• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV: berisi penutup yang terdiri dari kesimpulan dari penelitian ini dan saran

TINJAUAN PUSTAKA

C. Perkawinan dan Perceraian bagi PNS

Mengenai perkawinan dan perceraian anggota Pegawai Negeri Sipil (PNS), telah diatur dalam UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, PP No. 10 Tahun 1983 tentang Izin Perkawinan dan Perceraian bagi Pegawai Negeri Sipil dan PP No. 45 Tahun 1990 tentang Perubahan Atas PP No. 10 Tahun 1983 tentang Izin Perkawinan dan Perceraian Bagi Pegawai Negeri Sipil.

Seperti yang sudah dijelaskan pada Pasal 1 ayat 1 UU No. 1 Tahun 1974, bahwa perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan untuk membentuk keluarga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa, Karena tujuan perkawinan adalah membentuk keluarga yang bahagia dan kekal, maka perceraian sejauh mungkin dihindarkan dan hanya dapat dilakukan dalam keadaan yang sangat terpaksa. Perceraian hanya dapat dilakukan apabila ada alasan tertentu sebagaimana dinyatakan dalam Perundang-undangan.21

PNS adalah unsur aparatur negara, abdi negara dan abdi masyarakat yang harus menjadi teladan yang baik bagi masyarakat dalam bertingkah

20 Moh Zahid, Pelaksanaan Undang-Undang Perkawinan, (Jakarta : Departemen Agama RI Badan Litbang dan Diklat Keagamaan, 2002), 81.

21 Soegeng Prijodarminto, Duri dan Mutiara dalam Kehidupan Perkawinan Pegawai Negeri Sipil, (Jakarta: PT. Pradnya Paramita, 1994), 21.

laku, tunduk dan patuh kepada peraturan perundang-undangan yang berlaku, termasuk dalam menyelenggarakan kehidupan berkeluarga dan bermasyarakat.

Sehubungan dengan contoh dan keteladanan yang harus diberikan oleh PNS kepada bawahannya dan masyarakat, maka kepada PNS dibebankan ketentuan disiplin yang tinggi. Baik saat mau melakukan perkawinan pertama, perkawinan lebih dari seorang dan perceraian. Untuk melakukan itu, seorang PNS harus memperoleh izin terlebih dahulu dari atasan atau pejabat yang bersangkutan. Bagi PNS laki-laki diperkenankan untuk melakukan perkawinan lebih dari seorang, sementara PNS wanita sesuai dengan PP. RI. No. 10 Tahun 1983 Juncto PP. RI. No. 45 Tahun 1990 tidak diperkenankan menjadi istri kedua/ketiga/keempat dari seorang PNS maupun yang bukan PNS. Demikian juga PNS yang akan melakukan perceraian harus memperoleh izin terlebih dahulu dari pejabat setempat.

Yang dimaksud dengan PNS dalam Pasal 1 PP No.10 Tahun 1983 adalah semua unsur aparatur Negara, yaitu: 1) Pegawai Bulanan disamping pensiun; 2) Pegawai Bank milik Negara; 3) Pegawai Badan Usaha milik Negara; 4) Pegawai Bank milik Daerah; 5) Pegawai Badan Usaha milik Daerah; 6) Kepala Desa, Perangkat Desa, dan petugas yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di Desa;

Yang dimaksud Pejabat adalah: 1) Menteri; 2) Jaksa Agung; 3) Pimpinan Lembaga Pemerintah Non Departemen; 4) Pimpinan Kesekretariatan Lembaga Tertinggi/Tinggi Negara; 5) Gubernur Kepala

Daerah Tingkat I; 6) Pimpinan Bank milik Negara; 7) Pimpinan Badan Usaha milik Negara; 8) Pimpinan Bank milik Daerah; 9) Pimpinan Badan Usaha milik Daerah;

1. Perkawinan PNS

Pada Pasal 2 dalam UU No. 10. 1983 mewajibkan bagi PNS yang akan melangsungkan perkawinan pertama, wajib memberitahukannya secara tertulis kepada pejabat melalui saluran hirarki dalam waktu selambat-lambatnya 1 (satu) tahun setelah perkawinan itu dilangsungkan. Pemberitahuan tersebut juga berlaku bagi PNS yang telah menjadi duda/janda yang akan melangsungkan perkawinan lagi.

PNS pria yang akan beristri lebih dari seorang, wajib memperoleh izin lebih dahulu dari Pejabat. Sementara bagi PNS wanita tidak diperkenankan untuk menjadi istri kedua/ketiga/keempat dari pria PNS maupaun bukan PNS. Selain itu, permintaan izin tersebut wajib diajukan secara tertulis sekaligus juga disertai alasan lengkap yang mendasar mengenai tujunnya utk menikah lagi atau untuk menjadi istri kedua/ketiga dan keempat dari non PNS.

Kewajiban pelaporan di atas sangat penting untuk kepentingan PNS yang bersangkutan, agar dengan demikian suami atau istrinya tercatat secara resmi, dan juga dapat memperoleh haknya sebagai suami istri berupa tunjangan suami istri sebesar 5% dari gaji pokok yang diterima di tiap bulannya.

Sebaliknya, bagi pihak instansi/departemen akan mengurus kartu suami/istri (karsi/karsul) PNS yang bersangkutan. Dengan dipenuhinya kewajiban ini, atasan PNS juga mengetahui perubahan status bawahannya, dari status seorang bujangan (lajang) menjadi status telah bersuami/istri/berkeluarga/berumah tangga.

2. Perceraian PNS

Bagi Pegawai Negeri Sipil yang akan melakukan perceraian wajib memperoleh izin lebih dahulu dari Pejabat. Untuk memperoleh izin yang tersebut, yang bersangkutan wajib mengajukan surat izin tertulis sekaligus disertai alasan lengkap yang mendasari permintaan izin perceraiannya (Pasal 3).

Kewajiban ini dimaksudkan sebagai konsekuensi dari kedudukannya sebagai Pegawai Negeri Sipil sebagai aparatur negara, abdi negara, dan abdi masyarakat, agar dengan demikian suatu perceraian hanya akan ditempuh sebagai upaya akhir apabila usaha-usaha lain tidak berhasil. Kewajiban ini juga dimaksudkan agar menyadarkan Pegawai Negeri Sipil bahwa prinsip perkawinan adalah untuk mewujudkan kehidupan rumah tangga yang bahagia dan kekal, oleh karena itu perceraian sangat dipersulit. Dengan kewajiban mengajukan izin tersebut juga dimaksudkan untuk memberi kesempatan kepada atasan, serta pejabat untuk mengupayakan rukun kembali.

3. Syarat-syarat Perceraian PNS

Alasan-alasan yang sah bagi PNS untuk melakukan perceraian adalah salah satu atau lebih alasan sebagai berikut :

a. Salah satu pihak berbuat zina, yang dibuktikan dengan 1) Keputusan Pengadilan, 2) Surat pernyataan sekurang-kurangnya dua orang saksi yang telah dewasa yang melihat perzinahan itu

b. Salah satu pihak menjadi pemabuk, pemadat, atau penjudi yang sukar disembuhkan, yang dibuktikan dengan 1) Surat pernyataan dari dua orang saksi yang telah dewasa yang mengetahui perbuatan itu, yang diketahui oleh pejabat berwajib serendah-rendahnya Camat, 2) Surat keterangan dari dokter atau polisi yang menerangkan bahwa menurut hasil pemeriksaan, yang bersangkutan telah menjadi pemabuk, pemadat, atau penjudi yang sukar disembuhkan. c. Salah satu pihak meninggalkan pihak lain selama dua tahun

berturut-turut tanpa izin dari pihak lain dan tanpa alasan yang sah, yang dibuktikan dengan Surat keterangan dari Kepala Kelurahan/Kepala Desa yang disahkan oleh pejabat berwajib serendah-rendahnya Camat.

d. Salah satu pihak mendapat hukuman penjara lima tahun atau hukuman yang lebih berat setelah perkawinan berlangsung,

yang dibuktikan dengan Keputusan Pengadilan yang telah mempunyai kekauatan hukum yang tatap.

e. Salah satu pihak melakukan kekejaman atau penganiayaan berat yang membahayakan pihak lain, yang dibuktikan dengan visume et repertum dari dokter Pemerintah.

f. Antara suami dan istri terus menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran dan tidak ada harapan untuk hidup rukun lagi dalam rumah tangga, yang dibuktikan dengan Surat pernyataan dari Kepala Lurah/ Desa yang disahkan oleh pejabat yang berwenang serendah-rendahnya Camat.22

Menurut Pasal 7 ayat 2 Peraturan Pemerintah No. 10 Tahun 1983, istri yang cacat badan atau penyakit dengan akibat tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri, tidak dapat dijadikan alasan untuk melakukan perceraian. Alasan ini hanyalah dapat dijadikan sebagai salah satu syarat alternatif bagi PNS pria untuk melakukan poligami.

Bagi atasan yang menerima permintaan izin dari PNS dalam lingkungannya, baik untuk melakukan perceraian, atau untuk beristri lebih dari seorang, maupun untuk menjadi istri kedua/ketiga/keempat, wajib memberikan pertimbangan dan meneruskannya kepada Pejabat melalui

saluran hirarki dalam jangka waktu selambat-lambatnya 3 (tiga) bulan terhitung mulai tanggal ia menerima permintaan izin dimaksud.

Pejabat yang menerima permintaan izin untuk melakukan perceraian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 wajib memperhatikan dengan seksama alasan-alasan yang dikemukakan dalam surat permintaan izin dan pertimbangan dari atasan PNS yang bersangkutan. Apabila alasan dan syarat-syarat yang dikemukakan dalam permintaan izin tersebut kurang meyakinkan maka Pejabat harus meminta keterangan tambahan dari istri/suami dari PNS yang mengajukan permintaan izin itu atau dari pihak lain yang dipandang dapat memberikan keterangan yang meyakinkan. Sebelum mengambil keputusan, Pejabat berusaha lebih dahulu merukunkan kembali suami istri yang bersangkutan dengan cara memanggil mereka secara langsung untuk diberi nasehat.

4. Konsekwensi Hukum Perceraian Bagi PNS

Pada Pasal 8 PP No. 10 tahun 1983; Apabila perceraian terjadi atas kehendak PNS pria, maka ia wajib menyerahkan sebagian gajinya untuk penghidupan bekas istri dan anak-anaknya. Pembagian gaji sebagaimana dimaksud di atas, ialah sepertiga untuk PNS pria yang bersangkutan, sepertiga untuk bekas istrinya, dan sepertiga untuk anak atau anak-anaknya. Apabila dari perkawinan tersebut tidak ada anak maka bagian gaji yang wajib diserahkan oleh PNS pria kepada bekas istrinya ialah setengah dari gajinya.

Pembagian gaji kepada bekas istri tidak diberikan apabila alasan perceraian disebabkan karena istri berzinah, dan atau melakukan kekejaman atau penganiayaan berat baik lahir maupun batin terhadap suami, dan atau istri menjadi pemabuk, pemadat, dan penjudi yang sukar disembuhkan, dan atau istri telah meninggalkan suami selama dua tahun berturut-turut tanpa izin suami dan tanpa alasan yang sah atau karena hal lain diluar kemampuannya.”

Apabila perceraian terjadi atas kehendak istri, maka ia tidak berhak atas bagian penghasilan dari bekas suaminya. Namun, ketentuan ini tidak berlaku, apabila istri meminta cerai karena dimadu. Apabila bekas istri PNS yang bersangkutan kawin lagi, maka haknya atas bagian gaji dari bekas suaminya menjadi hapus terhitung mulai ia kawin lagi.

D. Rekonvensi

Rekonvensi yaitu gugatan yang diajukan oleh tergugat sebagai gugatan balasan terhadap gugatan yang diajukan oleh penggugat kepada si tergugat. Gugatan rekonvensi, diajukan oleh tergugat kepada Pengadilan Agama, pada waktu berlangsungnya proses pemeriksaan gugatan yang diajukan oleh penggugat. Gugatan rekonvensi ialah gugatan balik yang diajukan oleh tergugat terhadap penggugat pada suatu proses perkara yang sedang berjalan atau sedang ditangani. Sebagai contoh: suami selaku pemohon, kemudian pihak istri selaku termohon

menuntut kepada pihak suami sebagai pemohon asal perihal nafkah wajib, mut’ah kiswah, mas kawin dan pemeliharaan anak.23

Beberapa syarat gugat rekonvensi diajukan dimuka persidangan Pengadilan Agama, yakni :

1. Gugatan rekonvensi harus diajukan bersama-sama dengan jawaban pertama oleh tergugat baik tertulis maupun dengan lisan.

2. Tidak dapat diajukan dalam tingkat banding, bila dalam tingkat pertama tidak diajukan.

3. Penyusunan gugatan rekonvensi sama dengan gugatan konvensi.

Dokumen terkait