• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Gambaran Umum Wilayah Kabupaten Batu Bara

4.2.2 Perjuangan Pembentukan Kabupaten Batu Bara

Keinginan masyarakat di wilayah eks Kewedanaan Batu Bara untuk membentuk sebuah kabupaten otonom sudah dirintis sejak tahun 1957. Namun, akibat dinamika politik nasional hingga akhir tahun 60-an (1969) mengalami stagnasi yang kemudian masyarakat Batu Bara mengaspirasikan kembali dengan bergabungnya 5 (lima) kecamatan dalam sebuah misi mewujudkan kabupaten yaitu Kabupaten Batu Bara, maka dibentuklah Panitia Pembentukan Otonom Batu Bara (PPOB) yang diprakarsai oleh salah seorang tokoh masyarakat yang pernah menjadi Anggota DPRD Kebupaten Asahan. PPOB ini berkedudukan di Jalan Merdeka Kecamatan Tanjung Tiram. Karena Undang-undang Otonomi Daerah belum dikeluarkan oleh pemerintah, perjuangan ini tertunda untuk membentuk Kabupaten Batu Bara yang otonom.

Gambar. 2 Logo GEMKARA

Di era reformasi lebih kurang 30 tahun setelah terbakarnya kantor PPOB di Tanjung Tiram, pada tahun 1999 terbentuklah panitia pemekaran yaitu Badan Pekerja Persiapan Pembentukan Kabupaten Batu Bara (BP3KB) - Gerakan Masyarakat

Menuju Kesejahteraan Batu Bara (GEMKARA). Hal ini bertujuan untuk mewujudkan daerah (kabupaten) otonom sesuai dengan isyarat Undang-undang No. 22 Tahun 1999 yang sekarang direvisi menjadi Undang-undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.

Masyarakat Batu Bara menilai bahwa terbentuknya Kabupaten Batu Bara adalah hasil perjuangan masyarakat Batu Bara, dimana sejak dicetuskannya kembali pada tahun 1999 usaha dan keinginan masyarakat Batu Bara ditolak oleh Pemerintah Kabupaten Asahan.

Walaupun tidak direstui oleh Pemerintah Kabupaten Asahan, masyarakat Batu Bara yang tergabung dalam GEMKARA berupaya melakukan pendekatan persuasif kepada pemerintah provinsi dan pemerintah pusat, dengan prinsip “Surut Berpantang Batu Bara Harus Menjadi Kabupaten.” Adapun usaha perjuangan GEMKARA -BP3KB dalam mewujudkan Kabupaten Batu Bara adalah sebagai berikut :

1. Berdasarkan surat DPR Republik Indonesia No. PW.006/1538/DPR- RI/2005 tanggal 3 Maret 2005 Perihal Tindak Lanjut Pembentukan Kabupaten Batu Bara yang ditujukan kepada Pimpinan Komisi II DPR Republik Indonesia bahwa proses pembentukan Kabupaten Batu Bara di Kabupaten Asahan Provinsi Sumatera Utara telah diproses di Komisi II DPR Republik Indonesia yang telah diusulkan kepada Presiden Republik Indonesia lewat Usul Inisiatif DPR Republik Indonesia. Kemudian berdasarkan surat Gubernur Sumatera Utara yang diterbitkan pada tanggal 29 Januari 2004 No. 135/549/2004 ditujukan

kepada Bapak Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Perihal Kunjungan TIM DPOD. Pemerintah Provinsi Sumatera Utara berharap dengan DPRD Kabupaten Asahan yang telah tidak keberatan terhadap pembentukan Kabupaten Batu Bara dan DPRD Sumatera Utara juga telah merekomendasikan serta mendukung pembentukan Kabupaten Batu Bara, maka sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. 129 Tahun 2000 diharapkan Tim Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah (DPOD) dapat segera melaksanakan observasi ke daerah calon Kabupaten Batu Bara.

2. Sehubungan dengan sangat urgensinya usaha perjuangan pembentukan Kabupaten Batu Bara, berikut akan diuraikan dinamika berkaitan dengan apresiasi masyarakat yang tergabung dalam GEMKARA - BP3KB sebagai upaya perjuangan mewujudkan Kabupaten Batu Bara, yaitu sebagai berikut : a. Usaha pembentukan Kabupaten Batu Bara telah memasuki kurun waktu 5

(lima) tahun sejak dicetuskannya kembali pada tahun 1999 yang sebelumnya sudah pernah diperjuangkan pada tahun 1957. Pasca reformasi kurun waktu 1999 s/d 2001 aspirasi tersebut muncul kembali. Aspirasi sebagai cerminan demokrasi tersebut disambut dengan tidak harmonis dengan dikeluarkannya sebuah produk Peraturan Daerah No. 6 Tahun 2001 tentang Program Pembangunan Daerah (PROPEDA) yang bertentangan dengan aspirasi masyarakat dan peraturan pemerintah yang lebih tinggi. Isi PROPEDA tersebut tertuang pada angka 2 (dua) pada kegiatan pokok program pembangunan daerah yang menyebutkan bahwa “Upaya

rasionalisasi pola berpikir masyarakat melalui pendekatan persuasif, khususnya terhadap provokasi memisahkan diri dari wilayah Kabupaten Asahan, serta sosialisasi kepada masyarakat bahwa sampai pada tahun 2005 tidak ada Kabupaten Asahan.”

b. Pada tanggal 10 Oktober 2001 DPRD Sumatera Utara menerbitkan surat No. 4673/18/Sekr ditujukan kepada Gubernur Sumatera Utara bahwa DPRD Provinsi Sumatera Utara tidak keberatan terhadap Pemekaran Kabupaten Asahan menjadi Kabupaten Asahan dan Kabupaten Batu Bara sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan dan peraturan perundang- undangan, dan meminta kepada Gubernur Sumatera Utara menindaklanjuti usulan pembentukan Kabupaten Batu Bara.

c. Pada tanggal 19 Oktober 2001 Sekretariat DPR RI menerbitkan surat No.PW.006/5297/DPR-RI/2001 yang menjelaskan bahwa Pimpinan Komisi II DPR Republik Indonesia harus menindakianjuti kunjungan Wakil Ketua DPR Republik Indonesia/ Korinbang ke Kabupaten Asahan dan calon Kabupaten Batu Bara yang ditindaklanjuti dengan kedatangan delegasi GEMKARA - BP3KB yang menyerahkan Naskah Pengkajian Teknis Pemekaran Kabupaten Asahan menjadi Kabupaten Asahan dan Kabupaten Batu Bara diteruskan sebagai bahan masukan pada rapat dengan pasangan kerja Komisi II, khususnya Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia. d. Pada tanggal 5 Desember 2001 surat Gubernur Sumatera Utara

yang menerangkan bahwa pada dasarnya Pemerintah Provinsi Sumatera Utara tidak keberatan dengan aspirasi masyarakat Batu Bara dalam usaha pembentukan Kabupaten Batu Bara sepanjang tidak bertentangan dengan undang-undang dan peraturan yang berlaku.

e. Pada tanggal 24 Mei 2002 DPRD Kabupaten Asahan berdasarkan Peraturan Daerah Pemerintah Kabupaten Asahan No. 6 Tahun 2001 menolak aspirasi

masyaraakat Batu Bara dengan mengeluarkan surat keputusan No. 05/K/DPRD/2002 Tentang Penetapan Penolakan/ Tidak Menyetujui

Pemekaran Kabupaten Asahan Terhadap Pembentukan Kabupaten Batu Bara.

f. Surat bersifat penting pada tanggal 30 Juni 2002 ditujukan kepada Pimpinan DPR Republik Indonesia Perihal Penyampaian Usul RUU Inisiatif DPR Republik Indonesia tentang Pembentukan Kabupaten Luwu Timur, Mamuju Utara, Humbang Hasundutan, Serdang Jaya, Samosir dan Kabupaten Batu Bara. Pernyataan Usul Inisiatif tersebut di ajukan oleh 57 orang pengusul Anggota DPR Republik Indonesia yang selanjutnya keluarlah Rancangan Undang - undang Republik Indonesia Tanpa Nomor Tahun 2003 Tentang Pembentukan Kabupaten Humbang Hasundutan, Samosir, Serdang Jaya, dan Kabupaten Batu Bara di Provinsi Sumatera Utara.

g. Laporan Singkat Komisi II DPR Republik Indonesia membidangi MENDAGRI, DEPKEH dan HAM, Jaksa Agung, MENEG, LAN, BKN,

BPN, POLRI, dan Penegakan Hukum tanggal 3 Juli 2002 Tentang Penyampaian Aspirasi Pembentukan Kabupaten Batu Bara oleh GEMKARA - BP3KB. Rapat Sub Komisi II Pemerintahan Dalam Negeri dan Otonomi Daerah dengan GEMKARA - BP3KB dipimpin oleh Ketua Sub Otonomi Daerah Komisi II DPR Republik Indonesia Prof. DR. Manase

Malo dan pada tanggal 10 Juli 2002 DPR RI menerbitkan surat No. PW.00/602/Kom.II/VII/2002 kepada Bupati Asahan berkaitan dengan

Rencana dan Jadwal Kunjungan Sub Komisi Pemerintahan Dalam Negeri dan Otonomi Daerah Komisi II DPR Republik Indonesia. Kunjungan tersebut berdasarkan permohonan dari masyarakat yaitu GEMKARA - BP3KB melalui surat yang diterbitkan tanggal 04 Juli 2002. Dalam kunjungan tersebut Rombongan Tim Komisi II DPR Republik Indonesia yang terdiri dari :

1. Prof.DR.Manase Malo sekaligus menjabat sebagai Ketua Sub Komisi Pemerintahan Dalam Negeri dan Otonomi Daerah dari Fraksi PKB. 2. Hobbes Sinaga, SH, MA dari Fraksi PDIP.

3. Drs. Berny Tamara dari Fraksi PG.

4. Drs. H.A. Chozin Chumaidy dari Fraksi PPP. 5. Syaifullah Adnawi, SH dari Fraksi PKB.

6. H.Muttammimul Ula, SH dari Fraksi PBR/ Reformasi. 7. Kohirin Suganda dari Fraksi TNl/Polri.

9. Tjetje Rahawarin dari Fraksi PDI.

10.Erna Agustina, S.Sos sebagai Staf Komisi II DPR Republik Indonesia. h. Dalam prinsip hukum sebuah produk peraturan tidak boleh bertentangan

dengan peraturan dan atau undang-undang yang lebih tinggi diatasnya. Kehadiran Peraturan Daerah Pemerintah Kabupaten Asahan No. 6 Tahun 2001 pada dasarnya bertentangan dengan Undang-undang No. 22 Tahun 1999 dan Peraturan Pemerintah No. 129 Tahun 2000 sehingga pada tanggal 17 September 2002 Departemen Dalam Negeri Republik Indonesia menerbitkan surat No. 188.342/SJ kepada Bupati Asahan bahwa Departeman Dalam Negeri Republik Indonesia berpendapat bahwa Peraturan Daerah No. 6 Tahun 2001 khususnya angka 2 (dua) pada kegiatan pokok PROPEDA bertentangan dengan kepentingan umum, karena aspirasi masyarakat bukanlah ancaman tetapi merupakan kehidupan demokrasi yang perlu dibina dan diarahkan, sebab pemekaran daerah bertujuan untuk pendekatan pelayanan dan kesejahteraan masyarakat. Kemudian hal tersebut diminta kepada Bupati Asahan untuk mencabut/ merevisi Peraturan Daerah tersebut.

Pada tanggal 24 September 2003 Menteri Dalam Negeri menerbitkan Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri No. 76 Tahun 2003 Tentang Pembatalan angka 2 (dua) pada Kegiatan Pokok Program Pembangunan Daerah Peraturan Daerah Kabupaten Asahan No. 6 Tahun 2001 tanggal 24 September 2003 Tentang Program Pembangunan Daerah (PROPEDA).

Seminggu berselang setelah terbitnya Keputusan Menteri Dalam Negeri No. 76 Tahun 2003 pada tanggal 3 Oktober 2003 Bupati Asahan menyatakan keberatan atas Keputusan Menteri Dalam Negeri No. 76 Tahun 2003 tanggal 24 September 2003 yang disampaikan melalui surat No. 180/8376 ditujukan kepada Menteri Dalam Negeri.

i. Pada tanggal 4 November 2003 Menteri Dalam Negeri menjawab surat Bupati Asahan No. 180/8376 melalui penerbitan surat No. 188.42/2764/SJ ditujukan Kepada Bupati Asahan bahwa Menteri Dalam Negeri keberatan/menolak terhadap permohonan Bupati Asahan untuk mempertimbangkan pembatalan Keputusan Menteri Dalam Negeri No. 76 Tahun 2003. Surat tersebut juga ditujukan kepada Mahkamah Agung sebagai dasar permohonan Yudicial Review. Atas sikap Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia tanggal 7 Juni 2004 No. KMA/354/VI/2004 yang juga ditujukan kepada Saudara OK. Arya Zulkarnain, SH, MM selaku Ketua Umum Badan Pekerja Persiapan Pembentukan Kabupaten Batu Bara (BP3KB) perihal mohon penjelasan tertulis atas surat Bupati Asahan No.180/8376 tanggal 3 Oktober 2003 dan No. 180/8308 tanggal 13 Oktober 2003. Dalam surat tersebut dijelaskan bahwa Mahkamah Agung tidak ada kompetensi mengenai pembentukan kabupaten. Artinya bahwa surat permohonan fatwa yang dilakukan oleh Bupati Asahan adalah salah alamat karena Mahkamah Agung tidak memiliki kompetensi terhadap persoalan pembentukan kabupaten.

Kehadiran Keputusan Menteri Dalam Negeri No. 76 Tahun 2003 telah merubah pendirian sebagian Anggota DPRD Kabupaten Asahan sehingga lahirlah Jadwal Paripurna Khusus DPRD Kabupaten Asahan yang tertuang dalam surat DPRD Kabupaten Asahan No. 005/2822 tentang Undangan Sidang Paripurna Khusus DPRD Kabupaten Asahan dengan agenda : (1) Pengajuan Usul Pernyataan Pendapat 21 (dua puluh satu) orang Anggota DPRD Kabupaten Asahan untuk memperjuangkan aspirasi masyarakat dalam usaha pembentukan Kabupaten Batu Bara; (2) Pandangan terhadap pengajuan usul pernyataan pendapat 21 (dua puluh satu) orang Anggota DPRD Kabupaten Asahan; (3) Bupati Asahan menyatakan pendapat tentang pengajuan usul pernyataan pendapat 21 (dua puluh satu) orang Anggota DPRD Kabupaten Asahan; (4) Pernyataan pendapat 21 (dua puluh satu) orang Anggota DPRD Kabupaten Asahan memberikan jawaban atas pandangan Anggota DPRD Kabupaten Asahan; (5) Penetapan keputusan DPRD Kabupaten Asahan menerima atau menolak pernyataan pendapat Anggota DPRD Kabupaten Asahan menjadi pernyataan DPRD Kabupaten Asahan.

Dalam Rapat Paripurna Khusus yang telah dijadwalkan mengalami kekisruhan yang disebabkan munculnya kelompok-kelompok yang mengahalangi berjalannya sidang paripurna. Intimidasi, teror dan penyanderaan yang dilakukan kepada Anggota DPRD Kabupaten Asahan

ketika mengajukan usul pernyataan pendapat untuk menggagalkan sidang paripurna tersebut.

Akibat aksi teror tersebut, 21 (dua puluh satu) orang Anggota DPRD Kabupaten Asahan yang mengajukan usul pernyataan pendapat melaporkan persoalan sekitar intimidasi ketika dalam menjalankan proses demokratisasi kepada Gubernur Sumatera Utara, Komisi II DPRD Provinsi Sumatera Utara, Departemen Dalam Negeri, Komisi Pemerintahan Dalam Negeri dan Otonomi Daerah Komisi II DPR Republik Indonesia pada tanggal 28 Oktober 2002. Kemudian pada tanggal 11 Nopember 2002 DPRD Provinsi Sumatera Utara menerbitkan surat No. 6934/18/Sekr yang ditujukan kepada Gubernur Sumatera Utara yang menyatakan bahwa aspirasi masyarakat dari 3 (tiga) Kabupaten (Asahan, Tapanuli Selatan dan Simalungun) yang menginginkan pemekaran disikapi dan direspon secara positif oleh DPR Republik Indonesia dan Departemen Dalam Negeri. Khusus Kabupaten Asahan, Gubernur Sumatera Utara harus mengambil langkah-langkah preventif guna menghindari terjadinya konflik horizontal yang disebabkan adanya masyarakat yang pro dan kontra. Selanjutnya DPR Republik Indonesia dalam hal ini Komisi II DPR Republik Indonesia akan mengagendakan Rapat Kerja dengan Menteri Dalam Negeri dengan mengikutsertakan Gubernur Sumatera Utara, DPRD Sumatera Utara, Bupati Asahan, Bupati Tapanuli Selatan dan Bupati Simalungun serta Panitia Pemekaran dari 3 (tiga) kabupaten tersebut.

Melihat konflik horizontal yang terjadi di Kabupaten Asahan berkenaan dengan aspirasi masyarakat Batu Bara, Pemerintah Provinsi Sumatera Utara menerbitkan surat tanggal 22 Oktober 2002 No. 9582/Sekr/X/2002 yang ditujukan kepada Bupati Asahan, bahwa Bupati Asahan agar mengupayakan terpeliharanya iklim yang kondusif, mencegah terjadinya bentrokan massa serta akses-akses yang ditimbulkan oleh penggunaan kekuatan massa berkaitan pro dan kontra pembentukan Kabupaten Batu Bara.

DPRD Provinsi Sumatera Utara juga mengambil sikap tegas hingga menerbitkan surat tanggal 22 Oktober 2002 No. 6597/18/Sekr yang ditujukan kepada Ketua DPR Republik Indonesia dan Menteri Dalam Negeri Perihal Pemekaran Kabupaten Asahan, bahwa DPRD Provinsi Sumatera Utara setelah mempelajari, maka pada prinsipnya DPRD Provinsi Sumatera Utara tidak keberatan dan menudukung sepenuhnya terhadap Usul Pembentukan Kabupaten Batu Bara.

j. Ketika surat Gubernur Sumatera Utara tanggal 25 Oktober 2002 No. 136/8953/2002 Perihal Pemekaran Kabupaten Asahan yang menyatakan bahwa implementasi otonomi harus dilakukan menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat sesuai dengan peraturan perundang-undangan dan peraturan daerah tidak boleh bertentangan dengan kepentingan umum, peraturan daerah lain dan peraturan perundang- undangan yang lebih tinggi. Kemudian, terbit pula surat Ketua-ketua Fraksi DPRD Kabupaten Asahan tanggal 2 Desember 2003 ditujukan kepada

Ketua DPRD Kabupaten Asahan yang menjelaskan bahwa untuk sesegera mungkin menyikapi proses pembentukan Kabupaten Batu Bara sesuai dengan hasil Rapat Pimpinan DPRD Kabupaten Asahan, dimana Ketua - ketua Fraksi yang ada di DPRD Kabupaten Asahan demi untuk memenuhi aspirasi masyarakat, maka dibuatlah rekomendasi untuk memekarkan Kabupaten Asahan menjadi Kabupaten Asahan dan Kabupaten Batu Bara. k. Pada tanggal 3 Desember 2003 DPRD Kabupaten Asahan menerbitkan

surat No. 135/3044 yang ditujukan kepada Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Perihal Menyikapi Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri No. 76 Tahun 2003. Surat tersebut menyatakan bahwa DPRD Kabupaten Asahan menampung dan tidak keberatan terhadap aspirasi masyarakat Batu Bara serta akan meneruskan aspirasi masyarakat Batu Bara tersebut kepada Pemerintah Pusat. Hal ini terjadi akibat Bupati Asahan tetap menolak pemekaran Kabupaten Asahan menjadi Kabupaten Asahan dan Kabupaten Batu Bara dan tidak mengindahkan Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri No. 76 Tahun 2003 serta menolaknya dengan surat Bupati Asahan No. 180/8376 tanggal 3 Maret 2003. Dengan kondisi ini, menyerahkan sepenuhnya kepada kebijakan Pemerintah Pusat untuk mengambil langkah- langkah preventif, persuasif untuk mencegah terjadinya konflik horizontal. Agar tidak terjadinya konflik horizontal yang berkepanjangan di Kabupaten Asahan, maka DPRD Kabupaten Asahan meminta Pemerintah Pusat untuk

dapat mengambil kebijaksanaan yang harus diterima dalam waktu tidak terlampau lama.

l. Pada tanggal 19 Desember 2003 Gubernur Sumatera Utara menerbitkan surat No. 135/11567 yang ditujukan kepada Bapak Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Perihal Penyampaian Usul Pembentukan Kabupaten Batu Bara dan surat Ketua DPRD Provinsi Sumatera Utara tanggal 24 Desember 2003 No. 6300/18/Sekr yang ditujukan kepada Bapak Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Perihal Usul Pembentukan Kabupaten Batu Bara.

m. Terbit surat DPRD Provinsi Sumatera Utara No. 291/18/Sekr tanggal 17 Januari 2003 Perihal Pemekaran Wilayah ditujukan kepada Pimpinan DPR Republik Indonesia Cq. Ketua Komisi II DPR Republik Indonesia dan terbit kembali surat DPRD Kabupaten Asahan tanggal 28 Mei 2004 No. 135/990 ditujukan kepada Bupati Asahan agar Menerbitkan Rekomendasi Persetujuan Pembentukan Kabupaten Batu Bara.

n. Berdasarkan aspirasi masyarakat Batu Bara dan kemauan politik Pemerintah Kabupaten Asahan dan DPRD Kabupaten Asahan maka dicantumkanlah Biaya Pembentukan Kabupaten Batu Bara dianggarkan dalam APBD Kabupaten Asahan Tahun 2005, hal ini juga senada dengan Surat Keputusan Gubernur Sumatera Utara No. 903/2650.K/2005 tentang Bantuan Dana dalam APBD Provinsi Sumatera Utara bagi calon Kabupaten

Batu Bara di Wilayah Provinsi Sumatera Utara kepada Departemen Dalam Negeri Republik Indonesia dan Komisi II DPR Republik Indonesia.

o. Sikap inkonsistensi lembaga DPRD Kabupaten Asahan terhadap aspirasi masyarakat Batu Bara dalam usaha mewujudkan Kabupaten Batu Bara terobati dengan terbentuknya Panitia Khusus Pemekaran Wilayah Kabupaten Asahan oleh DPRD Kabupaten Asahan.

p. Dari data administratif yang perlu dilengkapi dalam rangka pemekaran wilayah Kabupaten Asahan untuk pembentukan Kabupaten Batu Bara sebagaimana yang telah diisyaratkan oleh Departemen Dalam Negeri dari 12 (dua belas) yang harus dipenuhi telah terlengkapi, yaitu sebagai berikut :

1. Adanya aspirasi masyarakat untuk pembentukan Kabupaten Batu Bara

yang di sampaikan oleh GEMKARA - BP3KB surat No. 11/BP3KB.III/2002 tanggal 11 Maret 2002.

2. Surat Keputusan DPRD Kabupaten Asahan No.23/K/DPRD/2005 tanggal 4 Agustus 2005 Perihal Persetujuan Pemekaran Wilayah Kabupaten Asahan menjadi Kabupaten Asahan dan Kabupaten Batu Bara.

3. Surat Usulan Pemekaran Wilayah Kabupaten Asahan menjadi Kabupaten Asahan dan Kabupaten Batu Bara oleh Bupati Asahan No.130/4634 tanggal 11 Juli 2005.

4. Surat Keputusan DPRD Provinsi Sumatera Utara No.11/K/2005 tanggal 18 Oktober 2005 Perihal Persetujuan Pemekaran Wilayah Kabupaten Asahan menjadi Kabupaten Asahan dan Kabupaten Batu Bara.

5. Surat Usulan Pemekaran Wilayah Kabupaten Asahan menjadi Kabupaten Asahan dan Kabupaten Batu Bara dari Gubernur Sumatera Utara No.130/7186 tanggal 27 Oktober 2005.

6. Kajian Pemekaran Wilayah Kabupaten Asahan menjadi Kabupaten Asahan dan Kabupaten Batu Bara oleh Pemerintah Kabupaten Asahan. 7. Peraturan Daerah Kabupaten Induk (Kabupaten Asahan) tentang

Pembentukan Kecamatan No.28 Tahun 2000.

8. Peta wilayah Kabupaten Batu Bara sebagai calon kabupaten yang akan dibentuk dan dilegalisir oleh Pemerintah Kabupaten Asahan dan kabupaten/kota yang berbatasan dengan calon kabupaten.

9. Surat Keputusan DPRD Kabupaten Asahan tentang penetapan Ibukota Kabupaten Batu Bara No. 24/K/DPRD/2005 tanggal 4 Agustus 2005. 10.Surat Keputusan DPRD Kabupaten Asahan tentang Kesanggupan

Dukungan Dana dari Kabupaten Induk selama 3 (tiga) tahun berturut- turut No.25/K/DPRD/2005 tanggal 4 Agustus 2005.

11.Surat Keputusan Gubernur Sumatera Utara untuk mengalokasikan dana bantuan kepada kabupaten yang baru dibentuk (Kabupaten Batu Bara) dari APBD Provinsi selama 3 (tiga) tahun berturut-turut No.903/2650.K/2005 tanggal 20 Desember 2005, dan

12.Formulir isian data kelengkapan calon daerah otonom baru yang diisi oleh pemerintahan kabupaten ditandatangani oleh Bupati dan Ketua DPRD Kabupaten Asahan.

Aspirasi masyarakat menuntut pemekaran wilayah Kabupaten Batu Bara yang disampaikan pada waktu expose. Berdasarkan data yang ada, secara tertulis aspirasi masyarakat terdiri dari :

1. Anggota-anggota Alim Ulama dan Umat Kristen – Budha.

2. Kelompok masyarakat alim ulama, cerdik pandai, tokoh

masyarakat dan ketua adat.

3. Lembaga adat Kabupaten Asahan.

4. Kelompok masyarakat desa.

5. Pemuda, wanita, perantauan, pemuka adat di rantau.

Sesuai dengan hasil konfirmasi dengan berbagai kalangan masyarakat yang ada di wilayah Batu Bara sangat mendukung pemekaran Kabupaten Asahan menjadi Kabupaten Asahan dan Kabupaten Batu Bara melalui surat dukungan serta keikut sertaan masyarakat pada saat expose.

Selanjutnya dengan memperhatikan aspirasi masyarakat yang dituangkan dalam Keputusan DPRD Kabupaten Asahan No. 23/K/DPRD/2005 tentang Persetujuan Pemekaran Wilayah Kabupaten Asahan untuk Pembentukan Kabupaten

Batu Bara dan Keputusan DPRD Kabupaten Asahan No. 25/K/DPRD/2005 tanggal 4 Agustus 2005 tentang Kesanggupan Dukungan Dana kepada Pemerintah Kabupaten Baru Hasil Pemekaran Kabupaten Asahan dan Keputusan DPRD Provinsi Sumatera Utara No. 11/K/2005 tanggal 18 Oktober 2005 tentang Persetujuan Terhadap Rencana Pemekaran Kabupaten Batu Bara di Provinsi Sumatera Utara. Berdasarkan hal tersebut Pemerintah telah melakukan kajian secara mendalam dan menyeluruh mengenai kelayakan pembentukan daerah dan berkesimpulan bahwa Pemerintah perlu membentuk Kabupaten Batu Bara.

Beberapa waktu berselang kemudian, proses pemekaran wilayah Kabupaten Batu Bara dari laporan hasil kunjungan kerja (Tim Kerja II PAH I Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia) di Provinsi Sumatera Utara pada tanggal 20 s/d 22 Juni 2006 yang membidangi masalah pemekaran wilayah, diberikan tugas dan wewenang untuk melakukan pengkajian dan penyusunan Rancangan Undang - undang tentang pembentukan provinsi/ kabupaten dan ibukota.

Dalam melakukan kunjungan kerja di Provinsi Sumatera Utara telah ditinjau calon Kabupaten Batu Bara yang merupakan pemekaran Kabupaten Asahan, calon Kabupaten Labuhan Batu Utara dan calon Kabupaten Selatan yang merupakan pemekaran dari Kabupaten Labuhan Batu, khususnya masalah letak calon ibukota/ calon kabupaten daerah pemekaran.

1. Kecamatan Lima Puluh sebagai calon Ibukota Batu Bara pemekaran dari Kabupaten Asahan.

2. Calon Kabupaten Labuhan Batu Selatan di Kota Pinang.

3. Calon Kabupaten Labuhan Batu Utara di Kota Aek

Kanopan.

Tabel. 11 Anggota Tim Kerja II PAH I DPD Republik

Indonesia yang melakukan kunjungan kerja ke Provinsi Sumatera Utara pada tanggal 20 s/d 22 Juni 2006 terdiri dari :

NO N A M A PROVINSI

1 Drs.H.M. Kafrawi Rahim (Ketua Tim Kerja II)

Sumatera Selatan

2 Lundu Panjaitan, SH Sumatera Utara

3 Drs. Roger Tabigoin Sumatera Tengah

4 Hj. Hariyanti Safrin, SH Lampung

5 Hj. Djamila Somad, B.Sc Bangka Belitung

6 Drs. H. Hasan Jambi

7 Drs. A.D. Khaly Gorontalo

8 Drs.H. Harun Al Rasyid, M.Si NTB

9 K.H. Sofyan Yahya, M.A Jawa Barat

Kunjungan Tim Kerja II PAH I DPD Republik Indonesia di Provinsi Sumatera Utara untuk menindaklanjuti aspirasi masyarakat untuk pemekaran calon-calon kabupaten :

1. Calon Kabupaten Batu Bara sebagai pemekaran dari Kabupaten Asahan dengan Ibukota Kecamatan Lima Puluh.

2. Calon Kabupaten Labuhan Batu Selatan sebagai

pemekaran dari Kabupaten Labuhan Batu dengan Ibukota Kota Pinang.

3. Calon Kabupaten Labuhan Batu Utara sebagai pemekaran

dari Kabupaten Labuhan Batu dengan Ibukota Aek Kanopan.

Proses acara kunjungan Tim Kerja II PAH I DPD Republik Indonesia di Provinsi Sumatera Utara meliputi :

1. Pertemuan dengan Asisten I Gubernur Sumatera Utara,

Muspida dan Anggota DPRD Provinsi Sumatera Utara dengan hasil pertemuan :

a. Pemerintah Provinsi Sumatera Utara sudah memberikan

rekomendasi ke Menteri Dalam Negeri tentang pembentukan pemekaran 3 (tiga) kabupaten, yaitu :

1. Calon Kabupaten Batu Bara sebagai pemekaran dari Kabupaten Asahan.

2. Calon Kabupaten Labuhan Batu dimekarkan menjadi

2 (dua) :

a. Calon Kabupaten Labuhan Batu Utara

b. Calon Kabupaten Labuhan Batu Selatan

3. Pemekaran di Tapanuli Selatan

Dokumen terkait