• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

4. Perkembangan Anak SD Kelas 5

a. Masa Remaja Awal

Anak SD kelas 5 sudah dapat dikategorikan sebagai remaja awal. Harold Alberty (1957) (dalam Nurihsan dan Agustin, 2013:67) mendefinisikan periode masa remaja secara umum sebagai suatu periode dalam perkembangan yang dijalani seseorang yang terbentang semenjak berakhirnya masa kanak-kanaknya sampai datang awal masa dewasanya. Para ahli umumnya sependapat bahwa rentangan masa remaja itu berlangsung sekitar 11-13 tahun sampai 18-20 tahun menurut umur kalender kelahiran seseorang.

b. Ciri Masa Remaja

1) Masa Remaja sebagai periode yang penting

Disebut sebagai periode yang penting karena masa remaja memberikan pengaruh secara langsung paada sikap dan perilaku, dan pengaruh yang didapatpada masa remaja akan berakibat untuk jangka panjang dalam kehidupan seseorang. Pada masa remaja individu juga akan mengalami banyak kejadian yang berhubungan dengan pertumbuhan dan perkembangan fisik. Perkembangan fisik yang cepat penting disertai dengan perkembangan mental yang cepat, terutama pada masa awal remaja. Semua perkembangan itu menimbulkan perlunya penyesuaian mental dan perlunya membentuk sikap, nilai, dan minat baru.

2) Masa Remaja sebagai periode peralihan

Peralihan tidak berarti berubah dari apa yang telah terjadi sebelumnya melainkan sebuah peralihan dari satu tahap perkembangan ke tahap berikutnya.

41

Artinya apa yang telah terjadi sebelumnya akan meninggalkan berkasnya pada apa yang terjadi sekarang dan yang akan datang. Apabila anak-anak beralih dari masa kanak-kanak ke masa dewasa, anak-anak harus meninggalkan segala sesuatu yang bersifat kekanak-kanakan dan juga harus mempelajari pola perilaku dan sikap baru untuk menggantikan paerilaku dan sifat yang ditinggalkan. Osterrieth menyatakan bahwa psikis anak remaja berasal dari masa kanak-kanak dan banyak ciri yang umumnya dianggap sebagai ciri khas remaja awal telah ada pada masa kanak-kanak akhir.

Dalam setiap periode peralihan, status individu tidaklah jelas dan menimbulkan keraguan akan peran yang harus dilakukan. Namun status remaja yang tidak jelas juga menguntungkan karena memberi waktu pada individu untuk mencoba gaya hidup yang berbeda dan menentukan pola perilaku, nilai, dan sifat yang paling sesuai dengannya.

3) Masa remaja sebagai periode perubahan

Tingkat perubahan dalam sikap dan perilaku selama masa remaja sejajar dengan tingkat perubahan fisiknya. Selama awal masa remaja ketika perubahan fisik terjadi dengan pesat, perubahan sikap dan perilaku juga berlangsung pesat, begitu pula sebaliknya.

Ada empat perubahan yang sama yang hampir bersifat universal. Pertama, meningginya emosi, yang intensitasnya bergantung pada tingkat perkembangan fisik dan psikologis. Meningginya emosi menonjol pada masa remaja awal. Kedua, Perubahan tubuh, minat, dan perang yang diharapkan oleh keompok sosial untuk

42

diperankan menimbulkan masalah baru bagi remaja. Ketiga, berubahnya minat dan pola perilaku, maka nilai-nilai juga berubah. Misalnya remaja sudah tidak menganggap jumlah teman itu penting melainkan kualitas pertemanannya. Keempat, sebagian remajabersikap ambivalen pada setiap perubahan. Artinya mereka menuntut perubahan namun takut bertanggung jawab sehingga meragukan kemampuan mereka untuk bertanggung jawab.

4). Masa Remaja sebagai usia bermasalah

Masalah pada masa remaja terjadi dibsebabkan karena pertama pada masa kanak-kanak, masalah anak-anak sebagian diselesaikan oleh orang tua dan guru-guru sehingga kebanyakan remaja tidak berpengalaman menyelasaikan msalah. Kedua, karena remaja mrasa mandiri sehingga mereka ingin mengatasi masalah

c. Perkembangan Sosial Remaja

Salah satu tugas perkembangan masa remaja yang tersulit yaitu yang berhubungan dengan penyesuaian sosial (Nurihsan dan Agustin, 2013:79). Remaja harus membuat banyak penyesuaian baru untuk mencapai tujuan dari pola sosialisasi dewasa. Yang terpenting dan tersulit adalah penyesuaian diri dengan meningkatnya pengaruh kelompok sebaya, perubahan dalam perilaku sosial, pengelompokan sosial yang baru, nilai-nilai baru dalam seleksi persahabatan, nilai-nilai baru dalam dukungan dan penolakan sosial, dan nilai-nilai baru dalam seleksi pemimpin. Pada masa remaja awal remaja ada ketergantungan yang kuat kepada kelompok sebaya disertai semangat konformitas yang tinggi.

43

Remaja awal memiliki ambivalensi (perasaan tidak sadar yang saling bertentangan terhadap situasi yang sama atau tehadap sesorang pada waktu yang sama) antara keinginan lepas dari dominasi pengaruh orang tua dengan kebutuhan bimbingan dan bantuan dari orang tuanya. Pada masa ini, remaja juga mengalami kecenderungan untuk menyendiri dan ingin bergaul dengan banyak teman tetapi bersifat temporer.

d. Perkembangan Moral Remaja

Salah satu tugas perkembangan yang penting untuk dikuasi oleh remaja adalah mempelajari apa yang diharapkan oleh kelopok terhadap dirinya dan mau mebentuk perilakunya sesuai harapan sosial tanpa terus dibimbing, diawasi, didorong, dan diancam hukuman seperti saat kanak-kanak (Nurihsan dan Agustin, 2013:85).

Mitchell meringkas lima perubahan dasar dalam moral yang harus dilakukan oleh remaja yaitu:

1) Pandangan moral individu semakin lama semakin menjadi lebih abstrak dan kurang konkret.

2) Keyakinan moral lebih berpusat pada apa yang benar dan kurang pada apa yang salah. Keadilan muncul sebagai kekuatan moral yang dominan.

3) Penilaian moral menjadi semakin kognitif. Ia mendorong remaja menjadi lebih berani menganalisis kode sosial dan kode pribadi daripada masa anak-anak dan berani mengambil keputusan terhadap berbagai masalah moral yang dihadapinya. 4) Penilaian moral menjadi kurang egosentris.

44

5) Penilaian moral secara psikologis menjadi lebih mahal dalam arti bahwa penilaian moral merupakan bahan emosi dan menimbulkan ketegangan psikologis. (Nurihsan dan Agustin, 2013:85)

Para remaja banyak yang tidak berhasil dan bahkan membentuk kode moral berdasarkan konsep moral yang secara sosial tidak dapat diterima saat proses mencapai moralitas dewasa. Pada masa remaja, mereka ingin membentuk kode moral sendiri berdasarkan konsep tentang benar dan salah yang telah diubah dan diperbaiki agar sesuai dengan tingkat perkembangan yang lebih matang dan yang telah dilengkapi dengan hukum-hukum dan peraturan-peraturan yang dipelajari dari orang tua, guru, bahkan dari ajaran agamanya.

Abin Syamsudin menyampaikan bahwa secepat individu menyadari sebagai anggota dari suatu kelompok, secepat itu pula pada mumnya individu menyadari bahwa terdapat aturan perilaku-perilaku yang boleh, harus, dan terlarang melakukannya. Proses penyadaran tersebut berlangsung melalui interaksinya dengan lingkungan dimana mungkin ia mendapat larangan, suruhan, pembenaran atau persetujuan, kecaman atau celaan, merasakan akibat-akibat tertentu yang mungkin menyenangkan atau mengecewakan dari perbuatan yang dilakukannya.

Dokumen terkait