HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
H. Perkembangan Aplikasi Tracking and Tracing System pada Perusahaan Logistik Nasional
Dari hasil interview dengan pelaku bisnis yang terkait dengan bidang logistik (ASPERINDO dan ALFI), diperoleh informasi bahwa saat ini para pelaku bisnis nasional yang sudah mengaplikasikan tracking system dalam pelayanan jasa logistiknya masih sangat sedikit (kurang dari 5% dari total perusahaan yang terdaftar). Bagi perusahaan-perusahaan yang tergolong dalam kelas usaha kecil dan menengah, mayoritas (95%) belum memiliki atau melengkapi bisnisnya dengan pelayanan sistem informasi barang yang
dapat diakses secara on-line. Proses monitoring/pelacakan barang dilakukan dengan metode konvensional (melalui sambungan telepon).
Tabel 8. Karakteristik pelaku usaha logistik nasional dalam pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk mendukung aplikasi tracking and tracing system
Skala Perusahaan Teknologi
Kecil Sedang Besar
Sensor barang Tulis kode pada barang
Tag System:
Barcode pada barang
Tag System: Barcode pada barang dan RFID pada armada/
kontainer
Sensor posisi SMS Laporan posisi
pada lokasi transit barang
GPS pada armada pengangkut Sistem telekomunikasi Modul telepon
pada GSM
Modul telepon pada GSM
Modul data pada GSM
Sistem monitoring SMS Web based Web based dan aplikasi smartphone Sumber: Analisis Konsultan, 2013
Dalam kondisi keterbatasan sumber daya yang saat ini masih menjadi kendala bagi para pelaku usaha kecil dan menengah dalam rangka pengembangan tracking and tracing system tersebut. Untuk itu, Pemerintah dapat memberikan dukungan berupa fasilitasi penyelenggaraan sistem tersebut.
I. Konsep Model Tracking and Tracing System untuk Mendukung Kegiatan Angkutan Barang
Prinsip utama yang digunakan dalam pengembangan model tracking and tracing system, seperti diilustrasikan pada Gambar 11, adalah proses dokumentasi barang dilakukan hanya pada satu database sehingga mengurangi redundansi data. Dengan memanfaatkan web services maka setiap sistem yang diberi hak akses akan dapat berkomunikasi sehingga tidak diperlukan pemindahan data dari satu database ke database yang lain kecuali untuk alasan khusus misalnya pendataan legalitas dokumen barang.
Dengan web services ini apabila suatu perusahaan jasa pengiriman bekerjasama dengan perusahaan jasa pengiriman yang lain yang sama-sama menerapkan web services dalam dokumentasi barang maka tidak perlu dilakukan pencatatan ulang dokumen barang karena di antara dua sistem yang menerapkan web services dapat berkomunikasi, sehingga hanya diperlukan pembacaan identitas (ID) barang. Pembacaan identitas barang dengan menerapkan RFID akan mempercepat proses karena dapat dilakukan terhadap beberapa barang sekaligus.
Analisis dan Pembahasan
Gambar 11 . Skema model operasional aplikasi tracking and tracing system Sumber: Analisis Konsultan, 2013
Akuisisi data posisi dilakukan oleh smartphone yang sudah dilengkapi GPS. Smartphone ini akan dibawa oleh armada pengangkut barang.
Apabila terjadi perpindahan moda transportasi misalnya kapal maupun pesawat maka informasi posisi mengacu pada teknologi yang sudah diterapkan oleh perusahaan transportasi kapal maupun pesawat.
Di samping untuk akuisisi posisi, smartphone juga digunakan untuk menyimpan dan mengirimkan bukti bahwa barang telah terkirim dengan cara mengambil foto dan tanda tangan digital dari penerima barang. Data ini digunakan untuk mengupdate laporan pengiriman barang kepada pusat data yang dimiliki oleh jasa pengiriman barang.
Teknologi yang diterapkan pada model ini adalah:
1) Sistem identifikasi barang disesuaikan dengan skala usaha dari perusahaan penyedia jasa pengiriman barang. Untuk skala menengah sampai kecil dapat menggunakan barcode, sedangkan untuk perusahaan skala besar dapat menggunakan RFID. Dengan menggunakan barcode maupun RFID maka proses pemindaian barang akan lebih cepat dan akurat.
2) Penyimpanan data barang dengan menggunakan database dan memanfaatkan web services agar dapat berkomunikasi dengan sistem lain, misal untuk perpindahan barang antar moda angkutan tidak perlu pendataan ulang terhadap dokumantasi barang. Adapun dokumen legal tetap masih diperlukan tetapi dapat memanfaatkan data yang ada pada web services sehingga pembuatan dokumen legal akan lebih cepat.
3) Fasilitas GSM atau data services, GPS, dan kemampuan pemrograman yang dapat dilakukan pada satu perangkat smartphone akan membantu dalam membarikan laporan barang dan posisi barang pada setiap tahap perjalanan barang menuju tempat tujuan.
4) Tampilan web GIS yang dapat dapat memberikan informasi posisi barang bagi beberapa fihak (misalnya pemilik barang, calon penerima barang dan perusahaan penyedia jasa angkutan) karena disajikan dalam format online.
Dalam perencanaan pembangunan sistem diperlukan media Data Flow Diagram (DFD) atau Diagram Aliran Data. DFD adalah sebuah teknis grafis yang menggambarkan aliran informasi dan transformasi yang diaplikasikan pada saat data bergerak dari input menjadi output (Pressman, 2001). DFD digunakan untuk menyajikan sebuah sistem atau perangkat lunak pada setiap tingkat abstraksi. DFD dapat dipartisi ke dalam tingkat-tingkat yang merepresentasikan aliran informasi yang bertambah. DFD memberikan suatu mekanisme bagi pemodelan fungsional dan pemodelan aliran informasi.
Skema DFD berisi simbol-simbol yang menunjukkan subjek yang terlibat dalam sistem (simbol persegi panjang), aliran informasi (simbol anak panah), proses (simbol oval), dan penyimpan data (simbol kurva persegi
panjang terbuka satu sisi). Pada Gambar 12 disajikan DFD level 0 (diagram konteks) pada tracking and tracing system.
Diagram Konteks seperti terlihat pada Gambar 12 merupakan diagram awal pada proses pembuatan Data Flow Diagram. Pada Diagram Konteks ini hanya terdapat satu proses yaitu tracking and tracing system. Entitas luar yang ada pada Diagram Konteks adalah sumber atau tujuan data di mana data tersebut mengalir. Entitas luar yang digambar adalah fihak yang memberikan atau menerima data pada proses yang ada dalam Diagram Konteks, sedangkan fihak yang melakukan proses tersebut disebut entitas dalam, pada DFD entitas dalam tidak digambarkan karena fihak atau perangkat tersebut yang memproses.
Pada diagram konteks tracking and tracking system ini, entitas luar yang terlibat yaitu pengirim barang, penerima barang, pemilik armada, dan sistem administrasi barang di simpul transportasi barang. Arah panah menunjukkan aliran informasi misal pada pengirim barang akan memperoleh informasi posisi barang dan dilain arah pengirim barang akan memberikan informasi tentang barang yang akan dikirim yang selanjutnya disimpan oleh sistem.
Tracking and Tracing System Pengirim Barang
Pemilik Armada Barang
Posisi Barang
Data Barang
Posisi Armada
Sistem Administrasi Barang di Simpul Transportasi Barang Data Barang
Penerima Barang
Bukti Barang Terkirim Posisi Barang
Gambar 12. DFD level 0 (diagram konteks) tracking and tracing system Sumber: Hasil analisis Konsultan, 2013