• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III KESULTANAN BANJARMASIN

E. Perkembangan Agama Islam

Semenjak abad XVIII agama Islam menjadi agama resmi kerajaan.33 Penerapan hukum Islam di Kesultanan Banjarmasin adalah sejalan dengan terbentuknya Kesultanan Banjarmasin dan dinobatkannya Sultan Suriansyah sebagai raja pertama yang beragama Islam. Terbentuknya Kesultanan Banjarmasin menggantikan kerajaan Negara Daha yang beragama Hindu, dan merubah menjadi kerajaan yang bercorak Islam.

32 Soeri Soeroto,Pergerakan Sosial dan Perang Banjarmasin, Seminar Sejarah Nasional

II, 26-29 Agustus 1970 Jogyakarta, hlm. 4-5. lihat juga, Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto,Sejarah Nasional Indonesia IV,h. 62.

Islam terus berkembang, awal dari upaya Sultan Suriyansyah menyebarkan dan mengembangkan Islam secara luas kepada masyarakat ialah dengan mendirikan sebuah Masjid. Namanya masjid “Sultan Suriyansyah” yang merupakan masjid pertama di Kesultanan Banjarmasin pada abad XVI. Masjid ini berdiri hasil musyawarah Sultan dan para pembesar kesultanan masjid ini masih ada hingga kini di kampung Kuin, dan sudah beberapa kali dipugar.34 Dalam hal ini sultan tidak bertindak atas kemauannya sendiri, tetapi dibatasi oleh para petinggi kesultanan dan diatur dengan ketentuan kesultanan.35

Hal yang penting dalam menyebarkan Islam adalah peran dari para Sultan Banjarmasin yang selalu menjadi tauladan rakyatnya yaitu antara lain dengan senantiasa memakai nama-nama Islam dan bertindak sesuai dengan cara-cara Islam. Tersebarnya Islam di daerah ini tidak dengan paksaan maupun kekerasan.36

Dengan berkuasanya Sultan dan didukung oleh para petinggi, maka Islam berkembang tanpa halangan melalui perdagangan, melalui jalan sungai yang menghubungkan antara pedalaman dan kota pelabuhan Banjarmasin. Rakyat Kesultanan Banjarmasin yang letaknya di pedalaman dapat dikunjungi oleh para pedagang yang juga merupakan guru agama, sehingga para petani, peternak dan nelayan dapat memeluk agama Islam.37

Hasil dari penyebaran Islam bukan saja tampak dalam bidang politik, sosial, keagamaan, tetapi juga dalam bidang budaya. misalnya huruf Arab yang digunakan dalam pelajaran membaca al-Qur’an dan menghafal bacaan shalat, juga digunakan untuk menulis perjanjian. Perjanjian yang dibuat antara sultan

34 Basuni,Nur Islam di Kalimantan Selatan, h. 35-36.

35 Ita Syamtasiyah Ahyat, Perkembangan Islam di Kesultanan Banjarmasin, (Laporan

Penelitian prodi Sejarah Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia, 2009), h. 6.

36 Basuni,Nur Islam di Kalimantan Selatan, h. 40. 37Ibid.

Banjarmasin dengan VOC dan Inggris pada abad XVII ditulis dengan huruf Arab Melayu.

Perkembangan Islam yang sangat berarti di Kesultanan Banjarmasin pada abad XVIII adalah di masa Sultan Natadilingga (1761-1801), yaitu dengan datangnya seorang ulama besar yaitu Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari, setelah menuntut ilmu di Haramayn. Dalam menyebarkan agama Islam Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari mendapat dukungan dari kesultanan. Ia mendapatkan segala sarana dan fasilitas dalam menyebarkan ajaran Islam.38

Setelah dihadiahkan sebidang tanah oleh Sultan Natadilingga (1761-1801) di luar ibukota Kesultanan. Hal pertama yang dilakukan oleh Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari adalah mendirikan sebuah lembaga pendidikan Islam yang sangat penting untuk mendidik kaum Muslimin guna meningkatkan pemahaman mereka atas ajaran-ajaran dan praktik-praktik Islam. Syekh Arsyad al-Banjari bersama Abdul Wahhab al-Bugisi, membangun sebuah pendidikan Islam yang serupa dengan surau atau pesantren. Pusat pendidikan ini terdiri atas ruang-ruang untuk kuliah, pondokan para murid, rumah para guru dan perpustakaan.39

Beberapa hasil pemikiranya telah menambah berkembangnya ajaran agama Islam di Banjarmasin, antar lain; a. mengajarkan ilmu agama kepada masyarakat Banjarmasin, b. mengusulkan kepada sultan agar sultan mengangkat mufti dan qadi di kesultanan, dan mengangkat pengurus mesjid seperti khatib, imam, muadzim dan penjaga mesjid, c. mengusulkan kepada sultan agar di kesultanan diberlakukan hukum Islam, bukan hanya terbatas pada hukum perdata saja, tetapi juga hukum pidana Islam. Misalnya hukuman mati bagi pembunuh,

38 Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVIII, h.

319.

potong tangan bagi pencuri, hukum cambuk bagi penzina, dan hukum mati bagi orang Islam yang murtad; d. untuk melakukan hukuman secara Islam tersebut, Ia mengusulkan dibentuknya Mahkamah Syariah, semacam pengadilan tingkat banding, di samping lembaga keqadian. Untuk memimpin mahkamah syariah ditunjuk seorang Mufti. Mufti pertama adalah Abu Za’ud anak al-Banjari.40 Untuk kemudian sultan mengangkat Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari, sebagai Musytasyar Kesultanan (Mufti Besar Kesultanan) untuk mendampingi sultan dalam menjalankan pemerintahan sehari-hari. Keberhasilan Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari dalam mendirikan pendidikan Islam telah melahirkan ulama- ulama baru yang turut serta dalam mengembangkan Islam dengan syiar dan dakwah Islam di Kalimantan, di antaranya Syekh Syihabudin, Syekh Abu Za’ud (keduanya putra al-Banjari), dan Syekh Muhammad As’ad (cucu al-Banjari).41

Selain hal di atas Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari juga telah menulis beberapa kitab ajaran-ajaran agama Islam yang murni dan benar sebagai pegangan dan pedoman bagi umat Islam. Di antara kitab-kitabnya yang terkenal dan menjadi rujukan dakwah adalah,Kitab Usuluddin,Luqthatul 'AjIan fi Bayan Haid wa istihadhati wa nifas al-Niswan (kitab tentang Haid dan Nifas), Kitab Tuhfat al-Raghibin (pemberian bagi orang-orang yang gemar, kitab ini berisi tentang masalah tauhid), Kitab al-Qawl al-Mukhtasar fi 'Alamat al-Mahdi al- Muntazar (kitab tentang ringkasan tanda-tanda datangnya Imam Mahdi), Kitab Ilmu Falak, Kitab al-Nikah, Kitab Kanzul Ma'rifah, Kitab Sabil al-Muhtadin. Kitab Perukunan (rukun-rukun, yang tersimpul dalam rukun Islam dan rukun

40 Karel A. Steenbrink,Beberapa Aspek Tentang Islam di Indonesia Abad ke-19,(Jakarta:

Bulan Bintang 1994), h. 94.

Iman), merupakan bukti dari pengaruh Syekh Arsyad al-Banjari. Hingga kini kitab ini masih digunakan di kampung-kampung Banjarmasin.42

Sebagai kata penutup dalam bab ini, maka telah dapat diketahui bahwa, Banjarmasin yang awalnya merupakan suatu kampung orang Melayu, menjadi pelabuhan yang disinggahi oleh para pedagang-pedagang Muslim, menjadi kota Muslim dan berlanjut menjadi kota kerajaan. Kesultanan Banjarmasin yang terletak di tepi pantai ini telah memungkinkan sekali terjadinya kontak sosial dalam masyarakat.

Sultan dan masyarakat mengembangkan agama Islam, dengan demikian agama Islam di Kesultanan Banjarmasin mangalami perkembangan yang cukup menyeluruh di segala bidang, baik bidang politik, ekonomi, sosial dan budaya. terlebih lagi setelah kedatangan Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari, kesadaran agama Islam di kalangan kerajaan dan penduduk awam telah diperdalam dengan intensitasnya yang besar sehingga melahirkan suatu perkembangan Islam di Kesultanan Banjarmasin.

42 Daud, Islam dan Masyarakat Banjar: Deskripsi dan Analisa Kebudayaan Banjar,h.

44

PERDAGANGAN NUSANTARA ABAD XVIII

Dalam bab ini, akan membahas mengenai tiga pembahasan. Pertama akan diawali dengan melihat latar belakang munculnya Kesultanan Banjarmasin pada abad XVII. Kedua, akan melihat seberapa jauh peran Kesultanan Banjarmasin dalam mengembangan perdagangan pada abad XVIII dengan melihat dua faktor, yaitu kebijakan Sultan terhadap perdagangan dan Sultan sebagai pemain aktif dalam perdagangan. Dibagian akhir akan dijelaskan kemunduran perdagangan yang disebabkan oleh perebutan kekuasaan yang terjadi dikalangan istana.

A. Tumbuhnya Perdagangan di Kesultanan Banjarmasin Sebelum Abad XVIII

Kesultanan Banjarmasin tumbuh sebagai bandar perdagangan di Nusantara dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain,pertama, dijadikannya Banjarmasin sebagai sebuah daerah taklukan Demak. Hal ini berakibat mulai dikenalnya wilayah Banjarmasin. Kedua, meluasnya ekspansi Mataram di pesisir pantai utara Jawa pada pertengahan pertama abad XVII.Ketiga, penguasaan wilayah penghasil lada oleh VOC di wilayah lain di Nusantara seperti, Banten, Palembang dan Jambi. Hal ini mengakibatkan para pedagang mulai mencari daerah penghasil lada di wilayah lain yang belum tersentuh oleh pengaruh VOC. Ketiga faktor tersebut yang mengakibatkan Banjarmasin mulai dikenal sebagai bandar perdagangan di Nusantara.

Sebelum periode abad XVIII, Kesultanan Banjarmasin telah menjadi sebuah kesultanan yang bercorak maritim di Kalimantan Selatan. Dalam beberapa periode Kesultanan Banjarmasin masih merupakan daerah taklukan dari kerajaan- kerajaan Jawa seperti, Demak dan Mataram. Supremasi Jawa terhadap Banjarmasin lebih kepada faktor ekonomi. Karena Banjarmasin memiliki produk hutan yang sangat baik seperti, damar, lilin, myrabolans untuk industri batik, rotan, dan barang anyaman.1 Sedangkan Jawa sendiri telah dikenal sebagai pemegang kekuasaan ekonomi yang paling besar sebagai daerah penghasil beras. Selain itu, beras juga dianggap sebagai senjata politik yang dipegang oleh Jawa.2 Di Banjarmasin sendiri beras merupakan bahan makanan pokok bagi masyarakat. Namun, di Banjarmasin beras hanya ditanam oleh orang Dayak pedalaman, dimana surplus penanamanya juga sangatlah kecil sehingga kurang mencukupi kebutuhannya sendiri dan perlu memasoknya dari Jawa.3

Hegemoni Jawa di Banjarmasin diawali dengan dijadikannya Banjarmasin sebagai daerah taklukan dari Demak di tahun 1526. Seperti telah diketahui dalam bab sebelumnya, adanya hubungan kesultanan Demak dengan Banjarmasin diawali dengan hubungan antara Kesultanan Demak yang telah membantu Pangeran Samudera untuk mengambil alih kekuasaannya yang telah diambil oleh pamannya Pangeran Tumenggung.4

Kesultanan Demak yang dipimpin oleh Sultan Trengganu (memerintah 1521-1546) telah mewajibkan Kesultanan Banjarmasin yang dipimpin oleh Sultan

1 B.J.O. Schrieke,

Indonesian Sociological Studies, vol. I (Bandung: The Hague van Hoove, 1955), h. 29.

2 P. Suntharalingan, The British in Banjarmasin: an Abortive Attempt at Settlement,K. G.

Treganning, ed., Journal of Shoutheast Asian History, vol. IV (Singapore: 1964), h. 50-51.

3Ibid.

Suriansyah (m. 1526-1550) memberikan upeti kepada kesultanan Demak antara lain berupa intan, emas dan hasil hutannya. Selama berada di bawah kekuasaan Demak, dengan dibantu kekuatan militer dari Demak, Kesultanan Banjarmasin berhasil menaklukan daerah-daerah di pedalaman seperti Sukadana, Sambas, Sampit, dan Mendawai.5

Penguasaan Demak atas Kesultanan Banjarmasin akhirnya berakhir, ketika kekuasaan Demak yang dipegang oleh Sultan Trengganu berpindah kepada Sultan Prawata (m. 1546-1561). Pada masa pemerintahan Sultan Prawata merupakan zaman kekacauan dan perpecahan.6 Karena lemahnya kekuatan administratif yang dipimpin oleh Sultan Prawata mengakibatkan wilayah-wilayah taklukan akhirnya melepaskan diri dari kesultanan Demak pada akhir abad XVII, termasuk juga Banjarmasin.7 Selama kurang lebih 20 tahun Kesultanan Banjarmasin berada di bawah hegemoni dari kesultanan Demak. Selama di bawah hegemoni Kesultanan Demak, Kesultanan Banjarmasin baru mulai dikenal sebagai bandar dagang yang telah disinggahi oleh para pedagang Cina dan Jawa.8

Di permulaan abad XVII, dengan kekuatan armada darat dan lautnya yang kuat, kesultanan Mataram yang dipimpin oleh Sultan Agung (m. 1613-46), dapat menguasai kerajaan-kerajaan pantai di Jawa seperti, Jepara, Cirebon, Tuban, dan Gersik, Sultan Agung melanjutkannya hingga ke seberang laut yakni Kalimantan.9 Pada tahun 1622, dengan menggunakan kekuatan lautnya Sultan Agung

5 J.J. Ras, Hikayat Banjar: a Study in Malay Historiography (The Hague: Martinus

Nijhoff), h. 430-440.

6 Marwati Djoened Poesponegoro, Sejarah Nasional Indonesia III (Jakarta: Balai

Pustaka, 1993), h. 36.

7Ibid.

8 M. Idwar Saleh,Banjarmasih, (Banjarmasin: K.P.P.K. Balai Pendidikan Guru, 1975), h.

39.

9 Melink-Roelofsz, Asian Trade and European Influence in Indonesian Archipelago

melancarkan penyerangan yang pertama ke Sukadana yang dengan mudah dapat ditundukkan. Pada tahun 1631 beredar rumor bahwa Kesultanan Mataram akan menaklukan Banjarmasin sebagai target selanjutnya. Untuk mencari kekuatan baru agar tidak di kuasai oleh Kesultanan Mataram, Kesultanan Banjarmsin menjalin hubungan dengan Belanda. Namun, karena kuatnya Kesultanan Mataram, pada tahun 1637 Kesultanan Banjarmasin memilih berdamai dengan Mataram dan menyatakan diri sebagai daerah taklukan Mataram.10 Pengakuan Banjarmasin sebagai daerah taklukan Mataram ditandai dengan pengiriman utusan Banjarmasin yang membawa upeti untuk Mataram pada tahun 1641.11

Pada akhir tahun 1650-an, Banjarmasin dan Sukadana menghentikan pemberian upeti kepada Mataram. Pada tahun 1661 Sukadana menyatakan diri sebagai daerah taklukan Banjarmasin dan berjuang bersama Banjarmasin untuk melawan Mataram.12 Kebijakan yang dijalankan oleh Sultan Mataram Amangkurat I (m. 1646-1677), telah memberikan banyak keuntungan untuk Kesultanan Banjarmasin. Sentralisasi administrasi yang dilakukan oleh Sultan Amangkurat I, dengan cara menghancurkan pusat-pusat perdagangan di pesisir wilayah Jawa Timur agar hanya beralih kepada Mataram, telah mengakibatkan migrasi yang besar ke wilayah Banjarmasin. Banjarmasin menjadi penampung baik pedagang dari kota-kota pesisir Jawa termasuk aktifitas perdagangan mereka.13 Gelombang baru dari pengungsi yang datang ke Banjarmasin semakin

10 H.J. de Graaf,Puncak Kekuasaan Mataram: Politik Ekspansi Saultan Agung, (Jakarta:

Pustaka Uatama Grafiti, 1990), h. 288-289.

11 Utusan Banjarmasin yang dikirim ke Mataram untuk penyerahan upeti membawa

merica, rotan, barang-barang anyaman, dan lilin. Kemudian sebagai imbalannya Sultan Mataram mengirim beras, gula, asam, garam, bawang merah dan sebagainya.Ibid.,290.

12 H.J. de Graaf,Disintegrasi Mataram di bawah Mangkurat I (Jakarta: Pustaka Grafiti,

h.78.

bertambah sejak pecah perang Makassar, di antaranya banyak pedagang Melayu yang datang.

Faktor yang sebelumnya, adalah kedatangan para pedagang Cina ke Banjarmasin untuk pembelian lada. Patani dan Banten merupakan penyuplai terbesar permintaan lada Cina. Namun di awal dekade abad ketujuhbelas, Cina mendapat rintangan pada bandar dagang Banten dan Patani. Di Patani, suplai lada dihentikan ketika perkebunan lada dirusak oleh Kesultanan Aceh karena persaingan dengan bangsa Belanda untuk memperoleh monopoli lada di Patani, yang akhirnya pada tahun 1615, Belanda beralih ke Jambi. Dan berhasil menguasai Jambi, dan penyuplai lainnya seperti Palembang, Pidie juga telah berhasil dikuasai Belanda.14

Di Banten, pemboikotan terhadap lada yang dilakukan oleh Belanda benar-benar mempengaruhi penyuplaian lada: pada 1620-1628, pemboikotan Belanda terhadap lada Banten mengakibatkan beralihnya pengolahan lada ke pertanian. Pada sekitar tahun 1610, kebijakan perdagangan bebas yang dijalankan oleh Sultan Ranamanggala (m. ? – 1624)15 tidak disenangi oleh Belanda, yang ingin menerapkan sistem monopoli perdagangan lada di Banten. Setelah, Belanda berhasil memperkuat kedudukannya di Batavia pada tahun 1618, Belanda mulai menerapkan kebijakan pengepungan pelabuhan Banten dan memblokade setiap kapal yang akan menuju Banten agar beralih ke Batavia.16

14 Schrieke,Indonesian Sociological Studies, vol I, h. 54-55.

15 Tidak diketahui berapa lama Ranamanggala memerintah. Ranamanggala sebelum

menjadi sultan menjabat sebagai Mangkubumi, yang pada akhirnya diangkat menjadi wali sultan, karena yang seharusnya menjadi sultan adalah Abdul Mufakhir Mahmud Abdul Kadir (1624-1651) yang masih belum cukup umur. Lih, Heriyanti Ongkodharma Untoro,Kapitalisme Pribumi Awal Kesultanan Banten 1522-1604(Depok: Komunitas Bambu, 2007). h. 36-37.

16 Claude Guillot,Banten: Sejarah dan Peradaban Abad (X-XVII),Penerjemah: Hendra

Akibat pemblokadean Belanda terhadap Banten, Sultan Ranamanggala pada akhirnya mengambil keputusan untuk mengubah pertanian negerinya dengan menanam padi dan ubi. Karena, menurutnya selama masih ada lada, Belanda akan terus melancarkan pemblokadean terhadap Banten. Dampak dari kebijakan ini telah mengakibatkan para pedagang yang ingin ke Banten untuk mendapatkan lada akhirnya beralih ke tempat lain.17

Peristiwa tersebut di atas mendorong produksi lada di Banjarmasin, meningkatnya produksi lada di Banjarmasin telah mendorong para pedagangan tidak hanya Cina tetapi juga Belanda, Inggris, Portugis, Denmark, Jawa dan Makassar jumlahnya mulai meningkat berdatangan ke Banjarmasin. Kombinasi yang secara kebetulan bagaimanapun kemudian meningkatkan Banjarmasin ke posisi pusat perdagangan terpenting di Nusantara pada pertengahan abad ketujuhbelas.18

B. Peran Kesultanan Banjarmasin Dalam Lintas Perdagangan Nusantara Abad XVIII

Situasi dan kondisi seperti telah disebutkan di atas, agaknya telah memberikan kesempatan baik bagi Kesultanan Banjarmasin di awal abad XVIII untuk mengembangkan perdagangan. hal ini terbukti dari usaha Sultan melakukan ekspansi ke wilayah pedalaman yang merupakan sumber komoditi perdagangan. Dengan penguasaan daerah seperti, Kutai, Pasir, Kotawaringin, Sambas dan

17Ibid., h. 250.

18 Suntharalingan, The British in Banjarmasin: an Abortive Attempt at Settlement, h. 52.

lihat juga Han Knapen, Forest of Fortune? The environmental history of Southeast Borneo, 1600- 1880 (Leiden: KITLV Press, 2001), h. 67-68.

lainnya,19 melalui wilayah-wilayah taklukan inilah sumber ekonomi pusat kekuasaan induk mendapatkan sokongan baru, baik dalam bentuk barang, jasa- tenaga, maupun pajak. Daerah ini pada gilirannya juga dapat dijadikan ujung tombak bila sewaktu-waktu ada serangan dari luar.

Daerah yang ditaklukan dibagi-bagi di antara keluarga sultan atau para bangsawan dengan menggunakan hukum adat atau tradisi, setelah itu sultan dan para bangsawan memerintahkan rakyat menanam komoditi perdagangan yang amat dibutuhkan yaitu lada. Lada merupakan barang ekspor yang paling utama di Banjarmasin.20

Hal lain yang mendorong ramainya perdagangan di Banjarmasin adalah karena sikap sultan yang memperlakukan para pedagang asing dengan baik. Sikap sultan Banjarmasin terhadap para pedagang menurut sumber Cina termasuk sangat baik.21 Sultan selalu berusaha agar para pedagang itu dapat berdagang dengan aman dan memperoleh pelayanan yang sebaik-baiknya. Untuk itu ia melarang putra-putranya, yang dikatakan cukup banyak, keluar rumah menggangu mereka. Oleh sebab itu tidak mengherankan bahwa pada abad XVIII, pelabuhan Banjarmasin banyak dikunjungi oleh pedagang dari berbagai daerah. Seperti pedagang Melayu, Jawa, Bugis, Cina, Arab, Portugis, Belanda, Inggris dan Denmark.22

Kesultanan Banjarmasin yang telah menjadi sebuah negeri yang bertumpu pada perdagangan sebagai sumber mata pencaharian. Maka, tentunya di negeri

19 Cense,De Kroniek Van Banjarmasin, h. 109. 20 Knapen,

Forest of Fortune? The environmental history of Southeast Borneo, 1600- 1880, h. 263.

21W.P. Groeneveldt. Nusantara dalam Catatan Tionghoa. Penerjemah Gatot Triwira

(Depok: Komunitas Bambu,2009), h. 150.

22 Knapen, Forest of Fortune? The environmental history of Southeast Borneo, 1600-

Kesultanan Banjarmasin akan terjadi suatu aktifitas perdagangan yang meliputi pertukaran barang eksport dan Import, penggunaan alat tukar barang dan terkait juga dengan pelaksanaan perdagangan.

1. Jenis Barang Ekspor dan Impor

Sejalan dengan penyebaran barang perdagangan yang diduga dibuat di dalam maupun di luar kesultanan, maka didapatkan sistem ekspor dan impor. Sistem ekspor dimaksudkan adalah penjualan barang-barang keluar wilayah dari Kesultanan Banjarmasin. Baik berupa hasil pertanian dan non-pertanian. Sedangkan sistem impor adalah penjualan barang-barang yang didatangkan dari luar wilayah kekuasaan Kesultanan Banjarmasin, baik berupa bahan makanan seperti beras, benda seni seperti keramik yang didatangkan dari Cina, dan peralatan sehari-hari.

Mengacu pada sumber-sumber yang ada saat ini. Sulit sekali untuk mendapatkan rincian tertulis mengenai komoditi ekspor dan impor di Banjarmasin. telah diketahui bahwa pada umumnya barang yang diekspor oleh Kesultanan Banjarmasin antara lain, lada, damar, lilin, sarang burung, kayu ulin, rotan, emas dan intan. Kesulitan data ini mengakibatkan pengambaran komoditi ekspor dan impor ini hanya di pilih beberapa saja. Dari sumber yang ada, barang ekspor antara lain lada, intan, rotan dan tembikar. Barang impor yaitu beras.

Lada. Kebutuhan akan lada ini agaknya seiring dengan berbagai manfaat

yang terkandung di dalam biji lada. Khasiat biji lada ini sangat banyak, antaranya untuk pengobatan, penyedap makanan dan sebagai sumber minyak lada. Karena hal inilah banyak pedagang asing ataupun Nusantara bersaing dalam pencarian wilayah penghasil lada. Setelah Portugis berhasil mendapatkan monopoli lada di

pantai barat India di Abad ke XV, karena kondisi inilah banyak pedagang Arab dan India mencari lada ke berbagai pulau di Nusantara. Akibatnya budidaya lada berkembang pesat, di Sumatera, Pidie, Pariaman, Silebar, Indrapura, Jambi, Indragiri, Kampar, Palembang dan Lampung. Di pulau Jawa Banten dan sekitarnya, dan lebih belakangan di Kalimantan yaitu Banjarmasin.23

Di abad XVIII Kesultanan Banjarmasin makin meningkatkan penanaman ladanya di wilayah pedalaman. Ekspansi yang di lakukan Kesultanan Banjarmasin ke wilayah pedalaman, telah menambah daerah penghasil lada. Wilayah penanam lada yang telah ada lebih awal seperti Martapura, khususnya diwilayah sekitar Riam Kiwa dan Riam Kanan. Dari sini, penanaman meluas hingga ke wilayah Hulu Sungai dan Tanah Laut. Wilayah lain yang tidak kalah penting sebagai penghasil lada adalah Amandit, Pemangkih, Tapin, dan Kelua. Sekitar pertengahan abad XVIII, wilayah sekitar Hulu Sungai telah menjadi daerah terpenting penghasil lada hingga membanjiri wilayah kota Negara dan Amuntai yang menjadi pusat transit barang perdagangan dari pedalaman.24

Besaran hasil lada ini dapat diketahui dengan melihat berapa banyak hasil lada yang telah di ekspor oleh Kesultanan Banjarmasin kepada pedagang Belanda dan CIna. Dari data yang ada pada tahun 1747-1761 Belanda telah membawa lada dari Banjarmasin sebanyak 83.276 pikul (20.819 ton) dan Cina sekitar 32.213 pikul (8.053,25 ton),25 perbedaan lada yang dibawa antara VOC dan Cina pada tahun ini dikarenakan Kesultanan Banjarmasin telah melakukan perjanjian dengan

23 J.C. van Leur,

Indonesian Trade and Society(The Hague/Bandung: Van Hoeve, 1955), h. 101-102.

24 Knapen, Forest of Fortune? The environmental history of Southeast Borneo, 1600-

1880, h. 260.

25 J.C. Noorlander,Bandjarmasin en de Compagnie in de Tweede Helft der 18de

Eeuw,

VOC, yang telah menjadikan Cina hanya boleh mengangkut lada hanya dengan satu jung saja dan pedagang Cina juga dibatasi hanya boleh datang ke Banjarmasin 1-2 kali per-tahun.26

Dalam transaksi pembelian lada, para penanam lada tidak dapat menentukan harga, yang menentukan harga adalah sultan. sultan biasanya membeli lada dari pedalaman sekitar 2 real Spanyol untuk setiap pikul (125 kg), Sultan biasanya menjual lada kepada VOC sekitar 6 real Spanyol, untuk setiap pikul. Lada akan semakin meningkat harganya apabila sultan menjualnya kepada para pedagang Cina yang membayar 8 real Spanyol untuk setiap pikulnya.27 Ini berarti sultan mendapatkan keuntungan sekitar 4 sampai 6 real Spanyol untuk setiap pikul lada, atau sekitar 100-200% dari harga beli.

Besarnya keuntungan yang didapat dari perdagangan lada telah

Dokumen terkait