commit to user c. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pendidikan
3. Perkembangan Anak
Perkembangan anak tidak sama dengan pertumbuhannya.
Pertumbuhan menjelaskan perubahan dalam ukuran secara fisik sedangkan perkembangan adalah perubahan dalam kompleksitas dan fungsinya juga dalam hal sikap serta kedewasaan individu. Setiap individu memiliki perkembangan yang berbeda antara yang satu dengan yang lain. Dikatakan bahwa semua anak berkembang tetapi beberapa anak berkembang lebih cepat sedangkan yang lain lebih lambat. Agar perkembangan anak bisa maksimal, anak harus diberi rangsangan sesuai dengan tahap perkembangan anak tersebut.
Menurut Piaget proses belajar harus disesuaikan dengan tahap perkembangan kognitif yang dilalui anak, yang dalam hal ini dibagi menjadi 4 tahapan, yaitu (a) tahap sensori-motor (ketika anak berumur 0-2 tahun), (b) tahap pra-operasional (0-2-7 tahun), (c) tahap operasional konkrit (7-11 tahun), dan (d) tahap operasional formal (11-18 tahun) (Isjoni: 2009, h.77).
Ada perkembangan yang harus dilalui anak. Perkembangan tersebut antara lain sebagai berikut.
a. Perkembangan fisik
Perkembangan fisik anak sangat penting untuk mendukung aktifitas yang dapat dilakukan anak. Perkembangan fisik anak meliputi bertambahnya tinggi badan, berat badan, otot dan lemak yang semakin bertambah, ukuran tulang, pertumbuhan gigi, berubahnya bentuk tubuh juga semakin berkembangnya fungsi organ tubuh dan organ vital dengan baik. Perkembangan fisik anak dapat dipengaruhi oleh kesehatan anak tersebut, gizi yang didapat dan faktor genetik. Anak yang sehat maka perkembangan fisiknya tidak akan terganggu. Selain itu dalam masa perkembangan, gizi anak harus terpenuhi agar perkembangan fisiknya bisa maksimal. Faktor genetik juga punya pengaruh dalam perkembangan fisik
commit to user
anak. Anak akan mewarisi gen dari orang tua sehingga postur tubuh dan perkembangan fisiknya akan mirip dengan orang tuanya.
b. Perkembangan Motorik
Perkembangan motorik merupakan perkembangan anak dalam hal menggerakkan dan menggunakan anggota badan seperti tangan dan kaki.
Sejak lahir anak akan segera mengembangkan kemampuan motoriknya.
Misalnya mengedipkan mata, tersenyum, lama kelamaan anak akan memiringkan badan kemudian tengkurap dan seterusnya. Anak juga mulai belajar memegang benda-benda disekitarnya, merangkak dan mulai belajar berjalan. Kemampuan motorik anak akan terus berkembang sampai semua fungsi bagian tubuh dapat maksimal. Perkembangan motorik juga harus mendapat rangsangan yang tepat agar perkembangan motorik anak dapat maksimal. Tujuan dari perkembangan motorik itu sendiri baik motorik kasar ataupun halus menurut seorang pakar pendidikan dalam bukunya
“Pembelajaran Kooperatif Untuk Menigkatkan Ketrampilan Anak TK”
(2004) adalah sebagai berikut
Tujuan pengembangan motorik kasar
1) Mampu meningkatkan ketrampilan gerak
2) Mampu memelihara dan meningkatkan kebugaran jasmani 3) Mampu menanamkan sikap percaya diri
4) Mampu bekerja sama
Tujuan pengembangan motorik halus
1) Mampu memfungsikan otot-otot kecil seperti gerakan jari tangan 2) Mampu mengkoordinasiakna kecepatan tangan dengan mata 3) Mampu mengendalikan emosi. (hlm.143)
Perkembangan motorik baik motorik kasar ataupun halus memiliki fungsi tersendiri bagi perkembangan anak. Berikut adalah fungsi dan tujuan tersebut menurut seorang pakar pendidikan dalam bukunya
“Pembelajaran Kooperatif Untuk Menigkatkan Ketrampilan Anak TK”
(2004) :
a. Fungsi perkembangan motorik kasar
1) Alat pemacu pertumbuhan dan perkembangan jasmani, rohani dan kesehatan untuk anak
commit to user
17
2) Sebagai alat membentuk, membangun, serta memperkuat tubuh 3) Melatih ketrampilan dan ketangkasan gerak juga daya pikiranak 4) Alat meningkatkan perkembangan emosional
5) Alat untuk menumbuhkan perasaan senang dan memahami kesehatan pribadi
b. Fungsi perkembangan motorik halus
1) Alat untuk megembangkan ketrampilan gerak kedua tangan 2) Alat mengembangkan koordinasi kecepatan tangan dan gerakan 3) Alat untuk melatih penguasaan emosi. (hlm.144)mata
c. Perkembangan Bahasa
Bahasa merupakan alat yang digunakan manusia untuk berkomunikasi dengan manusia lainnya. Individu mempelajari bahasa sejak masih bayi. Hanya saja bahasa yang digunakan berbeda. Bayi menggungkapkan keingginannya dengan cara menangis. Menangis menjadi cara untuk mengungkapkan keinginan dan perasaan sebelum mengenal bahasa secara lisan. Saat merasa tidak nyaman bayipun juga mengungkapkannya dengan cara menangis. Seiring dengan bertambahnya usia anak, anak akan mulai belajar mengucapkan satu kata atau dau kata bahasa lisan. Akhirnya anak akan dapat merangkai kalimat untuk mengungkapkan keinginannya.
d. Perkembangan Sosial Emosional
Emosi merupakan ungkapan perasaan yang dialami oleh manusia.
Manusia memiliki banyak emosi, baik senang, sedih, kecewa, marah dan masih banyak lagi. Goleman (1994) menyatakan bahwa “emosi merujuk pada suatu perasaan atau pikiran-pikiran khasnya, suatu keadaan biologis dan psikolgis serta serangkaian kecenderungan untuk bertindak” (Ali Nugraha dkk, 2004: hlm.1.2). Emosi yang dialami oleh manusia membuat manusia terdorong untuk melakukan suatu tindakan. Tindakan yang dilakukan tersebut karena adanya peristiwa yang membuat individu merasakan sebuah emosi. Saat individu merasa sedih individu tersebut akan terdorong untuk menangis. Atau saat marah, individu akan terdorong
commit to user
melakukan perilaku seperti berteriak, mengumpat, memukul atau melempar barang. Syamsuddin (1990: hlm.69) mengemukakan bahwa
“emosi merupakan suatu suasana yang kompleks dan getaran jiwa yang menyertai atau muncul sebelum atau sesudah terjadinya perilaku” (Ali Nugraha dkk, 2004: hlm.1.2). Syamsuddin berpendapat bahwa emosi manusia bisa muncul karena adanya perilaku yang telah terjadi atau bisa juga emosi memunculkan perilaku tertentu. Emosi yang muncul karena adanya perilaku yang terjadi sebelumnya misalnya seorang anak mainannya direbut oleh anak lain, karena merasa sedih mainannya direbut maka anak tersebut menangis. Disini emosi sedih anak tersebut memunculkan perilaku menangis yang dikarenakan karena adanya perilaku anak lain yang merebut mainannya. Emosi tentunya memiliki fungsi penting dalam pengembangan perilaku anak. Dengan emosi anak akan belajar berekspresi dan mengungkapkan perasaan serta kebutuhannya.
Fungsi dan peran emosi dalam kebutuhan anak menurut Ali Nugraha dkk (2004) adalah sebagai berikut:
1. Merupakan bentuk komunikasi sehingga anak dapat menyatakan segala kebutuhan dan perasaannya pada orang lain.
2. Emosi berperan dalam mempengaruhi kepribadian dan penyesuaian diri anak dengan lingkungan sosialnya, antara lain sebagai berikut.
a. Tingkah laku emosi anak yang ditampilkan merupakan sumber penilaian lingkungan sosial terhadap dirinya....
b. Emosi menyenangkan atau tidak menyenangkan dapat mempengaruhi interaksi sosial anak melalui reaksi-reaksi yang ditampilkan lingkungannya....
c. Emosi dapat mempengaruhi iklim psikologis lingkungan....jika seorang anak pemarah dalam suatu kelompok maka dapat mempengaruhi kondisi psikologis lingkungannya saat itu, misalnya permainan jadi tidak menyenangkan, timbul pertengkaran, atau malah bubar.
d. Tingkat laku yang sama dan ditampilkan secara berulang dapat menjadi suatu kebiasaan...
e. Ketegasan emosi yang dimiliki seorang anak dapat menghambat atau mengganggu aktifitas motorik dan mental anak...anak akan menolak aktifitas finger painting karena takut mengotori bajunya dan takut dimarahi orang tuanya... (hlm.1.5)
commit to user
19
Pada masa anak-anak, emosi sangat kuat sehingga anak cenderung sulit diatur. Anak akan lebih mudah merasakan emosi senang, sedih, marah dan ekspresi lain. Biasanya ekspresi tersebut kadang terjadi secara berlebihan. Misalnya saja saat anak mendapat mainan baru, anak akan merasa sangat senang atau saat mainannya diambil oleh temannya ia akan marah dan menangis dengan kerasnya.
Dari fungsi diatas dapat kita lihat bahwa pengembangan sosial emosional anak sangat penting bagi perkembangan anak. Pengembangan sosial emosional dibutuhkan anak untuk bersosialisasi dalam lingkungan.
Bila sosial emosional anak dapat dikembangkan dengan baik dan maksimal, maka anak akan lebih mudah dalam melakukan sosialisasi dengan lingkungan. Tetapi bila perkembangan sosial emosional anak kurang baik maka anak akan menemui kesulitan dan hambatan dalam bersosialisasi.
e. Perkembangan Moral
Moral merupakan perilaku yang ditunjukkan oleh individu. Moral individu dipengaruhi oleh pergaulan, perkembangan zaman serta lingkungan. Sayangnya saat ini generasi muda mengalami kemerosotan moral akibat globalisasi. Generasi muda tidak hanya mengadopsi kecanggihan IPTEK tetapi juga mengikuti gaya hidup masyarakat global yang kurang sesuai dengan nilai serta norma bangsa. Untuk itu perkembangan moral individu harus dilakukan sejak dini. Menurut Otib Satibi Hidayat (2004) “Individu pada dasarnya mengalami pola perkembangan yang sama” (hlm.1.4) hanya saja kecepatan perkembangan masing-masing individu berbeda.
3 fase tahap perkembangan moral menurut Otib Satibi Hidayat (2004) 1. Fase Pre Moral atau pre conventional; pada level ini sikap dan
perilaku manusia banyak dilandasi oleh impuls biologis dan sosial 2. Tingkat konvensional; perkembangan moral manusia pada tahapan
ini banyak didasari oleh sikap kritis kelompoknya.
3. Autonomus; pada tahap ini perkembangan moral manusia banyak dilandaskan pada pola pikirannya sendiri. (hlm.1.4)
commit to user
Perkembangan moral anak sangat penting dan dibutuhkan dalam bersosialisasi. Perkembangan moral anak yang baik akan mempermudah anak dalam bersosialisasi. Perkembangan moral yang baik tentunya harus sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat serta sesuai dengan nilai-nilai agama. Dengan begitu anak tidak akan mengalalmi hambatan dalam bersosialisasi.
f. Perkembangan Sosialisasi
Sosialisasi diperlukan anak untuk dapat masuk dalam masyarakat.
Orang tua ataupun pendidik punya tugas melatih dan mengajarkan anak cara sosialisasi. Sejak kecil anak mempunyai kecenderungan bersosialisasi. Anak mulai punya ketertarikan untuk bermain dengan anak lain. Setelah itu anak akan mulai melakukan kontak dengan anak lain. Dari situ lama kelamaan tanpa sadar anak akan melakukan sosialisasi. Dari situ anak akan belajar cara bersosialisasi dengan teman bermain.
g. Perkembangan Pengertian
Saat anak mulai dapat berkomunikasi anak akan memiliki rasa keingin tahuan yang tinggi pada hal-hal disekitarnya. Mulanya anak mulai penasaran pada hal-hal tertentu kemudian mulai bertanya pada orang tuanya. Bila sudah seperti itu akan akan banyak bertanya, bukan karena dia bodoh tetapi karena rasa keingin tahuan yang tinggi. Saat anak mengajukan pertanyaan, orang tua harus memberi penjelasan dengan baik agar anak mengerti dengan begitu anak akan mengerti banyak hal. Bila orang tua tidak mau menjawab atau bahkan memarahi anak yang terus menerus bertanya maka anak akan malas untuk bertanya lagi sehingga pengertian dan pengetahuannya kurang berkembang maksimal.
h. Perkembangan Kepribadian
Perkembangan kepribadian anak sangat dipengaruhi oleh pola asuh orang tua. Bila dalam lingkungan keluarga anak cenderung dilarang untuk melakukan ini itu maka anak akan tumbuh sebagai individu yang penakut dan cenderung kurang mandiri karena membutuhkan persetujuan
commit to user
21
orang lain untuk melakukan sesuatu. Masih banyak lagi contoh perkembngan kepribadian anak yang dipengaruhi oleh orang tua. Untuk itu orang tua harus benar-benar mempersiapkan perkembangan kepribadian anak karena hal itu akan sangat penting untuk perkembangan anak dimasa yang akan datang.
4. Metode Pembelajaran a. Pengertian
Metode pembelajaran merupakan cara yang digunakan oleh pendidik untuk menyampaikan materi kepada peserta didik dengan tujuan mengembangkan potensi atau kemampuan peserta didik.
Ketika melakukan kegiatan pembelajaran dengan menggunakan metode pembelajaran pada anak usia dini menurut Isjoni (2009) ada beberapa prinsip metode pembelajaran untuk anak usia dini yang harus diperhatikan antara lain:
Berikut adalah penjelasan dari prinsip yang harus diperhatikan untuk kegiatan pembelajaran anak usia dini.
1) Berpusat pada anak
Artinya penerapan metode berdasarkan kebutuhan dan kondisi anak, bukan berdasarkan keinginan dan kemampuan pendidik. Disini pendidik harus menyesuaikan pada kebutuhan peserta didik. Pendidik harus memberikan rangsangan sesuai dengan tahapan perkembangan peserta didik. Dengan demikian anak diberi kesempatan untuk terlibat secara aktif baik fisik maupun mentalnya.
2) Partisipasi aktif
Maksudnya dalam penerapan metode pembelajaran anak diajak terlibat langsung dalam proses dan kegiatan belajar mengajar.
Isjoni (2009) mengatakan “Anak adalah subjek dan pelaku utama
commit to user
dalam proses pembelajaran sehinga anak termotifasi dan muncul inisiatif untuk berperan secara aktif melaksanakan kegiatan belajar”(hlm.84). Disini pendidik berperan sebagai pendamping yang mengarahkan dan mendampingi peserta didik selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Diluar itu kegiatan belajar dilakukan oleh peseerta didik sebagai pelaku utama dalam pembelajaran.
3) Bersifat holistik dan integratif
Artinya kegiatan belajar yang diberikan kepada anak bersifat menyeluruh dan saling terkait antara satu bidang dengan bidang lain.
“Pembahasan terhadap suatu masalah mengandung materi membaca, berhitung, sejarah, pengetahuan umum dan sebagainya. Selain itu menurut Isjoni (2009) “aktifitas belajar yang dilakukan anak perlu melibatkan aktifitas fisik maupun mental, sehingga potensi anak dapat dikembangkan secara optimal” (hlm.85).
4) Fleksibel
Artinya metode pembelajaran yang diterapkan pada anak usia dini bersifat dinamis, tidak terstruktur dan dapat berubah sesuai dengan situasi dan daya konsentrasi anak. Isjoni (2009) mengungkapkan bahwa “...kondisi anak cenderung berubah-ubah sesuai dengan daya konsentrasinya yang masih berjangka pendek, sehingga anak akan sering beralih dari satu kegiatan pada kegiatan lain” (hlm.85). Disini pendidik hanya mengarahkan peerta didik sesuai dengan kegiatan yang dipilih oleh peserta didik saat proses pembelajaran berlangsung. Bila pendidik menggunakan pembelajaran yang terstruktur maka peserta didik akan cepat merasa bosan dengan kegiatan pembelajaran. Bila sudah seperti itu peserta didik akan merasa terpaksa dan tertekan dalam melakukan kegiatan pembelajaran sehingga hasil dari proses pembelajaran akan kurang maksimal.
commit to user
23
5) Perbedaan individual
Setiap individu memiliki perbedaan antara satu dengan yang lain. Ada individu yang aktif dan ada yang pasif, ada yang perkembangannya pesat dan ada yang lambat, ada yang pendiam dan ada yang benyak bicara. Pendidik harus peka pada perbedaan peserta didik agar dapat memberikan ramgsangan yang sesuai dengan peserta didik dengan begitu peserta didik akan berkembang secara maksimal.
Perlakuan yang diberikan pada masing masing peserta didik juga harus berbeda sesuai dengan masing-masing peserta didik yang juga berbeda.
b. Macam Metode Pembelajaran
Selain prinsip dari metode bercerita tersebut, pendidik juga harus tahu, mengerti dan memahami macam-macam metode yang digunakan dalam proses pembelajaran. Hal ini penting agar pendidik mengetahui metode mana yang cocok digunakan untuk proses pembelajaran. Metode yang tepat tentunya akan memaksimalkan proses pembelajaran.
Ada beberapa metode pembelajaran yang dapat diterapkan di kelompok PAUD menurut Isjoni (2009) antara lain:
a. Metode Bermain
Penjelasan dari macam-macam metode tersebut adalah sebagai berikut.
1) Metode Bermain; merupakan kegiatan pembelajaran yang fleksibel.
Kegiatan ini memberikan kesenangan tersendiri pada anak karena belajar dilakuakan oleh anak tanpa sadar saat bermain.
2) Metode Karyawisata; metode ini dilakukan dengan cara membawa peserta didik ke objek wisata tertentu misalnya ke kebun binatang.
commit to user
Dengan melihat dan mempelajari binatang yang ada disana anak akan belajar menyayangi binatang. Atau saat anak diajak mengunjungi museum manusia purba, anak akan tertarik dengan benda-benda purba sehingga tanpa sadar anak akan mempelajari sejarah.
3) Metode Bercakap-cakap; merupakan dialog atau percakapan yang dilakukan baik antara guru dengan peserta didik atau sesama peseta didik. Metode ini dapat memperkaya kosa kata anak dan anak akan belajar mengungkapkan atau menceritakan sesuatu yang dialami. Hal ini juga dapat membuat kemampuan berkomunikasi anak semakin berkembang.
4) Metode Bercerita; metode ini dilakukan dengan cara membacakan dongeng yang mengandung nilai dan norma sosial dalam masyarakat.
Melalui metode ini anak dapat mengembangkan kemampuan berimajinasi serta mempelajari nilai dan norma dalam masyarakat.
5) Metode Demonstrasi; metode ini dilakukan dengan cara memperagakan cara melakukan suatu hal atau cara untuk membuat sesuatu misal cara membuat kapal laut dengan kertas lipat. Metode ini dapat melatih siswa untuk mengembangkan kemampuan mengamati dan meniru dengan baik.
6) Metode Proyek; biasanya dikerjakan secara bersama-sama atau berkelompok. Ini dapat melatih siswa untuk dapat bekerja sama dengan teman.
7) Metode Pemberian Tugas; metode ini dilakukan dengan cara memberikan tugas pada siswa. Dengan metode ini dapat melatih siswa memusatkan perhatian dalam waktu tertentu.
Dari semua metode tersebut, metode yang sering digunakan pada pembelajaran di PAUD AL-MUNIR adalah metode bercerita. Gordon &
Bbrownwne dalam Moeslichatoen (1999) berpendapat bahwa “Bercerita merupakan cara untuk meneruskan dari satu generasi ke generasi
commit to user
25
berikutnya”. Bercerita juga dapat menjadi media untuk menyampaikan nilai-nilai yang berlaku di masyarakat. Melalui bercerita juga dapat menjadi media sosialisasi bagi anak dimana anak akan mempelajari peraturan yang berlaku dalam masyarakat, mana yang sebaiknya dilakukan dan yang tidak baik dilakukan serta bagaimana cara bersikap pada teman dan sebagainya. Melalui bercerita kita dapat mengajarkan dan memberi contoh sikap-sikap yang baik dan yang buruk serta akibat yang akan diterima bila melakukannya.
Menurut Isjoni (2009) Bercerita mempunyai makna penting bagi perkembangan anak prasekolah/kelompok bermain karena melalui bercerita kita dapat:
a) Mengkomunikasikan nilai-nilai budaya b) Mengkomunikasikan nilai-nilai sosial c) Mengkomunikasikan nilai-nilai keagamaan d) Menanamkan etos kerja, etos waktu, etos alam e) Membantu mengembangkan fantasi anak
f) Membantu mengembangkan dimendi kognitif anak
g) Membantu mengembangkan dimensi bahasa anak. (hlm.90)
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam melakukan metode bercerita, antara lain:
1. Intonasi
Intonasi saat bercerita sangat mempengaruhi cerita yang dibawakan.
Cerita yang dibawakan akan semakin menarik bila intonasinya tepat.
Misalnya saja saat membawakan cerita si kancil dan harimau, saat mengucapkan dialog kancil, guru menggunakan suara yang kacil serta nada bicara yang cerdik sedangkan saat mengucapkan dialog harimau, guru menggunakan suara yang besar sehingga terkesan menakutkan.
Dengan begitu anak akan tertarik untuk mendengarkan cerita. Selain itu anak dapat berimajinasi dan membayangkan tokoh dalam cerita tersebut.
2. Ekspresi
Ekspresi saat membawakan cerita dapat juga melatih imajinasi dari siswa. Selain itu dapat mengajarkan dan melatih siswa untuk
commit to user
berekspresi juga. Misalnya saat menceritakan harimau yang sedang marah maka guru memasang ekspresi seperti orang yang sedang marah.
Atau saat mencerutakan tentang kancil yang ketakutan maka ekspresi yang harus diperlihatkan oleh guru adalah ekspresi takut.
3. Gerak
Saat bercerita selain menggunakan intonasi yang tepat serta ekspresi yang sesuai juga harus didukung dengan gerakan yang dapat mewakili tokoh dalam cerita. Misalnya saat menceritakan tentang kancil yang sedang menangis maka guru melakukan gerakan mengusap matanya dengan tangan seperti sedang menangis. Kemudian saat menceritakan ada harimau besar maka guru membentangkan tangannya lebar-lebar.
Dengan begitu siswa dapat membayangkan dan berimajinasi tentang tokoh harimau yang besar atau kancil yang sedang menangis.
Semua metode tentunya punya kelebihan masing-masing. Begitu juga dengan metode bercerita itu sendiri juga punya beberapa tujuan.
Tujuan tersebut juga dapat menggambarkan kelebihan dari metode bercerita tersebut.
Tujuan dari metode bercerita itu sendiri menurut Lilis Suryani, Azizah Muis, Winda Gunarti (2008) antara lain:
1. Mengembangkan kemampuan bahasa diantaranya kemampuan menyimak juga kemampuan dalam berbicara serta menambah kosakata yang dimillikinya.
2. Mengembangkan kemampuan berpikirnya...
3. Menanamkan pesan-pesan moral yang terkandung dalam cerita...
4. Mengembangkan kepekaan sosial emosi anak tentang hal-hal yang terjadi di sekitarnya...
5. Melatih daya ingat atau memori anak...
6. Mengembangkan potensi kreatif anak melalui keragaman ide cerita yang dituturkan. (hlm.5.5)
Bentuk-bentuk metode bercerita terbagi dalam 2 jenis menurut Lilis Suryani, Azizah Muis, Winda Gunarti (2008) antara lain :
commit to user
27
1. Bercerita tanpa alat peraga
2. Bercerita dengan alat peraga. (hlm.5.5) 1. Bercerita tanpa alat peraga
Dalam metode ini guru tidak menggunakan media apapun untuk menyampaikan cerita pada anak. Guru hanya harus menghafalkan jalannya cerita yang diberikan oleh anak. Untuk membuat cerita lebih menarik kemampuan guru dalam berekspresi saat menyampaikan cerita sangat diperlukan. Selain itu intonasi atau nada suara serta gerak badan guru akan sangat membantu siswa berimajinasi saat cerita dibacakan. Metode ini memiliki kelebihan dan kekurangan menurut Lilis Suryani, Azizah Muis, Winda Gunarti (2008)antara lain:
1. Kelebihan
a. Melatih anak untuk memfokuskan perhatian b. Melatih anak untuk menjadi pendengar yang baik
c. Mengembangkan fantasi anak terhadap hal yang tidak nyata d. Mengembangkan kemampuan mengingat anak terhadap hal
tertentu yang disampaikan melalui tuturan secara lisan 2. Kekurangan
a. Guru atau orang tua terkadang enggan untuk berekspresi dengan sebaik-baiknya karena rasa malu sehingga mempengeruhi fantasi anak
b. Terkadang merasa jenuh untuk duduk sejenak karena tidak ada media atau alat peraga yang bisa mempertahankan konsentrasi mereka pada cerita tersebut
c. Anak akan pasif menahan banyak hal yang ingin ia ketahui untuk ditanyakan ketika guru atau orang tua bercerita
d. Dengan tidak adanya media atau alat peraga sehingga tuturan cerita terkesan menjadi terlalu verbal... (hlm.5.7)
2. Bercerita dengan alat peraga
Metode ini menggunakan alat peraga sebagai pendukung jalannya cerita yang akan disampaikan. Tujuanyya tentu saja untuk menarik perhatian siswa salama cerita dibacakan. Alat peraga haruslah menarik dan dapat mewakili tokoh dalam cerita yang dibacakan.
Bercerita menggunakan alat peraga dibagi menjadi 2 macam yaitu;