-1.000.000 2.000.000 3.000.000 4.000.000 5.000.000 6.000.000 7.000.000
I II III IV I II III IV I II III IV I II
Komposisi penyaluran kredit MKM masih didominasi oleh kredit mikro. Kontribusi kredit mikro terhadap total kredit MKM mencapai
45,39% pada triwulan laporan atau menurun dibandingkan dengan posisi tahun sebelumnya yang mencapai 52,33% dari total kredit MKM yang disalurkan. Sementara itu, bila dilihat dari laju pertumbuhannya kredit berkategori kecil mencatatkan pertumbuhan yang paling tinggi dibandingkan kredit berjenis mikro maupun menengah dengan pertumbuhan mencapai 51,59%. Perbedaan akselerasi yang signifikan antar jenis kredit bisa merubah struktur kredit MKM perbankan NTT dalam jangka panjang. Kondisi tersebut juga mengindikasikan pergeseran kemampuan (capacitiy) debitur dan peningkatan kapasitas ekonomi secara keseluruhan.
3.4 Perkembangan BPR
Kinerja Bank Perkreditan Rakyat (BPR) triwulan II-2009 masih menunjukkan pergerakan yang positif. Tercermin dari indikator utama
kinerja perbankan, yaitu aset, penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) dan
I II III IV I II III IV I II KREDIT UMKM 3.276 3.666 3.983 4.167 4.268 4.777 5.202 5.339 5.470 5.999 y-o-y 30,78% 31,93% 29,86% 31,14% 30,29% 30,29% 30,59% 28,11% 28,15% 25,60% MIKRO 2.206 2.275 2.364 2.414 2.411 2.500 2.636 2.647 2.603 2.723 y-o-y 24,54% 14,58% 14,12% 11,51% 9,29% 9,89% 11,49% 9,67% 7,97% 8,93% KECIL 668 919 1.082 1.162 1.244 1.535 1.742 1.894 2.026 2.327 y-o-y 42,26% 86,82% 69,30% 84,14% 86,17% 67,09% 60,96% 62,98% 62,90% 51,59% MENENGAH 402 473 537 591 613 742 824 798 813 949 y-o-y 52,21% 56,62% 50,58% 54,82% 52,62% 56,95% 53,44% 34,86% 32,60% 27,99% 2009 2008 KREDIT (Rp miliar) 2007 2006 2007 2008 2009 Rp j u ta 0% 5% 10% 15% 20% 25% 30% 35%
Kredit UMKM Total kredit Kredit UMKM (y-o-y)
Menengah 15,83% Kecil 38,79% Mikro 45,39% Grafik 3.10 Komposisi Kredit MKM Grafik 3.9 Perkembangan Kredit MKM
Sumber : Bank Indonesia Kupang Sumber : Bank Indonesia Kupang
Grafik 3.3 Perkembangan Komponen Kredit MKM
penyaluran kredit yang tumbuh signifikan dibandingkan dengan triwulan II-2008. Tren peningkatan aktivitas perekonomian provinsi NTT menjadi pendorong utama pertumbuhan kinerja BPR. Pertumbuhan aset, DPK dan kreidt BPR yang jauh diatas rata-rata pertumbuhan Bank Umum mengindikasikan bahwa masih besar peluang pengembangan BPR, baik dari sisi kuantitas maupun kualitas BPR. Hal tersebut melatarbelakangi pendirian BPR baru yang berlokasi di Atambua dan secara resmi dibuka pada bulan Juni 2009. I II III IV I II Aset 40,722 48,494 58,285 68,323 75,097 84,022 y-o-y aset 61.17% 66.77% 79.18% 96.08% 84.41% 73.26% DPK 20,838 27,794 35,399 38,893 44,438 52,076 y-o-y DPK 100.36% 109.09% 120.50% 126.58% 113.26% 87.36% Kredit 26,963 36,627 47,704 51,479 59,111 67,971 y-o-y kredit 39.32% 70.11% 102.55% 108.80% 119.23% 85.57% LDR 129.40% 131.78% 134.76% 132.36% 133.02% 130.52% NPLs (nominal) 1,431 1,297 1,604 1,345 2,572 2,118 NPLs 5.31% 3.54% 3.36% 2.61% 4.35% 3.12% Indikator (juta) 2008 2009
Tabel 3.4 Perkembangan Usaha BPR (juta)
Sumber : Bank Indonesia Kupang
Pertumbuhan aset, DPK dan kredit BPR Provinsi meningkat signifikan walaupun akselerasi penyaluran kredit dan penghimpunan DPK relatif melambat dibanding triwulan II-2008. Perkembangan total
aset BPR provinsi NTT posisi triwulan II-2009 mencapai Rp 84,02 miliar atau meningkat sebesar 73,26% dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar Rp 48,49 miliar. Sementara pertumbuhan outstanding kredit pada triwulan laporan meningkat sebesar 85,57% dari Rp 36,63 miliar pada triwulan II-2008 menjadi sebesar Rp 67,97 miliar. Sejalan dengan hal tersebut, total penghimpunan dana oleh BPR di Provinsi NTT meningkat hingga 87,36% (y-o-y). Peningkatan DPK merupakan kontribusi dari peningkatan nominal dana pada rekening tabungan dan rekening deposito masing-masing sebesar 91,58% dan 84,12%.
Grafik 3.11 Pertumbuhan Kinerja BPR Grafik 3.12 Perkembangan LDR
Sumber : Bank Indonesia Kupang Sumber : Bank Indonesia Kupang
Akselerasi penyaluran kredit yang relatif melambat dibandingkan dengan jumlah dana yang dihimpun berpengaruh terhadap kinerja intermediasi BPR. Hal tersebut tercermin dari Loan to
Deposit Ratio (LDR) BPR yang mencapai 130,52% yang relatif menurun
dibandingkan triwulan II-2008 sebesar 131,78%. Namun LDR BPR Provinsi NTT masih berada diatas level 100% yang mengindikasikan bahwa sumber dana penyaluran kredit tidak hanya berasal dari penghimpunan dana, tetapi juga dari modal BPR. Salah satu faktor yang mendorong tingginya penyaluran kredit BPR adalah kemudahan administrasi dalam pengajuan kredit yang selama ini merupakan masalah yang sering dikeluhkan oleh calon debitur bank umum. Selain itu, linkage program antara bank umum dan BPR juga dinilai sebagai penyebab tingginya penyaluran kredit BPR. Selain LDR, indikator lain untuk menilai kinerja BPR adalah rasio NPLs yang mencerminkan resiko kredit BPR. Pada triwulan II-2009, rasio NPLs relatif terkendali yaitu 3,12% menurun dibandingkan dengan triwulan II-2008 yang mencapai 3,54%. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan BPR dalam melakukan assesment terhadap pengajuan kredit relatif baik.
Komposisi kredit BPR ditinjau dari sisi penggunaan lebih produktif dibandingkan dengan bank umum. Berbeda dengan bank
umum dimana penyaluran kredit didominasi oleh kredit konsumsi, penyaluran kredit BPR cenderung didominasi oleh kredit modal kerja. Posisi triwulan II-2009, kontribusi kredit modal kerja mencapai 54,61% dari total kredit BPR atau meningkat dibandingkan dengan triwulan II-2008 dimana
komposisinya sebesar 50,65%. Berbanding terbalik dengan kredit modal kerja, komposisi kredit untuk konsumsi mengalami penurunan hingga mencapai 39,52% dari total outstanding kredit BPR.
Grafik 3.13 Kredit BPR Menurut Penggunaan Grafik 3.14 Komposisi Kredit sektoral BPR
Sumber : Bank Indonesia Kupang Sumber : Bank Indonesia Kupang
Secara sektoral, komposisi kredit BPR masih didominasi oleh sektor lain-lain. Struktur kredit BPR belum mengalami perubahan yang
signifikan. Sektor pertanian yang memberikan kontribusi terbesar dalam PDRB belum mendapat perhatian khusus, tercermin dari share kredit untuk sektor pertanian hanya sebesar 5,41% dari total penyaluran kredit BPR. Sementara itu, penyaluran kredit pada sektor jasa-jasa mengalami peningkatan yang signifikan sebesar 137,68% yang berdampak pada peningkatan komposisi kredit pada sektor ini mencapai 25,25%.
B
BB AAABBB IIIVVV
S
SSIIISSSTTTEEEMMMPPPEEEMMMBBBAAAYYYAAARRRAAANNN
4.1 Kondisi Umum
Aktivitas sistem pembayaran masih mengalami tekanan pada triwulan II-2009 dibandingkan triwulan II-2008. Penurunan aktivitas sistem
pembayaran mengindikasikan terjadinya penurunan aktivitas perekonomian di provinsi NTT pada triwulan laporan dibandingkan tahun lalu. Hal tersebut tercermin dari penurunan volume sistem bayaran yang tercatat dalam transaksi tunai di Kantor Bank Indonesia Kupang. Volume bayaran pada triwulan laporan tercatat sebesar Rp 523,52 miliar atau mengalami penurunan sebesar 6,89% dibandingkan triwulan II-2008. Kondisi berbeda terjadi pada volume setoran yang mencatatkan kenaikan sebesar 20,97% (y-o-y) pada triwulan laporan. Walaupun terjadi penurunan volume pembayaran dibandingkan dengan tahun sebelumnya, namun wolume bayaran masih jauh lebih besar dibandingkan dengan volume setoran sehingga menyebabkan net inflow bernilai negatif, yang mengindikasikan peredaran uang kartal lebih besar dibandingkan dengan arus uang yang masuk. Walaupun secara tahunan, dari net inflow yang tercatat di KBI Kupang menunjukkan bahwa peredaran uang kartal pada triwulan laporan mengalami penurunan dibandingkan posisi triwulan II-2008.
Aktivitas kampanye baik Pemilu legislatif maupun pilpres (pemilihan presiden) yang terjadi bulan April dan Juli 2009 tidak berpengaruh signifikan terhadap aktivitas sistem pembayaran di provinsi NTT. Secara tahunan, volume uang kartal yang diedarkan tidak
mengalami kenaikan bahkan relatif menurun dibandingkan triwulan II-2008. Namun bila dibandingkan dengan triwulan I-2009, terjadi lonjakan permintaan uang kartal yang mencapai 218,75%. Aktivitas kampanye dalam rangka pemilihan presiden (pilpres) yang diadakan pada bulan Juli memberikan pengaruh yang lebih besar terhadap meningkatnya permintaan akan uang kartal dibandingkan dengan pemilu legislatif yang diadakan pada bulan April. Pada triwulan I-2009, masyarakat cenderung menekan konsumsi sebagai antisipasi kegiatan pilpres pada bulan Juni 2009. Dari data sistem pembayaran terlihat
bahwa konsumsi masyarakat pada pemilihan presiden (pilpres) lebih besar dibandingkan pada pemilu legislatif.
Tabel 4.1 Perkembangan Transaksi Tunai
Pembayaran
Tunai (miliar) I II III IV I II
setoran 527.55 175.25 247.34 273.20 596.39 211.99 y-o-y -25.53% -44.84% -9.20% 17.90% 13.05% 20.97% bayaran 359.75 562.25 683.34 919.40 164.24 523.52 y-o-y 58.11% -7.01% 43.06% -4.87% -54.35% -6.89% net 167.80 -387.00 -436.00 -646.20 432.15 -311.53 y-o-y -65.10% 34.89% 112.39% -12.05% 157.54% -19.50% 2009 2008
Sumber : KBI Kupang
Tabel 4.2 Perkembangan Transaksi Non Tunai
lembar nominal lembar nominal volume nominal
I 11.974 418.765 63 2.089 24 1.744 II 11.915 441.091 66 1.215 85 10.523 III 12.758 373.837 71 1.727 57 21301 IV 13.390 420.699 136 4.953 221 69.264 I 12.517 398.095 85 3.621 74 13.707 II 12.745 373.201 134 4.362 221 69.264 (juta) 2009 TRANSAKSI NON TUNAI perputaran TRANSAKSI KLIRING RTGS cek/BG kosong PERIODE 2008
Sumber : KBI Kupang
Aktivitas transaksi pembayaran non tunai pada triwulan II-2009 kondisinya relatif bervariasi. Transaksi menggunakan fasilitas Sistem Kliring
Nasional Bank Indonesia (SKNBI) mengalami penurunan nominal transaksi yang signifikan sebesar 15,39% dibandingkan dengan triwulan II-2008 (y-o-y). Sementara itu, transaksi dengan menggunakan fasilitas Real Time Gross
Settlement (RTGS) yang menunjukkan peningkatan yang signifikan
dibandingkan periode sama tahun 2008 yaitu sebesar 558,18%.