolak dengan memiliki sanggar-sanggar untuk kegiatan sanggar dan seni.45

Mengenai isu yang dibawa dalam cerpen di atas, yaitu sputnik, pada tahun

1959, Uni soviet memaksimalkan perannya sebagai negara yang memiliki

pemahaman sains tertinggi. Sputnik, pesawat angkasa dijadikan sebagai

ukurannya. Penerbangan pesawat angkasa ini menjadi kebanggan tak hanya negara

44

Aidit, 1960, hal 52.

45

Uni Soviet, melainkan negara-negara yang memiliki basis komunis lainnya. PKI

demikian pula, dalam korannya, Harian Rakjat¸ PKI mengabarkan perkembangan

penerbangan angkasa secara bertahap.

Berita yang dilacak mulai pada tanggal 6 Januari 1959, Roket Matahari

Suvjet Terus Meluntjur Sesuai Rentjana, dalam berita itu disebutkan pula jadwal

penerbangan. Tanggal 2 Januari roket diluncurkan, ―Djam 03.10 - melalui Sumatera Selatan pada jarak 110.000 KM, Djam 09.00 - 284.000 KM dari bumi.

Tanggal 4, Djam 03.00 - 336.600 KM dari bumi, Djam 05.59 Telah melampaui

bulan: 7.500 KM dari bulan dan 370.000 KM dari bumi, Djam 12.00 - 422.000

KM dari bumi dan 60.000 KM dari bulan, Djam 19.00 - 474.000 KM dari bumi,

Djam 22.00 - 510.000 KM dari bumi dan 180 KM dari pusat bukan.‖ Dan pada tanggal 7 Januari 1959, tersiar kabar di harian tersebut bahwa roket tersebut telah

mengelilingi matahari.

Setelah kesuksesan penerbangan ini, Soviet terus mengembangkan

ekspansinya ke luar angkasa. Tak hanya bulan dan matahari, melainkan

planet-planet lainnya. 5 Oktober 1959, Harian Rakjat mengabarkan bahwa, Penerbangan

Antarplanit Diambang Pintu: Sovjet Luntjurkan Stasiun.

Hal ini kemudian menimbulkan prediksi-prediksi spekulatif, seperti yang

diungkapkan oleh ilmuwan Soviet, Prof. Sjaronov dalam artikelnya di Majalah

Sovjet Kultura. Ia mengatakan bahwa ―sudah pasti dikemudian hari manusia akan

menempati planit2 jang lain, jika kalau tidak seluruh planit, paling sedikit

sebagian besar dari planit tsbt.‖46 46

Ia menambahkan bahwa jika tim penyelidikan planet berhasil mendarat di

bulan, akan banyak roket-roket yang lebih canggih akan mengikuti. Hal ini bukan

merupakan kemustakhilan jika kelak manusia akan menghuni planet-planet

lainnya. Bagi Prof. Sjaronov hal ini bukanlah angan-angan belaka. Sebagai contoh,

ia menggambarkan bahwa pada abad pertengahan orang-orang bicara tentang

kota-kota modern dan pusat-pusat industri. Pada zaman tersebut merupakan hal

yang tidak mungkin dicapai, namun bisa dilihat hasilnya saat ini. Contoh lain ia

menggambarkan tentang kesunyian dan kesenyepan yang ada di Antartika, tapi

kini daerah itu menjadi penuh dengan bangunan-bangunan modern.

Beberapa hari setelah penerbangan itu, Soviet mengumumkan dna mencari

dukungan dari berbagai negara dengan cara menggelar pameran. Tanggal 29

Januari 1959, akan digelar ―Pameran Sputnik dan Roket di Djakarta‖. Pameran

tersebut diadakan di Gedung Pertemuan Umum dan akan berlangsung selama 10

hari. Dalam pameran tersebut tak hanya ada roket dan sputnik saja, tetapi juga

hasil perkembangan ekonomi dan kebudayaan Moskow yang merupakan hasil

kerja pemerintah Moskow selama 40 tahun, sejak berdirinya kekuasaan soviet

pada 1917. Bentuk-bentuk yang dipamerkan berupa potret, model dan maket.47

Dengan berhasilnya penerbangan angkasa, menurut Harian Rakjat, negara

imperialis seperti Amerika Serikat mengaku tunduk. Ilmuan AS merasa takjub

dengan yang dilakukan oleh Soviet selama tahun 1959. Para politisi dan ilmuan

AS mengaku bahwa untuk bisa melakukan apa yang dimulai oleh Soviet, mereka

membutuhkan waktu paling tidak dua tahun lagi untuk bisa melakukan hal yang

47

sama. Dengan demikian, ―Para sardjana dan politisi AS kini betul2 menginsjafi,

bahwa AS kalah‖.48

Melalui cerpen Belajar di atas, maka dapat disimpulkan bahwa tokoh

Mangun menjadi objek dari penyadaran pengetahuan oleh Mas Marto. Bahwa

menjadi orang kecil tidak menutup kemungkinan untuk tahu banyak hal. Peristiwa

semacam ini juga dapat dilihat dalam cerpen Satu Mei Didesa.

Lain cerpen lain pula tokohnya. Kali ini yang menjadi subjek serba tahu

adalah Ayah Marto. Sebagai orang yang berpengalaman, ia menularkan

pengalamannya kepada generasinya, pada suatu malam. Ayah Marto bersama

beberapa kader sedang latihan menyanyi di sebuah pondopo untuk persiapan acara

1 Mei keesokan harinya. Mereka belajar bernyanyi lagu tentang buruh. Tak peduli

buta huruf dan cacat nada, mereka belajar nyanyi. Keseluruhan yang hadir adalah

buruh, dari berbagai pabrik atau kebun.

Awal hingga akhir, cerpen ini hanya berkisah tentang suasana yang terjadi

ketika latihan. Penekanannya adalah pada sikap mereka yang tak lagi

membeda-bedakan apa kerja mereka. Yang jelas mereka adalah senasib. Penekanan ini

disampaikan melalui tokoh Ayah Marto. Sebagai seorang yang tua dan banyak

memiliki pengalaman buruh, ia bercerita kepada yang hadir ketika waktu istirahat.

Ia terharu dengan sikap anak muda yang bersatu seperti malam itu. Dulu, ketika ia

masih jadi buruh, tak ada yang dapat memperjuangkan kaumnya. Kebanyakan

masih berpikir tentang nasibnya sendiri. Satu sama lain tak dapat menolong. Apa

48

yang kini dan nanti dinikmati ―adalah berkat jasa Sarekat Buruh saudara, yang

dijiwai oleh 1 Mei‖.

Cerpen ini nyaris tidak memiliki alur, hanya merupakan reportose

pengarang dalam upaya menyambut Hari Buruh Internasional. Meski cerpen ini

berbicara soal buruh, tapi tidak ada pertentangan kelas. Oleh sebab itu, cerpen ini

tergolong sebagai propaganda untuk kader partai.

1 Mei merupakan Hari Raya bagi kaum buruh karena dianggap sebagai

―hari kemenangan dan solidarited kaum buruh‖.49

Diperingati secara besar-besaran

dan di berbagai tempat, bahkan dirayakan secara internasional. Sebagai partai

yang pengabdikan diri kepada kaum buruh, PKI tak luput untuk ikut merayakan

Hari Raya tersebut. Dari tahun ke tahun terus diperingati bahkan menjadi headline

pada koran Harian Rakjat.

Harian Rakjat dalam memperingati 1 Mei terdapat tulisan besar ―1 Mei 1964‖ disertai dengan gambar dunia (globe) dan kepalan dua tangan palu, salah

satunya memegang palu. Sementara judul headline tertulis besar, Perkuat

Persatuan Klas Buruh dan Persatuan Nasional untuk Memenangkan Offensif

Manipolis Sepenuhnya. Ada dua isu besar yang yang disampaikan pada perayaan

hari buruh itu, yang pertama adalah ―ganjang kesulitan ekonomi‖ dan kedua ―ganjang Malaysia‖.50

Mei tahun 1964, menjadi perayaan yang paling meriah di antara

tahun-tahun sebelumnya sebab dipersiapkan dengan matang. Selain itu, digunakan juga

49

Harian Rakjat, Rabu, 8 April 1964.

50

sebagai moment untuk menyambut Konferensi Buruh Asia-Afrika yang diadakan

pada tahun yang sama.51

Setahun kemudian, pada 30 April 1965, sehari sebelum perayaan Hari

Buruh, gambar serupa muncul kembali di halaman paling depan koran Harian

Rakjat. Bedanya, kali ini tak hanya kepalan tangan melainkan seorang pribumi

dengan tangan kanan memegang palu dan tangan kirinya mencekik seorang yang

kerdil yang disimbolkan sebagai kaum imperialis. Tak hanya itu, satu halaman

utama diisi penuh dengan laporan-laporan tentang buruh. Judul headline yang

tertulis besar adalah Klas Buruh Indonesia Harus Memahami sedalam-dalamnya

Tentang Berdikari dalam Ekonomi! Isinya untuk mengajak kaum buruh untuk

memahami kemandirian dalam ekonomi dan pengelolaan produksi.

Pada edisi 30 April 1965, Harian Rakjat, membuat lembaran ekstra dalam

rangka memperingati hari buruh. Lembaran itu lebih banyak mengungkap tentang

sejarah hari buruh dunia. Dikatakan bahwa,

―Pada tahun 1976, negeri-negeri kapitalis utama di dunia telah meningalkan tingkatannya yang lama, tingkat persaingan bebas, dan memasuki tingkatnya yang baru, tingkat monopoli atau imperialisme. Munculnya imperialisme menandakan suatu periode sejarah berakhirnya tingkat kapitalisme yang mengandung unsur-unsur progresif dan dimulainya tingkat kapitalisme yang menjurus ke bentuk-bentuk reaksi yang paling jahat. Periode itu pun dicirii juga oleh menajamnya perjuangan kelas dan berkembangnya pergerakan buruh di semua negeri kapitalis utama.‖52

Tuan tanah bernama Otto von Bismarck, pada tahun 1878, menjalan politik

licik dengan mengadudomba kelas buruh. Ia mendukung salah satu gerakan buruh

untuk menghancurkan gerkan buruh revolusioner. Politik Bismarck ini ditiru oleh

51

Harian Rakjat, 8 April 1964.

52

taun tanah lainnya dan terjadilah perjuangan kelas yang sengit. Ketika kapitalisme

Inggris menemui masa keemasannya pada kisaran tahun 1850-1875, kaum buruh

juga berbanding lurus, kekuatan buruh semakin kuat dan terbentuklah TUC

Inggris (Gabungan Serikat Buruh Inggris) tahun 1968. Delapan tahun kemudian,

anggota serikat itu berlipat empat kali. Namun jumlah itu menurun ketika terjadi

krisis ekonomi dunia pada tahun 1873. Melihat kenyataan tersebut, sayap kiri

gerakan tersebut yang pelopori oleh Tom Mann, Ben Tillet dan John Burns

melakukan pemogokan kaum buruh bersejarah. Gerakan ini juga melibatkan

Eleanor Aveling, putri Karl Marx sebagai sekretaris.

Pada periode yang sama, terjadi juga di Amerika Serikat, bahkan lebih

kejam. Hal ini memicu perang saudara. Pemogokan buruh dengan mengadakan

pembakaran besar-besaran pada tahun 1877 menjadi pemogokan yang penting

dalam sejarah Amerika. Gerakan ini terus menjalar dari New York, California,

Canada sampai Teluk Mexico. Pers tak lagi menyebutnya sebagai pemogokan

buruh, melainkan revolusi.

Pemogokan lainnya yang tak kalah terkenal adalah pemogokan buruh

tambang batu bara di Pensylvania. Pemogokan pertama kali itu berlangsung sangat

lama dari Desember 1874 sampai Juni 1875. Meski akhirnya tumbang oleh

kekuatan militer pemerintah, namun gerakan ini merupakan landasan penting bagi

terbentuknya United Mine Worker (Persatuan Buruh Tambang).

Puncak kesengitan perjuangan kelas ini adalah pemogokan umum

menuntut delapan jam kerja sehari pada 1 Mei 1886. Pemogokan bersejarah ini

korban jiwa berjatuhan dan pimpinan gerakan berakhir di tiang gantungan pada 11

November 1887. Mereka adalah Perons, Spies, Fischer, dan Engel. Sementara

pimpinan lainnya, Neebe, Schwab, dan Fileden dihukum penjara untuk waktu

yang lama. Selain itu, AFL harus berhadapan dengan musuh dari kelasnya yang

kuat adalah Knights of Labour, yang menganggap bahwa kaum kapitalis bukanlah

musuh. Meski begitu, gerakan 1 Mei yang diikuti oleh 350.000 buruh di Chicago

itu berhasil. 185.000 buruh bangunan mendapatkan tuntutannya. Setelahnya, lahir

gerakan dan sarekat buruh lainnya.

Pada Konggres Internasionale II tanggal 14 Juli 1889 di Paris, menerima

usulan delegasi Perancis dan Amerika untuk menjadikan 1 Mei sebagai hari

internasional bagi kaum buruh di seluruh dunia.

Di Indonesia, 1 Mei untuk pertama kalinya dirayakan di Surabaya tahun

1918 oleh anggota Angkatan Laut Hindia Belanda yang berorganisasi di bawah

ISDV (organisasi pertama di Indonesia yang berdasarkan Marxisme). Selanjutnya,

berdasarkan keputusan Presiden No. 24/1953, 1 Mei tidak hanya menjadi hari

besar kaum buruh, tetapi diakui sebagai hari besar umum, hari besar Nasional.53

PKI sebagai pengabdi kaum buruh, secara konsisten dan nyaris tiap hari

dalam Harian Rakjat menyuarakan kesejahteraan buruh, tapi pada Hari Raya

Buruh tersebut, dijadikan sebagai moment untuk lebih menggalakkan tuntutan

mereka. Tak hanya gegap gempita perayaan 1 Mei oleh PKI, tapi juga diadakan

aksi dan dilancarkannya berbagai tuntutan untuk kesejahteraan buruh dan upaya

nasionalisasi perusahaan asing. Seperti pada pascaperayaan 1 Mei 1961, tepatnya

53

3 Mei, buruh bersama-sama menuntut pengambilalihan modal Belanda di

perusahaan campuran.54

Melalui kedua cerpen di atas, bisa dilihat bahwa konflik yang terjadi dalam

cerpen sangat datar. Hal ini tidak terlepas dari upaya propaganda yang lebih berisi

tentang seruan atau pemberian pengertian tentang misi dari partai. Secara

konsisten, Sugiarti juga menampilkan hal serupa dalam kedua cerpennya yang

berjudul Luka Lama di Leher dan Orang Kedua.

Dalam cerpen Luka Lama di Leher, seorang lelaki, Djojo namanya,

menderita penyakit di lehernya. Sudah ia bawa berobat ke mana-mana tapi tak

juga sembuh. Penyakitnya itu sangat menyiksa. Jika datang rasa sakitnya, kerjanya

hanya marah-marah pada bininya. Sang istri selalu menyarankannya untuk

istirahat, sementara baginya, saran itu seperti racun.

Di tengah keributan rumah tangga itu, datanglah seorang pemuda. Djojo

sebagai orang tua merasa senang didatangi anak muda, itu artinya masih ada yang

peduli padanya. Ya, seluruh temannya sudah berusaha membantu untuk

kembuhkannya, tapi tetap nihil. Pemuda itu datang bukan membawa obat, tetapi

hanya mengajak Djojo berpikir dengan cara yang lain. Obat yang tepat bagi Djojo

sebenarnya adalah bekerja. Ia tak boleh punya waktu terlalu luang untuk berpikir.

Bertindak adalah obat paling tepat. Begitu ungkap pemuda itu.

Enam bulan kemudian, pemuda itu mendapat surat dari istri Djojo.

Katanya, suaminya sudah sembuh dan tidak kumat-kumat lagi. Di pegunungan, ia

telah menjadi fungsionaris Sarekat Buruh Perkebunan. Dengan begitu, ia banyak

54

menyelesaikan berbagai persoalan buruh di sana. Mereka mengucapakan terima

kasih pada pemuda itu.

Cerpen yang dimuat pada 31 Djuli 1961 ini merupakan simbolisasi dari

sikap seorang kader partai. Jika ia berdiri tegak dengan sikapnya yang memihak

kepada kaum proletar, penyakit akibat siksaan Jepang itu akan hilang pula. Akibat

siksaan itu, sang tokoh mengalami penyakit saraf yang membuatnya tak bisa

berbuat apa-apa, selain hanya marah-marah. Luka itu hanya sembuh dengan

bekerja. Hal ini memiliki pararelitas dengan kisah yang disampaikan oleh Aidit

dalam upayanya menjawab pandangan-pandangan peserta KSSR.

―… Orang yang mempunyai sikap yang tidak tepat, misalnya, yang di satu pihak lebih memilih jalan proletariat tetapi di pihak lain masih belum mau melepaskan diri sepenuhnya dari kelas borjuis kecilnya yang lama, dalam saat-saat yang menentukan orang demikian bisa menjadi bingung, dan kalau bingungnya keterlaluan ia bisa diserang penyakit syaraf. Sebaliknya saya mengenal beberapa kawan, yang karena penyakit TBC hanya tinggal satu paru-parunya, tapi sikapnya kuat, tidak pernah ragu tentang jalan proletariat dan jalan revolusi yang sudah dipilhnya; dalam saat-saat yang menentukan semangatnya malah menjadi lebih tinggi dari biasa, kegembiraannya bertambah dan dia jauh dari penyakit syaraf. Sudah tentu tidak semua kawan yang kena sakit syaraf disebabkan karena sikap kelasnya tidak teguh. Saya hanya ingin mengemukakan bahwa soal sikap sangat penting bagi seseorang yang mau berhasil dalam perjuangan