PERKAWINAN SASUKU DI MINANGKABAU A. Pengertian Perkawinan Sasuku
1. Perkawinan Menurut Hukum Adat Minangkabau
Perkawinan menurut hukum adat bagi masyarakat hukum adat di Indonesia pada umumnya bagi penganut agama tergantung agama yang dianut
97 Amir Syarifudin, Hukum Perkawinan Islam: Antara Fiqih Munakahat dan Undang-undang Perkawinan,…, hal.133
masyarakat adat yang bersangkutan. Maksudnya apabila telah dilaksanakan menurut tata tertib hukum agamanya, maka perkawinan itu sudah sah menurut hukum adat kecuali bagi mereka yang belum menganut hukum agama yang diakui pemerintah.98
Hukum adat adalah hukum yang tidak tertulis yang menjadi pedoman atau aturan yang mengatur kehidupan masyarakat. Hukum yang tidak tertulis mempunyai sifat dinamis dan berubah mengikuti perkembangan zaman.
Menurut hukum adat maka perkawinan itu adalah urusan kerabat, urusan masyarakat, urusan derajat, dan urusan pibadi satu sama lain dalam hubungannya yang sangat berbeda-beda.99
Perkawinan menurut pengertian di Minangkabau adalah pembentukan suatu ke luarga yang dilakukan dengan ikatan pribadi antara seorang pria dengan wanita untuk membentuk sebuah ke luarga dan berkembang biak. Pernikahan ini harus melakukan persetujuan dan restu dari semua sanak family, karena pernikahan di tempatkan sebagai urusan kaum kerabat yang berperan serta selama terjadinya proses perkawinan, mulai dari mencari pasangan, membuat persetujuan, pertunangan dan pernikahan.100
Minangkabau (Sumatera Barat) merupakan suatu tempat atau wilayah bahagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang mana masyarakatnya disusun menurut sistem garis keturunan ibu (matrilineal) mulai dari lingkungan yang paling kecil yakni ke luarga sampai kepada lingkungan yang lebih besar seperti Nagari. Susunan masyarakat menurut sistem garis keturunan ibu
98B ter Haar Bzn, Asas-Asas dan Susunan Hukum Adat, (Jakarta: Pradnya paramita, 1999), hal. 159
99 B ter Haar Bzn, Asas-Asas dan Susunan Hukum Adat, …, hal 160
100 Fiony Sukmasari, Perkawinan Adat Minangkabau, (Jakarta: C.V. Karya Indah , 1984), cet-ke 1, hal. 10
merupakan faktor yang mengatur masyarakat yang akan melahirkan kehidupan yang senantiasa menghayati dan mengamalkan konsep budi pekerti yang luhur antar sesama, seperti yang disebutkan dalam pepatah adat:
Nan kuriak iyolah kundi Nan merah iyolah sago
Nan baiak iyolah budi Nan indak iyolah baso
Orang minangkabau sampai sekarang masih terikat kuat oleh satu kesatuan keturunan yang ditarik menurut garis keturunan ibu atau perempuan. Kesatuan dasar keturunan itu disebut dengan suku, karena keturunan itu hanya dipandang menurut garis perempuan saja, maka bentuk kesatuan keturunan itu disebut matrilineal.101
Menurut Amir M. S dalam kekerabatan matrilineal ini terdapat tiga unsur yang paling dominan, yaitu:
a. Garis keturunan menurut garis ibu
b. Perkawinan harus dengan kelompok sendiri, yang sekarang dikenal dengan istilah eksogami matrilineal.
c. Ibu memegang peranan yang sentral dalam pendidikan, pengamanan kekayaan, dan kesejahteraan ke luarga.102
Hubungan kekerabatan matrilineal adalah hubungan yang berifat alamiah yang mana hubungan ini lebih awal munculnya dalam peradaban manusia dibandingkan dengan bentuk kekerabatan lainnya. Hubungan kekerabatan
101 Amir Syarifuddin, Pelaksanaan Hukum Kewarisan Islam Dalam Lingkungan Adat Minangkabau, (Jakarta: Gunung Agung, 1984), hal. 184
102 Amir M.S, Adat Minangkabau, Pola dan Tujuan Hidup Orang Minang, (Jakarta:
Mutiara Sumber Widya, 1999), hal. 22
matrilineal ini sudah ada semenjak manusia mulai melakukan hubungan dengan alam dan lingkungannya.103
Ciri-ciri masyarakat yang mengenal sistem kekerabatan matrilineal yaitu;
keturunan dihitung dari garis keturunan ibu, anak dari dua orang perempuan yang bersaudara adalah sangat rapat hingga tidak mungkin untuk mengadakan perkawinan, dalam penentuan perkawinan pihak suami tidak masuk hitungan, dan anak-anak dibesarkan di rumahtangga ibunya.104
Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa sistem kekerabatan matrilineal merupakan suatu sistem kekerabatan yang garis keturunan ditarik menurut garis keturunan dari pihak ibu, karena ibulah sebagai yang paling banyak berperan dalam ke luarga, sedangkan ayah hanyalah sebagai orang yang singgah dalam kehidupan ibu yang akan memberikan keturunan bagi pihak ibu. Ibu yang mengurus, mengasuh dan membesarkan anak-anak. Oleh sebab itu dalam rumahtangga ibulah yang berkuasa, maka dengan demikian perkembangan keturunan diketahui melalui garis keturunan ibu dan untuk selanjutnya garis keturunan diperhitungkan melalui garis keturunan ibu/perempuan.
Anak-anak yang lahir dari perkawinan langsung anggota paruik ibunya, anak-anak tersebut langsung termasuk suku ibunya. Penambahan jumlah anggota dari paruik ibunya apabila anak-anak tersebut anak perempuan, mereka adalah pendiri dari jurai-jurai baru yang kemudian sepanjang perjalanan masa akan menimbulkan paruik yang baru.105
103 Amir Syarifuddin, Pelaksanaan Hukum Kewarisan Islam Dalam Lingkungan Adat Minangkabau, …, hal.185
104 Amir, M.S, Adat Minangkabau, Pola dan Tujuan Hidup Orang Minang, …, hal. 22
105 DR. Chairul Anwar, S.H., Hukum Adat Indonesia, Meninjau Hukum adat Minangkabau, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 1997), cet-1, hal. 67-68
Dalam masyarakat yang menganut sistem kekerabatan matrilineal perkawinan yang sesuai dengan sistem itu adalah cara mendatangkan laki-laki dari luar lingkungannya dengan maksud menghasilkan keturunan. Perkawinan seperti ini disebut dengan perkawinan sumando, suami yang didatangkan itu disebut dengan urang sumando, oleh karena itu suami tetap menjadi anggota ke luarga ibunya. Suami sebagai bapak tetap bertempat tinggal di rumah istrinya tapi suami masih tetap berada dalam kekerabatan/suku ibunya dan si suami merupakan mamak dari semua kemenakan-kemenakannya.106
Jadi laki-laki di Minangkabau walaupun sudah berumah tangga dan tinggal di rumah istrinya namun dia tidak akan pernah terlepas dari kekerabatan/suku yang dia bawa semenjak dia dilahirkan oleh ibunya.
Karena dalam sistem kekerabatan matrilineal menganggap orang-orang yang berada dalam garis keturunan ibu itu adalah saudara atau ke luarga maka dalam mencari jodoh untuk anggota ke luarga harus didatangkan dari pihak luar bagi laki-laki maupun perempuan. Dengan demikian perkawinan sumando itu adalah merupakan bentuk perkawinan eksogami, yaitu keharusan kawin dengan orang yang berada di luar kekerabatan matrilineal (suku).107
Sesuai dengan bentuk perkawinan sumando secara eksogami tersebut di atas, maka adat yang berlaku dalam hal tempat menetap ke luarga adalah secara matrilokal, yaitu suami dengan anak dan istrinya diam dan bertempat tinggal dirumah ke luarga pihak istri. Suami datang kerumah istrinya, tetapi dia datang sebagai orang luar. Diam dan bertempat tinggalnya ke luarga istri sesuai dengan
106 Amir Syarifuddin, Pelaksanaan Hukum Kewarisan Islam Dalam Lingkungan Adat Minangkabau, …, hal. 186
107 Amir Syarifuddin, Pelaksanaan Hukum Kewarisan Islam Dalam Lingkungan Adat Minangkabau, ..., hal. 187
tujuan pengembangan dan keutuhan matrilineal. Status persukuan suami tidak berubah menjadi status persukuan istrinya. Kedudukan suami di dalam lingkungan kekerabatan istrinya dianggap sebagai tamu terhormat dan tetap dianggap sebagai pendatang.108
Sebagai orang pendatang kedudukan suami digambarkan secara dramatis bagaikan “abu di ateh tunggua”. Dalam arti kata sangat lemah, sangat mudah untuk disingkirkan. Namun sebaliknya suami haruslah berhati-hati dalam menempatkan dirinya di dalam lingkungan kerabat istrinya.109
Istilah eksogami ini mempunyai pengertian yang sangat nisbi (relatif).
Pengertian di luar batas lingkungan bisa diartikan luas, namun bisa pula diartikan sangat sempit. Adat minangkabau menentukan bahwa orang Minangkabau dilarang kawin dengan suku yang serumpun. Oleh karena itu garis keturunan di Minangkabau ditentukan menurut garis keturunan ibu, maka suku serumpun di sini dimaksudkan serumpun menurut garis ibu, maka disebut eksogami matrilokal atau eksogami matrilineal.110
Pengertian, eksogami ini dapat dirumuskan dalam dua pengertian, yaitu:
1. Dalam Arti Positif
Eksogami adalah suatu sistem perkawinan di mana seseorang harus kawin dengan anggota klan yang lain.
2. Dalam Arti Negatif
108 DR. Chairul Anwar, S. H., Hukum Adat Indonesia, Meninjau Hukum Adat Minangkabau, …, hal. 68
109 Amir Syarifuddin, Pelaksanaan Hukum Kewarisan Islam Dalam Lingkungan Adat Minangkabau, ..., hal. 187-188
110 Amir, M.S, Adat Minangkabau, Pola dan Tujuan Hidup Orang Minang, …, hal. 22
Eksogami adalah suatu sistem perkawinan di mana seseorang dilarang untuk tidak boleh kawin dengan anggota se-klan.111
Berdasarkan keterangan di atas dapat dipahami bahwa perkawinan di Minangkabau berdasarkan sistem eksogami matrilineal, yaitu perkawinan yang harus dilakukan dengan orang yang berada di luar kekerabatannya/sukunya.
Prinsip perkawinan eksogami di Minangkabau berhubungan erat dengan sistem garis keturunan ibu, yaitu suatu cara yang unik untuk mempertahankan garis keturunan ibu. Jadi garis keturunan ibu itu adalah suatu prinsip tidak boleh mengelakkan diri.112 Perkawinan seperti inilah sampai saat sekarang masih tetap tegak di dalam masyarakat Minangkabau dan merupakan sebuah hukum adat yang telah diatur sejak nenek moyang masyarakat Minangkabau tersebut.113
2. Perkawinan Sasuku a. Pengertian Suku
Sebelum penulis menjelaskan pengertian sasuku yang dilarang dalam Minangkabau terlebih dahulu penulis akan menjelaskan sejarah lahirnya suku di Minang.
Mulanya suku di Minangkabau ini hanya ada empat macam, yaitu suku Bodi, Caniago, Koto, dan Piliang. Konon suku Bodi dan Caniago diturunkan dari Datuak Parpatih Nan Sabatang yang biasa disebut Lareh Bodi Caniago, sedangkan suku Koto dan Piliang diturunkan oleh Datuak Katumanggungan. Biasa disebut Lareh Koto-Piliang. Lalu kemudian muncul pula Datuak Nan Sakelap yang
111 Bushar Muhammad, Pokok-pokok Hukum Adat, (Jakarta: Pradnya Paramita, 1988), Cet-ke. 4, hal. 24
112 A.A. Navis, Alam Takambang Jadi Guru, (Jakarta: Grafiti, 1984), hal. 194
113 Amir, M.S, Adat Minangkabau, Pola dan Tujuan Hidup Orang Minang, …, hal. 24
membentuk suku Kutianyir, Pitapang, Bunuhampu, Salo, dan Jambak. Semua suku-suku ini sudah ada sejak zaman dahulu.Sejak berabad-abad silam.114
Mereka adalah tokoh-tokoh yang disebutkan dalam tambo sebagai inti asal mula suku di Minangkabau. Dalam tambo dikisahkan bahwa Datuak Parpatiah memiliki bapak yang bernama Cati Bilang Pandai, sementara bapak dari datuak Katumanggungan adalah Sultan Sri Maharaja Diraja. Cati Bilang Pandai dan Sultan Sri Maha Diraja adalah putra dari Raja Iskandar Zulkarenaen yang berasal dari Rum. Datuak Parpatiah dan Datuak Katumanggungan adalah se-ibu. Ibu mereka adalah Indo Jati, seorang bidadari surga.115
Cerita ini dibuat untuk menyatukan persepsi orang Minang tentang asal-usul nenek moyang mereka bahwa mereka adalah keturunan raja Muslim, yang berarti bahwa orang Minang itu identik dengan Islam. Makanya dikatakan bahwa Islam dam Minang adalah dua hal yang tidak bias dipisahkan. Sama halnya seperti masjid dan balai adat, keduanya adalah simbol pemerintahan Nagari. Tidak heran jika ada orang Minang yang murtad dari Islam maka dia juga terbuang juga dari adat.Sesuai slogan hidup orang Minang, adat basandi syara‟, syara‟ basandi kitabullah (adat bersendi syarak, syarak bersendi kitabullah).116 Jadi begitulah tatanan sistem adat Minangkabau yang diatur sejak zaman nenek moyang dahulu yang merupakan perpaduan yang sangat unik dan penuh dengan seni yang bagus.