BAB III AKUNTABILITAS KINERJA
PERKEMBANGAN BLU BPDPKS
A. Program Nasional terkait Sawit (arahan Presiden)
1. Peremajaan perkebunan kelapa sawit seluas 500.000 ha selama 3 tahun (Target Ditjen Perkebunan 2,4 juta ha s.d. 2033). Program ini dimaksudkan untuk meningkatkan produktifitas tanaman karena telah berusia lebih dari 25 tahun (usia produktif) atau karena penggunaan bibit ilegitem (palsu/bukan bibit unggul).
Positif:
a. Dalam jangka pendek (selama belum produksi /4 tahun) akan memangkas jumlah produksi/supply sehingga dapat meningkatkan harga jual.
b. Dalam jangka panjang (lbh dari 4 tahun):
• meningkatkan produktifitas kebun sehingga menurunkan harga pokok produksi dan akhirnya meningkatkan pendapatan/kesejahteraan petani.
• Menjaga ketersediaan pasokan CPO sebagai bahan dasar biodiesel dengan harga yang lebih murah. Program biodiesel yang semakin meningkat target penyerapannya berakibat pada semakin besarnya kebutuhan CPO. Hal ini harus diimbangi dengan naiknya produktifitas untuk menjaga ketersediannya agar insentif yang dibayarkan dapat dibiayai oleh BPDPKS.
c. Dalam rangka mempercepat pencapaian target, saat ini sedang disusun regulasi yang memungkinkan penerbitan rekomendasi teknis melalui pihak ketiga (surveyor).
Negatif:
a. Selama masa peremajaan (4 thn) tidak ada penghasilan bagi petani. (Perlu dipikirkan nasib petani → dapat menggunakan tumpangsari, diikutkan program pengembangan SDM dll).
b. Dengan naiknya produktifitas dapat memicu kelebihan supply (turunnya harga sebagaimana tahun 2014/2015 maupun tahun 2019), perlu dipikirkan pasar yang dapat menyerap kelebihan produksi dalam jumlah besar. (saat ini adalah program B30, kedepan B50, B100, kemudian bensin dan avtur).
c. Penggunaan pihak ketiga (surveyor) dikhawatirkan mendapat kendala dari Dinas Perkebunan tingkat Kabupaten/Provinsi.
2. Program mandatory Pencampuran Biodiesel 30% (B30), target 9,6 juta kilo liter.
Positif:
a. Menciptakan pasar baru yang cukup besar untuk mengembalikan harga keekonomiannya (stabilisasi harga).
b. Menghemat devisa negara melalui pengurangan impor solar (memperbaiki neraca perdagangan) → Fokus dari Presiden dan Menteri Keuangan
c. Kemandirian energi nasional pada energi terbarukan.
Negatif:
a. Membutuhkan dana yang cukup besar dalam bentuk insentif kepada industri biodiesel apabila harga biodiesel lebih tinggi dari harga solar (dijual pada harga solar). Tahun 2020 membutuhkan insentif cukup besar diperkirakan mencapai 24 triliun (per liter saat ini diatas Rp2.500). Hal ini dapat menggerus saldo awal Rp 16 triliun dan dikawatirkan tahun depan tidak dapat mebiayai operasional. Perlu langkah-langkah antara lain:
• Pembatasan insentif maksimal (capping) sebesar Rp2.500,-
• Penerapan tarif progresif.
• Pengenaan iuran.
b. Perlu melakukan ujicoba kesiapan teknis (uji ketahan mesin menggunakan biodiesel, kesiapan logistic penyaluaran biodiesel seluruh wilayah, dll).
3. Simplifikasi pemeriksaan ekspor (Paket Kebijakan ekonomi).
Pemerintah mengambil kebijakan untuk mempercepat ekspor CPO dan Produk Turunannya dengan simplifikasi pemeriksaan barang. Sebelumnya double inspection (Surveyor dan DJBC) menjadi single inspection.
Positif:
1. Mengurangi waktu persiapan ekspor sehingga dapat menekan biaya. Hal ini berdampak pada meningkatkan daya saing produk.
2. Menghemat biaya sekitar Rp120 miliar sebagai dampak penghilangan fungsi surveyor (Kontrak dengan PT Sucofindo selaku surveyor yang ditunjuk).
Negatif:
1. Perlu mengembangkan system yang baru dimana DJBC selaku pemeriksa menerbitkan billing, BPDPKS menerbitkan tanda telah dibayar (semacam NTPN).
2. DJBC dan BPDPKS perlu mempersiapkan sumber daya baik manusia maupun peralatan (laboratorium, jaringan online yang memadai, dll).
Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH)
Pemerintah Indonesia telah membuat perubahan yang signifikan terhadap lingkungan serta berkomitmen untuk melaksanakan pengembangan yang berkelanjutan. Ha ini juga sejalan dengan undang-undang dasar negara Indonesia dimana disebutkan bahwa lingkungan yang sehat juga merupakan hak seluruh warga negara Indonesia. Pemerintah menyadari telah terjadi perubahan iklim yang drastis yang nantinya akan mengancam kelangsungan hidup manusia dan menjadikan ini sebagai tantangan tersendiri dalam mencapai tujuannya terkait lingkungan hidup.
Pada konferensi UNFCCC di Paris tahun 2015, Pemerintah Indonesia telah berkomitmen untuk mengurangi emisi gas rmah kaca sebanyak 41% pada 2030, untuk itu diperlukan pengelolaan keuangan tersendiri dalam mencapai target ini.
Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH) dibentuk pada tahun 2019 untuk mengelola seluruh pendanaan terkait dengan lingkungan serta mendistribusikan dan menempatkan dana tersebut dalam rangka mendukung visi Indonesia terkait dengan pelestarian fungsi dari lingkungan hidup dan mencegah meningkatnya polusi lingkungan. Dalam pelaksanaannya, BPDLH mengelola dana baik itu yang berasal dari luar (internasional) ataupun dana dalam negeri, serta dana swasta maupun dana pemerintah, pengelolaan dana ini nantinya akan dilakukan melalui beberapa instrumen keuangan di beberapa sektor yang tetap mendukung tujuan BPDLH itu sendiri. BPDLH akan beroperasional dengan dua jenis pendanaan yaitu:
1. Dana Pengelolaan Pencemaran Lingkungan dan / atau Kerusakan dan Pemulihan Lingkungan yang ebrsumber dari dana APBN dan dana domestik lainnya.
2. Dana Perwalian / Dana Bantuan Konservasi yang bersumber dari mitra pembangunan nasional dan internasional
BPDLH adalah badan pengelola dana lingkungan pertama di Indonesia yang akan mendukung negara untuk membuka potensi sumber pembiayaan perubahan iklim global. Walaupun masih seumur jagung, namun dana yang akan dikelola oleh BPDLH
diestimasi mencapai Rp. 830,56T, dana ini akan diperluas melalui kegiatan penggalangan dana BPDLH, termasuk strategi penggalangan dana. BPDLH akan mengembangkan Strategi Penggalangan Dana yang mencakup sumber dana publik dan swasta internasional dan domestik untuk memastikan keberlanjutan dan ketersediaan pembiayaan dan selanjutnya menambah modal untuk dana tersebut.
Pada tahun 2020, BPDLH melaksanakan penyusunan instrument dan perangkat manajemen internal. Selain itu juga dibentuk rekening dana kelolaan khusus untuk menampung sumber dana yang masuk yang nantinya akan dikelola Kembali sesuai dengan strategi pendanaan di atas.
Halaman ini sengaja di kosongkan
BAB IV PENUTUP
Laporan Kinerja (LAKIN) Direktorat Sistem Manajemen Investasi Tahun 2020 merupakan bentuk pertanggungjawaban pencapaian visi misi Direktorat Sistem Manajemen Investasi dalam tahun anggaran 2020 dan disusun berdasarkan Rencana Kerja Tahunan yang ditetapkan pada awal tahun anggaran sekaligus sebagai perwujudan pelaksanaan Peraturan Presiden nomor 29 Tahun 2014 dan Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 53 Tahun 2014 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah.
Pencapaian kinerja Direktorat Sistem Manajemen Investasi tahun 2020 telah sesuai dengan target yang ditetapkan dimana seluruh IKU telah mencapai target yang ditentukan. Kinerja Direktorat Sistem Manajemen Investasi tahun 2020 yang dapat dinilai sebagai sebuah prestasi, antara lain :
a. Inisiatif Strategi Direktorat SMI yaitu Business and System Enhancement Pembiayaan Ultra Mikro (UMi) fase 2 (baseline) sudah 100% dilaksanakan lebih awal pada bulan November 2020. Inisiatif strategis ini merupakan langkah Penguatan Kelembagaan dan Kapasitas SDM PIP serta Koordinasi Pengembangan Sistem dan IT UMi melalui aplikasi Sistem Informasi Kredit Program. Aplikasi ini digunakan untuk membantu penyalur dalam melaksanakan tugas untuk menginput data debitur UMi. Serta mempermudah KPPN dalam fungsi pengawasan dana pembiayaan agar tepat sasaran.
Hasil dari Inisiatif Strategis pada tahun 2020 ini adalah Kajian Dampak Analisis Pembiayaan UMi yang dapat diselesaikan dengna keterbatasannya akibat pandemic COVID-19.
Pada tahun 2021, Inisiatif Direktorat SMI akan bergeser pada implementasi PP-63/2019 dimana penyiapan perangkat Investasi Pemerintah, sarana dan prasarana sudah mulai dikembangkan.
b. Disamping itu, terdapat pula keberhasilan dan terobosan yang cukup signifikan dilakukan Direktorat Sistem Manajemen Investasi pada tahun 2020, yaitu :
1) Pengesahan PMK 53 tahun 2020 mengenai Tata Cara Investasi Pemerintah sebagai PMK turunan dari PP 63 tahun 2019;
2) Pengesahan PMK No. 194/PMK.05/2020 tentang Tata Cara Penyelesaian Piutang Negara Yang Bersumber Dari Penerusan Pinjaman Luar Negeri, Rekening Dana Investasi, Dan Rekening Pembangunan Daerah Pada Badan Usaha Milik Daerah Tertentu, oleh Menteri Keuangan.
3) Pembentukan Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH) bekerjasama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, beberapa Duta Besar serta Menteri negara komite pengarah serta Pengesahan PMK No.124/PMK.05/2020 tentang Tata Cara Pengelolaan Dana Lingkungan Hidup.
Selama tahun 2020 terjadi pandemik COVID-19 yang berdampak pada setiap aspek termasuk salah satunya ketercapaian IKU dan realisasi anggaran. Sehingga terdapat penyesuaian pada formula perhitungan IKU dan penyesuaian target. IKU yang terdampak penyesuaian antara lain:
a. Indeks Efektivitas Investasi Pemerintah dengan penyesuaian pada perhitungan Nilai Keekonomian Debitur yang dikecualikan pada Semester I sehingga perhitungaanya hanya satu kali dalam satu tahun anggaran.
b. IKU Persentase pencapaian target penerimaan pokok dan bunga pinjaman dengan penyesuaian pada pengurangan target penerimaan untuk PMN Non Cash. Pengurangan target ditetapkan karena terdapat pengaruh eksternal dalam penentuan capaian target serta bukan merupakan tanggung jawab Direktorat SMI.
c. Persentase kualitas pelaksanaan anggaran Direktorat Sistem Manajemen Investasi dengan penyesuaian berupa pengecualian perhitungan pada Triwulan I dan Triwulan II tahun 2020.
Pengecualian dilakukan karena terbatasnya aktivitas terkait realisasi anggaran direktorat selama masa PSBB COVID-19 berlangsung.
Dengan disusunnya LAKIN ini diharapkan dapat memberikan informasi yang transparan baik kepada pimpinan Kementerian Keuangan pada umumnya, Direktorat Jenderal Perbendaharaan pada khususnya, maupun seluruh pihak yang terkait dengan tugas dan fungsi Direktorat Sistem Manajemen Investasi.
Diharapkan pula LAKIN ini untuk seluruh jajaran Direktorat Sistem Manajemen Investasi dapat menjadi umpan balik sebagai landasan peningkatan kinerja pada periode yang akan datang.
Halaman ini sengaja dikosongkan
Kode
SS/IKU Sasaran Strategis/IKU Target Realisasi Pol V/C* Bobot Bobot Tertimbang
Indeks Capaian IKU/NSS/Np
Stakeholder (25.00) 112.50
Pengelolaan Investasi Pemerintah yang akuntabel dan produktif dengan risiko terkendali 112.50
1a-CP Indeks Efektivitas Investasi Pemerintah 4.00 4.50 Maximize Exact Moderate 21.00% 100.00% 112.50
Customer (15.00) 104.36
Birokrasi dan layanan publik yang agile,efektif, dan efisien 106.67
2a-N Indeks Kepuasan publik atasan layanan Dit
SMI 4.63 4.75 Maximize Exact Moderate 21.00% 30.88% 102.59
2b-N Indeks efektivitas implementasi layanan
pengguna melalui HAI DJPb 3.00 3.57 Maximize Exact Moderate 21.00% 30.88% 119.00
2c-N Indeks kepatuhan stakeholder 3.60 3.60 Maximize Exact Low 26.00% 38.24% 100.00
Fasilitasi Investasi 102.04
3a-N Persentase Pemenuhan Pelaksanaan Monev
Pembiayaan UMi Oleh Instansi Vertikal 98.00 100.00 Maximize Proxy Moderate 14.00% 100.00% 102.04
Internal Process (30.00) 111.80
3.00 4.00 Maximize Exact Moderate 21.00% 100.00% 120.00
Penyaluran Dana Investasi yang pruden dan Optimal 107.28
5a-N Persentase pencapaian target penerimaan
pokok dan bunga pinjaman 100.00 107.28 Maximize Proxy Moderate 14.00% 100.00% 107.28
Pengelolaan investasi pemerintah yang efektif 120.00
6a-N Persentase Efektifitas Pembinaan terhadap
BLU Pengelola Dana pada DJPB 82.00 152.87 Maximize Proxy Low 19.00% 57.58% 120.00
6b-N Indeks penyelesaian restrukturisasi piutang
negara 3.00 4.00 Maximize Proxy Moderate 14.00% 42.42% 120.00
Komunikasi dan edukasi investasi yang berkesinambungan 100.92
7a-N Indeks efektivitas edukasi dan komunikasi 87.00 87.80 Maximize Proxy Moderate 14.00% 100.00% 100.92
Akuntansi dan pelaporan Investasi yang akuntabel, transparan dan tepat waktu 110.78
8a-N
Indeks Penyelesaian LK Bagian Anggaran penerusan pinjaman, investasi pemerintah dan belanja subsidi (unaudited) secara tepat waktu
3.25 4.00 Maximize Proxy Moderate 14.00% 33.33% 120.00
8b-N Indeks kualitas Laporan Keuangan BA 999.04 4.00 4.00 Maximize Proxy Moderate 14.00% 33.33% 100.00
8c-N
Persentase penyelesaian rekomendasi BPK atas LKPP dan LK BUN yang telah
ditindaklanjuti
89.00 100.00 Maximize Proxy Moderate 14.00% 33.33% 112.36
Learning and Growth (30.00) 111.10
Pengelolaan Organisasi dan SDM yang Optimal 115.54
9a-N Nilai rata-rata hard competency pegawai 77.00 92.09 Maximize Proxy Moderate 14.00% 33.33% 119.60 9b-N Nilai kualitas pengelolaan kinerja berbasis
Strategy Focused Organization 83.00 91.71 Maximize Proxy Moderate 14.00% 33.33% 110.49
9c-N Nilai hasil evaluasi pelaksanaan tugas
kepatuhan internal 83.00 96.74 Maximize Proxy Moderate 14.00% 33.33% 116.55
Pengelolaan keuangan yang optimal 105.26
10a-N Persentase kualitas pelaksanaan anggaran
Dit. SMI 95.00 100.00 Maximize Proxy Moderate 14.00% 100.00% 105.26
NILAI KINERJA ORGANISASI 110.65
TAHUN ANGGARAN : 2020
No. SASARAN STRATEGIS %
1 Pengelolaan Investasi Pemerintah yang akuntabel dan produktif dengan risiko terkendali
1a-CP Indeks Efektivitas Investasi Pemerintah 4 (skala 5)
120
2a-N Indeks kepuasan pengguna atas layanan Dit. SMI 4,63 (skala 5) 102,59
2b-N Indeks implementasi layanan konsultasi HAI DJPb secara berkualitas dan tepat
waktu 3 (Skala 4) 119,00
2c-N Indeks kepatuhan stakeholder 3,6 (skala 4) 100,00
3 Fasilitas Investasi 3a-N Persentase Pemenuhan Pelaksanaan Monev Pembiayaan UMi Oleh Instansi
Vertikal 102,04
4 Perumusan Kebijakan yang optimal 4a-N Indeks Penyelesaian RPMK/RKMK kebijakan sesuai program perencanaan
RPMK/RKMK Direktorat SMI 120
5 Penyaluran Dana Investasi yang pruden dan Optimal 5a-N Persentase pencapaian target penerimaan pokok dan bunga pinjaman 107,28
6a-N Persentase efektivitas pembinaan terhadap BLU Pengelola Dana pada DJPb 120,00
6b-N Indeks penyelesaian restrukturisasi piutang negara 3 (skala 4) 120
7 Komunikasi dan edukasi investasi yang berkesinambungan
7a-N Indeks Efektivitas edukasi dan komunikasi
87 (skala 100) 100,92
8a-N Indeks Penyelesaian LK Bagian Angagaran Penerusan Pinjaman, investasi
pemeritah dan belanja subsidi (unaudited) secara tepat waktu 3,25 (skala 4) 120
8b-N Indeks kualitas LK BA 999.04 4 (skala 4) 100
8b-CP Persentase penyelesaian rekomendasi BPK atas LKPP dan LK BUN yang telah
ditindaklanjuti 112,35955
9a-CP Nilai rata-rata hard competency pegawai 119,5974
9b-N Nilai kualitas pengelolaan kinerja berbasis Strategy Focused Organization 110,49398
9c-N Nilai hasil evaluasi pelaksanaan tugas kepatuhan internal 116,55
10 Pelaksanaan anggaran yang optimal 10a-N Persentase kualitas pelaksanaan anggaran Direktorat Sistem Manajemen
Investasi 105,26
11 Sistem Manajemen Investasi yang andal dan modern 11a-N Indeks pemanfaatan SIKP oleh stakeholders 4 (skala 5) 112,5
Jumlah Anggaran Program Tahun 2020 (setelah revisi) Rp 6.412.814.000 Jumlah Realisasi Anggaran Program Tahun 2020 Rp 5.789.559.809
90,28% Direktur Sistem Manajemen Investasi
9
Birokrasi dan layanan publik yang agile,efektif, dan efisien Pengelolaan Organisasi dan SDM yang Optimal
4,5
Akuntansi dan pelaporan Investasi yang akuntabel, transparan dan tepat waktu
TAHUN ANGGARAN : 2021
No. SASARAN STRATEGIS TARGET
1 Pengelolaan Investasi Pemerintah yang akuntabel dan produktif dengan risiko terkendali
1a-CP Indeks Efektivitas Investasi Pemerintah 4 (skala 5)
2a-N Indeks kepuasan stakeholder 4,64 (skala 5)
2b-N Indeks efektivitas implementasi layanan pengguna melalui HAI DJPb 3,2 (skala 4)
2c-N Indeks kepatuhan stakeholder 3,6 (skala 4)
3 Fasilitas Investasi 3a-N Persentase Pemenuhan Pelaksanaan Monev Pembiayaan UMi Oleh Instansi Vertikal
98%
4 Perumusan Kebijakan yang optimal 4a-N Indeks Penyelesaian RPMK/RKMK kebijakan sesuai program perencanaan RPMK/RKMK
3,25 (skala 4) 5 Penyaluran Dana Investasi yang pruden dan Optimal 5a-CP Indeks pencapaian target penerimaan pokok dan bunga pinjaman 3 (skala 5)
6a-N Persentase efektivitas pembinaan terhadap BLU Pengelola Dana pada DJPb
85%
6b-N Indeks penyelesaian restrukturisasi piutang negara 4 (skala 5) 7 Komunikasi dan edukasi investasi yang
berkesinambungan
7a-N Indeks Efektivitas edukasi dan komunikasi 87,5 (skala 100) 8a-N Indeks Penyelesaian LK Bagian Anggaran Penerusan Pinjaman, investasi
pemeritah dan belanja subsidi (unaudited) secara tepat waktu
3,25 (skala 4)
8b-N Indeks kualitas LK BA 999.04 4 (skala 4)
8c-N Persentasi rekomendasi hasil pemeriksaan BPK atas LKPP dan LKBUN yang telah ditindaklanjuti
90%
9a-CP Nilai rata-rata hard competency pegawai 78
9b-N Nilai kualitas pengelolaan kinerja berbasis Strategy Focused Organization 84 9c-N Nilai hasil evaluasi pelaksanaan tugas kepatuhan internal 83 10 Pelaksanaan anggaran yang optimal 10a-CP Persentase kualitas pelaksanaan anggaran Direktorat Sistem Manajemen
Investasi
96%
11 Sistem Manajemen Investasi yang andal dan modern 11a-N Indeks pemanfaatan SIKP oleh stakeholders 4,5 (skala 5)
Jumlah Anggaran Program Tahun 2021
Rp. 11.301.850.000
Direktur Sistem Manajemen Investasi INDIKATOR KINERJA UTAMA
6 Pengelolaan investasi pemerintah yang efektif 2 Birokrasi dan layanan publik yang agile,efektif, dan
efisien
8 Akuntansi dan pelaporan Investasi yang akuntabel, transparan dan tepat waktu
Pengelolaan Organisasi dan SDM yang Optimal 9
015.08.09 PROGRAM PENGELOLAAN PERBENDAHARAAN NEGARA